enjoy every cadence, every breath…

Trip IPDN Cioray (bag 2): Nikmatnya Nanjak . . .

Cara menuju titik start ada di bagian pertama…

Trip ini menyeberangi kawasan CiOray, Gunung Putri, Bogor. Jalur yang diambil adalah: Jalan Raya Gn Putri – Klapanunggal – nanjak ke Kampung Cibuntu – Cioray

Titik start berupa persimpangan dari jalan onroad menuju jalan ke galian batu kapur, Saatnya offroad dimulai. Kita melewati jalanan tambang galian batu kapur yang dilewati truk pengangkut. Sampai di site penambangan, senyum banyak merekah dari para anggota trip ini. Disinilah saat yang baik untuk mendapatkan background bagus. Ambil fotoo…

start
naris
(foto2 narsis diatas batu)
senyum
(saya jarang lho nampang begini hehe)

Selanjutnya kita memasuki pedesaan disambut oleh anak-anak kecil yang ramah melambaikan tangan. Rupanya desa ini masih jarang dilewati orang asing? Setelah pemanasan dengan beberapa tanjakan dan turunan kita sampai di pitstop terakhir di peradaban. Inilah warung terakhir. Kita isi bekal air dan minum teh panas manis sebentar.

anak
(foto anak kecil, “dadaaahhhh… mister…”)
warung1
warung
(foto2 di warung terakhir)

Tampak tanjakan pertama setelah warung sudah menunggu dengan mesra. Sebagai praja junior IPDN (Ikatan Petjinta Djalan Nandjak) saya sudah diiming-imingi bahwa track setelah ini adalah semua isinya kenikmatan menanjak, tidak ada lagi turunan. Seperti juga member IPDN yang lain, seluruh tim tampak sukacita bahagia menyambut rangkaian kenikmatan yang akan segera hadir. Memang ada beberapa komentar menyedihkan, katanya “Tanjakan sampai puncak cuma dua jam kok..” Huuuu… penonton kecewa… Udah jauh2 ke Citeureup masak cuma dua jam nanjak?

tanjakan1
(ini medan jenis pertama)

Bagaimanapun the show must go on. Mulailah segenjot demi segenjot, para pecinta jalan nanjak ini menjalani hobby menyenangkan ini. “Ini tanjakan neraka, technical sekali..” kata MBah WTT, Sang Rektor IPDN sambil memimpin didepan saat kami kebingungan di sebuah pertigaan, rupanya belok kanan. Dan ini adalah kebingungan kami yang terakhir tentang jalan. Setelah ini tidak ada lagi persimpangan atau belokan jalan. Hanya satu jalan penuh kenikmatan menanjak sampai ke kampung Cibuntu. Huraayyy…

Track berikutnya adalah bergantian antara tanjakan landai yg gowesable, tanjakan menantang yang kadang harus terputus, dan tanjakan super yang ungowesable. Ketiga macam kenikmatan itu kita nikmati bersama, tim sembilan orang: Rektor, Purek, Dosen dan Praja. Secara umum track adalah doubletrack jalan yang dibuat dengan susunan batu kapur, sementara lingkungan sekitar jalan adalah perbukitan kapur yang gundul diselingi tanaman yang bersusah payah tumbuh di tanah yg nyempil diantara bebatuan kapur. Gak heran kalau ular pasti banyak sekali disini, sekilas saja tampak bayak celah dan gua kecil di sekitar jalan diantara bebatuan. Rupanya semalam habis hujan, temperatur panas sekali (‘dekat neraka’ kata seorang dosen), sepanjang track full nanjak ini medan berganti secara cukup siginifikan.

teduh1
(jarang banget daerah teduh begini)

Jenis tanjakan pertama adalah batu kapur disusun namun dengan diselimuti tanah lumpur diatasnya. Tanah lumpur ini cuma sedikit tidak sampai menutupi batu kapur, sehingga tanjakan jenis ini kalau digenjot akan sangat mudah slip ban belakang. Beberapa praja muda yang baru pertama menempuh rute ini sampai tergirang-girang menghadapi kenikmatan jenis tanjakan spesifik ini. Ada seorang praja yang saking semagatnya maju dan gowe paling depan mendahului rombongan, lalu kita lihat ada rumput/semak bergoyang dengan keras di depan. Rupanya saking excitednya sampai rela mencium track. Praja muda ini sukses memeluk bumi dengan tulang kering menyentuh crank terlebih dahulu. Meringis penuh nikmat, daripada sakaw seorang Dosen segera menyemprotkan ‘pain killer’ ke kakinya.

(tambahin fotonya Bayu dari kameranya Oom Oni, note: belum di upload)

Jenis kedua adalah jenis tanjakan yang semangkin tajam sudutnya. Sangat amat jarang kami bisa menghabiskan kenikmatan menanjak yang disediakan oleh alam ini secara tuntas. Umumnya sebagian besar dari kami hanya melahap dengan nikmat sampai kehilangan keseimbangan atau kehabisan power, lalu terpaksa dilanjutkan dengan TTB. TTB semata dilakukan untuk dapat menemukan area berikutnya yang sedikit saja menyisakan kelandaian untuk mulai genjot lagi. Begituuuu… terus.
Sebenernya dengan kondisi kering, jalur ini 95% are gowesable; sayang kelembaban batuan kapur yang tinggi dan pemilihan ban yang kurang tepat menjadikan seringnya beberapa peserta harus TTB di 1/3 terakhir pada setiap tanjakan2 nikmat; ban menjadi mudah sekali slip.

Tanjakan jenis kedua ini sudah benar-benar didominasi oleh tumpukan batu, sangat jarang ada tanah ataupun lumpur diatas track, mungkin lumpur sudah terbawa hujan kebawah dan akan jadi banjir di jakarta/Bekasi. Tanjakan jenis ini tentusaja memberikan kenikmatan yang semakin lebih kental kepada para civitas akademika IPDN, saking enjoy dan excited-nya ada yang tertawa sendiri, menyebut nama Tuhan, berteriak, atau hanya menikmati sambil menitikkan keringat dingin terus-menerus berusaha genjot dan lihat headset masing-masing.

Buat saya yang masih status praja junior paling muda di IPDN bagian ini adalah bagian menguji batas diri saya. Saya jadi mengerti mengapa HARUS mencintai tanjakan disini? Ya iyalah.. masak balik kanan sendirian, ojek apalagi angkot tidak ada disini!! Jangankan angkot, manusia lain aja sangat sulit ditemui di daerah sini. Sementara para senior, Dosen, Purek dan Rektor tampak sangat menikmati skill dan power yang sudah mereka miliki. Inilah track yang bisa mengeluarkan semua kemampuan handling sepeda di tanjakan offroad berbatu.

diri
(foto track)

Bicara cara menikmati tanjakan, ternyata ada rekan yang sampai harus tegang otot-otot kakinya!! Otot kaki tiba-tiba keras dan terasa sakit sekali. Oya, “Pain is your friend” berlaku sekali di civitas academica IPDN. Makanya kemana-mana pak Purek selalu sedia Pain Killer heheh… Karena dia (pain) pasti datang.

Semakin keatas pemandangan semakin indah, tanjakan semakin ngacir. Jenis tanjakan sudah masuk tanjakan super yang Cuma bisa sebentar saya gowes, langsung TTB. Sampai akhirnya kita disuguhi (tumben) sedikit turunan bonus. Disekitar lembah kecil ini ada pepohonan kopi, jauh lebih teduh dan terasa penuh oksigen dibandingkan track yang sudah kita lalui. Rupanya inilah pitstop resmi kebun kopi.

kopi
(foto pitstop kebun kopi)

Sambil menunggu anggota tim re-group, saya sebagai praja junior dapat banyak wejangan dan kuliah menanjak, posisi badan saat menanjak, gear yang cocok buat menanjak, kenapa hardtail buat menanjak, dll. Wah, inilah rupanya yang disebut kuliah umum. Sambil kongkow kita kuliah nanjak dari dosen2 dan Purek2.

Sempat dikejutkan dengan suara mesin yang semakin mendekat. Ya ampun!! ternyata ada dua motor trail sedang speeding mendekat!! Kacau balau kocar kacir lah kuliah umum yang dilaksanakan sambil selonjoran di jalan berbatu itu. Gak berani lah masuk keluar jalan dikit, rasanya dimana2 semak pasti tempat ular bersemayam, sesuai namanya Cioray.
Cioray => Ci = Sungai/desa Oray=ular
Cioray/Snakeriver

ttb
ttb2
(TTB deh…)
jahanam
(tanjakan longsor jahanam)

Kenikmatan menanjak lalu kita lanjutkan dengan peringatan salah seorang Purek, “Ntar kalo tanjakannya dah nggak habis-habis, berarti udah mau sampai puncak”. C’moonnn… katanya tadi najak cuma dua jam? Sekarang udah hampir tiga jam kita nanjak kok belum ada tanda2 seperti disebutkan diatas?

Akhirnyaaa… sampailah juga kita di jembatan kayu, lalu sungai kering yang segera diikuti dengan banyak vegetasi tanaman dan berubahnya medan menjadi tanah dan agak melandai. Fuih!! Katanya inilah puncaknya. Di sekitar puncak tampak ada rumah penduduk lengkap dengan sapi peliharaannya. Buset, rumah ditengah hutan begini?

Baru seteguk dua teguk minum, BRESSS!!! Cuaca yang tadinya panas berubah hujan!! Kocar kacir kita. MBah Rektor segera bertitah, “Lanjutkan genjot, warung sasaran sudah dekat!!”.

Medan selanjutnya adalah jalan tanah doubletrack yang naik turun. Memang tidak semuanya tanah sih, ada juga diseling beberapa kali batu kapur masih muncul. Rumah penduduk di kiri kanan jalan juga makin sering terlihat. Turunan juga makin sering menyapa meskipun tetap banyak juga tanjakannya.

Ini adalah pengalaman pertama saya offroad dalam hujan deras. Jika selama ini kita sering genjot sepeda melewati ‘jalan air’ yang menjadi semacam singletrack, di track ini saat hujan itu jalan air penuh dengan air. Mau nanjak mau turun. Seru saja, berjalan bersama air. Sampailah di suatu tanjakan tanah yang panjang dan tanpa henti. Energi saya sudah habis. Sadel saya peluk handlebar saya arahkan lurus kedepan, mata melihat ke tanah hanya memperhatikan kaki langkah demi langkah maju saja, yang penting tidak terpeleset. Beruntung saya melewati tanjakan terakhir ini dengan selamat, karena ada rekan yang melihat beberapa kalajengking hijau melintas menyeberang sampai harus terlindas ban sepeda.

warung1
(foto warung)

FOAAA… Sampailah kita di warung Mamang, kampung Cibuntu.

lanjut ke bagian ketiga…

4 responses

  1. Ping-balik: Trip IPDN Cioray (bag 1): Menuju Titik Start « Harto Basuki

  2. Ping-balik: Trip IPDN CiOray (bag 3): Turun dari CiOray, bernafas dalam lumpur… « Harto Basuki

  3. fajar

    huehehehehe….. selamat selamat selamat!
    untung gua pas kagak bisa ngikut. nandjak merangkak. nurun nuntun. diketawain sapi. dibuntuti nakanak sekolah. dikentuti truk pabrik semen
    lengkap sudah penderitaan.

    Februari 5, 2008 pukul 11:07 am

  4. I W O

    Damned, nanjak is so amazing !!!!!

    menanjak bikin gw penasaran..
    antara jantung & dengkul sering kagak pernah passs…..
    giliran pas malah pabtat yang jeram ….

    April 10, 2008 pukul 10:48 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s