enjoy every cadence, every breath…

Big Band ???

BTW kemarin salah satu diskusi panas di Pizza Hut Fatmawati adalah nama/sebutan kita…
Layakah kita menyandang nama “Van Alloy Big Band” ???
Penekanan pertanyaan ini di penggunaan istilah ‘big band’-nya

Pertanyaan mucul biasa lah, dari VQ. Maklum dia ini kan suka sekali melihat sesuatu dari dasaaarrr.. banget hehe… Dan memang itulah kelebihan dia kan?😛

Menurut pengetahuan saya, memang kontroversi sebutan bigband ini melanda tidak hanya pergaulan musik di dalam negeri Indonesia saja, tapi perdebatan dunia. Ingat kan? IBBC 93/94 ya? yg kita ada bintang tamu “Elfa’s Big Band” tapi nyatanya mereka adalah combo mengiringi Elfa’s Singers plus bbrp pemain brass. Hehe.. kita waktu itu juga tidak pada kapasitas “protes” karena dikasih harga ‘basa basi’ murah banget deh. Kalo gak salah inget 1,5 juta padahal elfa sendiri main piano, ada hentriesa, bassist-nya siapa itu, plus 4 orang Elfa’s Singers… Beruntung…

Jadi ada yg menganggap bigband tuh luas banget. Asal kita punya harmonisasi dan style aransemen ‘rif-raf’ ala bigband. Ya udah.. lu bigband. Bahkan tidak terlalu perduli juga style musik yg dimainkan apakah harus swing classics. Di ujung ini ada Pak Dieter Mack. Makalah bliau di “Seminar Big Band” 1993 isinya begitu. Blood Sweat and Tears dan Chicago misalnya masih masuk hitungan bigband.

Sementara ada para tradisionalis yg memandang bigband adalah keindahan musik 20s-30s itu. Swing-classics-jazz. Dimainkan dengan 4 trumpet, 4 trombon, 5 sax, piano-gitar-drum-bass kadang plus string section. Memainkan lagu2 bergaya aransemen masa swing itu. Model Glenn Miller lah yang paling mudah diingat. Golongan yg berseberangan dengan golongan pak Dieter ini memandang bigband itu sakral. Jangan diubah2. Standar. Dan mainkanlah musik yg dimainkan era itu. Di daerah ini ada Bill Saragih yg bilang, “Kalo gak main swing lu bukan bigband”.

Jadi VABB ada dimana?
Dengan memainkan Birdland yg fusion, Got My Mind yg rock, A Whole New World yg pop… Belum disebut Kopi Dangdut hehehe…

Bukan mencoba membuat masalah ini jadi rumit, tapi menurut VQ kita harus menghormati sejarah. Sejarah yg berkait dengan istilah bigband itu sendiri. Supaya kita tidak “memperkosa” ke-sakral-an bigband.

Terusterang kemarin buntu juga hasil diskusinya. VQ setuju ama Bill Saragih. Tapi kalo saya setuju Pak Dieter.

Bagi pendapat rekan2 yaa…

One response

  1. wah… beruntung sekali saya tau blog ini…
    bigband emang luas… saya punya band dan kita bingung sebutnya apa, isinya combo dan brass section 3trp,1horn,2trb tambah marimba dan vibes, maklum kita anak marchingband, saya dan bbrp teman2 yg suka musik2 bigband membentuk band. lagu2nya ya swing ya klasik ya pop ya apaaja deh…:D
    salam kenal.

    Juni 4, 2007 pukul 10:21 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s