enjoy every cadence, every breath…

Terbelah

Posting saya di milis mbwg@itb.ac.id hari ini. Tulisan yg sudah lama mengendap dikepala akhirnya keluar juga…

=========

Kita semua di mbwg mengalami pahit manis, tapi kalau udah singgung2 ini termasuk salah satu pahit yang pernah kami alami. Kok bodoh sekali kita ya, sehingga di organisasi yg sama kalian kayaknya mengalami kepahitan yg sama… Katanya keledai tidak terantuk dua kali, tapi kita kan anak itb bukan keledai (halah!)

2

Manisnya saya ber-bbwg
adalah mendapatkan status ‘anak BB’ yang tentu berbeda dengan sebutan lebih luas yg tetap saya dapat ‘anak MB’ (kayaknya muncul bau2 kasta ya disini?). Jaman saya sih bisa digantung tuh kalao kamu ikut bb gak ikut mb. Bisa diusir dari organisasi, kecuali memang bbwg sangat membutuhkan kamu (baca: kau jago ritem dimana pas kebetulan anak mb gak ada yg bisa samasekali). Itupun para jago ritem ini (nah kan ada kasta lagi) tidak pernah dianggap sebagai ‘anak mbwg’, mereka adalah outsiders yg kita minta bantuan. Ber-bb waktu itu saya mencapai kenikmatan tersendiri bermusik (baca: saya suka jazz sejak lahir). Wah, beda deh, asik bener bisa memainkan musik yg kita sukai.

ternyata segala manis diatas secara tidak kami (anak bb) sadari melukai hati rekan2 yang lain. Terutama rekan pemain perkusi (sekarang namanya battery ya?). Sedikit banyak ada diantara rekan2 kita tercinta ini yang iri dengan kenikmatan kita, sayang sekali tidak seperti mb, bb tuh cukup terbatas ya anggotanya (apalagi kemarin mail tulis juga ‘cuma ini yg boleh ikut’ di pengumuman anggota bb). Percayalah padaku rekan, mungkin teman2ku termasuk yg sensitif dan sangat menyayangi mbwg, tapi mereka para ‘tersisih’ ini tidak pernah bisa menghilangkan perasaan itu. Bahkan sampai sekarang setelah belasan tahun kejadian itu berlalu.

Salah satu kehebatan pergaulan per-marching-band-an adalah ‘spirit dari team’. Spirit ini yg digunakan banyak tim marching band diseluruh dunia mencapai apapun yg mereka citacitakan. Saat kita secara sadar atau tidak sengaja atau tidak membuat pilahan2 (apalagi berdasar skill) akan berpotensi menghacurkan salah satu senjata terbesar sebuah organisasi marching band.

Setahu saya (saya terlibat bersama MBWG di IBBC 93, 94, 96, 97, 99), bbwg dibentuk karena mbwg saat itu tertekan secara kemahasiswaan saat banyak aktifis kampus di-DO karena demo saat wisuda (89), saat minat ikut unit kegiatan mahasiswa sedemikian merosot. Penampilan berbentuk bigband adalah salah satu jalan untuk survival. Secara tim (main dg sedikit orang dan menarik calon anggota yg males baris) dan finansial (bisa nampil di kafe, bikin ibbc) bb kita pandang memiliki sesuatu. Karena total anggota mbwg tidak sampai 50 orang, kalau nampil mb internal di itb tidak mencapai 30 orang…

So, do we still need BBWG now? How about IBBC? Setelah kita melantik sekaligus 70 anggota baru?
sorry ini pertanyaan berat tapi pe-er kita bersama untuk memikirkannya.

Pokoknya jangan robek2/pilah2 (lagi) MBWG kita ini deh… Itu cukup jadi kebodohan masalalu kami saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s