enjoy every cadence, every breath…

halaman rumah

Saat menulis post ini diluar sedang hujan, tidak terlalu deras tapi cukup untuk memberikan efek gemericik air turun dari genteng. Angin tidak terlalu kencang, tapi sejuknya angin sore membuat susananya (bahasa mas Totty) nuansamatik puoolll.

Jendela kamar tidur langsung berhadapan dengan taman berukuran sekita 2×3 meter. Sejak kami menempati rumah ini th Feb 2001, kami memang sangat mengusahakan untuk tetap memiliki ruang terbuka hijau seluas mungkin. Luas tanah rumah ini adalah 135 luas bangunan 54. Dan baru dua bulan lalu kami memperluas dapur ke belakang, nambah sekita 2,5×2,5 meter.

Setiap orang yang berkunjung, terutama orang tua kami, selalu mengusulkan untuk menambah bangunan, memperluas, menambah ruang, menutup, dll. Selalu dengan halus kami tolak. Ya itu, karena kami ingin memiliki halaman yang hijau. Halaman yang bisa menyerap sendiri air dari langit dan atap. Sebisa mungkin lah air yang jatuh di area yang cuma 135m2 ini tidak perlu memberi beban resapan tambahan pada alam.

Saat pertama menghuni rumah ini, rumah ini adalah rumah yg pertama dihuni di jalan dpn rumah. Kami membangun pagar, dengan brc steel, sehingga waktu itu tampak pagar kami menjorok maju mendekati jalan. Saat ini rumah kami terasa menjorok kedalam karena pagar, ruang tambahan, garasi, dll rumah tetangga sudah maju. Taman depan rumah kami jadi cerukan hijau diantara belantara tembok. Kalau koleksi 8 macam bunga sepatu sedang giat berbunga wah eksotis sekali halaman kami.

Halaman belakang juga kami yang pertama membanguntembok keliling. Saat akan pindah, tidak ada satupun tetangga belakang yang sudah dihuni rumahnya. Semuanya semak belukar dengan batas tembok setinggi dada. Tembok belakang kami jadi pelopor, bahkan saya harus pasang kawat berduri juga untuk keamanan. Sekarang sudah full. Halaman belakang kami yg juga penuh tanaman, dikepung oleh bangunan tembok tinggi. Masif. Lagi, halaman belakang kami serasa seperti ceruk hijau oase. Tadi pagi saya sempat tertegun melihat sepasang burung yg warnanya kuning indah, paruhnya kecil tapi panjang, tampak ‘berdiskusi’ di pohon belakang rumah. Beautiful moment walaupun saya tidak pernah sukses birdfeeding di kebun belakang.

Ok, cukup kayaknya. Lagi melankolis menikmati gemericik air jatuh ke tanah dan dahan di suatu sore yang sejuk.

One response

  1. bagus juga tuh sphedha kuno mahal kali y???

    Agustus 18, 2013 pukul 8:23 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s