enjoy every cadence, every breath…

Ketemu Eugene

Masih ingat Eugene? Eugene Bounty ya nama lengkapnya?
Dulu jaman kita urusin IBBC dia ikutan ISI, main alto sax dan clarinet. Sekarang ikut hypersax dan berbagai orkes tergantung order.

Kesempatan langka weekend lalu saya bantu2 masang2 mic di job pernikahan sound system masBambang, pengen lihat bagaimana artis prof mempersiapkan penampilan, checksound, selain tentusaja nonton dan menikmati penampilannya.

1

Gayung bersambut, pas acara adat dimulai jam 1/2 7 malam, adat jawa dengan segala keribetan dan pelan-nya, ternyata yang beraksi duluan adalah panggung gamelan jawa, jadi deh ada kesempatan nyolot sok kenal dan obrol2…. Beberapa point yg saya ingat saya tulis2 di rangkaian email setelah ini. Boanyak banget soalnya, kebanyakan ttg saxophone, clarinet, brass, bigband, hypersax (woalah…) habis dia terbuka dan gak simpan ilmu, jadi sampai akhirnya band itu siap2 tampil sekitar 8 kurang 1/4 kita ngobrol terus sambil berdiri: Saya, Eugene, dan MasBambang

1
(fotonya soft karena memotret sendiri pake tangan sendiri sambil berpose cahaya kurang)

*******

#1 Main hrs belajar tanpa ditahan,keras gpp, karena kemudian baru belajar memelankan lebih mudah,tapi tone sudah terbentuk

pembahasan anto:

Intinya adalah kesempurnaan ‘tone’. Sebenernya dan sejujurnya, saya sendiri kurang menangkap apa itu arti ‘tone yang bagus’ yang sering banget disebut oleh Eugene (untuk selanjutnya disebut E saja), tapi dengan baik hati dia nyontohin pake alto sax-nya, cuek aja padahal lg ada prosesi penganten lewat heheh… Menurut penangkapan saya tone yang baik adalah tone yang bulat, utuh, bersih. Jadi tidak ada tuh bunyi terlalu banya “pffffsssfsfsfs..” atau “brprrrppprrbbzz” yang bikin nada suara sax jadi bias.

E sering sekali menyebut kata ‘tone yang tepat’ ini, berkali2 sepanjang diskusi. Yang kita tangkap adalah dia sangat memperhatikan dan memperdulikan apa yang disebut ‘tone’ ini. Lagi-lagi tone lagi lagi tone disebut.

Jadi kalau belajar dan mencari ‘tone’ yang baik kita berlatih sax harus keras dan tanpa ditahan-tahan. Jadi salah tuh seperti saya selama ini latihan di rumah jadinya agak ditahan, berakibat bunyi clarinet kadang banyakan anginnya. Gak bisa keluar suara yang bulat, bersih, utuh. Menurut pengalaman E kalau kita belajar dari meniup keras-keras, sampai kita dapatkan ‘tone’ yang tepat, baru nanti kita belajar memelankannya, mengurangi volume suara dan mengendalikannya dalam pengelolaan dinamika.

********

#2 Tone sax untuk bigband harus bisa ‘brassy’ jadi keras, tajam, dan staccato lancar untuk main musik2 ala chicago yg cepat sambil staccato

pembahasan anto:

Nah kan, kata tone disebut lagi. Yang dimaksud ‘brassy’ disini adalah mendapatkan warna suara saxophone yang cenderung ‘mirip brass’, jadi cenderung tajam, keras, agak melengking. Kesan yang saya tangkap dari maksud dia adalah meminimumkan warna suara ‘kayu’ yang dimunculkan oleh saxophone.

Saya sendiri sejujurnya dan sebenarnya tidak pernah memperhatikan warna suara sax sampai sejauh ini sebelum diceritain kemarin. Tapi setelah mendengar2 beberapa contoh permainan fraksi sax emang macam2 ya orang tuh
memainkannya. Ada yang mendapat suara bergaya menjerit seperti elektrik (bukan yang tikus lho ya), ada yang suaranya soft banget, kayuuuuu… sekali, ada juga yang dia sebut sebagai ‘brassy’ ini.

Kembali dengan baik hati dia perlihatkan dan contohkan itu suara sax yang ‘brassy’. Ck ck ck… spechless deh liat dia memainkan sepenggal lagu bergaya Chicago yang sering kita dengar misal di lagu sing3x yang pernah kita coba itu. Niupnya bisa pendek2 cepat tapi sekaligus staccato-nya dapat. Huah.. cuih… (maaf) hapir saja ddlllrrr.. tidak terkendali melihat dan mendengar dia bermain.

E juga menekankan kalau permainan brass dan sax ala big band itu memang menuntut range power yang lebar. Ternyata ini spesifik bigband style brass playing dimana kadang kita harus sangat keras dan kadang berubah jadi sangat lembut. Range-nya memang harus lebar yang dikuasai kalau kita memainkan brass big band style.

********

#3 Pemilihan lagu dan score untuk bigband.

Waktu cerita kalau kita adalah orang kantoran yang main bigband jazz muka E “amazed” banget. Gak percaya deh kalo gak liat sendiri, saya juga kagum kok sampe sebegitunya bereaksi. Waktu cerita kita mainnya Easy Jazz Pak punya Hall Leonard nyambung banget karena katanya ISI juga dulu pas memulai memang dari memainkan EJP juga buat latihan2, baru akhirnya naik levelnya sampai terakhir yang “Yogyakarta Big Gank” adalah puncaknya. Saat Oni pun tidak perlu lagi main sax, malah main piano.

E juga kaget waktu obrolan kita bisa lancar menyebut penampilan2 band ISI di IBBC, anggota2nya yg menonjol, dlsb. Mungkin dia mikir, “Oooo… ada juga yg merhatiin”.

Intinya kan mereka juga ternyata memulai dari EJP, bahwa karena memang bidangnya dan akhirnya bisa memainkan lebih tinggi dari itu kan ya logis. E bilang kalau repertoar ISI/Big Gank itu ada yg masih berbasis di EJP tapi sudah dimodifikasi sendiri sesuai tim-nya.

Jahatnya waktu E cerita kalau pas main di IBBC bersama ISI itu dia *baru belajar main alto saxophone* (halah!!) karena memang major-nya di ISI alat clarinet. Waktu selanjutnya cerita seberapa sebentar itu ternyata *baru dua tahun mulai main alto saxophone jadi masih nyoba-nyoba* (HALAH!!!)

**********

#4 Memainkan nada rendah bukan dengan meniup lebih pelan, tapi tetap keras.

Salah satu trick-nya adalah bibir bawah dikeluarkan untuk mendapatkan tone full & tdk sember
Main sax dari nada rendah ke tinggi dikendalikan flowrate udara ke dalam alat. Ibarat kompresor tekanan tetap disertai bibir yg mengendalikan.

pembahasan anto:

Wah, gak nyangka tapi ternyata E menggunakan sedikit konsep aliran fluida juga hehehe…
Intinya adalah mengkritik kecenderungan pemain sax untuk mendapatkan nada rendah dengan memelankan udara tiupan dan juga mengendorkan tegangan bibir. Menurut konsep yang dia ceritakan ini, kalau kita main nada rendah, tegangan bibir tetap, bukan dikendorin. Yang dikendalikan adalah flowrate udara ke dalam alat lewat bibir. Memang sih secara intuitif kita pemain sax ada kecenderungan untuk meniup hati2 di nada rendah, karena tidak seperti
brass, nada rendah sax itu susah bener, bunyinya bisa sember atau tidak bunyi samasekali.

Trik yang dia contohkan adalah menetapkan gigitan dan posisi bibir atas, lalu menggeser2 dan memasuk keluarkan posisi bibir bawah sesuai kebutuhan nada yang ingin diambil. Yang penting adalah tegangan otot bibirnya gak boleh mengendor. Kalau bibir atas kita belum menemukan grip yang tepat dan bibir bawah belum menemukan posisi itu artinya kita belum menguasai bibir kita. Tekanan udara dari dalam perut juga belum kompak saat membuat tiupan/tekanan ke dalam alat musik. Ini harus dilatih dulu sebelum kita melangkah ke yang lain.

Yang juga penting adalah penggunaan napas perut. Mirip sama teknik di tenaga dalam, bukan pakai napas dada dengan mengisi sebanyak mungkin udara di paru2, tapi kita menggunakan napas perut yang lebih mengandalkan (kalau tidak salah) diafragma antara rongga perut dan dada.

**********

#5 Lip is everything, jadi bibir atas dan bawah kita musti kompak sehingga bisa ketemu hasil suara yang pas dengan tekanan bibir yang pas.

pembahasan anto:

Kayaknya inti ilmu E ttg bibir ada disini deh. Jika dari tips #4 ttg pengaturan nada lewat tekanan bibir kita masih kesulitan, berarti kekompakan bibir ata-bawah-tekanan perut mesti dilatih dengan metoda yg juga dia share. Aduh, gratis banget sih ilmunya, padahal kalo dia cerita dia sendiri juga mengetahui ilmu2 yang dibagi ke kita tuh tidak sekaligus, mencari-cari, kadang dari bbrp clinic dg guru asing.

Cara melatihnya adalah mirip dengan yang dilakukan brass dengan lip slur (? ini bukan ya istilahnya?), jadi jari pada satu posisi (posisi C) dan membunyikan nada di tempat yang sama yang terus naik, tanpa memencet tuts di jempol yang biasa digunakan sax/clarinet buat menaikkan ke register berikutnya. Di posisi C akan muncul nada: do -Do – Le – DO – MI – SOL .Sorry berdasar ingatan mungkin tidak tepat bener nadanya karena lemahnya ingatanku, tapi intinya adalah mendapatkan berbagai nada bulat dari satu posisi jari yang sama.

Laggiii… dengan lancarnya mas E ini mencontohkannya di depan saya dan Mas Bambang. Wah… bener deh, terbukti. Untuk pemain sax/clarinet kan selama ini kalau kita melakukan perubahan flow udara ke dalam mouthpiece, walaupun tidak dipencet itu tuts di jempol kiri, tapi sering muncul sendiri over octave-nya, muncul oktaf diatas dengan sendirinya. Ini sebenernya nyambung dengan tips latihan bibir yang diceritakan E ini.

***********

#5 Mas Bambang bertanya ttg kesulitan tuning di sax, kalo nada bawah kena nada atas meleot dsb. Kata E, semua saxophone fals, dan semua sax emang begitu!

penjelasan E:

Saxophone tidak ada yang perfect, kita tuning di nada rendah ataupun tinggi. Bahkan dia jamin bahwa semua sax seperti itu. Intinya adalah kembali lagi di pengendalian tone dan penguasaan ilmu bibir.

Pada prinsipnya pitch bisa bergeser hanya dengan perubahan di bibir+tiupan. Nasehatnya adalah kita bermain harus sambil mendengarkan permainan kita termasuk juga pitch-nya. Untuk pemain sax, ini agak berbeda ya dibanding pemain brass yang umumnya bell menghadap kedepan. Sax kan bell menghadap keatas jadi kita bisa sambil mendengar yang dimainkan.

Lagi dan lagi E mencotohkan dari satu posisi bisa naik dan turun slur mirip trombon itu deh, gombal bener…
Jangan2 brass juga begini ya… kayaknya iya deh

Jadi kalau teman2 bilang ‘gak bisa denger permainan sendiri’ heheh.. bener juga itu memang berbahaya. Buat pemain brass dan rhythm yg elektrik fungsi monitor jadi sangat penting… Paling enak emang main drum kali ya? hihihi…

***********

#7 untuk brass dan reeds pakai sm58 cukup,jgn sm57 krn suaranya akan makin kering dan kehilangan ambience

pembahasan anto:

Shure SM58 adalah mic yang paling umum dijumpai dan dimiliki sound system. Kata masBambang mic ini termasuk mic vocal. Dari pengalaman E mic ini cukup lah sebagai pilihan universal untuk tampil. Yang penting ambil SM 58, bukan SM 57 yang akan bersuara lebih kering.

Untuk permainan bigband E mengusulkan pakai mic tipe ‘todong’ yang pakai stand itu. Mic todong itu memang terasa lebih ‘analog’ dibanding mic clip, tapi justru disitu asiknya kata E. Pemain brass juga harus berlatih mendengarkan efek suara dan dinamik yang ditimbulkan jika kita mendekatkan atau menjauhkan atau menggerakkan horn alat tiup kita ke mic.

Mic clip menurut E lebih cocok digunakan kalau kita nampil dengan banyak gerakan, supaya meningkatkan fleksibilitas gerak. Malam itu ditunjukkan juga oleh dia, kebetulan semalam itu E main alto saxophone dengan mic-clip seinheisser punya masBambang. Ekspresi gerak memang banyak, maklum main di depan penonton yg tidak nge-jazz semua meskipun musiknya jazz.

Keunggulan mic todong juga adalah kita mendapatkan sound dan tone suara yang lebih ‘kaya’, lebih ‘warm’. Ini karena kalau pakai mic todong kita mendapatkan ambience yang ditimbulkan oleh mic itu sendiri beserta pergerakan alat tiup kita di depan mic. Suara yang dihasilkan lebih ‘hidup’. Begeto katanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s