enjoy every cadence, every breath…

Posts tagged “IPDN

Warban Short Uphill turun di Dago Resor

Sudah sering genjot ke area Bandung utara, tapi malu juga dan rasanya ada yang salah karena belom pernah ke Trek Warban (Warung Bandrek). Jadilah pagi itu, hanya beberapa minggu setelah berjodoh dengan Ki Lobang, maka saya dan Ki Lobang menjalani trek Warung Bandrek dengan turun di Dago Resor pada 3 Maret 2012.

Tracklog ada disini…

Dari rumah di Buahbatu maka genjot pelan pelan Sabtu pagi sampai akhirnya di McDonald’s Pasar Simpang Dago. Terusterang saya kurang paham dan tanpa banyak persiapan makanya mau ikutin orang saja buat sampai ke Warban. Melihat ukuran ban sepeda Ki Lobang sudah ada yang “mengingatkan” apakah benar akan ke Warban… “Iya Pak, maklum pesepeda pemula, belom pernah ke Warban…”

[Sepeda berpose di McDonalds Pasar Simpang Dago]
Awal hari yang baik tersaji disini… Lumayan, sambil isi perut dulu.

Genjot pelan pelan, dengan target dalam hati, pokoknya jangan pitstop saja. Merasakan tanjakan ke arah terminal Dago, rasanya dulu waktu sekolah disini nanjak nya pol naik angkot, dari awal ini sudah memakai chainring tengah, akhirnya dilanjutkan terus. Setelah terminal Dago ada sedikit ‘bonus’ dengan berupa jalan yang bisa ambil bidon dulu sambil ambil napas.

Setelah lewat terminal Dago, maka jalanan semakin sempit dan semakin miring. Masih berusaha pakai chainring tengah, akhirnya bercanda pada diri sendiri untuk tetap mempertahankan pake chainring tengah. Satu demi satu pesepeda di depan mulai bisa disalip. Pemandangan sekilas ke arah dataran tinggi Bandung tampak indah, kabut tipis pagi hari menghiasi dan melengkapi keindahan dilihat dari atas sini. Target lucu lucuan buat non stop pun bertambah dengan tetap berusaha di chainring tengah.

Sampai akhirnya sebelah kiri mulai tampak hutan pinus, tanjakan semakin miring dan akhirnya untuk sekitar 50 meter menyerah memindahkan FD ke chainring paling kecil. Daripada malah jadi berhenti pitstop. Tak lama kemudian agak datar dan sampailah di yang disebut Warung Bandrek. Eh, pas di tengah miringnya tanjakan ada ‘warung bandrek’ tipuan lho… Kebayang sangat menggoda di tengah hosh hosh begitu muncul ‘tipuan’ ini.

Istirahat makan semangka segar sekali plus dua sisir pisang untuk mengembalikan energi. Rencananya sih pengen turun lewat jalur yang berbeda. Meskipun tidak ter planning, biasanya dirancang dulu di GPS, tapi pernah dengar kalau ada banyak pilihan turun dari Warung Bandrek.

Suasana, hawa segar pegunungan, di area Warung Bandrek memang menyenangkan ya… Pantas saja jadi tujuan rekan rekan pesepeda Bandung di setiap weekend. Warung nya sendiri menyediakan berbagai kebutuhan dan makanan camilan minuman penyegar yang pas banget. Kayaknya paham bener dengan apa yang disukai para pesepeda.

Setelah sekitar 30 menit istirahat dan obrol obrol dengan pesepeda lain, maka perjalan solo ini pun dilanjutkan kembali. Memilih jalan naik aspal, lanjut dari posisi Warung Bandrek. Sedikit nebak nebak salah orientasi, sempat buntu di kebun dan balik lagi uphill singletrack akhirnya saya ketemu dua rekan sesama pesepeda. Asik lumayan ada teman. Sampai akhirnya bertemu di tempat yang saya ingat trek lanjutan kalo dari Caringin Tilu. Pohon beringin caringin Tilu pun mulai tampak terlihat di kejauhan.

Karena juga sudah pernah dari Caringin Tilu naik terus sampai Kampung Buntis, maka kali ini ambil jalan turun bebeda lagi. Dan ternyata melewati apa yang disebut Tanjakan Hirung yang lengkap. Waduh. Manteb banget nih tanjakan, meskipun kali ini dijalani sebagai turunan saja karena dalam perjalanan pulang. Wah suatu saat harus dicoba ini. Akhirnya sampailah ke Vila Dago Resor. Lalu turun melewati Cigadung lanjut terus sampai Suci.

Perjalan yang seru, perjalanan pertama ke Warung Bandrek. Dan penasaran karena pengen nyobain nanjak dibalik via Dago Resor sampai kampung Buntis…

Panjang trek: 20.7km (Simpang Dago sampai Suci)
View: 4/5
Tanjakan: 3/5
Turunan: 2/5
Endurance onroad Uphill


1PDN Uphill Race 2012

Uphill race kali ini banyak merekam dalam gambar saja

Seminggu sebelum race, trek diperkenalkan dan dibuka secara resmi, 21 Jan 2012

Ikatan Penikmat Djalan Nandjak (1PDN) kali ini membungkus acaranya dengan melengkapi trek lomba dengan part Offroad, setelah beberapa penyelenggaraan Race Uphill yang lalu selalu memakai trek onroad dari Sentul City ke Kilometer Nol Bojongkoneng. Trek offroad sendiri adalah trek yang samasekali baru dan bukan trek reguler yang biasa dilewati pesepeda gunung.

Dan untuk memberi kesempatan yang sama bagi pesepeda pesepeda di luar area Jabotabek, maka trek offroad dari Race ini baru dibuka secara resmi dan diperkenalkan pada seminggu sebelum acara Race. Maka seminggu sebelum acara race seru lah trek ini dicoba jajal oleh para penghobi dan sebagian atlet yang sudah penasaran.

Trek offroad dimulai dengan berbelok menjelang sampai ke Taman Budaya di Sentul City. Berbelok kanan melewati tepian lapangan golf Sentul City dan melahap area batu makadam terus sampai kembali bergabung di trek utama Bojongkoneng di sekitar ‘pagar seng’. Trek makadamnya sendiri cukup unik dan istimewa karena trek ini jarang dilewati kendaraan. Batu makadam yang tersembunyi dibalik rerumputan yang baru dipotong memberikan sensasi tersendiri buat yang menikmati trek ini saat baru mulai dibuka seminggu sebelum lomba.

Dan ini jepretan dari hari H race, 28-29 Jan 2012

Race Uphill ini berlangsung selama dua hari berturut. Dan hujan yang mengguyur kota Bogor dan area race beberapa hari sebelum lomba membuat trek menjadi basah dan licin terutama di part Offroad nya.

Basahnya trek membuat lomba jadi lebih menarik, namun juga lebih susah untuk dinikmati. Hujan ternyata tidak menyurutkan niat para peserta untuk serius menggenjot sepedanya. Pada hari pertama tampak para peserta, diantaranya para peserta kelas eksekutif, yang tetap menjalani lomba dalam hujan. Sungguh menarik melihat ethusiasme mereka. Memang acara ini lebih layak disebut gathering para penikmat bersepeda nandjak daripada sekedar acara Race sepeda.

Dan keindahan race ini semakin menakjubkan dengan adanya seorang peserta berusia 6 tahun bernama Shahnaz, dengan sepeda mini singlespeed, dalam hujan menyelesaikan race ini sampai titik finish di Km Nol.


Ranca Upas to Kawah Putih; Survey Cikarangmtb Kolozal#8 ~ part3 of 3

Tulisan ini adalah lanjutan dari bagian kedua…

Tanjakan “Diagonal” seperti yang diceritakan Om Hanif sangatlah indah dan keren untuk dituliskan dan dibicarakan, namun sangatlah pedih untuk dijalani dan dikenang. Sepeda-sepeda sampai puluhan juta rupiah, berat sepeda dibawah 14kg, baju jersey keren para pesepedanya, backpack dari merk terkenal, tak ketinggalan sepatu lengkap dengan cleat, semuanya tidaklah terlalu berarti. Matador. Manggih tanjakan dorong… Terusterang saya merasa sedih dan terhina, namun tentusaja saya tidak akan meresiko kan diri mencoba dan ambruk dengan cleat gate/cleat injury terbaru. Tawakal saja dorong dorong bike, heartrate sih tidaklah jauh dari 140an bpm. Cuma kaki cenut-cenut, sepatu beberapa kali terpeleset karena batu batu lepas. Susahpayah kita menemukan jalur yang enak hanya untuk sekedar mendorong sepeda. Tim segera tercerai berai, dan hampir tidak ada suara apapun kecuali suara sepatu dan ban bertemu batu makadam. Krosak… krosak…

Bagian trek ini mengingatkan saya pada tanjakan-tanjakan di trek Cioray. Miring, hampir mustahil untuk dikendarai dengan sepeda. Lho? Hampir mustahil? Apa ada yang bisa? Jawabannya nanti kita cari dari orang-orang yang ngacung memiliki banyak masalah pribadi serta ingin menguji derajat sakit jiwa masing-masing. Nanti ya 19 November saya jawab apa ada yang bisa.

diagonal
[foto oleh antoix tapi pinjem kamera masbro yg sudah malas memotret]

Mengejutkan, tiba-tiba kita menemui sedikit jalan melandai. Rupanya setelah diagonal melewati pinggang dan dada, kita akhirnya sampai juga di ujung kepala dari punggungan ini. Fyuh!! Sambil menegak air, saya jadi mulai memperhatikan bahwa di sekitar kita samasekali sudah tak tampak pohon teh, namun kita berada di tengah hutan pohon kina dan pohon-pohon perindang lainnya. Mungkin sampai sekarang masih ngilu rekan-rekan yang kemarin lewat trek ini. Malah jadi ada pertanyaan dengan ekspresi wajah super heran, “… emangnya Om mau lewat situ lagi???…”

Datar sedikit bisa gowes dilanjutkan dengan tanjakan berganti-ganti. Lalu tiba-tiba mendatar jalannya (ajaib!!) dan benar saja disusul dengan berhenti nya Papa TB dan Om Eyang mendiskusikan trek. Wadoh. Alamat deh… Alamat Palsu…

Dimanaaa.. dimanaaa… dimanaaa….
*mbayangin Ayu ting ting

Wakakakaka…

Tahap selanjutnya adalah kita memutuskan memotong ke kanan, masuk ke rerimbunan belukar setinggi sekitar 2.5-3 meter. Pohon-pohon perindang kecil saja di kiri kanan jalan singletrak menanjak setapak. Acara tuntun dimulai lagi. Singletrack ini adalah jalan akses ke kebun paprika di tengahnya rupanya. Pohon mirip cabe dengan buah nya yang hijau dan besar-besar mengingatkan saya pada Pizza Hut. Kruyuk… kruyuk… jadi laper perut. Hah! Konsentrasi dorong dulu.

Setelah memasuki kebun paprika, maka kita mulai masuk ke area yang tanpa singletrack. Masing-masing mencari jalannya sendiri. Berusaha sekedar melewatkan sepeda mengatasi area ini. “Ada kebun teh di depan” kata Papa TB seperti seorang peramal… Melihat kondisinya seperti nanjak di foto-foto “Tipar, jalan yang hilang”, hanya ini semak-semaknya tinggi tinggi banget. Baru kemudian saya sadar MBahBro tampak kepayahan, terutama karena handlebar-nya yang lebar, yang nyangkut kesana kemari. Muka MbahBro sudah memelas sekali, cuma sinar matanya masih mengkilat-kilat kayak mau makan Gurame saus Tauco.

(diingatkan lagi, nama dan sebutan hanya fiksi saja…)

Akhrinya, tampaklah secercah kebun teh di depan… Alhamdulillah… lega nya serasa bertemu peradaban lagi. Tapi ternyata masalah hidup kita memang berat, kita masih harus naik ke atas lagi, membelah celah pohon-pohon teh yang sempit, hanya seperti jalan air saja, menuju ke atas… “…ada jalan di atas…” kata Papa TB lagi. Suara belio seperti campuran antara ramalan dan perintah serta harapan, saya sudah susah membedakan.

Dimanaaa.. dimanaaa… dimanaaa….
*mbayangin Ayu ting ting (lagi)

Menghadapi kejadian TTB-DDB-GGB ini mulai tampaklah darimana asal perguruan para pesepeda. Ada yang dari perguruan Taman Safari (sepeda didorong), lalu perguruan Nona (bukan ndorong sepeda malah motret), lalu perguruan Kopasuss (Sepeda dipanggul), dan tak lupa perguruan Tong Setan Tegaldanas (Sepeda diangkat jumping ban balakang digelindingkan di trek, sepeda didorong pake perut). Wah, segala jurus keluar, hanya untuk kembali mendapatkan jalan di perkebunan teh…

Fyuih!!!

Saat ketemu jalan makadam lagi, hati lega, langit pun mulai gelap
Masalah kehidupan kami berempat memang terbukti berat sekali…

Jalanan yang kami temukan adalah jalanan makadam, tidaklah mulus khas kebun teh, namun entah kenapa jalanan itu sore menjelang malam itu tampak baguuuuusss banget yah? Malam beneran menjelang, mulai didata logistik, siapa masih ada air, siapa masih ada roti, siapa masih ada biskuit, siapa bawa lampu, wah kejadian kaya gawat bener aja.

Setelah selonjoran melemaskan otot, memandang Situ Patengan di kejauhan dibawah sana, sayup-sayup terdengar suara gas menyembur dari sumur pengeboran di bawah sana. Entah kenapa feeling saya jadi seperti pas kita selesai menanjak di Gn. Padang dan dari ketinggian melihat kebawah ke arah situs gunung Padang. Mana jam nya mirip lagi, sekitar maghrib.

Setelah nyawa sudah terkumpul, kami pun mulai menyusuri jalan inspeksi kebun teh, kali ini cukup landai kok, tidak ada lagi tanjakan-tanjakan Ayu Ting Ting seperti di tengah kebun Kina. Gelap segera cepat sekali menyergap, tanpa kami sempat melihat dimanakah tujuan seputar puncak gunung, kawah Putih. Senangnya kami waktu bertemu bapak-bapak naik motor, lalu bertemu penjaga kebun dengan api unggun nya di sebelah trek. Serasa benar kembali ke peradaban yang rasanya setelah 1800mdpl tadi jauuuhhh banget dari jangkauan.

Jalanan gravel kadang digenjot dan kadang juga dituntun berjamaah. Tuntun dilakukan kembali karena ternyata peristiwa TTB-DDB-GGB tadi sangatlah menguras energi dan semangat. Fisik dan mental. Tak lama kami menjumpai di sebelah kiri trek, di bawah jalan yang kita lalui, ada kampung kecil berisi sekitar 20-an rumah, mungkin perkampungan pekerja perkebunan. Wah, ini kampung tanpa listrik, samasekali tidak tampak ada suara kehidupan dari bawah sana.

Jalanan gravel dan makadam masih kami lalui, dengan beberapa kali bertemu motor dari arah berlawanan. Beberapa motor berhenti dan bertanya, “Mau kemana??…”. Dorong di tanjakan, kadang kadang digenjot juga kalau masih mampu, akhirnya kami sampai juga di semacam titik tertinggi. Seputar trek sudah asli hutan saja, tidak ada lagi perkebunan atau perkampungan. Dari titik seperti di puncak bukit ini (diperkirakan 2200m dpl) maka kami turun dan menemui jalan berubah menjadi aspal!! Aspal mulus!! Cihuiyyy… hati berdegub kencang, lega campur girang bukan kepalang.

Meluncur turun, ditunggu tanjakan, lalu sampailah kita di semacam area parkir. Dengan gagah tampak penanda tempat ini “Kawah Putih”… Alhamdulillah… sampai !!! Suasana ceria dan lega segera menyebar ke seluruh tim.

Area itu sih sepi sekali, tanpa penghuni tanpa warung tanpa listrik tanpa cahaya. Hanya tampak semacam area parkir dan area berteduh. Seluruh anggota tim duduk selonjoran di aspal dan mulai ada yang merokok. Suasana canda tawa tiba-tiba hadir kembali secara instan. Cokelat dan biskuit pun segera beredar. Melongok jam tangan saya melihat jam 1830. Hampir 13 jam kami menjalani trip ini.

Sama seperti trip trip menanjak yang lain, seberapa tinggi pun gunung, seberapa panjang pun tanjakan, pasti ada juga yang namanya ujung tanjakan. Semua penderitaan dan kesulitan selama perjalanan kok ya hilang begitu saja dengan sampai di tempat yang dituju.

Setelah seremonial foto dan menengok kawah putih yang guelap, akhirnya kami pun berangkat turun… Ya, turun kembali ke Ranca Upas melewati jalur onroad. Jalur onroad kita turun ini adalah jalur yang biasa digunakan orang-orang naik mobil/motor untuk berkunjung ke Kawah Putih.

Hanya dua dari empat pesepeda dengan lampu. Satu headlamp satu handlebar lamp. Turun dari sekitar 2200 m ke 1500 mdpl ini kami jalani dalam sekitar 30-45 menit. Rasanya panjang banget, dan jelas pasti dingin sekali. Hanya saya yang bawa windbreaker, rekan-rekan lain pasti lah kedinginan banget di trek turunan yang curam berkelok kelok ini. Kami hanya 2-3 kali pedalling, malah lebih sering menguji rem karena medan nya memang cukup menantang. Apalagi ditambah gelap.

Akhirnya dengan lega dan hati bahagia kami kembali menemukan kendaraan yang parkir di Ranca Upas. Jam sekitar menjelang jam 8 malam. Rasa tidak percaya berhasil melalui perjalanan ini. Rasa percaya diri juga bercampur didalamnya, karena ternyata masih diberi kekuatan untuk bisa melewati trek seberat ini.

Alhamdulillah…

SELESAI

Tracklog bisa dilihat disini…
Foto-foto bisa dilihat disini..
Keterangan acara Kolozal#8 ada disini…

Laporan trip ini didukung oleh Bikewear…

logo bikewear


Ranca Upas to Kawah Putih; Survey Cikarangmtb Kolozal#8 ~ part1 of 3

Trip ini 15 Oktober 2011, sekitar sebulan sebelum Kolozal#8 19 Nov 2011
Member trip adalah empat orang: Om Hanif, Om Rudy, Om Ardian dan antoix.
Foto-foto dalam trip ini diambil oleh Om Rudy, Om Hanif, dan Om Sigit untuk cikarangmtb.

Setelah menikmati keindahan pagi itu, karena tim empat sepedah telah bersiap untuk start. Siapakah track leader tentu tidaklah perlu dipertanyakan, Om Hanif aka. Papa TB aka. Trekbuilder yang memimpin di depan. Perjalanan hari itu pun dimulai dengan mengitar sekeliling Ranca Upas (ketinggian sekitar 1600m dpl) kemudian masuk merambat ke kebun sayur menyisir punggungan yang terletak di sebelah kiri jalan masuk ke Ranca Upas. Kata-kata pertama Papa TB saya ingat banget, “Trek nya dimulai disekitar sini lah, coba kita cari jalannya saja…” halah…!!!

Tampak indah di sebelah kanan trek, semacam kolam/danau kecil di tengah kawasan bumi perkemahan ini. Sebenernya kalo liat pemandangan dan empuk nya tenda kok ya tampak lebih menarik kongkow dalam tenda yah?

kolam ranca upas
[foto karya om rudy untuk cikarangmtb]

Jalanan adalah singletrack yang meliuk liuk. Sedikit berdebu karena rupanya trek belum terlalu sering terkena hujan. Meliuk kanan kiri, sedikit bumbu batu makadam walaupun jarang, kami pun mendaki, menanjak sedikit demi sedikit. Singletrack heaven seperti ini memang selalu membuat kangen, apalagi dilakukan di tempat yang duingin begini, samasekali gak keringetan meskipun degub jantung menanjak mendekat melewati 170bpm. Tampak setelah melewati sebuah tanjakan panjang Papa TB dan Eyang berhenti di depan. Kita pun menunggu MasBro mendekat dan memperdengarkan lagu yang lagi top…

Kemanaaa… kemanaaa… kemana…?
Kuharus mencari kemanaaaa…
Kekasih setia…

Halah, alamat palsu deh, alias nyasar…!!
Acara balik kanan pun segera dilakukan. Tanjakan jadi turunan dan turunan berubah jadi tanjakan.

GUABROK!!! GUABROK!!!
Suara Kusen jati melibat turunan
Semakin kencang suaranya saat menyisir tanjakan. Kencang suara napas maksudnya.

Tapi alamat palsu kita ternyata membawa ke sebuah pemandangan indah kebun teh tersaji setelah tanjakan. Kebun teh tampak berjajar rapiii sekali, tidak seperti kebun teh di tempat lain. Heran ini perkebunan cenderung blok-blok nya rapi dan simetris…

Cerita yang lalu sampailah kita pada punggung sebuah bukit dan diberi pemandangan yang sangat AM. Turunan terjal jauh ke bawah dari semacam hutan pohon rasamala/daun merah ke arah perkebunan teh. Setelah sotoy dan terjengkang, akhirnya memilih untuk TTB di turunan. Fyuih…

Kesegaran perkebunan teh segera menyergap, namun di tengah nikmatnya udara segar kebun teh kita dihadapkan pada tanjakan panjang makadam dan miring bener. Susah payah hanya untuk menghindar dari kegiatan menuntun. Setelah dihibur jalan mendatar di perkebunan teh kita tiba tiba disuguhi tanjakan teknikal dan miring makadam. Paha menjerit, betis menangis, dada serasa meledak. Namun semua terlupakan oleh sebuah pemandangan luarbiasa di balik ujung tanjakan…

Di kejauhan tampaklah keindahan Situ Patengan. Danau di ketinggian 1500an mdpl. Sementara tampak segera dibawah jalan inspeksi kebun teh meliuk liuk menuju ke situ itu. Aduh. Pengen rasanya berlama lama disini, tapi dilema juga melihat landscape nya yang tak bosan bosan dilihat. Tampak anggota trip paling sepuh, yang bernama Eyang, segera gak sabar menyambar turunan panjang. Tak sampai lima menit tampaklah beliau dengan jersey CMTB hanyalah seujung titik dibawah sana merambat perlahan di tengah indahnya landscape.

Karakter kebun teh nya juga unik, tampak di beberapa area ada semacam ‘rock garden’. Rupanya daerah ini sudah dekat dengan letusan gunung sejak jaman baheula. Batu batu vulkanik sebesar mobil dan sebesar rumah tampak menyembul di tengah kebun teh, kadang tepat di sebelah trek. Terasa sekali bau magma-nya area ini, walau mungkin letusan sudah ribuan tahun yang lalu.

Melihat pemandangan ini saya kok jadi lupa ya tentang ‘Alamat Palsu’… hehe… sudah pasti kita menuju ke tempat yang sesuatu banget…

Menanggapi tentang cerita ini yang fiksi, memang cerita ini hanyalah fiksi semata, namun semua cerita fiksi pada dasarnya diilhami oleh pengalaman nyata dari penulisnya kok. Jadi pengalaman nyata penulis, lalu dibumbui dan diedit, agar menyampaikan pesan bahwa penulisnya keren, gagah, tak pernah kalah, tak pernah lelah. Kan keren, buat pencitraan diri penulis. Nah kan? Nah, itu yang saya maksud fiksi.

Selain pemandangan kebun teh yang dilengkapi dengan ‘ornamen’ batu batu besar, kawasan kebun teh ini juga tampak sangat amat rapi jali. Potongan-potongan teh nya tampak lebih halus, sehingga tampak dari atas kotak kotak area kebun teh ini seperti potongan-potongan tahu. Pernah lihat gak tahu besar di nampan sebelum dipotong-potong? Potonganya tampak rapi dan simetris. Unik sekali.

Lanjut cerita menjadi melahap turunan poanjaaang makadam. Di beberapa tempat turunan sangat amatlah curam. Hal ini membuat skill kita meng handle rem dan juga mengendalikan sepeda jadi sangat diuji. Kemiringan turunan dan makadamnya mengingatkan pada turunan trek rindualam menjelang paralayang atau turunan-turunan teknikal di trek Pondok Pemburu.

Gowes berlanjut ke area datar dan bertemulah kita dengan jalan aspal mulus menuju situ patengan. Acara selanjutnya adalah makan di warung Situ Patengan. Herannya saat makan di warung ini hampir semua peserta merasa ‘lupa’ bahwa tadi pagi sudah sarapan (nasi goreng, telor ceplok, mie goreng, indomie rebus, bandrek, bala bala, pisang goreng… etc). List sepanjang itu kok ya bisa lupa.

Makan apa saja rasanya enak, keindahan Situ Patengan siang itu membuat makan kita pun makin nikmat. Angin juga semilir cenderung kencang. Sementara saya menikmati kaki selonjoran, dipijet-pijet, punggung diistirahatkan, dan yang terpenting dada ditenangkan pada <100bpm, kita makan enak dulu; sate kambing plus nasi tak sampai lima menit lenyap dari pandangan mata. Glk glk glk… sruputan teh walini juga membuat dada enak sekali.

Ada satu sih yang bikin gak enak, tampak di kejauhan mata, di belakang nun jauh disana, Gunung Patuha dengan Kawah Putih-nya. Tampak agung sekali di ketinggian. Indah dan tidak angkuh sih, tapi sangat berwibawa. Apa iya ya kita akan sampai ke tujuan yang diharapkan? Kok tampaknya tinggi banget dan waktu pun tinggal setengah hari? Mata mengantuk tidak hanya karena perut kenyang tapi juga karena semalam cuma tidur dua jam.

Tak berapa lama kami pun segera beranjak. Trek mengitari Situ Patengan jalan kembali makadam inspeksi kebun teh. Disini kita juga temui ternyata teknik memotong daun teh yang diterapkan sedikit berbeda dengan kebun yang lain. Daun teh bukan dipetik tapi digunting dengan gunting tangan khusus. Kebayang kecepatan petik nya bakal bertambah, namun juga mengakibatkan penampakan potongan kebun teh menjadi berbeda, menjadi tampak lebih rata dan halus, seperti tahu.

situ patengan
[foto karya om rudy untuk cikarangmtb]

Setelah mengitar sempat ada foto dengan latarbelakang danau Situ Patengan, kita segera beranjak naik, nanjak, naik, nanjak, hosh hosh hosh. Yang menarik adalah hanya di beberapa area saja tanjakan tampak sangat kejam, tempat yang lain cukup memanjakan jantung dan tidaklah perlu bekerja sampai maksimal. Lalu sampailah kita di suatu pertigaan. Untuk selanjutnya pertigaan legendaris ini kita namain pertigaan 'chicken way dan bebek way'. Papa TB yang paham penjelasannya yang jelas kita ambil jalan ke kanan, yang tampak lebih landai daripada jalan ke kiri yang tampak sangat miring.

Rasanya saya tidak perlu lagi menjelaskan pemandangan kebun teh nya. Dimanapun kebun teh tidak ada yang tidak indah dan tidak dingin.Yang jelas ini gowes tanpa keringat.

bersambung ke bagian kedua…

Laporan trip ini didukung oleh Bikewear…

logo bikewear


Uphill Trip: Jemawi (Sragen) – Candi Cetha (Karanganyar)

==1==

Trip nanjak nya sebenarnya singkat, jam 11 start jam 2 finish… tapi menuju titik start perlu mencari-cari sejauh 60km dari Solo… Lokasi titik start namanya Jemawi. Ini adalah kota kecamatan, lereng Gn Lawu sisi Barat Laut. Jemawi dari arah sragen sekitar 25km.

Si macan menjelang mencapai Jemawi. Semalamnya baru jam 2 malam sampai di Jebres Solo, masih ngantuk brkt jam 9an dari Jebres.

Persawahan di sekitar titik start. Sudah nanjak dong… tapi masih sopan buat manasin paha. Vegetasi masih padi. Poanass…

Ini adalah gerbang pertama ke arah kawasan wisata Ceto Sukuh

==2==

Tas berisi perbekalan. Dokumentasi aja, kali ini bawa teh kotak, peta, p3k, tools, windbreaker, ban cadangan, kamera, cemilan (roti dan ampyang/gula-kacang), duit (kali ini gak kelupaan)

Saat mulai masuk ke kawasan perkebunan teh, mulai sering tak sopan tanjakannya, semakin sering pitstop. Asli, kali ini saya manjakan tubuh dengan banyak pitstop, maklum kurang tidur dan masih akan menyetir panjang…

Pemandangan lembah2 di sebelah trek mulai mengejutkan dan membuat lebih sering lagi berhenti, motret. Obyek foto ya sepeda dan alam saja. Rasanya hanya 20-30% keindahan alam bisa terekam di kamera kali ini… Terlalu indah untuk bisa diambil ke dalam lembar dua dimensi…

Sebuah tanjakan miring yang membuat saya berhenti dulu untuk ambil napas sebelum mulai. Masih kaget liat tanjakan model gini, padahal berikutnya bakal bejibun model begini. Mobil dan motor pasti masuk gigi satu dulu sebelum menuruni tanjakan ini, memanfaatkan engine brake. Naik-nya? sudah pasti mereka mengerahkan semua kekuatan gigi terkecil…

Pemandangan di titik lebih tinggi makin membuat geleng-geleng kepala. Makin sering berhenti motret. Tapi ampun poanas banget matahari serasa ada 11. Melihat keindahannya, dan kecewa liat yg bisa tertankap di view finder kamera, saya jadi ingat lensa wide 9mm yg kemarin liat di pameran yah? wkwkwk

==3==

Kali ini make jersey cikarangmtb, biar yakin bakal keliatan dari jarak 5km wkwkwkw…

Foto jalan (nandjak berliku) masih panjang nak…. Gunung tersaput sedikit kabut di kejauhan adalah letak candi ceto dilihat dari bawah ini. Melihat ke arah posisi titik tujuan seperti mendongak… miring betuuuulll…. Feeling nya sama dengan di Dieng, menara pandang setelah kejajar terlihat tapi miring dan rasanya gak sampe sampe (3-6km/jam sih)

Foto -foto berikut diberi keindahan menengok sebuah Pura di samping kiri jalan…

Pemandangan ke arah jalan yang barusaja ditempuh dan tempat sepeda diparkir (sepeda tampak kecil di pojok kiri bawah) dari arah Pura… disinilah saya baru ngeh benar bahwa trip ini akan ketemu view yg sangat sangat istimewa…

==4==

Berikut adalah sebuah gerbang, tak terlalu jelas gerbang apa. Dari gerbang ini tampak jelas terlihat kompleks Candi Ceto nun jauh diatas sana ditopang oleh sebuah tebing batu. Di tebing ini ada dua air terjun yang hanya mengalir kalau hujan saja kata ibu penunggu warung.

Akhirnya berhenti di warung dan minum teh. Untung banget pakai jersey lengan panjang, cuaca cerah yang tanpa awan membuat matahari menyengat keras. Tampak teh dipetik dan dikeringkan secara manual oleh ibu penunggu warung. Segeeeerrr sekali teh yang sangat alami diminum di tengah kebun nya ini. Alhamdulillah.

Seekor anjing yang mendekat ke ban depan. Mungkin dia bisa mencium bau kalo ban ini pernah dikejar sama teman2nya yg di Cikarang… wkwkw..

==5==

Jalan yang semakin miring, pemandangan yang semakin indah, semakin ingat saya sama lensa 9mm yang ditawarkan di pameran, saya harganya sama dengan frame Giant… Setelah melihat fotonya kembali baru sadar kalo saya semakin sering berhenti.

Setelah melewati pertigaan, pertemuan antara jalan dari Karanganyar dan dari Sragen, lalu bertemu naik lagi ke arah candi Ceto. Ini adalah berfoto di tempat retribusi. Setiap motor ditarik 1000rupiah, sepeda grattisss.. wkwkwk..

Tak jauh dari pos retribusi, tanjakan tak lagi sopan tak lagi kasihan sama dengkul dan paha. Siapa coba yang suruh genjot uphill kesini? Lihat, itu mobil saja kepanasan dan mogok di tanjakan.
Latarbelakang foto adalah wilayah Solo dan sekitarnya. Ada awan2 yang sekilas tampak sejajar dengan tempat kita mengambil gambar, inikah yang dinamakan “Negeri di Awan..???”

NO MERCY !!!
Tidak ada belaskasihan dari trek kepada saya. Meskipun semua mobil dan motor mengerang-erang dengan gigi satu menyalip, sambil menebarkan aroma kopling terbakar, trek tetap saja tidak kasihan pada saya yang genjot terengah-engah dan mulai halusinasi karena panas matahari yang
amat menyengat. Trek tetap tidak peduli, tetap memberikan kekejaman kemiringan dan sambil menampakkan keindahan cakrawala dari Sragen raya sampai Solo raya di bawah sana…

==6==

Foto berikut saya ambil di tempat paling berkesan dari trip ini. Saat kelelahan fisik yang memuncak, kepenasaran dengan seperti apa Candi nya, dan ditambah pemandangan yang tak terlukis dengan kata dan tak dapat semuanya terekam dengan kamera… saya menemukan diri saya kebingungan dimanakah *flat* itu sebenarnya? Setelah gowes miring sepanjang hari merasakan bahwa nandjak adalah *flat* lalu menjumpai cakrawala yang memperlihatkan apa arti sebenarnya flat. Ini perasaan yg sangat susah dituliskan. Yang jelas saya jadi paham apa yang dimaksud MBah Rektor 1PDN dengan ‘the world is flat’. Disini. Nun jauh di lereng Lawu…

Kemudian ini adalah foto tanjakan terakhir, sepanjang sekitar 1km lurus sampai ke gerbang undak undakan Candi Ceto. Saya sampai lupa berapa kali saya berhenti di jalan yang hanya 1km-an ini.

Dan akhirnya sampaiii juga…

Hanya boleh sampai disinilah sepeda… Bagian kanan bawah tampak patung yang tepat di tengah jalan gerbang candi, sangat mistis, sangat unik dan aneh posisinya maupun ekspresi patungnya…

Inilah puncak tertinggi sepeda saya bisa raih dalam perjalanan ini… fyuh!!

Tracklog lengkap ada di http://www.bikemap.net/route/819051

Profil ketinggian


Uphill Taman Dayu, Pandaan

Pasuruan, 13 June 2010

Pagi ini sudah saya niatkan untuk genjot. Dukalara Eyang Dieng yang dua minggu gak digowes harus saya akhiri.. Kebetulan memang weekend ini agak lowong. Si Macan Panther berisi Eyang Dieng sudah meluncur jam 0645, feeling saya membawa ke arah Pandaan, akhirnya 20 menit kemudian sudah parkir di area foodcourt Taman Dayu.

Dengan sistem SKSD (sok kenal sok deket) saya mendekat ke sebuah rombongan, dengan dua mobil, satu mobil pickup berisi 6 sepeda dan satu mobil isi orangnya. Ternyata dari Surabya mereka datang, mau ‘naik ke atas’ katanya… Wah! Cocok!
Gerombolan ini, kalau melihat ban sepedanya, wah biasa kota-kota. Slick 80% dari member. Baru kemudian saya tahu dari salah satu dedengkotnya: Pak Anton, kalau mereka memang biasa kota-kota dan baru mulai genjot keluar kota untuk refreshing…

Uphill dimulai. Melewati jalan utama The Taman Dayu http://www.thetamandayu.com/ yang feeling nya mirip uphill di sentul city. Tapi ini jalannya lebih sempit dan pohon-pohonnya lebih teduh dan rindang. Huenak tenan. Jalanan sendiri penuh dengan warga kota Pandaan yang sedang bersantai, jalan pagi, mejeng, olahraga pagi dibawah keteduhan pepohonan dan jalan nanjak ini.

Saya start mulai dari gerombolan tengah. 6 pesepeda surabaya ini plus saya jadi 7 orang. Satu per satu para pesepeda menyalip saya. Memang terasa sekali kalau semakin jarang bersepeda, napas serasa pendek, otot2 kaki rasanya seperti berat sekali dikayuh. Saya benar-benar kehilangan irama. Jalan nanjak, apalagi teduh plus pemandangan beraneka ragam manusia dan indah alam dikejauhan gini biasanya menyemangati saya, tapi tidak kali ini… Akhirnya saya tercecer di belakang. Waktu pitstop di gerbang utama masuk ke arah Club House Taman Dayu, saya kira saya ada di paling belakang. Rupanya masih ada satu rekan di belakang saya.

Disini saya mulai keluarkan kamera…

Pergaulan dan obrolan dengan teman-teman baru saya sudah mulai cair. Saya go with the flow saja di tengah bapak2 45-50 tahun-an ini. Jadi rasa muda kembali. Trek selanjutnya adalah masih dibawah rimbun pohon, jalan mulus yang lurus dan menanjak serta pemandangan padang golf hanya 20 meter sebelah kiri jalan. Mantap. This is better than Sentul City!!

Kita pistop kedua di puncak sebuah bukit di perempatan besar.. foto2 lagi..
Tampak di depan, lereng gunung Arjuno tampak gagah. Di ujung kejauhan tampak ada kepulan asap dari kawah mirip seperti Papandayan. Dan ternyata ada jalan ke kawah itu dari arah Pacet! Weh seru nih. Di kiri jalan hijau dan rata-nya padang golf Jack Nicklaus The Taman Dayu Club. Pikiran langsung refresh dan kepala langsung enteng…

Om TJ khusus… Saya menulis tentang Leonis nih!
Pak Anton, pesepeda paling berpengalaman di grup ini (bersepeda gunung di sekitar pandaan sejak 1994). Beliau mengendarai Leonis Hitam. Di perempatan saat pitstop ini saya juga bertemu leonis yang lain. Leonis roadbike warna merah…

Wah, hari ini banyak ketemu Leonis!

Saat pitstop di perempatan besar, saya sudah tidak lagi di paling belakang. Pelan-pelan saya mulai temukan ritme genjot saya. Saya berusaha menjalankan pesan utama yang saya dapat dari kuliah, bahwa kalau nanjak jalan mulus begini crank depan jangan pernah samapai menyentuh yang terkecil, seberat-beratnya diusahakan dipertahankan di crank nomor dua. Syukurlah, saya mulai bisa tune in dengan irama genjot, tanjakan makin aduhai, meliuk di tengah rimbunnya pepohonan besar. Rupanya pengelola sukses menjaga agar pohon-pohon besar yang ada sebelum kompleks perumahan ini dibuat tetap menjadi bagian dari lingkungan baru perumahan. Jalan meliuk menanjak, bagai gadis tidur di tengah rerumputan. Wah, sexy banget jalannya. Juga adem…

Akhirnya kita melewati ‘The Jack Nicklaus Club House’, ini 6km dari gerbang taman dayu tempat kita start. Disini kita stop lagi. Keringat bercucuran tapi udara sejuk tenan. Di depan kita tampak gerbang ‘The Pines’. Jalan masuk kesana tampak telah menyempit, hanya selebar satu setengah mobil, dan aspal rusak. Tim Surabaya ini, yang 80% pake ban slick khas kota-kota memilih mbelok kekiri masuk kampung, lalu tembus ke jalan mulus dan nanjak lagi. Aseeekkk…

Jalan mulus menanjak ini mengingatkan saya pada perjalan dengan kendaraan berpolusi ke Taman Safari Indonesia 2 Prigen. Meniti punggung gunung Arjuno, naik terus. Disini saya sudah ‘in’. Saya temukan irama genjot saya dan mulai bisa menikmati setiap kayuhan tanpa dada panas dan paha berontak lagi. Mungkin badan dan otot juga telah lemas dan pemanasan sudah cukup.

Di sebelah kanan tampak jelas pemandangan gunung arjuno di atas, dan tampak juga jalan lanjutan dari taman dayu kalau kita masuk ke ‘The Pines’. Waduh asli saya penasaran banget sebenernya. Jalan aspal rusak nanjak tadi seperti melambai2 mengundang. Apalagi sambil genjot Pak Anton menceritakan deskripsi trek offroad di dalam The Pines. Kata beliau ada trek cross country 4km yang pernah dipakai untuk lomba, dengan singletrack dengan tebing dan jurang, waduh, kok saya jadi ingat majalah MBR di rumah. Kata beliau di The Pines juga ada rumah pohon tempat kita bisa bersantai di semilir pohon pinus lereng Gn Arjuno. ADUH!! NGILER!!

Uphill jalan mulus kali ini mirip jalan di gadog-rindualam tapi sebelum meliuk2 di kebun teh. Jadi lurussss.. dan nanjak. Kemiringan tanjakan berubah-ubah, ditutup dengan kemiringan audzubillah dan panjang, sebuah masjid di perempatan, dan kita pun beristirahat lagi disitu.

Di peristirahatan perempatan masjid inilah saya yakin kalau jalan yang kita lalui bukan jalan ke Taman Safari Indonesia 2, tampaknya sejajar tapi mendaki punggung gunung yang lain. Disini obrolan antara anggota tim semakin panjang dan ramai. Saya sudah mulai bisa menimpali pembicaraan…hehehe… Salah satu topik yang hangat adalah hilangnya penyakit pinggang, panggul dari para pesepeda karena rutin bersepeda. Wah seru juga. Obrolan yang cukup ramai juga adalah jalan mana yang akan kita tempuh selanjutnya dari perempatan ini?

Balik kanan? Cukup banyak peminatnya, karena mulai kehabisan energi
Lurus? Tampak nanjak miring dan jalan memburuk
Kanan? Katanya ke Villa Haurtensia
Kiri? Bisa nyambung ke Taman Safari Indonesia2

Saya iktu dengar saja, akhirnya dipilih ke kanan, tapi dengan kondisi, kalau merasa habis balik kanan dan berkumpul kembali di perempatan ini.

Setelah melambung sedikit kekanan, jalan segera tak sopan belok kekiri dan NANJAAAAAAKKKKK…
Sambut menyambut tanjakan lebih kejam dari sebelumnya… lebih miring, lebih jarang ada bonus agak landai. Jangan berharap landai, agak landai saat kemiringan berkurang pun sudah bonus. Terusterang mengingatkan saya pada tanjakan hari kedua ke Galunggung, miring dan tanpa bonus, sambut menyambut tak ada hentinya.

Kali ini saya benar-benar dapatkan irama saya. Huenak banget, meskipun di beberapa tanjakan berat dan miring terpaksa berpindah ke gigi kecil depan. Saya berhenti juga akhirnya karena saya tengok ke belakang sudah tidak tampak lagi pesepeda lain. Saya minum pocari botol kecil, langsung tenggak habis. Baru sekitar 10 menit kemudian muncul rekan-rekan yang lain.

Saya lanjutkan genjot setelah rekan-rekan mendekat. Dan akhirnya kemiringan tanjakan ini menjadi semakin kejam dan kejam. Untung trek masih dilindungi pohon rindang di kiri kanan jalan. Benar-benar menguras tenaga dan semangat. Akhirnya saya sampai juga di gerbang sebuah kompleks perumahan-villa. Haurtensia (moga2 bener spelling-nya).

Fyuh!

Setelah 15 menit di titik finish akhirnya turun kembali ke Taman Dayu. Kali ini ambil jalan lain bukan jalan dalam kompleks taman dayu seperti saat uphill tadi. Kita lewat jalan desa yang mulus. Sebelah kiri jalan adalah sungai yang dalaaammm sekali jurang-nya. Sempat ambil foto di jembatan bambu yang dibangun diatas sungai yang sangat salam jurangnya ini..

Finish di Taman dayu 1015. Tal trip hanya sekitar 20-22km. Sangat cukup untuk trip pertama beneran uphill setelah berpindah ke Bangil…

Laporan trip ini didukung oleh Bikewear…

logo bikewear


Kiara Payung – Batukuda bersama Goweser Bandung Timur #1

Perjalanan kali ini diputuskan dan direncanakan dengan tergesa. Memutuskan ikutan sehari sebelumnya, teng-go saja langsung berangkat yang penting gowes. Sudah kangen udara dingin Bandung. Berangkat dari Cikarang Minggu pagi berdua bersama Kang Yadi dari Cikarang.

Novel kali ini akan saya coba buat jadi ‘rebat-cekap’, artinya singkat padat… Hehe… moga2 bisa, soalnya udah biasa panjang dan geuleuh…

Jam 0410 0415 0420, jam weker hape saya berbunyi tiga kali. Tiga kali matikan tombol, tiga kali dilanjutkan tidurnya. Setelah jumat malam belajar sampai jam 3 pagi lalu loading sepeda Om Yadi jam 9 malam, akhirnya saya putuskan buat ganti ban dulu. Dari pengalaman di Galunggung, ternyata di turunan, menggunakan ban 1.8 dan 1.9 bukanlah keputusan yang membuat enak mengendalikan sepeda di turunan. Meskipun musim hujan belum lewat, saya putuskan melepas Medusa 1.8 di blakang lalu racing ralph di depan dan mengganti dengan Panaracer Fire XC PRO. Ban 2.1 dengan kembang besar, semoga membatu saya jalan pelan di turunan basah.

Start dari Cikarang

Jam 0455 menyamper Om Yadi yang sudah menunggu di pinggir jalan. Sorry pisan Kang, kacau nih jadwal bangun gara-gara ganti ban dan loading siap siap ampe jam 12 malam. Ngobrol sana sini tak terasa 0620 kita sudah mendarat di rumah Om Indra di dekat Cibiru, Bandung Timur.

Jalan raya utama dari Cibiru ke arah Sumedang ini ternyata ‘hidup’ banget oleh kegiatan bersepeda. Sambil menunggu rekan lain yang berangkat, gak henti-hentinya kita melihat rombongan demi rombongan pesepeda, baik mtb, road, hybrid, keranjang olahraga pagi. Amazing melihat sebegitu banyak sepeda lalu lalang tanpa henti. Tak terasa terkumpullah 40+ para peserta gathering GBT (Goweser Bandung Timur), lengkap dengan jersey GBT MTB-nya. Tampak juga teman-teman dari Terjal (Telusur Jalur Liar), wah, akan terlaksana salah satu mimpi saya hari ini, genjot bareng rekan-rekan Terjal.

Grup segera berangkat dan berkumpul lagi di sebelah kampus IPDN Jatinangor yang menghebohkan itu.

Nanjak dr samping kampus IPDN

Regrup segera dihitung dan berangkatlah rombongan ini melewati jalan aspal sebelah kampus IPDN. Saya sempat moto sepeda di depan kampus IPDN. Tanjakan dari IPDN ke arah bumi perkemahan Kiara Payung ini jalan aspal cukup mulus, hanya beberapa titik saja rusak, naik-manja penuh kejutan. Seputaran kampus IPDN rupanya memang masih tanah milik IPDN dan ditanami jagung. Rapiiiii sekali mirip kebun jagung yang kita lihat di film2 di luar negeri.

Sempat lihat Om Yadi sekilas, namun segera beliau melesat di depan, gowes nanjak masih sempat sambil becanda basa sunda dengan rekan-rekan Terjal. Nah, itu baru ketemu teman yang tepat… hehehe….

Teringat kembali genjot Batukuda yang lalu bersama Om Sigit Bikewear. Waktu itu kita NII di lereng Manglayang, hampir putus asa karena hanya ketemu rumput dan rumput dan poho, akhirnya mendapat anugerah ketemu Om Dadan dari kelompok Ngaprax Cileunyi. Mantap waktu itu kami bersepeda masuk ke singletrack di dalam kebun jagung itu. Meliuk liuk menembus jalanan selebar handlebar di dalam kebun jagung.

Tak lama habis juga ini kebun jagung dan mulailah masuk ke kompleks Perkemahan Kiara Payung. Bertemu dengan banyak sekali pesepeda. Akhirnya tanjakan ini ketemu titik kumpul berikutnya, di deretan warung dengan cantelan sepeda sudah siap didepan warung. Centelan sepeda seperti di AA Bike tapi ada panjaaaannggg banget. Semua penuh sepeda. Perkiraan saya pagi itu ada mungkin 100 sepeda kumpul di Kiara Payung.

Menyenangkan sekali melihat sebegitu banyak sepeda. Karena jalan ke Kiara Payung masih tergolong aspal mulus, jenis sepeda pun berbagai macam. Seperti ada acara khusus saja, jumlah pesepeda bisa sebegitu banyaknya di satu tempat. Adrenalin berdesir, meskipun saya segera mampir ke warung buat minum teh panas, beli air dan makan sedapatnya. Belum sarapan euy… Saya lihat om Yadi dan Om Didik Pjtv juga makan batagor dengan lahap.

Gubrak !!!

Sangat menyenangkan berkumpul bersama hampir ratusan pesepeda begini. Disini saya akhirnya bertemu juga dengan rekan Dadan dari Ngaprax yang pernah membawa saya dan Om Sigit ke singletrack heaven dari Batukuda ke Kiara Payung. Saya juga coba mendekat dan ngobrol dengan teman Terjal. Haduh! Nyarios Sunda euy… mampus saya cengar cengir doang.

Setelah sesi fotografi grup puluhan orang pakai jersey seragam GBT MTB (huhuhuhu… jadi ingat cikarangmtb blom punya foto keluarga) akhirnya perjalanan sebenarnya dimulai. Nanjak kita masuk ke Kampung Cikoneng. Ini jalannya berbeda dari yang saya dan Om Sigit dilewatkan oleh Kang Dadan dulu.

Donhill agak mengerikan ke sebuah lembah. Tampak di seberang segerombolan orang sedang dorong sepeda nanjak miring jalan kampung sempit. Haduh… Dari start tadi kamera saya selalu kalungkan di depan dada. Lama-lama terbiasa juga. Nah saat antri dorong sepeda keatas inilah peristiwa kepeleset itu terjadi. GUBRAK !!! Sepatu saya yang hard compound slip dengan sukses di permukaan jalan semen yang agak basah dan sedikit berlumut. Kamera dengan telak tertimpa tubuh saya. Dada langsung sakit sekali. Kata pertama yang saya dengar dari Om Indra, “Haduh, sayang kameranya euy…” Ampuuuunnnn… saya tidak dikasihani samasekali, langsung kepikiran kamera duluan.

Tanjakan miring hampir 45 derajat ini terus menerus menunggu. Sepatu mtb saya memang tidak cocok di medan semen begini. Jadinya malah kalau ada space-nya mending nginjak rumput atau tanah/lumpur di kanan kiri trek. Akhirnya kita masuk juga ke area kebun, lalu ke hutan pinus/cemara…

bersambung ke bagian berikutnya…


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.