enjoy every cadence, every breath…

1PDN, Nandjak dan Persisten; apakah berhubungan?

Setelah sekitar tujuh bulan ikut lontang lantung dengan teman-teman 1PDN (Ikatan Penikmat Djalanan Nandjak) Cycling, ikut beberapa trip-nya, ikut diskusi-diskusi mereka (baca: kuliah umum) sambil istirahat waktu kita menunggu dan istirahat di track. Sampai akhirnya entah bagaimana saya didaulat jadi Humas, tepatnya Humas Dua alias Humas Loro dengan panggilan sayang hUro…

Semakin saya dalam ngobrol, yahoo mess, ikutin milisnya ipdn-cycling@yahoogroups.com coba juga kalau penasaran seperti apa perjalanan kami bisa lihat di http://1pdn.multiply.com/ saya lama-lama menangkap juga perbedaan gerombolan penikmat jalan miring keatas ini dibandingkan kelompok bersepeda yang lain…

Beda, sudah pasti
Dengan menanjak, menjalani ritual yang dikira dan dipandang sebagai siksaan oleh orang lain, kami merasa beda dan merasa eksis. Ini pernyataan jujur tentang eksistensi, minimal menurut saya, yang harus kita akui. Olehkarenanya (halah bahasanya) 1pdn sangat intens mensosialisasikan kegiatanannya. Menunjukkan eksistensi dan juga tentusaja mengajak. Mengajak untuk bergabung.

Mengajak dan terbuka
Organisasi/gerombolan bernama 1pdn ini unik sekali. Terbuka asli terbuka. Siapapun silakan bergabung asal mau genjot miring keatas. Tidak membatasi sepeda tidak membatasi skill tidak membatasi stamina. Yang ada hanya: genjot keatas? Ayo sama-sama di 1pdn… Ini lah kenapa di salah satu kegiatannya, Studium Generale Gadog-Rindu Alam sampai diikuti 89 peserta. Dan semuanya adalah diaku sebagai PRAJA 1PDN…

Tapi ada satu pengalaman yang saya pelajari benar dari kegiatan menanjak dengan sepeda ini, terutama saat-saat awal saya mulai ikut kegiatan nadjak. Ada kalanya saat kelelahan fisik mendera, di tengah tanjakan panjang, cuaca panas matahari serasa sejengkal diatas kepala, kehausan dan kelelahan, melihat jalan kedepan tanjakan masih panjang dan tak habis-habis… saya sering berpikir dalam hati, “Apa benaaarrr… ya saya ini penikmat tanjakan dan praja 1pdn??” Saya merasa seperti tidak ada di tengah lingkungan yang benar dan sering merasa overestimate terhadap kemampuan fisik sendiri. Apa benar yah saya pantas berada di tengah para praja 1PDN?

Tapi disinilah pelajaran terbesar diperoleh.
P E R S I S T E N . . . .

Sering saat menghadapi situasi sulit yang lain, di kehidupan nyata, kesulitan mendera tidak ada habisnya susul menyusul seperti tanjakan di CiOray atau di RinduAlam, saya kok lama-lama merasa comfort, tenang, cukup percaya diri… Entah apakah ini hasil gemblengan 1pdn? Yang jelas saat menghadapi kesulitan saya sering melakukan personifikasi saat menanjak, atau membayangkan sedang melahap dan menikmati jalanan menanjak tiada habisnya…

Nanjak tiada habisnya? Pengalaman di 1pdn sih, nandjak selalu ada habisnya… Selalu ada puncak dan ujung jalan… Selalu ada titik akhir kita untuk memulai bagian lain dari hidup dan perjalanan… Turunan…
Turunan yang nikmat dan membius, dan yang pasti jauh lebih berbahaya dari tanjakan…

Ah sudahlah!!
Seperti kuliah 1PDN Cycling, turunan tidak menarik dan tidak penting untuk dibicarakan . . .

Terimakasih 1PDN…
aku jadi lebih persisten . . .
kesulitan jadi lebih indah untuk dijalani . . .

One response

  1. hello bapak huro🙂

    Desember 7, 2008 pukul 4:05 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s