enjoy every cadence, every breath…

Pede

Ini curhat saya ttg band yg sangat saya cintai…

s

=======

Saya akan menulis panjang plus terusterang…

Band ini dimulai dg semangat “Ayo kita mempermalukan diri di IBBC….”. Itu kejadian pas kita obrol santai lebaran merencanakan penampilan gila satu lagu sebagai alumni di IBBC 2005. Memang kalimat itu banyakan retorikanya, tapi semangat yg muncul dari kalimat ajakan yg gila itu adalah ‘all about
vabb’ (minimal menurut saya). Dari satu kalimat itulah bisa ada catatan sejarah ttg VABB selama dua taun lebih ini.

Kemudian muncul ‘Ordinary talent, extraordinary effort’.. Wah.. saya selalu terharu denger kalimat ini. Kalau diceritakan ke orang lain pasti susah kecuali mengalaminya sendiri bersama teman2 band ku semua yang tercinta… (mulai terharu)

Saking irinya pengen lebih ikut merasakan, akhirnya saya terlempar dan kepental2 belajar dari nol jadi pemain gitar lalu main clarinet. Alhamdulillah masih bisa merasakan IBBC 2006. Merasakan bermain musik beneran, tidak hanya dibelakang layar, dengan band yg luarbiasa ini.

Sejak pertengahan 2006 menjelang persiapan konser, saya sudah jarang main clarinet duduk manis hanya jadi pemain. Ini memberi saya kesempatan untuk melihat dan mendengar band kita kembali sebagai outsider, orang yg tidak berada didalam band. Wah… saya makin sayang sama band ini. Suara band ini
sudah ‘bukan band biasa2’ lagi seperti yg saya dengar di persiapan IBBC 2005. Kita bener2 bukan band sembarangan… Ada momentum2 musikal yg sangat menyentuh yg makin sering, kita main makin nyaman di telinga. Pendapat orang2 luar termasuk orang2 yang saya pandang *ngerti jazz* jg kuranglebih ke arah yg sama.

Memang kita tahu bener seberapa perfect sih permainan bigband yg bagus selevel Buble atau Paul Anka lah… Jelas saja jauh banget, jauh dengan big band apapun di Indonesia, Galaxy atau Hypersax pun masih jauh dari level itu.

Seorang rekan band ini pernah mendeskripsikan dengan pas menurut saya… Seperti ujian jaman sekolah di ITB, kita tidak pernah merasa siap bahkan sampai bbrp menit sebelum menerima soal. Kita baru akan tau seberapa kita menguasai materi kuliah saat kita selesai ujian dan kemudian dikonfirmasi saat nilainya keluar.

Kita belajar dan bekerja banyak di sektor teknis yg sangat meng-haram-kan kesalahan. Di bidang kita kerja, kesalahan bisa berarti nyawa atau uang dg jumlah yg tidak ingin kita ingat. Edannya kita diajarin di ITB kalau kesalahan itu sesuatu yg bodoh dan jangan lah dilakukan berkali2. Kita dididik begitu cara berfikirnya. Serba perfect. Jadinya kita cenderung mengingat2 kesalahan kita… Kalo main banyakan ingat part salahnya daripada part benernya. Padahal mungkin porsi kesalahan kita sudah sangat banyak berkurang.

Sementara musik, apalagi jazz, itu adalah musik ekspresi yang sebenernya memberi ruang luas pada individualisme baik style maupun ekspresi musikal. Ada rekan kita yang protes, “Kapan dong main musiknya…” karena memang ekspresi, bahkan apapun level kita, adalah hakekat bermusik jazz itu sendiri. Setidaknya menurut pemahaman saya.

Kembali ke Java Jazz.
Kalau band ini akan pakai mekanisme lama yg sudah kita setujui untuk menerima order yg mendadak2, hampir pasti proyek ini tidak perlu kita teruskan lagi.

Saya baru sadar, band ini tidak lagi perlu berpikir banyak ttg skill, teknik, dan musikal. Karena itu akan membutuhkan komitmen waktu dan semangat, yang sebenernya kita sudah tidak punya lebih dari yg sudah kita berikan selama ini… Band ini butuh kepercayaan diri dalam bermusik. Bermusik ala Van Alloy…

[additional notes]
Dari banyak kejadian belakangan ini dg VABB saya berkesimpulan kita jangan berharap banyak untuk sempat punya waktu bertambah jago secara teknikal. Bukan kita gak bisa jadi lebih jago, bukan kita gak mungkin lebih jago,kita blom mentok kok… (sesumbar) tapi karena kita gak punya waktu lagi buat punya komitmen waktu dan semangat. Saya bener2 menangkap kok garis yang mulai jelas ditarik itu. Batas itu mulai jelas terlihat oleh saya. Dan memang itulah vanalloy… band yg spesifik, band gaul yang gak bisa dipaksa-paksa.

Tapi ini saya bicara band secara kolektif ya, bukan masing2 individu. Kalo kata seorang rekan, anggota 30 pendapat 60 hahahaha…

Jadi yang perlu kita improve adalah ‘pede’ alias ‘ilmu sesumbar’ alias bahasa saya ‘kepercayaan diri dalam bermusik ala van alloy’ Ini samasekali bukan teknis dan tidak membutuhkan latihan tambahan. Hanya butuh saling menyemangati, saling mengompori, saling curhat lebih terbuka, dan tentu saja penularan ilmu sesumbar dari fraksi trumpet… hehehe…

BTW barusan dapat sms dari audi kita tidak terpilih tampil di Astro JavaJazz.
Thank You Audi dan teman2 yg sudah susahpayah…

Anto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s