enjoy every cadence, every breath…

Posts tagged “karawang

Bikewearr Century Ride Cigeuntis – WJxc Ride#28

Cikarang, 27 Mei 2014

Libuuuuurrr hari selasa… Libur kejepit dan tidak cuti, ada baiknya kita gunakan untuk gowes sepeda gunung, dan pilihan trek kali ini adalah trek KOLOZAL#3 nya CikarangMTB, trek kolozal Mei 2009, trek kolozal lima tahun lalu, sepuluh edisi kolozal yang lalu.

Trek lama perlu diberi bumbu, dan bumbu kali ini ada dua!!!

IMG-20140528-WA0014Bumbu#1 adalah digenjot dari Cikarang. Ya, supaya jadi century ride, genjot 100+ km. Ini sama persis dengan gowes mati lampu, kembali di tahun 2009 akhir, saat bertiga Om Ardian dan Om Didi … Waktu itu sama sama gowes weekdays hanya berganti teman saja kali ini. Pernah juga gowes Cigeuntis dari Cikarang bersama Om Rudy Om Stef dan nTe Rahmi

Gowes Survey CikarangMTB Kolozal#3 Cigeuntis 2009 Mei…
Gowes Matilampu Cigeuntis bersama Eyang AN 2009 Nov…
Gowes Lebaran Cigeuntis bersama nTe Rahmi 2011 Sep…

Bumbu#2 yang lebih terasa adalah rekan gowesnya, kali ini saya bersama Om Sigit menemani tiga orang yang kebetulan katanya belum pernah melewati trek offroad Cigeuntis ala Kolozal. Ketiga rekan ini sih gowesannya sudah susah dikejar, tapi ke Cigeuntis selalu lewat jalan raya Pangkalan Loji, dan bisa mandi pagi di Cigentis lalu sebelum makan siang udah rapi di rumah.

Bumbu#3 trip ini diberi nama Bikewearr Ride oleh Owner Bikewearr om Sigit. Asiiikkk… senang tentu bisa bersama kembali dalam Bikewearr Ride#2 setelah yang pertama sekitar 3 tahun lalu. Kelima peserta trip pun memakai jersey produksi Bikewearr. Semua dokumentasi foto di post trip ini adalah jepretan Om Sigit Bikewearr, makanya berwarna… hehe

IMG-20140528-WA0015Dan gowes pun segera dimulai dengan rencana berangkat jam 0530 tapi team leader baru bangun jam 0545 setelah insomnia sampe subuh. Langsung melesat lewat onroad saja ke arah Pemda Kab Bekasi dan napak tilas jalur kampung saat lima tahun lebih lalu diajak offroad pertama Kang Asol, jadi tidak nembus ke SMA2 Cikarang. Lanjut Pasir Kupang dan masuk ke Medal Krisna mulai deh offroad batu makadam rolling termasuk melewati singletrack ‘nenek jambu’.

Di trip yang lalu bareng Om Okky dan Om Heru kami bertemu nenek membawa jambu yang tidak mau minggir di singletrack dan tertawa terus seperti suara nenek lampir di sinetron. Padahal siang bolong. Hari itu kami tidak bertemu nenek jambu, tapi trek lebih licin karena beberapa hari lalu hujan. Trek sudah banyak yang terkena perbaikan jalan dengan beton padahal dulu makadam dan sirtu, kami pun pitstop di warung yang dulu dipake pitstop juga pada trip Cigentis dengan MbahBro.

IMG-20140528-WA0012Lewat Madal Krisno kita pun mulai masuk ke jalan raya Cariu-Pangkalan. Lumayan juga lewat dua tiga jembatan sebelum akhirnya masuk ke desa Phillips. Nama desa nya unik karena kabarnya dahulu Phillips perusahaan alat listrik pernah merubah desa ini jadi terang benderang. Kaget juga melihat jalan masuk ke desa Phillips sudah di beton juga, untung cuma sekitar 200m dan kami pun kembali menikmati makadam campur semen di beberapa area dalam kampung sampai di pinggir sungai Cigeuntis. Waktu masih menunjukkan jam 10 siang lebih. Pitstop adalah wajib di area ini dan mulai sesi fotografi nya Bikewearr…

Setelah indomie telor masuk ke perut maka kita pun menyeberang sungai Cigeuntis, batu batu bulat yang licin, air mengalir, plus juga genjot di selokan doubletrack sebelum masuk ke desa. Belum lagi latarbelakang kaki pegunungan Sanggabuana yang menjulang julang seperti punuk. Eksotis dan memang hanya kita bisa jumpai di trek ini saja. Setelah itu ternyat kita menjumlai jalan landai panjang di kaki Gunung Goong telah berubah menjadi beton mulus, yang semakin panas memantul dan semakin membuat berasa tidak sampai sampai, untung segera kita disuguhi tanjakan makadam yang masih murni seperti 5 tahun lalu saat nanjak ke pohon besar.

Tak lama melipir kita pun sampai di Warung Wisata Curug Cigeuntis dan makan siang. Perjalanan baru 47 kilometer dan kami pun menyempatkan makan kenyang dan tidur sebentar.

Perjalan pulang balik ke Cikarang tidaklah terlalu banyak kisah karena melewati jalan raya Pangkalan Loji dan berbelok di sebelah kalimalang dari Kobakbiru, terus via beton kalimalang sampai Cikarang Baru. Finish jam 430 sore an. Paha menjerit dan pantat panas, khas perjalanan century ride 100+ kilometer…

Riding Specialized Carve 29″ hardtail 2012
tyres: Continental X-King 2.2
uphill: 7/10
singletrack: 4/10
downhill: 3/10
technical: 5/10
endurance: 9/10
landscape view: 8/10

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


WJxc Ride#9 Cherry Marathon 74km, Karawang (En) – part2

back to the right lines, just only being opened for access

back to the right lines

continued from part1…

A huge mental blow when finally came out of the dead end I was continue to follow the track, a very narrow double-track which looks just only being opened for access. I was so grateful to be able to continue safely.

The next part of the trip was facing ‘the beast’. The double-track tarmac uphill line was straight, to the point, direct while the temperature around the track been increasing to it’s hot peak. It was hard. One of the hardest uphill I have ever taken on my experience. I was not realize that I was doing the fun-cherry track in reverse and then facing this uncompromising uphill line. Yes, I have taken the wrong direction of the route! Back to the uphill.

I stop on every 10-20 meter. This short 10-20 meter has successfully bring up my heartbeat to the maximum allowable level, 170bpm. The uphill was hard but yet beautiful. Writing this post blog two months after the ride I am already miss this uphill part and want to take it, experience the roughness, feel the maximum heartbeat only after meters pedaling.

It was beautiful uphill…

the most beautiful uphill, the hardest one

the most beautiful uphill, the hardest one

Struggling to get to the end of the ‘beast uphill’, I found myself overwhelmed by the view from the top of the hill.

We can see nearly 270 degree of horizon. From left-front-right are: Cikarang Area in left, far away Industrial area in Cikarang and Karawang; while in front of us we can see far away Kujang Fertilizer plant in Cikampek with all Citarum valleys; in right we can see Jatiluhur area only right behind some hills. Beautiful 270 degree beautiful view. A nice closure for beautiful uphill.

Then I decided to take another pit-stop. To calm down my mental after going through dead end. To calm down my heart after exhaustive uphill. To cool down my body with cold drinks.

Again. The rumors I heard about how hard to get an adequately small shops to cool down proven that it was only a rumors. The place, called Kuta Jati, prepare a lot of options for logistic loading including availability of ice. Yes, there was no electricity, but they prepare ice for you!!

After a long pit-stop for 30 minutes continue leaving the beautiful site and going through the back of the hills, goes partly flat and partly down all the way: Kuta Jati to Kuta Tandingan to Kuta Kalambu and then to a simple an famous three-way junction with a lot of Cherry tree… A cool place we were looking for.

I treat myself a lunch while my emotion still in high…
Reaching this Cherry trees after all those ways to get here

Kuta Tandingan... then followed by Kuta Kalambu and Kuta Meriem

Kuta Tandingan… then followed by Kuta Kalambu and Kuta Meriem

Typical scenery around the track was full of hills and hills. Never ending hills one after another. Some part are considered karst area which usually lack of water. A lot of water sip into the ground and a lot of underground river links deep down the earth.

People lives here has adapted to live in such a very hard environment. In the rainy season they try to grow only use rainwater for water source. Some try to grow coffee and oranges, but not much has a good result. No electricity worsen the living condition.

After taking a mental and physical recharge in Cherry, the closing part of the trip was even harder. In going home I have choose to take another two piece of the links. One is what known as ‘Hutan Jati’ or ‘Teak Forest’. This route already going round, taking longer route rather than directly back to Cikarang area. To make the trip ‘perfect’ I was also taken part of ‘Gua Bau’ route as closer chapter.

After 74km or endurance marathon, 6pm arrive back home, exhausted but excitedly determined…
The best route to challenge your endurance; mentally and physically

@antoix track rating:
uphill: 8/10
downhill: 6/10
endurance: 10/10
technical: 8/10
landscape view: 8/10
distance: 74km
rolling track, tarmac and fireroad

The tracklog can be found in bikemap…

Cherry... the beautiful torture track

Cherry… the beautiful torture track

map-funcherry

This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


WJxc Ride#9 Cherry Marathon 74km, Karawang (En) – part1

IMG_1692kalimalang600Cikarang, 14 Oct 2012

This trip, the trip to Cherry, been always in my list of ride for long long time. The track is too famous, and then become a benchmark for every mountain bike rider in Cikarang and Karawang area. I heard about the roughness of this track since five years ago, since my first encounter with mountain bike activity. Again, because it’s so famous. Too many people in cikarang mountain biking scene talk about it.

It’s been postponed and postponed, especially because my own fear, my own weakness. I was enjoy uphill, being an uphill enthusiast, and then heard that this track is long and full of rolling terrain. Rolling is the terrain combination between uphill and downhill side by side. This kind of terrain was the last thing I wanna ride. Being an uphill enthusiast a short downhill and uphill consecutively in my opinion is like going nowhere. You do a hard uphill, not too long, and then followed by short downhill also for not too long. It felt like a torture for me.

san diego

san diego

Before decide to finally take this route for a solo trip I have been trained myself to adopt to rolling terrain. I push myself to find what to enjoy in this kind of cycling track. I do some series of rides, what I called ‘bimbel’ (Bahasa term means some kind of training for kids in schools, training program outside the official school hours). The main training ground are tracks around Sand Diego and Pasircongcot area.

One of the final training part was when I was doing solo ride night-ride San Diego-Pasircongcot ride. The enjoyment and excitement during this ‘bimbel’ ride been told me the beauty side of rolling terrains. Finally I was accustomed to rolling track, I know how to enjoy the track.

signage indicating problem?

signage indicating problem?

Choosing the right track was a big problem. There have been so many combinations around the area. There are a lot lot of tracks goes through Cherry. A combinations ins and outs. Count yourself a lot of permutations available. Finally I decide to take the most far options, combine Fun-Cherry, Hutan Jati and Goa Bau. Decide solo ride will be only depend on my speed on my own will and a lot options to change by on site decisions.

That morning, leave home at 530am and finding a smell of fresh dew when hit offroad area from Kalimalang to SanDiego. A favorite bimbel track felt like my own backyard. Reach San Diego, a small traditional restaurant at around 700am and take a fast breakfast. San Diego Soup was the main menu, my fave menu. Fresh and hot, heat up you body, warm up your feeling since this would be the last decent logistics loading. I load two tumbler full. One with fresh water and another with sweet cold tea Tehbotol. Ready to go…

In doubt on what option route to take, regular-cherry or fun-cherry? Fun-cherry will give more load to the track, this is the longest track to Cherry. Passing by the junction, finally turned back to junction and take fun-cherry route. Rolling track start to hit my bike. Up to first 3km we still can find a lot of trees, some of the villages are still green and felt cool. Up to first 5km we still met other team want to go to Cherry. After that, all alone to the edge of the fun-cherry route.

Ruins beside track... what's happen I don't want to know

Ruins beside track… what’s happen I don’t want to know

There was a released plan that this area will be the place of the new Jakarta’s airport. Currently the area was rarely inhabited, lack of infrastructure. After 5km from San Diego I cannot see any electricity lines. Yet the area already in the heat of land ownership problems. Can be seen by a lot of signage claimed that the land was never been sold. Some ruins ex houses look like the house had taken unexpected treatment rather than expected planned moving.

Going countless up and down hills finally I felt need a break after around 2 hours riding. Looking at my GPS the trip was not yet over 20% of distance to Cherry. I see a simple ‘warong’ (small shop) equiped with ice then I stop and order cola with ice. Due to start at early morning, the heat of the terrain has just start striking our body. I cannot imagine if the trip start late 2-3 hours after.

I often hear stories that we will be lack of logistic support (small shops) around the track, actual situation I face was not as bad as I thought. Yes, the shop is not every 5km, yes there was no electricity, but at least we have place to buy cool and sweet drinks along the way.

The pit-stop, cola with ice

The pit-stop, cola with ice

The first real pitstop for around 20 minutes will cool soda-drink really boost up my enthusiasm. What happen next was entering the far and outside, corner of the track. Feel like going into corner of the world. The track from tarmac becom a clear fireroad. I cannot imagine what would be the track condition in rainy season. Will be full of mud. Even in the peak of dry season like October, we still feel like in the middle of nowhere. Actually also happened since the GPS track lead me into a dead end.

Yes. Dead end. Jalan Buntu.

It was not easy handling myself facing this situation. Try to keep logical was my main priority, controlling urge of excitement to continue, monitoring condition of the track, and keep doing it safely since nobody else but you. The experience itself has thought me abundance of lessons. It was not about the reality to continue following the GPS tracklog (which later on I found Om Hanif, the trekbuilder himself, was not taking this route and was taken another safer route). It was about handling the pressure and go through it.

continued to part2…

This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


Ride#02 Goa Lalay-Pangkalan Karawang

Cikarang, 1 September 2012

This ride continued in the same day, the same line with Ride#01 Jembatan Gantung. My spirit was high, my enthusiasm to start this series of mountain bike ride was on the top. This series of trip just spice up my mountain biking world only on that first day of the West Java XC Rides.

After pass through Cibeet river by the Cibeet Dam the ride goes through an on-road route. Not really an on-road route, the province road to Pangkalan was in a very bad condition. Some part of the road are rough and dusty, not really felt like a good idea ride on it with trailers and hauliers running beside your bike, throwing all the dust to your face. Sometime I felt fuzzy about this trip, is Gua Bau a significant place to go?

I heard about this track from the cikarangmtb mailing list, the stories about last two trips to this cave was always related to exhaustive trips. The track itself was pretty much related to exhausted rides, this even make me more interesting. If multiply still working then you will see what Om Hanif write on http://hmarga.multiply.com/photos/album/49/Cari-Gua-ke-Kawasan-Karst-Pangkalan.. (It’s written in Bahasa Indonesia)

The ride then passing through traditional lime kilns. Along the way we can found more than twenty limestone kiln. These kiln been using reject products and used tires for burning, resulted in dramatic black smoke come out intermittently. It’s kind of dramatic when you ride inside a (supposed to be) teak forest with a lot of black smoke around the track.

The double-track out of the main provincial road gives more pleasure to the ride. The track start to give uphill part. Strange. The track was not really a steep uphill, but it felt hard and long. The heat of the environment around the track start to give more additional taste to the track.

This track located in the Karst area, a geological therm of an area formed for thousand years. The karst area will be lack of surface water. Water will directly goes into the earth, flowing and gather in underwater rivers. Basically we will found a lot of stones on the ground, a lot of caves, and a hot and really dry environment. What we found in this track was an uphill part through bamboo forest up and up the hill. Until we found the opening of the cave.

The name ‘Goa Bau’ (Smelly Cave) closely related to the fact that this cave inhabited by bats. The smell come out of the mouth of the cave was significant enough. I just try to imagine thousands of bats come out in the evening and come back in the morning. It will be interesting sight seeing.

The route back to Cikarang is the hardest past of the track. Long track, rolling and rolling through hills, hot environment was perfect for an ultimate torture for unprepared cyclist. Don’t try this track unless you are ready to spare your time and spirit enough stock to have a long trip. At least a longer trip than you expected.

Tracklog can be found in bikemap link…

This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


Ride#01 Jembatan Gantung-Cikarang

rumah nenek

spooky place

Cikarang, 1 September 2012

This is my first post in English. I am not really comfort on what I am writing, but I feel this is the right time to start. I want my writings can reach wider audience, can be useful for more and more readers out there. Wider than visitors of this blog which been written in Bahasa Indonesia since July 2006.

This post also the first blog post on documenting series of mountain bike rides in West Java, Indonesia. WEST JAVA XC RIDES… Yes, that’s means there will be rides on surroundings of where I live. Try to recapture one by one as much as tracks possible, which I have been riding since August 2007.

Well, lets just start…

This morning start ride at 0630am, taking a classic Cikarang mountain bike route to ‘Jembatan Gantung’ (suspension bridge). This route very popular in Cikarang area mountain bike scene, nearly every body know and fall in love with this track. It’s like a standard, a ride that everybody knows about. In my opinion, this just right to start a series of rides.

Ride#1 Jembatan Gantung

When a pair of tires hit the gravel double-track, the feel to the handlebar and pedals, transfer the roughness of the track into our body. This gives us the feel, the taste of the track. Dust flown from rear-tire of our colleagues ride in front. The feel and the taste that all of us in Cikarang knows about, and always want to do it again and again, ‘crave’ maybe a good word.

The physically challenging rolling route including a long and flowing 2km downhill, end up in the bridge site. Small suspension bridge, an old one with a bad physical condition, but giving a special feeling from the feel when ride on it. The shaking bride gives that odd and memorable feel for everyone ever ride on.

Track-log can be found in this Bikemap.net link…
Distance: 15.6 km
Total vertical climb: ca. 30 m

@antoix Track Rating:
Uphill: 7/10
Downhill: 7/10
Physical Challenge: 7/10
Scenery: 6/10
Character: Hilly rolling track in a hot Cikarang area weather

This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


Night Ride Cikarangmtb ke San Diego Pasircongcot bersama ANU

Cikarang, 4 Agustus 2012

Saya cukup nervous dengan acara malam ini. Sudah lama sekali saya memimpikan merasakan genjot bareng rekan rekan ANU. Disiang hari saya dengan grogi mengubah-ubah setting handlebar. Juga berganti ganti rencana, antara bawa bidon dan ban dalam doang atau bawa tas dan kamera juga… Akhirnya mendengar banyak yang ngikut, artinya akan ada waktu buat njepret, ya bawa kamera…

Setelah gagal ikut trip Papandayan dengan tim ANU di sebulan lalu, saya semakin penasaran saja merasakan siksaan paha ala tim ini. FYI rekan rekan, tim ANU adalah tim yang gemar offroad dari komunitas bike to work Bekasi, ROBEK. Unik juga ternyata saya dengar cerita Om Qoqo kalau di ROBEK tidak semuanya suka offroad.

Suasana depan warung Pak Brewok memang penuh kesabaran malam itu hehehe… Unik juga ngumpul selama hampir dua jam tapi gak genjot. Kita jadi punya obrolan2 aneh. Tentusaja sebagian besar obrolan adalah tentang Kang Asol dan kenangan kita masing2. Sementara Om Hanif mulai merancang-rancang selain trek setengah botol juga bagaimana ‘exit point’nya kalau kita kemaleman di trek dan harus cari sahur.

Kebetulan saya tidak ikutan NR Ramadhan heboh cikarangmtb tahun 2011 lalu. Dan malam itu kedatangan tamu pula di trek yang semohay favorit saya. Dalam bayangan sih saya pikir bisa kok kita genjot cepat malam hari meski sudah mendekati pergantian hari.

Jumlah yang sampai sebanyak semalam cukup mengherankan juga. Meski minim respon di milis atas ajakan Om Qoqo dan Om Hanif, ternyata diam diam rekan rekan mempersiapkan diri. Sementara di kepala saya juga berputar putar gimana caranya memperbaiki kegagalan motret nr jalur lio minggu lalu…

Setelah start genjot dimulai dengan santai saja, tapi tak lama. Segera tampak efek dari di-rawon-i nya para tamu dari grup ANU ini. Dikawal Om Hanif mereka melesat ke depan. Mantaaaappp… Rata rata rekan rekan ANU adalah bike to work er. Maka mereka juga sangat fasih mengebutkan diri di jalanan aspal seperti ini. Makanan empuk yang membuat mata saya agak mengantuk.

Melewati kalimalang, tampak pem-beton-an jalan terus berlanjut. Jalan ajrut2an yang kita rindukan semakin sedikit saja porsi nya. Suasana ajeb ajeb ternyata masih lestari di area ini meskipun bulan puasa. Tak lama kelapkelip lampu pun berhenti di area jembatan karena bertemu jalan ke arah Pangkalan.

Setuju Papa TB, bagian dari jembatan kalimalang,menyeberang tol sampai san diego ini adalah bagian favorit. Terutama pas di bagian singletrack meliuk liuk di tengah perbukitan. Benar benar singletrack yang didambakan para pesepeda XC. Malam itu adrenalin bertambah dengan trek yang kering ring. Singletrack jadi seperti jalan tol buat sepeda. Seperti cekungan selokan yang kadang menambah kesulitan tersendiri saat gowes.

Sensasi malam singletrack itu pun ditambah dengan penampakan rumput rumput gosong sisa kebakaran musim panas. Suasananya jadi beda banget, kita seperti berada di negeri yang lain. Kelap kelip antrian di singletrack dari lampu para pesepeda juga tampak meliuk liuk. Sampai akhirnya kita berhenti memandang ke bawah lembah. Keindahan lampu lampu kawasan industri seputar Karawang dan perkampungan sekitar San Diego menyambut kita, memberi pemandangan indah sambil kita ambil napas setelah ngosh ngosh an nanjak.

Jalan makadam “Tanjakan Anjing Menggonggong” segera menyambut. Emang heran. Setiap NR lewat jalan ini, kadang juga gowes siang hari, pasti ada anjing menggonggong. Unik di tengah kegelapan yang menyelimuti malam itu.

Melewati dua tiga pertigaan jebakan kita pun segera masuk kampung dan nanjak panjang makadam sampai di Warung San Diego. Langsung saya feeling blue… Karena disinilah di awal 2010 kita NR disambut bakmi jombor… Suasana istimewa yang tak akan terlupakan.

Bergeletakan lah para peserta NR. Mulai beredar dari yang becandaan, bisik bisik, sindiran sampai yang terusterang tentang setengah botol… Siapakah member setengah botol??? Mereka adalah…. (tuuuuuuuuuttttttt….. sensor kenegaraan)

Tak sempat lama bercanda dalam kehebohan rekan yang memutuskan melestarikan kegiatan setengah penuh botol bidon, keceriaan canda ejek2an, ternyata pikiran tentang waktu sahur yang mepet akhirnya memenuhi kepala. Genjot dilanjut tanpa basa basi memasuki kegelapan area tanpa listrik ini.

Jalan berangsur berubah bentuk, dari aspal ke aspal rusak ke makadam sampai akhirnya tanah keras kering penuh liku dan lobang. Setuju sekali bahwa bagian trek san diego ke cibeet via tamanmekar dan pasircongcot ini adalah trek yang sangat sangat mountainbike. Unsur nya lengkap; terasing jarang penduduk dilengkapi kegelapan, jalan meliuk naik turun penuh kejutan turunan dan tanjakan, menyempurnakan trek gronjalan yang jauh dari mulus.

Berbeda dg omhanif yang ikut rombongan ujungtombak di depan, saya berhenti di setiap pertigaan dan persimpangan untuk meyakinkan seluruh tim tidak salah belok. Maut nyasar selalu menunggu di trek yang jumlah dan penampakan pertigaannya mengintai tiap kelalaian. Ada puluhan permutasi kemungkinan jalan jika salah belok. Salut hormat saya bwt omhanif yang berdasarkan ingatan bisa menjalani trek ini malam malam lagi. Resiko yang terbukti akhirnya tim belakang bisa ketemu dan melihat tim depan ttb nanjak balik kanan salah belok wkwk

Saya jalani peran jadi sweeper termasuk ketemu putus rantai rekan ANU di dekat saung kecil apa yg saya sebut sbg ‘shelter’. Belom pernah berhenti disini meski kebayang asyiknya, sampai akhirnya merasakan slonjoran sambil menunggu rekan nyambung rantai. Sekitar 30mnt untuk heboh nyambung dan belum 200m rantai nya putus lagi. Intuitif saya jadi ingat Kang Asol… Gak pernah kita kuatir masalah begini. Tau nya beres aja…

Ketemu grup om AH yang kena bocor ban saya coba kedepan dan ngabarin grup omhanif yang kongkow di rollercoaster sambil pasti kuatir dan bertanya tanya apa yang terjadi di belakang. Saya pun menikmati selonjoran nunggu sambil deg deg an dg waktu sahur.

Setelah ikut bersabar sabar dengan menunggu tim regrup lagi, maka akhirnya dari Pasircongcot saya ambil rencana lain dengan genjot di depan. Menuruni rollercoaster yang sekarang sudah tak layak lagi dianggap sebagai rollercoaster. Selain ada jalan beton, juga tampak semacam selokan air di tengah jalan. Akhirnya sedikit demi sedikit, sampai akhirnya menggunakan gigi kecil terdepan dan gigi terbesar di belakang akhirnya berhasil juga mencapai kembali ke puncak. Kalau saya bisa lihat catatan heartrate pasti udah gede banget angkanya. Super hosh hosh. Untungnya segera disambut dengan jalan yang relatif rata dan banyak turunan menuju jalan aspal pertigaan Kaligandu. Setelah dari awal gowes banyak nge rem, kali ini sudah lepas rem saja, wuzzz… huenaaakkk…

Menunggu di pertigaan Kaligandu, semenit, lima menit akhirnya tampaklah rombongan besar kelap kelip lampu sepeda. Sempat bimbang juga dengan ide Om Hanif bahwa kalo lewat jembatan gantung maka kita akan sedikit ada pilihan tempat ber-sahur, tapi terusterang saya terlalu cinta sama trek jembatan gantung, apalagi yang dibalik seperti ini; dari arah Kaligandu ke arah Deltamas. One of the best cycling on singletrack in Cikarang…

GUBRAK !!!

Trek berubah jadi semacam selokan kecil yang sempit. Mungkin saking sering nya dilewati motor. Ban yang gagal menemukan trek serta keseimbangan yang terganggu badan mulai lemas dan mata mengantuk mungkin penyebabnya. Saya jatuh ke arah kiri dengan pinggang kiri bagian belakang terlebih dahulu. Setengah mati saya insting untuk tidak berguling karena ingat ada kamera di backpack. Wrong decision !!

Asiknya trek ini memang kegemaran dan favorit saya. Asiknya di depan tanpa ada yang dikejar ataupun menghalangi jalan dan kecepatan. Sambil teriak teriak kegirangan saya nikmati setiap lekukan dan belokan singletrack ini. Terusterang saya gak menengok ke belakang lagi sejak Kaligandu.

Melewati jembatan gantung dalam gelap, dengan bunyi derak kayu jembatan yang dilindas ban sepeda, semilir angin dingin dinihari dilengkapi dengan perut lapar. Dan, tentusaja, pinggang kiri yang cenut cenut akibat sempat jatuh tadi selepas kampung terakhir sebelum masuk singletrack. Setelah bergantian dengan rekan ber jersey Corsa akhirnya saya menyerah dan disalip oleh tiga orang rekan di tanjakan setelah Jembatang Gantung. Tanjakan ini, setelah sensasi jembatan gantung, menanjak pelan dengan ‘Spooky Graveyard’ tampak di sebelah kiri, menjadi sensasi tersediri sambil saya membisikkan salam numpang lewat.

Tak jauh dari RUmah nenek, ban belakang saya yang tadinya hanya terasa gembos, ternyata bocor dan genjot malam pun dilanjutkan dengan acara ganti ban di pinggir trek. Saya cuma ingat seorang berseragam Corsa bike dan Om Blacken ANU, dan ternyata berempat dengan seorang rekan ANU berjersey merah ROBEK. Lho, jadi selama ini rasanya genjot bareng2, pake acara teriak teriak keasyikan segala, kirain beramai ramai ternyata cuma ber empat saja toh? Akhirnya setelah agak lama rombongan besar menyalip saya yang sedang memasang ban. Wah busyet. Baru sadar ternyata jauh juga.

Sempat sudah dipompa penuh, ternyata ban luar tidak rapi terpasang jadinya digembosin dan dipompa lagi. Wah kehilangan waktu lagi. Hampir seluruh tim sekarang sudah menyalip. Saya juga makin panik karena waktu sahur semakin mepet.

Mulai genjot pelan-pelan sendirian, kelap kelip lampu ada di depan dan belakang. Kali ini tidak ngebut, cuma asal jalan saja. Rupanya peristiwa ngebut tadi udah menguras tenaga. Saya masuk ke kampung barengan sama Om Hanif lalu bergabung dengan sebagian besar tim di dekat Polsek. Saat itu saya masih blom tau kalo Rawon Brewok tidak jadi di drop di boulevard. Heran saja semua orang kok jalan terus gak juga berhenti di boulevard.

Mulai keluar area jalur gravel sumur gas mulai tuh kerasa efek jatuh di seputaran tanjakan menjelang bukit sebelum turun ke jembatan gantung. Perut dan pinggang sakit sekali. Otot di area itu seperti tertarik gak karuan. Kembali saya teringat punggung yang juga terluka kepentok jendela tadi siang sebelum gowes. Kombinasi yang tidak baik banget dengan tidak berguling saat jatuh.

Satu persatu tim mendahului saya. Setengah mati saya bertahan hanya untuk tetap bisa gowes sampai akhirnya ketemu tempat Om Hanif, Om Blacken, Om Stef, Pak Dokter makan sahur.

Saya istirahatkan dulu badan dengan minum teh panas manis sampai dua gelas besar. Wah… mak nyusss banget. Geletakan selonjoran lurusin kaki dan badan sementara rekan yang lain sibuk makan sahur. Perut dan pinggang masih sakit sampai lebihkurang setengah jam. Dan alhamdulillah gak lama sebelum imsak bisa masuk sepiring nasi plus telor dadar sahur pagi itu.

Perjalanan dilanjutkan sebelum subuh pelan pelan santai dan sempat berhenti di AA Bike ketemu Teteh yang sedang berkesibukan dengan tenda masih terpasang di depan AA Bike. Tampak banyak member keluarga besar tidur di dalam toko AA Bike. Sambutan dan keramahan Teteh masih seperti biasanya, meskipun saya juga menangkap kegalauan dan kelelahan dari bahasa tubuhnya. Om Hanif memang secara badan ngajak omong Teteh, tapi saya bisa merasakan bahwa belio merasa sedang bertegur sapa dengan Kang Asol.

Perjalanan ditutup dengan genjot ke Rawon Brewok yang sudah sepi, tinggal ketemu rekan-rekan ANU yang sedang loading sepeda.

GPS Tracklog bida dilihat disini…


Ultah AA Bike: Greenland Mud Party part#1

Ini adalah cerita gowes saya di acara AA Bike Ulang tahun ke-1 pada 10 Januari 2010

Berangkat dengan sepeda keranjang

Malam sebelum gowes saya dalam keadaan kurang tidur setelah 3 hari berturut tidur malam. Rasanya pengen tidur cepat, tapi di hati yang lain pengen nongkrong di AA Bike, pasti ada yg bisa kita bicarakan atau bantu. Ujungnya malah mampir saja sore ke AA Bike, ketemu Pak Presiden yg semangat dg persiapan ‘bursa pasar sepedah’… Terlihat depan AA Bike sudah ada tenda.

Akhirnya malah harus ke pabrik di sabtu malam tapi alhamdulillah berhasil memaksa mata untuk tidur sebelum jam 10mlm.

Pagi2 berangkat dengan Eyang AN. Berangkat/pulang ke AA Bike bersama Eyang selalu menyenangkan. Biasanya gowes onroad ke AA Bike adalah gowes membosankan yg seperti tak berujung. Bosen jalan mulus-nya… Tapi gowes bareng Eyang selalu memaksa saya mengikut pembicaraan yang pasti memeras otak, hati, dan meningkatkan level ke-ikhlas-an. Hehehe…

Sampe di AA sudah heboh meskipun masih sepi. Gesar geser meja, atur tempat layar, tahu-tahu sudah mulai berdatangan para tamu. Untung saya sempat mengabadikan AA Bike saat masih ada dua sepeda yang parkir, sepeda Patrol Eyang AN dan Cozmic saya. Karena ini akan jadi pemandangan yang langka hari itu. Sepanjanghari Tegaldanas akan dibanjiri ratusan sepeda berbalut lumpur…

Ada adrenalin yang menggelegak, menit demi menit berlalu. Mobil demi mobil datang termasuk rombongan dari Bandung yg berangkat jam 5 setelah subuh. Pusing juga me-refresh ingatan terhadap memori wajah dan nama. Saya lemah banget disini. Heboh heboh antara sapa menyapa, kenalan, memotret dan ngobrol nyampur sampai akhirnya sudah lewat jam 7 pagi dan amazing! Ratusan sepeda parkir berderet-deret panjang di seputaran AA Bike. Ini bukan funbike biasa. Rata-rata sepeda adalah sepeda offroad dan sepeda gunung. Jadi pemandangan seperti ini tentu membuat hati saya berdesir….

Sudah sebesar ini ‘audiens’ AA Bike…

Sebegitu banyak orang, saya berusaha mengingat sedikit banyak tema pembicaraan dan pertemuan-pertemuan yang menarik.

Sebagian dari teman-teman yang tersebut

Bertemu teman-teman gowes galunggung selalu membangkitkan emosi tertentu. Berdesir kembali adrenalin dan memori suasana trip yang tak terlupa itu. Om Steph masih dengan sendal Crocks nya. Ampun deh Om… Om Deni muka-nya sumringah banget, mungkin karena akan bertemu PanAyoe. Om Haris datang dengan Junior-nya sehingga membuat beliau kembali menikmati sepeda Panasonic yg legendaris. Om Didi PJTV datang dengan kru lengkap dari Bandung, plus rombongan juga. Om Wied dan Om Didi mengabarkan kalau upgrade brake sebagai ‘hikmah galunggung’. Om Acu dengan muka kuyu, katanya habis semalaman huhujanan putar-putar Jakarta. Om Dewa datang dengan tas yang jauuuuhhh lebih kecil. Om Sigit malah dengan tas besar isinya jersey dagangan. Om Qodrat cool banget, siap jadi kapten yg baik, Om AN sibuk banget sampe susah dipegang buntutnya. Om Hanif datang dengan Aerio pas saya start.

Om Maryanto dengan tim scheider ‘beneran’. Soalnya ada yg pake baju ijo scheinder juga tuh pas ke Tasik, hehehe…

Om HPW mengejutkan kita, dan kemudian sedang saya temukan di dekat sepeda Om Steph. Membahas kecanggihan sepeda itu melahap turunan batu seperti jalan mulus saja. Teman membahas-nya juga ‘tepat’, Om Yadi.

Om TJ datang dengan muka kuyu. Meskipun sepeda full gear termasuk nomor start Sentul UPHILL, tapi tampaknya beliau masih memendam hasrat karena kasus ‘pemalang’.

Om Prama, salah satu pesepeda paling nge-top dibicarakan di AA Bike. Datang dengan semuanya serba merah-hitam-putih.. weleh… Mertaput sejati !!

Rombongan-rombongan dari jauh dan dari seputaran Cikarang juga banyak banget datang.

Namanya saja ada ratusan pesepeda, excited sekaligus kuatir. Masih kebayang suara hujan mengguyur Cikarang lebih dari 3 jam semalaman…
Mohon maaf untuk Om-Om yang tidak tersenggol namanya disini…

Gowes cantik bersama Arya, Enggar, Devin dan Asep HWK

Saya mendapat pertanyaan yang cukup berat untuk dijawab pagi itu. “Om, fotografer yang untuk onroad tidak jadi datang. Gimana ya Om baiknya?”. “Saya aja Om…”, kata saya spontan. Mmm… pasti Om Adjie merasakan ada hawa penyesalan juga di tekanan kata saya. Segera kemudian hati saya diguyur dengan air sangat dingin saat Om Adjie bilang, “… Sekali-sekali Om Anto low profile…”. Wakakakakaka… Langsung ilmu ikhlas dan NI1 yang sudah terlalu sering saya baca dan dengar menghapuskan semua keraguan.

Pasti ada obyek human interest yg menarik juga!! Dari sejak gowes Patin saya sudah terkagum-kagum dengan cara Arya menggenjot sepeda specialized M3 yang sebenarnya ukuran bokap-nya…

Jadilah pagi itu saya memotret gowes onroad. Tapi masih sempat melihat wajah cukup tegang dari Om Qodrat sang kapten. Melihat para peserta offroad satu persatu genjot nanjak ke jembatan tol depan AA Bike. Start gowes onroad sangat kontras. Diikuti hanya tidak sampai 15 sepeda dengan kapten Om Asup. Diantara fotonya sudah saya kirim di subject “Young Guns” ini.

Bersama seorang peserta dari Brimob (aduh, maaf lupa namanya) saya temukan diri saya genjot sangat nyantai bersama Om Haji Irawan (ayahanda Om Rendra). Sementara Om Asup, beserta para young guns, seorang Ibu dengan dua anak lelakinya, sudah melesat dan mulai tinggal terlihat titik kecil saja di depan.

Mendekati ITB group belakang bertambah dengan Arya (Pak Tri Junior) yang tampak kepayahan dengan sepeda super besar untuk ukuran anak 8 tahun. Memindahkan shifter-nya pun Arya harus menggunakan tangan-nya, bukan jempol atau jari seperti kita. Tapi jangan ragukan enthusiasmenya!! Mukanya dan matanya bersinar dan bercahaya. Penuh semangat seperti anak kecil mau diajak ke DUFAN. Tidak ada sebersit pun minder, malu, apalagi gentar.

Sempat ada split yang lebar dengan gowes yg di lead Om Asup, akhirnya kita ketemu lagi saat akan nanjak ke kampung Cibiru (?) dekat Polsek keluar kampung dari Deltamas. Aha! Ternyata ada kejutan lain!! Saya temukan dua nama besar dan senior di dunia MTB yang ikutan grup ini di belakan Om Abenk; Om Asep Hwarakaduh dan Om Devin!! Buset. Gowes saya jadi berubah dari gowes bersama kids and moms jadi gowes gahar gini melihat pesertanya…


Photo by Om Rendra saat nanjak perbukitan Cibatu ke Greenland

Mutar ketemu jalan besar delatamas sampai akhirnya masuk ke Greenland…
Ini pertama kalinya saya menyentuh Greenland (kampungan ya?)
Om Asup membisik, “Nanti mereka akan turun dari sebelah pabrik itu, yang ada tower air-nya, di sebelah warung…”

Inilah tiba saatnya kami melihat titik-titik hitam di perbukitan Cibiru Lippo dari arah Greenland Deltamas…

The Greenland Mud Party

Pernah dengar “Boston Tea Party”?
Gimana kalau kita namai ini “Greenland Mud Party” ??

Seperti semut di kejauhan, tampak titik titik kecil, siluet berwarna hitam, merayap memenuhi sisi bukit dari Greenland. Semakin merapat dan merapat, mulanya lima, tampak sepuluh, duapuluh, empat puluh, enampuluh bayangan nguler, berhenti. Seperti kebingungan. Ada yang berhenti, ada yg tanpa ragu mulai turun, ada yang balik kanan, ada yang seperti musisi jazz, improvisasi sendiri.

Salut untuk rekan-rekan yang tanpa berpikir panjang langsung terjun ke dalam ‘kawah candradimuka’. Tampak segera butiran-butiran hitam turun dari bukit, dan mulai tertatih-tatih merayap di lautan tanah urug-an yang setelah hujan semalaman berubah menjadi semacam kubangan lumpur. Kebayang sih, nanggung. Kalo ada di tempat pasti saya juga terjun. Tapi ini jaraknya ada kali 1km panjang kawasan ‘kawah candradimuka’ ini…

Om Asup memberikan info bahwa jalurnya salah, seharusnya adalah turun di tempat lain, yang lebih tidak berlumpur, di dekat tower air sebelah warung. Sempat ketemu satu peserta terdepan dengan tergopoh-gopoh kelelahan memanggul sepeda, saya putuskan mulai ambil foto dan maju jalan kaki masuk ke dalam “Greenland Mud Party”.

Sambil berjalan, memotret, saya informasikan ke tiap peserta yang saya temui bahwa ada jalan yang lebih tidak berlumpur, namun ada di sebelah kiri trek. Menyusur sebuah punggung bukit lalu turun ke kawasan industri di sebelah tower air. Tapi tentusaja banyak yang berpikir ‘lanjutkan saja, toh sudah disini’.

Suasana Greenland Mud Party sangat heroik… Kembali saya menemui suasana yang berbeda dari yang saya bayangkan. Ternyata sebagian besar wajah teman-teman berbalut lumpur itu dalam wajah yang tetap tersenyum ceria, meskipun tampak raut kelelahan dan beratnya deraan fisik yang luarbiasa. Mungkin situasi mirip sekali dengan kita di DUFAN, dan terlanjur sudah duduk di kursi KORA-KORA. Sudahlah nikmati saja dan kita jalani sensasinya.

Kemudian saya refleksi kembali, sebenarnya tidak ada jalur yang *salah*. Seperti sudah dijelaskan oleh Om QOdrat di email yang lain: ada banyak jalan menuju Roma. Silakan pilih petualangan anda sendiri… Luarbiasa !!!

bersambung ke bagian kedua…


Hadiah Ultah ke-1 Untuk AA Bike

Sebuah acara ulang tahun yang terwujud menjadi acara yang amat didambakan oleh para penggiat persepedahan sekaligus pelaku usaha persepedahan…

Acara genjot-nya juga luarbiasa nanti ditulis disini…

Karena saya blogger, ya hadiah ultah saya untuk AA Bike, sebuah toko sepeda sederhana di Tegaldanas, Cikarang; yang menjadi tempat berkumpul dan salah satu ‘hub’ perkembangan persepedahaan di Cikarang dan sekitarnya saat ini…

Gambar-gambar berikut ini menunjukkan satu senjata utama AA Bike: keramahan dan ketulusan…

Selamat … Selamat Ulang Tahun yang pertama
Sudah banyak yang dicapai pada tahun pertama dan terus berkembang selalu
Semoga…
Amien

Antoix

Foto dan cerita lain tentang AA Bike ada di
Multiply Om Raspati


Cigeuntis 2 Nov, gowes mati lampu 96km (7-habis)

Lanjutan dari bagian ke-enam…

Setelah melakukan kegiatan panggul dan tuntun sepedah melewati jalan batu berundak dan jembatan bambu akhirnya sampailah kita di Curug Cigeuntis…

Puas-puas-in cuci sepeda dan motret dengan berbagai teknik memotret air terjun yang sudah sering dibaca sebelumnya, termasuk teknik komposisi dan juga high aperture untuk mendapatkan efek air jatuh seperti lembaran kain sutera.

Kalau melihat foto terakhir ini semua rasa lelah gowes 56km dari Cikarang sampai ke Curug ini hilang begitu saja…


Cigeuntis 2 Nov, gowes mati lampu 96km (6)

lanjutan dari bagian kelima…

Soal #5

Mantaaappp… soal yang ini bisa dikerjakan dengan baik dan benar. Cihuy..!

Soal #6


Yang ini lupa berhasil atau tidak, tapi kayaknya soal yang ini gak selesai juga deh…

Selanjutnya kita disambut oleh sebuah tanjakan tak terlalu curam diselingi turunan dan jalan landai. Tumben, setelah dari terakhir jembatan di bawah tidak pernah ketemu turunan atau landai… Lalu disambut oleh gerbang utama masuk ke kawasan Curug Cigeuntis.

bersambung ke bagian ketujuh…

Laporan trip ini didukung oleh Bikewear…

logo bikewear


Cigeuntis 2 Nov, gowes mati lampu 96km (4)

post ini lanjutan dari bagian ketiga…

#9

Setelah diterpa angin dari kipas di musholla dan dinginnya teh botol dari kulkas, wah, kok cuaca di luar jadi panas banget rasanya yah… Tapi membayangkan tanjakan-tanjakan gravel+makadam di atas kampung waru, turunan panjang ke lembah dan nanjak lagi menuju villa H Agus akhirnya memupuskan keinginan untuk istirahat lebih lama.

Kamera saya masukkan ke dalam tas. Untuk etape ini sudah saya putuskan untuk tidak mengambil gambar. Tanjakan-tanjakannya terlalu indah untuk tidak dinikmati dengan serius. Lagipula di trip menjelang gowes akbar yang lalu rasanya saya sudah ambil banyak foto trek.

Tanjakan dari kampung waru menuju ke puncak bukit sebelum akhirnya melewati turunan panjang sangat mengigatkan saya pada trek Cioray. Panasnya mirip, lebar jalannya mirip, batu-batu makadam yang bikin susah genjot, slip kiri kanan mirip, hanya jenis batunya saja yang tidak mirip. Cioray cenderung batu kapur tajam-tajam. Trek tanjakan waru ini membuktikan lagi ke saya kalau dia benar-benar layak untuk dikangenin… Tanjakan sambut menyambut, tidaklah terlalu kejam,karena ada di beberapa titik kita diberi bonus sedikit landai dan turunan ringan. Justru itulah, seolah paha dan betis diuji dengan kejutan-kejutan yang menghentak.

Setelah akhirnya turunan panjang ke lembah sungai lalu ke kampung tempat Kang Deni kraam, bertemu jembatan merah kita gowes eksotis di pinggir bibir jurang ke sungai. Sungai kali ini airnya benar-benar sedikit. Di gowes akbar lalu rasanya sambil genjot kita bisa dengar gemuruh suara air, tapi kali ini sunyi senyap.

Setelah jembatan merah kita disambut tanjakan sambut menyambut tak henti-henti dan dahsyat membuat paha dan betis menjerit sampai akhirnya tembus ke Villa haji Agoes.

Oiya, lupa, bagaimana cerita dua rekan saya? Rekrutan baru Mertaput Om Didi plus punggawa dewan pembina CiPOC Om Eyang AN? Entahlah… Mereka balapan melahap tanjakan, menyiksa paha dan betis sampai ke batasnya. Saya lihat debu ban belakangnya saja kagak…

Villa H. Agoes tampak sudah lebih banyak berbenah. Tampak hamparan lahan parkir baru yang luas siap menerima siapa saja yang ingin kesini. Disinilah titik tertinggi perjalanan Cigeuntis saya yang lalu. Waktu itu saya tidak ikut acara hari-H nya tapi ikutan survey terakhir seminggu sebelumnya, hanya sampai Villa ini dan genjot pulang berdua Om Sigit…

Kemana ya dua orang yang tadi kebut-kebutan didepan? Buset… ditinggalin beneran nih, tak tampak mereka batang hidungnya menunggu…

#10

Tahapan berikutnya adalah tanjakan-tanjakan yang relatif mulus, aspal yang sedang ditambal sulam dengan proyek, sehingga di beberapa tempat trek jadi gravel. Trek berada di sebuah lembah dengan sisi kiri jalan yang turun ke arah sungai dan sisi kanan jalan naik ke arah sebuah deretan punggung pegunungan.

Di beberapa tempat tampak jalan menunjukkan kegarangan-nya dengan menyuguhkan kemiringan yang lumayan bisa membuat paha senut senut. Di part ini saya mengambil cara paling aman dan nyaman untuk menikmati tanjakan: berhenti rutin. Jalan 5 menit berhenti 5 menit. Akibat aturan sendiri ini akhirnya saya bisa kembali bertemu dengan Eyang AN dan Om Didi lagi leha-leha di warung pinggir jalan yang tidak jualan di hari kerja begini. Tampak wajah lega di raut muka mereka berdua, “Istirahat dulu Om…” kata mereka, “Saya terus dulu…” kata saya. karena baru 50 meter yang lalu saya berhenti ambil napas.

Setelah melewati sebuah jembatan, sebuah warung es shanghai (aduh… coba itu warung buka), tanjakan berubah dari jalan aspal ke jalan beton mulus. Apakah lebih enak buat dilalui? Tentu tidak.. karena kemiringan jalan sudah mulai memasuki tahap tak sopan. Seperti layaknya jalan di area perbukitan rolling, kita mendapati kemiringan tanjakan yang mengejutkan dan sesaat. Jalan bisa tiba-tiba berubah miring sekali, lalu kembali ke sedikit landai. Landai? Ya tetap saja miring keatas. Sejak dari villa haji agoes cuma sekali kita dapat bonus sedikit turunan rolling.

Dua rekan saya melewati saya lagi saat saya rutin istirahat. Akhirnya saya melewati mereka di belokan depan sebuah warung lalu saya dengar perbincangan dengan menyertakan kata-kata ampuh, “… pocari dingin…” yang segera saja membuat saya berbalik arah dan ikutan berhenti di warung menegak pocari dingin.

Sampai di daerah batu tumpang akhirnya tanjakan mulus berakhir. Kita memasuki jalanan batu makadam, tetap miring keatas, menjadi semakin sulit buat dilewati. Setelah memotret kedua rekan saya, saya memilih berhenti dulu di ujung jalan mulus. Ambil napas dan mengendorkan otot sebelum memasuki daerah full makadam ini.

Berikutnya adalah area ujian dengan delapan soal, termasuk satu diantaranya soal cerita… di bagian kelima…

Laporan trip ini didukung oleh Bikewear…

logo bikewear


Cigeuntis 2 Nov, gowes mati lampu 96km (3)

post ini adalah bagian ketiga, lanjutan dari post sebelumnya…

#6

Menyeberang sungai Cigeuntis kali ini berbeda sensasinya dengan gowes akbar yang lalu. Gundukan dan lobang di sungai seperti memberi bopeng dan jerawat di wajah cantik pemandangan paling eksotis di trek Cigeuntis ini. Tapi dasar cantik pada dasarnya, seperti ibaratnya Luna Maya, mau jerawatan ya tetap saja cantik. Kira-kira begitulah saya mengamati jalur menyeberang sungai paling indah yang menjadi kebanggaan kita ini.

AN020950

Saya sandarkan sepeda di bibir turunan menuju sungai, tampaknya Om AN dan Om Didi sudah tak sabar lagi ingin segera menggowes melahap trek ini. “Gak sabar Om, pengen menikmati tanjakan-tanjakan di seberang sungai…” kata Eyang AN sambil meluncur. “Emang ada tanjakan?…” kata saya. Bukan sombong anggap enteng tanjakan, tapi beneran, saya lupa detail trek setelah menyeberang sungai. Yang saya ingat kita ditunggu jalan mulus beton menjelang Kampung Waru. Kalo tanjakan setelah Kampung Waru, itu saya ingat…

Asyik jeprat jepret mengabadikan duet penggowes PanBagoes ini melahap trek berbatu gravel didepan. Indah banget. Tolong ya, kalo gowes mbok pake jersey yang warnanya mencolok: merah, kuning, biru cerah, hijau cerah. Jadinya di foto pasti jauh lebih bagus dibanding rekan-rekan yang pake baju warna gelap model hitam, cokelat, atau biru dongker.

AN020959

Rasanya pengen lebih banyak ambil shot karena moment-nya keren banget, tapi, sudahlah segera saya sudahi acara njepret dan ambil sepedah. Sudah tampak Om AN sekitar 300m di depan saya. Gowes mengimbangi speed mereka saja sudah susah apalagi pakai sering berhenti begini…

drrrdddrrrttdddrrrt…

Suara ban membelah jalan berbatu, plus sensasi susunan batu di kali yang agak longgar, menyebabkan kadang trek bergeser dan membuat keseimbangan bersepeda jadi unik. Mirip banget gowes di pasir, tapi ini di atas hamparan batu-batu bulat sebesar telur ayam. Segera 40+km perjalanan dari pagi buta berangkat dari rumah lelahnya hilaaangg… semua…

drrrdddrrrtggtdddrrrt…
drrrdddrrrttdddrrrt…
ttdrrrdddrrrttdddrrrt…
drrrdddrrrttdddrrrt…
drrrdddddrrrttdddrrrt…
drrrdddrrrttdddrrrt…
drrrdddrrrtttttdddrrrt…

Suara ban melindas itu masih terngiang di telinga saya meskipun tulisan ini saya buat seminggu setelah gowes…

#7

Gowes di pasir pernah kan? Iya, berat, mirip seperti gowes di lumpur. Menyeberang sungai Cigeuntis gowesnya diatas hamparan batu, padang batu. Batu bertemu batu licin dan mudah bergeser. Rasanya aneh. Keseimbangan pastilah terganggu.

Sepanjang genjot, mendekati orang-orang yang sedang menggali-gali lubang menambang pasir, ada hal menarik secara human interest. Kebayang gak, berapa yang mereka dapatkan untuk mengumpulkan pasir sampai satu gundukan sebesar angkot gitu? Gak tahan saya pengen ambil foto, tapi malas juga ketinggalan makin jauh sama Om PanBagoes berdua yang sudah makin ngacir di depan. Kesimpulan: tangan kiri pegang handlebar dan tangan kanan mulai jepret-jepret candid sekenanya.

AN020969

Saya sudah cerita kan kalo keseimbangan genjot diatas padang batu gini jadi aneh? Hehe… makin aneh keseimbangannya saat harus pegang handlebar dengan satu tangan saja sementara tangan kanan berusaha membidikkan kamera.

Hasilnya? Ternyata tidak buruk-buruk amat. Ketika saya lihat lagi di rumah hasil jepretan para penambang pasir ini, wuih… menyentuh hati sekali.

AN020977

AN020978

Kontras.
Di tengah keindahan alam sungai Cigeuntis yang secantik Luna Maya, ternyata hidup berjalan sangat kejam dan berat bagi sebagian orang hanya untuk mendapatkan beras dan lauk sekadarnya buat keluarga…

AN020985

#8

Menyeberang sungai masih gowesable, agak panik karena cleat terlanjur nancep di pedal, sementara genjot diatas padang batu yang aneh itu masih ditambah lagi aliran air setinggi separuh ban melibas dari arah kiri. Sudah aneh keseimbangannya, tambah aneh lagi karena aliran air.

AN020982

Ternyata benar Eyang AN, setelah menyeberang segera kita disuguhi trek gravel dan tanah tanjakan-tanjakan kampung yang cihuy… Sementara puncak-puncak bukit berbentuk aneh yang menjadi vocal point pemandangan perbukitan Cigeuntis ini terasa semakin dekat di depan mata. Indah banget! Nanjak-nanjak rolling dan disuguhi pemandangan eksotis…

AN020993

Kemudian kita ketemu sebuah kampung dengan kantor kepala desa, melewati jalan mulus beton dipadu dengan jalan tanah sirtu. Flat, rata, panas, panjang, serasa tak ada habisnya…. Ini bagian paling menyebalkan. Jalan flat yang seperti penggorengan dengan matahari serasa ada 12 diatas kepala kita, seperti adzan dzuhur yang mulai berkumandang di kejauhan, tanda waktu sudah sekitar tengah hari.

Sempat berhenti membetulkan letak tas punggung yang meleyot, saya tertinggal dan cuma dapat debu saja dari rekan PanBagoes berdua. Sampai ketemu kampung waru, awal dari tanjakan makadam ke Villa H Agoes, lalu terdengar ada yg berteriak memanggil.

Owww… rupanya kita pitstop dulu di kampung Waru sebelah jembatan.
Ishoma. Om Didi sampai ketiduran diterpa dinginnya ruangan dalam mushola berkipas angin. Lebih eksotis lagi karena kita ambil air wudhu di sungai Cigeuntis, musti turun ke bawah. Disini saya makan nasi plus telor dadar yang kedua piring.

AN021012

AN021013

bersambung ke bagian keempat…

foto-foto lengkap ada di antoix.mulitply.com


Cigeuntis 2 Nov, gowes mati lampu 96km (2)

tulisan ini lanjutan dari bagian pertama…

#4

Memang sudah sekitar dua bulan berjalan keadaan tidak memungkinkan untuk bike to work. Kerasa banget di trip ini. Ditambah lagi karena semalam baru tidur jam 2 pagi. Lalu berseliweran cerita yang beredar kisah resiko bersepeda jika kita tak bisa mengatur dan menjaga batas kita sendiri. Sepedahan kali ini saya pakai benar tuh ilmu memanjakan diri sendiri, dan gak perduli dengan irama genjot rekan yang lain.

I’m cycling in my own rhytm, and enjoy each cadence…

AN020859

Akibatnya?
Bisa diduga karena Eyang AN sebagai leader, lalu Om Didi yang menempel ketat ban depan-nya di ban belakang Om AN juuuhhhh…. di depan, jadilah saya sweeper yang baik sekali. Kadangkala saya juga memilih buat mengisi air dan berhenti sebentar ngadem bawah pohon, mengatur nafas dan (yang terpenting) detak jantung.

AN020876

AN020897

AN020901

Di perhentian gerbang desa Philips ternyata Eyang AN dan Om Didi sudah menunggu dengan penuh kekhawatiran, padahal saya isi bidon dengan air dingin dari dalam kulkas hanya 300m meter sebelumnya. Jadilah istirahat besar dua kali berturut. Kita sambil cekikikan membaca komentar dan celotehan iri hati rekan-rekan dari milis (ini bagian paling menyenangkan trip hari kerja).

AN020907

AN020910

#5

Perbukitan dengan ujung-ujung runcing bukit, mirip banget yang sering kita lihat di kalender dan majalah-majalah traveling segera menyambut kita di sekitar desa Philips ini. Otomatis medan juga berubah menjadi lebih besar kemiringannya, meskipun tetap rolling. Dan, yang tak kalah menakjubkan dan bikin kangen selain kemiringan-nya adalah jalan gravel dan suara berderak ban sepeda kita melindas jalanan.

AN020913

dddrrrdrdrdrdrrrrrdrdrrrrrrrttrrr…

Bayangkan medan seperti seputaran jalur sumur gas di Cikarang, namun dengan rolling kemiringan dan berbelok-belok yang lebih intens. Beberapa kali member trip ini tampak berteriak kegirangan mengalami ekstasi mental. Meninggalkan orang-orang sekitar jalan ini yang bengong sambil geleng-geleng kepala melihat “orang kurang kerjaan olahraga di siang bolong di hari kerja”

AN020919

Pinnacles perbukitan semakin mendekat, degub jantung karena excited semakin keras, namun harus ditutup dengan kekecewaan karena menemui sungai Cigeuntis, yang di trip akbar yang lalu berkesan luas tak berbatas sangat eksotis, ternyata di akhir musim kemarau ini telah berubah menjadi jerawatan (karena gundukan-gundukan batu kerikil dan pasir) serta bopeng-bopeng (karena digali lubang-lubang mencari pasir). Cocoknya ceritanya pakai foto.

AN020923

AN020932

Walaupun baru sekitar 30 menit yang lalu kami istirahat namun kita putuskan untuk istirahat lebih lama lagi di warung pinggir sungai ini. Disinilah gambar “easy like monday morning” itu diambil. Berbaring di papan bambu dengan angin bukit yang dingin semilir… wah, rasanya pengen berhenti dan bikin tenda nginep disini.

I am easyy…..
easy like monday morniiing…

AN020943

leyeh-leyeh sampe hampir ketiduran…
angkat kaki dengan latar belakang pemandangan super indah…
surga dunia di hari dan jam kerja

“Ayo kita berangkat lagi….!!! “
Jiaaaah… ada yang memberi komando tuk brangkat tuh…

bersambung…


Cigeuntis 2 Nov, gowes mati lampu 96km (1)

Kucoba menuliskan novel ini….
halah! wakakaka…

Anggap saja menulis ini jadi refreshing, something spice up my days… Setelah minggu lalu diterpa kewajiban menyetir bermacet-macet (iya, meski 10+ thn tinggal di jabotabek sini, masih gak biasa macet) ditambah awal minggu ini kok ya semuanya ngumpul jadi satu.

Tapi kali ini saya akan tulis agak beda deh, tidak deskriptif, tapi lebih ke cerita pengalaman2 dan momen2 spesifik saja. Namanya juga ngetik santai disela kerja, jadi ya sekadarnyah….

AN020771

Kita berangkat dari AA Bike jam 7 pagi, terlambat sejam dari rencana semula.

#1
AN020791

Melewati J3, begitu masuk jalan offroad setelah pertigaan cibatu segera ada yang berteriak dari pinggir jalan, “…aduuuhhh.. mau kemana… *belok* (baca: berlumpur) jalannya…”. Masih tercampur excitement gravel+tanah keras berbatu jalan ini segera kita dikagetkan dengan gonggong-an anjing. Sang anjing tampak semangat empatlima berlari mengikuti irama genjot kami. Lho, gimana sih, rupanya gak cuma NR, anjing disini tetap saja menggonggong di pagi hari….

Lalu setelah sempat saking ngebut-nya botol minuman salah satu member trip terjatuh, kita akhirnya menikmati tanjakan pertama. Tanjakan jiper jilid 2. Tanjakannya sendiri dari namanya sudah mencerminkan, ditambah kubangan lumpur ada dibawah lembahnya. Lengkap !! Lagi2 saya trip dan turun ketanah saat baru setengah lewat sedikit. Makin penasaran sama ini tanjakan.

AN020796

AN020814

AN020822

Lalu masuk kampung, dan kembali kita dengar gonggong-an anjing mendekat. Rupanya kampung-kampung ini sangat jarang dilewati orang asing sehingga bau tubuh kami sangat menggoda buat para anjing menunjukkan kemahiran mereka menggonggong.

AN020828

Keluar kampung sayang banget twisty singletrack plus jembatan sempit jadi basah, licin dan di beberapa tempat berlumpur. Huh! Tempat favorit jadi gak bisa leluasa dinikmati….
Alasan aja sih, karena rekan rekrutan baru Mertaput, Om Didi, dosen kita hari itu dengan santainya menunjukkan skill beliau menjaga keseimbangan melewati semua rintangan. Membuat saya dan eyang AN cuma bisa garuk2 kepala yg pake helm ini….

#2

AN020831

Sempat saya berhenti melihat kawanan kerbau mau melintas. Jadi teringat gowes berdua Om Sigit bbrp waktu lalu bukan kerbau yang minggir tapi kita yang terpaksa masuk sawah karena kerbau nekat menjajah singletrack. Kali ini saya ambil foto Eyang Dieng bersama kerbau. Difoto hanya tampak seekor kerbau, pada kenyataannya ada sekitar 5-7 ekor kerbau besar2 sekawanan. Pas banget. Sepeda berlumpur ketemu kerbau.

AN020840

Lewat area kerbau saya sudah ditunggu dua rekan di sebuah jembatan. Jembatan bambu dengan papan selebar jengkal tangan. Saya berhenti dan geleng2 mendengar cerita tadi (lagi-lagi) Om Didi dengan santai melewati jembatan darurat ini (jembatan permanen sedang dibangun) dengan genjot diatas sepedah. “Perjalanan masih panjaaang…” kata saya dalam hati menghibur sambil melihat dalam nya selokan jika kita terjatuh.

Sambil genjot santai-santai-ngebut, di jalan gronjalan berbatu (sisa hujan tapi gak sampai bikin jalan berlumpur) saya bercerita dg Eyang AN ttg Golepag edisi pertama, sekitar setahun lebih yll bersama Om Yadi speedy di jalur ini. Termasuk juga cerita kami hampir melindas ular hitam yang sedang menyeberang jalan pulang berburu. “Disekitar sini nih… hampir lindes ularnya…” kata saya. Tak lama kemudian Eyang AN tereak kaget karena ban sepedahnya hampir/sudah melindas seekor ular yang menyeberang…

De Ja Vu…

Keluar jalan beton kami memasuki kampung Nagasari menanjak ke arah SD nagasari. Wuihhh… memang sensasi NR lebih mantap meskipun kalo siang gini juga seru karena kampung ini rimbun banget dan banyak jembatan bambunya.

AN020843

Tiba-tiba kita sudah di pasar pertigaan pasirkupang dan membeli perbekalan. Sempat cari pisang buat bekal tapi gak nemu yang mateng, saya liat Eyang AN tampak sibuk terus memelototi gadgets bebeh nya… Dalam hati saya bilang, “Wah…. gawat…. alamat NI1 dimulai nih….”

AN020847

#3

Lagu yang sudah sering saya dengar diputar kembali…

“OM, gimana kalo kita coba jalan ini….”
sambil jempol sibuk naik turun kiri kanan atas bawah, mulut nyerocos terus menjelaskan dan mencoba meyakinkan kalau ada kemungkinan jalan yang lebih menarik.

Wuikikikiki…

Masak Mertaput mundur ditantang nyasar sama CiPOC?

Jawabannya saya serahkan Eyang AN untuk menyambut cerita ini. Beliau yang paling berhak menceritakan apa yang kita jalani sampai tembus ke nasi uduk di daerah Bojong Mangu (??), lalu tembus jalan besar Cariu’-Loji, menikmati tanjakan-tanjakan disitu…

AN020870

AN020879

AN020896

Saya memilih memotret Maudy K sebagai bekal kalo ada yang nanyain foto teteh, sambil isi penuh-penuh bidon minuman sapa tau dibawa nyasar ke daerah tak bertuan… wuikikiki…

(lempar bola ke Eyang AN, silakan digiring sampe gerbang desa Philips)

bersambung ke bagian kedua…


Melengkapi hobby bersepeda gunung…

Saat merasa trip-trip dengan jalur biasa perlu ada variasi, saya akhirnya memberanikan diri melayani ajakan trip bersepeda plus menginap. Waktu itu adalah trip ke Papandayan gowes dari Cileunyi. Ternyata trip panjang seperti ini bukan saja memiliki sensasi yang berbeda, namun pengalaman menginap dalam perjalanan bersepeda benar-benar menjadi pengalaman tak terlupakan, ngangenin, dan pengen ngulang.

Sesuatu yang berbeda, sesuatu yang lain, sensasi tersendiri inilah yang diburu. Saya rasa ini pula yang dicari rekan-rekan mailing list cikarangmtb@yahoogroups.com yang weekend lalu melakukan trip Cikarang-Pasircongcot-Cherry-Walahar. Mendengar cerita rekan-rekan forum sepedaku.com dari Karawang tentang trip Cherry yang panjang-panas-rolling, rasanya udah bikin gemetaran duluan sebelum merencanakan pun. Tapi dasar sudah terlanjur penasaran pengen mencoba maka bisa dilihat cerita dan foto-fotonya di multiply Om Ardian http://ardisofwan.multiply.com/photos/album/9/Oh_Warto…Oh_Wanto…Siapa_bilang_Cheris_Panas

cherry
Foto pesepeda ke cherry

Pasircongcot-Cherry-Walahar Route Map
(tracklog courtesy of Om Hanif)

Mencoba menarik benang merah. Saya pikir kenapa trip ini dicoba tentunya karena rasa ‘penasaran’ yang tak bisa ditahan. Ini sebenarnya kan awal dari jiwa ‘petualangan’ yang mungkin tidak ada di kepala setiap orang. Sudah tahu panas, panjang, lama, tapi pengen dicoba juga? Ini tentunya berkaitan dengan keinginan untuk melihat sisi lain, dan sensasi lain dari bersepeda gunung. Hobby bersepeda gunung terasa semakin lengkap dengan menjalani berbagai macam tipe medan dan cuaca. Lalu bagaimana menjelaskan empat rekan yang dalam keadaan panas pol malah memilih gowes tanpa baju jersey?? Hmmm… yang ini agak sulit menjawabnya…

Sebenarnya mirip juga dengan cerita diatas. Jika kita sudah pernah menjalaninya, lalu merasakan apa yang kita jalani sebagai ‘hal biasa’, misal medan nanjak turun rolling tak henti-henti di jalur Cherry ini, akhirnya kepala berputar otak untuk menjadikan trip ini lebih berharga dengan, malahan, menambah beban fisik kita dengan merasakan sinar panas matahari langsung menyengat seluruh tubuh bagian atas kita, dengan melepas seluruh kaos jersey…

Banyak sekali pilihan trek yang pada umumnya ada di daerah pegunungan diatas 1000m dpl yang berudara sejuk. Tentu jika kita lewati trek yang itu lagi kadang terasa tidak lengkap. Pengalaman bersepeda gunung untuk beberapa orang juga dilengkapi dengan trek yang panas menyengat, dengan matahari yang lebih dari 10 biji diatas kepala.

Penjelasan yang sama mungkin dilakoni oleh rekan yang justru menggunakan pakaian serba hitam di trek nanjak full panas, atau memakai celana jeans di saat nanjak cariu-puncak pinus yang sangat amat panas. Rupanya panas kurang panas jadi ditambah dengan bumbu-bumbu baru untuk membuatnya lebih ‘nendang’. Seperti makan ditambah sambal.

Kembali. Menurut kacamata saya itu semua masih saja pilihan. Jadi kesimpulan apa yang akan kita ambil dan kita pilihan adalah menjadi pilihan di tangan masing-masing…

note: seperti ditulis di mailing list cikarangmtb@yahoogroups.com


A Night at The Pasircongcot Trails, part1

Cerita pada blog post ini tidak ada foto. Night Ride memang paling susah motret. Kami yang sering ngobrol bareng di mailing list cikarangmtb@yahoogroups.com rame-rame mencoba trek baru di sekitar Cikarang. Cerita ini saya tuliskan persis seperti laporan genjot ke mailing list…

Malam minggu alias sabtu 270609 kemarin gak ada yg bawa kamera yah? Seinget saya kita cuma 7 kali berhenti, jadi gowes semalam bisa dibagi jadi delapan etape…

#0 Sebelum Start

Jumat siang badan sudah mulai terasa demam. Wah, saking penginnya nyobain Pasircongcot sampai demam panggung ala Suhu:IWO begini. Jumatan sangat kerasa tuh kalo badan ‘not delicious’, sdh mulai sms bbrp rekan. Hari itu saya minum parasetamol. Jumat malam sdikit begadang karena banyak banget bahan bacaan buat hari sabtu biar gak bengong di kelas.

Sabtu pagi demam tambah parah, wah, saya sudah mulai putuskan buat gak ikutan NR. Meskipun begitu satu tas saya isi perlengkapan NR, dengan asumsi pulang hari sabtu langsung ke AA Bike sapa tau agak mendingan. Ternyata hari Sabtu ini saya tidak cuma bengong, tapi terkantuk-kantuk dan hampir ketiduran di kelas karena minum Neozep yang mmg selalu bikin saya ngantuk.

kamisPICT5687

Sabtu malam ke AA Bike, makan malam sop seberang AA Bike. Entah karena makan sop, berkuah panas enak, badan kerasa mendingan. Kepala masih ‘ngliyeng’ dikit. Tapi OM Hanif saja bisa nanjak panas2 Sukamantri dalam demam kok, saya juga mau coba, diputuskan ikut dan mulai ganti kostum.

Om Irawan, yang megang heboh rencana di email buat berangkat jam 7 udah gelisah banget karena tim gak ngumpul2, apalagi berangkat… Cerita obrolannya sudah mulai ‘serem’, misalnya tentang karyawan yang bandel, karyawan yang direkrut karena main Volly, lawangangin Semeru, huaduh… Jangan2 kalo gak jadi NR kita2 yg di AA Bike dihukum suruh main volley, disikut saat basket, dihukum karena jadi karyawan bandel, dan jadi porter bawa carrier ke Semeru. Ampuuunnn…

Jam 20an akhirnya 14 pesepeda (kemudian jadi 13) ngumpul dan langsung start saat Om Awi dan Om Hera hadir. Sorry Om2, gak sempat hahahihi mengingat paha Om Ir sudah minta disiksa diatas sadel.

#1 AA-Sumur Gas

Karena kondisi badan saya masih keluar keringat dingin, saya sudah putuskan buat jadi sweeper yang baik. Beneran saya jalani dengan menghidupkan headlamp merah dan mulai kita melewati jalan aspal ke deltamas lalu masuk jalan beton lalu masuk ke jalan favorit gravel di perbukitan menuju ke “Sumur Gas”.

Herannya, sama persis dengan NR dua minggu lalu, kali ini semua peserta cenderung ngebut. Kayaknya gak ada yang mau ketinggalan dan kebagian dikejar anjing paling belakang. Atau gak mau digondelin sesuatu di belakang sementara gak ada lagi orang di belakang. Hiii… ngeri dan semua ngebut!! Body saya masih menyesuaikan diri, sisa pegal2 badan karena demam masih terasa. Kaki saya kayuhkan asal bisa mengikuti irama tim saja dulu. Jadi inget nasihat OM ardian di sms, “jangan dipaksakan om…”. Meski jauh dari sawah tapi memang tampak di sekitar kepala saya ada kunang-kunang hehehe… Di sekitar jalan terdengar bunyi alami dari berbagai macam serangga dan binatang malam. Eksotis banget. Semakin lengkap dengan trek batu kerikil licin yang cuma ada di daerah Sumur gas ini kalo di Cikarang.

Kalo gak salah cerita terakhir dari NR kolosal yang lalu ada yang pingsan misterius di sekitar sumur gas. Entah memang nantangin atau pengen membuktikan (saya berusaha menghibur diri kalau kita ber 14 bukan ber 13 yang bisa makin sial), eee… pak Clayton Boy team leader memilih tempat berhenti pas di area Sumur gas yang dekat kompleks kuburan.

Pak Irawan mencoba menghibur diri dengan nyetel mp3 dari hp-nya, “Enaknya denger the Cinnamon nih…” sementara sebagian besar anggota tim banyak terdiam. Mungkin masih mengatur nafas yang tersengal-sengal, sambil mengingat peristiwa pingsan, sambil melihat sebaran bintang dan galaksi yang memberikan pemandangan menakjubkan diatas kepala kita.

Di mata saya bintang2 terasa jauh lebih banyak dari biasanya, mungkin bintang2 tambahan ini hanya ada di dekat kepala saya dan hanya terlihat dari mata saya. Wuikikikiki….

“Pak Anto… aman-aman saja?” kata team leader. Beliau salah satu yang saya sms kalau saya lagi demam.
“Aman bathukmu” kata saya dalam hati sambil liat banyak bintang bertebaran. Wuikikikikiki….

#2 Sumur Gas-Per3an Cibeet (via Jembatan Gantung)

Entah karena terlalu excited akan meninggalkan area Sumur Gas dan kuburan didekatnya ini, yang masih saja sepi meskipun sudah didatangi 13 orang pesepeda, rasanya adrenalin segera naik setelah kita putuskan berangkat lagi. Dari bahasa tubuh rekan-rekan saya juga lihat ada kelegaan tersendiri kita lanjutkna ke etape#2.

Dibuka dengan nanjak gravel, lalu saatnya mencoba menikmati turunaaannnn… Saya penggemar tanjakan, tapi selalu sangat excited menikmati turunan menuju jembatan gantung. Tiba-tiba adrenalin mengajak saya buat menambah kecepatan, tapi ya gimana lagi, beginilah kalau singletrack dan beramai-ramai gowes, jadinya pasti susah menyalip. Padahal pas kondisi trek kering begini pasti enak banget buat ‘speedy decent’ wong jalannya juga mulus karena sering dilewati motor, hampir gak ada lobang2. Huenak tenan. Tiba-tiba semua kunang2 kok lenyap bersama angin kencang yang menerpa muka. Tanpa terasa tiba2 di depan sepeda sudah ada awalnya jembatan gantung. Huaduh. Saya langsung rem.

Emang inilah istimewanya night ride, pandangan kita hanya sampai 3-5 meter didepan, setelah itu gelap samasekali. Saya jadi ingat lewat trek ini pas pulang Cigeuntis survey yang lalu, jembatan banyak kayu2nya yang patah. Saya ambil langkah hati-hati dengan melihat bilah kayu lebih teliti.

Beberapa bilah kayu sudah diganti dengan bambu. Beberapa bilah kayu masih berlobang, tapi tidak seperti genjot cigeuntis lalu, kali ini tidak ada yang lobangnya dua bilah kayu. Setelah sekitar 5 meter hati-hati saya akhirnya genjot juga, toh ban tidak akan kecemplung meskipun bilah kayu hilang. Saya malah makin pelan genjotnya, dan sambil menikmati suasana dan pemandangan gelap ke arah sungai dibawah. Benar-benar layak jadi icon pesepeda cikarang ini tempat.

Setelah jembatan gantung kita melewati jalan di tengah persawahan, saya sudah ancang2 dikejar anjing, apalagi gara-gara genjot pelan dan nge-rem di jembatan tadi ketinggalan agak jauh di depan. Terakhir saya NR lewat sini bersama Om Asup kami dikejar anjing sampai dekaaaaatttt sekali. Sambil genjot saya sampai bisa dengar tarikan napas anjing yang mengejar. Tapi entah kenapa saat kami berbanyak ber13 begini itu anjing tidak muncul!

Seperti biasa keluar dari jembatan gantung menuju Cibeet kita ditutup dengan beberapa tanjakan dan turunan seru menjelang kampung sebelum akhirnya ketemu jembatan kecil lalu jalan aspal, bendungan cibeet, lalu berhenti di warung dekat pertigaan kaligandu.

#3 Cibeet- Pasircongcot- Per3an

Meskipun sudah lewat Sumur Gas dan jembatan gantung yang sudah jarang peradaban, namun kita masih terasa ada di peradaban karena masih sering bertemu warung. Track leader sudah mengabarkan kalau ini adalah warung terakhir karena ke depan kita akan masuk area ‘warungless’. Sayangnya kemaleman, jadi warung terakhir ini pun sudah tutup, meskipun akhirnya bbrp dari kita masih sempat isi air di warung tak jauh dari warung tutup ini.

Tiba-tiba terdengar bunyi gaduh. Rupanya inilah salah satu bukti betapa kerasnya gemblengan di PSI, perguruan suhu:Iwo. Rekan-rekan PSI ini sedang menelepon rekan seperguruan yang banyak alasan gak ikutan NR…
” Gak percaya kalau yang ikutan banyak? ini ada 13 orang…”
” Udah… kalo buat keliling kompleks doang mending sepeda dijual aja…”

Buset!!
Pantas saja ilmu mereka segera cepat terdongkrak wong gemblengan tipe spartan begitu. Ampuuuunnnn…

Sementara di area lain tiba-tiba ada yang teriak gembira karena dapat sms yang melegakan. SMS yang memungkinkan buat genjot sampe larut malam. Hehehe… Agak miris juga karena tadinya saya terusterang akan ikutan balik kanan kalau si Om ini juga balik kanan dari Cibeet.

Keringat dingin mengucur, tapi genjot NR tetap dilanjutkan.

Setelah melewati pertigaan kaligandu belok kanan sampai di puncak sebuah punggungan tanjakan lalu kita segera berbelok ke kiri. Inilah yang namanya desa Pasircongcot. Segera kita disambut dengan tanjakan yang cukup curam, jalan aspal rusak, lalu dilanjutkan dengan tanjakan dan tanjakan berikutnya meliuk liuk di jalan campuran doubletrack tanah dan singletrack bekas motor.

Lama kelamaan kita masuk ke kegelapan malam. Gelap asli gelap. Baru kemudian saya sadar setelah bertemu rumah-rumah (yang sangat jarang terjadi ketemu rumah apalagi kampung) kalau daerah ini belum teraliri listrik. Pantesan gelap banget. Semakin gelap, para peserta NR semakin tidak diberi pilihan lain kecuali menggenjot dengan kecepatan mengikuti kecepantan leader. Waduh… Om Ir dengan bercanda guyon mengomentari kaos kutung tanpa lengan saya, “Wah tok, kalo pake kaos kayak gitu besok aku langsung kerokan…” Hmmm.. benar juga!!

Sementara angin makin kencang, gowesan Om leader makin cepat melahap medan rolling meskipun banyak nanjaknya, semua orang terdiam hampir tanpa suara. Hanya terdengar suara ban melindas trek dan sesekali bunyi RD berpindah jalur. Beberapa kali juga terdengar tarikan dan sebulan napas terengah-engah menyelip diantara keheningan NR.

Ada yang aneh! Ini orang belasan genjot bareng kok gak ada suara samasekali. Sampe saya gak tahan, diatara keluarnya keringat dingin akibat demam dan angin, saya tereak-tereak…
“Oiiii… ini genjot sepeda apa rapat sih? serius banget sepedahannya? Gak ada suaranya samasekali”
Mulai deh itu terpancing fraksi ngos-ngos-an untuk segera berhenti dan menyedot beberapa isapan rokok dan air minum di sebuah pertigaan. Sementara setengah tim tetap ngebut meneruskan genjot, “Nanggung, berenti di bawah saja didepan” kata yang gak berhenti.
“Ampuuuunnn… genjotnya kesetanan semua, gak ada yang pelan!”

Peta Delta dsk

#4 Per3an- Kampung Lembah “Taman Mekar”

Ini trek cukup pendek banget, saya jalani bersama separuh belakang tim NR malam itu. Masih setia sebagai sweeper. Meskipun pendek, tapi bagian ini salah satu favorit karena kita melewati 90% singletrack. Vegetasi juga tampak rimbun karena kita masuk ke dalam kampung dan kadang masih berjalan di bawah rerimbunan pohon bambu.

Salah satu sensasi Pasircongcot Trails NR adalah kegelapan. Bagaimana jika sebuah area yang sangaaattt luas masih ada di jaman kegelapan. Belum ada listrik samasekali. Setiap rumah bagian luar hanya diterangi sebuah lentera di pojokan rumah atau di dekat pintu masuk. Kampung lembah “Taman Mekar” ini adalah kampung paling rame dari semua area yang kita lewati. Jumlah rumah di sepanjang jalan kampung ini yang kita lewati ada sekitar 10-15an rumah. Kebayang kan areanya seperti apa kok kampung dengan 10-15an rumah saja terasa ramai?

Di sudut-sudut kampung kadang headlamp yang saya taruh di helm menatap sosok hitam berbentuk manusia. Hanya sosok di kegelapan dan pantulan sinarmata anjing yang menyertai saja yang menandakan keberadaan bapak-bapak yang, seperti kata Om Hanif, mungkin baru kali ini dalam seumur hidup beliau-beliau tinggal di kampung ini, belasan orang pesepeda dengan lampu2 tertempel di kepala dan sepeda lewat tengah kampung mereka di menjelang tengah malam.

“Punten pak….”
Cuma itu yang bisa saya katakan. Kadang dijawab kadang juga tidak. Kalau tak dijawab mungkin mereka masih ragu dan sedang ucek2 mata keheranan lihat kita-kita.

Saya pun sebagai sweeper yang tidak baik (gimana mau jadi sweeper wong jalan aja gak tau) akhirnya malah jadi ketinggalan jalan dan jadi sendirian di sebuah persimpangan jalan. Setelah sempat panik, lalu melihat beberapa pasang mata bersinar memantulkan cahaya lampu headlamp saya, kirain anjing, kalo beberapa anjing menghadang saya sendirian in the middle of nowhere gini, wah mampus juga saya, tapi ternyata kambing dan anak-anaknya… amaannn… Saya coba telepon Om Hanif (ada sinyal!!) tapi gak sampe 10 detik putus hubungan. Lalu akhirnya mengambil ilmu yogieism, diam seribu bahasa dan pasang telinga, akhirnya dari jauh kedengaran tuh berisiknya orang2 kota gak tau adat di tengah kampung yang gelap gulita dan sepi seperti ini. Berbekal suara, saya ketemu juga dengan rombongan kembali. Lega juga bertemu manusia kembali. Saya kehilangan jejak sekitar 200m, jauh juga menebak-nebak di antara singletrack yang menerobos rumah dan halaman orang. Liat jenis trek-nya, saya jadi inget Om Adji… Kalo genjot pasti ada acara nerobos jemuran.

“Om Anto sudah kelihatan..?” Hmmm… The Clayton Boy Track leader ternyata masih ingat sama sweeper nya yang lagi demam berkeringat dingin, tertinggal, dan gak tau jalan.

akan berlanjut ke bagian kedua…


CikarangTrek! – XC Curug Cigeuntis

Trip ini dilakukan seminggu sebelum acara XC Cigentis 9 Mei 2009.

Start Point: Kecamatan Pangkalan, Karawang Selatan
Start point ini menyediakan tempat parkir yang sangat luas. Selain di depan kantor kecamatan sendiri, kita juga bisa parkir di lapangan sepakbola di depannya.

geuntis090503-024

Bagian Pertama: Perbukitan Hutan Bambu

Dari titik start kita gowes onroad ke arah Loji, segera disambut dengan tanjakan yang cukup panjang. Seperti jaman kuliah dulu dapat ujian awal saja sebelum masuk praktikum di lab. Kita segera diuji kesabaran dan mental. Jika terlalu semangat memulai trip dan gowes powerfull bisa-bisa paha dan betis segera menjerit-jerit. Itung-itung pemanasan, tanjakan pertama ini pasti susah dilupakan, seolah memberi isyarat trek ini selanjutnya memang lebih banyak tanjakan.

Setelah melewati SMP Pangkalan (saya dan Om Sigit gowes dari Cikarang Baru ke SMP pangkalan ini lewat jalur pepaya perlu 1jam 15mnt), kita disuguhi sedikit turunan dan segera kita akan masuk ke trek sebenarnya. Masuk ke hutan bambu sebelah kanan. Jika sempat melihat dari atas ketinggian ke medan di sebelah kanan jalan raya ke Loji memang kita akan segera melihat hampir semua area kebun tertutupi oleh pohon bambu. Pohon bambu adalah rajanya disini. Di mana-mana pohon bambu dan mungkin memang dari dahulunya daerah ini adalah full hutan bambu.

geuntis090503-036

Disambut turunan terjal aspal rusak kita segera memasuki jalan sirtu yang meliuk liuk melewati tengah hutan bambu. Rasanya semua panasnya paha saat nanjak onroad beberapa saat lalu segera terlupakan. Pepohonan bambu ini membuat segalanya teduh dan adem. Selanjutnya medan perbukitan yang teduh ini segera menanti kita. Naik bukit di jalan sirtu, kiri kanan hutan bambu, masuk kampung lalu persawahan, disambut hutan bambu lagi dst dst. Sensasi hutan bambu seolah tak bosan-bosan mendera kita. Suara khas daun bambu bergesek ditiup angin dipadu suara ban kita melibas trek sirtu dan tanah (kadang berlumpur) dilengkapi hosh hosh suara napas kita pas nanjak dan teriakan puas kita saat turunan benar-benar memanjakan kita sepanjang 4-5km.

geuntis090503-050

Untuk teman-teman sekitaran Cikarang yang seperti saya, merasakan hutan bambu di dekat kolong tol itu indah dan adem, pasti menyukai trek ini sepenuhnya. Medan sendiri perpaduan antara jalanan pasir batu, jalanan tanah, beberapa tempat makadam, dan di banyak tempat tanah biasa yang jika habis hujan tentusaja berlumpur.

geuntis090503-051

geuntis090503-054

Sensasi kedinginan perkampungan perbukitan bambu segera berakhir setelah kita menemukan jalan aspal mulus. Terasa saat kita melewati aspal mulus ini pantulan panas dari aspal segera menerpa muka dan tubuh kita. POANAS! Ambivalen, karena setengah dari hati kita juga agak lega, lewat jalan mulus lagi, ban berputar sambil lumpur bekas masuk kubangan tadi segera terlempar ke segala arah termasuk ke muka kita.

geuntis090503-055

Aneh juga ya. Lumpur tuh kan berkesan kotor dan gelap. Tapi kok saya merasakan sensasi unik yang justru saya cari dan saya kangen buat ketemu lagi, saat sedikit cipratan lumpur menempel di muka dan bau tanah menusuk ke hidung. Ini nih yang saya cari…

Bagian Kedua: Nyeberang Sungai

Sebenernya bagian ini lebih tepat disebut Desa Philips ke Kampung Waru. Entah kenapa lebih enak disebut ‘Desa Philips’ meskipun itu bukan nama sebenarnya. Tampaknya desa ini adalah area CSR dari perusahaan elektronik Philips, tampak dari gerbang gapura masuk desa ini ke arah kanan dari jalan mulus Cariu-Loji.

geuntis090503-067

Begitu masuk desa segera kita disuguhi medan yang berbeda samasekali dari bagian sebelumnya. Daerah ini lebih gersang dan terasa lebih panas. Sangat mirip Cikarang. Jalan desa-nya kembali lagi meliuk liuk dan naik turun rolling perbukitan, mirip banget Cikarang. Saat ban kita menggilas jalan, bunyi yang dihasilkan khas sekali, karena jalanan ditutup oleh batu-batu kecil dan lepas. Cukup menyulitkan saat medan menanjak karena bisa ‘spin’ ban belakang kita, cuma saat turunan batu ini suaranya khas dilindas ban. Dan feel-nya juga berbeda karena jalanan jadi agak licin.

geuntis090503-078

Menikmati beberapa gundukan bukit tanjakan kita segera dikejutkan oleh pemandangan sungai luas, Sungai Cigeuntis, dengan pemandangan alam di seberang sungai, berupa bukit-bukit indah kaki Gunung Sanggabuana. Fuiihh… kayaknya lupa deh udah genjot panas-panas mendekati 10km offroad. Pemandangan perbukitan itu benar-benar membius kita untuk berhenti berlama-lama dan menikmati dari sebuah warung kecil di pinggir sungai. Keindahannya tak tertuliskan dengan kata deh. Harus lihat sendiri.

Pemandangan alam memberikan hadiah dan kebahagiaannya tersendiri untuk kita yang biasanya lihat plaza JB lagi plaza JB lagi. Namun hati kecil juga jadi gemetar lihat medan di seberang sungai yang segera kita lewati ini. Bukit-bukit (pinnacles) bermunculan dan tampak kemiringan yang siap menelan siapapun yang ingin menikmati sensasi CikarangTrek! Curug Cigeuntis.

geuntis090503-093

Setelah istirahat, hahahihi dan foto-foto sebentar, segera kita turun ke arah sungai. Kaget juga kita segera disambut arus air sambil melewati medan berbatu lepas. Unik sekali dan bikin kangen. Beberapa kali ban kita meleyot ke kiri dan kanan, slip dan licin. Kombinasi yang kompak batu2 kecil bulat segeda telor puyuh, telur ayam, sapai segede bola volley. “Drap.. drap.. drap…” batu bulet lepas itu bergerak seperti bola2 di tempat mandi bola anak-anak kita. Menjaga keseimbangan di tengah licin air mengalir benar-benar memberi sensasi tersendiri.

geuntis090503-094

geuntis090503-101

Lebar sungai ini sekitar 50-70meter. Tampak di beberapa area ada penambang tradisional batu dan pasir. Batu-batu bulat yang bisa menggelinding dialiri air ini kalau di Cikarang dijual per plastik untuk menghias taman. Hehehe… Disini ada jutaan meter kubik di sepanjang sungai. Sepatu basah oleh air sungai. Sepatu basah bukan karena kita menapakkan kaki ke air saat menyeberang (horee… saya sukses spin terus tanpa menjejakkan kaki di air!!), tapi di beberapa titik kedalaman air memang mencapai hub sehingga pedal kita berputar secara rutin masuk ke dalam air. Duingin2 huenak.

geuntis090503-118

geuntis090503-127

Segera setelah kita lewat sungai kita disambut tanjakan-tanjakan sambut menyambut seperti kompakan memperkenalkan kita dengan Gn Sanggabuana. Panas mulai menyengat. Tanjakan-tanjakan jalan batu dan makadam segera membuat jantung dan paru-paru kita seakan segera pecah meletus di dada. Paha dan betis kita seperti diiris diuji oleh semangat dan rasa penasaran kita melewati setiap tanjakan.

Alhamdulillah akhirnya kita ketemu jalan rata, persawahan dan masuk kampung. Fuih!! Ada yang jual teh botol dingin lagi…

Ini adalah area sekitar Kampung Waru. Dari kampung ini kita ada dua pilihan jalan. Jika ke kanan, disambut serentetan tanjakan manis, cantik, manja dan genit. Siap mengajak kita hosh-hosh menguji kesabaran dan kekuatan otot. Sementara kalau kekiri jalan relatif lebih landai menuju pasar Loji dan langsung onroad nandjak ke tempat kawasan Villa Haji Agus.

Bagian Ketiga: Tanjakan Kampung Waru

Kampung waru sebenernya bukan kampung yang istimewa, semua jalan-nya adalah batu makadam dan aspal rusak. Yang bikin istimewa adalah, kemanapun kita bertanya kepada penduduk setempat, jawabannya kurang lebih sama, jarak kampung Waru “dua kilometer lagi”. Jawaban yang jujur sekaligus menyesatkan. Mungkin kalau naik motor tidak pernah melihat odometer, tapi yang jelas “dua kilometer” yang disebutkan tadi bisa menjadi genjot ber-jam-jam tidak sampai sampai. Jadi jangan tanya jarak di sini, jawabannya “dua kilometer’, tidak dikenal jawaban yang lain.

geuntis090503-135

geuntis090503-142

Tanjakan Kampung Waru langsung menuju Villa H. Agus tidaklah tajam sebenarnya, hanya memang medan-nya batu makadam campur tanah dan sirtu. Juga salah satu yang menguji isi dada dan kekuatan betis serta mental kita adalah tanjakan yang sahut menyahut, sambut menyambut, susul menyusul. Habis yang satu segera disambut yang lain, persis seperti lagu dari sabang sampai merauke berjajar pulau pulau deh. Seingat saya ada tiga tanjakan panjang sebelum akhirnya kita disuguhi oleh turunan panjang banget menuju sebuah lembah dan pinggiran sungai.

geuntis090503-151

Sepanjang pinggir punggung bukit dialiri oleh sungai yang cukup deras ini pun kita masih disambut tanjakan-tanjakan lagi. Sempat bertemu jembatan gantung yang indah, jauh banget kondisinya dibanding jembatan gantung kita di deket bendung Cibeet. Tajakan di sepanjang pinggir sungai ini diakhiri dengan mendaki sebuah punggungan bukit, diiringi oleh deru air sungai yang jelas sekali mengalir dengan ganas nun jauh dibawah sana. Kalau tidak di pegunungan gak bakalan deh kita dengar bunyi deru aliran sungai seperti ini.

Semakin deru sungai tertinggal di belakang sana sayup sayup, semakin miring tanjakan di depan kita, semakin keras bunyi deru nafas kita. Saya tidak lagi sempat menghitung ada berapa tanjakan disini, namun nanjak disini agak adem karena lingkungan sekitar jalan adalah kebon yang rindang dan berpohon besar. Yang terdengar di telinga saya selain suara hosh hosh dari nafas yang memburu juga suara detak jantung yang berdegub-degub serasa mau menembus dada. Benar-benar ujian akhir yang menyenangkan karena kita segera masuk ke jalan aspal lagi dan segera terlihat Villa dan saung makan H. Agus yang lengkap dengan sop dan soto yang suedap dan huenak.

Alhamdulillah sampai.
Sampai di titik start.
Lho! Iya….
Villa ini adalah titik start sekitar 4km tanjakan maut menuju lokasi Curug Cigeuntis.

Benar-benar dahsyat track ini. Menuju titik start pun butuh perjuangan luarbiasa…

Finish Point:
Villa H. Agus
Distance: 48.26km

This ride supported by Bikewearr…
geuntis090503-156


XC CikarangTrek!: Cigentis 9 Mei 2009 – info tambahan untuk para peserta

XC Curug Cigentis
Genjot 9 Mei 2009 bersama cikarangmtb@yahoogroups.com

(meneruskan info dari penyelenggara)

cikarangtrek-cigeuntis-small

1. Untuk menuju start point di Kantor Kecamatan Pangkalan
- Yang bawa mobil dari luar Cikarang / lewat tol, keluar gate Karawang Barat, perempatan ke 2 belok kiri ambil jalan kearah Pangkalan / Loji (ada menyusuri Kalimalang dan penyeberangan tol, trusss sampai Pangkalan – cirinya banyak asep bakar2an Kapur)

2. Yang bawa mobil dari Cikarang (AA Bike) bisa lewat DeltaMas (gardu tegangan tinggi) ambil jalan ke arah Bendungan Cibeet – belok kanan ke arah Pangkalan.

roadtocigeuntis

Start dari Pangkalan .. jalan aspal dikit, setelah itu off road hutan bambu, pematang, nyebrang Kali Cigeuntis.. nanjak dll, sampai Villa H Agus.

Dari Villa Haji Agus:

- Bagi yang merasa cukup, dapat istirahat, makan2, dll disini… turun basah2an ke Kali Ciguentis juga bisa.

- Bagi yang masih “bertenaga lebih” dan pengin narsis ke Curug dapat lanjut 4 km ke Curug Ciguentis (nanjak poll)…. * ada opsi sampai curug Bandung – tidak pakai nanjak yang poll2an.

Pulang tinggal turun On Road Aspal ke tempat Parkir Kantor Kecamatan Pangkalan.

Start dari Pangkalan jam 9 diperkirakan sampai Villa jam 14an… selanjutnya optional mau lanjut ke curug atau mau langsung turun on road nggak nyampe 1 jam udah nyampe parkiran lagi.


Nyeberang sungai cibeet

Gila, udah lama juga gak nulis ttg bersepeda yah?

Ini adalah foto gowes Jababeka Cycling Community waktu menyeberang sungai Cibeet (sungai perbatasan Bekasi-Karawang)… Untuk yang akan ikut gowes 31 Agt 2008, siap-siap dengan membungkus hp dan mp3 player serta kamera dengan plastik hehehe…

Padahal di musim hujan sungainya berair deras sekali…
getek
seperti bisa dilihat ceritanya disini..


J3 (Jalur Jacyco Jababeka) – bag3: Lumpur oh Lumpur

Lanjutan dari bagian kedua…

Setelah menjalani acara menyeberang sungai, seluruh tim tampak bersemangat dan tersenyum lebar penuh kepuasan.

http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8716_1203mejeng.jpg?w=950
(1203 berfoto bersama)

http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8718_1204speda2.jpg?w=950
(1204 sepeda berjejer penuh lumpur sungai)

Kita disambut oleh deretan hutan bambu yang sangat sejuk, memberi semangat tambahan padahal badan sudah letih dan perut mulai keroncongan.

http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8722_1208.jpg?w=950
(1208 melintas hutan bambu)

Sejak menuruni jalan menuju perahu saat melintas sungai, ban sudah menjadi donat karena lumpur. Diperparah saat melintas hutan bambu yang penuh dengan daun bambu kering. Tampaknya memang ditakdirkan bambu kering dan lumpur bakal sangat kompak. Belum cukup ternyata kita melewati ‘ungowesable track’ seperti ini.

http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8738_1234ungowesable.jpg?w=950
(1234 ungowesable, semua melipir nuntun)

Setelah sempat bingung melintasi pinggiran sungai, melewati pematang sawah, melewati pepohonan bambu lagi yang membuat ban semakin tebal donatnya, semakin berat digenjot, kita akhirnya tiba juga di kolong jembatan tol.

http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8753_1304jembatanbamb.jpg?w=950
(1304 jembatan bambu)

http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8745cozmicku.jpg?w=950 http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8747_1254cozmic.jpg?w=950 http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8761_1309cozmic.jpg?w=950 http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8757_1309kolong.jpg?w=950
(1309 Cozmic ku yang berlumuran lumpur, v-brake oh v-brake… tampak di bag atas adalah jembatan tol dg truk melintas)

Benar-benar foto yang memberi alasan kuat kan untuk beralih dari v-brake ke disc-brake?? Sabar… sabarr…

Setelah acara pit stop lagi karena ada warung di bawah jalan tol (teduh lho), kita lanjutkan lagi genjot, ketemu pinggir kali malang dan akhirnya sampai Cikarang Baru lagi. Ini kolong tol tepatnya adalah di perbatasan antara Karawang dan Bekasi, kalau di dalam jalan tol di sebelah utara jalan tol kita lihat patung harimau (maung) yang merupakan juga perbatasan kodam Jaya dengan Siliwangi. Dari kolong tol ini satu orang anggota tim memutuskan meneruskan perjalanan dirinya dan sepedanya dengan ojek, setelah beberapa kali kraam terus.

Perjalanan yang panas, dengan perut keroncongan, mendampingi rekan yang kraam terus sepanjang kali malang, baru sampai rumah jam 1430.
Total perjalanan 57km ditempuh dari jam 0730-1430.

DAHSYAT!!


J3 (Jalur Jacyco Jababeka) – bag 2 : Onroad dan Nyeberang Getek

Lanjutan dari bagian pertama…

Setelah istirahat di sebuah warung kita segera menjalani etape yang sangat panjang onroad. Ini adalah daerah Ds Nagasari, Kec Serang. Medan-nya berbukit-bukit jadi ya jalanan naik turun. Lalu kita masuk ke Kec Bojong Mangu. Banyak tanjakan aduhai dan disusul segera dengan turunan mesra. Menguras tenaga. Disinilah endurance benar-benar teruji karena meskipun sebagian besar tim (17 sepeda) mengaku tidak menyukai onroad, ternyata saat di jalan mereka segera dengan mudah terpecah-pecah. Yang pengen menguji speed atau yang pengen balapan segera meluncur kedepan. Mungkin bukan senang onroad tapi malah pengen onroad ini segera selesai.

1
(09:11 anggota termuda Rico, 11 tahun, didorong sabar di tanjakan oleh ayahnya)

2
(10:11 pitstop pertama)

3
4
Sempat ada hiburan kita melewati bendungan Cibeet. Jalan raya yang kita lalui melewati tepat diatas sebuah sungai besar yang dibendung jadi seperti danau.

Entah Kang Asol the road captain membawa kita kemana. Yang jelas buat saya rasanya jalur onroad ini tidak ada habisnya. Semula di sebelah kiri jalan masih tampak ada di kejauhan kompleks perkantoran Kabupaten Bekasi, namun makin lama kompleks ini makin hilang. Jadi kita benar-benar menjauh dari area Kota Deltamas/Cikarang. Kita melakukan pemberhentian, minum dan istirahat sambil re-group-ing sebanyak tiga kali. Termasuk peristirahatan onroad terakhir kita yang berupa sebuah pasar di dekat pertigaan, ada di pinggir jalan raya menuju Loji. Warung ini sangatlah ‘beradab’ dibandingkan semua peristirahat kita sebelumnya. Disini kita bisa temui biskuit (meskipun tetap tidak ada coklat) dan juga lemari es berisi pocari sweat dingin. Hhhhh… segera isi hydropack yg sudah kosong dg satu liter pocari dingin. Kalau hydropack ini habis nanti berarti saya menghabiskan 3 liter air.

5
Disini selain jauh dari ‘peradaban’, juga jauh dari sarana kesehatan yang memadai rupanya. Coba perhatikan petunjuk jalan berikut. “Mohon untuk tidak NGEBUT, disini jauh dari rumah sakit”. Hahaha.. Lucu, ironis, sekaligus sangat bijak.

Akhirnya setelah siksaan onroad yang sangat panas dan berpolusi, kami masuk offroad lagi. Seluruh tim tampak excited dan meningkatkan kecepatan genjotan. Namun segera kita disambut rekan yang kraam. Sejak titik ini sampai kembali ke Cikarang Baru (sekitar 15 km offroad) kita akan terus berurusan dengan rekan yang kraam, yang jumlahnya 3 orang. Bergantian mereka terserang.

6
Jalur onroad yang panas ini panjangnya sekitar 17km. Tim sangat bersemangat karena sudah tersebar kabar bahwa ‘tempat naik getek’ sudah dekat.

7
Sensasi Getek (sebenernya lebih tepat disebut perahu ya dari bentuknya?) adalah sensasi berikutnya… dan ini tidak mudah terlupakan. Getek ini pas di sungai yang merupakan perbatasan Kab Bekasi dan Kab Karawang.

8
9
10
11
12
14
Menyeberang dengan perahu seperti ini sama deg-deg-plas nya dengan melahap turunan panjang tanpa berusaha nge-rem. Semua tim terlihat bersemangat sekaligus ada rasa takut menjalani penyeberangan ini.

Bapak penarik getek kelarisan. Kita menjalani empat kloter dengan masing-masing kloter diisi sekitar 4-5 sepeda beserta penunggangnya. Aliran sungai cukup deras, air sungai berwarna cokelat, ini memang musim penghujan jadi ada kekhawatiran banjir atau aliran besar air tiba-tiba datang. dari lumpur yang menutup sebagian besar lereng sungai terbayang berapa tinggi air sungai ini saat kondisi banjir.

Rupanya kita jauh-jauh onroad panas-panas dan lapar ini tadi demi mendapatkan lokasi penyeberangan sungai ini. Sebenarnya jalan yang melewati jembatan sudah ada dan sudah bagus, tapi kenapa lewat yang mudah kalau ada jalan yang susah dan menantang kan?

Penyeberangan dengan getek/perahu/rakit ini adalah sensasi utama tour ini. Trip distance menunjuk 38km.

bersambung ke bagian ketiga…


XC Jalur Pepaya: Karawang Barat – Tegal Danas

(Cerita ini berdasar dari post saya di list email rekan2 penggemar sepeda Cikarang)

Jadi rekan2 kemarin hr Sabtu (031107) pagi saya jadi juga mencicipi jalur pepaya-nya Oom Wisnu. Oom Wisnu adalah rekan yang secara rutin menjalani rute ini untuk bike to work; beliau tinggal di Cikarang Baru dan bekerja di pabrik Toyota di KIIC. Maaf gak ajak2 krn memutuskannya berdasar mood sabtu pagi tiba2 saja, pagi-pagi lgs sms Oom Wisnu. Ini sekalian pelampiasan gara2 dapat kabar ternyata tiba2 tgl 11 jgn2 gak bisa ikut nguler rombongan Bike to Work Goes to Bali.

cikbar
(foto sebelum berangkat dari Cikarang Baru)

Berangkatnya sih nyaman, memang banyak wanita ramah berangakat mandi, tapi rupanya mrk udah kenal ama OomWisnu jadi kami gak diapa-apain. Krn jalanan becek semalem hujan, kami jalan santai bgt. Perjalanan Cikarang Baru – KIIC yg biasa ditempuh Oom Wisnu dlm sejam, kemarin kita 1,5 jam. Makasih OomWisnu udah sabar pelan2 nemani nubie. Berangkat tidak sempat ambil2 foto kecuali foto diatas, maklum kan jarang berhenti, kita jalan udah pelan, nanti yang mau kerja telat deh. Saking pelannya kita jalan sampai bisa ngobrol dengan enak.

Pulangnya? Ini ujian sebenernya. Walaupun mendung tapi udara panas banget. Dan sepanjang 22km saya sempat 2x ganti ban dalam!!

sedana
(awal perjalanan dari KIIC Karawang Barat)

Jadi ban belakang saya itu mmg sudah penyakitan, sudah 3x tambal dlm 1mg terakhir. Saya sdh siap ban dalam dlm backpack. Masih di jalan aspal, itu ban blk udah kempes, sy lgs putuskan ganti band dalam aja. Apalagi nemu bengkel sepeda, jd dia jual ban dalam. Adanya mrk DELI 9rb. Ya sud. Kok ya pas banget kempes berenti pas dpn bengkel sepeda. Tapi masangnya gak bener. Di Loji saya lihat posisi pentilnya di ban miring banget. Mampir tmp kompresor, buka ban lagi, dibenerin posisinya. Genjot lagi.

jembcitarum
(jembatan besar citarum, ini sebenarnya jembatan yang menyeberangkan kalimalang ke arah barat diatas sungai citarum, dibawah jembatan ini ada pipa2 besar berisi air kali)

Abis jembatan besar kempes lagi. Ttb ketemu kompresor lg, trus bongkar tadinya saya minta tambal. Tapi ternyata di pangkal pentil sobek besar sekali. Ketemu jg kondisi ban luar ternyata yg blk udah peyang. Ini ban luar baru kali ini dipake offroad sjk dipasang. Posisi ban luar pindah, ban dalam yg ada di backpack akhirnya dipake jg (ganti ban dlm yg kedua).

kempes
(ban kempes untuk ketiga kalinya)

sobek
(ban dalam sobek)

bubur
(jalan berlumpur seperti bubur)

Trus jalan agak ngebut main cipratan lumpur. Pas masuk jalan beton tegaldanas ada bpk2 bike forwork bawa barang pake sepeda. Pas masuk jalan halus dia sambil ngomong “alhamdulillah…” Cukup kenceng untuk saya denger hehe… Kalau dulu Iwan Fals punya lagu “Ujung Aspal Pondok Gede” ini juga kayaknya ungkapan yang pas, ujung aspal Tegal Danas.

ujungaspal
(ujung aspal)

Hebat OomWisnu!!
Bwt saya jalur ini udah xc ckp berat, bwt Oom Wisnu cuma bwt b2w!!

Sayangnya saya tidak banyak mendapat runtuhan pepaya, ini yg membuat saya penasaran pengen nyobain lagi, wakakaka…

(peta ada sih, scan menyusul ya..)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.