enjoy every cadence, every breath…

Jalur saya mengenal JAZZ (bag 2 dari 3)

Dari mana saya mengenal jazz? Di bagian pertama saya sudah ceritakan kalau banyak denger dan intip denger dari kaset pilihan bokap, bagian kedua ini mulai beli, pilih, copy, bajak, kaset pilihan sendiri.

Sekitar SMP saya pertama kali mengenal menabung uang jajan untuk membeli kaset. Tapi kaset-kaset awal saya bukanlah yg nge-jazz tentusaja. Seinget saya sih kaset pop atau kumpulan top hits barat gitu. Kasetnya sudah raib entah kemana, tapi seingetku jaman Trio Rio menyanyikan lagu “New York, Rio, Tokyo” (hmmm… ada sdikit lah unsur jazzy ya?)

Selain itu saya mulai terjerumus ke Casiopea. Beli album-nya yang edisi “private collection” (label jaman masih segala kaset dibajak di Indonesia), pertama kali sih punya album “Crosspoint“. Yang gambar depannya persimpangan jalan bertumpuk-tumpuk. Waktu itu merasa cocok sekali denger Casiopea, padahal kalo sekarang dengar terasa seperti mengulum gulali. Di mulut dan telinga jadi maniiiiissss… banget. Heran, gak tahan lebih dari dua lagu. Dulu kok bisa ya dengerin bolak-balik.

crosspoint

BWHAAA… ternyata ada site resmi Casiopea http://www.casiopea.co.jp/

Blibiographynya juga cek deh… http://www.casiopea.co.jp/bio_cd.html

Selain Casiopea juga sudah mulai suka Pat Metheny Group, Wynton Marsalis, grup sextet-kuintet standards model “Manhattan Jazz Quintet” atau “Jazztet” gitu. Gak semuanya beli aslinya di toko sih, sebagian beli kaset kosong saja, lalu membajak sendiri. Ini terjadi sejak segala macam kaset bajakan dimusnahkan (hiks.. tahun berapa ya itu?).

Masa ini juga masanya suka band smooth jazz ala Lee Rit, Bob James, Dave Valentin, GRP All Stars. Lalu juga terjerumus dikit ke Chick Corea Electric Band. Sempat suka juga jazz yang pakai vokalist model seperti Dianne Schuur. Lalu masuk ke bop dikit model album “Friends”-nya Chick Corea. Cukup dalam juga mengobok-obok Chick Corea termasuk sangat menyukai album duet nya dengan Bobby McFerrin “Play”.

Pada masa ini belum terlalu muncul koleksi dalam bentuk digital model sekarang. MP3 files sekarang mudah sekali dipindahkan dan dipertukarkan. Sebagian besar koleksi dan pengembangannya masih dari bentuk kaset. CD masih mahal playernya. Beli player CD baru terlaksana setelah mulai bekerja.

Setelah perguruan tinggi, mulai meluas deh selera. Tidak lagi hanya yang fusion dan standards jazz, tapi mulai terjerumus ke BigBand… Ini diteruskan saja nanti di bagian ketiga.

2 responses

  1. Ping-balik: Jalur saya mengenal JAZZ (bag 1 dari 3) « Harto Basuki

  2. Ping-balik: Jalur saya mengenal JAZZ (bag 3 dari 3) « Harto Basuki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s