enjoy every cadence, every breath…

Posts tagged “IPDN

Warban Short Uphill turun di Dago Resor

Sudah sering genjot ke area Bandung utara, tapi malu juga dan rasanya ada yang salah karena belom pernah ke Trek Warban (Warung Bandrek). Jadilah pagi itu, hanya beberapa minggu setelah berjodoh dengan Ki Lobang, maka saya dan Ki Lobang menjalani trek Warung Bandrek dengan turun di Dago Resor pada 3 Maret 2012.

Tracklog ada disini…

Dari rumah di Buahbatu maka genjot pelan pelan Sabtu pagi sampai akhirnya di McDonald’s Pasar Simpang Dago. Terusterang saya kurang paham dan tanpa banyak persiapan makanya mau ikutin orang saja buat sampai ke Warban. Melihat ukuran ban sepeda Ki Lobang sudah ada yang “mengingatkan” apakah benar akan ke Warban… “Iya Pak, maklum pesepeda pemula, belom pernah ke Warban…”

[Sepeda berpose di McDonalds Pasar Simpang Dago]
Awal hari yang baik tersaji disini… Lumayan, sambil isi perut dulu.

Genjot pelan pelan, dengan target dalam hati, pokoknya jangan pitstop saja. Merasakan tanjakan ke arah terminal Dago, rasanya dulu waktu sekolah disini nanjak nya pol naik angkot, dari awal ini sudah memakai chainring tengah, akhirnya dilanjutkan terus. Setelah terminal Dago ada sedikit ‘bonus’ dengan berupa jalan yang bisa ambil bidon dulu sambil ambil napas.

Setelah lewat terminal Dago, maka jalanan semakin sempit dan semakin miring. Masih berusaha pakai chainring tengah, akhirnya bercanda pada diri sendiri untuk tetap mempertahankan pake chainring tengah. Satu demi satu pesepeda di depan mulai bisa disalip. Pemandangan sekilas ke arah dataran tinggi Bandung tampak indah, kabut tipis pagi hari menghiasi dan melengkapi keindahan dilihat dari atas sini. Target lucu lucuan buat non stop pun bertambah dengan tetap berusaha di chainring tengah.

Sampai akhirnya sebelah kiri mulai tampak hutan pinus, tanjakan semakin miring dan akhirnya untuk sekitar 50 meter menyerah memindahkan FD ke chainring paling kecil. Daripada malah jadi berhenti pitstop. Tak lama kemudian agak datar dan sampailah di yang disebut Warung Bandrek. Eh, pas di tengah miringnya tanjakan ada ‘warung bandrek’ tipuan lho… Kebayang sangat menggoda di tengah hosh hosh begitu muncul ‘tipuan’ ini.

Istirahat makan semangka segar sekali plus dua sisir pisang untuk mengembalikan energi. Rencananya sih pengen turun lewat jalur yang berbeda. Meskipun tidak ter planning, biasanya dirancang dulu di GPS, tapi pernah dengar kalau ada banyak pilihan turun dari Warung Bandrek.

Suasana, hawa segar pegunungan, di area Warung Bandrek memang menyenangkan ya… Pantas saja jadi tujuan rekan rekan pesepeda Bandung di setiap weekend. Warung nya sendiri menyediakan berbagai kebutuhan dan makanan camilan minuman penyegar yang pas banget. Kayaknya paham bener dengan apa yang disukai para pesepeda.

Setelah sekitar 30 menit istirahat dan obrol obrol dengan pesepeda lain, maka perjalan solo ini pun dilanjutkan kembali. Memilih jalan naik aspal, lanjut dari posisi Warung Bandrek. Sedikit nebak nebak salah orientasi, sempat buntu di kebun dan balik lagi uphill singletrack akhirnya saya ketemu dua rekan sesama pesepeda. Asik lumayan ada teman. Sampai akhirnya bertemu di tempat yang saya ingat trek lanjutan kalo dari Caringin Tilu. Pohon beringin caringin Tilu pun mulai tampak terlihat di kejauhan.

Karena juga sudah pernah dari Caringin Tilu naik terus sampai Kampung Buntis, maka kali ini ambil jalan turun bebeda lagi. Dan ternyata melewati apa yang disebut Tanjakan Hirung yang lengkap. Waduh. Manteb banget nih tanjakan, meskipun kali ini dijalani sebagai turunan saja karena dalam perjalanan pulang. Wah suatu saat harus dicoba ini. Akhirnya sampailah ke Vila Dago Resor. Lalu turun melewati Cigadung lanjut terus sampai Suci.

Perjalan yang seru, perjalanan pertama ke Warung Bandrek. Dan penasaran karena pengen nyobain nanjak dibalik via Dago Resor sampai kampung Buntis…

Panjang trek: 20.7km (Simpang Dago sampai Suci)
View: 4/5
Tanjakan: 3/5
Turunan: 2/5
Endurance onroad Uphill


1PDN Uphill Race 2012

Uphill race kali ini banyak merekam dalam gambar saja

Seminggu sebelum race, trek diperkenalkan dan dibuka secara resmi, 21 Jan 2012

Ikatan Penikmat Djalan Nandjak (1PDN) kali ini membungkus acaranya dengan melengkapi trek lomba dengan part Offroad, setelah beberapa penyelenggaraan Race Uphill yang lalu selalu memakai trek onroad dari Sentul City ke Kilometer Nol Bojongkoneng. Trek offroad sendiri adalah trek yang samasekali baru dan bukan trek reguler yang biasa dilewati pesepeda gunung.

Dan untuk memberi kesempatan yang sama bagi pesepeda pesepeda di luar area Jabotabek, maka trek offroad dari Race ini baru dibuka secara resmi dan diperkenalkan pada seminggu sebelum acara Race. Maka seminggu sebelum acara race seru lah trek ini dicoba jajal oleh para penghobi dan sebagian atlet yang sudah penasaran.

Trek offroad dimulai dengan berbelok menjelang sampai ke Taman Budaya di Sentul City. Berbelok kanan melewati tepian lapangan golf Sentul City dan melahap area batu makadam terus sampai kembali bergabung di trek utama Bojongkoneng di sekitar ‘pagar seng’. Trek makadamnya sendiri cukup unik dan istimewa karena trek ini jarang dilewati kendaraan. Batu makadam yang tersembunyi dibalik rerumputan yang baru dipotong memberikan sensasi tersendiri buat yang menikmati trek ini saat baru mulai dibuka seminggu sebelum lomba.

Dan ini jepretan dari hari H race, 28-29 Jan 2012

Race Uphill ini berlangsung selama dua hari berturut. Dan hujan yang mengguyur kota Bogor dan area race beberapa hari sebelum lomba membuat trek menjadi basah dan licin terutama di part Offroad nya.

Basahnya trek membuat lomba jadi lebih menarik, namun juga lebih susah untuk dinikmati. Hujan ternyata tidak menyurutkan niat para peserta untuk serius menggenjot sepedanya. Pada hari pertama tampak para peserta, diantaranya para peserta kelas eksekutif, yang tetap menjalani lomba dalam hujan. Sungguh menarik melihat ethusiasme mereka. Memang acara ini lebih layak disebut gathering para penikmat bersepeda nandjak daripada sekedar acara Race sepeda.

Dan keindahan race ini semakin menakjubkan dengan adanya seorang peserta berusia 6 tahun bernama Shahnaz, dengan sepeda mini singlespeed, dalam hujan menyelesaikan race ini sampai titik finish di Km Nol.


Ranca Upas to Kawah Putih; Survey Cikarangmtb Kolozal#8 ~ part3 of 3

Tulisan ini adalah lanjutan dari bagian kedua…

Tanjakan “Diagonal” seperti yang diceritakan Om Hanif sangatlah indah dan keren untuk dituliskan dan dibicarakan, namun sangatlah pedih untuk dijalani dan dikenang. Sepeda-sepeda sampai puluhan juta rupiah, berat sepeda dibawah 14kg, baju jersey keren para pesepedanya, backpack dari merk terkenal, tak ketinggalan sepatu lengkap dengan cleat, semuanya tidaklah terlalu berarti. Matador. Manggih tanjakan dorong… Terusterang saya merasa sedih dan terhina, namun tentusaja saya tidak akan meresiko kan diri mencoba dan ambruk dengan cleat gate/cleat injury terbaru. Tawakal saja dorong dorong bike, heartrate sih tidaklah jauh dari 140an bpm. Cuma kaki cenut-cenut, sepatu beberapa kali terpeleset karena batu batu lepas. Susahpayah kita menemukan jalur yang enak hanya untuk sekedar mendorong sepeda. Tim segera tercerai berai, dan hampir tidak ada suara apapun kecuali suara sepatu dan ban bertemu batu makadam. Krosak… krosak…

Bagian trek ini mengingatkan saya pada tanjakan-tanjakan di trek Cioray. Miring, hampir mustahil untuk dikendarai dengan sepeda. Lho? Hampir mustahil? Apa ada yang bisa? Jawabannya nanti kita cari dari orang-orang yang ngacung memiliki banyak masalah pribadi serta ingin menguji derajat sakit jiwa masing-masing. Nanti ya 19 November saya jawab apa ada yang bisa.

diagonal
[foto oleh antoix tapi pinjem kamera masbro yg sudah malas memotret]

Mengejutkan, tiba-tiba kita menemui sedikit jalan melandai. Rupanya setelah diagonal melewati pinggang dan dada, kita akhirnya sampai juga di ujung kepala dari punggungan ini. Fyuh!! Sambil menegak air, saya jadi mulai memperhatikan bahwa di sekitar kita samasekali sudah tak tampak pohon teh, namun kita berada di tengah hutan pohon kina dan pohon-pohon perindang lainnya. Mungkin sampai sekarang masih ngilu rekan-rekan yang kemarin lewat trek ini. Malah jadi ada pertanyaan dengan ekspresi wajah super heran, “… emangnya Om mau lewat situ lagi???…”

Datar sedikit bisa gowes dilanjutkan dengan tanjakan berganti-ganti. Lalu tiba-tiba mendatar jalannya (ajaib!!) dan benar saja disusul dengan berhenti nya Papa TB dan Om Eyang mendiskusikan trek. Wadoh. Alamat deh… Alamat Palsu…

Dimanaaa.. dimanaaa… dimanaaa….
*mbayangin Ayu ting ting

Wakakakaka…

Tahap selanjutnya adalah kita memutuskan memotong ke kanan, masuk ke rerimbunan belukar setinggi sekitar 2.5-3 meter. Pohon-pohon perindang kecil saja di kiri kanan jalan singletrak menanjak setapak. Acara tuntun dimulai lagi. Singletrack ini adalah jalan akses ke kebun paprika di tengahnya rupanya. Pohon mirip cabe dengan buah nya yang hijau dan besar-besar mengingatkan saya pada Pizza Hut. Kruyuk… kruyuk… jadi laper perut. Hah! Konsentrasi dorong dulu.

Setelah memasuki kebun paprika, maka kita mulai masuk ke area yang tanpa singletrack. Masing-masing mencari jalannya sendiri. Berusaha sekedar melewatkan sepeda mengatasi area ini. “Ada kebun teh di depan” kata Papa TB seperti seorang peramal… Melihat kondisinya seperti nanjak di foto-foto “Tipar, jalan yang hilang”, hanya ini semak-semaknya tinggi tinggi banget. Baru kemudian saya sadar MBahBro tampak kepayahan, terutama karena handlebar-nya yang lebar, yang nyangkut kesana kemari. Muka MbahBro sudah memelas sekali, cuma sinar matanya masih mengkilat-kilat kayak mau makan Gurame saus Tauco.

(diingatkan lagi, nama dan sebutan hanya fiksi saja…)

Akhrinya, tampaklah secercah kebun teh di depan… Alhamdulillah… lega nya serasa bertemu peradaban lagi. Tapi ternyata masalah hidup kita memang berat, kita masih harus naik ke atas lagi, membelah celah pohon-pohon teh yang sempit, hanya seperti jalan air saja, menuju ke atas… “…ada jalan di atas…” kata Papa TB lagi. Suara belio seperti campuran antara ramalan dan perintah serta harapan, saya sudah susah membedakan.

Dimanaaa.. dimanaaa… dimanaaa….
*mbayangin Ayu ting ting (lagi)

Menghadapi kejadian TTB-DDB-GGB ini mulai tampaklah darimana asal perguruan para pesepeda. Ada yang dari perguruan Taman Safari (sepeda didorong), lalu perguruan Nona (bukan ndorong sepeda malah motret), lalu perguruan Kopasuss (Sepeda dipanggul), dan tak lupa perguruan Tong Setan Tegaldanas (Sepeda diangkat jumping ban balakang digelindingkan di trek, sepeda didorong pake perut). Wah, segala jurus keluar, hanya untuk kembali mendapatkan jalan di perkebunan teh…

Fyuih!!!

Saat ketemu jalan makadam lagi, hati lega, langit pun mulai gelap
Masalah kehidupan kami berempat memang terbukti berat sekali…

Jalanan yang kami temukan adalah jalanan makadam, tidaklah mulus khas kebun teh, namun entah kenapa jalanan itu sore menjelang malam itu tampak baguuuuusss banget yah? Malam beneran menjelang, mulai didata logistik, siapa masih ada air, siapa masih ada roti, siapa masih ada biskuit, siapa bawa lampu, wah kejadian kaya gawat bener aja.

Setelah selonjoran melemaskan otot, memandang Situ Patengan di kejauhan dibawah sana, sayup-sayup terdengar suara gas menyembur dari sumur pengeboran di bawah sana. Entah kenapa feeling saya jadi seperti pas kita selesai menanjak di Gn. Padang dan dari ketinggian melihat kebawah ke arah situs gunung Padang. Mana jam nya mirip lagi, sekitar maghrib.

Setelah nyawa sudah terkumpul, kami pun mulai menyusuri jalan inspeksi kebun teh, kali ini cukup landai kok, tidak ada lagi tanjakan-tanjakan Ayu Ting Ting seperti di tengah kebun Kina. Gelap segera cepat sekali menyergap, tanpa kami sempat melihat dimanakah tujuan seputar puncak gunung, kawah Putih. Senangnya kami waktu bertemu bapak-bapak naik motor, lalu bertemu penjaga kebun dengan api unggun nya di sebelah trek. Serasa benar kembali ke peradaban yang rasanya setelah 1800mdpl tadi jauuuhhh banget dari jangkauan.

Jalanan gravel kadang digenjot dan kadang juga dituntun berjamaah. Tuntun dilakukan kembali karena ternyata peristiwa TTB-DDB-GGB tadi sangatlah menguras energi dan semangat. Fisik dan mental. Tak lama kami menjumpai di sebelah kiri trek, di bawah jalan yang kita lalui, ada kampung kecil berisi sekitar 20-an rumah, mungkin perkampungan pekerja perkebunan. Wah, ini kampung tanpa listrik, samasekali tidak tampak ada suara kehidupan dari bawah sana.

Jalanan gravel dan makadam masih kami lalui, dengan beberapa kali bertemu motor dari arah berlawanan. Beberapa motor berhenti dan bertanya, “Mau kemana??…”. Dorong di tanjakan, kadang kadang digenjot juga kalau masih mampu, akhirnya kami sampai juga di semacam titik tertinggi. Seputar trek sudah asli hutan saja, tidak ada lagi perkebunan atau perkampungan. Dari titik seperti di puncak bukit ini (diperkirakan 2200m dpl) maka kami turun dan menemui jalan berubah menjadi aspal!! Aspal mulus!! Cihuiyyy… hati berdegub kencang, lega campur girang bukan kepalang.

Meluncur turun, ditunggu tanjakan, lalu sampailah kita di semacam area parkir. Dengan gagah tampak penanda tempat ini “Kawah Putih”… Alhamdulillah… sampai !!! Suasana ceria dan lega segera menyebar ke seluruh tim.

Area itu sih sepi sekali, tanpa penghuni tanpa warung tanpa listrik tanpa cahaya. Hanya tampak semacam area parkir dan area berteduh. Seluruh anggota tim duduk selonjoran di aspal dan mulai ada yang merokok. Suasana canda tawa tiba-tiba hadir kembali secara instan. Cokelat dan biskuit pun segera beredar. Melongok jam tangan saya melihat jam 1830. Hampir 13 jam kami menjalani trip ini.

Sama seperti trip trip menanjak yang lain, seberapa tinggi pun gunung, seberapa panjang pun tanjakan, pasti ada juga yang namanya ujung tanjakan. Semua penderitaan dan kesulitan selama perjalanan kok ya hilang begitu saja dengan sampai di tempat yang dituju.

Setelah seremonial foto dan menengok kawah putih yang guelap, akhirnya kami pun berangkat turun… Ya, turun kembali ke Ranca Upas melewati jalur onroad. Jalur onroad kita turun ini adalah jalur yang biasa digunakan orang-orang naik mobil/motor untuk berkunjung ke Kawah Putih.

Hanya dua dari empat pesepeda dengan lampu. Satu headlamp satu handlebar lamp. Turun dari sekitar 2200 m ke 1500 mdpl ini kami jalani dalam sekitar 30-45 menit. Rasanya panjang banget, dan jelas pasti dingin sekali. Hanya saya yang bawa windbreaker, rekan-rekan lain pasti lah kedinginan banget di trek turunan yang curam berkelok kelok ini. Kami hanya 2-3 kali pedalling, malah lebih sering menguji rem karena medan nya memang cukup menantang. Apalagi ditambah gelap.

Akhirnya dengan lega dan hati bahagia kami kembali menemukan kendaraan yang parkir di Ranca Upas. Jam sekitar menjelang jam 8 malam. Rasa tidak percaya berhasil melalui perjalanan ini. Rasa percaya diri juga bercampur didalamnya, karena ternyata masih diberi kekuatan untuk bisa melewati trek seberat ini.

Alhamdulillah…

SELESAI

Tracklog bisa dilihat disini…
Foto-foto bisa dilihat disini..
Keterangan acara Kolozal#8 ada disini…

Laporan trip ini didukung oleh Bikewear…

logo bikewear


Ranca Upas to Kawah Putih; Survey Cikarangmtb Kolozal#8 ~ part1 of 3

Trip ini 15 Oktober 2011, sekitar sebulan sebelum Kolozal#8 19 Nov 2011
Member trip adalah empat orang: Om Hanif, Om Rudy, Om Ardian dan antoix.
Foto-foto dalam trip ini diambil oleh Om Rudy, Om Hanif, dan Om Sigit untuk cikarangmtb.

Setelah menikmati keindahan pagi itu, karena tim empat sepedah telah bersiap untuk start. Siapakah track leader tentu tidaklah perlu dipertanyakan, Om Hanif aka. Papa TB aka. Trekbuilder yang memimpin di depan. Perjalanan hari itu pun dimulai dengan mengitar sekeliling Ranca Upas (ketinggian sekitar 1600m dpl) kemudian masuk merambat ke kebun sayur menyisir punggungan yang terletak di sebelah kiri jalan masuk ke Ranca Upas. Kata-kata pertama Papa TB saya ingat banget, “Trek nya dimulai disekitar sini lah, coba kita cari jalannya saja…” halah…!!!

Tampak indah di sebelah kanan trek, semacam kolam/danau kecil di tengah kawasan bumi perkemahan ini. Sebenernya kalo liat pemandangan dan empuk nya tenda kok ya tampak lebih menarik kongkow dalam tenda yah?

kolam ranca upas
[foto karya om rudy untuk cikarangmtb]

Jalanan adalah singletrack yang meliuk liuk. Sedikit berdebu karena rupanya trek belum terlalu sering terkena hujan. Meliuk kanan kiri, sedikit bumbu batu makadam walaupun jarang, kami pun mendaki, menanjak sedikit demi sedikit. Singletrack heaven seperti ini memang selalu membuat kangen, apalagi dilakukan di tempat yang duingin begini, samasekali gak keringetan meskipun degub jantung menanjak mendekat melewati 170bpm. Tampak setelah melewati sebuah tanjakan panjang Papa TB dan Eyang berhenti di depan. Kita pun menunggu MasBro mendekat dan memperdengarkan lagu yang lagi top…

Kemanaaa… kemanaaa… kemana…?
Kuharus mencari kemanaaaa…
Kekasih setia…

Halah, alamat palsu deh, alias nyasar…!!
Acara balik kanan pun segera dilakukan. Tanjakan jadi turunan dan turunan berubah jadi tanjakan.

GUABROK!!! GUABROK!!!
Suara Kusen jati melibat turunan
Semakin kencang suaranya saat menyisir tanjakan. Kencang suara napas maksudnya.

Tapi alamat palsu kita ternyata membawa ke sebuah pemandangan indah kebun teh tersaji setelah tanjakan. Kebun teh tampak berjajar rapiii sekali, tidak seperti kebun teh di tempat lain. Heran ini perkebunan cenderung blok-blok nya rapi dan simetris…

Cerita yang lalu sampailah kita pada punggung sebuah bukit dan diberi pemandangan yang sangat AM. Turunan terjal jauh ke bawah dari semacam hutan pohon rasamala/daun merah ke arah perkebunan teh. Setelah sotoy dan terjengkang, akhirnya memilih untuk TTB di turunan. Fyuih…

Kesegaran perkebunan teh segera menyergap, namun di tengah nikmatnya udara segar kebun teh kita dihadapkan pada tanjakan panjang makadam dan miring bener. Susah payah hanya untuk menghindar dari kegiatan menuntun. Setelah dihibur jalan mendatar di perkebunan teh kita tiba tiba disuguhi tanjakan teknikal dan miring makadam. Paha menjerit, betis menangis, dada serasa meledak. Namun semua terlupakan oleh sebuah pemandangan luarbiasa di balik ujung tanjakan…

Di kejauhan tampaklah keindahan Situ Patengan. Danau di ketinggian 1500an mdpl. Sementara tampak segera dibawah jalan inspeksi kebun teh meliuk liuk menuju ke situ itu. Aduh. Pengen rasanya berlama lama disini, tapi dilema juga melihat landscape nya yang tak bosan bosan dilihat. Tampak anggota trip paling sepuh, yang bernama Eyang, segera gak sabar menyambar turunan panjang. Tak sampai lima menit tampaklah beliau dengan jersey CMTB hanyalah seujung titik dibawah sana merambat perlahan di tengah indahnya landscape.

Karakter kebun teh nya juga unik, tampak di beberapa area ada semacam ‘rock garden’. Rupanya daerah ini sudah dekat dengan letusan gunung sejak jaman baheula. Batu batu vulkanik sebesar mobil dan sebesar rumah tampak menyembul di tengah kebun teh, kadang tepat di sebelah trek. Terasa sekali bau magma-nya area ini, walau mungkin letusan sudah ribuan tahun yang lalu.

Melihat pemandangan ini saya kok jadi lupa ya tentang ‘Alamat Palsu’… hehe… sudah pasti kita menuju ke tempat yang sesuatu banget…

Menanggapi tentang cerita ini yang fiksi, memang cerita ini hanyalah fiksi semata, namun semua cerita fiksi pada dasarnya diilhami oleh pengalaman nyata dari penulisnya kok. Jadi pengalaman nyata penulis, lalu dibumbui dan diedit, agar menyampaikan pesan bahwa penulisnya keren, gagah, tak pernah kalah, tak pernah lelah. Kan keren, buat pencitraan diri penulis. Nah kan? Nah, itu yang saya maksud fiksi.

Selain pemandangan kebun teh yang dilengkapi dengan ‘ornamen’ batu batu besar, kawasan kebun teh ini juga tampak sangat amat rapi jali. Potongan-potongan teh nya tampak lebih halus, sehingga tampak dari atas kotak kotak area kebun teh ini seperti potongan-potongan tahu. Pernah lihat gak tahu besar di nampan sebelum dipotong-potong? Potonganya tampak rapi dan simetris. Unik sekali.

Lanjut cerita menjadi melahap turunan poanjaaang makadam. Di beberapa tempat turunan sangat amatlah curam. Hal ini membuat skill kita meng handle rem dan juga mengendalikan sepeda jadi sangat diuji. Kemiringan turunan dan makadamnya mengingatkan pada turunan trek rindualam menjelang paralayang atau turunan-turunan teknikal di trek Pondok Pemburu.

Gowes berlanjut ke area datar dan bertemulah kita dengan jalan aspal mulus menuju situ patengan. Acara selanjutnya adalah makan di warung Situ Patengan. Herannya saat makan di warung ini hampir semua peserta merasa ‘lupa’ bahwa tadi pagi sudah sarapan (nasi goreng, telor ceplok, mie goreng, indomie rebus, bandrek, bala bala, pisang goreng… etc). List sepanjang itu kok ya bisa lupa.

Makan apa saja rasanya enak, keindahan Situ Patengan siang itu membuat makan kita pun makin nikmat. Angin juga semilir cenderung kencang. Sementara saya menikmati kaki selonjoran, dipijet-pijet, punggung diistirahatkan, dan yang terpenting dada ditenangkan pada <100bpm, kita makan enak dulu; sate kambing plus nasi tak sampai lima menit lenyap dari pandangan mata. Glk glk glk… sruputan teh walini juga membuat dada enak sekali.

Ada satu sih yang bikin gak enak, tampak di kejauhan mata, di belakang nun jauh disana, Gunung Patuha dengan Kawah Putih-nya. Tampak agung sekali di ketinggian. Indah dan tidak angkuh sih, tapi sangat berwibawa. Apa iya ya kita akan sampai ke tujuan yang diharapkan? Kok tampaknya tinggi banget dan waktu pun tinggal setengah hari? Mata mengantuk tidak hanya karena perut kenyang tapi juga karena semalam cuma tidur dua jam.

Tak berapa lama kami pun segera beranjak. Trek mengitari Situ Patengan jalan kembali makadam inspeksi kebun teh. Disini kita juga temui ternyata teknik memotong daun teh yang diterapkan sedikit berbeda dengan kebun yang lain. Daun teh bukan dipetik tapi digunting dengan gunting tangan khusus. Kebayang kecepatan petik nya bakal bertambah, namun juga mengakibatkan penampakan potongan kebun teh menjadi berbeda, menjadi tampak lebih rata dan halus, seperti tahu.

situ patengan
[foto karya om rudy untuk cikarangmtb]

Setelah mengitar sempat ada foto dengan latarbelakang danau Situ Patengan, kita segera beranjak naik, nanjak, naik, nanjak, hosh hosh hosh. Yang menarik adalah hanya di beberapa area saja tanjakan tampak sangat kejam, tempat yang lain cukup memanjakan jantung dan tidaklah perlu bekerja sampai maksimal. Lalu sampailah kita di suatu pertigaan. Untuk selanjutnya pertigaan legendaris ini kita namain pertigaan 'chicken way dan bebek way'. Papa TB yang paham penjelasannya yang jelas kita ambil jalan ke kanan, yang tampak lebih landai daripada jalan ke kiri yang tampak sangat miring.

Rasanya saya tidak perlu lagi menjelaskan pemandangan kebun teh nya. Dimanapun kebun teh tidak ada yang tidak indah dan tidak dingin.Yang jelas ini gowes tanpa keringat.

bersambung ke bagian kedua…

Laporan trip ini didukung oleh Bikewear…

logo bikewear


Uphill Trip: Jemawi (Sragen) – Candi Cetha (Karanganyar)

==1==

Trip nanjak nya sebenarnya singkat, jam 11 start jam 2 finish… tapi menuju titik start perlu mencari-cari sejauh 60km dari Solo… Lokasi titik start namanya Jemawi. Ini adalah kota kecamatan, lereng Gn Lawu sisi Barat Laut. Jemawi dari arah sragen sekitar 25km.

Si macan menjelang mencapai Jemawi. Semalamnya baru jam 2 malam sampai di Jebres Solo, masih ngantuk brkt jam 9an dari Jebres.

Persawahan di sekitar titik start. Sudah nanjak dong… tapi masih sopan buat manasin paha. Vegetasi masih padi. Poanass…

Ini adalah gerbang pertama ke arah kawasan wisata Ceto Sukuh

==2==

Tas berisi perbekalan. Dokumentasi aja, kali ini bawa teh kotak, peta, p3k, tools, windbreaker, ban cadangan, kamera, cemilan (roti dan ampyang/gula-kacang), duit (kali ini gak kelupaan)

Saat mulai masuk ke kawasan perkebunan teh, mulai sering tak sopan tanjakannya, semakin sering pitstop. Asli, kali ini saya manjakan tubuh dengan banyak pitstop, maklum kurang tidur dan masih akan menyetir panjang…

Pemandangan lembah2 di sebelah trek mulai mengejutkan dan membuat lebih sering lagi berhenti, motret. Obyek foto ya sepeda dan alam saja. Rasanya hanya 20-30% keindahan alam bisa terekam di kamera kali ini… Terlalu indah untuk bisa diambil ke dalam lembar dua dimensi…

Sebuah tanjakan miring yang membuat saya berhenti dulu untuk ambil napas sebelum mulai. Masih kaget liat tanjakan model gini, padahal berikutnya bakal bejibun model begini. Mobil dan motor pasti masuk gigi satu dulu sebelum menuruni tanjakan ini, memanfaatkan engine brake. Naik-nya? sudah pasti mereka mengerahkan semua kekuatan gigi terkecil…

Pemandangan di titik lebih tinggi makin membuat geleng-geleng kepala. Makin sering berhenti motret. Tapi ampun poanas banget matahari serasa ada 11. Melihat keindahannya, dan kecewa liat yg bisa tertankap di view finder kamera, saya jadi ingat lensa wide 9mm yg kemarin liat di pameran yah? wkwkwk

==3==

Kali ini make jersey cikarangmtb, biar yakin bakal keliatan dari jarak 5km wkwkwkw…

Foto jalan (nandjak berliku) masih panjang nak…. Gunung tersaput sedikit kabut di kejauhan adalah letak candi ceto dilihat dari bawah ini. Melihat ke arah posisi titik tujuan seperti mendongak… miring betuuuulll…. Feeling nya sama dengan di Dieng, menara pandang setelah kejajar terlihat tapi miring dan rasanya gak sampe sampe (3-6km/jam sih)

Foto -foto berikut diberi keindahan menengok sebuah Pura di samping kiri jalan…

Pemandangan ke arah jalan yang barusaja ditempuh dan tempat sepeda diparkir (sepeda tampak kecil di pojok kiri bawah) dari arah Pura… disinilah saya baru ngeh benar bahwa trip ini akan ketemu view yg sangat sangat istimewa…

==4==

Berikut adalah sebuah gerbang, tak terlalu jelas gerbang apa. Dari gerbang ini tampak jelas terlihat kompleks Candi Ceto nun jauh diatas sana ditopang oleh sebuah tebing batu. Di tebing ini ada dua air terjun yang hanya mengalir kalau hujan saja kata ibu penunggu warung.

Akhirnya berhenti di warung dan minum teh. Untung banget pakai jersey lengan panjang, cuaca cerah yang tanpa awan membuat matahari menyengat keras. Tampak teh dipetik dan dikeringkan secara manual oleh ibu penunggu warung. Segeeeerrr sekali teh yang sangat alami diminum di tengah kebun nya ini. Alhamdulillah.

Seekor anjing yang mendekat ke ban depan. Mungkin dia bisa mencium bau kalo ban ini pernah dikejar sama teman2nya yg di Cikarang… wkwkw..

==5==

Jalan yang semakin miring, pemandangan yang semakin indah, semakin ingat saya sama lensa 9mm yang ditawarkan di pameran, saya harganya sama dengan frame Giant… Setelah melihat fotonya kembali baru sadar kalo saya semakin sering berhenti.

Setelah melewati pertigaan, pertemuan antara jalan dari Karanganyar dan dari Sragen, lalu bertemu naik lagi ke arah candi Ceto. Ini adalah berfoto di tempat retribusi. Setiap motor ditarik 1000rupiah, sepeda grattisss.. wkwkwk..

Tak jauh dari pos retribusi, tanjakan tak lagi sopan tak lagi kasihan sama dengkul dan paha. Siapa coba yang suruh genjot uphill kesini? Lihat, itu mobil saja kepanasan dan mogok di tanjakan.
Latarbelakang foto adalah wilayah Solo dan sekitarnya. Ada awan2 yang sekilas tampak sejajar dengan tempat kita mengambil gambar, inikah yang dinamakan “Negeri di Awan..???”

NO MERCY !!!
Tidak ada belaskasihan dari trek kepada saya. Meskipun semua mobil dan motor mengerang-erang dengan gigi satu menyalip, sambil menebarkan aroma kopling terbakar, trek tetap saja tidak kasihan pada saya yang genjot terengah-engah dan mulai halusinasi karena panas matahari yang
amat menyengat. Trek tetap tidak peduli, tetap memberikan kekejaman kemiringan dan sambil menampakkan keindahan cakrawala dari Sragen raya sampai Solo raya di bawah sana…

==6==

Foto berikut saya ambil di tempat paling berkesan dari trip ini. Saat kelelahan fisik yang memuncak, kepenasaran dengan seperti apa Candi nya, dan ditambah pemandangan yang tak terlukis dengan kata dan tak dapat semuanya terekam dengan kamera… saya menemukan diri saya kebingungan dimanakah *flat* itu sebenarnya? Setelah gowes miring sepanjang hari merasakan bahwa nandjak adalah *flat* lalu menjumpai cakrawala yang memperlihatkan apa arti sebenarnya flat. Ini perasaan yg sangat susah dituliskan. Yang jelas saya jadi paham apa yang dimaksud MBah Rektor 1PDN dengan ‘the world is flat’. Disini. Nun jauh di lereng Lawu…

Kemudian ini adalah foto tanjakan terakhir, sepanjang sekitar 1km lurus sampai ke gerbang undak undakan Candi Ceto. Saya sampai lupa berapa kali saya berhenti di jalan yang hanya 1km-an ini.

Dan akhirnya sampaiii juga…

Hanya boleh sampai disinilah sepeda… Bagian kanan bawah tampak patung yang tepat di tengah jalan gerbang candi, sangat mistis, sangat unik dan aneh posisinya maupun ekspresi patungnya…

Inilah puncak tertinggi sepeda saya bisa raih dalam perjalanan ini… fyuh!!

Tracklog lengkap ada di http://www.bikemap.net/route/819051

Profil ketinggian


Uphill Taman Dayu, Pandaan

Pasuruan, 13 June 2010

Pagi ini sudah saya niatkan untuk genjot. Dukalara Eyang Dieng yang dua minggu gak digowes harus saya akhiri.. Kebetulan memang weekend ini agak lowong. Si Macan Panther berisi Eyang Dieng sudah meluncur jam 0645, feeling saya membawa ke arah Pandaan, akhirnya 20 menit kemudian sudah parkir di area foodcourt Taman Dayu.

Dengan sistem SKSD (sok kenal sok deket) saya mendekat ke sebuah rombongan, dengan dua mobil, satu mobil pickup berisi 6 sepeda dan satu mobil isi orangnya. Ternyata dari Surabya mereka datang, mau ‘naik ke atas’ katanya… Wah! Cocok!
Gerombolan ini, kalau melihat ban sepedanya, wah biasa kota-kota. Slick 80% dari member. Baru kemudian saya tahu dari salah satu dedengkotnya: Pak Anton, kalau mereka memang biasa kota-kota dan baru mulai genjot keluar kota untuk refreshing…

Uphill dimulai. Melewati jalan utama The Taman Dayu http://www.thetamandayu.com/ yang feeling nya mirip uphill di sentul city. Tapi ini jalannya lebih sempit dan pohon-pohonnya lebih teduh dan rindang. Huenak tenan. Jalanan sendiri penuh dengan warga kota Pandaan yang sedang bersantai, jalan pagi, mejeng, olahraga pagi dibawah keteduhan pepohonan dan jalan nanjak ini.

Saya start mulai dari gerombolan tengah. 6 pesepeda surabaya ini plus saya jadi 7 orang. Satu per satu para pesepeda menyalip saya. Memang terasa sekali kalau semakin jarang bersepeda, napas serasa pendek, otot2 kaki rasanya seperti berat sekali dikayuh. Saya benar-benar kehilangan irama. Jalan nanjak, apalagi teduh plus pemandangan beraneka ragam manusia dan indah alam dikejauhan gini biasanya menyemangati saya, tapi tidak kali ini… Akhirnya saya tercecer di belakang. Waktu pitstop di gerbang utama masuk ke arah Club House Taman Dayu, saya kira saya ada di paling belakang. Rupanya masih ada satu rekan di belakang saya.

Disini saya mulai keluarkan kamera…

Pergaulan dan obrolan dengan teman-teman baru saya sudah mulai cair. Saya go with the flow saja di tengah bapak2 45-50 tahun-an ini. Jadi rasa muda kembali. Trek selanjutnya adalah masih dibawah rimbun pohon, jalan mulus yang lurus dan menanjak serta pemandangan padang golf hanya 20 meter sebelah kiri jalan. Mantap. This is better than Sentul City!!

Kita pistop kedua di puncak sebuah bukit di perempatan besar.. foto2 lagi..
Tampak di depan, lereng gunung Arjuno tampak gagah. Di ujung kejauhan tampak ada kepulan asap dari kawah mirip seperti Papandayan. Dan ternyata ada jalan ke kawah itu dari arah Pacet! Weh seru nih. Di kiri jalan hijau dan rata-nya padang golf Jack Nicklaus The Taman Dayu Club. Pikiran langsung refresh dan kepala langsung enteng…

Om TJ khusus… Saya menulis tentang Leonis nih!
Pak Anton, pesepeda paling berpengalaman di grup ini (bersepeda gunung di sekitar pandaan sejak 1994). Beliau mengendarai Leonis Hitam. Di perempatan saat pitstop ini saya juga bertemu leonis yang lain. Leonis roadbike warna merah…

Wah, hari ini banyak ketemu Leonis!

Saat pitstop di perempatan besar, saya sudah tidak lagi di paling belakang. Pelan-pelan saya mulai temukan ritme genjot saya. Saya berusaha menjalankan pesan utama yang saya dapat dari kuliah, bahwa kalau nanjak jalan mulus begini crank depan jangan pernah samapai menyentuh yang terkecil, seberat-beratnya diusahakan dipertahankan di crank nomor dua. Syukurlah, saya mulai bisa tune in dengan irama genjot, tanjakan makin aduhai, meliuk di tengah rimbunnya pepohonan besar. Rupanya pengelola sukses menjaga agar pohon-pohon besar yang ada sebelum kompleks perumahan ini dibuat tetap menjadi bagian dari lingkungan baru perumahan. Jalan meliuk menanjak, bagai gadis tidur di tengah rerumputan. Wah, sexy banget jalannya. Juga adem…

Akhirnya kita melewati ‘The Jack Nicklaus Club House’, ini 6km dari gerbang taman dayu tempat kita start. Disini kita stop lagi. Keringat bercucuran tapi udara sejuk tenan. Di depan kita tampak gerbang ‘The Pines’. Jalan masuk kesana tampak telah menyempit, hanya selebar satu setengah mobil, dan aspal rusak. Tim Surabaya ini, yang 80% pake ban slick khas kota-kota memilih mbelok kekiri masuk kampung, lalu tembus ke jalan mulus dan nanjak lagi. Aseeekkk…

Jalan mulus menanjak ini mengingatkan saya pada perjalan dengan kendaraan berpolusi ke Taman Safari Indonesia 2 Prigen. Meniti punggung gunung Arjuno, naik terus. Disini saya sudah ‘in’. Saya temukan irama genjot saya dan mulai bisa menikmati setiap kayuhan tanpa dada panas dan paha berontak lagi. Mungkin badan dan otot juga telah lemas dan pemanasan sudah cukup.

Di sebelah kanan tampak jelas pemandangan gunung arjuno di atas, dan tampak juga jalan lanjutan dari taman dayu kalau kita masuk ke ‘The Pines’. Waduh asli saya penasaran banget sebenernya. Jalan aspal rusak nanjak tadi seperti melambai2 mengundang. Apalagi sambil genjot Pak Anton menceritakan deskripsi trek offroad di dalam The Pines. Kata beliau ada trek cross country 4km yang pernah dipakai untuk lomba, dengan singletrack dengan tebing dan jurang, waduh, kok saya jadi ingat majalah MBR di rumah. Kata beliau di The Pines juga ada rumah pohon tempat kita bisa bersantai di semilir pohon pinus lereng Gn Arjuno. ADUH!! NGILER!!

Uphill jalan mulus kali ini mirip jalan di gadog-rindualam tapi sebelum meliuk2 di kebun teh. Jadi lurussss.. dan nanjak. Kemiringan tanjakan berubah-ubah, ditutup dengan kemiringan audzubillah dan panjang, sebuah masjid di perempatan, dan kita pun beristirahat lagi disitu.

Di peristirahatan perempatan masjid inilah saya yakin kalau jalan yang kita lalui bukan jalan ke Taman Safari Indonesia 2, tampaknya sejajar tapi mendaki punggung gunung yang lain. Disini obrolan antara anggota tim semakin panjang dan ramai. Saya sudah mulai bisa menimpali pembicaraan…hehehe… Salah satu topik yang hangat adalah hilangnya penyakit pinggang, panggul dari para pesepeda karena rutin bersepeda. Wah seru juga. Obrolan yang cukup ramai juga adalah jalan mana yang akan kita tempuh selanjutnya dari perempatan ini?

Balik kanan? Cukup banyak peminatnya, karena mulai kehabisan energi
Lurus? Tampak nanjak miring dan jalan memburuk
Kanan? Katanya ke Villa Haurtensia
Kiri? Bisa nyambung ke Taman Safari Indonesia2

Saya iktu dengar saja, akhirnya dipilih ke kanan, tapi dengan kondisi, kalau merasa habis balik kanan dan berkumpul kembali di perempatan ini.

Setelah melambung sedikit kekanan, jalan segera tak sopan belok kekiri dan NANJAAAAAAKKKKK…
Sambut menyambut tanjakan lebih kejam dari sebelumnya… lebih miring, lebih jarang ada bonus agak landai. Jangan berharap landai, agak landai saat kemiringan berkurang pun sudah bonus. Terusterang mengingatkan saya pada tanjakan hari kedua ke Galunggung, miring dan tanpa bonus, sambut menyambut tak ada hentinya.

Kali ini saya benar-benar dapatkan irama saya. Huenak banget, meskipun di beberapa tanjakan berat dan miring terpaksa berpindah ke gigi kecil depan. Saya berhenti juga akhirnya karena saya tengok ke belakang sudah tidak tampak lagi pesepeda lain. Saya minum pocari botol kecil, langsung tenggak habis. Baru sekitar 10 menit kemudian muncul rekan-rekan yang lain.

Saya lanjutkan genjot setelah rekan-rekan mendekat. Dan akhirnya kemiringan tanjakan ini menjadi semakin kejam dan kejam. Untung trek masih dilindungi pohon rindang di kiri kanan jalan. Benar-benar menguras tenaga dan semangat. Akhirnya saya sampai juga di gerbang sebuah kompleks perumahan-villa. Haurtensia (moga2 bener spelling-nya).

Fyuh!

Setelah 15 menit di titik finish akhirnya turun kembali ke Taman Dayu. Kali ini ambil jalan lain bukan jalan dalam kompleks taman dayu seperti saat uphill tadi. Kita lewat jalan desa yang mulus. Sebelah kiri jalan adalah sungai yang dalaaammm sekali jurang-nya. Sempat ambil foto di jembatan bambu yang dibangun diatas sungai yang sangat salam jurangnya ini..

Finish di Taman dayu 1015. Tal trip hanya sekitar 20-22km. Sangat cukup untuk trip pertama beneran uphill setelah berpindah ke Bangil…

Laporan trip ini didukung oleh Bikewear…

logo bikewear


Kiara Payung – Batukuda bersama Goweser Bandung Timur #1

Perjalanan kali ini diputuskan dan direncanakan dengan tergesa. Memutuskan ikutan sehari sebelumnya, teng-go saja langsung berangkat yang penting gowes. Sudah kangen udara dingin Bandung. Berangkat dari Cikarang Minggu pagi berdua bersama Kang Yadi dari Cikarang.

Novel kali ini akan saya coba buat jadi ‘rebat-cekap’, artinya singkat padat… Hehe… moga2 bisa, soalnya udah biasa panjang dan geuleuh…

Jam 0410 0415 0420, jam weker hape saya berbunyi tiga kali. Tiga kali matikan tombol, tiga kali dilanjutkan tidurnya. Setelah jumat malam belajar sampai jam 3 pagi lalu loading sepeda Om Yadi jam 9 malam, akhirnya saya putuskan buat ganti ban dulu. Dari pengalaman di Galunggung, ternyata di turunan, menggunakan ban 1.8 dan 1.9 bukanlah keputusan yang membuat enak mengendalikan sepeda di turunan. Meskipun musim hujan belum lewat, saya putuskan melepas Medusa 1.8 di blakang lalu racing ralph di depan dan mengganti dengan Panaracer Fire XC PRO. Ban 2.1 dengan kembang besar, semoga membatu saya jalan pelan di turunan basah.

Start dari Cikarang

Jam 0455 menyamper Om Yadi yang sudah menunggu di pinggir jalan. Sorry pisan Kang, kacau nih jadwal bangun gara-gara ganti ban dan loading siap siap ampe jam 12 malam. Ngobrol sana sini tak terasa 0620 kita sudah mendarat di rumah Om Indra di dekat Cibiru, Bandung Timur.

Jalan raya utama dari Cibiru ke arah Sumedang ini ternyata ‘hidup’ banget oleh kegiatan bersepeda. Sambil menunggu rekan lain yang berangkat, gak henti-hentinya kita melihat rombongan demi rombongan pesepeda, baik mtb, road, hybrid, keranjang olahraga pagi. Amazing melihat sebegitu banyak sepeda lalu lalang tanpa henti. Tak terasa terkumpullah 40+ para peserta gathering GBT (Goweser Bandung Timur), lengkap dengan jersey GBT MTB-nya. Tampak juga teman-teman dari Terjal (Telusur Jalur Liar), wah, akan terlaksana salah satu mimpi saya hari ini, genjot bareng rekan-rekan Terjal.

Grup segera berangkat dan berkumpul lagi di sebelah kampus IPDN Jatinangor yang menghebohkan itu.

Nanjak dr samping kampus IPDN

Regrup segera dihitung dan berangkatlah rombongan ini melewati jalan aspal sebelah kampus IPDN. Saya sempat moto sepeda di depan kampus IPDN. Tanjakan dari IPDN ke arah bumi perkemahan Kiara Payung ini jalan aspal cukup mulus, hanya beberapa titik saja rusak, naik-manja penuh kejutan. Seputaran kampus IPDN rupanya memang masih tanah milik IPDN dan ditanami jagung. Rapiiiii sekali mirip kebun jagung yang kita lihat di film2 di luar negeri.

Sempat lihat Om Yadi sekilas, namun segera beliau melesat di depan, gowes nanjak masih sempat sambil becanda basa sunda dengan rekan-rekan Terjal. Nah, itu baru ketemu teman yang tepat… hehehe….

Teringat kembali genjot Batukuda yang lalu bersama Om Sigit Bikewear. Waktu itu kita NII di lereng Manglayang, hampir putus asa karena hanya ketemu rumput dan rumput dan poho, akhirnya mendapat anugerah ketemu Om Dadan dari kelompok Ngaprax Cileunyi. Mantap waktu itu kami bersepeda masuk ke singletrack di dalam kebun jagung itu. Meliuk liuk menembus jalanan selebar handlebar di dalam kebun jagung.

Tak lama habis juga ini kebun jagung dan mulailah masuk ke kompleks Perkemahan Kiara Payung. Bertemu dengan banyak sekali pesepeda. Akhirnya tanjakan ini ketemu titik kumpul berikutnya, di deretan warung dengan cantelan sepeda sudah siap didepan warung. Centelan sepeda seperti di AA Bike tapi ada panjaaaannggg banget. Semua penuh sepeda. Perkiraan saya pagi itu ada mungkin 100 sepeda kumpul di Kiara Payung.

Menyenangkan sekali melihat sebegitu banyak sepeda. Karena jalan ke Kiara Payung masih tergolong aspal mulus, jenis sepeda pun berbagai macam. Seperti ada acara khusus saja, jumlah pesepeda bisa sebegitu banyaknya di satu tempat. Adrenalin berdesir, meskipun saya segera mampir ke warung buat minum teh panas, beli air dan makan sedapatnya. Belum sarapan euy… Saya lihat om Yadi dan Om Didik Pjtv juga makan batagor dengan lahap.

Gubrak !!!

Sangat menyenangkan berkumpul bersama hampir ratusan pesepeda begini. Disini saya akhirnya bertemu juga dengan rekan Dadan dari Ngaprax yang pernah membawa saya dan Om Sigit ke singletrack heaven dari Batukuda ke Kiara Payung. Saya juga coba mendekat dan ngobrol dengan teman Terjal. Haduh! Nyarios Sunda euy… mampus saya cengar cengir doang.

Setelah sesi fotografi grup puluhan orang pakai jersey seragam GBT MTB (huhuhuhu… jadi ingat cikarangmtb blom punya foto keluarga) akhirnya perjalanan sebenarnya dimulai. Nanjak kita masuk ke Kampung Cikoneng. Ini jalannya berbeda dari yang saya dan Om Sigit dilewatkan oleh Kang Dadan dulu.

Donhill agak mengerikan ke sebuah lembah. Tampak di seberang segerombolan orang sedang dorong sepeda nanjak miring jalan kampung sempit. Haduh… Dari start tadi kamera saya selalu kalungkan di depan dada. Lama-lama terbiasa juga. Nah saat antri dorong sepeda keatas inilah peristiwa kepeleset itu terjadi. GUBRAK !!! Sepatu saya yang hard compound slip dengan sukses di permukaan jalan semen yang agak basah dan sedikit berlumut. Kamera dengan telak tertimpa tubuh saya. Dada langsung sakit sekali. Kata pertama yang saya dengar dari Om Indra, “Haduh, sayang kameranya euy…” Ampuuuunnnn… saya tidak dikasihani samasekali, langsung kepikiran kamera duluan.

Tanjakan miring hampir 45 derajat ini terus menerus menunggu. Sepatu mtb saya memang tidak cocok di medan semen begini. Jadinya malah kalau ada space-nya mending nginjak rumput atau tanah/lumpur di kanan kiri trek. Akhirnya kita masuk juga ke area kebun, lalu ke hutan pinus/cemara…

bersambung ke bagian berikutnya…


Galunggung Trip Day#1 Uphill to Talaga Bodas part2

ini bagian kedua dari tulisan sebelumnya…

7@ Selepas Makan Siang

Rasanya malas sekali untuk gowes lagi, setelah perut kenyang, rebahan di atas batu split pun rasanya huenak. Saya lihat beberapa rekan benar-benar tertidur sejenak saat rebahan diatas batu split ini. Luarbiasa. Kalo hari biasa mungkin sudah malas kita, tapi perut kenyang, badan lelah, plus udara dingin yang bersahabat, menyebabkan kita serasa dibuai nina bobok.

Waduh! Gawat kalo badan keburu dingin, nanti bisa berat lagi pas mulai genjot. Akhirnya dengan sedikit terpaksa, kitapun saling menyemangati untuk berangakt lagi.

Medan berikutnya makin jelas tampak kalau hutan di sekeliling trek adalah hutan alami. Jenis pepohonannya bermacam-macam. Meskipun secara umum trek terus menanjak, tapi ada beberapa bagian kita diberi napas dengan sedikit rolling, sedikit banyak ada bonus laah..

Tak sampai 15 menit dari start setelah makan, setelah didera tanjakan panjang gravel-makadam kita didera hujan. Ini untuk pertama kalinya hujan turun sejak start gowes. Tampak terlihat ada satu lagi sumur pengeboran di sebelah kanan track. Entah ini sumur ke berapa yang kita temui di jalan. Kata Trackbuilder sih itu sumur geothermal. Rekan-rekan segera berhenti dan mengeluarkan jas hujan/jaket. Sempat saya ambil shot terakhir sebelum saya masukkan kamera ke tas. Setelah sejak start kamera selalu gelantungan di leher, akhirnya dia menempati tempat yg lebih layak. Takut kedinginan, segera mulai genjot lagi. Om Hanif sudah memberi ‘clue’ bahwa akan terjadi sebuah tanjakan yang cukup miring di depan.

Saya tepat di depan Om Acu, trek semakin menyempit. Kanan kiri banyak rerumputan dan pepohonan yang lebih mendekat dibandingkan sebelum bertemu sumur eksplorasi. Badan trek campuran makadam dan gravel juga semakin kasar, menurut saya, semakin asyik digowes, karena masih sangat gowesable. Kita agak speedy, Om Acu sambil teriak, “… enak Om… irama gowesnya dapat nih…”. Dalam hati saya, “Sialan, jadi musti speedy terus deh ngimbangi anggota termuda kita ini, mana tujuan masih jauh…” Hehehe…

Kabut tipis bergantian dengan hujan ringan terus menerus. Akhirnya kita melihat di perbukitan depan tampak terhampar perkebunan sayur. Wah, masuk ke kehidupan manusia lagi setelah hampir seharian ketemu hutan terus, regrup di sebuah awal turunan. Turunan yang saya yakini adalah awal tanjakan maut yg Om Hanif sudah ceritakan.

8@ Tanjakan Batu plus Dua Pertigaan

Intip novel lanjutan dari teman-teman, saya memang sengaja memisahkan bagian paling favorit ini di khusus satu bab tertentu hehehe… Padahal genjotnya *gak jauh*.

Regrup foto dan tentusaja hahahihi sepuasnya untuk saling menyemangati. Kita masih berdiri di tengah kabut. Hanya kamera Om Stef yang jeprat jepret tetap beraksi. Ini pitstop agak lama buat terkumpul kembali, ternyata Om Haris perlu balik ke tempat makan siang karena HP tertinggal.

Sampai sekarang saya masih heran, ini tim kok kagak ada matinya. Udah didera segala macam tanjakan dan medan berat serta panjang kok seluruh tim masih saja cengar cengir, ejek mengejek, setiap diajak foto ceria terus. Semua lho! Pokoknya kekuatan fisik, dan terutama, kekuatan mental tim ini memang luarbiasa!! Itu rupanya dipahami oleh trek (halah!). Segera dua-tiga bagian kedepan adalah bagian paling berat dari trip ini. walaupun kata Om Qodrat “tinggal 400m naik lagi dari 1300m ke 1700m dpl”.

Segera setelah turun, saya pilih paling belakang, terlihat dengan jelas jalan menuruni sebuah lembah lalu meliuk menukik menaiki sebuah bukit. Dahsyat !! Terusterang rasa ‘jiper’ yang muncul dan membuat bulu kuduk saya berdiri membuat saya menekan rem dan mengambil kamera meskipun gerimis. “Ini foto harus diambil !!” kata saya. Saya amati rekan-rekan satu persatu naik dari dasar lembah melewati sebuah trek campuran antara halus dan batu tampak di kejauhan. Baru kemudian saya tahu bahwa trek bercambur batu dan aspal serta beton.

Tampak satu persatu teman-teman segera berhenti di titik-titik tertentu. Jalanan macet karena satu persatu gerombolan berhenti. Segera saya tetapkan hati, masukkan lagi kamera ke backpack, dan mulai genjot slowly turun sebelum berusaha sekuat saya bisa untuk terus genjot naik. Akhirnya trip juga setelah kemiringan dan trek batu-batu lepas membawa sepeda keluar trek kearah kiri. Ampuuuuuunnnnn… ini tanjakan indah banget!! Susah saya bayangkan truk-truk engkel supply ke sumur pertamina itu melewati jalan ini. Gimana caranya ya mereka? Foto-foto dari kamera Om Steph menjelaskan dengan lebih baik bagian ini.

Dengan ikhlas sepeda sedikit saya dorong untuk mendapatkan permukaan yang memungkinkan tambah momentum lagi untuk mulai genjot. Disini saya segera memutuskan dalam hati, “Ini trek BENGIS !!”.

Tak Berapa lama gowes, kita lalu berhenti lagi di sebuah pertigaan. Aliran air kencang sekali terdengar. Air di bidon saya sudah tinggal dua teguk. Saya perhatikan juga rekan-rekan sudah mulai kehabisan air minum sejak makan siang. Kita berhenti di pertigaan ini. Berhasil isi dua bidon penuh dengan air, Pak Presiden melakukan kegiatan rutin beliau menjelang 25km tercapai, tapi heran, tidak tercium bau-bau aneh??

Disini saya bilang ke rekan-rekan, “Ibarat wanita, trek ini cantik tapi Bengis dan Kejam !!” Om AN tertawa terbahak-bahak dengan bilang kalau “Tumben pakai perumpamaannya Wanita…” Hehehe.. iya juga.

Tampak di kejauhan kota Garut. Ini lagi pertigaan yang kalau tersesat kita akan terbawa menuruni Galunggung ke Garut, bukan Tasikmalaya. Om Hanif cek peta dan GPS meyakinkan arah selanjutnya. Dalam 10 menit pemandangan ke kota Garut segera hilang tertutup kabut yang mulai naik. Kita semua tak ada yang menyangka bahwa kita akan turun ke arah Garut malamnya nanti. Segera beberapa butir gula jawa, soyjoy, silver queen dan segala camilan keluar dari kantong punggung.

Tak lama kita gowes lagi dan bertemu pertigaan yang lain. Di pertigaan ini tampak jelas ada sign mau pilih mana, Talaga Bodas? Karaha (arah start)? atau Garut? Hampir semua orang request untuk difoto disini. Kebetulan juga kabut tebal menerpa kita semua, membuat tempat yang sudah dingin ini menjadi semakin dingin dan redup. Lebih heran lagi, meskipun dingin, kehujanan, paha dan betis penuh geliga, baju basah, badan lelah… teteeeeppp… aja tim cerah ceria!! Lihat ada di foto2 terlampir.

Bagaimana kelanjutan gowes jalan makadam menembus kabut dan hujan? Menuju 1700m dpl? (Sebagai perbadingan, Puncak Pass 1400m dpl).

9@ Talaga Bodas !!!

Ini berat. Kondisi jalan semakin parah. Batu-batu makadam semakin banyak menonjol nonjol diantara trek. Rerimbunan tanaman di sekitar trek hanya menyisakan ruang yang cukup untuk handlebar kita lebih sedikit. Kadang tanaman tampak menutup jalanan dan terpaksa menggores muka kita.

Cuaca berganti terus menerus antara hujan dan tidak, kabut berganti antara tebal dan tipis. Dingin? Jelas! Terutama kalau berhenti. Beberapa teman tampak memulai dengan teknik dorong, mungkin untuk menghemat tenaga. Kondisi jalan memang berubah cukup drastis dibandingkan tahap sebelumnya. Hampir gak ada gravel disini. Asli hanya batu makadam saja.

Dengan ikhlas berusaha saya genjot meter demi meter sekedar membuat sepeda maju kedepan. Saya rasakan sendiri trip ini menjadi semakin berat dan berat. Nafas juga semakin berat, mungkin pengaruh udara yang semakin tipis kadar oksigen-nya. Maklum sudah diatas 1500m dpl. Setelah dari awal trip tidak pernah di belakang, kali ini saya putuskan untuk merasakan bagian belakang grup, berusaha menikmati saling dukung dan saling memberi semangat.

Sempat berpapasan dengan truk engkel. Vegetasi sudah semakin ganas. Batu makadam semakin besar, lalu tampaklah sebuah sumur geothermal (lagi lagi) di sebelah kiri. Wadoh. Setelah lewat sumur ini rupanya tidak pernah lagi ada kendaraan roda empat yang lewat. Jalanan sangat parah. Makadam runcing plus kadang malah tanah keras yang basah dan licin. Vegetasi semakin merapat, hujan semakin deras.

Untuk pertama kalinya rekan kita berganti ban dalam, sepeda Om Steph yang jadi korban. Di jalanan yang full makadam begini memang relatif paling sering terjadi ‘snake bite’ di ban dalam yang mengakibatkan kempes atau bocor tipis. Disinilah saya harus mengakui ke-solid-an Pak Presiden dengan Menseskab yang baru diangkat Om Dewa. Buset! Mereka berdua saling bantu dan saling menyemangati, saling bagi soyjoy. Saya gak enak sendiri ada di sekitar mereka berdua, hihihihi… Saya tinggalkan mereka berdua deh.

Genjot demi genjot, meter demi meter. Sementara lingkungan sekitar trek sangat mengingatkan saya pada trek Papandayan nanjak dari Pangalengan. Makadam, vegetasinya, kabutnya dan dinginnya. Dalam hati saya berpikir dan menghibur diri, “… ini pasti sudah dekat puncak…”. Yang saya lakukan seperti orang gila adalah genjot, berhenti, trus tereak-tereak menyemangati diri sendiri dan teman yang lain.

Jalanan makadam tiba-tiba berganti dengan serpihan langka aspal ! Wah akhirnya ada yang saya bisa teriakkan lagi ke rekan-rekan, “Wooooiii.. jalan tol disini…. ayooo… dikit lagi jalan mulus…”. Diantara lautan jalan makadam, sejumput jalan aspal rusak saja rasanya sudah seperti jalan tol. Alhamdulillah tak berapa lama melewati *jalan tol* ini segera tampak gubug jagawana…!!!

Cihuuuuyyyy… sambil tereak-tereak segera meluncur bablas dikit gak sampai 100m kita turun menemui TALAGA BODAS !!!

Hati bergejolak tak terkendali…
Indah banget !!
Ini hampir jam 3 sore, jadi sudah 8 (delapan) jam sejak kita mulai start gowes !!

Saya mengikut rekan-rekan yang lain, buka sepatu. Dalam hujan rintik-rintik, saya cuek keluarkan kamera dan mulai memotret lagi.

10@ Jam 3-5 di talaga bodas

Menurut catatan kamera saya, kita sampai di Talaga Bodas sekitar jam 1530. Seingat saya sayup2 terdengar adzan Ashar. Foto narsis sepuasnya, cuek kamera kena hujan dan basah. Ada berbagai macam gaya dari rekan-rekan, ada yang bertapa, ada yang rendam kaki, ada yg gak jelas puter-puter naik sepeda tapi gak pake sepatu, ada yang lompat, ada yg gotong sepeda. Lengkap !! Semua gaya ada…

Saya dorong sepeda melewati sebuah sungai kecil, mau memberi ruang pemotretan untuk Eyang Dieng SX3. Di kepala saya sudah terbayang Eyang Dieng SX3 dipotret gagah mejeng menikmati kesendirian dengan latar belakang danau berwarna putih kebiruan yang sangat eksotis ini. Dari jauh saya dengar ada teman yang teriak ttg ‘ati-ati kejeblos…’. Saya berusaha hati2 dengan menyuruh Eyang Dieng maju duluan, baru saya dibelakangnya. Foto2 tuntas, saya kembali ke grup. Jarak tempat saya foto2 sekitar 20 meter dari grup berkumpul.

Air danau tidak panas samasekali. Di pinggir danau pasir-nya putih campur coklat, mirip di pantai. Di beberapa tempat di pinggir danau ada semacam gelembung-gelembung uap/air keluar. Eksotis, aneh, ngeri, sekaligus indah.

Sempat terlihat sekitar 10-15 orang anak pencinta alam toss merayakan hiking mereka yang tampaknya baru juga sukses mencapai talaga bodas. Mereka tampak gembira sekali seperti kami. Tampak rombongan pecinta alam ini melanjutkan jalan dengan mengitari danau ke arah seberang danau. Dari Om Hanif saya dengar clue kemana itu anak pecinta alam pergi, “Ada jalan offroad di seberang danau buat turun ke Tasik”. Dalam hati saya bilang, “Yeah.. yeah… yeah… Dasar Track Builder, tauuuuu… aja meski blom pernah kesini”.

Tak terasa acara foto-foto sudah berlangsung setengah jam, dengan semua kamera tidak absen beraksi. Badan sudah mulai terasa dingin, hujan mulai turun, di kejauhan saya lihat tiga orang mengitari danau (danau agak bulat, diameter sekitar selebar lapangan bola) ke arah asap keluar di seberang tempat kita berkumpul. Baru kemudian saya tahu kalau mereka adalah Om Hanif, Om Wid dan Om Stefanus.

Tiba-tiba hujan turun agak deras. Sempat kebingungan apa perlu nunggu rekan bertiga kembali lagi baru kita ke pos jagawana untuk makan dan mengisi perbekalan sebelum pulang atau gimana? Karena badan mulai dingin dan perut keroncongan sementara bidon hanya berisi air selokan akhirnya kita bawa tas-tas Om bertiga dan mulai genjot balik ke jagawana.

Kami tidak sempat melihat kejadian musibah yang menimpa Om Hanif, tampaknya terjadi saat kami genjot balik ke jagawana (sekitar 100-200m dari kawah).

Masih ribut melepas baju basah, berganti baju kering, sibuk pesan kopi panas dan indomie rebus panas, heboh banget pokoknya kita berteduh di pos jagawana. Lalu muncul lah Om Hanif-Om Wied-Om Stef dan terdengar kabar kalau Om Hanif mengalami kecelakaan…

Selanjutnya?
Cukup panik lihat luka rekan kita, badan lelah, lapar, kedinginan, basah, hujan…

Om Dewa dengan sabar melakukan P3K, setelah semua mengisi perut dan bersiap, setelah berhasil mendapatkan dua motor yang bersedia membawa Om Hanif dan sebuah sepeda turun, akhirnya kita mulai perjalan turun. Re-route. Rute berubah total dari rencana. Kita turun ke arah Wanaraja, Garut. Bukan ke Cipanas, Tasik seperti rencana semula…

Trip ini belum berakhir kekejamannya…

11@ Down the Rock Garden like Hell

Re-route. Kenapa Re-route?
Saat kami tau Om Hanif cedera, kami tidak lagi membebani pikiran beliau. Cedera sudah sangat memberatkan untuk sekedar dialami di tengah hutan belantara 1700m dpl gini. Diskusi dengan Jagawana (Orang Garut) menunjukkan arah sebuah klinik terdekat ke arah Cidaun, Wanaraja, Garut. Otomatis Pak Jagawana sudah kami beri titel pembuat rute turun yang baru. Gak mungkin kan kami tetap minta Om Hanif yang kakinya serasa sedang ditusuk2 beribu jarum? Kami juga meminta pak Jagawana untuk bisa merayu temannya mau mengemudi motor turun ke Garut.

Merayu??? Ya!!
Bayangkan suasananya. Sore sekali (jam 5, jadi pasti gelap di jalan), dingin, hujan deras. Pasti malas sekali untuk turun ke Garut yang bayangan saya paling dekat 10km dibawah. Kita bisa mengerti jika mereka memilih meringkuk berselimut sleeping bag minum kopi panas menunggu besok pagi untuk berkegiatan lagi.

Jadi kita re-route trip ke sisi gunung yang lain, samasekali jauh dari Cipanas yang sudah kita setting sebagai tempat menginap malam ini. Yang ada di pikiran kita hanya segera melakukan treatment medical ke Om Hanif, dan kita semua harus menyertainya kemanapun itu.

Setelah semua settle saya set shock melepas lock-nya. Jadi masuk ke setelan mentul mentul. Dengan hati gundah badan dingin karena jarang gowes (maklum turunan) kita mulailah perjalan turun yang bisa saya gambarkan seperti subject email ini:

Down the Rock Garden like Hell…
Turun melewati taman penuh batu rasanya seperti di neraka….

Jalan turun kita adalah jalan asli pegunungan. Basisnya ya makadam batu-batu besar. Gak susah juga nyari batu besar di sekitar Galunggung kan? Kita turun melewati jalan lain yang bukan jalan proyek pengeboran geothermal Karaha seperti waktu kita naik. Jalan proyek geothermal cenderung sudah lebih ‘prepared’ dengan gravel dan pasir, maklum dilewati truk engkel dan truk tronton untuk mengangkut logistik pengeboran. Jalan turun ini???

Ini adalah pengalaman perjalanan turun melewati jalan batu PALING GILA yang pernah saya jalani. Trek penuh batu lancip dan besar. Cuaca hujan bergantian deras dan sedang, jika beruntung dapat sedikit gerimis. Air hujan tidak lari kemana, lari ke jalan itu juga, menggerus apapun yang ada di jalan, menyisakan batu-batu makadam telanjang untuk kita lalui dengan sabar.

Hujan tidak hanya menyediakan aliran air yang menyamarkan segala yang ada dibalik bongkahan batu-batu di trek. Tapi air juga membuat trek dan batu yang kita lewati jadi licin, semakin menambah banyak tantangan untuk bisa mengendalikan sepeda dengan baik dan selamat.

Belum lagi ditambah kondisi badan. Karena all the way down. Kita hampir tidak pernah gowes. Badan jadi kerasa dingin dalam balutan jersey yang tentusaja basah. Sayang juga saya tidak ambil satu foto pun di bagian trip paling gila ini. Kamera saya bungkus tas plastik dan saya masukkan ke backpack.

Saya termasuk sangat berhati-hati saat turun. Dengan segera tidak tampak lagi para pesepeda gila turunan yang dipimpin oleh Pak Presiden CiPOC himself di depan. Saya temui diri saya di rombongan paling belakang bersama Om Acu (Hardtail diamondback-on v brake), Om Wied (Hardtail giant-on v-brake), Om Sigit (Hardtail Dominate), Om Stef (Full Sus Banshee).

Belum 2km turun saya dengar suara rem Acu sudah mulai parah. Segera saya teringat pengalaman bersepeda gunung 1,5 tahun bersama v-brake. Gawat!! Apalagi Om Acu ini kan dari transbike, kebayang saya bakal digantung sama Om Anto Boti kalo something happen to him when I am around. Dengan cerewet saya tanya terus tuh apa rem masih jalan. Saya temani beberapa kali setting v-brake-nya.

Tak berapa lama saya jumpai juga Om Wied mengalami masalah yang sama dengan v-brake. Untung masih ada Om Steph dan Om Sigit juga buat menemani. Alhasil kita ada 3-4 kali berhenti setting ulang v-brake untuk kembali mendapatkan grip. Setiap berhenti, minuman bukan dimasukkan mulut, tapi untuk menyiram v-brake yang panas dan tergerus parah. Ampuuunnn…

Tanpa berusaha mendramatisir, itu semua kita alami dalam hujan. Bergatian tuh deras dan sedang, dengan trek batu dan kebun sayur di sekitar trek. Desa/kampung pun tampak masih belum terlihat kelap kelip lampu-nya di bawah. Benar-benar seperti turun yang tak akan berakhir…. Dramatis, mengkhawatirkan, dan sangat berbahaya.

Pada akhirnya kita ketemu bbrp rumah, lalu dilanjutkan sebuah kampung!!

Ada ide cemerlang untuk mencari ojek dan membawa dua orang plus sepeda v-brake yg sudah gawat ini turun ke bawah…. Tapi apa coba jawaban orang yang sempat kita tanya, “Oooo… ojek masih jauh dik… masih 20km kebawah…”

Ampuuuuunnnn….

12@ Still, down the rock track like hell…

Setelah mendengar “…. masih 20km turun…” sempat membuat kami kecut terusterang. Karena adzan maghrib sudah berkumandang setengah jam yang lalu dan tidak saja hujan, batu, licin, air, dingin, lelah dan basah yang kita hadapi. Kali ini bertambah gelap-nya malam menjelang…

Om Wied mulai menggunakan teknik downhill paling aneh yang pernah saya lihat. Memadukan kenekatan, keseimbangan, ide cemerlang: beliau menambahkan sepatu kanan-nya menginjak di bagian ban bawah sadel, untuk menambah grip rem. Buset!! Kaki kiri kanan napak ke pedal saja handling sepeda super susah ini make gaya akrobat lagi.

Om Acu lebih ekstrem. Sepeda dibawa berlari turun kebawah. Nuntun-lari-downhill !!! Tsk tsk tsk… Padahal hujan, basah, batu, gelap… Sampai suatu saat Om Acu teriak “.. aduh aduh..” sambil tanpa sebab jelas terjatuh menimpa sepeda. Wadoh !! Rupanya beliau kraam kaki nya dipakai berlari…

Kalo orang jawa bilang. Otot kawat tulang besi!!! Orang nekat main sepeda hujan-hujan gelap gini…
Akhirnya saya usulkan kita berteduh di sebuah rumah. Om Acu kebetulan perlu melakukan tembakan tertentu hehehe…

Duduk di tangga teras rumah orang, akhirnya kita dapat minuman air putih panas… wuiii… itu air putih benar-benar booster fisik dan moral !!! Air mengalir melewati mulut, dada, ke perut. Semuanya terasa panasnya air menambah panasnya tubuh kami. Tanpa basa-basi kami berlima curhat dan memuji nikmatnya air putih panas ini.

Disini juga saya buka tas dan telepon Om Ardian, yg baru sampai sebuah warung di bawah, untuk mengirimkan ojek ke atas menjemput dua sepeda v-brake.

Alhamdulillah sambil nyruput air panas, sang ojek penyelamat (yang ternyata tidak perlu datang dari 20km dibawah, informasi menyesatkan nih…) datang. Fyuih… Setelah menghaturkan berkali-kali terimakasih kepada Bapak baik hati yang memberi kami air putih panas segera kami meluncur kebawah. Tak sampai 15 menit ketemu jalan aspal dan sampai di sebuah warung. Semua anggota tim kecuali Om Hanif, berkumpul lagi akhirnya.

Terdengar adzan isya’….

Alhamdulillah…
gorengan di warung itu segera saya embat…

Kabar dari Om Hanif sudah sampai di sebuah klinik dan mendapat penanganan yang lebih layak. Adrenalin memuncak dan kali ini kembali adrenalin turun kembali disambut kepuasan gowes yang tak tergambar. Saya bilang ke Om Ardian yang sudah banyak senyum, “… akhirnya pake nyasar juga kita…” wuikikikiki….

Re-route turun ke Garut adalah nyasar yang maut, kejam, jahanam namun indah…

ini adalah lanjutan dari ke bagian pertama…
Summary trip dan detail googlemap di blog cikarangmtb ada disini…
foto-foto hari pertama bisa dilihat di multiply… atau di facebook…
thread sepedaku.com disini…

Trip hari kedua ke Kawah Gn Galunggun bisa dibaca ceritanya disini…

Laporan trip ini didukung oleh Bikewear…

logo bikewear


Galunggung Trip Day#1 Uphill to Talaga Bodas part1

Bagian pertama dari dua tulisan cerita hari pertama …

Galunggung Trip. Gowes bersama rekan-rekan yang sering ngobrol di mailing list cikarangmtb@yahoogroups.com ini terdiri dari dua hari trip:
Day#1 Uphill Kadipaten (780m dpl) -Karaha-Gn. Talaga Bodas (1730m dpl)- Wanaraja, Garut (717m dpl)
Day#2 Uphill Cipanas, Tasik – Kawah Galunggung – Tasikmalaya

1@ Kadipaten-Start

Akhirnya jadi juga gowes ini..

Sudah diimpi-impi kan sejak hampir enam bulan yang lalu. Bersyukur, itulah perasaan paling kuat saat kami loading dan merakit sepeda di Kadipaten, pintu gerbang kawasan Karaha Bodas, Sumur Geothermal Pertamina.
Kadipaten terletak diantara Malangbong dan Tasikmalaya. Saat melewati jalur Selatan Bandung-Tasik, kita berbelok kanan ke arah Tasikmalaya Kota setelah lepas dari Ciawi (jadi tidak lewat jalan potong Cihaurbeuti).

Anggota tim CikarangMTB ini terdiri dari 12 pesepeda: Om Hanif (track builder), Om Ardian, Om Deni, Om Qodrat, Om Stephanus, Om Widarta, Om Dewa, Om Haris, Om Didik, Om Acu, Om Sigit dan saya.

2@ Kadipaten-Jiper

Perjalanan berlum 300m. Begitu melewati sebuah belokan dan dikejauhan, diantara kebun jagung di perbukitan muncul tanjakan ini, waduh, segera saya memutuskan untuk berhenti genjot dan ngambil foto rekan-rekan. Satu persatu rekan-rekan ‘merayap’ mengatasi tanjakan pertama ini. Sesekali motor lewat menaiki tanjakan ini dengan tekanan gas putaran tinggi yang konstan. Terdengar motor pun susah payah melahap tanjakan ini.

Ini masih pagi, jam 7 lebih sedikit, matahari masih malu-malu dibalik awan. Perasaan seperti bertemu tanjakan ‘jiper’ di tegalbadak langsung menerpa dada saya, bulu kuduk tak tersadar berdiri sendirinya. Lebih ‘jiper’ lagi melihat arah tanjakan yang tampaknya akan naik terus melewati punggung bukit ini. Bener-bener kita harus dengar kata Track Builder, “Depannya langsung ditohok dengan kenaikan xxxmeter pada jarak xxkm”. Di ujung tanjakan ini kita sempat menunggu Om Dewa yg tampak meluruskan kaki ditemani Om Hanif. Terjadilah foto session tahap pertama.

3@ Kadipaten-photo session

Bagian berikutnya adalah bagian photo sessions. Tanjakan miring sekali, untungnya kita dihampari aspal cukup mulus. Efek tanjakan ini yang paling terasa adalah efek kejutan kemiringan plus dekatnya dari awal start. Benar-benar mengingatkan pada tanjakan Caringin Tilu di daerah Bandung Utara: Kejam dan Miring serta mulus.

Setiap pegowes dengan semangat masih membara, dengan muka berseri-seri, berusaha menemukan irama genjot masing-masing. Saya sendiri sangat menikmati berhenti dan memotret rekan-rekan, kadangkala sambil genjot, asal arahkan saja lensa ke teman di depan. Pemandangan latar belakang-nya benar-benar yahud. Tampak lapis demi lapis pegungungan dan perbukitan diselimuti awan/kabut dibawah jauh. Pas banget penggambaran Om Ardian di subject email ini: Pak Presiden genjot diatas awan. Sambil terengah-engah di telinga saya terngiang-ngiang lagu “Negeri Di Awan” dan suara Katon.

Mendekati akhir tanjakan saya genjot sekuatnya dengan menaikkan gear belakang, berhasil melewati Om Qodrat. Tetapi betapa kecewanya saya, di depan sudah ongkang-ongkang kaki di balai-balai warung, junior kita rekan Om Dewa: Om Acu dengan diamondback hardtail-nya.

Satu persatu penggowes berkumpul. Bukan muka kusut dan kusam setelah ‘dihajar’ tanjakan miring dan panjang. Hanya keceriaan yang tampak, saling menyemangati. Seru banget. Disinilah muncul ungkapan, “Gak low profile banget….”. Sementara di lembah berikutnya sudah menunggu sebuah dusun dengan tanjakan yang tak kalah aduhai sebagai menu berikutnya.

4@ Kadipaten-warung terakhir-hutan pinus

Disambut sebuah lembah, turunan aspal mulus yang curam lalu dihidangkan tanjakan, tanjakan, dan tanjakan di tengah kampung. Kita jadi tontonan orang kampung sekitar. Sambil, “Punten Pak…”, “Punten Bu…” di tengah-tengah napas bergelora, sampailah kami di ‘warung terakhir’. Tampak di balik bukit adalah area hutan pinus.

Nanjak memasuki hutan pinus saya melewati Om Deni dan Om Steph yang sedang saling ber-narsis. Hehehe… Memang pemandangan pagi hari di ketinggian gunung seperti ini indah sekali. Ditambah wangi bau daun pinus dan semilir angin dingin. Wuiii…

Jalan mulus meliuk-liuk melewati hamparan hutan pinus. Eksotis sekali. Setelah melewati portal Pertamina Karaha, kami masuk ke ‘Karaha-Kadipaten’. Sebuah kawah kecil penuh bau belerang yang nyempil di tengah hutan pinus. Kami lihat sebuah kijang merapat berwisata ke kawah itu. Segera berbayang di kepala saya andai tau jalannya mulus seperti ini pasti Om Adjie bersedia ikut sampai ke Karaha ini.

Selanjutnya jalanan nanjak dan nanjak mulai berubah dari aspal mulus ke batu gravel plus pasir. Beberapa kali truk pasir engkel dan truk tronton lalu lalang membawa material dan pipa untuk keperluan pengeboran geothermal Karaha Bodas, area yang sempat menjadi kasus hukum internasional dan membebani keuangan negara kita untuk membayar ke pihak investor asing.

Om Acu, penggenjot terdepan, berhenti di tempat yang dia sebut ‘Pohon Avatar’….

5@ Rolling manja di hutan pinus

Mungkin karena berhenti di pohon avatar, kami jadi banyak imajinasi. Termasuk diantaranya adalah mengandai-andai diri naik nanjak kesini dengan polygon BMX singlespeed. Pasti berat banget deh. Tidak perlu terlalu lama berandai-andai, karena segera ada anak kecil usia SMP-an, full gear (sepeda BMX polygon, single speed, pakai parang di pinggang). Ada satu orang yang sok tau dan sok jagoan nyobain sepeda ini, berakhir dengan kepanikan saat downhill turun karena ternyata sepeda tidak dilengkapi dengan rem samasekali.

Imajinasi yang lain adalah beberapa diatara kami jadi agak aneh dan merasa dirinya jadi paspampres Pak Presiden. Kebetulan juga Pak Pres, namanya pejabat negara, datang selalu belakangan. Saat beliau tampak dari jauh hadir nanjak ke arah kami sedang pitstop, segera berlari dua orang mengawal dari kiri kanan. Mirip banget SBY dikawal paspampres pas naik sepeda. Untuk selanjutnya kejadian ini jadi berulang terus (dan herannya) tetap tampak lucu di setiap pitstop.

Setelah chit chat dengan Bapak sang anak kecil, melahap sekantong wafer coklat TOP, segera kita melangkah untuk genjot rolling naik turun trek lebar gravel campur sirtu. Jadi ingat trek tercinta kita, track sumur gas. Tipe rolling sama, bunyi ban menggilas trek-nya sama… dddrrrrrdddddrrrrdd…. Mantap mantap.

Bedanya sama sumur gas? Disini dingin, udara asli bersiiiiiihhh banget, jadi senang ambil napas panjang-panjang…. seger!! Ditambah lagi? Tentusaja disini pohon pinus lebat banget di kanan kiri trek. Wuiii… Mantap surantap top markotop… Bayangkan seperti suasana kelok-12 menjelang finish Sukamantri, tapi ini rolling dan trek gravel. Nyamaaaaannnn…

Cuma banyak jebakan batman. Pertigaan banyak. Setiap pertigaan kita jadi menunggu Om Track builder membuka print-an nya plus lirik GPS. Mantap. Katanya kalo salah belok bukan sampai ke Talaga Bodas, tapi malah bakalan turun ke Garut! Nah lho… Om Track Builder bak Luna Maya dikejar infotainment. Setiap ketemu pertigaan satu tim berhenti dan menunggu titah beliau hehehe…

6@ Hutan dan Sumur Terakhir (Makan Siang)

Setelah menikmati nanjak nurun rolling, kadang kita disuguhi turunan… asik sekaligus ngeri membayangkan kejadian serupa yang saya alami di trip sebelumnya (ceritanya trauma mandalawangi gravel downhill), tekan rem juga hati-hati.

Sementara rolling semakin panjang panjang jaraknya, kalo tadinya pendek turun disambut pendek nanjak, lalu rolling berikutnya, kali ini interval semakin besar, sampai akhirnya ada sebuah turunan cukup panjang. Wuzz wuzz wuzz… saya disalip berkali-kali oleh rekan-rekan. Buset!! Kenceng2 banget sih, termasuk Pak Presiden diatas Patrol BLINK BLINK nya. Namun seperti kehidupan, pergantian berlangsung begitu cepat, segera disambut dengan tanjakan panjang gravel. Fuh fuh… kali ini panjang beneran. Kiri kanan pohon pinus sudah mulai diselingi pohon-pohon yang lain. Vegetasi hutan secara bertahap mulai berubah. Tampak semakin banyak pohon basah seperti pohon pakis.

Sempat sekali tim re-grup, kami temui tim berada di jalanan gravel di tengah hutan yang berkabut. Suasananya berbeda sekali. Bayangkan ada pohon-pohon besar di sekitar track dan kabut tebal-tipis silih berganti. Suasana benar-banar ‘spooky'; gabungan antara senyap-mistis-dingin-ngeri-basah. Susah digambarkan.

Setelah regrup dan foto bentar lanjut deh. Agak mengherankan kali ini setelah nanjak panjang kita ketemu turunan panjaaaanggg… banget. Seperti gak habis-habis. Wadoh, jangan-jangan turun ke Garut neh jalan.. Lalu kita disambut oleh sebuah ‘lapangan’ pengeboran geothermal. Tampaknya lapangan sudah lama dibuat dan sudah lama pula ditinggalkan namun terlihat ada 15an pekerja sedang melakukan kegiatan konstruksi. Kita menepi berhenti disitu. Perut saya sudah lapar.

Makan siang deh kita…

berlanjut ke bagian kedua…
Summary trip dan detail googlemap di blog cikarangmtb ada disini…
foto-foto hari pertama bisa dilihat di multiply… atau di facebook…
thread sepedaku.com disini…

Laporan trip ini didukung oleh Bikewear…

logo bikewear


Cigeuntis 2 Nov, gowes mati lampu 96km (1)

Kucoba menuliskan novel ini….
halah! wakakaka…

Anggap saja menulis ini jadi refreshing, something spice up my days… Setelah minggu lalu diterpa kewajiban menyetir bermacet-macet (iya, meski 10+ thn tinggal di jabotabek sini, masih gak biasa macet) ditambah awal minggu ini kok ya semuanya ngumpul jadi satu.

Tapi kali ini saya akan tulis agak beda deh, tidak deskriptif, tapi lebih ke cerita pengalaman2 dan momen2 spesifik saja. Namanya juga ngetik santai disela kerja, jadi ya sekadarnyah….

AN020771

Kita berangkat dari AA Bike jam 7 pagi, terlambat sejam dari rencana semula.

#1
AN020791

Melewati J3, begitu masuk jalan offroad setelah pertigaan cibatu segera ada yang berteriak dari pinggir jalan, “…aduuuhhh.. mau kemana… *belok* (baca: berlumpur) jalannya…”. Masih tercampur excitement gravel+tanah keras berbatu jalan ini segera kita dikagetkan dengan gonggong-an anjing. Sang anjing tampak semangat empatlima berlari mengikuti irama genjot kami. Lho, gimana sih, rupanya gak cuma NR, anjing disini tetap saja menggonggong di pagi hari….

Lalu setelah sempat saking ngebut-nya botol minuman salah satu member trip terjatuh, kita akhirnya menikmati tanjakan pertama. Tanjakan jiper jilid 2. Tanjakannya sendiri dari namanya sudah mencerminkan, ditambah kubangan lumpur ada dibawah lembahnya. Lengkap !! Lagi2 saya trip dan turun ketanah saat baru setengah lewat sedikit. Makin penasaran sama ini tanjakan.

AN020796

AN020814

AN020822

Lalu masuk kampung, dan kembali kita dengar gonggong-an anjing mendekat. Rupanya kampung-kampung ini sangat jarang dilewati orang asing sehingga bau tubuh kami sangat menggoda buat para anjing menunjukkan kemahiran mereka menggonggong.

AN020828

Keluar kampung sayang banget twisty singletrack plus jembatan sempit jadi basah, licin dan di beberapa tempat berlumpur. Huh! Tempat favorit jadi gak bisa leluasa dinikmati….
Alasan aja sih, karena rekan rekrutan baru Mertaput, Om Didi, dosen kita hari itu dengan santainya menunjukkan skill beliau menjaga keseimbangan melewati semua rintangan. Membuat saya dan eyang AN cuma bisa garuk2 kepala yg pake helm ini….

#2

AN020831

Sempat saya berhenti melihat kawanan kerbau mau melintas. Jadi teringat gowes berdua Om Sigit bbrp waktu lalu bukan kerbau yang minggir tapi kita yang terpaksa masuk sawah karena kerbau nekat menjajah singletrack. Kali ini saya ambil foto Eyang Dieng bersama kerbau. Difoto hanya tampak seekor kerbau, pada kenyataannya ada sekitar 5-7 ekor kerbau besar2 sekawanan. Pas banget. Sepeda berlumpur ketemu kerbau.

AN020840

Lewat area kerbau saya sudah ditunggu dua rekan di sebuah jembatan. Jembatan bambu dengan papan selebar jengkal tangan. Saya berhenti dan geleng2 mendengar cerita tadi (lagi-lagi) Om Didi dengan santai melewati jembatan darurat ini (jembatan permanen sedang dibangun) dengan genjot diatas sepedah. “Perjalanan masih panjaaang…” kata saya dalam hati menghibur sambil melihat dalam nya selokan jika kita terjatuh.

Sambil genjot santai-santai-ngebut, di jalan gronjalan berbatu (sisa hujan tapi gak sampai bikin jalan berlumpur) saya bercerita dg Eyang AN ttg Golepag edisi pertama, sekitar setahun lebih yll bersama Om Yadi speedy di jalur ini. Termasuk juga cerita kami hampir melindas ular hitam yang sedang menyeberang jalan pulang berburu. “Disekitar sini nih… hampir lindes ularnya…” kata saya. Tak lama kemudian Eyang AN tereak kaget karena ban sepedahnya hampir/sudah melindas seekor ular yang menyeberang…

De Ja Vu…

Keluar jalan beton kami memasuki kampung Nagasari menanjak ke arah SD nagasari. Wuihhh… memang sensasi NR lebih mantap meskipun kalo siang gini juga seru karena kampung ini rimbun banget dan banyak jembatan bambunya.

AN020843

Tiba-tiba kita sudah di pasar pertigaan pasirkupang dan membeli perbekalan. Sempat cari pisang buat bekal tapi gak nemu yang mateng, saya liat Eyang AN tampak sibuk terus memelototi gadgets bebeh nya… Dalam hati saya bilang, “Wah…. gawat…. alamat NI1 dimulai nih….”

AN020847

#3

Lagu yang sudah sering saya dengar diputar kembali…

“OM, gimana kalo kita coba jalan ini….”
sambil jempol sibuk naik turun kiri kanan atas bawah, mulut nyerocos terus menjelaskan dan mencoba meyakinkan kalau ada kemungkinan jalan yang lebih menarik.

Wuikikikiki…

Masak Mertaput mundur ditantang nyasar sama CiPOC?

Jawabannya saya serahkan Eyang AN untuk menyambut cerita ini. Beliau yang paling berhak menceritakan apa yang kita jalani sampai tembus ke nasi uduk di daerah Bojong Mangu (??), lalu tembus jalan besar Cariu’-Loji, menikmati tanjakan-tanjakan disitu…

AN020870

AN020879

AN020896

Saya memilih memotret Maudy K sebagai bekal kalo ada yang nanyain foto teteh, sambil isi penuh-penuh bidon minuman sapa tau dibawa nyasar ke daerah tak bertuan… wuikikiki…

(lempar bola ke Eyang AN, silakan digiring sampe gerbang desa Philips)

bersambung ke bagian kedua…


1PDN Dieng Bash: Etape#3 Menara Pandang-Dieng Plateu

Tulisan sebelumnya dari Etape#1…
Tulisan sebelumnya dari Etape#2…

AN249658

Foto diatas adalah keindahan di seputaran menara pandang. Foto keindahan ini menipu. Karena pada kenyataannya matahari serasa dekat sekali dengan kepala. Trip Dieng buat saya adalah trip yang aneh karena saya genjot tanpa helm, helm ketinggalan di Bandung.

Setelah beristirahat secukupnya, sorry, mungkin sebenarnya belum cukup, Om Kartono tampak masih sangat menikmati tidur-tiduran di lantai menara pandang. Wah, pilihan yang sulit. Tapi hari semakin siang semakin panas, rasanya setiap kita tunda lima menit matahari akan mendekat 5cm keatas kepala. Akhirnya sekitar 30 menit di belakang rombongan depan Om Indra- Om Bimsky- Pak Slamet, kami berangkat.

AN249662

Selain helm, ada lagi yang tertinggal hari ini, arm warmer (penutup/pelindung tangan dari sengatan matahari). Terasa sambil gowes bagian atas tangan sudah terasa panas dan sakit. Sudah terasa benar saya terkena sunburn. Saat ketinggian area mendekati 2000m dpl ternyata angin dingin tapi matahari panas sekali.

AN249679

Karakter tanjakan setelah menara pandang adalah tanjakan yang merayap di bibir dan punggungan. Ini menyebabkan tanjakan relatif lurus dan sedikit berkelok-kelok. Tidak seperti di seputar Tieng di Etape#2… yang berbelok-belok tajam. Benar benar sangat menyiksa sekaligus menantang; genjot di medan tanjakan-tanjakan lurus tanpa henti dan panas sekali. Saya baru sadari kemudian bahwa mendekati 2000m dpl otomatis mempengaruhi metabolisme tubuh kita karena semakin tipisnya oksigen di udara. Seperti juga di Papandayan, saya lupa akan kenyataan ini. Yang terasa adalah lemas. Kaki rasanya sudah sangat ringan tapi juga kendor. Berat sekali menggerakkan otot-otot kita.

AN249693

Disini saya bahu membahu bersama Om Kartono, kalo merasa lemas ya langsung saja berhenti dan saling menyemangati. Dalam keadaan seperti ini rasanya ada teman menjadikan perjalanan jauh lebih ringan. Dengan tidak sendiri selalu ada energi baru dari rekan kita.

AN249697

Om Kartono beruntung. Bahkan pinggiran jalan selebar tak lebih dari 30cm pun bisa dijadikan tempat rebahan, dan (herannya) bisa tidur dengan nyenyak.

Kita mendapatkan kembali second wind setelah akhirnya mencapai jalan agak mendatar lalu menemui gerbang “Dieng Plateu”. Rasanya seperti sudah berhasil mengalahkan seluruh dunia, dan terutama, diri sendiri.

AN249708

Dan akhirnya berkumpul dengan seluruh tim Genjot Dieng Bash 1PDN jilid#3 ini di sebuah masjid.

AN249713

AN249717

AN249721

Dan tentunya trip 1PDN Graduation Bash tidak akan lengkap tanpa dua pose klasik Dieng berikut ini…

AN249728

AN249729

Trip Dieng, sebenarnya tidak saya bayangkan untuk bisa saya tempuh di tahun 2009 ini. Kesempatan sempit nyempil di tengah acara lebaran di Cilacap ternyata berbuah manis salah satu trip onroad-uphill terberat yang pernah saya tempuh.

Foto-foto lebih banyak di multiply…


1PDN Dieng Bash: Etape#2 Garung-Kejajar-Menara Pandang

Lanjutan tulisan dari Etape#1…

Etape kedua dari Garung menuju ke Kejajar lalu ke Gardu Pandang. Kita segera dihadapkan pada tanjakan-tanjakan yang susul menyusul. Pada umumnya tanjakan lurus. Bukan bikin nyaman, tapi malah membuat kemiringan makin terasa. Di etape ini sudah sangat mirip dengan tanjakan-tanjakan di Gadog-Rindu Alam. Cuma disini jauh lebih sepi lalulintasnya. Padahal saat kami gowes ini adalah hari kelima lebaran, jadi memang masa-masa orang sedang pelesiran, berwisata ke Dieng, mustinya rame ya untuk ukuran Dieng.

AN249477

AN249485-vert

Untung sudah cukup terlatih dengan tipe tanjakan-tanjakan onroad di Gadog-Rindu Alam. Gowes dari Garung ke Kejajar sangat mengingatkan tipe gowes di Bogor tersebut. Di akhir rute ke Kejajar, kita melewati sebuah tanjakan yang luruuuuusss dan panjaaaaang… membelah pasar dan kota kecil Kejajar. Ini tanjakan lurus dan panjang ternyata habis di sebuah belokan kekiri yang segera kita melewati jalan mirip kelok sembilan. Kelok kiri kanan dengan kemiringan di tingkat audzubillah.

AN249510

AN249531

AN249536

Kejajar adalah sebuah kota kecil lengkap dengan pasar di pinggir jalan utama Wonosobo-Dieng. Agak jelas buat saya kenapa ini kota kecil diberi nama ‘kejajar’, kota/kampung ini terletak pas di pertemua tiga puncak gunung yang tampak berjajar mengitarinya. Saat kita memasuki Kejajar dua gunung ada di kiri dan kanan, seperti sebuah gapura besar, sementara satu gunung lagi ada jauh di depan, tempat Menara Pandang dan Kampung Tieng.

Tanda kilometer sudah menunjukkan Dieng tinggal 8km lagi, namun tanjakan Tieng menuju sebuah Gardu Pandang (gardu pandang sudah terlihat dari bawah sejak 5km yang lalu) rasanya bukan saja berat dan miring, namun juga sangat melelahkan. Kita bertemu bergantian belok kiri dan kanan dengan kemiringan yang semakin tak terbendung, dengan diiringi motor dan mobil yang meraung-raung dengan gigi satu, sambil kita semua mencium bau kopling terbakar.

AN249579

Gowes di Desa Tieng yang sangat miring dan eksotis ini bertambah eksotis dengan bentuk arsitektur rumah dan warna cat yang serba hitam untuk dinding, pintu, atap. Apapun dicat hitam. Bentuk rumah-nya juga agak berbeda dengan umumnya rumah di Indonesia. Ini semua melengkapi nama desa-nya yang memang sudah unik: TIENG. Sempat berhenti memotret sambil ambil napas, mengagumi keunikan desa ini, lalu tiba-tiba ingatan visual ku kok merujuk ke satu gambar tertentu ya?? Apaaa??

AHA! Ternyata arsitektur bangunan di kemiringan tanah 45derajat plus bentuk rumah plus segala warna dan cat nya mengingatkanku pada gambar2 kota Kathmandu, Nepal yang kulihat di majalah.

Etape kedua ini dipenuhi dengan jalan onroad yang belok kiri kanan mendaki, berbelok bukan untuk menurunkan level kemiringan, namun justru jalan kadang mencapai puncak kemiringannya saat berbelok. Benar-benar istimewa. Tipe tanjakan begini mengingatkan pada medan ‘Caringin Tilu’ di Bandung Utara. Tanjakan dengan kemiringan kejam. Namun Garung-Kejajar-Gardu Pandang ini jauh lebih panjang dari Caringin Tilu.

Etape kedua ini diakhiri dengan sebuah tanjakan panjang menyusur punggung menaiki ujung punggungan sebuah bukit. Sebuah tipe tanjakan introduksi. Karena setelah Gardu Pandang, tanjakan yang menyiksa tipe seperti ini yang akan kita temui terus.

Alhamdulillah, Gardu Pandang sudah terlihat. Kita pitstop disini dengan 6km sebelum Dieng. Benar-benar 2km terberat penuh perjuangan yang barusaja kita lewati sepanjang Tieng.

AN249644

AN249589

Cerita tentang Mie Ongklok disini..
Cerita tentang Markas Dieng Sirandu disini
1PDN uphill Etape#1 Wonosobo-Garung disini
1PDN uphill Etape#2 Garung-Kejajar-Menara Pandang disini
1PDN uphill Etape#3 Menara Pandang-Dieng disini
Foto-foto perjalanan 1PDN Dieng di multiply

tambahan cerita di milis cikarangmtb:

Salah satu site yang sangat menempel dari perjalan Dieng adalah sebuah desa/kampung bernama TIENG. Namanya mirip ke-cina-cina an ya? Betul.

Saat melewatinya, melihat pemandangannya, saya merasa DEJAVU, seperti pernah liat, eeee ternyata pemandangan, arsitektur rumah, susunan rumah, cat serba hitam, susunan atap, kemiringan tanah 45 derajatnya mirip banget dengan foto-foto Kathmandu, Nepal.

Dieng sendiri memang unik karena di area itu ada candi Hindu dan Budha, serta sekarang sebagian besar Muslim. Akulturasinya keren… terutama di TIENG ini…

Tapiiii… Ampuuuuunnnn…. jalan berkelok kelok menuju Menara Pandang (menara pandang sudah terlihat sejak 5km dibelakang) dengan kemiringan yang …. ya sudahlah, belok miring lurus miring. Benar2 gak sia2 jauh2 buat ketemu ini.

Saya juga nyesel, hanya ngambil sedikit stok foto di daerah Tieng ini. Serba susah karena kamera harus dimasukkan kembali ke dalam ransel, ngambilnya ribet banget. Sebelum sampai Tieng dari Wonosobo sih masih bisa kamera gelantungan tapi di Tieng gak mungkin lagi karena medan mengharuskan posisi miring kedepan yg cukup ekstrim plus konsentrasi.

Jadi deh cuma sedikit fotonya. Mau sering berhenti juga sayang karena penasaran pengen menikmati tanjakannya… hehehe…

Bersambung ke Etape#3…


1PDN Trip: Double Expresso, beberapa foto…

Masih acara yang sama dengan 1PDN Double Expresso yang selengkapnya cerita ini lanjutan dari… http://antoix.wordpress.com/2009/09/12/sukamantri-2/

Kali ini adalah seri foto-foto yang diambil saat kemping lalu sunrise dan pagi harinya kita turun dari Wanawisata Sukamantri kembali ke Bogor. Saat turun sekitar 2km pertama kita melewati jalan ‘kelok 12′, berupa jalan makadam batubesar berlumut licin yang berkelok-kelok mendaki bukit di tengah hutan pinus. Teduh…

Saat pengambilan foto pagi hari adalah saat terbaik untuk mendapatkan gambar-gambar sinar matahari yang menembus dedaunan hutan. Sayang banget para model foto yaitu 20+ pesepeda keburu bablas di depan, sehingga dengan susahpayah mengejar buntut terakhir pesepeda cepat-cepat ambil momen foto untuk menuju titik pengambilan gambar berikutnya.

AN067993
Siluet sepeda saat berusaha memotret sunrise

AN067965
Lokasi Camping di lereng bukit, saat malam pemandangan ke kota Bogor indah sekali

AN067998
Sepeda parkir di dekat tenda tempat menginap

AN068155
Foto bersama sebelum pulang

AN068165

AN068214
Hutan Sukamantri yang mengagumkan

Hasilnya, kayaknya sih lumayan yaaa…
Next time moga-moga lebih baik

Foto-foto koleksinya bisa dilihat di…
http://antoix.multiply.com/photos/album/13/
http://antoix.multiply.com/photos/album/14/
http://antoix.multiply.com/photos/album/15/


1PDN Trip: DoubleExpresso Uphill ke Sukamantri

Seperti tahun sebelumnya, saya ikutan double expresso kali ini hanya sloki kedua saja, artinya separuh dari double-nya. Tidak ikutan uphill Gadog-Mang Ade tapi ikutan uphill Bogor-Sukamantri Night Riding.

Start dimulai dari RM Trio dekat Baranangsiang, Bogor. Semua mobil peserta juga dititipkan di tempat parkir RM ini.

trio
[foto di titik start RM Trio Baranangsiang]

Adrenalinku lumayan menggelegak sejak dari start. Sudah lama banget gak gowes bareng-bareng 1PDN. Terakhir gowes 1PDN malah bareng PanBagoes di Pondok Pemburu, sebelumnya lagi ya Hambalang dengan Om Oni dan nTe Rahmi. Tapi belum 5km, belum setengah ke pertigaan Kecamatan Tamansari sudah terasa efek dari batuk yg sedang saya derita. Huh!! Akhirnya tercecer di grup belakang.

Saat start lagi dari Tamansari segera saya ambil langkah TTS alias Tjuri Tjuri Start, jadi berangkat gowes duluan dibanding tim besar. Sadar banget kalau bakal disalip satu persatu.

Sampai di warung tutup pun tidak berhenti lama, langsung mulai TTS lagi. Ini teknik mengimbangi rekan-rekan yang gowesannya jauh lebih kenceng dan kuat hehehe…

Di sekitar portal terakhir masih bareng sama grup besar tengah yang isinya Nota, Mang Yusa, Mang Oni dll. Akhirnya berhenti dan ketinggalan deh.

Bagian paling baru dari gowes ini adalah genjot genjot uphill di makadam dalam hutan pinus, gelap di jam 2 malam, sendirian… Betul. Memang terlihat di belakang ada mobil pickup dan TLC agak jauh. Dan di depan ada gerombolan Mang Oni cs. Berusaha banget tidak berhenti sepanjang kelok 12 ini, tapi kemudian gagal…

Medan-nya bener-bener menantang, gelap, berbatu besar, berlumut… wah jadi kangen Cozmic-ku. Ditambah lagi …. sendirian hehehe… adrenalin semakin bergelak

Akhirnya sampailah di titik finish dengan penuh penyesalan karena lagi-lagi tidak berhasil melalui kelok 12 tanpa berhenti.
finish


Polygon Cozmic CX 1.0 2007 – The Last Incarnation

This is the last incarnation of Polygon Cozmic CX 1.0
aka. Kanjeng Kyai Cozmic/ Le Blue

Frame: Polygon Cozmic CX 3.0 2007 (Blue-White-Silver)
Fork: Manitou Axel 100mm coil spring
Headset: FSA plus Amoeba long headset
Shifter: Shimano XTR oldies (mechanic)
Handlebar: Kalloy
Handle Grip: GT black-blue (non-lock on)
Stem: Giant Racing AI
Cyclo: CatEye Enduro 8
Seatpost: Bontrager X-Race Carbon
Saddle: Velo Blue-White
FD: Shimano Deore
RD: Shimano Deore LX
Brake set: Shimano M-485 Mechanic
Hubs: Novatech 4 bearings (modified with SKF) 32 holes black
Rims: Alexrims SX black
Tyres: Scwalbe Racing Ralph 1.9
Crank: Shimano FM-441 Non series
Pedals: Crankbrothers Eggbeater C
Odometer: 5423km

Tracks on this bike:

REGULAR:
Cikarang Trek
Bike to work Cikarang-Jababeka

JATASI:
JJ
JPG
Hutan UI

BOGOR:
Sukamantri
Gadog-Rindu Alam-Gadog
Sentul-Bojongkoneng-Pondok Pemburu-Gn. Pancar
Sarimande-Curug Panjang
Hambalang2

BANDUNG & JAWA BARAT:
Cicaheum-Palasari1 via Caringin Tilu
Cileunyi-Palasari3
Cileunyi-Gn. Papandayan
Gn. Papandayan-Arjuna-Cikajang
Cileunyi-Batukuda-Kiara Payung
Sukabumi-Goalpara-Pondok Halimun

JOGJA:
Jogja-Warung Ijo-Jogja
Jogja-Kaliurang-Jogja

OTHERS:
Mount Kiara (Kuala Lumpur)

coz_090530_PICT5187

PICT2009

coz_090530_PICT5188

coz_090530_PICT5191


Si Hati Baja…

4 jam 15 menit

Panjangnya waktu diatas sudah menceritakan dengan sendirinya betapa teguh sebuah tekad. Dan kalau sudah ada tekad, tampaknya tidak ada apapun yang bisa menghalangi. Waktu bukan halangan, sepeda hi-ten-full-sus bukan halangan, rokok marlboro bukan juga halangan, hujan bukan halangan, apalagi tanjakan… Tanjakan jadi menu utama sepanjang 4 jam 15 menit. Sepanjang 255 menit. 1/6 hari.

Senin kemarin Om Heri Kacung telah memecahkan tidak hanya rekor terpanjang mencapai warung Mang Ade di Puncak Pass, namun juga rekor keteguhan hati, rekor bulatnya tekad. Sekali lagi trek Gadog-Rindu Alam membuktikan bahwa kita tidak boleh mnyepelekan kemampuan diri sendiri, apalagi kemampuan orang lain.

Om Ardian dan Om Tjatur, tidak perlu minta maaf saya harus jadi sweeper paling belakang di trip kemarin. Saya merasa terhormat bisa gowes 4jam 15 menit bareng seorang pesepeda BERHATI BAJA seperti Om Hari Kacung.

4 jam 15 menit !!!
Bayangkan…

(seperti ditulis di milis cikarangmtb@yahoogroups.com )

08:20 brangkat dari Gadog

gadog_090518023
09:12 hampir satu jam genjot, masih jauh dari cisarua

gadog_090518049
09:51 selepas pasar cisarua

gadog_090518074
10:36 pitstop tanjakan hotel pardede

gadog_090518077
10:55 sekitar Tugu, mulai masuk daerah kebun teh. Perhatikan selipan rokok marlboro di tas beliau.

gadog_090518092
11:46 menjelang riung gunung, sudah diterpa hujan dari gunung mas

gadog_090518094
11:47 di tengah hujan

gadog_090518105
11:50 melewati riung gunung

gadog_090518114
11:52 Shadow….

gadog_090518143
12:17 di seputaran pintu telaga warna

gadog_090518145
12:32 menjelang Restoran Rindu Alam

gadog_090518150
12:36 pitstop setelah melewati Rindu Alam

IMG_1005(1)s
12:40 Akhirnya finish juga di mang Ade, Puncak Pass Bogor

4jam 15 menit uphill biking

Laporan trip ini didukung oleh Bikewear…

logo bikewear


RAtrek 20 April 2009

Setelah gowes nandjak dari Gadog ke Puncak Pass, perjalanan turun RA trek dari Puncak Pass ke Gadog lewat ngehx 1-2 foto-fotonya bisa dilihat di sini…. http://antoix.multiply.com/

Ada satu foto yang saya pun masih kagum setelah sampai di depan Komputer dan memandangi hasil jepretan kamera ini…

ratrek_pict4397
Stunning view !!!
Ini pemandangan ke arah Telaga Warna sebelum masuk ke rerimbunan hutan lalu turun ke arah Paralayang.

ratrek_pict4454
Model adalah Om Sigit Bikeweaar.. http://bikewearr.multiply.com

Saya baru hitungan sebelah jari tangan lewat trek ini, heran… entah kenapa ya? Padahal ini trek secara pemandangan, uphill ataupun downhill-nya INDAH sekali…

Laporan trip ini didukung oleh Bikewear…

logo bikewear


1pdn Trip: Cioray 8 Juni 2008

Saat duduk dan kehabisan kalori (gak ada mie di warung atas) kemarin, kocak mendengar cerita Om Iye menirukan gaya menulis Huro, HDmessa, dll… Kocak!! Jadi tulisan ini dengan sedikit adjustment… (Moga2 halaman udah berkurang)

Menuju titik start kali ini tidak ribet, parkir mobil juga tidak perlu gedor2 pintu mall yang masih tutup. Hanya Mbah Rektor terus2an sms dan akhirnya nelepon “jam makan siang ditunda ke jam 4 nih!!…” Sebuah ancaman muncul saat saya angkat telp sambil genjot. Gara2 rombongan telat berkumpul…

Semua masih sama seperti trip 1pdn Cioray sekitar Desember lalu. Sampai di ‘warung terakhir’. Cyclo sudah menunjuk belasan km hanya melewati jalan datar. Senangnya akhirnya bisa gowes bareng legend2 di 1pdn secara bersamaan: rektorat lengkap (Rektor, puri, puro+nyasar), Om Dj yg baru lepas dari ancaman typus (Gile lo Bro!! Gejala typus dilawan dg CiOray), Om Eko dan AkiSupri (baru ngeh ini yg namanya Aki), Om Bambang, Om Lilik, Om Oni, Om DaniChagi (sabar banget jadi sweeper), Om Ian, lengkap kan? Cuma tetep aja kurang kagak ada nOta… (We miss you Bro!).

Ditambah tamu2 kehormatan seperti Om Mito, Prof Tony Kamurang, Bimar ‘The Legend’ kaos merah… Kurang apa coba?

Kurang Bayu!!! (Kemudian diketahui sedang mencuci)
Iya, saya dan Om Oni udah dari Kamurang celingukan cari Bayu… “Mana Bayu To? Gak ada dia bisa gawat nih kita…”

veritkal

Bener kan?
Semuanya ngebut! Tau2 nyampe kebun kopi, jembatan kayu yg hanyut, rumah pertama, warung deh! Halah! Baru jam 11 siang!

Sayangnya si Mamang warung lagi ‘belanja ke pasar’. Aduh betapa tidak beruntungnya kami, kali ini tanpa indomie rebus. Hanya teh celup panas, silver queen, kerupuk, air mineral, dan NATA DE COCO! Buset, Om Bambang mempertahankan reputasinya sebagai pembawa makanan aneh saat bersepeda. Setelah bacang, nasi uduk, kwetiaw, kali ini nata de coco BESERTA SENDOKNYA!!

Habis puas istirahat tapi badan masih lemes karena blom makan kita nengokin “Goa Tumpeng” dulu. Perjalanan menuju goa ini ternyata asik banget. Singletrack dan nanjaaaaaakkkk terus. Feel-nya beda dengan track sebelumnya karena ini bener2 jalan setapak alias singletrack. Ini bakal jadi track favorit, saya yakin!!

Kemudian? TURUNAN!!!!
Sebelumnya acara turun selalu terasa ‘tidak penting’ bagi trip 1pdn. Tapi buat saya kali ini beda. Hanya berselang 6 bulan, hanya karena perbedaan tiga jam hujan saja, track turunan penuh derita nan tak kunjung padam berubah menjadi turunan mengasyikkan… Saya sampai tereak2 sendiri excited banget membandingkan trip serupa 6 bulan lalu!!! Waktu itu dari warung jam 2, sampai di kampung jam 6 sore (maghrib). Kali ini dari warung jam 12 sampai di Kamurang jam 3 kurang dikit.

Musti punya prediksi BMG sebelum ke Cioray!! Bisa beda 180derajat. Saat makan soto Permata, saya jadi lega karena rekan2 senior 1pdn menceritakan penderitaan 6 bulan lalu itu dengan perasaan mirip seperti yg (diam2) saya rasakan juga: putusasa, pengen ninggal sepeda, benci lumpur dan tanah, menggigil kedinginan kelelahan dan kelaparan…

Sementara CiOray kemarin, seperti yg di-amin-i Om Ian, memberikan pemandangan alam mirip foto2 indah di majalah sepeda….

Jadi?
RUGI YANG GAK NGIKUT!!!

Lihat foto2nya di http://1pdn.multiply.com

seperti ditulis di milis ipdn-cycling@yahoogroups.com


IPDN Trip: Gadog – Rindu Alam dalam Kabut Tebal (part 2) Tmn Safari – RA

Lanjutan dari bagian pertama

Setelah pitstop sebentar 15 menit (katanya MBah udah nungguin 30mnt di dpn saya) berangkat lagilah kita. Terlihat cuaca mulai berkabut. Seperti biasa Mbah mempersilakan saya duluan, dan hanya bertahan sekitar 1km lalu “the red devil” segera ngacir meninggalkan saya menyanyikan dua lagu favorit: “naik naik ke puncak gunung” dan “row-row-row your boat”. Malah sekarang ditambah dengan dendangan baru: dzikir dan shalawat hehehe… Kalau kedua lagu itu tak lagi mempan.

(Kabut mulai menemani)

redevil
(dikejar setan merah)

Hanya 15 menit dari start kedua di taman safari hujan turun deras, di tengah kabut. Make jas ujan, sekalian ambil pitstop illegal lagi.

illegalstop
(Pitstop illegal)

MBah sudah tak tampak, sampai kemudian ada yg panggil2 teriak dari pinggir jalan. “Ban ku kempes dua-duanya depan belakang” kata MBah. Ya ampuuuunnnn… Ini angkot mana yg sirik nggak dinaikin jadi deh kena paku langsung dua ban gitu. MBah cuma bawa satu ban cadangan, saya bawa tapi yang pentil besar. “Tok, kamu sendiri saja keatas, nanggung udah sampe sini” ya ampuuunnn kenapa jadi merinding saya denger perintah itu. Tapi untung segera muncul ide cemerlang: menambal ban sendiri di tempat. Untuuungg bawa penambalnya.

gantiban
tamball
(Pak Rektor ganti profesi jadi tukang tambal ban)

Setelah tambal ban saya baru memperhatikan kalau kita sudah mulai masuk kawasan perkebunan teh. Cihuiii… Entah kenapa semangat muncul membara kembali. Seperti mendapat second wind. Apalagi saat kabut semakin tebal, suasana yg sendu, jarak pandang 5m-an, membuatku semangat. Meski PAK Rektor kembali sudah menghilang didepan, saya tidak lagi perlu menyanyi-nyanyi. Kaki rasanya enteng banget. Otot2 yang tadinya pegel sudah jadi tak berasa apapun, mati rasa kali.

Lalu terdengar adzan Dzuhur. Aduh indah sekalii… Saya sampai teriak2 sendiri. Saya segera membayangkan masjid Atta’awun itu sudah dekat. Pas iqomat saya pas melewati depan masjid itu. Saya teriak2 sendiri lagi kayak orang gila. Segera kemudian angin kuat mulai menerpa dari arah atas, jadi kita udah gowes nanjak ditahan angin lagi. Saya jadi ingat pengalaman naik gunung yang biasanya kalau sudah mendekati puncak akan banyak angin. Makin semangat saya…

spinner
(energic spinner)

Sempat berhenti di gerbang telaga warna untuk foto-foto. Kaki udah mulai berontak sih, tapi semangat sedang tinggi, cuma sayang saja pemandangan indah berkabut ini kalau sampai terlewat diabadikan.

kabut
ipdn berkabut
(Di gerbang telaga warna)

Gak terlalu lama setelah start lagi segera terlihat restoran Rindu Alam di sebelah kanan. Aduh. Perasaan campur aduk, genjot tambah semangat. Puncak Pass tak lama lagi…

Cihuyyyy….
Akhirnya lulus deh matakuliah ini!! Perasaan excited campur aduk sampai kucium itu sepeda Kanjeng Kyai Cozmic…

Disambut Pak Rektor yg pesanan sate kambing nya sudah mateng.

awas rem
(Puncak pass 1484m dpl)

bersama pak rektor
(Dapat nilai ‘lumayan untuk pertama kali’ dari Pak Rektor)

Pas akan turun Pak Rektor bersabda, “Karena baru pertama kesini aku recommend kita turun lewat onroad saja Tok, biar kamu bisa melihat kehebatanmu sendiri”. Wah merinding saya dengernya…
Semakin merinding waktu turun melewati jalan onroad dan melihat dari arah sebaliknya jalan menanjak yang sudah kita lewati…

Mind over body kata Oom Rivo. Kekuatan pikiran dan semangat mengalahkan batasan kekuatan fisik!!

Foto2 ada di http://1pdn.multiply.com/photos/album/12/Turunan_RA_-_GAdog


IPDN Trip: Gadog – Rindu Alam dalam Kabut Tebal (part 1) Gadog-Taman Safari

Setelah membaca cerita Nota dan melihat foto2 perjalanan IPDN di Dieng, saya jadi makin penasaran dengan nanjak on-road bersama IPDN. Terusterang sebelumnya nanjak on-road, apalagi di daerah ramai lalulintas seperti Puncak, tidak terlalu menarik buat saya.

Kanjeng Kyai Cozmic masuk ke si macan, dan dihari selasa yang lucu ini kami ke Gadog Ciawi, sampai dalam 90menit menyetir dari Cikarang. Segera kubuka bekal makan pagi, “Roti Gembul” dari Bandung. Ada lima seplastik, dua lagi kuberikan ke kakek pengemis tua yg tampak memelas dan kasihan sekali, “Belum makan…” Katanya, tak terdengar suara, hanya kubaca gerak bibirnya saja.

Jam 8 pagi parkir di Gadog. Sms dari MBah Rektor mengabarkan kalau beliau kena macet. Ini adalah sms kedua dari bliau, tadi pagi subuh sms pertama berbunyi, “Heavy rain… jalan terus…”. Memang cuaca pagi itu ‘pesimistic’ banget: mendung, redup. Sepanjang malam hujan tak berhenti, dan pagi itu pun sepanjang perjalanan dari Cikarang ke Gadong juga hujan terus tak berhenti. Jadi suasananya sendu. Tapi kapan lagi coba bisa dapat kuliah khusus begini. Imagine? Kuliah langsung diberikan oleh Pak Rektor IPDN secara privat??

Siap2 sepeda. Sempat kagum dengan perlengkapan yang dibawa MBah Rektor di mobilnya.. sampai stand u-lix pun dibawa!! Sepeda yang bersih kinyis-kinyis sampai terlihat kecemerlangan chrome sprocket-nya itu segera disemprot rantainya dengan ‘chain lube’. Saya intip tas punggung cuma berisi wind breaker, “buat turun nanti To, dingin” katanya. Bidon satu, beda banget sama saya yang sudah ketagihan minum, dua botol 1/2 liter di frame dan satu liter di hydropack.

Berangkat juga… Pak Rektor mempersilahkan si praja duluan. Baru 500 meter berjalan menghadapi tanjakan terjal pertama itu RD sudah berbunyi, ‘ clap-clap-clap bleteak-bletek-bletak”. Aduh!! Berhenti deh kita. Dengan sedikit test dan coba-coba Pak Rektor memberi komentar singkat, “RD-mu Tok…”. Iya emang ini RD yang aslinya dari sepeda WimCycle Roadchamp, sudah saya siksa dengan medan: sukamantri, rindu alam, JJ, JPG, Cioray. Belum lagi dipake NR Jumat malam dan XC Cikarang Minggu Pagi dan b2w tiap hari dari Juli 2007. Udah lewat break-even nya kali ya?? Alhasil karena spring RD lemah, sampai akhir perjalanan ini saya cuma bisa pakai gear depan kedua, tidak bisa dapat bonus gear depan terkecil… Ampuuunnn… Kombinasi gear yang saya pakai: gear depan tengah, gear belakang antara 8-9 lalu kadang turun ke 6-7 jika ada ‘bonus’ jalan agak melandai.

1
(spinning)

Di bagian 5 km paling berat ini jika sudah suntuk mengayuh, saya akan menyanyikan dua lagu favorit nanjak hehe.. “Naik-naik ke puncak gunung” kalau masih bosan juga lagu “row-row-row your boat..” hihihi…

Hanya sekitar 1 km lebih sedikit Pak Rektor bisa sabar menemani saya di belakang. Langsung bliau gatel dan segera melaju kedepan. Buat saya 5km pertama adalah bagian paling berat. Paha masih tersiksa karena gear depan kedua memberikan beban power lebih. ‘Memorize pedalling’ juga belum lancar, masih terkaget karena medan yang menanjaaaakkk terus. Namun setelah melewati 5km, melewati pasar Cisarua, saya sudah mulai bisa menikmati tanjakan demi tanjakan. Yang terutama adalah secara mental sudah tidak heran lagi menghadapi medan yang nanjak tiada henti.

Saya teringat dan termotivasi cerita rekan IPDN Nota yang strugling dengan gear juga saat nanjak Gadog-RA. Bliau juga mengambil banyak ‘illegal pitstop’ alias pitstop liar. Saya juga ‘terpaksa’ menjalani satu pitstop liar di km 9.9, di tanjakan Cibulan.

2
(foto pitstop ilegal cibulan)

Nyesel juga pitstop disini, karena cuma 100 m kemudian sudah menunggu Pak Rektor di pertigaan Taman Safari… Cihuiii… pitstop legal… Tapi kalau saya tidak ambil pitstop itu mungkin saja saya sudah kraam. Kaki sudah kaku dan pegel sekali. Nyut… nyut… di paha

3
(angkot tidak laku)

bersambung ke bagian kedua….
foto-foto ada di multiply IPDN http://1pdn.multiply.com/photos/album/12/Turunan_RA_-_GAdog


Trip IPDN CiOray (bag 3): Turun dari CiOray, bernafas dalam lumpur…

Tulisan ini lanjutan dari bagian kedua…

Sesampainya di ‘warung mamang’ kami menjumpai warung ini tutup. Waduh! Hujan2 gini, baju basah, semua bawaan basah, dingin setelah berhenti genjot… Disaster kalo warung ini tutup!

Pertama ada rekan yg nekat memanfaatkan keadaan, lihat ada kambing (diikat tali, ikut berteduh di teras warung) lansung sikat sigap bergaya pemerah susu!! Tentusaja si kambing berontak, tapi sang pemerah susu rupanya punya jam terbang cukup tinggi, mayan dapat 1/2 gelas!

perahkambing
(Foto perah susu kambing)

Sementara anggota yang lain dengan cukup beringas menggedor2 pintu warung. Hehe… Kalap hasil 3 jam genjot tanpa ketemu peradaban. Untung warungnya jadi buka jug karena ini, hidangan pertama adalah air hangat. Aduh!! Itu ‘cuma sekedar air hangat’ saja sangat nuikmat! Bayangkan badan habis diforsir, haus karena air habis, kedinginan karena kehujanan dan berhenti genjot, cuaca masih dingin dan hujan deras… Setengah gelas air hangat paling nikmaaattt…

Simple things in ‘normal life’ (air hangat) proven to be really valuable in this situation.

Barangnya sih ‘cuma air putih hangat’ namun ‘value’ yan ditambahkan pada minuman ini mungkin setara dengan kopi starbuck. Kopi-nya simple dan biasa saja, tapi ‘value’ dari seluruh pengalaman ngopi dan pemilihan tempat serta brand positioning starbuck yg membuatnya berbeda! Begitu pula dengan air putih hangat ini, seluruh pengalaman indah dari start, nanjak, sampai mencapai tempat ini menjadi ‘value’ luarbiasa bagi air hangat. Mungkin kalau bapak warung menjual air hangat ini 20ribu per gelas masih dibeli juga hehe..

Berenti mayan lama, sejam lebih, tiduran dan dilanjut makan mie telor. Hujan tak juga reda, akhirnya hantam saja berangkat lagi.

Pak Rektor paling mendapat banyak komentar karena hari ini semuanya baru: sepeda Titus RacerX, kacamata rudy project, jersey BFEGTB, jam tangan altimeter, tapi giliran mau ujan2an plastik buluk bekas belanja mamang warung diembat juga! Oom Iye juga menemukan helm ala cioray yg sangat cocok untuk medan seperti ini. Mayan, ada yg diketawain…

plastik
caping
(Foto plastik dan caping)

Turun naik di perbukitan kampung Cibuntu, medan jalan makadam basah hujan dan sedikit berlumut. Sempat berhenti 30menit lebih karena rantai salah satu sepeda rekan putus.

rantai
(Foto rantai diperbaiki)

Jalan naik turun makadam yang cukup menyenangkan karena di setiap sesi tanjakan kita berlomba untuk menyelesaikannya tanpa turun dari sepeda. Begitu turun berarti dilanjut TTB karena gak mungkin dapat momentum awal untuk mulai genjot. sekarang baru paham juga kalau kampung ini disebut ‘Cibuntu’, dari arah doubletrack klapanunggal memang dipastikan 4WD pun akan terhenti di kampung ini, jalan selanjutnya adalah jalan kampung plus singletrack. Kampung diakhiri dengan turunan makadam panjang dan curam di dekat sebuah sd. Kembali seorang anggota tim kraam dan terjatuh disini. Padahal kita ditonton belasan anak2 dan penduduk.

Selanjutnya? Turunan-tanjakan singletrack dan doubletrack yang fuuulll lumpur!! Ya ampun!! Kita tidak hanya mengahdapi medan turunan dan tanjakan tanah yang licin, namun juga lumpur yang bikin ban sepeda kita jadi donat!!

Sayangsekali baterai cadangan kamera dipakai untuk mengganti bateri GPS jadi tidak ada foto dari kamera saya. Bagaimana mau motret juga? Tangan penuh lumpur karena rutin membersihkan ban setiap bbrp ratus meter.

Saya masih belum paham bagaimana menaklukkan medan model begini, saya sudah ganti ban belakang dg Maxxis Larsen TT 1.9 yang lumayan banget membantu kelancaran roda berputar di tengah lumpur. Tapi ampun rasanya salah banget ambil ban depan 2.1. Bentar-bentar ban depan sudah gak mau berputar lagi, di turunan pun dia stuck harus didorong. Ampuuuunnn…

Saya yg masih pakai V-Brak putuskan lepas brake dan biarkan saja sepeda berjalan turun. Kalo macam2 nanti sepeda tinggal dilepas saja biar bablas sendirian. Bagian turun yang semula diperkirakan cepat dan singkat ternyata ditempuh dalam sekitar 3 jam juga!! Meskipun di 20% akhir kita mulai dapat jalan on-road namun kita melewati 5-6 punggung bukit (artinya harus ttb nanjak di jalan lumpur) dan satu sungai besar. Entah hiburan atau apa, dosen berkata track ini dikala kering bisa ditempuh dalam 1/2-1 jam.

ular lumpur

Proud Mbah

perkosa

motor aja kesulitan
(Foto track dan racie Mbah)

Bernafas dalam lumpur adalah ungkapan yg tepat sekali. Lumpur all the way..

Singkat kata sampai di loading point sekitar jan 5sore. Umum memang di daerah ini membawa hasil bumi dgn pick-up kecil (sekelas hijet/carry) ke arah citeureup.

Gambaran vertikal dan horisontal track bisa menunjukkan identitas track ini
vertikal cioray

Fuihhh… Kembali ke peradaban!!


Trip IPDN Cioray (bag 2): Nikmatnya Nanjak . . .

Cara menuju titik start ada di bagian pertama…

Trip ini menyeberangi kawasan CiOray, Gunung Putri, Bogor. Jalur yang diambil adalah: Jalan Raya Gn Putri – Klapanunggal – nanjak ke Kampung Cibuntu – Cioray

Titik start berupa persimpangan dari jalan onroad menuju jalan ke galian batu kapur, Saatnya offroad dimulai. Kita melewati jalanan tambang galian batu kapur yang dilewati truk pengangkut. Sampai di site penambangan, senyum banyak merekah dari para anggota trip ini. Disinilah saat yang baik untuk mendapatkan background bagus. Ambil fotoo…

start
naris
(foto2 narsis diatas batu)
senyum
(saya jarang lho nampang begini hehe)

Selanjutnya kita memasuki pedesaan disambut oleh anak-anak kecil yang ramah melambaikan tangan. Rupanya desa ini masih jarang dilewati orang asing? Setelah pemanasan dengan beberapa tanjakan dan turunan kita sampai di pitstop terakhir di peradaban. Inilah warung terakhir. Kita isi bekal air dan minum teh panas manis sebentar.

anak
(foto anak kecil, “dadaaahhhh… mister…”)
warung1
warung
(foto2 di warung terakhir)

Tampak tanjakan pertama setelah warung sudah menunggu dengan mesra. Sebagai praja junior IPDN (Ikatan Petjinta Djalan Nandjak) saya sudah diiming-imingi bahwa track setelah ini adalah semua isinya kenikmatan menanjak, tidak ada lagi turunan. Seperti juga member IPDN yang lain, seluruh tim tampak sukacita bahagia menyambut rangkaian kenikmatan yang akan segera hadir. Memang ada beberapa komentar menyedihkan, katanya “Tanjakan sampai puncak cuma dua jam kok..” Huuuu… penonton kecewa… Udah jauh2 ke Citeureup masak cuma dua jam nanjak?

tanjakan1
(ini medan jenis pertama)

Bagaimanapun the show must go on. Mulailah segenjot demi segenjot, para pecinta jalan nanjak ini menjalani hobby menyenangkan ini. “Ini tanjakan neraka, technical sekali..” kata MBah WTT, Sang Rektor IPDN sambil memimpin didepan saat kami kebingungan di sebuah pertigaan, rupanya belok kanan. Dan ini adalah kebingungan kami yang terakhir tentang jalan. Setelah ini tidak ada lagi persimpangan atau belokan jalan. Hanya satu jalan penuh kenikmatan menanjak sampai ke kampung Cibuntu. Huraayyy…

Track berikutnya adalah bergantian antara tanjakan landai yg gowesable, tanjakan menantang yang kadang harus terputus, dan tanjakan super yang ungowesable. Ketiga macam kenikmatan itu kita nikmati bersama, tim sembilan orang: Rektor, Purek, Dosen dan Praja. Secara umum track adalah doubletrack jalan yang dibuat dengan susunan batu kapur, sementara lingkungan sekitar jalan adalah perbukitan kapur yang gundul diselingi tanaman yang bersusah payah tumbuh di tanah yg nyempil diantara bebatuan kapur. Gak heran kalau ular pasti banyak sekali disini, sekilas saja tampak bayak celah dan gua kecil di sekitar jalan diantara bebatuan. Rupanya semalam habis hujan, temperatur panas sekali (‘dekat neraka’ kata seorang dosen), sepanjang track full nanjak ini medan berganti secara cukup siginifikan.

teduh1
(jarang banget daerah teduh begini)

Jenis tanjakan pertama adalah batu kapur disusun namun dengan diselimuti tanah lumpur diatasnya. Tanah lumpur ini cuma sedikit tidak sampai menutupi batu kapur, sehingga tanjakan jenis ini kalau digenjot akan sangat mudah slip ban belakang. Beberapa praja muda yang baru pertama menempuh rute ini sampai tergirang-girang menghadapi kenikmatan jenis tanjakan spesifik ini. Ada seorang praja yang saking semagatnya maju dan gowe paling depan mendahului rombongan, lalu kita lihat ada rumput/semak bergoyang dengan keras di depan. Rupanya saking excitednya sampai rela mencium track. Praja muda ini sukses memeluk bumi dengan tulang kering menyentuh crank terlebih dahulu. Meringis penuh nikmat, daripada sakaw seorang Dosen segera menyemprotkan ‘pain killer’ ke kakinya.

(tambahin fotonya Bayu dari kameranya Oom Oni, note: belum di upload)

Jenis kedua adalah jenis tanjakan yang semangkin tajam sudutnya. Sangat amat jarang kami bisa menghabiskan kenikmatan menanjak yang disediakan oleh alam ini secara tuntas. Umumnya sebagian besar dari kami hanya melahap dengan nikmat sampai kehilangan keseimbangan atau kehabisan power, lalu terpaksa dilanjutkan dengan TTB. TTB semata dilakukan untuk dapat menemukan area berikutnya yang sedikit saja menyisakan kelandaian untuk mulai genjot lagi. Begituuuu… terus.
Sebenernya dengan kondisi kering, jalur ini 95% are gowesable; sayang kelembaban batuan kapur yang tinggi dan pemilihan ban yang kurang tepat menjadikan seringnya beberapa peserta harus TTB di 1/3 terakhir pada setiap tanjakan2 nikmat; ban menjadi mudah sekali slip.

Tanjakan jenis kedua ini sudah benar-benar didominasi oleh tumpukan batu, sangat jarang ada tanah ataupun lumpur diatas track, mungkin lumpur sudah terbawa hujan kebawah dan akan jadi banjir di jakarta/Bekasi. Tanjakan jenis ini tentusaja memberikan kenikmatan yang semakin lebih kental kepada para civitas akademika IPDN, saking enjoy dan excited-nya ada yang tertawa sendiri, menyebut nama Tuhan, berteriak, atau hanya menikmati sambil menitikkan keringat dingin terus-menerus berusaha genjot dan lihat headset masing-masing.

Buat saya yang masih status praja junior paling muda di IPDN bagian ini adalah bagian menguji batas diri saya. Saya jadi mengerti mengapa HARUS mencintai tanjakan disini? Ya iyalah.. masak balik kanan sendirian, ojek apalagi angkot tidak ada disini!! Jangankan angkot, manusia lain aja sangat sulit ditemui di daerah sini. Sementara para senior, Dosen, Purek dan Rektor tampak sangat menikmati skill dan power yang sudah mereka miliki. Inilah track yang bisa mengeluarkan semua kemampuan handling sepeda di tanjakan offroad berbatu.

diri
(foto track)

Bicara cara menikmati tanjakan, ternyata ada rekan yang sampai harus tegang otot-otot kakinya!! Otot kaki tiba-tiba keras dan terasa sakit sekali. Oya, “Pain is your friend” berlaku sekali di civitas academica IPDN. Makanya kemana-mana pak Purek selalu sedia Pain Killer heheh… Karena dia (pain) pasti datang.

Semakin keatas pemandangan semakin indah, tanjakan semakin ngacir. Jenis tanjakan sudah masuk tanjakan super yang Cuma bisa sebentar saya gowes, langsung TTB. Sampai akhirnya kita disuguhi (tumben) sedikit turunan bonus. Disekitar lembah kecil ini ada pepohonan kopi, jauh lebih teduh dan terasa penuh oksigen dibandingkan track yang sudah kita lalui. Rupanya inilah pitstop resmi kebun kopi.

kopi
(foto pitstop kebun kopi)

Sambil menunggu anggota tim re-group, saya sebagai praja junior dapat banyak wejangan dan kuliah menanjak, posisi badan saat menanjak, gear yang cocok buat menanjak, kenapa hardtail buat menanjak, dll. Wah, inilah rupanya yang disebut kuliah umum. Sambil kongkow kita kuliah nanjak dari dosen2 dan Purek2.

Sempat dikejutkan dengan suara mesin yang semakin mendekat. Ya ampun!! ternyata ada dua motor trail sedang speeding mendekat!! Kacau balau kocar kacir lah kuliah umum yang dilaksanakan sambil selonjoran di jalan berbatu itu. Gak berani lah masuk keluar jalan dikit, rasanya dimana2 semak pasti tempat ular bersemayam, sesuai namanya Cioray.
Cioray => Ci = Sungai/desa Oray=ular
Cioray/Snakeriver

ttb
ttb2
(TTB deh…)
jahanam
(tanjakan longsor jahanam)

Kenikmatan menanjak lalu kita lanjutkan dengan peringatan salah seorang Purek, “Ntar kalo tanjakannya dah nggak habis-habis, berarti udah mau sampai puncak”. C’moonnn… katanya tadi najak cuma dua jam? Sekarang udah hampir tiga jam kita nanjak kok belum ada tanda2 seperti disebutkan diatas?

Akhirnyaaa… sampailah juga kita di jembatan kayu, lalu sungai kering yang segera diikuti dengan banyak vegetasi tanaman dan berubahnya medan menjadi tanah dan agak melandai. Fuih!! Katanya inilah puncaknya. Di sekitar puncak tampak ada rumah penduduk lengkap dengan sapi peliharaannya. Buset, rumah ditengah hutan begini?

Baru seteguk dua teguk minum, BRESSS!!! Cuaca yang tadinya panas berubah hujan!! Kocar kacir kita. MBah Rektor segera bertitah, “Lanjutkan genjot, warung sasaran sudah dekat!!”.

Medan selanjutnya adalah jalan tanah doubletrack yang naik turun. Memang tidak semuanya tanah sih, ada juga diseling beberapa kali batu kapur masih muncul. Rumah penduduk di kiri kanan jalan juga makin sering terlihat. Turunan juga makin sering menyapa meskipun tetap banyak juga tanjakannya.

Ini adalah pengalaman pertama saya offroad dalam hujan deras. Jika selama ini kita sering genjot sepeda melewati ‘jalan air’ yang menjadi semacam singletrack, di track ini saat hujan itu jalan air penuh dengan air. Mau nanjak mau turun. Seru saja, berjalan bersama air. Sampailah di suatu tanjakan tanah yang panjang dan tanpa henti. Energi saya sudah habis. Sadel saya peluk handlebar saya arahkan lurus kedepan, mata melihat ke tanah hanya memperhatikan kaki langkah demi langkah maju saja, yang penting tidak terpeleset. Beruntung saya melewati tanjakan terakhir ini dengan selamat, karena ada rekan yang melihat beberapa kalajengking hijau melintas menyeberang sampai harus terlindas ban sepeda.

warung1
(foto warung)

FOAAA… Sampailah kita di warung Mamang, kampung Cibuntu.

lanjut ke bagian ketiga…


Trip IPDN Cioray (bag 1): Menuju Titik Start

Panas dingin semalaman menghadapi trip kedua saya bersama IPDN ini. Trip pertama, ke Sukamantri, benar2 membekas di kenangan saya, termasuk bagaimana rim sepeda bisa peyang dan sepeda sampai goyang inul pas turun onroad ke bogor. Sudah jauh lebih pede sih dg sepeda sekarang, tapi tetap saja, seperti orang mau ketemu pacar aja, deg-deg-an gak keruan. Padahal mestinya kan ngikutin ilmu Sam Hill, tidur jam 9/10 malam sebelum lomba (halah!!)

Berangkat, memanjakan diri sarapan di McD Hero Padjajaran Bogor, langsung meluncur ke Citeureup. Untung tujuannya sederhana, cari Ramayana buat ngikut parkir. Huaduh, ramayana blom buka!! Ya iya lah, jam 7 pagi gitu loh! Setelah ngocol membual sana sini sama pak satpam dan menyelipkan tanda persahabatan ala Indonesia (salam tempel) akhirnya mobil parkir manis dan mulai unload sepeda. Halah! mana Oom Lilik katanya nunggu di Gunung Putri lagi. Semua nama ini kan saya blom pernah lewat samasekali! Akhirnya tapi ketemu juga pas onroad di Gunung Putri, ternyata Oom Oni dan Oom Lilik saya pernah ketemu pas di Sukamantri. Onroad ke polsek Klapanunggal kami disuguhi turunan dan tanjakan yg mayan heboh juga di skitar jembatan. Hmm. Mayan buat pemanasan.

0713
(0713 si macan parkir nyaman)

Ternyata Polsek pas disebelah Korem dan Kodim, Jl. Raya Narogong KM 15.5 Klapanunggal

Setelah standby bersama Oom Oni dan Oom Lilik akhirnya lewatlah serombongan pesepeda ngebut!! Buset kenceng banget! Akhirnya tim lengkap sembilan orang: MBah WTT, Oom Oni, Oom Iye, Oom Lilik, Oom Bobby, Oom Bayu, Oom Adit, Anto (reporter hehe). Setelah Polsek Klapanunggal (dari arah Bogor) ada pertigaan berbelok ke kanan. Jalan hotmix disambut beberapa toko kelontong kecil. Setelah membeli bekal sekadarnya, coklat wafer dibagi-bagi, minum diisi penuh, kita menuju titik start. Lho? Ini belum start?

0904
(0904 Kanjeng Kyai Cozmic sok pede nyebelahin Racie si MBah WTT)
0905
(0904 Sepeda ketemu sepeda)

Lalu kita onroad menuju titik start. Wah, excited banget saya menjalani perjalanan ini. Seru banget rasanya genjot bareng para seniors yang namanya selama ini cuma saya baca di milis-milis.

0917
(0917 Onroad menuju titik Start)
0918
(0918 BUUMMM!!! Inilah Pegunungan Gunung Putri)

Sempat kita terkaget-kaget dengan sambutan yang ‘meriah’. BUMMM!! Terdengar suara menggelegar, ternyata itu adalah dinamit untuk menghancurkan batu kapur yang ditambang di sekitar kawasan Klapanunggal ini. Buset! Kaget juga. Di kejauhan kita lihat asap membumbung… Sambutan yang seru untuk sebuah petualangan yang bakal seru.

berlanjut ke bagian kedua…


IPDN Sukamantri for Dummies

naik uphilldaniel

Sebagai pesepeda komuter biasa, bike to work tiap hari tapi deket (satu digit km), lalu mengikuti trip sukamantri, ingin memberikan beberapa pelajaran yang saya petik:

(1) Lo Mampu
Saya percaya bahwa setiap b2w-ers apalagi yang rutin frekuensinya pasti mampu. Bukan berarti medannya ringan, tapi jangan underestimate kekuatan paha dan betis serta paru-paru anda. Asal rutin b2w.

(2) Siapkan Mental
Tanjakan di fly over ataupun underpass sering kita hindari, padahal tanjakan tuh samasaja dengan medan datar, bisa digowes juga. Tips umum ya atur napas dan fokuskan pada gowesan serta keseimbangan sepeda, karena selain nanjak juga medan gak mulus (batu2 dlsb).

(3) Istirahat yang cukup
Terutama menghadapi bagian tanjakan 12,5 km ke atas akan merupakan deraan fisik yang berat dalam waktu yang relatif singkat. Istarahat cukup sehari sebelumnya, Sam Hill aja tidur jam 10 mlm sebelum lomba hihihi…

(4) Persiapkan Gear Nanjak
Untuk part nanjak siapkan drivetrain sepeda anda dengan baik. Yakinkan perpindahan gear bakal mulus, terutama perpaduan gear terkecil depan dan terbesar dibelakang. Bersiaplah buat menjaga keseimbangan sambil nanjak dg kecepatan pelan. Jangan malu buat gowes pelan, coba hindari TTB.

(5) Persiapkan Gear Turun
Part turun mungkin tidak se-ekstrim downhill yg serem2, tapi persiapkan ban dg traksi yg cukup (2.1 keatas?), rim yang memadai, protector, dan yang paling penting: rem yang prima.

Selain persiapan diatas yang lain standar saja: makanan penambah energi (coklat, pisang), minum, baju ganti, jas hujan, ban dalam+tools, helm+sepatu, obat2an, etc.

Yang paling penting adalah nikmati saja menanjak seperti kita naik gunung. Mungkin memang menyakitkan, tapi “pain is your friend”. Saat nanti bisa menikmati menanjak seperti menikmati turunan, berarti anda mendapatkan esensi IPDN (cieee): semua kegitan bersepda gunung akan dobel nikmatnya, naiknya dan turunnya.

Saat menulis ini saya baru sekali ikut trip IPDN, anggap saja rookie berbagi, semoga bermanfaat.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.