enjoy every cadence, every breath…

Mbah, Mertua, Ibu Kartini…

Ibu mertua saya selalu dengan takzim bisa menceritakan Mbah (nenek) kami (ibu beliau) dan kebiasaan di hari kartini. Mbah selalu merenung dan melakukan doa khusus di setiap hari Kartini. Beliau termasuk yang sangat merasakan akibat dari perjuangan Ibu Kartini, jadi boleh sekolah… Sekolah dan lalu turun ke ibu mertua saya yang akhirnya jadi guru yang sangat baik.

Cerita sederhana, tapi saya kesulitan menceritakan bagaimana ‘takzim’-nya saat ibu mertua (generasi kedua) menceritakan jasa Ibu Kartini. Sangat susah bagi kita di masa sekarang untuk sekedar mengerti arti dan konteks perjuangan Ibu Kartini.

Saya mendukung wanita menjalani segala potensinya sampai ter-pucuk-pun. Se-pol-pol para empu ini bisa. Kita semua tidak berhak untuk mempersulit mereka. Tapi saya sering terganggu dengan beberapa hal kecil…

Suatu saat diskusi di tv seorang feminis (rupanya) protes karena ‘jumlah wc di tempat umum untuk wanita sama luas(area)nya dengan pria’. Ini katanya wujud ke-tidak-setara-an. Dia beralasan kalau ‘kami wanita kan lebih lama dan membutuhkan lebih banyak tempat, harusnya wc wanita di tempat umum itu lebih banyak dari yg sekarang tersedia…”

WHAT???

Katanya pengen disamain derajatnya tapi kok malah ngelunjak… Ya sudah jangan lebih lama dong kalo ke wc. Yang cepet gitu!! Sebel!! Kadang feminisme kok dibawa ke arah yang se-sempit wc begitu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s