enjoy every cadence, every breath…

sepeda jalur cikarang

Melengkapi hobby bersepeda gunung…

Saat merasa trip-trip dengan jalur biasa perlu ada variasi, saya akhirnya memberanikan diri melayani ajakan trip bersepeda plus menginap. Waktu itu adalah trip ke Papandayan gowes dari Cileunyi. Ternyata trip panjang seperti ini bukan saja memiliki sensasi yang berbeda, namun pengalaman menginap dalam perjalanan bersepeda benar-benar menjadi pengalaman tak terlupakan, ngangenin, dan pengen ngulang.

Sesuatu yang berbeda, sesuatu yang lain, sensasi tersendiri inilah yang diburu. Saya rasa ini pula yang dicari rekan-rekan mailing list cikarangmtb@yahoogroups.com yang weekend lalu melakukan trip Cikarang-Pasircongcot-Cherry-Walahar. Mendengar cerita rekan-rekan forum sepedaku.com dari Karawang tentang trip Cherry yang panjang-panas-rolling, rasanya udah bikin gemetaran duluan sebelum merencanakan pun. Tapi dasar sudah terlanjur penasaran pengen mencoba maka bisa dilihat cerita dan foto-fotonya di multiply Om Ardian http://ardisofwan.multiply.com/photos/album/9/Oh_Warto…Oh_Wanto…Siapa_bilang_Cheris_Panas

cherry
Foto pesepeda ke cherry

Pasircongcot-Cherry-Walahar Route Map
(tracklog courtesy of Om Hanif)

Mencoba menarik benang merah. Saya pikir kenapa trip ini dicoba tentunya karena rasa ‘penasaran’ yang tak bisa ditahan. Ini sebenarnya kan awal dari jiwa ‘petualangan’ yang mungkin tidak ada di kepala setiap orang. Sudah tahu panas, panjang, lama, tapi pengen dicoba juga? Ini tentunya berkaitan dengan keinginan untuk melihat sisi lain, dan sensasi lain dari bersepeda gunung. Hobby bersepeda gunung terasa semakin lengkap dengan menjalani berbagai macam tipe medan dan cuaca. Lalu bagaimana menjelaskan empat rekan yang dalam keadaan panas pol malah memilih gowes tanpa baju jersey?? Hmmm… yang ini agak sulit menjawabnya…

Sebenarnya mirip juga dengan cerita diatas. Jika kita sudah pernah menjalaninya, lalu merasakan apa yang kita jalani sebagai ‘hal biasa’, misal medan nanjak turun rolling tak henti-henti di jalur Cherry ini, akhirnya kepala berputar otak untuk menjadikan trip ini lebih berharga dengan, malahan, menambah beban fisik kita dengan merasakan sinar panas matahari langsung menyengat seluruh tubuh bagian atas kita, dengan melepas seluruh kaos jersey…

Banyak sekali pilihan trek yang pada umumnya ada di daerah pegunungan diatas 1000m dpl yang berudara sejuk. Tentu jika kita lewati trek yang itu lagi kadang terasa tidak lengkap. Pengalaman bersepeda gunung untuk beberapa orang juga dilengkapi dengan trek yang panas menyengat, dengan matahari yang lebih dari 10 biji diatas kepala.

Penjelasan yang sama mungkin dilakoni oleh rekan yang justru menggunakan pakaian serba hitam di trek nanjak full panas, atau memakai celana jeans di saat nanjak cariu-puncak pinus yang sangat amat panas. Rupanya panas kurang panas jadi ditambah dengan bumbu-bumbu baru untuk membuatnya lebih ‘nendang’. Seperti makan ditambah sambal.

Kembali. Menurut kacamata saya itu semua masih saja pilihan. Jadi kesimpulan apa yang akan kita ambil dan kita pilihan adalah menjadi pilihan di tangan masing-masing…

note: seperti ditulis di mailing list cikarangmtb@yahoogroups.com


Nyari pulang B2W yang asyik di Cikarang

Pulang kerja bersepeda adalah salah satu kegiatan yang paling saya tunggu-tunggu. Beberapa kali saya cerita disini ttg jalur saya mencari rute gronjalan antara kantor dan rumah. Memang paling enak pulang kerja, beban kerja udah lewat, pulang sampai rumah juga bisa langsung mandi makan tidur. Tidurnya pasti lebih nyenyak dari biasanya. Blom kalau dapat pemandangan sunset yang aduhai…

Saya memang mencoba cari yang berakhirnya di AA Bike. Bisa ditutup dengan ngobrol dan lihat2 barang baru hehehe…

Beberapa track pulang kerja saya dari Blok V Jababeka:
1) Blok V Jababeka >SGC >Lemahabang >Graha Pemda >Bugel Salam >AA Bike
2) Blok V Jababeka >Wisma Mattel 1 >Kampung >Blok C >Kontrakan 1000 pintu >Pasimal >Rumah
3) Blok V Jababeka >Jababeka 2 >Tropikana >Ujung aspal roller coaster >Bugel Salam> AA Bike
4) Blok V Jababeka >WTP >Kalimalang offroad >Tegal Gede >Kalimalang Onroad >Pintu belakang Cikarang Baru >Rumah
5) Blok V Jababeka >Carrefour >Lippo >Hyundai >Lincoln >Kampung >Sate Kodam >Cicau >Pemda >Deltamas >AA Bike (Jalur Duet SX)

Kemarin saya coba jalur yang baru saya lewatin, dengan mengadopsi aliran kepercayaan NII, lumayan dapat singletrack dan turunan mak nyoes termasuk panggul sepeda sambil menyeberang sungai diatas jembatan yg hanya dua batang bambu.

Blok V >Jababeka 2 >ex VGI >Tanjakan maut >Kampung >Kalimalang Onroad >Desa Cibatu >Nyeberang tol

sempat ragu2 apa lewat ‘jalur UKA-UKA’ saja buat langsung tembus AA Bike. Kayaknya sawah tadah hujan sudah mulai kering.

akhirnya lurus >Ujung Cibodas (ketemu jalan beton) >ujung jalan beton

disini salah ambil jalur singletrack, saya ambil kekiri (NII) yang bener ke kanan dan nembus ke Deltamas. Karena ambil kekiri jadinya ketemu anjing, tapi juga ketemu jembatan dua bilah bambu yang keren banget.

ketemu lagi jalan beton (dari arah delta ke AA Bike) >AA Bike

Agak pendek, sampe AA Bike aja Om Asol blom nyampe rumah. Sayangnya lagi males berhenti buat ngambil kamera. Hampir gak berenti kecuali pas NII di tengah sawah.

Yang masih pengen dicoba
- jalur UKA-UKA, lewat cibatu langsung tembus AA Bike
- ke kolong tol hutan bambu, lalu nanjak ke tiga bukit, keluar di jengjeng lalu AA Bike (kayaknya bakal kemaleman deh)


A Night at The Pasircongcot Trails, part2

post ini adalah bagian kedua lanjutan dari bagian pertama….

pasircongcot

#5 Kampung Lembah- Puncak Bukit

Di ujung lembah, di tengah kampung, para perokok segera mengeluarkan senjatanya. Klempas klempus di tengah keheningan dan gelap gulita nya malam. Saya mulai merasakan apa komentar Om Ir tentang baju kutung tanpa lengan yg saya pake. Wah, angin tengah malam di perbukitan gini kerasa dingin juga sampe ke dalam dada. Mungkin saja bukan kostum yg salah tapi memang secara psikis saya sedang down karena kondisi fisik.

Melihat gejala trek ini, berhenti agak lama di lembah, saya sudah membayangkan kalau cerita berikutnya adalah tanjakan, mungkin sedikit panjang. Nah, ini yg agak meningkatkan semangat!

Perbukitan pasircongcot memang agak berbeda dengan Cikarang. Yang bawa gps bisa lihat kalau di Cikarang naik turun bukit ketinggian kita naik turun sekitar 50-75m dpl, kalau di Pasircongcot ini naik turun sekitar 100-150m dpl. Menurut saya Pasircongcot adalah titik tengah kombinasi antara trek perbikitan Cikarang dengan trek perbukitan Purwakarta/Jatiluhur. Di Purwakarta bukitnya lebih panjang lagi tanjakan dan turunannya.

Segera setelah rokok Om Boni selesai disedot, team beringsut kembali, menjalani singletrack di tengah kampung lalu ketemu sedikit turunan yang dilanjutkan dengan melewati sepasang jembatan bambu. Seru banget lho, apalagi kita yg baru sekali ini lewat trek, kejutan2 di tengah malam termasuk jembatan bambu berurutan, wah bikin kita terkaget-kaget senang.

Berjalan di sebelah sedikit sawah yang tersisa (jarang banget lihat sawah di sekitar trek) kita harus cukup waspada melahap singletrack karena bisa tiba2 ketemu selokan kecil yang hanya ditutup beberapa bilah bambu/kayu. Salah-salah ambil jalur (note: istilah NII) bisa2 kita kejeblos berguling-guling. Wong semua tim masih saja ngebut dan gak mau ada yang tertinggal.

Segera kita disuguhi tanjakan yang seperti air mengalir, sahut menyahut, sambut menyambut gak habis-habis sampai puncak bukit. Di beberapa titik tanjakan memberikan kemiringan dan kejutan belokan yang lumayan aduhai mohai. Yummy yummy… “trek trek” seru saya, biar rekan-rekan yang memilih nuntun memberi jalan buat yang mau coba digenjot. Fuiiii… This is the best part sampai kita di puncak tertinggi sebuah bukit.

Di kejauhan kita bisa melihat sinar lampu kehidupan dibalik bukit2 yang jauh. Kelap kelip yang pasti menarik buat siapa saja untuk meninggalkan tempat gelap ini menuju kesana.

Om Hanif, Om Sholeh PSI dan Om Harun PSI segera secara bergantian bercerita pemandangan dari puncak bukit ini. Katanya sih Cigeuntis kelihatan, Cikarang kelihatan, Purwakarta dan perbukitan sekitar Jatiluhur kelihatan, apalagi SanDiego Hills dan KIIC yang sebenarnya sudah deket banget.

Inilah jeleknya NR. Kita tak melihat apapun kecuali kegelapan dan keremangan bayangan bukit dan lampu saja di kejauhan. Tapi melihat gersangnya dan hampir tak berpohonnya lingkungan sekitar, wah, saya mikir dua kali juga buat sampai di area ini diatas jam 10.

Herannya, meskipun angin malam yang dingin semestinya bikin kondisi tubuh saya makin drop, tapi puncak bukit ini terbukti jadi titik balik saya. Habis titik ini, mungkin lebih tepat habis ketemu tanjakan Mooy tadi, saya mendapatkan ‘second wind’.

#6 Puncak Bukit- Mimpi NasiUduk

Setelah puas berenti istirahat, menata nafas dan minum tegukan2 terkahir (air di bidon saya habis disini), akhirnya kita berangkat lagi. Medan turunan. Posisi sepeda saya menjadikan saya genjot di depan. Segera menyambut rangkaian turunan sambut menyambut sambit menyambit di kegelapan malam. Headlamp saya posisikan ke lampu terang sementara di handlebar juga ada satu lampu lagi. Sambil deg-deg-plas saya biarkan sepeda meluncur cepat turun. Mantap banget meliuk liuk mengikuti singletrack tanah halus yang keras. Huenak tenan. Beberapa kali kejutan kegelapan ala night ride; tiba-tiba belok, tiba-tiba terhalang rumput, tiba-tiba berpindah jalur.. wuiii… mantap banget saya genjot sepeda cepat sambil tereak kegirangan sesekali.

Saya lirik di belakang tak jauh masih ada kok lampu yang mengikuti, jadi mestinya ini tidak terlalu kencang. Tapi beneran.. huenak banget. Dan kita bener-bener bisa uji keberanian plus handling sepeda kita. Ujiannya adalah seberapa lama kita berani tidak tarik rem. Ditambah gelapnya malam, lengkap sudah. Sampai akhirnya kita berhenti di sebuah pertigaan.

Cukup lama menunggu, tak lama kemudian muncul grup kedua yang mengabarkan Om Boni jatuh.

“Gak papa kok..” kata Om Boni yang segera saja meyakinkan kita dengan mulai genjot sepedanya.

Pertigaan kita lurus. Setelah melewati sebuah sungai plus jembatan bambu, kita disambut tanjakan kali ini. Meskipun lurus tapi panjaaanggg… wah mantap banget. Kebayang hari kemarin yang survey pertama di siang bolong gimana rasanya ya disini? Terlihat lingkungan di sekitar benar-benar tanpa pohon, hanya padang ilalang saja plus double track.

“Stop… ada yang kraam”

Segera kita semua berhenti tepat di punggung sebuah bukit. Cukup lama menunggu berhenti. Rupanya rekan-rekan yang dibelakang sedang memberikan treatment pusaka PSI, “balsem geliga” kepada rekan yang kraam.

Untuk kesekiankalinya kita mendengar curhat-an salah satu Om yang perut belum keisi nasi, perutnya keroncongan. Isi curhat sih berkembang. Semula, “warung nasi goreng masih jauh gak?” lalu makin desperate, “Indomie atau apa juga boleh deh, apalagi nasi uduk”, lalu dilanjutkan di lain kesempatan, sangat putus asa, “pokoknya warung.. apa saja deh…”. Sampai beliau berhalusinasi kalau di puncak bukit ini ada sebuah warung nasi uduk jengkol sedang menunggu pembeli.

wuikikikiki…. Makanya tempat ini diberi nama “Mimpi nasi Uduk”.

#7 Mimpi NasiUduk- Per3an- Kaligandu

Setelah Om Ucup pulih, bisa genjot sepeda lagi, tim segera beringsut, kali ini jauh lebih pelan. Saya sendiri di kepala sudah mulai berpikir, hmmmm… enak juga kalo makan mie goreng /nasi uduk seperti yang tadi dibicarakan di atas bukit tak bertuan itu… Makan setelah sepedahan selalu cocok kan? Rasa nikmatnya juga bertambah.

Gowesan tim kali ini lebih konstan namun tampak lebih sabar melahap sedikit tanjakan lalu dibalas turunan demi turunan setelah pertigaan (pertigaan pertama kali berhenti merokok saat semua orang genjot kencang). Secara perlahan di balik bukit mulai tampak tanda-tanda sinar lampu dari kampung berpenerangan listrik. Tak disangka, disambut dengan turunan doubletrack tanah keras yang mulus (kebayang kalau habis hujan pasti full lumpur), kita segera masuk wilayah berperadaban di desa Pasircongcot.

“Om Ir, segera ketemu nasi goreng nih kita…”
“Walah, udah lewat to’ laparnya…”

Keluar ke arah jalan aspal lalu kita segera regrup dan menuju pasar Kaligandu. Beruntung sebuah warung Mie goreng /nasi goreng/ mie godog, sebuah warung indomie rebus, dan sebuah warung nasi (dengan sisa nasi tiga piring saja) segera diserbu oleh 12 pesepeda kelaparan.

Lho, kok 12… satu orang lagi kemana?
Om Ucup segera tergeletak dan tertidur di bale-bale… Kelihatan nuikmat banget, sampe gak tega buat mbangunin.

#8 Kaligandu-AA

Cukup lama kita berhenti. Mengambil napas. Menikmati betapa sinar lampu listrik bisa begitu berharga. Merasakan bahwa sepiring mie goreng kok sangat layak untuk ditunggu dan dimakan (ternyata tidak sampai habis, porsinya guede banget).

Ada kali 45 menit istirahat disini.
Bidon saya kosong tapi saya gak ngisi air lagi.

Saat akhirnya berangkat lagi, kembali saya ambil posisi sweeper. Rupanya meskipun sempat dapat second wind tapi paha saya udah terlanjur dingin dan kesulitan buat mendapatkan irama gowes yang tadi.

Terusterang saya terengah-engah mengikuti bahkan rekan yang paling belakang pun. Rupanya pengaruh kondisi kesehatan dan udara dingin (lewat tengah malam) dipadu dengan kaos kutung, kali ini benar-benar membuat saya setengah mati menguntit gelombang paling belakang. Kelap kelip lampu rekan rekan di depan tampak semakin lama semakin jauh, tampaknya ada yang habis re-charge dengan makan di Kaligandu tadi.

Sampai akhirnya lewat jalan tol, lalu lewat singletrack pingggir kalimalang setelah melewati tol. Nah disini paha dan paru-paru saya mulai kerasa enak. Singletrak datar nan mooy di sebelah kalimalang sebelum ketemu sungai cibeet mulai bisa saya nikmati. Disini saya dapat godaan. “Kayaknya seru kalao sprint”. Yang tentunya tidak mungkin dilakukan di singletrack saat anda jadi sweeper.

Begitu melewati jembatan sungai Cibeet yang legendaris itu, plus lobang-lobang besar dengan dua sungai dibawah trek (hebat ya? dimana lagi ada trek sepeda dibawahnya terdapat dua sungai sekaligus??). Disini saya melewati dua rekan paling belakang yang sedari Kaligandu menjadi rekan setia genjot. Saya mulai sprint.

Yang kali ini diambil oleh teman-teman adalah sisi kiri kalimalang (bukan sisi ajeb ajeb). C’mon man! Ini menjelang jam 1 malam… Kalo lewat sisi kanan jangan2 kita tidak sampai dengan ‘selamat’ di AA Bike. Trek di sisi kiri ini ternyata bersahabat sekali. Meskipun sangat gelap dan hampir tak bertemu kendaraan motor, namun trek ini menurut saya jauh lebih bisa dinikmati dengan sepeda dibanding sisi kanan yang penuh sirtu dan kobangan besar plus asesoris ajeb ajeb. Saya lewati teman satu persatu, saya cukup kaget ternyata tidak terlalu jauh sudah tiba di tempat kita biasa keluar ke kalimalang dari warung kolong tol. Semakin saya melewati satu persatu teman, saya semakin tambah semangat, karena ternyata ada satu rombongan yang kelap kelip lampu di depan pun sudah hampir tak terlihat. Rombongan depan ini pasti jauh banget.

Saya lihat salah satu rekan menyeberang sungai di jembatan yang salah, jadi deh dia pasti dapat jalur kobangan di kanan plus bonusnya sebelum ketemu jalur mulus beton. Jalur mulus beton rasanya tidak habis-habis. Di depan mulai tampak kelap kelip lampu punya rekan rombongan depan. Akhirnya saya berhasil melewati dua rekan menjelang pasara tegaldanas. Saya cukup kaget karena di depan ternyata masih ada lagi kelap kelip lampu. Ya ampuuunnn…. Sekuat tenaga saya kejar. I do my best and my last. Si Macan nongkrong di AA Bike, jadi dari AA Bike saya akan naik kendaraan berpolusi, heheh… Di tanjakan jalan tol menuju AA Bike tampak lampu kelap kelip terkahir ada 20 m di depan. Biasanya tanjakan jalan tol menuju AA Bike dari tegaldanas ini selalu saya lahap dengan semangat. Tapi kali ini berbeda. I have to let him go.

Sampai di AA Bike ternyata kelap kelip di depan hanya satu sepeda. Om Qodrat yang terdepan sampai di AA Bike disambut Om Asol yang belum tutup karena nungguin si Macan yg parkir disitu (makasih Om Asol). Sudah lewat jam 1 malam.

Begitu berhenti segera seluruh keringat menetes deras dari badan. Om Hanif bilang kalau waktu yang kita tempuh dari Kaligandu hanya 30 menit. Ya ampuuunnn… Biasanya trek lewat jalur papaya adalah trek yang tidak ‘nyaman hati’ buat dilewati. Tapi kali ini jadi penutup yang seru, intens, dan menyenangkan.


A Night at The Pasircongcot Trails, part1

Cerita pada blog post ini tidak ada foto. Night Ride memang paling susah motret. Kami yang sering ngobrol bareng di mailing list cikarangmtb@yahoogroups.com rame-rame mencoba trek baru di sekitar Cikarang. Cerita ini saya tuliskan persis seperti laporan genjot ke mailing list…

Malam minggu alias sabtu 270609 kemarin gak ada yg bawa kamera yah? Seinget saya kita cuma 7 kali berhenti, jadi gowes semalam bisa dibagi jadi delapan etape…

#0 Sebelum Start

Jumat siang badan sudah mulai terasa demam. Wah, saking penginnya nyobain Pasircongcot sampai demam panggung ala Suhu:IWO begini. Jumatan sangat kerasa tuh kalo badan ‘not delicious’, sdh mulai sms bbrp rekan. Hari itu saya minum parasetamol. Jumat malam sdikit begadang karena banyak banget bahan bacaan buat hari sabtu biar gak bengong di kelas.

Sabtu pagi demam tambah parah, wah, saya sudah mulai putuskan buat gak ikutan NR. Meskipun begitu satu tas saya isi perlengkapan NR, dengan asumsi pulang hari sabtu langsung ke AA Bike sapa tau agak mendingan. Ternyata hari Sabtu ini saya tidak cuma bengong, tapi terkantuk-kantuk dan hampir ketiduran di kelas karena minum Neozep yang mmg selalu bikin saya ngantuk.

kamisPICT5687

Sabtu malam ke AA Bike, makan malam sop seberang AA Bike. Entah karena makan sop, berkuah panas enak, badan kerasa mendingan. Kepala masih ‘ngliyeng’ dikit. Tapi OM Hanif saja bisa nanjak panas2 Sukamantri dalam demam kok, saya juga mau coba, diputuskan ikut dan mulai ganti kostum.

Om Irawan, yang megang heboh rencana di email buat berangkat jam 7 udah gelisah banget karena tim gak ngumpul2, apalagi berangkat… Cerita obrolannya sudah mulai ‘serem’, misalnya tentang karyawan yang bandel, karyawan yang direkrut karena main Volly, lawangangin Semeru, huaduh… Jangan2 kalo gak jadi NR kita2 yg di AA Bike dihukum suruh main volley, disikut saat basket, dihukum karena jadi karyawan bandel, dan jadi porter bawa carrier ke Semeru. Ampuuunnn…

Jam 20an akhirnya 14 pesepeda (kemudian jadi 13) ngumpul dan langsung start saat Om Awi dan Om Hera hadir. Sorry Om2, gak sempat hahahihi mengingat paha Om Ir sudah minta disiksa diatas sadel.

#1 AA-Sumur Gas

Karena kondisi badan saya masih keluar keringat dingin, saya sudah putuskan buat jadi sweeper yang baik. Beneran saya jalani dengan menghidupkan headlamp merah dan mulai kita melewati jalan aspal ke deltamas lalu masuk jalan beton lalu masuk ke jalan favorit gravel di perbukitan menuju ke “Sumur Gas”.

Herannya, sama persis dengan NR dua minggu lalu, kali ini semua peserta cenderung ngebut. Kayaknya gak ada yang mau ketinggalan dan kebagian dikejar anjing paling belakang. Atau gak mau digondelin sesuatu di belakang sementara gak ada lagi orang di belakang. Hiii… ngeri dan semua ngebut!! Body saya masih menyesuaikan diri, sisa pegal2 badan karena demam masih terasa. Kaki saya kayuhkan asal bisa mengikuti irama tim saja dulu. Jadi inget nasihat OM ardian di sms, “jangan dipaksakan om…”. Meski jauh dari sawah tapi memang tampak di sekitar kepala saya ada kunang-kunang hehehe… Di sekitar jalan terdengar bunyi alami dari berbagai macam serangga dan binatang malam. Eksotis banget. Semakin lengkap dengan trek batu kerikil licin yang cuma ada di daerah Sumur gas ini kalo di Cikarang.

Kalo gak salah cerita terakhir dari NR kolosal yang lalu ada yang pingsan misterius di sekitar sumur gas. Entah memang nantangin atau pengen membuktikan (saya berusaha menghibur diri kalau kita ber 14 bukan ber 13 yang bisa makin sial), eee… pak Clayton Boy team leader memilih tempat berhenti pas di area Sumur gas yang dekat kompleks kuburan.

Pak Irawan mencoba menghibur diri dengan nyetel mp3 dari hp-nya, “Enaknya denger the Cinnamon nih…” sementara sebagian besar anggota tim banyak terdiam. Mungkin masih mengatur nafas yang tersengal-sengal, sambil mengingat peristiwa pingsan, sambil melihat sebaran bintang dan galaksi yang memberikan pemandangan menakjubkan diatas kepala kita.

Di mata saya bintang2 terasa jauh lebih banyak dari biasanya, mungkin bintang2 tambahan ini hanya ada di dekat kepala saya dan hanya terlihat dari mata saya. Wuikikikiki….

“Pak Anto… aman-aman saja?” kata team leader. Beliau salah satu yang saya sms kalau saya lagi demam.
“Aman bathukmu” kata saya dalam hati sambil liat banyak bintang bertebaran. Wuikikikikiki….

#2 Sumur Gas-Per3an Cibeet (via Jembatan Gantung)

Entah karena terlalu excited akan meninggalkan area Sumur Gas dan kuburan didekatnya ini, yang masih saja sepi meskipun sudah didatangi 13 orang pesepeda, rasanya adrenalin segera naik setelah kita putuskan berangkat lagi. Dari bahasa tubuh rekan-rekan saya juga lihat ada kelegaan tersendiri kita lanjutkna ke etape#2.

Dibuka dengan nanjak gravel, lalu saatnya mencoba menikmati turunaaannnn… Saya penggemar tanjakan, tapi selalu sangat excited menikmati turunan menuju jembatan gantung. Tiba-tiba adrenalin mengajak saya buat menambah kecepatan, tapi ya gimana lagi, beginilah kalau singletrack dan beramai-ramai gowes, jadinya pasti susah menyalip. Padahal pas kondisi trek kering begini pasti enak banget buat ‘speedy decent’ wong jalannya juga mulus karena sering dilewati motor, hampir gak ada lobang2. Huenak tenan. Tiba-tiba semua kunang2 kok lenyap bersama angin kencang yang menerpa muka. Tanpa terasa tiba2 di depan sepeda sudah ada awalnya jembatan gantung. Huaduh. Saya langsung rem.

Emang inilah istimewanya night ride, pandangan kita hanya sampai 3-5 meter didepan, setelah itu gelap samasekali. Saya jadi ingat lewat trek ini pas pulang Cigeuntis survey yang lalu, jembatan banyak kayu2nya yang patah. Saya ambil langkah hati-hati dengan melihat bilah kayu lebih teliti.

Beberapa bilah kayu sudah diganti dengan bambu. Beberapa bilah kayu masih berlobang, tapi tidak seperti genjot cigeuntis lalu, kali ini tidak ada yang lobangnya dua bilah kayu. Setelah sekitar 5 meter hati-hati saya akhirnya genjot juga, toh ban tidak akan kecemplung meskipun bilah kayu hilang. Saya malah makin pelan genjotnya, dan sambil menikmati suasana dan pemandangan gelap ke arah sungai dibawah. Benar-benar layak jadi icon pesepeda cikarang ini tempat.

Setelah jembatan gantung kita melewati jalan di tengah persawahan, saya sudah ancang2 dikejar anjing, apalagi gara-gara genjot pelan dan nge-rem di jembatan tadi ketinggalan agak jauh di depan. Terakhir saya NR lewat sini bersama Om Asup kami dikejar anjing sampai dekaaaaatttt sekali. Sambil genjot saya sampai bisa dengar tarikan napas anjing yang mengejar. Tapi entah kenapa saat kami berbanyak ber13 begini itu anjing tidak muncul!

Seperti biasa keluar dari jembatan gantung menuju Cibeet kita ditutup dengan beberapa tanjakan dan turunan seru menjelang kampung sebelum akhirnya ketemu jembatan kecil lalu jalan aspal, bendungan cibeet, lalu berhenti di warung dekat pertigaan kaligandu.

#3 Cibeet- Pasircongcot- Per3an

Meskipun sudah lewat Sumur Gas dan jembatan gantung yang sudah jarang peradaban, namun kita masih terasa ada di peradaban karena masih sering bertemu warung. Track leader sudah mengabarkan kalau ini adalah warung terakhir karena ke depan kita akan masuk area ‘warungless’. Sayangnya kemaleman, jadi warung terakhir ini pun sudah tutup, meskipun akhirnya bbrp dari kita masih sempat isi air di warung tak jauh dari warung tutup ini.

Tiba-tiba terdengar bunyi gaduh. Rupanya inilah salah satu bukti betapa kerasnya gemblengan di PSI, perguruan suhu:Iwo. Rekan-rekan PSI ini sedang menelepon rekan seperguruan yang banyak alasan gak ikutan NR…
” Gak percaya kalau yang ikutan banyak? ini ada 13 orang…”
” Udah… kalo buat keliling kompleks doang mending sepeda dijual aja…”

Buset!!
Pantas saja ilmu mereka segera cepat terdongkrak wong gemblengan tipe spartan begitu. Ampuuuunnnn…

Sementara di area lain tiba-tiba ada yang teriak gembira karena dapat sms yang melegakan. SMS yang memungkinkan buat genjot sampe larut malam. Hehehe… Agak miris juga karena tadinya saya terusterang akan ikutan balik kanan kalau si Om ini juga balik kanan dari Cibeet.

Keringat dingin mengucur, tapi genjot NR tetap dilanjutkan.

Setelah melewati pertigaan kaligandu belok kanan sampai di puncak sebuah punggungan tanjakan lalu kita segera berbelok ke kiri. Inilah yang namanya desa Pasircongcot. Segera kita disambut dengan tanjakan yang cukup curam, jalan aspal rusak, lalu dilanjutkan dengan tanjakan dan tanjakan berikutnya meliuk liuk di jalan campuran doubletrack tanah dan singletrack bekas motor.

Lama kelamaan kita masuk ke kegelapan malam. Gelap asli gelap. Baru kemudian saya sadar setelah bertemu rumah-rumah (yang sangat jarang terjadi ketemu rumah apalagi kampung) kalau daerah ini belum teraliri listrik. Pantesan gelap banget. Semakin gelap, para peserta NR semakin tidak diberi pilihan lain kecuali menggenjot dengan kecepatan mengikuti kecepantan leader. Waduh… Om Ir dengan bercanda guyon mengomentari kaos kutung tanpa lengan saya, “Wah tok, kalo pake kaos kayak gitu besok aku langsung kerokan…” Hmmm.. benar juga!!

Sementara angin makin kencang, gowesan Om leader makin cepat melahap medan rolling meskipun banyak nanjaknya, semua orang terdiam hampir tanpa suara. Hanya terdengar suara ban melindas trek dan sesekali bunyi RD berpindah jalur. Beberapa kali juga terdengar tarikan dan sebulan napas terengah-engah menyelip diantara keheningan NR.

Ada yang aneh! Ini orang belasan genjot bareng kok gak ada suara samasekali. Sampe saya gak tahan, diatara keluarnya keringat dingin akibat demam dan angin, saya tereak-tereak…
“Oiiii… ini genjot sepeda apa rapat sih? serius banget sepedahannya? Gak ada suaranya samasekali”
Mulai deh itu terpancing fraksi ngos-ngos-an untuk segera berhenti dan menyedot beberapa isapan rokok dan air minum di sebuah pertigaan. Sementara setengah tim tetap ngebut meneruskan genjot, “Nanggung, berenti di bawah saja didepan” kata yang gak berhenti.
“Ampuuuunnn… genjotnya kesetanan semua, gak ada yang pelan!”

Peta Delta dsk

#4 Per3an- Kampung Lembah “Taman Mekar”

Ini trek cukup pendek banget, saya jalani bersama separuh belakang tim NR malam itu. Masih setia sebagai sweeper. Meskipun pendek, tapi bagian ini salah satu favorit karena kita melewati 90% singletrack. Vegetasi juga tampak rimbun karena kita masuk ke dalam kampung dan kadang masih berjalan di bawah rerimbunan pohon bambu.

Salah satu sensasi Pasircongcot Trails NR adalah kegelapan. Bagaimana jika sebuah area yang sangaaattt luas masih ada di jaman kegelapan. Belum ada listrik samasekali. Setiap rumah bagian luar hanya diterangi sebuah lentera di pojokan rumah atau di dekat pintu masuk. Kampung lembah “Taman Mekar” ini adalah kampung paling rame dari semua area yang kita lewati. Jumlah rumah di sepanjang jalan kampung ini yang kita lewati ada sekitar 10-15an rumah. Kebayang kan areanya seperti apa kok kampung dengan 10-15an rumah saja terasa ramai?

Di sudut-sudut kampung kadang headlamp yang saya taruh di helm menatap sosok hitam berbentuk manusia. Hanya sosok di kegelapan dan pantulan sinarmata anjing yang menyertai saja yang menandakan keberadaan bapak-bapak yang, seperti kata Om Hanif, mungkin baru kali ini dalam seumur hidup beliau-beliau tinggal di kampung ini, belasan orang pesepeda dengan lampu2 tertempel di kepala dan sepeda lewat tengah kampung mereka di menjelang tengah malam.

“Punten pak….”
Cuma itu yang bisa saya katakan. Kadang dijawab kadang juga tidak. Kalau tak dijawab mungkin mereka masih ragu dan sedang ucek2 mata keheranan lihat kita-kita.

Saya pun sebagai sweeper yang tidak baik (gimana mau jadi sweeper wong jalan aja gak tau) akhirnya malah jadi ketinggalan jalan dan jadi sendirian di sebuah persimpangan jalan. Setelah sempat panik, lalu melihat beberapa pasang mata bersinar memantulkan cahaya lampu headlamp saya, kirain anjing, kalo beberapa anjing menghadang saya sendirian in the middle of nowhere gini, wah mampus juga saya, tapi ternyata kambing dan anak-anaknya… amaannn… Saya coba telepon Om Hanif (ada sinyal!!) tapi gak sampe 10 detik putus hubungan. Lalu akhirnya mengambil ilmu yogieism, diam seribu bahasa dan pasang telinga, akhirnya dari jauh kedengaran tuh berisiknya orang2 kota gak tau adat di tengah kampung yang gelap gulita dan sepi seperti ini. Berbekal suara, saya ketemu juga dengan rombongan kembali. Lega juga bertemu manusia kembali. Saya kehilangan jejak sekitar 200m, jauh juga menebak-nebak di antara singletrack yang menerobos rumah dan halaman orang. Liat jenis trek-nya, saya jadi inget Om Adji… Kalo genjot pasti ada acara nerobos jemuran.

“Om Anto sudah kelihatan..?” Hmmm… The Clayton Boy Track leader ternyata masih ingat sama sweeper nya yang lagi demam berkeringat dingin, tertinggal, dan gak tau jalan.

akan berlanjut ke bagian kedua…


CikarangTrek! – XC Curug Cigeuntis

Trip ini dilakukan seminggu sebelum acara XC Cigentis 9 Mei 2009.

Start Point: Kecamatan Pangkalan, Karawang Selatan
Start point ini menyediakan tempat parkir yang sangat luas. Selain di depan kantor kecamatan sendiri, kita juga bisa parkir di lapangan sepakbola di depannya.

geuntis090503-024

Bagian Pertama: Perbukitan Hutan Bambu

Dari titik start kita gowes onroad ke arah Loji, segera disambut dengan tanjakan yang cukup panjang. Seperti jaman kuliah dulu dapat ujian awal saja sebelum masuk praktikum di lab. Kita segera diuji kesabaran dan mental. Jika terlalu semangat memulai trip dan gowes powerfull bisa-bisa paha dan betis segera menjerit-jerit. Itung-itung pemanasan, tanjakan pertama ini pasti susah dilupakan, seolah memberi isyarat trek ini selanjutnya memang lebih banyak tanjakan.

Setelah melewati SMP Pangkalan (saya dan Om Sigit gowes dari Cikarang Baru ke SMP pangkalan ini lewat jalur pepaya perlu 1jam 15mnt), kita disuguhi sedikit turunan dan segera kita akan masuk ke trek sebenarnya. Masuk ke hutan bambu sebelah kanan. Jika sempat melihat dari atas ketinggian ke medan di sebelah kanan jalan raya ke Loji memang kita akan segera melihat hampir semua area kebun tertutupi oleh pohon bambu. Pohon bambu adalah rajanya disini. Di mana-mana pohon bambu dan mungkin memang dari dahulunya daerah ini adalah full hutan bambu.

geuntis090503-036

Disambut turunan terjal aspal rusak kita segera memasuki jalan sirtu yang meliuk liuk melewati tengah hutan bambu. Rasanya semua panasnya paha saat nanjak onroad beberapa saat lalu segera terlupakan. Pepohonan bambu ini membuat segalanya teduh dan adem. Selanjutnya medan perbukitan yang teduh ini segera menanti kita. Naik bukit di jalan sirtu, kiri kanan hutan bambu, masuk kampung lalu persawahan, disambut hutan bambu lagi dst dst. Sensasi hutan bambu seolah tak bosan-bosan mendera kita. Suara khas daun bambu bergesek ditiup angin dipadu suara ban kita melibas trek sirtu dan tanah (kadang berlumpur) dilengkapi hosh hosh suara napas kita pas nanjak dan teriakan puas kita saat turunan benar-benar memanjakan kita sepanjang 4-5km.

geuntis090503-050

Untuk teman-teman sekitaran Cikarang yang seperti saya, merasakan hutan bambu di dekat kolong tol itu indah dan adem, pasti menyukai trek ini sepenuhnya. Medan sendiri perpaduan antara jalanan pasir batu, jalanan tanah, beberapa tempat makadam, dan di banyak tempat tanah biasa yang jika habis hujan tentusaja berlumpur.

geuntis090503-051

geuntis090503-054

Sensasi kedinginan perkampungan perbukitan bambu segera berakhir setelah kita menemukan jalan aspal mulus. Terasa saat kita melewati aspal mulus ini pantulan panas dari aspal segera menerpa muka dan tubuh kita. POANAS! Ambivalen, karena setengah dari hati kita juga agak lega, lewat jalan mulus lagi, ban berputar sambil lumpur bekas masuk kubangan tadi segera terlempar ke segala arah termasuk ke muka kita.

geuntis090503-055

Aneh juga ya. Lumpur tuh kan berkesan kotor dan gelap. Tapi kok saya merasakan sensasi unik yang justru saya cari dan saya kangen buat ketemu lagi, saat sedikit cipratan lumpur menempel di muka dan bau tanah menusuk ke hidung. Ini nih yang saya cari…

Bagian Kedua: Nyeberang Sungai

Sebenernya bagian ini lebih tepat disebut Desa Philips ke Kampung Waru. Entah kenapa lebih enak disebut ‘Desa Philips’ meskipun itu bukan nama sebenarnya. Tampaknya desa ini adalah area CSR dari perusahaan elektronik Philips, tampak dari gerbang gapura masuk desa ini ke arah kanan dari jalan mulus Cariu-Loji.

geuntis090503-067

Begitu masuk desa segera kita disuguhi medan yang berbeda samasekali dari bagian sebelumnya. Daerah ini lebih gersang dan terasa lebih panas. Sangat mirip Cikarang. Jalan desa-nya kembali lagi meliuk liuk dan naik turun rolling perbukitan, mirip banget Cikarang. Saat ban kita menggilas jalan, bunyi yang dihasilkan khas sekali, karena jalanan ditutup oleh batu-batu kecil dan lepas. Cukup menyulitkan saat medan menanjak karena bisa ‘spin’ ban belakang kita, cuma saat turunan batu ini suaranya khas dilindas ban. Dan feel-nya juga berbeda karena jalanan jadi agak licin.

geuntis090503-078

Menikmati beberapa gundukan bukit tanjakan kita segera dikejutkan oleh pemandangan sungai luas, Sungai Cigeuntis, dengan pemandangan alam di seberang sungai, berupa bukit-bukit indah kaki Gunung Sanggabuana. Fuiihh… kayaknya lupa deh udah genjot panas-panas mendekati 10km offroad. Pemandangan perbukitan itu benar-benar membius kita untuk berhenti berlama-lama dan menikmati dari sebuah warung kecil di pinggir sungai. Keindahannya tak tertuliskan dengan kata deh. Harus lihat sendiri.

Pemandangan alam memberikan hadiah dan kebahagiaannya tersendiri untuk kita yang biasanya lihat plaza JB lagi plaza JB lagi. Namun hati kecil juga jadi gemetar lihat medan di seberang sungai yang segera kita lewati ini. Bukit-bukit (pinnacles) bermunculan dan tampak kemiringan yang siap menelan siapapun yang ingin menikmati sensasi CikarangTrek! Curug Cigeuntis.

geuntis090503-093

Setelah istirahat, hahahihi dan foto-foto sebentar, segera kita turun ke arah sungai. Kaget juga kita segera disambut arus air sambil melewati medan berbatu lepas. Unik sekali dan bikin kangen. Beberapa kali ban kita meleyot ke kiri dan kanan, slip dan licin. Kombinasi yang kompak batu2 kecil bulat segeda telor puyuh, telur ayam, sapai segede bola volley. “Drap.. drap.. drap…” batu bulet lepas itu bergerak seperti bola2 di tempat mandi bola anak-anak kita. Menjaga keseimbangan di tengah licin air mengalir benar-benar memberi sensasi tersendiri.

geuntis090503-094

geuntis090503-101

Lebar sungai ini sekitar 50-70meter. Tampak di beberapa area ada penambang tradisional batu dan pasir. Batu-batu bulat yang bisa menggelinding dialiri air ini kalau di Cikarang dijual per plastik untuk menghias taman. Hehehe… Disini ada jutaan meter kubik di sepanjang sungai. Sepatu basah oleh air sungai. Sepatu basah bukan karena kita menapakkan kaki ke air saat menyeberang (horee… saya sukses spin terus tanpa menjejakkan kaki di air!!), tapi di beberapa titik kedalaman air memang mencapai hub sehingga pedal kita berputar secara rutin masuk ke dalam air. Duingin2 huenak.

geuntis090503-118

geuntis090503-127

Segera setelah kita lewat sungai kita disambut tanjakan-tanjakan sambut menyambut seperti kompakan memperkenalkan kita dengan Gn Sanggabuana. Panas mulai menyengat. Tanjakan-tanjakan jalan batu dan makadam segera membuat jantung dan paru-paru kita seakan segera pecah meletus di dada. Paha dan betis kita seperti diiris diuji oleh semangat dan rasa penasaran kita melewati setiap tanjakan.

Alhamdulillah akhirnya kita ketemu jalan rata, persawahan dan masuk kampung. Fuih!! Ada yang jual teh botol dingin lagi…

Ini adalah area sekitar Kampung Waru. Dari kampung ini kita ada dua pilihan jalan. Jika ke kanan, disambut serentetan tanjakan manis, cantik, manja dan genit. Siap mengajak kita hosh-hosh menguji kesabaran dan kekuatan otot. Sementara kalau kekiri jalan relatif lebih landai menuju pasar Loji dan langsung onroad nandjak ke tempat kawasan Villa Haji Agus.

Bagian Ketiga: Tanjakan Kampung Waru

Kampung waru sebenernya bukan kampung yang istimewa, semua jalan-nya adalah batu makadam dan aspal rusak. Yang bikin istimewa adalah, kemanapun kita bertanya kepada penduduk setempat, jawabannya kurang lebih sama, jarak kampung Waru “dua kilometer lagi”. Jawaban yang jujur sekaligus menyesatkan. Mungkin kalau naik motor tidak pernah melihat odometer, tapi yang jelas “dua kilometer” yang disebutkan tadi bisa menjadi genjot ber-jam-jam tidak sampai sampai. Jadi jangan tanya jarak di sini, jawabannya “dua kilometer’, tidak dikenal jawaban yang lain.

geuntis090503-135

geuntis090503-142

Tanjakan Kampung Waru langsung menuju Villa H. Agus tidaklah tajam sebenarnya, hanya memang medan-nya batu makadam campur tanah dan sirtu. Juga salah satu yang menguji isi dada dan kekuatan betis serta mental kita adalah tanjakan yang sahut menyahut, sambut menyambut, susul menyusul. Habis yang satu segera disambut yang lain, persis seperti lagu dari sabang sampai merauke berjajar pulau pulau deh. Seingat saya ada tiga tanjakan panjang sebelum akhirnya kita disuguhi oleh turunan panjang banget menuju sebuah lembah dan pinggiran sungai.

geuntis090503-151

Sepanjang pinggir punggung bukit dialiri oleh sungai yang cukup deras ini pun kita masih disambut tanjakan-tanjakan lagi. Sempat bertemu jembatan gantung yang indah, jauh banget kondisinya dibanding jembatan gantung kita di deket bendung Cibeet. Tajakan di sepanjang pinggir sungai ini diakhiri dengan mendaki sebuah punggungan bukit, diiringi oleh deru air sungai yang jelas sekali mengalir dengan ganas nun jauh dibawah sana. Kalau tidak di pegunungan gak bakalan deh kita dengar bunyi deru aliran sungai seperti ini.

Semakin deru sungai tertinggal di belakang sana sayup sayup, semakin miring tanjakan di depan kita, semakin keras bunyi deru nafas kita. Saya tidak lagi sempat menghitung ada berapa tanjakan disini, namun nanjak disini agak adem karena lingkungan sekitar jalan adalah kebon yang rindang dan berpohon besar. Yang terdengar di telinga saya selain suara hosh hosh dari nafas yang memburu juga suara detak jantung yang berdegub-degub serasa mau menembus dada. Benar-benar ujian akhir yang menyenangkan karena kita segera masuk ke jalan aspal lagi dan segera terlihat Villa dan saung makan H. Agus yang lengkap dengan sop dan soto yang suedap dan huenak.

Alhamdulillah sampai.
Sampai di titik start.
Lho! Iya….
Villa ini adalah titik start sekitar 4km tanjakan maut menuju lokasi Curug Cigeuntis.

Benar-benar dahsyat track ini. Menuju titik start pun butuh perjuangan luarbiasa…

Finish Point:
Villa H. Agus
Distance: 48.26km

This ride supported by Bikewearr…
geuntis090503-156


XC CikarangTrek!: Cigentis 9 Mei 2009 – info tambahan untuk para peserta

XC Curug Cigentis
Genjot 9 Mei 2009 bersama cikarangmtb@yahoogroups.com

(meneruskan info dari penyelenggara)

cikarangtrek-cigeuntis-small

1. Untuk menuju start point di Kantor Kecamatan Pangkalan
- Yang bawa mobil dari luar Cikarang / lewat tol, keluar gate Karawang Barat, perempatan ke 2 belok kiri ambil jalan kearah Pangkalan / Loji (ada menyusuri Kalimalang dan penyeberangan tol, trusss sampai Pangkalan – cirinya banyak asep bakar2an Kapur)

2. Yang bawa mobil dari Cikarang (AA Bike) bisa lewat DeltaMas (gardu tegangan tinggi) ambil jalan ke arah Bendungan Cibeet – belok kanan ke arah Pangkalan.

roadtocigeuntis

Start dari Pangkalan .. jalan aspal dikit, setelah itu off road hutan bambu, pematang, nyebrang Kali Cigeuntis.. nanjak dll, sampai Villa H Agus.

Dari Villa Haji Agus:

- Bagi yang merasa cukup, dapat istirahat, makan2, dll disini… turun basah2an ke Kali Ciguentis juga bisa.

- Bagi yang masih “bertenaga lebih” dan pengin narsis ke Curug dapat lanjut 4 km ke Curug Ciguentis (nanjak poll)…. * ada opsi sampai curug Bandung – tidak pakai nanjak yang poll2an.

Pulang tinggal turun On Road Aspal ke tempat Parkir Kantor Kecamatan Pangkalan.

Start dari Pangkalan jam 9 diperkirakan sampai Villa jam 14an… selanjutnya optional mau lanjut ke curug atau mau langsung turun on road nggak nyampe 1 jam udah nyampe parkiran lagi.


Gowes Contreng

What do you do in the morning of election day??

Genjot Bang!!

gowescontreng_pict3904

Dari obrol-punya-obrol sore hari sebelumnya, alhasil kita jam 6 pagi sudah standby di pintu belakang Cikarang Baru. Isi penggowesnya: yang memutuskan golput, yang masih mau nyontreng tapi pengen gowes dulu, dan terakhir yang pengen nyontreng tapi jauh dari kampung (tempat KTP).

gowescontreng_pict3912

Sampai di AA Bike masih blom buka tuh tokonya. Akhirnya mendengar rame-rame diluar Om Asol keluar juga dengan mata kuyu kurang tidur.

gowescontreng_pict3915

Sekarang jadi suka lewat pintu tol Cikarang Timur. Lebih eksotis dan dekat. Anggota tim: Om Asup, Om Yadi, Om Sigit, Antoix, dan Om Qodrat.

gowescontreng_pict3925

Setelah melewati pemasaran Kota Deltamas dan nanjak ke arah “Trek Hutan Jeng-Jeng” saya segera tertinggal dari rekan-rekan yang tampak sangat semangat segera sampai di trek. Saya belok ke kanan, pengen nyobain lagi trek turunan dari arah pohon palem yang banyak drop off dan tanjakan, saya kangen turun ke JengJeng dari atas bukit.

Segera setelah sampai JengJeng saya mutar trek, mengingat trek dan orientasi, belum terlalu speed. Mumpung masih seger. Mencatat waktu 4:00:02 dan segera ditajamkan Om Sigit dengan 4:00:01 seputaran kemudian.

Yang juga asyik adalah saat kita tambah trek dengan variasi tanjakan ke atas bukit dan mutar ke kuburan diatas bukit. Keren. Dan tanjakan nya itu lho, rasanya gak habis-habis, padahal sekilas kita lihat ‘cuma tanjakan gitu doang’.

gowescontreng_pict3931

Pulangnya kami mencoba sesuatu yang baru, jalan lewat pinggir tol. Hmmm… sebaiknya mungkin ini tidak kita lakukan ya…

gowescontreng_pict3941

Saat menyeberang tol lewat jembatan dan harus manggul sepeda, ternyata jadi foto yang menarik juga.

gowescontreng_pict3946

Lalu kita mampir dulu di AA Bike. Dan memilih pulang lewat “Jalur Uka-Uka”.

gowescontreng_pict3963

Kita lewat sumur, sumur ini tak kalah dengan sumur JPG, tidak pernah kering sepanjang tahun.

gowescontreng_pict3964

Inilah menu teristimewa siang itu. Panas mulai menyengat. Kita menyeberang sebuah sungai kecil hand-in-hand sepeda kita lewatkan ke seberang.

Gowes yang lengkap hari itu. Gowes contreng yang istimewa, melebihi ekspektasi kami yang semula hanya ingin “paginya genjot dulu yuk sebelum contreng..” ternyata dari seru dan menyenangkan.

Foto-foto dan cerita versi lain di…
multiply nya om Qodrat disini…


Tiga kali lewat . . . Trek XC Jeng-Jeng, Trek (1/2) J4, Trek Medium Jeng Jeng (full)

Jam 6 pagi
Om Sigit mis-call. Iya Om, ini udah mau berangkat. Ninggalin rumah jam 0605 langsung ke Beruang, nyamper Om Sigit sambil nganterin jersey 1PDN yang kemarin baru didapat dari nOta.

Ke Paladeo dulu gak?
What a difficult choice
“Langsung aja ke Jeng2 Om…”
Memang hati kecil saya juga bilang gitu. Sudah penasaran banget pengen nyobain trek yang baru dibuat di kawasan hutan Jeng-Jeng oleh komunitas2 sepeda di Cikarang (Jacyco, Rosemi, Panbagoes, Omron, Unilever, B2W…)

Wah, kalo diceritakan detail bisa jadi novel lagi hehehe… Ini ditulis singkat kejadian2 yang menarik saja.

Trek XC Jeng-Jeng

three_pict3854
three_pict3856
three_pict3862

Trek ini bisa banget akan jadi mirip trek Hutan UI. Landai, tidak terlalu teknikal, teduh. Jelas banget pas buat rekan2 Cikarang.

Kalau mau dapat keringat di trek ini ya speed speed speed.

Pagi itu dapat dua lap, tinggal satu section saja yang ada selokan sepeda harus digotong. Tapi sorenya sudah dibuat jembatan bambu dan jembatan singletrack

three_pict3890
three_pict3891

Sore genjot lagi, lap nya tidak jelas, tapi yang full sih tiga lap. Per lap sekitar 1.5km.

Trek Tiga Bukit J4 (cuma setengah)

Karena masih belum jelas kapan rekan-rekan yang ada di Paladeo meluncur ke JengJeng. Akhirnya, daripada bengong capek nunggu, saya dan Om Sigit berniat ambil trek tiga bukit J4.

Dari tempat start Jeng2 kita nanjak ke arah kuburan diatas bukit, lalu dilanjutkan nanjak lagi sampai dua punggung bukit. Lumayan banget buat latihan nanjak offroad. Meskipun hitungannya masih pagi, sekitar jam 7, tapi panas sudah menyengat juga.

three_pict3869
three_pict3870
three_pict3873

Saya kembali terkagum menikmati perbukitan Deltamas yang kami juluki “bukit teletubbies” ini. Kontur nya mirip banget sama setting teletubbies, juga entah kenapa, di perbukitan ini rumput sangat jarang ada yang tinggi. Jadi rumput tuh pendeeekkk rata, makin mirip teletubbies.

Kemudian sampailah kita di sekitar kampung bambu (sebut saja begitu). Turunannya teknikal, tanjakannya teknikal juga, favorit saya.

three_pict3884

Saya sangat menikmati setiap jengkal tanjakan ini. Karakter tanjakan adalah tanah dengan kejutan-kejutan teknikal, belok-belok, dan singletrack. YUMMMMYYY… tanjakan paling teknikal di Cikarang AFAIK.

Lalu dapat telp dari Om Hanif Rejuvenated. Akhirnya dari atas bukit kedua (harusnya empat bukit, jadi cuma setengah J4) kami balik ke titik start jeng-jeng lagi.

Jeng-Jeng Medium Trek

threee_cikarang-medium-xc-track2
foto diatas diambil dari http://hmarga.multiply.com

Om Hanif akhirnya datang membawa berkah. Iya berkah. Karena dari AA Bike beliau membawa dua orang pesepeda dari sekitar KSB (Kompleks Serang Baru), namanya Om Budi dan Om Yayan, yang dari obrol2 dengan mereka, rupanya saya telah bertemu dengan orang-orang yang menjadikan perjalan ke Cariu Puncak Pinus adalah kegiatan rutin!! (baca cerita solo ride Puncak Pinus saya…) Ampun dah!! Dan mereka menguasai trek2 onroad sampai ke gunung batu serta Karang Kitri dllsb. Mantap!!

Segera kita berangkat ke trek yang disebut Om Hanif sebagai “Jeng-Jeng Medium Trek”. Ini adalah extended version dari Trek Jeng Jeng XC. Jadi kalo yang mau trip medium, 20-an km ya marilah kita menggenjot di trek ini kalau XC JengJeng yang memang pendek itu belum dirasa mencukupi untuk memanaskan paha dan betis.

Trek ini melewati jalan seputaran tempat istirahat tol KM33 yang samasekali saya belum pernah lewat. Asik juga. Apalagi ada bagian jalan kampung beton semen yang cukup teduh dan nyambung ke dekat kolong tol jengJeng.

Sempat melakukan jibaku sok berani sok hebat, sambil mempraktekkan teknik rem dan keseimbangan di sebuah turunan jahanam (yang semula cuma diangan-angan bisa dilewati oleh sepeda downhill)

threee_100-3717

100-3747

100-3748

foto diatas diambil dari http://hmarga.multiply.com

BERHASIL !! Meskipun gak mulus.

three_pict3885

Trek ini benar-benar penuh kejutan. Hebat memang daerah perbukitan Cikarang ini, rasanya sudah hampir dua tahun muter2 sekitar sini kok masih ketemu section2 yang mengejutkan gini.

Akhirnya istirahat di kolong tol Cibeet. Meski udah minum air dingin, meski udah berteduh, rasanya panas di atas kepala gak ilang-ilang.

Dilanjut? Tentu
Tujuan Trek JengJeng Hutan lagi. Teman2 yang lain sudah berkerumun disana. Kita lewat hutan bambu dulu. Salah satu area favorit di Cikarang. Adem, dan jembatan bambu-nya itu bikin kangen.
three_pict3887

Lalu?
Yah. Kami melewati tiga bukit, dari arah sebaliknya, menuju hutan JengJeng. Serasa 1PDN beneran. Uphill disaat siang bolong matahari ada tujuh. Sempat dihibur pemandangan bukit berbunga yang bunga-nya lagi mekar semua, sayang tdk moto. Sampai JengJeng rasanya matahari masih nempel di kepala.

Inilah asal muasal subject post ini. Ini untuk ketiga kalinya dalam sehari kami melewati perbukitan J4 seberang istirahat tol. Worthed banget sampai akhirnya perjalan ke Cariu Puncak Pinus pun kita batalkan.

three_pict3896

three_pict3899

Perjalan luarbiasa hari ini dilengkapi dengan bersepeda menuju pintu tol Cikarang Timur (Kota Deltamas) dan ternyata di samping pintu tol itu ada Situ Binong.

Foto-foto dan cerita versi lain di…
multiply om hanif disini…


Solo Trip: Cikarang > Cariu > Puncak Pinus > Cibarusah > Cikarang

Lagi malas nulis detil cerita, jadi kali ini foto-foto aja yang bicara…

Satu hal yang teringat dari trip adalah, saya jadi teringat rekan saya Bimar Sijaketmerah, gowes 53km dari rumah untuk mencapai awal tanjakan Puncak Pinus Cariu.

Distance: 123.04 km
Max Speed: 49.5 km/jam
Avg Speed: 16 km/jam
Cycling Time: 7jam 39menit
Odometer: 4719 km

bangkokpict3580-shadow
6:28 Shadow

bangkokpict3627-km0cariu1
9:29 Ketemu jalan raya Jonggol-Cariu-Cianjur

bangkokpict3637-mulaitampak
10:11 Tujuan mulai tampak

bangkokpict3657-kubahhijau
11:01 Masjid Kubah Hijau

bangkokpict3661-hereitcome
11:23 Here it comes

bangkokpict3671-rusakterus
11:38 Jalan rusak identik dengan jalur ini dari dulu

bangkokpict3683-awalnya
11:43 Meninggalkan kab Bogor dan masuk kab Cianjur, inilah awal dari Tanjakan Puncak Pinus. 53km gowes dari rumah buat menuju awal tanjakan? I didn’t believe what I’ve done.

bangkokpict3687-kepuncak2
11:57 Tanjakan lurus-lurus, matahari tepat diatas kepala. Berusaha gowes tanpa henti, sambil sesekali motret.

bangkokpict3691-gedubrak6km
12:18 Gedubrak!! Setelah lk 6km pitstop juga akhirnya

bangkokpict3708-kepuncak
12:55 Gedubrak pitstop makin sering, tapi pohon pinus mulai terlihat !!

bangkokpict3732-akhirnyaa
13:20 Akhirnyaaa… Puncak Pinus Cikalong Wetan !!

bangkokpict3740telerberat
13:29 Super Duper Teler

bangkokpict3753turun
14:14 Turun 8km sambil terus mengagumi kedahsyatan tanjakan Puncak Pinus. Di kejauhan adalah pemandangan jauuuhhh ke arah titik start di Cikarang. Pulang tidak lewat jalan berangkat tapi coba lewat Jonggol-Cibarusah.

bangkokpict3761irigasi
17:02 Berbelok ke saluran irigasi jalan offroad berbatu, kena hujan deras, badan lemes, rumah masih jauh.

bangkokpict3767serang
18:13 Mulai gelap, masuk kota Serang, Kab Bekasi

bangkokpict3768
18:57 Alhamdulillah sampai rumah!!

Anto’s Gear:
Polygon Cozmix CX 1.0 th 2007 hardtail
Ban depan: Schwalbe Racing Ralph 1.9
Ban belakang: Maxxis Medusa 1.8
Odometer: 4719 km
Trip: Touring Uphill 123km


XC Cikarang: Deltamas Bukit Berbunga

Menyambung posting saya sebelumnya disini… AA Bike (toko sepeda dan perlengkapan sepeda baru di Cikarang) Softlaunching berlangsung meriah. Lebih dari 50 pesepeda dari penjuru Cikarang, Bekasi, Tambun, Lippo Cikarang, Cijantung menhadiri acara ini.

Punggawa AA Bike: Om Adji dan Om Asol, adalah tokoh senior persepedaan dan bike to work di area Cikarang. Tak heran acara ini berlangsung meriah.

Setelah dihidangkan sarapan, dengan perut siap genjot kami menikmati trek dan udara area Cikarang yang hari itu sangat amat bersahabat.

08:08am
1sregrouping-1
Foto regruping selepas dari area onroad kota Delta Mas.

2sdsc00429
Terlihat sebagian peserta gowes bersama melewati banner KOTA DELTAMAS. Banner ini mirip banner Hollywood di LA sana, cuma adanya di perbukitan sekitar KM31-32 Tol Jakarta Cikampek (arah selatan).

09:09am
3sbukit-berbunga
Bukit berbunga ditempuh dalam kondisi cuaca yang sangat nyaman. Berawan namun tidak hujan, angin dingin semilir, kami sampai lupa kalau ini di Cikarang, bukan di daerah Bogor. Jersey juga tidak basah dengan keringat.

10:08am
4sdsc00430
Beberapa area trek berubah menjadi sawah tadah hujan. Acara berubah jadi sepeda naik manusia (panggul bike) bukan sebaliknya. Ini adalah salah satu sukaduka trek perbukitan Cikarang.

11:00am

Dijamu makan siang huenak oleh AA Bike.
Semoga Sukes AA Bike !!!
Rekan-rekan di Cikarang-Karawang-Tambun-Bekasi jangan ragu2 tengok AA Bike, hanya 1km dari pintu tol Deltamas.

[tambahan 19 Jan 2009]
Cerita ini juga di posting di forum ‘Passion’ sepedaku.com http://www.sepedaku.com/index.php?topic=30185.0


AA Bike Soft Launch!!

Datanglah pada
Minggu, 11 Januari 2009
Jam 0700
tempat: Tegaldanas, Cikarang, Kab Bekasi
(lihat peta)

dari-cikarangbarat

Untuk yang datang melewati Tol Cikampek disarankan mengambil pintu tol “Cikarang Timur/Kota Deltamas”
Lokasi juga bisa dicapai lewat pintu Tol “Cikarang Barat”

gowesContreng_PICT3912

Soft launching toko sepeda di Cikarang, jadi tak perlu jauh-jauh ke Bekasi, Roxi, Cibinong, Bogor ataupun Bandung.

Sekalian jangan lewatkan…

Pengen merasakan track Cikarang?

Bukit telletubbies, perbukitan berumput pendek tak ada alang-alang seperti apa sih?

Merasakan tanjakan dan turunan technical di track sebelah jalan tol?

Masuk terowongan tol dan nyeberang sungai dengan rakit serta jembatan gantung?

gowesContreng_PICT3959

Ini foto Om Asol dan Teteh yang selalu standby di toko AA Bike, Tegaldanas, Cikarang


Trip-trip sepedahan liburan kemarin: Batukuda, Cikarang J3 J4, Seli Tour Kota Tua, Sentul – Pondok Pemburu

Ini nih beberapa trip menarik sepedahan selama liburan natal-muharram-tahun baru Des 2008-Jan 2009…

1) 1PDN Trip: Batukuda, Cileunyi Bandung (27 Des 2008)
Nanjak dari 750dpl ke 1250dpl. Tidak hanya nanjak dan pemandangan alam batukuda yang istimewa, turunannya juga ‘singletrack heaven’, masih sangat bisa dinikmati dengan xc-bike hardtail Polygon Cozmic saya.
pict1959batukuda1
pict1987batukuda2

2) Cikarang XC Evening Ride J4-J3 Reverse (29 Des 2008)Pertama kali memadukan J4 (seberang istirahat km 33) dengan J3-reverse. Evening ride dilanjutkan night ride. Right time (sore yang indah), beautiful scenery (sunset-nya serasa bukan di cikarang), right track (meski musim hujan, rumput hijau, tapi setelah tiga hari tak berhujan trek jadi kering, on best condition), right wheater (angin-nya suejuk banget sampai tak berkeringat)
Yang ingin liat2 track-track sepeda di Cikarnang yang lain ada disini…

3) Trip Seli Tour Ibukota: Senayan-Kota Tua-Sunda Kelapa-Senayan (2 Jan 2009)Pagi yang cerah, ber seli di ibukota yang sedang sepi lalulintas. Jumatan sudah di senayan lagi. Untuk pertama kalinya seli Polygon Urbano mendapatkan trip luar Cikarang. Ini saya rasa lebih terasa sebagai tour fotografi dibumbui bersepeda cantik hehe… Pernah tour Kota tua juga sebelumnya, jalan kaki…
pict2120sudakelapa1

4) 1PDN Trip: Bellanova Sentul City-Bojong Koneng Km0- Pondok Pemburu-Gunung Pancar- Sebex-Sentul City (3 Jan 2009)Trip paling melelahkan dari semuat trip liburan ini. Uphill-nya keren dan berat sekali, terutama track aspal rusak dan jalan tanah antara villa Prabowo=> Pondok Pemburu. Sampai di Pondok pemburu rekan2 Rodex pas mau turun lewat gunung Pancar, berhubung belum pernah, tanpa istirahat recovery dibela-belain turun lewat Pondok Pemburu >> Gn. Pancar yang dipenuhi turunan technical.
pict2234pemburu


XC Cikarang: Jalur “Kambing-nya Gito” dilanjut Jalur “Uka-Uka”

Setelah seminggu dilanda bad mood berkepanjangan dengan so many things to think about (halah!) akhirnya minggu pagi ini kesampaian juga bersepeda pagi yang sangat memuaskan !!!

0430 udah bangun. Aneh banget deh, baru tidur jam 12 kok bisa bangun pagi. Terusterang ini makin sering saya alami kalau ada rencana bersepeda keesokan harinya. Jam 0530 Om Sigit (OS) sudah beneran gedor2 pintu pagar saya seperti beliau ancam-kan dalam sms semalam.

0600 kita sudah menyeberangi kalimalang dan memasuki desa cibatu. Mantap sekali! Suasana pagi, kulit muka dan tangan kita masih diterpa angin menusuk. Memang semalam tidak hujan, jadi tapi tetap saja, saya terkejut dengan sensasi udara dingin cikarang di pagi kemarin… Ck Ck Ck… Saat genjot turunan dari jembatan diatas tol, agak speed tinggi, jalan aspal rusak, saya simpulkan dan tekadkan pada diri sendiri untuk terus melakukan GOLEPAG !!

Karena ‘keder’ dengan lumpurnya, kami tidak melanjutkan ke jalur Uka-Uka yang melewati sawah berlumpur, tapi kami ambil ke kanan, ke arah akses baru tol KM34 dari Lippo Cikarang. Kembali kita disuguhi perbukitan ala telletubbies. Ck ck ck… Cikarang memang jadi indah pagi2 begini. Semula kita akan ambil jalur Gito, tapi melihat sebuah tanjakan tanah ke perkampungan arah kanan, kita naik deh kesana. Menyelinap diantara rumah penduduk, dan nyelip diantara sapi2 yang berangkat ke tempat rumput, sensasinya lain bos!! Nyepeda berlawanan arah dengan gerombolan sapi yang hampir memenuhi jalan. Kita takut, tapi kayaknya sapi lebih takut. Masuklah kita di jalan beton selebar 3m-an yang berliku-liku. Buat saya dan Om Sigit, kami pernah melewati jalan ini di suatu night ride, waktu itu kita beri nama, “Jalur Kambing” karena kambing tidur di jalanan mengisi setengah jalan yang memang sudah sempit di malam hari. Habis itu biasa deh kita sudah sampai di daerah gemalapik. Menikmati tanjakan dan turunan aspal mulus sedikit, kita sampai di pertemuan dengan “Jalur Gito” lagi. Jadi anggap saja GOLEPAG kita kali ini lewat jalur “Kambing-nya Gito”, awas jangan kebalik!!

Kita masuk ke Kampung Sasak Papan >> Pasir Konci >> Kampung Gamlok. Ini perkampungan dengan jalan aspal rusak yang sempit dan berkelok-kelok patah. Jangan tergoda speeding deh, tar bisa ketemu belokan tak terduga.

Setelah menyeberang Kalimalang ke Kampung Poncol, kita baru bisa agak speeding. Wah keren, jalan yang baru diurug dengan kerikil menjadikan ride pagi itu yang mendekati jam 7 pagi menjadi lebih asyik. Di kampung ini kita juga masih menemui banyak pohon bambu yang merindangi jalanan kampung, sesuatu yang ‘mahal’ di Cikarang.

Ride di kampung Pocol ini kita tutup dengan melewati tikungan S saat memasuki pintu tak resmi ke kawasan Jababeka. Mantaaaapppp… benar2 menguji keberanian dan keseimbangan dalam handling sepeda kita!! Saya dan Om Sigit sampai harus naik lagi, untuk menikmatinya sebagai tanjakan, lalu turun lagi, untuk menikmatinya sebagai turunan batu yang mengasyikan. Benar2 keindahan yang tak jauh dari rumah !!

Ride GOLEPAG pagi ini ditutup dengan melewati singletrack di pinggir sungai. Wuih!! Basah, berlumpur dan penuh tanah!!

Jam 7 kurang, sudah nongkrong di Paladeo. Makan pecel madiun. Om Awi nanyain, wah ban udah kotor, udah kemana aja nih? Kami jawab, “Sepedahan di singletrack sebelah sungai…” hehehe… Emang iya kan? Itu adalah part penutup kemarin.

Lalu bersama kita sepedahan sampai ke AA Bike Tegaldanas dan pulang lewat jalur Uka-Uka yang berlumpur, berumput tinggi dan sudah jadi sawah…. Wakakaka… akhirnya berlumpur ria juga!!

AYOOOOOO… GOLEPAAAAAGGGG….


Jalur Gito

Senin kemarin saya cuti, ada kegiatan lain yang cukup membosankan sampai jam 3 sore, akhirnya memutuskan buat genjot sendirian setelah acara membosankan tersebut berlalu. Pembalasan, masak cuti malah diisi acara membosankan?

Pengennya offroad, tapi males lumpur, ya batu atau jalan rusak lah… akhirnya diputuskan ambil jalur desa cibatu nembus lippo (bunderan dekat beverly). Kangen juga sama tanjakan onroad ke arah cibiru, meskipun sudah berniat untuk menyatroni kantor om Yadi, akhirnya malah nanjak dulu ke arah cibiru lalu balik turun lagi. Ini tanjakan memang cukup bangsat (maaf), setiap melewatinya saya jadi meragukan kadar ‘kecintaan’ saya pada tanjakan. Susul menyusul ada tiga gundukan yang harus dilalui sebelum muter di bunderan cibiru.

track-cikarang-jalur-gitosmall

Kontak Om Yadi sambil istirahat, wah, tampak dari irama suaranya bakal seru nih gowes pulang barengan hehehe…

Saya ambil jalur lewat taman cempaka (?) jadi gak lewat pujasera sirkus, sempet muter2 bingung akhirnya dijemput sama om Yadi dengan si Willy-nya. Nengok dulu ke kantor Om Yadi, terkagum2 melewati pabrik ban Scwalbe. Ban sepeda-nya, ada kali 50+ macam dipajang di luar dekat pagar depan. Kayaknya uji ketahanan kalau ditaruh di udara bebas. Ck Ck Ck.. mana coba saya uji pake sepeda sekalian…

Dilanjut ke arah detpak, hai hai sama Om Iwo. Memang benar Om Yadi kalau enak banget sprint di jalur pulang beliau sepanjang lippo dan delta silicon ini. Lurus, halus, lebar. Tapi tau sendiri dong kalau gowes sama Om yadi? Alamat diasepin, kita cuma kebagian ngeliatin kelip2 lampu belakangnya yang makin lama makin jauh hehehe…

Kenapa namanya jalur gito?

Kalau dilihat di peta, tampak kan kalau jalur ini sebenernya jalur b2w biasa saja, 60% adalah on-road mulus (warna merah) lalu juga ada jalan rusak dan batu2 (orange) serta sedikit offroad (hijau).

Dari detpak kita dihadapkan pada arus pulang arah lippo yang super macet sampai di jembatan tol, wah, kalo macet nyelip2 gini rasanya jadi kangen sama neng Uu’, si lipetan urbano yang lincah banget kalo dipake nyelip2.

Karena beda jalur menyelipkan diri, segera saya bisa tinggalkan Om Yadi. Kesempatan… kapan lagi bisa ngasepin beliau kalo gak pas macet begini, dapat agak longgar di depan saya kebut sekuat saya, sedikit unjuk gigi lah… saya coba tengok2 ke belakang. Kok Om Yadi gak kelihatan juga yah.. Saya harapkan di bayangan saya, bliau sedang ngejar saya wakakaka…

Terperanjat saya setengah mati !! Rupanya Om Yadi yang saya kira di belakang sudah tampak menunggu saya di depan!! Ampuuuuuunnnnn…..

Sampailah kita di jalan masuk tol arah dari lippo. Sempet ngebayang. Kayaknya seru juga nih dari sini masuk tol naik sepedah wuikikiki… Lalu saya usulkan ke Om Yadi untuk lewat jalan sempit yg agak offroad alias jalan aspal rusak banyak polisi tidur. Hehe… saya tau Om Yadi gak demen polisi tidur, sapa tau ada voor buat saya bisa ngasepin bliau…

Kita nyeberang sepeda dituntun di tengah kemacetan, lalu masuk ke arah kampung sasak papan. Kampung ini ada sejajar dengan jalan ke arah gemalapik, tapi jalan ini lebih sempit, pas satu mobil saja, jadi kebanyakan yang lewat adalah motor. Kalau lihat di peta jalan kampung aspal rusak ini nembus ke pasir konci, kampung gamlok, lalu ketemu kalimalang. Jalannya khas jalan kampung cikarang, aspal tapi rusak dan bolong2, banyak anak kecil, banyak polisi tidur. Mantap. Jadi bisa jumping2 sambil ngebut.

Oya, kenapa jalur ini diberi nama jalur ‘gito’?
Pas ngebut di kampung sasak papan itu Om Yadi bilang, “Ini sih jalur-nya Gito…” Artinya Gito kalo b2w lewat jalur keren ini. Wah .. mantap juga. Om yadi juga cerita kalo pernah jatuh gara2 ngebut sambil belok wakaka… Jagoan bisa jatuh juga hehe…

Setelah melewati kalimalang, kami menyeberang jalan beton pinggir kalimalang, sedikit saja, lalu masuk ke kampung poncol. Kampung ini sudah berbatasan langsung dengan kawasan industri jababeka terjepit dengan jalan beton kalimalang-pemda. Jalan kampung disini sama saja, sempit, satu mobil saja, aspal rusak kadang kerikil, dengan banyak polisi tidur. Masih ada beberapa area lebat pohon bambu di pinggir jalan, agak adem.

Jalannya cenderung datar, tapi di akhir jalan ada kejutan turunan letter S yang sangat tajam. Mirip downhil deh, dengan jalan berupa campuran batu2 dan limbah beton. Wah mantap sekali, turun langsung masuk ke kawasan jababeka Jl Industri Selatan di sekitar PT Cahaya Kalbar (sebelah VGI). Percaya deh teman2… yang suka turunan musti nyoba turunan ini… yang suka tanjakan juga musti nyoba dari arah sebaliknya. Ini penutup yang TOP dari trip ini.

selesai sensasinya?

BELUM !!!

Deket pojokan VGI, pertigaan dengan cahaya kalbar, kita pakai pikul bike di jembatan shirotol mustaqim. Jembatan beton selebar sepatu kita melewati selokan jababeka sedalam 3 meter-an. Ngeri juga sambil angkat sepeda.

Lalu sepeda mulai digenjot melewati pinggir selokan, lalu masuk ke pinggir sungai cilemahabang. Ini di seberang sungai-nya daerah tapir/panda. Ini jalur ternyata singletrack yang jadi cukup berlumpur, ada tapak2 kaki sapi. Kangen dengan singletrack Jalur Rindu Alam yang diselingi akar2 menonjol? Disini tempatnya!! Gak jauh dari pintu rumah anda!! Around your doorstep!! Om Yadi sempat teriak karena kepala hampir kepentok dahan pohon. Apalagi kita tetap gowes full speed, tapi kali ini offroad….

Meski cuma 200m-an, tapi jalur pinggir kali ini paling berat. Kita juga harus menjaga keseimbangan dan juga mesti bisa liat jalur di depan, jangan salah jalan…

MANTAP!!! Kita sudah sampai di jembatan menjangan. 50 meter dari rumah!!!


XC Cikarang Jalur Tengah

Gowes Minggu pagi kemarin sangat amat berkesan. Setelah menghadapi minggu lalu yang sampai 3kali ngelembur hingga tengah malam setir ke jakarta ngerjain tugas sekolah, sabtu dibantai di presentasi kelas marketing, minggu pagi dengkul sudah senut2 minta diajak genjot.

Hari sabtu sepeda sudah saya masuk-kan ke Uda, akhirnya rasanya inilah sudah ujung dari upgrade bertahap sepeda cozmic, terakhir upgrade ke disc brake mekanik (dapat gratisan/lemparan caliper) dan juga tuker crank dengan shimano non series. Minimal tidak ragu masuk ke musim hujan penuh lumpur dan abuse crank dengan medan turunan. Gila juga ya selama ini saya pakai itu crank eks roachamp wimcycle, yang terbuat dari PLASTIC. Ampun! untung digeber terutama di turunan dari sukamantri, rindu alam, kiara, jogja, cikarang… Ungung gak patah wakaka… Maklum penunggangnya kan langsing hehe

Setelah lontang lantung mondar mandir di sekitar tarum barat setengah jam lebih, akhirnya jam 0615 terkumpul 5 pesepeda (Asup, Novie, Heri, Sugeng, Anto) di gerbang belakang cikarang baru ke arah kalimalang. Mantaaappp… Kali ini udah semangat bawa GPS, mau pemetaan jalur UKA-UKA dan juga Jalur tengah dan J4-reverse.

Genjot dimulai dari 10km/jam naik bertahap sampai 25km/jam di jalan beton kalimalang, tau2 udah harus belok ke jalur UKA2. Ini jalur jadi favorit baru saya. Belok2, jalan aspal rusak (jadi serasa offroad) lalu masuk ke singletrack kebun dan pematang sawah yang pakai naik turun. Mantaaappp…. Gowes lanjut terus sampai titik start jalur Tengah di kampung Cimahi. Ada warung, bbrp rekan makan mie telor dan kopi jahe (belum sarapan kayaknya).

Disini saya sempat mencoba testride dua sepeda KHS XC-204 dan XC-604. Wah… mantap, enteng banget sepedanya, padahal serasa ‘bulky’ alias bongsor. Nostalgia handling di turunan pakai rise-handlebar, hmmm.. enak juga, jauh lebih mudah kontrol-nya daripada pengalaman saya selama ini pakai flat-handlebar (handle bar/stang yang rata). Lagi seru keluar jalan utama di perbukitan sekitar kampung Cimahi menikmati turunan pakai all-sus bike, eee… saya dibuat salting gara2 ketemu ibu2 lagi (maaf) buang h**at. Ampuuunnn… Ini masih kampung sekali cara hidup dan sanitasinya!

Balik lagi ke warung udah pada kenyang, muka rekan2 yang tadinya biru2, karena genjot gak berenti dari gerbang belakang sampai kampung cimahi, mulai cerah lagi (maklum keisi indomie), kita mulai genjot cepat nanjak ke puncak bukit jalur tengah, tempat satu2nya pohon akasia tersisa. Lalu langsung turun lagi, asik banget, serba nanggung waktu saya dengar pas dibelakang saya ada yang teriak. Saya pikir tadinya teriak exiced, karena memang turunan ini favorit saya juga, banyak drop off kecil-nya (jadi masih berani di-rolling pake cozmic) plus juga di tengah kemarau begini jadi rekahan2 tanah selebar 5-10cm membuat memilih jalur, menggenjot turun menjadi semakin menantang dan mengasyikan. Baru kemudian saya ketahui yg teriak di belakang adalah Om Heri yang sepedanya melindas ular cobra sepanjang 1,5m yang baru keluar dari celah rekahan tanah. Wakaka…

Selanjutnya setelah sedikit cerita2 begitu ketemu jalan tanah (seberang rawa nambo), kita ambil jalur ke hutan jeng-jeng. Wah teman2 yang berkumpul di palladio udah mulai start, dan kita janjian di jeng-jeng. Udah deh, kembali melewati pematang dan sawah kering. Ini juga medan yang menyenangkan di musim kering begini. Pematang sawah yg sudah sempit itu ditambah rekahan2 retakan tanah kering. Tambah menantang dan sulit ditaklukkan. Disambut tanjakan ke jalan aspal calon kampus ITB.

Medan berikutnya ke hutan jeng-jeng adalah tanjakan ngehe’ sampai ujung bukit seberang KFC. Wah, ini tanjakan udah kemiringan tak sopan, ditambah tanahnya baru diratakan, tanah miring diliputi oleh lapisan serpihan tanah kering keras seperti kerikil yang licin, jadi masih sangat mudah bikin slip ban belakang. Bener2 medan offroad uphill yg sangat berat dan susah. Akhirnya di beberapa titik saya dorong juga itu sepeda, menyalahi aturan menikmati kenikmatan tanjakan.

Setelah sedikit melewati J4-reverse yang berupa turunan ke arah terowongan jeng-jeng… hmmm.. ademnyaaahhh… rasanya hati ketika masuk hutan jeng-jeng. Disitu sudah menunggu tiga j-co-ers (Gazel, Xion, Joko). Lengkap deh berdelapan kami ngobrol2 di sebelah jalan tol, foto2 pakai hp baru Om Xion, seru juga sambil lihat jalan tol yg masih padat dengan mobil2 dengan bungkusan diatas atap, khas pemudik.

Sudah selesai, rekan2 melanjutkan ke billboard KOTA DELTAMAS sementara saya ambil jalur kondangan. Sudah jam 9 sementara kondangan di mega kuningan dimulai jam 11. Jam 9 mulai panas menyengat cikarang, tidak sesejuk waktu pagi tadi kami lahap jalur tengah. Memang, program Jacyco GOLEPAG (gowes lebih pagi) menyenangkan (tidak panas) dan menunjang penampilan (tidak tambah hitam)….


Buka di atas Bukit J4

Ternyata bukan seperti rencana, 1645 sharp berangkat, extended meeting, jadi 1703 baru berangkat dari gerbang belakang.
10 menit sampai tegaldanas, ambil napas 3 menit
10 menit lagi sampai depan terowongan, ambil napas 5 menit sambil sms2

Setelah terowongan sempat moto dulu, jalurnya maut, terbagi dua kekiri dan kekanan.

mulai genjot habis terowongan, langsung balas hantam tanjakan J4, tanjakan yg hanya ada di musim panas, dan tanjakan paling technical di sekitar JBB menurut saya. Sial! baru separuh saya harus turun dari sepeda. Ban belakang spin, jalan berpasir ban muter waktu digenjot, kaki udah nyut2an juga sih… (lihat foto)

ambil napas 1 menit sambil menyesali kok gak tamat tanjakan ini. Kepikir buat turun lagi ngulangin, tapi inget pakai ban road, wah, lain kali aja deh hehehe…
menit ke 27 sudah sampai puncak bukit. Di belakang saya kampus baru ITB di depan saya jalan tol dan peristirahatan tol. Di kiri saya matahari sedang terbenam (lihat foto)

Mantap, adzan pertama langsung lahap apel, lalu gadtorade dan terakhir aqua dingin.


Pulangnya sprint sampe rumah, mampir di tegaldanas (sambil ambi napas, lagi-lagi) beli es kelapa…

1845 udah sampai rumah, mandi segaaaarrr….


Nyeberang sungai cibeet

Gila, udah lama juga gak nulis ttg bersepeda yah?

Ini adalah foto gowes Jababeka Cycling Community waktu menyeberang sungai Cibeet (sungai perbatasan Bekasi-Karawang)… Untuk yang akan ikut gowes 31 Agt 2008, siap-siap dengan membungkus hp dan mp3 player serta kamera dengan plastik hehehe…

Padahal di musim hujan sungainya berair deras sekali…
getek
seperti bisa dilihat ceritanya disini..


XC Cikarang-Mekarsari-Ciputat

Ada Mekarsari MTB Challenge, rame-rame dari Cikarang, kami Jababeka Cycling genjot Cikarang-Mekarsari, sekitar 30km.

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Rekan-rekan melanjutkan genjot pulang juga balik Mekarsari Cikarang, sementara saya memilih jalur lain Mekarsari ke Ciputat, Lebakbulus.

14

Touringg….!!!
Semula saya kira akan mencapai angka 100km, tapi ternyata sesampainya di Ciputat odometer menunjuk 70.2km. Wah belum memecahkan rekor perjalan terpanjang 80km dengan WimCycle tahun lalu.


Ngimpi ‘Bike Track’ di Cikarang

Keren banget kalo jadi nih Jacyco…

Trek pendek DH/AM (Track J1)
————–
Note: J1=Jacyco1

Semi downhil, dari bukit sebelah hutan jinjing terus turun sampai masuk finish dalam hutan, kalo perlu sampe batas jalan tol. Biar kalo mrk lewat tol itu jadi pengen lirik track ini.
Masalah track ini adalah bawa sepeda naiknya. Sepeda2 AM dan DH kan berat2. Bisa jadi tar ada ojek standby bwt naikin sepeda ke titik start.

Panjang track: lk 2km
Karakter: fast, semi downhill/all mountain

Trek XC (Track J2)
———
Track ini track yang kemarin saya coba sama Oom Asol sampe RD Oom Asol jebol. Karakter track-nya cocok untuk yang suka berbukit namun tidak mau banyak menikmati turunan. Disuguhi karakter berbikit kombinasi nanjak dan turun, track dg rumput tipis dan pemandangan indah dan eksotis perbukitan telletubies. Saat hujan track tetap berumput namun ada suguhan lumpur dan turunan batu.

Karakter track sebenarnya masih XC, cukup aman karena kalaupun kita jatuh di turunan rumputnya empuk dengan lumpur dibawah rumput.

Selain suhu panas dan pemandangan indah perbukitan track ini ditutup dengan ketemu jalan tol, kanopi bambu lalu masuk ke hutan jinjing. KEREN !! Sensasinya TOP

Panjang track: 5-7km
Karakter: XC

Track XC all day (Track J3)
———————

Ini yang pernah kita gowes bareng melewati getek itu.

Panjang, perpaduannya lengkap antara jalan desa yg cepat, jalan sawah berlumpur, onroad berbukit dg banyak tanjakan dan turunan, nyeberang getek, hutan bambu, ngolong tol, jalur pepaya.

Gak ada yg ngalahin!!!

Karakter trek: XC semi touring
Panjang track: lk 50km

Sebenernya Cikarang tidaklah jauh dari salah satu pusat pesepeda: kawasan bekasi timur.

Komplek perumahan di wilayah ini banyak banget. Disitu ada komunitas2 sepeda yg cukup disegani seperti Roger Bagen dan D’Lenongs yg sering post di sepdaku. Blom yg kecil2 lainnya.

Pasar pesepeda bekasi timur-barat-cibubur ini besar sekali. 20org saja tiap minggu mampir jalur ini, rame deh…

*bangun tidur apa masih ngimpi??*


J3 (Jalur Jacyco Jababeka) – bag3: Lumpur oh Lumpur

Lanjutan dari bagian kedua…

Setelah menjalani acara menyeberang sungai, seluruh tim tampak bersemangat dan tersenyum lebar penuh kepuasan.

http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8716_1203mejeng.jpg?w=950
(1203 berfoto bersama)

http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8718_1204speda2.jpg?w=950
(1204 sepeda berjejer penuh lumpur sungai)

Kita disambut oleh deretan hutan bambu yang sangat sejuk, memberi semangat tambahan padahal badan sudah letih dan perut mulai keroncongan.

http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8722_1208.jpg?w=950
(1208 melintas hutan bambu)

Sejak menuruni jalan menuju perahu saat melintas sungai, ban sudah menjadi donat karena lumpur. Diperparah saat melintas hutan bambu yang penuh dengan daun bambu kering. Tampaknya memang ditakdirkan bambu kering dan lumpur bakal sangat kompak. Belum cukup ternyata kita melewati ‘ungowesable track’ seperti ini.

http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8738_1234ungowesable.jpg?w=950
(1234 ungowesable, semua melipir nuntun)

Setelah sempat bingung melintasi pinggiran sungai, melewati pematang sawah, melewati pepohonan bambu lagi yang membuat ban semakin tebal donatnya, semakin berat digenjot, kita akhirnya tiba juga di kolong jembatan tol.

http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8753_1304jembatanbamb.jpg?w=950
(1304 jembatan bambu)

http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8745cozmicku.jpg?w=950 http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8747_1254cozmic.jpg?w=950 http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8761_1309cozmic.jpg?w=950 http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8757_1309kolong.jpg?w=950
(1309 Cozmic ku yang berlumuran lumpur, v-brake oh v-brake… tampak di bag atas adalah jembatan tol dg truk melintas)

Benar-benar foto yang memberi alasan kuat kan untuk beralih dari v-brake ke disc-brake?? Sabar… sabarr…

Setelah acara pit stop lagi karena ada warung di bawah jalan tol (teduh lho), kita lanjutkan lagi genjot, ketemu pinggir kali malang dan akhirnya sampai Cikarang Baru lagi. Ini kolong tol tepatnya adalah di perbatasan antara Karawang dan Bekasi, kalau di dalam jalan tol di sebelah utara jalan tol kita lihat patung harimau (maung) yang merupakan juga perbatasan kodam Jaya dengan Siliwangi. Dari kolong tol ini satu orang anggota tim memutuskan meneruskan perjalanan dirinya dan sepedanya dengan ojek, setelah beberapa kali kraam terus.

Perjalanan yang panas, dengan perut keroncongan, mendampingi rekan yang kraam terus sepanjang kali malang, baru sampai rumah jam 1430.
Total perjalanan 57km ditempuh dari jam 0730-1430.

DAHSYAT!!


J3 (Jalur Jacyco Jababeka) – bag 2 : Onroad dan Nyeberang Getek

Lanjutan dari bagian pertama…

Setelah istirahat di sebuah warung kita segera menjalani etape yang sangat panjang onroad. Ini adalah daerah Ds Nagasari, Kec Serang. Medan-nya berbukit-bukit jadi ya jalanan naik turun. Lalu kita masuk ke Kec Bojong Mangu. Banyak tanjakan aduhai dan disusul segera dengan turunan mesra. Menguras tenaga. Disinilah endurance benar-benar teruji karena meskipun sebagian besar tim (17 sepeda) mengaku tidak menyukai onroad, ternyata saat di jalan mereka segera dengan mudah terpecah-pecah. Yang pengen menguji speed atau yang pengen balapan segera meluncur kedepan. Mungkin bukan senang onroad tapi malah pengen onroad ini segera selesai.

1
(09:11 anggota termuda Rico, 11 tahun, didorong sabar di tanjakan oleh ayahnya)

2
(10:11 pitstop pertama)

3
4
Sempat ada hiburan kita melewati bendungan Cibeet. Jalan raya yang kita lalui melewati tepat diatas sebuah sungai besar yang dibendung jadi seperti danau.

Entah Kang Asol the road captain membawa kita kemana. Yang jelas buat saya rasanya jalur onroad ini tidak ada habisnya. Semula di sebelah kiri jalan masih tampak ada di kejauhan kompleks perkantoran Kabupaten Bekasi, namun makin lama kompleks ini makin hilang. Jadi kita benar-benar menjauh dari area Kota Deltamas/Cikarang. Kita melakukan pemberhentian, minum dan istirahat sambil re-group-ing sebanyak tiga kali. Termasuk peristirahatan onroad terakhir kita yang berupa sebuah pasar di dekat pertigaan, ada di pinggir jalan raya menuju Loji. Warung ini sangatlah ‘beradab’ dibandingkan semua peristirahat kita sebelumnya. Disini kita bisa temui biskuit (meskipun tetap tidak ada coklat) dan juga lemari es berisi pocari sweat dingin. Hhhhh… segera isi hydropack yg sudah kosong dg satu liter pocari dingin. Kalau hydropack ini habis nanti berarti saya menghabiskan 3 liter air.

5
Disini selain jauh dari ‘peradaban’, juga jauh dari sarana kesehatan yang memadai rupanya. Coba perhatikan petunjuk jalan berikut. “Mohon untuk tidak NGEBUT, disini jauh dari rumah sakit”. Hahaha.. Lucu, ironis, sekaligus sangat bijak.

Akhirnya setelah siksaan onroad yang sangat panas dan berpolusi, kami masuk offroad lagi. Seluruh tim tampak excited dan meningkatkan kecepatan genjotan. Namun segera kita disambut rekan yang kraam. Sejak titik ini sampai kembali ke Cikarang Baru (sekitar 15 km offroad) kita akan terus berurusan dengan rekan yang kraam, yang jumlahnya 3 orang. Bergantian mereka terserang.

6
Jalur onroad yang panas ini panjangnya sekitar 17km. Tim sangat bersemangat karena sudah tersebar kabar bahwa ‘tempat naik getek’ sudah dekat.

7
Sensasi Getek (sebenernya lebih tepat disebut perahu ya dari bentuknya?) adalah sensasi berikutnya… dan ini tidak mudah terlupakan. Getek ini pas di sungai yang merupakan perbatasan Kab Bekasi dan Kab Karawang.

8
9
10
11
12
14
Menyeberang dengan perahu seperti ini sama deg-deg-plas nya dengan melahap turunan panjang tanpa berusaha nge-rem. Semua tim terlihat bersemangat sekaligus ada rasa takut menjalani penyeberangan ini.

Bapak penarik getek kelarisan. Kita menjalani empat kloter dengan masing-masing kloter diisi sekitar 4-5 sepeda beserta penunggangnya. Aliran sungai cukup deras, air sungai berwarna cokelat, ini memang musim penghujan jadi ada kekhawatiran banjir atau aliran besar air tiba-tiba datang. dari lumpur yang menutup sebagian besar lereng sungai terbayang berapa tinggi air sungai ini saat kondisi banjir.

Rupanya kita jauh-jauh onroad panas-panas dan lapar ini tadi demi mendapatkan lokasi penyeberangan sungai ini. Sebenarnya jalan yang melewati jembatan sudah ada dan sudah bagus, tapi kenapa lewat yang mudah kalau ada jalan yang susah dan menantang kan?

Penyeberangan dengan getek/perahu/rakit ini adalah sensasi utama tour ini. Trip distance menunjuk 38km.

bersambung ke bagian ketiga…


J3 (Jalur Jacyco Jababeka) – bag 1 : Sekitar Kota Deltamas

Sudah sering ikut nightride dengan rekan-rekan Jacyco (Jababeka Cycling Community) Cikarang, namun baru kali ini saya ikut acara gowes rutin mereka di Minggu pagi.

paladio
http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8508_0801palladio.jpg?w=950

Setelah meninggalkan Kompleks Cikarang Baru, menyusuri kali malang, menyeberang di Tegal Danas, akhirnya menuju Kota Deltamas, sebuah kompleks yang juga tempat pemerintahan ibukota Kabupaten Bekasi. Setelah melewati kompleks kabupaten yg masih panas karena jarang pohon, Oom Asol, yang dikenal sebagai ‘kuncen Deltamas’ menjadi road captain kita kali ini.

http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8523_0822delta.jpg?w=950

Kita segera dibawa masuk jalanan suatu kampung yang lumayan isinya singletrack jalan orang/motor. Uji keseimbangan tahap pertama diakhiri dengan tanjakan masuk ke jalan beton.

Gak sampai 100 meter jalan beton onroad kita masuk ke jalan kampung lagi, kali ini agak lebar, muat mobil lah. Segera kita disuguhi pemandangan perbukitan cikarang selatan. Uindah rek, apalagi musim hujan gini, saat semua tanaman hijau. Kata teman2 ini daerah tadah hujan, kalau kemarau gersang.

http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8544_0846bukit.jpg?w=950

Karena medan berbukit2 segera kita disuguhi turunan panjang banget, ada 1km mungkin, di bawah canopy pohon bambu. Ampuuunnn… Adrenalin terpacu untuk menahan tidak nge-rem. Kita maksimalkan kecepatan sambil waspada menebak-nebak tikungan berikutnya dibalik rumpun bambu tuh seperti apa?

http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8551_0853bukit.jpg?w=950

Track canopy bambu berakhir dengan masuk ke singletrack pematang sawah, yang berlumpur. Diujilah kemampuan rekan mengendalikan sepeda, menjaga keseimbangan, menjaga power kayuhan, sambil mengatasi kubangan lumpur. Di track ini kita ketemu dua jembatan bambu, salah satunya disambut tanjakan parah.

Sampailah di perhentian pertama, sebuah warung di tengah sawah. Warung sederhana yg sepi itu tiba2 ramai dengan permintaan2 aneh yg tidak bisa dipenuhi, “ada pocari sweat?” ” Ada xokelat silver queen?” Haha… Ini jauh dari peradaban mannn… Yang pasti ada: rokok!

Lanjut deh jalan pedesaan membelah sawah, ladang dan kampung yg berbukit-bukit. Sampai di suatu titik kita belok kekiri seperti mau masuk ke kali. Benar saja kita disambut turunan tajam lalu jembatan sempit diatas selokan/kali kecil saat kecepatan menurun sedang memuncak. Sekitarnya adalah pepohonan bambu yang teduh, tapi juga menutup jalan. Menghalangi pandangan kita sambil memberi kejutan yang menyenangkan.

http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8581_0931turunan.jpg?w=950

Kita disambut dengan tanjakan kejam yang tiada henti, di tengah perkampungan dan kebun dengan singletrack yang berkelok-kelok nanjak teruuuussss… Ditutup dengan lintasan panjang yang lurus nanjak terus. Sekitar 1,5 km nanjak berkelok-kelok. Beberapa rekan mengambil langkah bijaksana: TTB.

Sampailah kita di pemberhentian berikutnya, warung pinggir jalan beton. Inilah warung “kakek dan cucu” gara2 salah satu member bertampang oldies bersepeda di sebelah member termuda kita, Rico yg baru berusia 11 tahun.

http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8590_0946kakek.jpg?w=950

Terengah-engah puas dan lelah. Sepeda dengan V-Brake saya mulai mengumpulkan lumpur…

bersambung ke bagian kedua…


Night Ride Cikarang: Rengas Bandung

Jumat kemarin, setelah menghadapi auditor seharian penuh, blom persiapannya, betapa menyenangkan melihat ajakan Night Ride dari rekan2 Jacyco, pesepeda di Jababeka. Ikuuuuutttt…

Setelah kumpul dan tunggu2an bertiga kami berangkat dari area Ruko Roxy, Cikarang Baru. Tim NR bertiga: OmAsup (Pak Ketu), Om Gzl, Anto: ditambah Sugeng yg menunggu di Graha Pemda.

Cuaca sangat mendukung, sejuk berangin, cenderung dingin malah. Meskipun seharian diguyur hujan dan ajakan NR via email pun bertajuk “NR Hujan-hujan-an Siapa Takut?” Namun ternyata night ride ini tidak diguyur hujan samasekali, malah sinar bulan sempat muncul. Medannya jangan ditanya, abis hujan. Jalan aspal licin, jalan tanah berlumpur, jalan berlobang jadi kubangan, jalan berbatu jadi licin juga, dan jangan lupakan sensasi utama nigh-ride: kegelapan.

Jalur yang diambil malam ini belum pernah saya lewati, Cikarang Baru > Graha Pemda > Rengas Bandung > Citarik > Cikarang Golf. Dimulai dari onRoad di sebagian besar jalan menuju Rengas Bandung. Rengas Bandung adalah sebuah kampung di jalur Pantura. Dari arah Cikarang kampung ini ada sekitar 5km keluar dari LemahAbang.

Setelah OnRoad sampai Rengas Bandung kita masuk jalan kampung yg sudah di beton. Rupanya meskipun jalan mulus dibeton, drainase belum dirancang baik, beberapa kali kita menjumpai jalan beton yang tergenang air sampai sedalam 5cm, seru juga sebagai pembuka. Setelah melewati rel kereta, dan agak kecewa kok jalannya mulus (halah!) akhirnya jalan beton itu habis juga setelah melewati sebuah kampung. Jalan berubah menjadi jalan tanah/aspal rusak berlobang2. Sehingga kita, yg masih malu kucing keciprat lumpur, masih sabar menghindar lobang dan kubangan. Seru juga karena mengasah skill handling sepeda, bukan hanya menghindari lobang, tapi juga menyiasati minimum visual clue, ya! Inilah NR! Makin jauh meninggalkan perkampungan jalan semakin rusak, kubangan semakin besar, saat itulah akhirnya kita tidak bisa memilih lagi. Cebur! Kubangan2 itu dilahap juga. Namanya kubangan, kadang landai kadang dalam, kadang malah curam berbatu. Jadilah acara cebur2 ini dilenglkapi dengan menaikkan speed, makin kenceng makin asik sambil excited main air kubangan. Beberapa kali kita saling ejek saat rekan ketemu batu-nya (dalam arti sebenernya).

Disertai bonus sedikit melewati jalur mulus aspal sebelah saluran irigasi, kita kembali masuk ke kampung dengan jalan berkelok, penuh lubang, kebun penuh pohon tinggi jadi jalanan semakin gelap saja. Pada kondisi begini Oom Gzl malah terus ajak tim buat speeding. Si Oom sampai kita tenangkan, “.. Tenang Oom, gak usah dipikirin lah bonus tahunannya…” Hehe.. Tapi terusterang ngebut malam2 sambil main kubangan air gini emang asek beratz..

Akhirnya kita sampailah di masjid pertigaan. Berenti dulu, minum di hydropack satu liter habis. Ini gara2 mencoba tips untuk selalu minum tiap 10menit. Berarti memang sebenernya kita harus sering minum ya? Buktinya habis tuh satu liter padahal baru 18km di cyclo. Disini sol sendal gunung lepas, yah namanya juga sendal gunung baru nemu di gudang, sendal gunung edisi lama.

Denagan baju dan sepeda penuh lumpur dan air kotor kubangan lumpur, kita jalan santai onroad mulus. Saya sudah apal kalo jalur ini, bakal mulus terus sampe rumah. Helm dilepas ditaruh handlebar, biar kepala bisa leluasa menikmati dinginnya angin malam. Sampailah di suatu titik ada yg bilang, “belok kiri” sementara rekan yg lain bilang, “wah becek nih abis hujan” dengan spontan saya berkoar, “ada yg males becek2an…” Hahaha… Rookie sekali, baru kemudian terbukti sebaliknya.

Jalan tanah habis hujan seharian. Buat para pembaca yg blm pernah jajal track offroad cikarang, tanah di cikarang berkarakter tanah liat. Licin, liat, kalau berlumpur pekat dan viskositasnya tinggi. Sejak belum ada pabrik keramik kedua terbesar di Asia (Mulia Keramik), kawasan cikarang sudah dikenal sebagai penghasil batubata bermutu. Jalur yg tadinya cukup keras dan bersahabat pelan2 berubah ditambah kubangan2 lumpur pekat. Yang membuatku kaget adalah licin-nya. Buset! Setelah 20km speeding di kegelapan selama 1,5jam lebih, keseimbangan tubuh kita benar2 diuji. Belum selesai kagetnya saya musti ekstra seimbang di depan sudah menunggu turunan disambut kubangan kebo yang tidak mungkin dihindari. Oom Gzl dan Oom Asup sukses melewati tanpa turun dari sepeda, padahal lumpur bisa sampai 20cm kedalemannya. Sedikit lagi hub sudah terendam. I don’t know how they do it. Sementara saya terpaksa nyelupin kaki ke lumpur yang berakibat sendal gunung jadi almarhum. Waktu kaki diangkat sol sendal gunung tertinggal dalam lumpur.

nrr1
(21:57 sendal gunung tinggal kenangan dan ban donat, sorry out of focus)

Etape penutup yg dahsyat!! Semakin ekstrim karena malam dan habis hujan seharian. Jalan nembus ke ujung Cikarang Golf. Selanjutnya adalah jalan mulus onroad yg justru kita cari kubangannya untuk membersihkan ban dan sepeda dari lumpur.

Selesai sudah NR dahsyat yg sangat basah ini. Puas sampai basah deh malam2! Total jarak 28km disertai fork, ban, dan seat stay yang penuh lumpur. Kocak banget lihat V-Brake depan-belakang yang sudah dilingkupi lumpur gitu, belum ban-nya. Jadi donat.

nrr3

Setelah kuingat2 ini adalah pengalaman pertamaku masuk kubangan lumpur, ditambah gak kenal medan, teknik dan pengambilan gear yg salah jadilah kami masuk ke lubang jebakan. Mayan, pengalaman. Jadi mendatang bisa lebih prepare. Mungkin sudah harus cari ban xc beneran yg ‘ramah lumpur’ bukan ban berat 2.25 Big Jim Scwalbe yg sangat berat digowes dalam lumpur gini.

Penasaran nih sama lumpuuuurrr….

nrr2
(22:19 bag cover paling terkorbankan)

Inilah juga nikmatnya tinggal di area sub-urban seperti Cikarang. Keluar kompleks dikit kita sudah ketemu ajang xc yg lumayan heboh buat sepedahan malam begini…

Did I tell you I love Cikarang very much ??


XC Jalur Pepaya: Karawang Barat – Tegal Danas

(Cerita ini berdasar dari post saya di list email rekan2 penggemar sepeda Cikarang)

Jadi rekan2 kemarin hr Sabtu (031107) pagi saya jadi juga mencicipi jalur pepaya-nya Oom Wisnu. Oom Wisnu adalah rekan yang secara rutin menjalani rute ini untuk bike to work; beliau tinggal di Cikarang Baru dan bekerja di pabrik Toyota di KIIC. Maaf gak ajak2 krn memutuskannya berdasar mood sabtu pagi tiba2 saja, pagi-pagi lgs sms Oom Wisnu. Ini sekalian pelampiasan gara2 dapat kabar ternyata tiba2 tgl 11 jgn2 gak bisa ikut nguler rombongan Bike to Work Goes to Bali.

cikbar
(foto sebelum berangkat dari Cikarang Baru)

Berangkatnya sih nyaman, memang banyak wanita ramah berangakat mandi, tapi rupanya mrk udah kenal ama OomWisnu jadi kami gak diapa-apain. Krn jalanan becek semalem hujan, kami jalan santai bgt. Perjalanan Cikarang Baru – KIIC yg biasa ditempuh Oom Wisnu dlm sejam, kemarin kita 1,5 jam. Makasih OomWisnu udah sabar pelan2 nemani nubie. Berangkat tidak sempat ambil2 foto kecuali foto diatas, maklum kan jarang berhenti, kita jalan udah pelan, nanti yang mau kerja telat deh. Saking pelannya kita jalan sampai bisa ngobrol dengan enak.

Pulangnya? Ini ujian sebenernya. Walaupun mendung tapi udara panas banget. Dan sepanjang 22km saya sempat 2x ganti ban dalam!!

sedana
(awal perjalanan dari KIIC Karawang Barat)

Jadi ban belakang saya itu mmg sudah penyakitan, sudah 3x tambal dlm 1mg terakhir. Saya sdh siap ban dalam dlm backpack. Masih di jalan aspal, itu ban blk udah kempes, sy lgs putuskan ganti band dalam aja. Apalagi nemu bengkel sepeda, jd dia jual ban dalam. Adanya mrk DELI 9rb. Ya sud. Kok ya pas banget kempes berenti pas dpn bengkel sepeda. Tapi masangnya gak bener. Di Loji saya lihat posisi pentilnya di ban miring banget. Mampir tmp kompresor, buka ban lagi, dibenerin posisinya. Genjot lagi.

jembcitarum
(jembatan besar citarum, ini sebenarnya jembatan yang menyeberangkan kalimalang ke arah barat diatas sungai citarum, dibawah jembatan ini ada pipa2 besar berisi air kali)

Abis jembatan besar kempes lagi. Ttb ketemu kompresor lg, trus bongkar tadinya saya minta tambal. Tapi ternyata di pangkal pentil sobek besar sekali. Ketemu jg kondisi ban luar ternyata yg blk udah peyang. Ini ban luar baru kali ini dipake offroad sjk dipasang. Posisi ban luar pindah, ban dalam yg ada di backpack akhirnya dipake jg (ganti ban dlm yg kedua).

kempes
(ban kempes untuk ketiga kalinya)

sobek
(ban dalam sobek)

bubur
(jalan berlumpur seperti bubur)

Trus jalan agak ngebut main cipratan lumpur. Pas masuk jalan beton tegaldanas ada bpk2 bike forwork bawa barang pake sepeda. Pas masuk jalan halus dia sambil ngomong “alhamdulillah…” Cukup kenceng untuk saya denger hehe… Kalau dulu Iwan Fals punya lagu “Ujung Aspal Pondok Gede” ini juga kayaknya ungkapan yang pas, ujung aspal Tegal Danas.

ujungaspal
(ujung aspal)

Hebat OomWisnu!!
Bwt saya jalur ini udah xc ckp berat, bwt Oom Wisnu cuma bwt b2w!!

Sayangnya saya tidak banyak mendapat runtuhan pepaya, ini yg membuat saya penasaran pengen nyobain lagi, wakakaka…

(peta ada sih, scan menyusul ya..)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 44 pengikut lainnya.