enjoy every cadence, every breath…

Posts tagged “tasikmalaya

Galunggung Trip: Uphill ke Kaldera Galunggung #2

Tulisan ini lajutan dari bagian petama…

Segera setelah minum teh, sprite, kopi, cocacola, krupuk, indomie, gorengan dlsb, kita lanjutkan perjalanan dipimpin oleh Eyang AN. Blusuk… kita masuk ke rerimbunan perdu dengan tanah kita menjejak tumpukan pasir hitam. Setelah sempat kebingungan dan sedikit NII kita akhirnya menemukan diri kita mendorong sepeda, di singletrek yang full pasir, dengan kiri kanan pohon perdu. Kita sedang mendaki ujung akhir bibir kaldera Galunggung.

Kalau saya bilang trek ‘berpasir’ ini benar-benar lebih dari yang kita bayangkan. Pokoknya kita tidak pernah lihat tanah. Kita selalu lihat pasir pasir dan pasir. Ketebalannya? Gak tau deh. Setiap kita mendorong sepeda keatas susahpayah, kaki melangkah naik, segera kaki akan terperosok dan melorot karena karakter pasirnya. Benar benar sulit, terutama buat Om Haris yang saya amati bukan pakai sepatu tapi pakai sendal gunung. Pasti licin sekali. Kita ngos ngos an bukannya karena genjot tapi asli dorong sepeda miring diatas pasir gini benar-benar berat!! Kadang kita sedikit putus asa dengan kaki yang terus melorot padahal kita sedang berusaha diam dan mengambil sedikit napas lega.

Untungnya kita dihibur oleh pemandangan yang… aduh!! AMAZING !!! Pemandangan khas gunung sekali.
Tampak dikejauhan pedesaan dan kota Tasikmalaya ada dibawah awan dikejauhan, di bawah. Kita seperti diatas awan. Cuaca cerah angin segar, tapi ini trek pasir seperti tak ada habisnya. Model nanjak un-gowesable-dorong di trek sempit begini mengingatkan saya pada bagian nightmare di trek Papandayan. Cuma bedanya waktu itu batu dan tanah keras.

Langkah demi langkah kaki, meter demi meter kami lalui. Ternyata tiada yang abadi, termasuk nanjak. Kita disuguhi oleh beberapa section singletrack agak mendatar sehingga sepeda bisa digowes lagi. Trek agak berbelok ke kanan, menyusuri sebuah punggung bukit sambil sedikit menaikinya, jadi tidak ekstrim nanjak seperti saat awal dorong tadi. Di sebelah kiri kita jadi punggung bukit pasir penuh perdu sementara di sebelah kanan trek adalah lembah jurang dengan suara air terjun/sungai yang semakin jelas terdengar keras.

Campur-campur antara dorong dan genjot akhirnya kita sampai juga di tubir kawah Gn Galunggung. Segera semua terperangah, di bagian dalam kawah, terdapat seperti cekungan super besar berdiameter bekilo kilo meter, seperti sebuah dataran tinggi/lembah, dilengkapi dengan danau tenang didalamnya. Narsis segera dimulai meskipun Om Deni dan Om Dewa belum tampak muncul.

Semua beratnya medan dan kerjakeras uphill serta berjam-jam setir untuk perjalanan ini, terbayar sudah dengan pemandangan yang terhampar dibawah… Pemandangan yang biasanya kita hanya lihat di Kalender/Kartu Pos Souvenir kali ini kami lihat dengan mata kepala sendiri.

Bagian selanjutnya trip ini tidak dilakukan dengan sepeda. Rekan-rekan turun ke dalam kaldera kawah Galunggung. Photo session di pinggir danau.

Lalu kembali ke tempat menginap (cipanas), berkemas, dan turun ke arah Tasikmalaya (jauh juga 24km) kembali ke rumah Om Deni saat makan siang. Berebutan mandi segar ganti baju kering lalu pulang ke Cikarang. Sempat terjadi sedikit insiden dengan rem Om Didik saat turun ke Cipanas.

Dengan ini segala novel edisi antoix sudah selesai, tamat beneran.
Terimakasih untuk semua aktor yang terlibat dalam novel ini.
Sampai bertemu di trip bersepeda berikutnya…
Salut untuk Cikarangmtb dan Mountain 12, will be happy to do other trips with you guys…

Om Deni dan keluarganya terimakasih atas hospitality dan luarbiasa keramahtamahannya…

Semoga Om Hanif dan keluarga diberi kesabaran dan Om Hanif segera bisa sembuh dan genjot seperti sediakala… Track-nya terbukti maknyoosss josss markonyossss top markotop gud marsogud… Kami sangat dambakan trek trek berikutnya yang sejenis.

Galunggung Epic Ride juga ada di thread sepedaku.com…

Laporan trip ini didukung oleh Bikewear…

logo bikewear


Galunggung Trip: Uphill ke Kaldera Galunggung #1


0700 Start Nanjak

Pagi itu perasaan sangat masygul. Meskipun kita dapatkan hari yang menyenangkan kemarin, termasuk ketemu nasi jam 12 malam (very late dinner) dan mandi bersama air panas jam 1 malam (para Joni baru ngeh enaknya mandi air panas tengah malam), tapi kita ‘kehilangan’ Om Wid dan Om Steph yang turun berdua saja ke Tasik (24km), juga Om Hanif yang meskipun sudah mendapatkan medical treatment dan diperban namun terpaksa naik ke Galunggung naik ojek.

Saat memulai genjot lewat titik start gerbang Galunggung kami, seperti sudah diceritakan Om Eyang AN, dihidangi tanjakan yang miring-nya bukan kepalang. Ampuuuunnnn… Kebayang kan tanjakan jiper kita di Cikarang? Kira-kira seperti itu, namun, tidak berhenti berhenti. Trek adalah aspal mulus selebar dua mobil pas namun kiri kanan trek adalah hutan yang tampaknya baru direboisasi. Pohon-pohonnya masih pendek-pendek.

Kembali ke tanjakan miring (Om AN menggambarkan sekitar 45 derajat) ini tanpa putus, seolah setiap melihat kedepan kita berharap dibalik sedikit jalan belok di depan akan ada ‘bonus’ trek melandai… Namun harapan tinggal harapan. Akhirnya saya pasang senjata pamungkas langsung, depan paling kecil belakang gear paling besar dan kita genjot santai saja, jaga irama genjot sambil jaga pernapasan dan keseimbangan. Pokoknya asal tidak berhenti dan terus maju. Tentusaja, sambil dzikir. Mirip dengan apa yang saya alami saat pertama genjot Gadog-RA mendekati At-Taawun, di setiap genjotan ada dzikir. Minimal hati kita tenang, dan seperti berzikir, untuk menuju 100x menyebut kita pasti mulai dengan satu persatu. Gowes ini juga saya pandang begitu. Just do it, ikhlas, yang penting gak berhenti.

Om Sigit terlewati, Om Acu dan Om AN terlewati. Jantung di dada dan paru-paru terasa sekali bekerja keras menyesuaikan dengan irama kaki yang berusaha konstan. Alhamdulillah… setelah 8 menit genjot terus menerus, kita ketemu lintasan yang sedikit landai didepan. AHA! Saatnya berhenti dan lalu memotret.


0708 pitstop pertama

Mengapa ambil di sebelum masuk lintasan agak landai berhenti? Salah satu kesulitan kita saat gowes nanjak adalah bagaimana mendapatkan momentum awal saat mulai genjot. Jika trek sangat miring, momentum awal mulai genjot pun bisa jadi halangan besar. Kalau depan kita agak landai, otomatis satu masalah ini terlewati.

Satu persatu Om AN, Om Acu lalu Om Sigit tampak muncul dan berhenti di tempat saya pitstop pertama ini. Terasa sekali enaknya di dada saat kita berhenti 5 menit sambil motret ini. Namun genjot harus segera dimulai lagi, kalau gak nanti kita akan didera kesulitan mencapai irama lagi. Segera saya mulai genjot dengan kamera gelantungan di dada.

Trek lanjutan sepuluh menit kedua tidak kalah ganas kemiringannya. Tapi kali ini hati dan tubuh sudah lebih cepat menyesuaikan diri. Trek miring juga panjangnya sedikit berkurang karena segera kembali kita genjot 5 menit dan dihadapkan pada trek agak landai lagi. Sambil genjot saya coba memotret indahnya tubir kawah Gn Galunggung yang tampak lengkap dengan tangga-nya di latar depan tujuan kita. Wadoh, masih tinggi juga. Saya sengaja tidak membebani paha dengan tetap spinning dengan cadence tinggi, di jalan agak landai ini saya bergerak pelan dan disalip dengan gagah oleh Om Eyang AN dengan gaya ‘pusher’-nya: rantai di crank tengah dan perut mendekat ke handlebar… hehehe… Wah, Eyang AN udah dapat iramanya neh…

Tanjakan ini diakhiri dengan sebuah gerbang didepan sebuah pertigaan yang dijaga oleh seorang karyawan. Saya dan Om AN berhenti disitu dan diskusi dengan Bapak penjaga. Pak Penjaga menjelaskan deskripsi trek di depan dan juga menceritakan pilihan trek offroad singletrack ke arah Cipanas (tempat kami menginap). Hmmm… sangat menggoda untuk mencoba trek offroad ini…


0715 keder lihat tujuan

Eyang AN dengan naluri ‘let’s get lost’-nya masih terus menggali info tentang trek offroad ke Cipanas di depan. Sekilas saya dengar sih ada 2-3 pilihan trek dengan salah satunya adalah bekas akses truk waktu dulu masanya penebangan liar masih merajalela setelah reformasi. Hmm… makin menarik. Tapi lagi saya gak mau terlalu lama berhenti, nanti takut kehilangan irama dan panasnya paha lagi. Om Acu tampak di belakang saat saya mulai genjot lagi meninggalkan Om Eyang AN terus menginterogasi trek offroad.

Tanjakan di depan ini kita ambil ke arah kekanan ke ‘tempat parkir’. Sementara ada jalan kekiri yang ke arah ‘air terjun’. Memang dari bawah, bahkan dari Cipanas tempat kita menginap, tampak Galunggung dihiasi dengan banyak air terjun yang mengalir panjang dikejauhan. Mungkin kalau bisa didekati air terjun itu saya yakin ada yang tingginya diatas 50 meter mendekati 100 meter. Pasti tinggi sekali. Tampak panjang menjalin seperti akar yang turun menuju lembah. Pasti banyak pilihan wisata air terjun disini.

Kembali ke trek. Badan, paru-paru, paha dan betis sudah mulai terbiasa dengan deraan tanjakan miring tanpa henti. Saya berusaha untuk tidak berhenti lagi sampai ke parkiran, yang menurut informasi Pak Penjaga tadi ‘tidak jauh kok dik…’. Beberapa kali saya sangat tergoda untuk berhenti dan mengambil napas serta meregangkan otot, namun saya seperti ingin menguji diri keteguhan mental saya sendiri, karena saya cukup yakin setelah melewati awal yang berat di bawah tadi, sebenarnya badan saya mampu mengatasinya…

Sepinya jalan di pagi hari, karena belum ada wisatawan samasekali (jam 7 lewat), tentu membuat suasana tersendiri yang sangat spesial. Kiri kanan trek hutan perdu, pagi yang dihembus angin dingin, langit yang tanpa awan, bersih, tanpa kabut, kadang tampak sebagian pegunungan tubir kaldera Galunggung menanti. Jalan ini warungless samasekali. Ada beberapa mantan warung yang tampaknya tidak lagi beroperasi. Menurut saya memang harus warungless untuk tetap terus menjaga keindahan dan kesucian alam kawasan Galunggung ini.

Akhirnya, setelah sebuah belokan kekanan yang cukup tajam, sampai juga di tempat parkir (plus warung-warung) kawasan wisata Galunggung. Tampak sebuah tangga, tercatat dengan 620 anak tangga di papan petunjuknya, menuju ke arah bibir kaldera Kawah Galunggung. Segera saya tempatkan Eyang Dieng di awal tangga dan saya potret. Sayup terdengar teriakan orang. Saya celingukan cari Om Hanif yg ikut naik ojek tadi, ternyata tampak dikejauhan di ujung tangga yang tinggal 10% lagi, baju hitam dan sebelah kaki warna putih (full perban) melambai-lambai…

Buset!! Merinding saya. Bulu kuduk langsung berdiri. Begitu insist-nya Om Hanif ini. Beliau dengan kondisi berjalan pun susah, kaki yang luka sudah kaku-kaku karena mulai mengering, masih menunjukkan semangat luarbiasa untuk tetap menjalani nanjak dengan caranya sendiri. Salut.. salut… Sejak masih di Talaga Bodas saya sudah dengar dari Om AN kalau Om Hanif insist kita tetap ke Cipanas dan tim melanjutkan trip hari kedua seperti yang sudah direncanakan. Determinasi dan kepercayaan diri beliau juga yang menyemangati kami tetap menjalankan nanjak hari kedua ini. Kami jadi tidak terlalu kuatir dengan kondisi beliau.

Sayang lensa yg terpasang bukan yang 300mm jadi tidak bisa dapat gambar jelas Om Hanif di kejauhan. Setelah lambai2 sebentar segera saya pesan teh manis panas lima gelas ke warung teteh…

Setelah satu demi satu rekan berdatangan, paling cepat saya tempuh 43 menit dari awal nanjak, sementara rekan terakhir masuk ke kawasan parkiran ini 1jam 23 menit. Lengkap semua: Om AN, Om Acu, Om Qodrat, Om Haris, Om Sigit, Om Didik, Om Dewa, Om Deni, total 9 orang dengan saya. Om Hanif tampaknya sedang duduk-duduk menikmati pemandangan kaldera di atas.

bersambung ke bagian kedua…


Galunggung Trip Day#1 Uphill to Talaga Bodas part2

ini bagian kedua dari tulisan sebelumnya…

7@ Selepas Makan Siang

Rasanya malas sekali untuk gowes lagi, setelah perut kenyang, rebahan di atas batu split pun rasanya huenak. Saya lihat beberapa rekan benar-benar tertidur sejenak saat rebahan diatas batu split ini. Luarbiasa. Kalo hari biasa mungkin sudah malas kita, tapi perut kenyang, badan lelah, plus udara dingin yang bersahabat, menyebabkan kita serasa dibuai nina bobok.

Waduh! Gawat kalo badan keburu dingin, nanti bisa berat lagi pas mulai genjot. Akhirnya dengan sedikit terpaksa, kitapun saling menyemangati untuk berangakt lagi.

Medan berikutnya makin jelas tampak kalau hutan di sekeliling trek adalah hutan alami. Jenis pepohonannya bermacam-macam. Meskipun secara umum trek terus menanjak, tapi ada beberapa bagian kita diberi napas dengan sedikit rolling, sedikit banyak ada bonus laah..

Tak sampai 15 menit dari start setelah makan, setelah didera tanjakan panjang gravel-makadam kita didera hujan. Ini untuk pertama kalinya hujan turun sejak start gowes. Tampak terlihat ada satu lagi sumur pengeboran di sebelah kanan track. Entah ini sumur ke berapa yang kita temui di jalan. Kata Trackbuilder sih itu sumur geothermal. Rekan-rekan segera berhenti dan mengeluarkan jas hujan/jaket. Sempat saya ambil shot terakhir sebelum saya masukkan kamera ke tas. Setelah sejak start kamera selalu gelantungan di leher, akhirnya dia menempati tempat yg lebih layak. Takut kedinginan, segera mulai genjot lagi. Om Hanif sudah memberi ‘clue’ bahwa akan terjadi sebuah tanjakan yang cukup miring di depan.

Saya tepat di depan Om Acu, trek semakin menyempit. Kanan kiri banyak rerumputan dan pepohonan yang lebih mendekat dibandingkan sebelum bertemu sumur eksplorasi. Badan trek campuran makadam dan gravel juga semakin kasar, menurut saya, semakin asyik digowes, karena masih sangat gowesable. Kita agak speedy, Om Acu sambil teriak, “… enak Om… irama gowesnya dapat nih…”. Dalam hati saya, “Sialan, jadi musti speedy terus deh ngimbangi anggota termuda kita ini, mana tujuan masih jauh…” Hehehe…

Kabut tipis bergantian dengan hujan ringan terus menerus. Akhirnya kita melihat di perbukitan depan tampak terhampar perkebunan sayur. Wah, masuk ke kehidupan manusia lagi setelah hampir seharian ketemu hutan terus, regrup di sebuah awal turunan. Turunan yang saya yakini adalah awal tanjakan maut yg Om Hanif sudah ceritakan.

8@ Tanjakan Batu plus Dua Pertigaan

Intip novel lanjutan dari teman-teman, saya memang sengaja memisahkan bagian paling favorit ini di khusus satu bab tertentu hehehe… Padahal genjotnya *gak jauh*.

Regrup foto dan tentusaja hahahihi sepuasnya untuk saling menyemangati. Kita masih berdiri di tengah kabut. Hanya kamera Om Stef yang jeprat jepret tetap beraksi. Ini pitstop agak lama buat terkumpul kembali, ternyata Om Haris perlu balik ke tempat makan siang karena HP tertinggal.

Sampai sekarang saya masih heran, ini tim kok kagak ada matinya. Udah didera segala macam tanjakan dan medan berat serta panjang kok seluruh tim masih saja cengar cengir, ejek mengejek, setiap diajak foto ceria terus. Semua lho! Pokoknya kekuatan fisik, dan terutama, kekuatan mental tim ini memang luarbiasa!! Itu rupanya dipahami oleh trek (halah!). Segera dua-tiga bagian kedepan adalah bagian paling berat dari trip ini. walaupun kata Om Qodrat “tinggal 400m naik lagi dari 1300m ke 1700m dpl”.

Segera setelah turun, saya pilih paling belakang, terlihat dengan jelas jalan menuruni sebuah lembah lalu meliuk menukik menaiki sebuah bukit. Dahsyat !! Terusterang rasa ‘jiper’ yang muncul dan membuat bulu kuduk saya berdiri membuat saya menekan rem dan mengambil kamera meskipun gerimis. “Ini foto harus diambil !!” kata saya. Saya amati rekan-rekan satu persatu naik dari dasar lembah melewati sebuah trek campuran antara halus dan batu tampak di kejauhan. Baru kemudian saya tahu bahwa trek bercambur batu dan aspal serta beton.

Tampak satu persatu teman-teman segera berhenti di titik-titik tertentu. Jalanan macet karena satu persatu gerombolan berhenti. Segera saya tetapkan hati, masukkan lagi kamera ke backpack, dan mulai genjot slowly turun sebelum berusaha sekuat saya bisa untuk terus genjot naik. Akhirnya trip juga setelah kemiringan dan trek batu-batu lepas membawa sepeda keluar trek kearah kiri. Ampuuuuuunnnnn… ini tanjakan indah banget!! Susah saya bayangkan truk-truk engkel supply ke sumur pertamina itu melewati jalan ini. Gimana caranya ya mereka? Foto-foto dari kamera Om Steph menjelaskan dengan lebih baik bagian ini.

Dengan ikhlas sepeda sedikit saya dorong untuk mendapatkan permukaan yang memungkinkan tambah momentum lagi untuk mulai genjot. Disini saya segera memutuskan dalam hati, “Ini trek BENGIS !!”.

Tak Berapa lama gowes, kita lalu berhenti lagi di sebuah pertigaan. Aliran air kencang sekali terdengar. Air di bidon saya sudah tinggal dua teguk. Saya perhatikan juga rekan-rekan sudah mulai kehabisan air minum sejak makan siang. Kita berhenti di pertigaan ini. Berhasil isi dua bidon penuh dengan air, Pak Presiden melakukan kegiatan rutin beliau menjelang 25km tercapai, tapi heran, tidak tercium bau-bau aneh??

Disini saya bilang ke rekan-rekan, “Ibarat wanita, trek ini cantik tapi Bengis dan Kejam !!” Om AN tertawa terbahak-bahak dengan bilang kalau “Tumben pakai perumpamaannya Wanita…” Hehehe.. iya juga.

Tampak di kejauhan kota Garut. Ini lagi pertigaan yang kalau tersesat kita akan terbawa menuruni Galunggung ke Garut, bukan Tasikmalaya. Om Hanif cek peta dan GPS meyakinkan arah selanjutnya. Dalam 10 menit pemandangan ke kota Garut segera hilang tertutup kabut yang mulai naik. Kita semua tak ada yang menyangka bahwa kita akan turun ke arah Garut malamnya nanti. Segera beberapa butir gula jawa, soyjoy, silver queen dan segala camilan keluar dari kantong punggung.

Tak lama kita gowes lagi dan bertemu pertigaan yang lain. Di pertigaan ini tampak jelas ada sign mau pilih mana, Talaga Bodas? Karaha (arah start)? atau Garut? Hampir semua orang request untuk difoto disini. Kebetulan juga kabut tebal menerpa kita semua, membuat tempat yang sudah dingin ini menjadi semakin dingin dan redup. Lebih heran lagi, meskipun dingin, kehujanan, paha dan betis penuh geliga, baju basah, badan lelah… teteeeeppp… aja tim cerah ceria!! Lihat ada di foto2 terlampir.

Bagaimana kelanjutan gowes jalan makadam menembus kabut dan hujan? Menuju 1700m dpl? (Sebagai perbadingan, Puncak Pass 1400m dpl).

9@ Talaga Bodas !!!

Ini berat. Kondisi jalan semakin parah. Batu-batu makadam semakin banyak menonjol nonjol diantara trek. Rerimbunan tanaman di sekitar trek hanya menyisakan ruang yang cukup untuk handlebar kita lebih sedikit. Kadang tanaman tampak menutup jalanan dan terpaksa menggores muka kita.

Cuaca berganti terus menerus antara hujan dan tidak, kabut berganti antara tebal dan tipis. Dingin? Jelas! Terutama kalau berhenti. Beberapa teman tampak memulai dengan teknik dorong, mungkin untuk menghemat tenaga. Kondisi jalan memang berubah cukup drastis dibandingkan tahap sebelumnya. Hampir gak ada gravel disini. Asli hanya batu makadam saja.

Dengan ikhlas berusaha saya genjot meter demi meter sekedar membuat sepeda maju kedepan. Saya rasakan sendiri trip ini menjadi semakin berat dan berat. Nafas juga semakin berat, mungkin pengaruh udara yang semakin tipis kadar oksigen-nya. Maklum sudah diatas 1500m dpl. Setelah dari awal trip tidak pernah di belakang, kali ini saya putuskan untuk merasakan bagian belakang grup, berusaha menikmati saling dukung dan saling memberi semangat.

Sempat berpapasan dengan truk engkel. Vegetasi sudah semakin ganas. Batu makadam semakin besar, lalu tampaklah sebuah sumur geothermal (lagi lagi) di sebelah kiri. Wadoh. Setelah lewat sumur ini rupanya tidak pernah lagi ada kendaraan roda empat yang lewat. Jalanan sangat parah. Makadam runcing plus kadang malah tanah keras yang basah dan licin. Vegetasi semakin merapat, hujan semakin deras.

Untuk pertama kalinya rekan kita berganti ban dalam, sepeda Om Steph yang jadi korban. Di jalanan yang full makadam begini memang relatif paling sering terjadi ‘snake bite’ di ban dalam yang mengakibatkan kempes atau bocor tipis. Disinilah saya harus mengakui ke-solid-an Pak Presiden dengan Menseskab yang baru diangkat Om Dewa. Buset! Mereka berdua saling bantu dan saling menyemangati, saling bagi soyjoy. Saya gak enak sendiri ada di sekitar mereka berdua, hihihihi… Saya tinggalkan mereka berdua deh.

Genjot demi genjot, meter demi meter. Sementara lingkungan sekitar trek sangat mengingatkan saya pada trek Papandayan nanjak dari Pangalengan. Makadam, vegetasinya, kabutnya dan dinginnya. Dalam hati saya berpikir dan menghibur diri, “… ini pasti sudah dekat puncak…”. Yang saya lakukan seperti orang gila adalah genjot, berhenti, trus tereak-tereak menyemangati diri sendiri dan teman yang lain.

Jalanan makadam tiba-tiba berganti dengan serpihan langka aspal ! Wah akhirnya ada yang saya bisa teriakkan lagi ke rekan-rekan, “Wooooiii.. jalan tol disini…. ayooo… dikit lagi jalan mulus…”. Diantara lautan jalan makadam, sejumput jalan aspal rusak saja rasanya sudah seperti jalan tol. Alhamdulillah tak berapa lama melewati *jalan tol* ini segera tampak gubug jagawana…!!!

Cihuuuuyyyy… sambil tereak-tereak segera meluncur bablas dikit gak sampai 100m kita turun menemui TALAGA BODAS !!!

Hati bergejolak tak terkendali…
Indah banget !!
Ini hampir jam 3 sore, jadi sudah 8 (delapan) jam sejak kita mulai start gowes !!

Saya mengikut rekan-rekan yang lain, buka sepatu. Dalam hujan rintik-rintik, saya cuek keluarkan kamera dan mulai memotret lagi.

10@ Jam 3-5 di talaga bodas

Menurut catatan kamera saya, kita sampai di Talaga Bodas sekitar jam 1530. Seingat saya sayup2 terdengar adzan Ashar. Foto narsis sepuasnya, cuek kamera kena hujan dan basah. Ada berbagai macam gaya dari rekan-rekan, ada yang bertapa, ada yang rendam kaki, ada yg gak jelas puter-puter naik sepeda tapi gak pake sepatu, ada yang lompat, ada yg gotong sepeda. Lengkap !! Semua gaya ada…

Saya dorong sepeda melewati sebuah sungai kecil, mau memberi ruang pemotretan untuk Eyang Dieng SX3. Di kepala saya sudah terbayang Eyang Dieng SX3 dipotret gagah mejeng menikmati kesendirian dengan latar belakang danau berwarna putih kebiruan yang sangat eksotis ini. Dari jauh saya dengar ada teman yang teriak ttg ‘ati-ati kejeblos…’. Saya berusaha hati2 dengan menyuruh Eyang Dieng maju duluan, baru saya dibelakangnya. Foto2 tuntas, saya kembali ke grup. Jarak tempat saya foto2 sekitar 20 meter dari grup berkumpul.

Air danau tidak panas samasekali. Di pinggir danau pasir-nya putih campur coklat, mirip di pantai. Di beberapa tempat di pinggir danau ada semacam gelembung-gelembung uap/air keluar. Eksotis, aneh, ngeri, sekaligus indah.

Sempat terlihat sekitar 10-15 orang anak pencinta alam toss merayakan hiking mereka yang tampaknya baru juga sukses mencapai talaga bodas. Mereka tampak gembira sekali seperti kami. Tampak rombongan pecinta alam ini melanjutkan jalan dengan mengitari danau ke arah seberang danau. Dari Om Hanif saya dengar clue kemana itu anak pecinta alam pergi, “Ada jalan offroad di seberang danau buat turun ke Tasik”. Dalam hati saya bilang, “Yeah.. yeah… yeah… Dasar Track Builder, tauuuuu… aja meski blom pernah kesini”.

Tak terasa acara foto-foto sudah berlangsung setengah jam, dengan semua kamera tidak absen beraksi. Badan sudah mulai terasa dingin, hujan mulai turun, di kejauhan saya lihat tiga orang mengitari danau (danau agak bulat, diameter sekitar selebar lapangan bola) ke arah asap keluar di seberang tempat kita berkumpul. Baru kemudian saya tahu kalau mereka adalah Om Hanif, Om Wid dan Om Stefanus.

Tiba-tiba hujan turun agak deras. Sempat kebingungan apa perlu nunggu rekan bertiga kembali lagi baru kita ke pos jagawana untuk makan dan mengisi perbekalan sebelum pulang atau gimana? Karena badan mulai dingin dan perut keroncongan sementara bidon hanya berisi air selokan akhirnya kita bawa tas-tas Om bertiga dan mulai genjot balik ke jagawana.

Kami tidak sempat melihat kejadian musibah yang menimpa Om Hanif, tampaknya terjadi saat kami genjot balik ke jagawana (sekitar 100-200m dari kawah).

Masih ribut melepas baju basah, berganti baju kering, sibuk pesan kopi panas dan indomie rebus panas, heboh banget pokoknya kita berteduh di pos jagawana. Lalu muncul lah Om Hanif-Om Wied-Om Stef dan terdengar kabar kalau Om Hanif mengalami kecelakaan…

Selanjutnya?
Cukup panik lihat luka rekan kita, badan lelah, lapar, kedinginan, basah, hujan…

Om Dewa dengan sabar melakukan P3K, setelah semua mengisi perut dan bersiap, setelah berhasil mendapatkan dua motor yang bersedia membawa Om Hanif dan sebuah sepeda turun, akhirnya kita mulai perjalan turun. Re-route. Rute berubah total dari rencana. Kita turun ke arah Wanaraja, Garut. Bukan ke Cipanas, Tasik seperti rencana semula…

Trip ini belum berakhir kekejamannya…

11@ Down the Rock Garden like Hell

Re-route. Kenapa Re-route?
Saat kami tau Om Hanif cedera, kami tidak lagi membebani pikiran beliau. Cedera sudah sangat memberatkan untuk sekedar dialami di tengah hutan belantara 1700m dpl gini. Diskusi dengan Jagawana (Orang Garut) menunjukkan arah sebuah klinik terdekat ke arah Cidaun, Wanaraja, Garut. Otomatis Pak Jagawana sudah kami beri titel pembuat rute turun yang baru. Gak mungkin kan kami tetap minta Om Hanif yang kakinya serasa sedang ditusuk2 beribu jarum? Kami juga meminta pak Jagawana untuk bisa merayu temannya mau mengemudi motor turun ke Garut.

Merayu??? Ya!!
Bayangkan suasananya. Sore sekali (jam 5, jadi pasti gelap di jalan), dingin, hujan deras. Pasti malas sekali untuk turun ke Garut yang bayangan saya paling dekat 10km dibawah. Kita bisa mengerti jika mereka memilih meringkuk berselimut sleeping bag minum kopi panas menunggu besok pagi untuk berkegiatan lagi.

Jadi kita re-route trip ke sisi gunung yang lain, samasekali jauh dari Cipanas yang sudah kita setting sebagai tempat menginap malam ini. Yang ada di pikiran kita hanya segera melakukan treatment medical ke Om Hanif, dan kita semua harus menyertainya kemanapun itu.

Setelah semua settle saya set shock melepas lock-nya. Jadi masuk ke setelan mentul mentul. Dengan hati gundah badan dingin karena jarang gowes (maklum turunan) kita mulailah perjalan turun yang bisa saya gambarkan seperti subject email ini:

Down the Rock Garden like Hell…
Turun melewati taman penuh batu rasanya seperti di neraka….

Jalan turun kita adalah jalan asli pegunungan. Basisnya ya makadam batu-batu besar. Gak susah juga nyari batu besar di sekitar Galunggung kan? Kita turun melewati jalan lain yang bukan jalan proyek pengeboran geothermal Karaha seperti waktu kita naik. Jalan proyek geothermal cenderung sudah lebih ‘prepared’ dengan gravel dan pasir, maklum dilewati truk engkel dan truk tronton untuk mengangkut logistik pengeboran. Jalan turun ini???

Ini adalah pengalaman perjalanan turun melewati jalan batu PALING GILA yang pernah saya jalani. Trek penuh batu lancip dan besar. Cuaca hujan bergantian deras dan sedang, jika beruntung dapat sedikit gerimis. Air hujan tidak lari kemana, lari ke jalan itu juga, menggerus apapun yang ada di jalan, menyisakan batu-batu makadam telanjang untuk kita lalui dengan sabar.

Hujan tidak hanya menyediakan aliran air yang menyamarkan segala yang ada dibalik bongkahan batu-batu di trek. Tapi air juga membuat trek dan batu yang kita lewati jadi licin, semakin menambah banyak tantangan untuk bisa mengendalikan sepeda dengan baik dan selamat.

Belum lagi ditambah kondisi badan. Karena all the way down. Kita hampir tidak pernah gowes. Badan jadi kerasa dingin dalam balutan jersey yang tentusaja basah. Sayang juga saya tidak ambil satu foto pun di bagian trip paling gila ini. Kamera saya bungkus tas plastik dan saya masukkan ke backpack.

Saya termasuk sangat berhati-hati saat turun. Dengan segera tidak tampak lagi para pesepeda gila turunan yang dipimpin oleh Pak Presiden CiPOC himself di depan. Saya temui diri saya di rombongan paling belakang bersama Om Acu (Hardtail diamondback-on v brake), Om Wied (Hardtail giant-on v-brake), Om Sigit (Hardtail Dominate), Om Stef (Full Sus Banshee).

Belum 2km turun saya dengar suara rem Acu sudah mulai parah. Segera saya teringat pengalaman bersepeda gunung 1,5 tahun bersama v-brake. Gawat!! Apalagi Om Acu ini kan dari transbike, kebayang saya bakal digantung sama Om Anto Boti kalo something happen to him when I am around. Dengan cerewet saya tanya terus tuh apa rem masih jalan. Saya temani beberapa kali setting v-brake-nya.

Tak berapa lama saya jumpai juga Om Wied mengalami masalah yang sama dengan v-brake. Untung masih ada Om Steph dan Om Sigit juga buat menemani. Alhasil kita ada 3-4 kali berhenti setting ulang v-brake untuk kembali mendapatkan grip. Setiap berhenti, minuman bukan dimasukkan mulut, tapi untuk menyiram v-brake yang panas dan tergerus parah. Ampuuunnn…

Tanpa berusaha mendramatisir, itu semua kita alami dalam hujan. Bergatian tuh deras dan sedang, dengan trek batu dan kebun sayur di sekitar trek. Desa/kampung pun tampak masih belum terlihat kelap kelip lampu-nya di bawah. Benar-benar seperti turun yang tak akan berakhir…. Dramatis, mengkhawatirkan, dan sangat berbahaya.

Pada akhirnya kita ketemu bbrp rumah, lalu dilanjutkan sebuah kampung!!

Ada ide cemerlang untuk mencari ojek dan membawa dua orang plus sepeda v-brake yg sudah gawat ini turun ke bawah…. Tapi apa coba jawaban orang yang sempat kita tanya, “Oooo… ojek masih jauh dik… masih 20km kebawah…”

Ampuuuuunnnn….

12@ Still, down the rock track like hell…

Setelah mendengar “…. masih 20km turun…” sempat membuat kami kecut terusterang. Karena adzan maghrib sudah berkumandang setengah jam yang lalu dan tidak saja hujan, batu, licin, air, dingin, lelah dan basah yang kita hadapi. Kali ini bertambah gelap-nya malam menjelang…

Om Wied mulai menggunakan teknik downhill paling aneh yang pernah saya lihat. Memadukan kenekatan, keseimbangan, ide cemerlang: beliau menambahkan sepatu kanan-nya menginjak di bagian ban bawah sadel, untuk menambah grip rem. Buset!! Kaki kiri kanan napak ke pedal saja handling sepeda super susah ini make gaya akrobat lagi.

Om Acu lebih ekstrem. Sepeda dibawa berlari turun kebawah. Nuntun-lari-downhill !!! Tsk tsk tsk… Padahal hujan, basah, batu, gelap… Sampai suatu saat Om Acu teriak “.. aduh aduh..” sambil tanpa sebab jelas terjatuh menimpa sepeda. Wadoh !! Rupanya beliau kraam kaki nya dipakai berlari…

Kalo orang jawa bilang. Otot kawat tulang besi!!! Orang nekat main sepeda hujan-hujan gelap gini…
Akhirnya saya usulkan kita berteduh di sebuah rumah. Om Acu kebetulan perlu melakukan tembakan tertentu hehehe…

Duduk di tangga teras rumah orang, akhirnya kita dapat minuman air putih panas… wuiii… itu air putih benar-benar booster fisik dan moral !!! Air mengalir melewati mulut, dada, ke perut. Semuanya terasa panasnya air menambah panasnya tubuh kami. Tanpa basa-basi kami berlima curhat dan memuji nikmatnya air putih panas ini.

Disini juga saya buka tas dan telepon Om Ardian, yg baru sampai sebuah warung di bawah, untuk mengirimkan ojek ke atas menjemput dua sepeda v-brake.

Alhamdulillah sambil nyruput air panas, sang ojek penyelamat (yang ternyata tidak perlu datang dari 20km dibawah, informasi menyesatkan nih…) datang. Fyuih… Setelah menghaturkan berkali-kali terimakasih kepada Bapak baik hati yang memberi kami air putih panas segera kami meluncur kebawah. Tak sampai 15 menit ketemu jalan aspal dan sampai di sebuah warung. Semua anggota tim kecuali Om Hanif, berkumpul lagi akhirnya.

Terdengar adzan isya’….

Alhamdulillah…
gorengan di warung itu segera saya embat…

Kabar dari Om Hanif sudah sampai di sebuah klinik dan mendapat penanganan yang lebih layak. Adrenalin memuncak dan kali ini kembali adrenalin turun kembali disambut kepuasan gowes yang tak tergambar. Saya bilang ke Om Ardian yang sudah banyak senyum, “… akhirnya pake nyasar juga kita…” wuikikikiki….

Re-route turun ke Garut adalah nyasar yang maut, kejam, jahanam namun indah…

ini adalah lanjutan dari ke bagian pertama…
Summary trip dan detail googlemap di blog cikarangmtb ada disini…
foto-foto hari pertama bisa dilihat di multiply… atau di facebook…
thread sepedaku.com disini…

Trip hari kedua ke Kawah Gn Galunggun bisa dibaca ceritanya disini…

Laporan trip ini didukung oleh Bikewear…

logo bikewear


Galunggung Trip Day#1 Uphill to Talaga Bodas part1

Bagian pertama dari dua tulisan cerita hari pertama …

Galunggung Trip. Gowes bersama rekan-rekan yang sering ngobrol di mailing list cikarangmtb@yahoogroups.com ini terdiri dari dua hari trip:
Day#1 Uphill Kadipaten (780m dpl) -Karaha-Gn. Talaga Bodas (1730m dpl)- Wanaraja, Garut (717m dpl)
Day#2 Uphill Cipanas, Tasik – Kawah Galunggung – Tasikmalaya

1@ Kadipaten-Start

Akhirnya jadi juga gowes ini..

Sudah diimpi-impi kan sejak hampir enam bulan yang lalu. Bersyukur, itulah perasaan paling kuat saat kami loading dan merakit sepeda di Kadipaten, pintu gerbang kawasan Karaha Bodas, Sumur Geothermal Pertamina.
Kadipaten terletak diantara Malangbong dan Tasikmalaya. Saat melewati jalur Selatan Bandung-Tasik, kita berbelok kanan ke arah Tasikmalaya Kota setelah lepas dari Ciawi (jadi tidak lewat jalan potong Cihaurbeuti).

Anggota tim CikarangMTB ini terdiri dari 12 pesepeda: Om Hanif (track builder), Om Ardian, Om Deni, Om Qodrat, Om Stephanus, Om Widarta, Om Dewa, Om Haris, Om Didik, Om Acu, Om Sigit dan saya.

2@ Kadipaten-Jiper

Perjalanan berlum 300m. Begitu melewati sebuah belokan dan dikejauhan, diantara kebun jagung di perbukitan muncul tanjakan ini, waduh, segera saya memutuskan untuk berhenti genjot dan ngambil foto rekan-rekan. Satu persatu rekan-rekan ‘merayap’ mengatasi tanjakan pertama ini. Sesekali motor lewat menaiki tanjakan ini dengan tekanan gas putaran tinggi yang konstan. Terdengar motor pun susah payah melahap tanjakan ini.

Ini masih pagi, jam 7 lebih sedikit, matahari masih malu-malu dibalik awan. Perasaan seperti bertemu tanjakan ‘jiper’ di tegalbadak langsung menerpa dada saya, bulu kuduk tak tersadar berdiri sendirinya. Lebih ‘jiper’ lagi melihat arah tanjakan yang tampaknya akan naik terus melewati punggung bukit ini. Bener-bener kita harus dengar kata Track Builder, “Depannya langsung ditohok dengan kenaikan xxxmeter pada jarak xxkm”. Di ujung tanjakan ini kita sempat menunggu Om Dewa yg tampak meluruskan kaki ditemani Om Hanif. Terjadilah foto session tahap pertama.

3@ Kadipaten-photo session

Bagian berikutnya adalah bagian photo sessions. Tanjakan miring sekali, untungnya kita dihampari aspal cukup mulus. Efek tanjakan ini yang paling terasa adalah efek kejutan kemiringan plus dekatnya dari awal start. Benar-benar mengingatkan pada tanjakan Caringin Tilu di daerah Bandung Utara: Kejam dan Miring serta mulus.

Setiap pegowes dengan semangat masih membara, dengan muka berseri-seri, berusaha menemukan irama genjot masing-masing. Saya sendiri sangat menikmati berhenti dan memotret rekan-rekan, kadangkala sambil genjot, asal arahkan saja lensa ke teman di depan. Pemandangan latar belakang-nya benar-benar yahud. Tampak lapis demi lapis pegungungan dan perbukitan diselimuti awan/kabut dibawah jauh. Pas banget penggambaran Om Ardian di subject email ini: Pak Presiden genjot diatas awan. Sambil terengah-engah di telinga saya terngiang-ngiang lagu “Negeri Di Awan” dan suara Katon.

Mendekati akhir tanjakan saya genjot sekuatnya dengan menaikkan gear belakang, berhasil melewati Om Qodrat. Tetapi betapa kecewanya saya, di depan sudah ongkang-ongkang kaki di balai-balai warung, junior kita rekan Om Dewa: Om Acu dengan diamondback hardtail-nya.

Satu persatu penggowes berkumpul. Bukan muka kusut dan kusam setelah ‘dihajar’ tanjakan miring dan panjang. Hanya keceriaan yang tampak, saling menyemangati. Seru banget. Disinilah muncul ungkapan, “Gak low profile banget….”. Sementara di lembah berikutnya sudah menunggu sebuah dusun dengan tanjakan yang tak kalah aduhai sebagai menu berikutnya.

4@ Kadipaten-warung terakhir-hutan pinus

Disambut sebuah lembah, turunan aspal mulus yang curam lalu dihidangkan tanjakan, tanjakan, dan tanjakan di tengah kampung. Kita jadi tontonan orang kampung sekitar. Sambil, “Punten Pak…”, “Punten Bu…” di tengah-tengah napas bergelora, sampailah kami di ‘warung terakhir’. Tampak di balik bukit adalah area hutan pinus.

Nanjak memasuki hutan pinus saya melewati Om Deni dan Om Steph yang sedang saling ber-narsis. Hehehe… Memang pemandangan pagi hari di ketinggian gunung seperti ini indah sekali. Ditambah wangi bau daun pinus dan semilir angin dingin. Wuiii…

Jalan mulus meliuk-liuk melewati hamparan hutan pinus. Eksotis sekali. Setelah melewati portal Pertamina Karaha, kami masuk ke ‘Karaha-Kadipaten’. Sebuah kawah kecil penuh bau belerang yang nyempil di tengah hutan pinus. Kami lihat sebuah kijang merapat berwisata ke kawah itu. Segera berbayang di kepala saya andai tau jalannya mulus seperti ini pasti Om Adjie bersedia ikut sampai ke Karaha ini.

Selanjutnya jalanan nanjak dan nanjak mulai berubah dari aspal mulus ke batu gravel plus pasir. Beberapa kali truk pasir engkel dan truk tronton lalu lalang membawa material dan pipa untuk keperluan pengeboran geothermal Karaha Bodas, area yang sempat menjadi kasus hukum internasional dan membebani keuangan negara kita untuk membayar ke pihak investor asing.

Om Acu, penggenjot terdepan, berhenti di tempat yang dia sebut ‘Pohon Avatar’….

5@ Rolling manja di hutan pinus

Mungkin karena berhenti di pohon avatar, kami jadi banyak imajinasi. Termasuk diantaranya adalah mengandai-andai diri naik nanjak kesini dengan polygon BMX singlespeed. Pasti berat banget deh. Tidak perlu terlalu lama berandai-andai, karena segera ada anak kecil usia SMP-an, full gear (sepeda BMX polygon, single speed, pakai parang di pinggang). Ada satu orang yang sok tau dan sok jagoan nyobain sepeda ini, berakhir dengan kepanikan saat downhill turun karena ternyata sepeda tidak dilengkapi dengan rem samasekali.

Imajinasi yang lain adalah beberapa diatara kami jadi agak aneh dan merasa dirinya jadi paspampres Pak Presiden. Kebetulan juga Pak Pres, namanya pejabat negara, datang selalu belakangan. Saat beliau tampak dari jauh hadir nanjak ke arah kami sedang pitstop, segera berlari dua orang mengawal dari kiri kanan. Mirip banget SBY dikawal paspampres pas naik sepeda. Untuk selanjutnya kejadian ini jadi berulang terus (dan herannya) tetap tampak lucu di setiap pitstop.

Setelah chit chat dengan Bapak sang anak kecil, melahap sekantong wafer coklat TOP, segera kita melangkah untuk genjot rolling naik turun trek lebar gravel campur sirtu. Jadi ingat trek tercinta kita, track sumur gas. Tipe rolling sama, bunyi ban menggilas trek-nya sama… dddrrrrrdddddrrrrdd…. Mantap mantap.

Bedanya sama sumur gas? Disini dingin, udara asli bersiiiiiihhh banget, jadi senang ambil napas panjang-panjang…. seger!! Ditambah lagi? Tentusaja disini pohon pinus lebat banget di kanan kiri trek. Wuiii… Mantap surantap top markotop… Bayangkan seperti suasana kelok-12 menjelang finish Sukamantri, tapi ini rolling dan trek gravel. Nyamaaaaannnn…

Cuma banyak jebakan batman. Pertigaan banyak. Setiap pertigaan kita jadi menunggu Om Track builder membuka print-an nya plus lirik GPS. Mantap. Katanya kalo salah belok bukan sampai ke Talaga Bodas, tapi malah bakalan turun ke Garut! Nah lho… Om Track Builder bak Luna Maya dikejar infotainment. Setiap ketemu pertigaan satu tim berhenti dan menunggu titah beliau hehehe…

6@ Hutan dan Sumur Terakhir (Makan Siang)

Setelah menikmati nanjak nurun rolling, kadang kita disuguhi turunan… asik sekaligus ngeri membayangkan kejadian serupa yang saya alami di trip sebelumnya (ceritanya trauma mandalawangi gravel downhill), tekan rem juga hati-hati.

Sementara rolling semakin panjang panjang jaraknya, kalo tadinya pendek turun disambut pendek nanjak, lalu rolling berikutnya, kali ini interval semakin besar, sampai akhirnya ada sebuah turunan cukup panjang. Wuzz wuzz wuzz… saya disalip berkali-kali oleh rekan-rekan. Buset!! Kenceng2 banget sih, termasuk Pak Presiden diatas Patrol BLINK BLINK nya. Namun seperti kehidupan, pergantian berlangsung begitu cepat, segera disambut dengan tanjakan panjang gravel. Fuh fuh… kali ini panjang beneran. Kiri kanan pohon pinus sudah mulai diselingi pohon-pohon yang lain. Vegetasi hutan secara bertahap mulai berubah. Tampak semakin banyak pohon basah seperti pohon pakis.

Sempat sekali tim re-grup, kami temui tim berada di jalanan gravel di tengah hutan yang berkabut. Suasananya berbeda sekali. Bayangkan ada pohon-pohon besar di sekitar track dan kabut tebal-tipis silih berganti. Suasana benar-banar ‘spooky'; gabungan antara senyap-mistis-dingin-ngeri-basah. Susah digambarkan.

Setelah regrup dan foto bentar lanjut deh. Agak mengherankan kali ini setelah nanjak panjang kita ketemu turunan panjaaaanggg… banget. Seperti gak habis-habis. Wadoh, jangan-jangan turun ke Garut neh jalan.. Lalu kita disambut oleh sebuah ‘lapangan’ pengeboran geothermal. Tampaknya lapangan sudah lama dibuat dan sudah lama pula ditinggalkan namun terlihat ada 15an pekerja sedang melakukan kegiatan konstruksi. Kita menepi berhenti disitu. Perut saya sudah lapar.

Makan siang deh kita…

berlanjut ke bagian kedua…
Summary trip dan detail googlemap di blog cikarangmtb ada disini…
foto-foto hari pertama bisa dilihat di multiply… atau di facebook…
thread sepedaku.com disini…

Laporan trip ini didukung oleh Bikewear…

logo bikewear


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.