enjoy every cadence, every breath…

Ajar dan Hajar

Sedih benar melihat ilustrasi di tv tentang kekerasan di perguruan tinggi dan sekolah. Sekolah tidak lagi menjadi tempat aman, tapi sudah menjadi salah satu tempat berkembangnya kekerasan. Senior menyiksa yunior (IPDN/STPDN), preman menusuk mahasiswa hingga tewas (di lombok), preman sewaan bertempur di kampus (medan), adik kelas dipukuli sampe akhirnya meninggal (di jakarta). Sekolah tidak lagi jadi ‘safe heaven’, tempat sejuk yang menyenangkan seperti kita baca di buku cerita jaman dahulu.

Sekolah dari tempat ajar telah menjadi tempat hajar. Justru mendekati nama besar dan agung Ki Hajar Dewantara… sedih banget.

STPDN

Pernah saya diskusi dengan seorang guru, menurut pendapat dia, penyebab seluruh krisis kepribadian dan budi pekerti yang melanda kita adalah kegagalan pendidikan. Pendidikan ya.. bukan pengajaran. Krisis kepribadian dan budi pekerti, yang menurut analisa beliau karena krisis kependidikan ini bermuara ke semua sisi kehidupan kita sebagai bangsa. Kita jadi bangsa yang serba… (isi sendiri deh)

Supaya tulisan ini jadi positif, sebenernya setiap kita bisa punya peran dalam pendidikan. Kita perluas setiap pergaulan dengan siapapun juga menjadi sarana saling mendidik. Ini mungkin yanga namanya saling silih-asah-asuh. Mendidik adalah menterjemahkan nilai-nilai kehidupan yang mendasar ke dalam aplikasi sederhana sehari-hari. Sehingga materi pengajaran bisa terjemahkan dengan nyata dan kita bisa punya kesempatan memahami dan mengaplikasikan dengan baik.

Api itu panas. Misalnya ilmu fisika ini sebagai materi ajar. Sebenarnya setiap kita bisa menerjemahkan dan menularkan apresiasi kita terhadap api lalu menjari marah, emosi, semangat, kehidupan… Bisa luas dan bisa kita ceritakan dengan banyak hal dari ilmu yang kita kuasai. Setidaknya ilmu yang kita kira telah kita kuasai.

Banyak guru dan juga lembaga pendidikan telah menyempitkan kewajiban mereka sebagai pendidik hanya menjadi seorang pengajar. Bukan mengecilkan arti pengajar, tapi bangsa kita membutuhkan lebih dari itu.

Sayangnya yang kita lihat di tivi, di jalan, di koran, adalah hajar… hajar…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s