enjoy every cadence, every breath…

Carpenters, sedih itu indah…

Sudah lama saya pengen nulis tentang grup ini. Grup ini ada di kepala sejak lama, Bapak saya adalah salah satu penggemar berat Carpenters. Jaman kaset masih barang mewah, sehingga kami cuma punya sedikit kaset dan tape buluk di rumah, Bapak sering sekali memutar Carpenters (bersama Ebiet, Vina, Bimbo, dll. ceritanya bisa panjang..). Jadi saya sudah terpapar oleh keindahan nada2 lagu Carpenters sejak usia dini. Otomatis bisa dibilang Carpenters ‘memperkaya’ telinga dan hati saya dalam menikmati musik.

carp
(diambil dari http://www.richardandkarencarpenter.com/)

Lagu2 Carpenters jelas adalah pop. Kalau orang 80-an akan bilang ‘pop kreatif’ (halah! betapa jadoel-nya saya lihat istilah ini). Pokoknya pop yang ngga kacangan, pop yang tidak sembarangan. Pop adalah pop. Simpel, mudah dicerna, sederhana. Tapi justru disitu uniknya Pop. Pop itu sederhana tapi justru susah lho membuat musik yang sederhana tapi tidak kacangan. Itulah kelebihan Carpenters. Carpenters tuh bisa membuat lagu yang benar2 pop (kadang ada unsur country juga sih) tapi progresi akord-nya huebat. Benar2 unik, dan membuat saya sering terkaget-kaget seperti mendengar lagu progressive-rock.

Contoh keindahan progresi akord ini ada di lagu “Goodbye to Love”. Dan lagu ini tidak hanya memperlihatkan progresi, tapi dia juga sukses membuat lirik yang hebat, dinamika yang ciamik dan tak tertinggal, solo gitar yang kueren banget… Malah sampai pernah dibahas panjang lebar solo gitar ini di milis jazz-guitar. Jelas milis itu membicarakan jazz guitar yang full perbincangan akord yang gak sederhana, tapi ternyata, seperti saya rasakan juga banyak anggota milis itu yang sangat terkesan dengan solo gitar di lagu ini.

Karen Carpenter, adalah pembuat sebagian besar lagu Carpenter. Tidak heran lagu Carpenter sebagian besar bercerita sedih. Jarang banget yang sedikit saja ceria. Dan Karen Carpenter memang layak bisa bercerita tentang kesedihan. Pembuat lagu berbakat, multi instrumentalis (bisa saxophone sampai drum), tapi menjalani hidup yang, seperti digambarkan lagu2nya, sedih-sendiri-mati. Beliau meninggal karena anoreksia (?). Terobsesi oleh kelangsingan tubuh sampai akhirnya meninggal karena tidak punya nafsu makan. Hiks…

The autopsy stated that Karen’s death was due to emetine cardiotoxicity due to, or as a result of, anorexia nervosa. Under the anatomical summary, the first item was heart failure, with anorexia as second.

dari Wikipedia

Coba ini lagu “I Need to be In Love”. Wah dalem banget deh. Saya bukan penikmat syair lagu yang baik saja bisa merasakan ‘tendangan’ syairnya:

I know I asked perfection of a quite imperfect world
And fool enough to think that’s what I’ll found…

(sedih…)

Links
Richard and Karen Carpenter Page

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s