enjoy every cadence, every breath…

(yg seharusnya jadi) Sahabat Pena-ku, maafkan! Tolong maafkan aku!

Bongkar bongkar…
Setelah sebulan lalu gudang di belakang dapur dibongkar untuk perluasan dapur, dengan disertai cita-cita memiliki gudang internal yang lebih bersih dan tertata, ujungnya adalah tumpukan barang yang ditaruh diluar, mau nyentuh aja gatel…

Sedikit-sedikit tiap weekend dibuka, dipilih untuk dibuang, dan akhirnya ada yang disimpan. Perbandingan yang disimpan dan dibuang? Kali ini ada 50:50. Mayan kan? Jadinya gudang selayaknya memang untuk menyimpan barang yang masih bisa digunakan lagi. Bukan untuk menyimpan barang yang seyogyanya pengen saya gunakan lagi (padahal udah gak bisa dipake). Lho, kok malah cerita ini, padahal mau cerita setumpuk surat…

Wal cerita (halah), di sekitar awal 1990, saat saya tingkat 1 atau 2 kuliah, saya keranjingan filateli. Sebenernya sudah lama sih punya hobby filateli, sejak sd kali (hhmmm.. siapa sih yg sd gak hobby filateli? ini hobby umum banget bwt generasi saya). Jadi saya sering menyambangi divisi filateli PT POS yang terletak di Jl Jakarta. Salah satu hasilnya adalah mendapatkan majalah gratisan dari PT POS berjudul “Sahabat Pena”. Kembali, ini sebenernya bukan majalah baru buat saya, sebagai anak pegawai POS saya sudah sering dapat majalah ini dan buat bacaan di rumah.

Salah satu bidang filateli adalah sampul. Atau bahasa gampangnya amplop lah. Sampul itu ada yang mengumpulkannya karena keunikan2nya. Misal, sampul surat yang tersesat kemana2, penuh dengan cap yang menangkap perjalanan surat tersebut, kalau perlu kembali lagi ke si pengirim, adalah sampul yang secara filateli tergolong unik. Atau sampul yang entah bagaimana mendapat cap-cap tertentu, biasanya karena pesan sponsor pemerintah, di kantor pos. Ini cap2 yang random perlakuannya bisa membawa sampul itu jadi istimewa dan unik juga. Ujungnya nilai filateli nya tinggi, ujungnya lagi nilai ekonominya tinggi kalau dijualbelikan.

Karena itulah, dengan alasan biar dapat berbagai sampul dari seluruh negara kita ini, saya memasukkan data diri plus foto ke dalam salah satu kolom yang memang disediakan untuk mencari sahabat pena (halah!) di majalah itu. Entah karena salah pasang foto, atau memang manjurnya peredaran majalah ini, saya mendapat berjibun surat dari seluruh pelosok negeri. Jumlah suratnya sampai ratusan!! Mampus dah!! Untuk membalasnya, selain perlu waktu untuk membaca dan menulis balasan tiap surat juga perlu biaya untuk merangkoin-nya. Ujungnya? Bisa ditebak, hanya belasan surat saja yang akhirnya saya balas. Ratusan lainnya teronggok, bertahun tahun dari 1993/1994 sampai 2007 ini (gila 13-14 tahun!), dan akhirnya dengan penuh rasa bersalah saya buka secara random, lalu (MAAFFFF…. deh) dibuang.

Saya nulis post ini buat diri sendiri, sebagai pengakuan dosa dan penyesalan karena gak mampu ternyata membalas ratusan surat2 dari sabang sampai merauke (dalam arti sebenarnya) ini. Akhirnya tumpukan surat itu saya foto, dan fotonya saya muat juga di post ini.

su1 su2 su3
(tumpukan surat2 itu)

su4 su5
(beberapa diberi cap oleh Pak Pos, “Sudahkah anda membalas suratnya?”)

sur
(akhirnya jatuh ke tangan bapak2 pemulung ini)

Seperti judul post ini. Andaipun siapapun anda yang pernah menulis surat untuk saya, Harto Basuki yang beralamat di Cisitu Lama I no 104/154C Bandung, maaf yaaa… saya tidak membalas surat anda.

2 responses

  1. widodo

    sayang sekali, kalo tau sebelumnya saya mau juga mengurusnya. ada yang lain yang nggak ke urus?

    Salam
    10an

    Maret 10, 2009 pukul 1:19 pm

  2. saya juga punya pengalaman serupa, om. ga ada foto atau biodata, cuma nama dan alamat saya tercantum di halaman surat pembaca majalah Sahabat Pena. setelah itu tiba2 puluhan surat mengalir dari penjuru nusantara. waktu itu saya kelas 2 SMP belum punya duit untuk mebeli perangko sebanyak surat-surat yang datang.

    pernah terpikir untuk mengutarakan permintaan maaf di blog saya bagi mereka-mereka yang dulu surat-suratnya tak pernah terbalas.

    Juli 4, 2015 pukul 10:33 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s