enjoy every cadence, every breath…

Maklum

sekitar seminggu lalu saya obrol seru dg seorang teman lama (hay dik uno!)

Obrol ttg analisa bahwa kita tuh bisa terbelit korupsi sperti ini salahsatunya karena kita cenderung pemaaf dan lagi pemaklum. Sebuah sifat luarbiasa bagus,jika ada tempat yang semestinya.

Tapi ada kecenderungan kita permisif thd korupsi, dalam sgala bentuknya. Kita *maklum* pada tempat2 yang salah. Pada akhirnya sistem scr kolektif terpengaruh bahkan terkatalisasi oleh budaya maaf dan maklum yg adiluhung.

Jadi apakah kita maklum dg benar? Mengingat betapa ‘harap maklum’ bisa ditemui dan didengar hampir setiap saat?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s