enjoy every cadence, every breath…

Trip IPDN CiOray (bag 3): Turun dari CiOray, bernafas dalam lumpur…

Tulisan ini lanjutan dari bagian kedua…

Sesampainya di ‘warung mamang’ kami menjumpai warung ini tutup. Waduh! Hujan2 gini, baju basah, semua bawaan basah, dingin setelah berhenti genjot… Disaster kalo warung ini tutup!

Pertama ada rekan yg nekat memanfaatkan keadaan, lihat ada kambing (diikat tali, ikut berteduh di teras warung) lansung sikat sigap bergaya pemerah susu!! Tentusaja si kambing berontak, tapi sang pemerah susu rupanya punya jam terbang cukup tinggi, mayan dapat 1/2 gelas!

perahkambing
(Foto perah susu kambing)

Sementara anggota yang lain dengan cukup beringas menggedor2 pintu warung. Hehe… Kalap hasil 3 jam genjot tanpa ketemu peradaban. Untung warungnya jadi buka jug karena ini, hidangan pertama adalah air hangat. Aduh!! Itu ‘cuma sekedar air hangat’ saja sangat nuikmat! Bayangkan badan habis diforsir, haus karena air habis, kedinginan karena kehujanan dan berhenti genjot, cuaca masih dingin dan hujan deras… Setengah gelas air hangat paling nikmaaattt…

Simple things in ‘normal life’ (air hangat) proven to be really valuable in this situation.

Barangnya sih ‘cuma air putih hangat’ namun ‘value’ yan ditambahkan pada minuman ini mungkin setara dengan kopi starbuck. Kopi-nya simple dan biasa saja, tapi ‘value’ dari seluruh pengalaman ngopi dan pemilihan tempat serta brand positioning starbuck yg membuatnya berbeda! Begitu pula dengan air putih hangat ini, seluruh pengalaman indah dari start, nanjak, sampai mencapai tempat ini menjadi ‘value’ luarbiasa bagi air hangat. Mungkin kalau bapak warung menjual air hangat ini 20ribu per gelas masih dibeli juga hehe..

Berenti mayan lama, sejam lebih, tiduran dan dilanjut makan mie telor. Hujan tak juga reda, akhirnya hantam saja berangkat lagi.

Pak Rektor paling mendapat banyak komentar karena hari ini semuanya baru: sepeda Titus RacerX, kacamata rudy project, jersey BFEGTB, jam tangan altimeter, tapi giliran mau ujan2an plastik buluk bekas belanja mamang warung diembat juga! Oom Iye juga menemukan helm ala cioray yg sangat cocok untuk medan seperti ini. Mayan, ada yg diketawain…

plastik
caping
(Foto plastik dan caping)

Turun naik di perbukitan kampung Cibuntu, medan jalan makadam basah hujan dan sedikit berlumut. Sempat berhenti 30menit lebih karena rantai salah satu sepeda rekan putus.

rantai
(Foto rantai diperbaiki)

Jalan naik turun makadam yang cukup menyenangkan karena di setiap sesi tanjakan kita berlomba untuk menyelesaikannya tanpa turun dari sepeda. Begitu turun berarti dilanjut TTB karena gak mungkin dapat momentum awal untuk mulai genjot. sekarang baru paham juga kalau kampung ini disebut ‘Cibuntu’, dari arah doubletrack klapanunggal memang dipastikan 4WD pun akan terhenti di kampung ini, jalan selanjutnya adalah jalan kampung plus singletrack. Kampung diakhiri dengan turunan makadam panjang dan curam di dekat sebuah sd. Kembali seorang anggota tim kraam dan terjatuh disini. Padahal kita ditonton belasan anak2 dan penduduk.

Selanjutnya? Turunan-tanjakan singletrack dan doubletrack yang fuuulll lumpur!! Ya ampun!! Kita tidak hanya mengahdapi medan turunan dan tanjakan tanah yang licin, namun juga lumpur yang bikin ban sepeda kita jadi donat!!

Sayangsekali baterai cadangan kamera dipakai untuk mengganti bateri GPS jadi tidak ada foto dari kamera saya. Bagaimana mau motret juga? Tangan penuh lumpur karena rutin membersihkan ban setiap bbrp ratus meter.

Saya masih belum paham bagaimana menaklukkan medan model begini, saya sudah ganti ban belakang dg Maxxis Larsen TT 1.9 yang lumayan banget membantu kelancaran roda berputar di tengah lumpur. Tapi ampun rasanya salah banget ambil ban depan 2.1. Bentar-bentar ban depan sudah gak mau berputar lagi, di turunan pun dia stuck harus didorong. Ampuuuunnn…

Saya yg masih pakai V-Brak putuskan lepas brake dan biarkan saja sepeda berjalan turun. Kalo macam2 nanti sepeda tinggal dilepas saja biar bablas sendirian. Bagian turun yang semula diperkirakan cepat dan singkat ternyata ditempuh dalam sekitar 3 jam juga!! Meskipun di 20% akhir kita mulai dapat jalan on-road namun kita melewati 5-6 punggung bukit (artinya harus ttb nanjak di jalan lumpur) dan satu sungai besar. Entah hiburan atau apa, dosen berkata track ini dikala kering bisa ditempuh dalam 1/2-1 jam.

ular lumpur

Proud Mbah

perkosa

motor aja kesulitan
(Foto track dan racie Mbah)

Bernafas dalam lumpur adalah ungkapan yg tepat sekali. Lumpur all the way..

Singkat kata sampai di loading point sekitar jan 5sore. Umum memang di daerah ini membawa hasil bumi dgn pick-up kecil (sekelas hijet/carry) ke arah citeureup.

Gambaran vertikal dan horisontal track bisa menunjukkan identitas track ini
vertikal cioray

Fuihhh… Kembali ke peradaban!!

2 responses

  1. Ping-balik: 1pdn Trip: Cioray 8 Juni 2008 « Harto Basuki

  2. weight loss work out programs

    Januari 4, 2010 pukul 1:40 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s