enjoy every cadence, every breath…

sepeda jalur cikarang

Ride#01 Jembatan Gantung-Cikarang

rumah nenek

spooky place

Cikarang, 1 September 2012

This is my first post in English. I am not really comfort on what I am writing, but I feel this is the right time to start. I want my writings can reach wider audience, can be useful for more and more readers out there. Wider than visitors of this blog which been written in Bahasa Indonesia since July 2006.

This post also the first blog post on documenting series of mountain bike rides in West Java, Indonesia. WEST JAVA XC RIDES… Yes, that’s means there will be rides on surroundings of where I live. Try to recapture one by one as much as tracks possible, which I have been riding since August 2007.

Well, lets just start…

This morning start ride at 0630am, taking a classic Cikarang mountain bike route to ‘Jembatan Gantung’ (suspension bridge). This route very popular in Cikarang area mountain bike scene, nearly every body know and fall in love with this track. It’s like a standard, a ride that everybody knows about. In my opinion, this just right to start a series of rides.

Ride#1 Jembatan Gantung

When a pair of tires hit the gravel double-track, the feel to the handlebar and pedals, transfer the roughness of the track into our body. This gives us the feel, the taste of the track. Dust flown from rear-tire of our colleagues ride in front. The feel and the taste that all of us in Cikarang knows about, and always want to do it again and again, ‘crave’ maybe a good word.

The physically challenging rolling route including a long and flowing 2km downhill, end up in the bridge site. Small suspension bridge, an old one with a bad physical condition, but giving a special feeling from the feel when ride on it. The shaking bride gives that odd and memorable feel for everyone ever ride on.

Track-log can be found in this Bikemap.net link…
Distance: 15.6 km
Total vertical climb: ca. 30 m

@antoix Track Rating:
Uphill: 7/10
Downhill: 7/10
Physical Challenge: 7/10
Scenery: 6/10
Character: Hilly rolling track in a hot Cikarang area weather

This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


Pait Ngabuburit

Cikarang, 11 Aug 2012

“Ngok ngok…”
Terdengar dua kali. Yang pertama dari kijang Innova yang ternyata Om Andri ada didalamnya.

“Ngok ngok…”
Bunyi klakson kedua hanya beberapa menit sesudahnya, tampak mobil yang saya kenal. Apalagi mobil tampak berbelok kekiri di Beruang. Tak salah inilah rumah Papa TB.

Akhirnya saya menjumpai diri saya njeprat njepret kamera di pinggir jalan Beruang 10 sambil menunggu Papa TB. Ternyata kemudian juga team KISS yang namanya “nyerempet kaya angkot” merapat juga.

Mengingat rumah ini, saya mengingat pertama kali diundang ke rumah ini, rame2 cikarangmtb, ngemil gorengan di lantai atas dan ternyata saya temui waktu itu saya berada di tengah persiapan Kolozal. Kalo gak salah persiapan kolozal Cigeuntis. Itulah saat pertama kali saya kenal dengan Cikarangmtb.

(kali ini saya bukan bikin cerita seperti biasanya, tapi nyeritain beberapa scene yang saya liat aja… kronologis, tapi tidak lengkap…)

Sesampainya genjot ke AA Bike cukup kaget, “Wah, banyak jugaa…. “
Kata Om Hanif, rekan rekan diam diam namun ternyata yang ngikut banyak juga. Tidak sempat menghitung namun tampaknya 15 pesepeda siap.

Terharu merasakan suasana di AA Bike. Ada banyak sekali senyum. Sapa antara pesepeda, senyum kangen juga karena sama sama lama tidak bertemu di tempat yang biasanya jadi tempat komunitas ini mangkal. Sejak Kang Asol sakit memang serba salah bersikap di AA Bike. Hari itu AA Bike tampak terasa mulai ‘back to normal’, termasuk mangkal nya tukang bubur ayam. Lho, ini kan bulan puasa toh…

Menengok ke dalam toko. Ada Teteh menjaga toko seperti biasanya. Barang-barang di dalam toko tampak telah dirapikan. “Iya, dirapiin Om… dibuang buang in yang tidak perlu” kata Teteh. Dagangan AA Bike memang jauh menipis dibanding biasanya. Tampak AA Bike berusaha dibangkitkan meskipun belum tegak. Kita dukung dan doa kan ya…. Teteh dan AA Bike terus bertahan menjadi tempat kita ngumpul.

Tunggu punya tunggu, beberapa rekan yang kabarnya lewat list di milis akan datang. Akhirnya langsung berangkat juga. Wuzzz… Sempat tertinggal dari tim karena njepret, saya bersama Om Begoyor duet akhirnya ternyata malah sampai jeng jeng duluan. Jadi teringat kembali hebohnya kemarin XXC Charity Race. Suasana tambah panas saja, maksudnya sore itu panas nya Cikarang ditambah juga dengan keringnya leher.

Melewati kolong tol kita disambut oleh segerombolan kambing yang kabarnya telah menyebabkan seorang pesepeda nubruk kambing. Memang mungkin kalau sudah sore-sore begini jadinya agak kehilangan orientasi dan keseimbangan yah… Salah satu seru nya gowes pait ngabuburit di sore sore bulan puasa… Saya mencoba genjot ngiclik saja. Sekadarnya kecepatan asal melaju kedepan. Sekadar menggelindingkan sepeda saja karena perjalanan masih jauh.

Mencapai makam Kang Asol di lead oleh Om Asup the Bartender. Kecepatannya lumayan kenceng buat orang puasa. Saya genjot sekenanya saja pokoknya asal tidak ketinggalan dan masih bisa melihat tim di depan. Setelah nyampai ke rumah ortu Kang Asol yang ada dekat jembatan, saya baru ingat kalau pernah gowes kesini dulu. Mungkin pas gowes patin.

Menjumpai makam Kang Asol sangat emosional saya rasakan. Dari berangkat genjot diam seribu bahasa, hampir tanpa kata kata. Apalagi setelah melihat makam nya. Agak cair dengan kedatangan beberapa warga seputar makam yang ternyata adalah masih keluarga Kang Asol.

Seluruh tim lanjut khidmat berdoa, saya menunda berdoa dan berusaha menenangkan diri untuk memotret…

Kang, semoga kedamaian menyertaimu kini
Doa kita semua dan berkirim Al Fatihah untuk belio.

Genjot lewat Kolong tol adalah genjot standar yang sering sekali kita lakukan. Mendekatinya saya baru sadar kalau saya gak pernah punya foto site legendaris Cikarangmtb ini. Warungnya pun tutup, tapi tetap tempat ini memancarkan keasyikannya. Berhenti sejenak untuk satu frame jepretan.

Sementara matahari tambah condong ke cakrawala, membuat genjot jadi semakin kencang karena kebayang Lippo Cikarang masih cukup jauh. Singletrack dari kolong tol sampai ITSB sangat asyik sore itu sementara langit makin redup dan akhirnya kami buka puasa dengan sebotol pocari di kawasan terminal angkot Deltamas. Lalu jajal jalan baru langsung ke Taman Beverly Lippo Cikarang. Dilanjutkan dengan buka puasa di kedimanan Om H. Arif dan Om Bayu. Sementara di titik finish sudah menunggu kelompok tutup botol yang dipelopori Pak Walikota, Om Qoqo dan Om Yadi.


Refresh to Jeng Jeng

Cikarang, 2 Juni 2012

Sekian lama rasanya tak bersepeda santai dan ringan di seputar Cikarang. Pagi ini akhirnya menjalaninya dengan teman bersepeda yang biasanya juga ngajak sepedahan yang jauh jauh tempatnya… Genjot bareng Om Hanif akhirnya sampailah di Jeng Jeng dan bertemu tim Corsa Achilles.

Selalu senang bertemu teman baru dalam bersepeda, selalu terasa gairah baru. Gairang baru bersepeda yang kadang kita rindukan kembali datang saat segala tentang bersepeda sudah mulai menjadi hanya pengulangan saja. Saat kita mulai bosan melakukan yang sudah sering kita lakukan.

Seperti juga pagi ini, bersepeda ringan ke Jeng Jeng menjadi bersepeda seru sambil memotret. Dan pulangnya sempatkan mampir dulu di es kelapa muda dekat tempat SOP enak di dekat Mako Detasemen B Brimob. Memang cikarang hari itu panas sekali dan berhenti di dekat Mako Brimob ini bukan permberhentian yang normal buat saya.

Biasanya digenjot sedikit lagi kita sudah sampai AA Bike jadi jarang banget berhenti disini. Secara tahu sama tahu saya dan Om Hanif seperti mempersiapkan mental untuk mampir dan menjenguk Kang Asol. Tidaklah mudah menjalani diri kita melihat keadaan Kang Asol saat sakit. Menengok kok sedih namun jika tidak menengok kok kehilangan kesempatan terus memberi semangat.

Berhenti membeli es kelapa ini pun saya manfaatkan untuk memotret. Tampak di bagian belakang warung, di tengah ladang ada sebentuk pohon dan juga beberapa ekor sapi yang sedang digembala. Menyenangkan sekali memotret sesuatu yang sederhana dan simpel. Adalah tantangan untuk memunculkan potensi visual dari sesuatu yang simpel dan sederhana.

Genjot pagi itu pun saya dan Om Hanif akhiri dengan menjenguk Kang Asol. Kang asol hanya sekilas seperti tersedak geli waktu saya tunjukkan sepeda 29in ke dalam kamar. “Ada ukuran S kok Kang…”

Kunjungan ini adalah kunjugan terakhir saya untuk Kang Asol. Setelah kunjungan ini, dimana Kang Asol masih bisa menatap tajam dan menggenggam erat tangan kita, saya tidak pernah lagi tega melihat kondisi Kang Asol. Kalaupun menjenguk saya akan memilih berada di luar dan tidak bertemu langsung.

Refresing ke Jeng Jeng yang menyenangkan dan suprisingly dapat foto-foto yang asyik…


Night Ride Cikarangmtb ke San Diego Pasircongcot bersama ANU

Cikarang, 4 Agustus 2012

Saya cukup nervous dengan acara malam ini. Sudah lama sekali saya memimpikan merasakan genjot bareng rekan rekan ANU. Disiang hari saya dengan grogi mengubah-ubah setting handlebar. Juga berganti ganti rencana, antara bawa bidon dan ban dalam doang atau bawa tas dan kamera juga… Akhirnya mendengar banyak yang ngikut, artinya akan ada waktu buat njepret, ya bawa kamera…

Setelah gagal ikut trip Papandayan dengan tim ANU di sebulan lalu, saya semakin penasaran saja merasakan siksaan paha ala tim ini. FYI rekan rekan, tim ANU adalah tim yang gemar offroad dari komunitas bike to work Bekasi, ROBEK. Unik juga ternyata saya dengar cerita Om Qoqo kalau di ROBEK tidak semuanya suka offroad.

Suasana depan warung Pak Brewok memang penuh kesabaran malam itu hehehe… Unik juga ngumpul selama hampir dua jam tapi gak genjot. Kita jadi punya obrolan2 aneh. Tentusaja sebagian besar obrolan adalah tentang Kang Asol dan kenangan kita masing2. Sementara Om Hanif mulai merancang-rancang selain trek setengah botol juga bagaimana ‘exit point’nya kalau kita kemaleman di trek dan harus cari sahur.

Kebetulan saya tidak ikutan NR Ramadhan heboh cikarangmtb tahun 2011 lalu. Dan malam itu kedatangan tamu pula di trek yang semohay favorit saya. Dalam bayangan sih saya pikir bisa kok kita genjot cepat malam hari meski sudah mendekati pergantian hari.

Jumlah yang sampai sebanyak semalam cukup mengherankan juga. Meski minim respon di milis atas ajakan Om Qoqo dan Om Hanif, ternyata diam diam rekan rekan mempersiapkan diri. Sementara di kepala saya juga berputar putar gimana caranya memperbaiki kegagalan motret nr jalur lio minggu lalu…

Setelah start genjot dimulai dengan santai saja, tapi tak lama. Segera tampak efek dari di-rawon-i nya para tamu dari grup ANU ini. Dikawal Om Hanif mereka melesat ke depan. Mantaaaappp… Rata rata rekan rekan ANU adalah bike to work er. Maka mereka juga sangat fasih mengebutkan diri di jalanan aspal seperti ini. Makanan empuk yang membuat mata saya agak mengantuk.

Melewati kalimalang, tampak pem-beton-an jalan terus berlanjut. Jalan ajrut2an yang kita rindukan semakin sedikit saja porsi nya. Suasana ajeb ajeb ternyata masih lestari di area ini meskipun bulan puasa. Tak lama kelapkelip lampu pun berhenti di area jembatan karena bertemu jalan ke arah Pangkalan.

Setuju Papa TB, bagian dari jembatan kalimalang,menyeberang tol sampai san diego ini adalah bagian favorit. Terutama pas di bagian singletrack meliuk liuk di tengah perbukitan. Benar benar singletrack yang didambakan para pesepeda XC. Malam itu adrenalin bertambah dengan trek yang kering ring. Singletrack jadi seperti jalan tol buat sepeda. Seperti cekungan selokan yang kadang menambah kesulitan tersendiri saat gowes.

Sensasi malam singletrack itu pun ditambah dengan penampakan rumput rumput gosong sisa kebakaran musim panas. Suasananya jadi beda banget, kita seperti berada di negeri yang lain. Kelap kelip antrian di singletrack dari lampu para pesepeda juga tampak meliuk liuk. Sampai akhirnya kita berhenti memandang ke bawah lembah. Keindahan lampu lampu kawasan industri seputar Karawang dan perkampungan sekitar San Diego menyambut kita, memberi pemandangan indah sambil kita ambil napas setelah ngosh ngosh an nanjak.

Jalan makadam “Tanjakan Anjing Menggonggong” segera menyambut. Emang heran. Setiap NR lewat jalan ini, kadang juga gowes siang hari, pasti ada anjing menggonggong. Unik di tengah kegelapan yang menyelimuti malam itu.

Melewati dua tiga pertigaan jebakan kita pun segera masuk kampung dan nanjak panjang makadam sampai di Warung San Diego. Langsung saya feeling blue… Karena disinilah di awal 2010 kita NR disambut bakmi jombor… Suasana istimewa yang tak akan terlupakan.

Bergeletakan lah para peserta NR. Mulai beredar dari yang becandaan, bisik bisik, sindiran sampai yang terusterang tentang setengah botol… Siapakah member setengah botol??? Mereka adalah…. (tuuuuuuuuuttttttt….. sensor kenegaraan)

Tak sempat lama bercanda dalam kehebohan rekan yang memutuskan melestarikan kegiatan setengah penuh botol bidon, keceriaan canda ejek2an, ternyata pikiran tentang waktu sahur yang mepet akhirnya memenuhi kepala. Genjot dilanjut tanpa basa basi memasuki kegelapan area tanpa listrik ini.

Jalan berangsur berubah bentuk, dari aspal ke aspal rusak ke makadam sampai akhirnya tanah keras kering penuh liku dan lobang. Setuju sekali bahwa bagian trek san diego ke cibeet via tamanmekar dan pasircongcot ini adalah trek yang sangat sangat mountainbike. Unsur nya lengkap; terasing jarang penduduk dilengkapi kegelapan, jalan meliuk naik turun penuh kejutan turunan dan tanjakan, menyempurnakan trek gronjalan yang jauh dari mulus.

Berbeda dg omhanif yang ikut rombongan ujungtombak di depan, saya berhenti di setiap pertigaan dan persimpangan untuk meyakinkan seluruh tim tidak salah belok. Maut nyasar selalu menunggu di trek yang jumlah dan penampakan pertigaannya mengintai tiap kelalaian. Ada puluhan permutasi kemungkinan jalan jika salah belok. Salut hormat saya bwt omhanif yang berdasarkan ingatan bisa menjalani trek ini malam malam lagi. Resiko yang terbukti akhirnya tim belakang bisa ketemu dan melihat tim depan ttb nanjak balik kanan salah belok wkwk

Saya jalani peran jadi sweeper termasuk ketemu putus rantai rekan ANU di dekat saung kecil apa yg saya sebut sbg ‘shelter’. Belom pernah berhenti disini meski kebayang asyiknya, sampai akhirnya merasakan slonjoran sambil menunggu rekan nyambung rantai. Sekitar 30mnt untuk heboh nyambung dan belum 200m rantai nya putus lagi. Intuitif saya jadi ingat Kang Asol… Gak pernah kita kuatir masalah begini. Tau nya beres aja…

Ketemu grup om AH yang kena bocor ban saya coba kedepan dan ngabarin grup omhanif yang kongkow di rollercoaster sambil pasti kuatir dan bertanya tanya apa yang terjadi di belakang. Saya pun menikmati selonjoran nunggu sambil deg deg an dg waktu sahur.

Setelah ikut bersabar sabar dengan menunggu tim regrup lagi, maka akhirnya dari Pasircongcot saya ambil rencana lain dengan genjot di depan. Menuruni rollercoaster yang sekarang sudah tak layak lagi dianggap sebagai rollercoaster. Selain ada jalan beton, juga tampak semacam selokan air di tengah jalan. Akhirnya sedikit demi sedikit, sampai akhirnya menggunakan gigi kecil terdepan dan gigi terbesar di belakang akhirnya berhasil juga mencapai kembali ke puncak. Kalau saya bisa lihat catatan heartrate pasti udah gede banget angkanya. Super hosh hosh. Untungnya segera disambut dengan jalan yang relatif rata dan banyak turunan menuju jalan aspal pertigaan Kaligandu. Setelah dari awal gowes banyak nge rem, kali ini sudah lepas rem saja, wuzzz… huenaaakkk…

Menunggu di pertigaan Kaligandu, semenit, lima menit akhirnya tampaklah rombongan besar kelap kelip lampu sepeda. Sempat bimbang juga dengan ide Om Hanif bahwa kalo lewat jembatan gantung maka kita akan sedikit ada pilihan tempat ber-sahur, tapi terusterang saya terlalu cinta sama trek jembatan gantung, apalagi yang dibalik seperti ini; dari arah Kaligandu ke arah Deltamas. One of the best cycling on singletrack in Cikarang…

GUBRAK !!!

Trek berubah jadi semacam selokan kecil yang sempit. Mungkin saking sering nya dilewati motor. Ban yang gagal menemukan trek serta keseimbangan yang terganggu badan mulai lemas dan mata mengantuk mungkin penyebabnya. Saya jatuh ke arah kiri dengan pinggang kiri bagian belakang terlebih dahulu. Setengah mati saya insting untuk tidak berguling karena ingat ada kamera di backpack. Wrong decision !!

Asiknya trek ini memang kegemaran dan favorit saya. Asiknya di depan tanpa ada yang dikejar ataupun menghalangi jalan dan kecepatan. Sambil teriak teriak kegirangan saya nikmati setiap lekukan dan belokan singletrack ini. Terusterang saya gak menengok ke belakang lagi sejak Kaligandu.

Melewati jembatan gantung dalam gelap, dengan bunyi derak kayu jembatan yang dilindas ban sepeda, semilir angin dingin dinihari dilengkapi dengan perut lapar. Dan, tentusaja, pinggang kiri yang cenut cenut akibat sempat jatuh tadi selepas kampung terakhir sebelum masuk singletrack. Setelah bergantian dengan rekan ber jersey Corsa akhirnya saya menyerah dan disalip oleh tiga orang rekan di tanjakan setelah Jembatang Gantung. Tanjakan ini, setelah sensasi jembatan gantung, menanjak pelan dengan ‘Spooky Graveyard’ tampak di sebelah kiri, menjadi sensasi tersediri sambil saya membisikkan salam numpang lewat.

Tak jauh dari RUmah nenek, ban belakang saya yang tadinya hanya terasa gembos, ternyata bocor dan genjot malam pun dilanjutkan dengan acara ganti ban di pinggir trek. Saya cuma ingat seorang berseragam Corsa bike dan Om Blacken ANU, dan ternyata berempat dengan seorang rekan ANU berjersey merah ROBEK. Lho, jadi selama ini rasanya genjot bareng2, pake acara teriak teriak keasyikan segala, kirain beramai ramai ternyata cuma ber empat saja toh? Akhirnya setelah agak lama rombongan besar menyalip saya yang sedang memasang ban. Wah busyet. Baru sadar ternyata jauh juga.

Sempat sudah dipompa penuh, ternyata ban luar tidak rapi terpasang jadinya digembosin dan dipompa lagi. Wah kehilangan waktu lagi. Hampir seluruh tim sekarang sudah menyalip. Saya juga makin panik karena waktu sahur semakin mepet.

Mulai genjot pelan-pelan sendirian, kelap kelip lampu ada di depan dan belakang. Kali ini tidak ngebut, cuma asal jalan saja. Rupanya peristiwa ngebut tadi udah menguras tenaga. Saya masuk ke kampung barengan sama Om Hanif lalu bergabung dengan sebagian besar tim di dekat Polsek. Saat itu saya masih blom tau kalo Rawon Brewok tidak jadi di drop di boulevard. Heran saja semua orang kok jalan terus gak juga berhenti di boulevard.

Mulai keluar area jalur gravel sumur gas mulai tuh kerasa efek jatuh di seputaran tanjakan menjelang bukit sebelum turun ke jembatan gantung. Perut dan pinggang sakit sekali. Otot di area itu seperti tertarik gak karuan. Kembali saya teringat punggung yang juga terluka kepentok jendela tadi siang sebelum gowes. Kombinasi yang tidak baik banget dengan tidak berguling saat jatuh.

Satu persatu tim mendahului saya. Setengah mati saya bertahan hanya untuk tetap bisa gowes sampai akhirnya ketemu tempat Om Hanif, Om Blacken, Om Stef, Pak Dokter makan sahur.

Saya istirahatkan dulu badan dengan minum teh panas manis sampai dua gelas besar. Wah… mak nyusss banget. Geletakan selonjoran lurusin kaki dan badan sementara rekan yang lain sibuk makan sahur. Perut dan pinggang masih sakit sampai lebihkurang setengah jam. Dan alhamdulillah gak lama sebelum imsak bisa masuk sepiring nasi plus telor dadar sahur pagi itu.

Perjalanan dilanjutkan sebelum subuh pelan pelan santai dan sempat berhenti di AA Bike ketemu Teteh yang sedang berkesibukan dengan tenda masih terpasang di depan AA Bike. Tampak banyak member keluarga besar tidur di dalam toko AA Bike. Sambutan dan keramahan Teteh masih seperti biasanya, meskipun saya juga menangkap kegalauan dan kelelahan dari bahasa tubuhnya. Om Hanif memang secara badan ngajak omong Teteh, tapi saya bisa merasakan bahwa belio merasa sedang bertegur sapa dengan Kang Asol.

Perjalanan ditutup dengan genjot ke Rawon Brewok yang sudah sepi, tinggal ketemu rekan-rekan ANU yang sedang loading sepeda.

GPS Tracklog bida dilihat disini…


Night Ride Cikarangmtb Jalur Lio

Cikarang, 27 Juli 2012

Sedulur Songolikur saya Om Qoqo yang pertama mengompor ngompori acara night ride ini. Memang bener sih pesona dan sensasi ngebut malam malam di bulan ramadhan sangat ngangenin. Seolah melupakan semua kesulitan mengatasi ngantuknya hari kemudian, juga melupakan rasa cenuth cenuth dengkul akibat pasti ngebut karena gak ada yang mau di belakang…

Saat akhirnya berkumpul malam itu, kaget juga ya… boanyak juga. Eyang AN bilang, “Wah… begini begini 28 orang berkumpul Om…”. Memang banyak banget!! Wah, saya sampai susah kalau diminta nyebut satu satu.

Seolah tau Rawon nya memang moanteb! ada tuh seorang rekan yang tjuri tjuri start menyantap rawon dulu “Sambil nunggu pejabat negara yang bikin duplkat kunci….” Yang juga menarik adalah malam itu suasana cukup ceria. Banyak haha hihi. Perasaan saya saja kali ya? seperti sudah lama banget ya cikarangmtb tidak haha hihi…

Ki Lobang masih dilapis debu dari duet kebut2an ama OmRatman. Tapi fokus perhatian malam itu pada sepeda merah putih punya om Kodrat. Dengan gotongroyong divariasi dengan mengubah menjadi sepeda 69er.

Tambah seru waktu akhirnya pakpress hadir. Sambutan berupa peluk cium, sambitan, tendangan sampai pujian serta cacian gurau seru segera menghangatkan seputar pintu sebelas pak brewok. Keriuh rendah an malam itu mengingatkan pada ke riuh rendah an ala aa bike yang sudah lama tidak kita rasakan.

Memang malam itu jadi gowes seru kangen kangenan…

Start…

Wah dimulai dengan ngicik asik, biar otot paha gak kaget, langsung mengarah ke jalur perempatan gemalapik. Tim masih bergerak dalam peleton besar. Asik banget yah, liat hampir 30 sepeda lengkap dengan lampu kelap kelip menusuk malam (halah bahasanya).

Melewati jembatan tol, kemudian melewati perempatan gemalapik, kita pun seperti masuk ke dalam trek sebenarnya. Saya ingat sekali trek ini di masa lalu adalah trek gravel yang maknyuss, meliuk liuk belok kiri kanan juga naik turun. Hosh hosh nya saat nanjak dipadu dengan deg deg an dengan speed saat turunan bersahut sahut sambil kita bisa mulai melihat perumahan Lippo Cikarang di sebelah kanan trek, jauh di bawah. Disinilah kita ketemu segerombolan sapi lagi jalan-jalan malam. Heran deh. Gak kurang dari 10 ekor sapi diumbar gitu aja. Berkeliaran nutup nutupin jalan.

Disambut downhill ke arah Lippo Cikarang, lewat jalan tanah bergelombang yang maknyeeeesss dilahap pake Ki Lobang. Tau tau saya sudah ada di pintu Ellysium. Di kejauhan saya lihat ada kelap kelip lampu nanjak ke arah Cibodas. Wah wah… mungkin karena sangking gemar nya nanjak, sampai seharusnya trek mendatar masuk Ellysium ini rombongan malah beriringan nanjak. Terpaksa saya dekati. Oooo… ternyata rombongan *tiiiiiiittttt*

Kemudian tim yang secara musik jazz disebut “tim improvisasi” ini pun bergenjot ke arah Ellysium sambil tersenyum senyum simpul. Malu berkata kata meskipun alasan sih ada saja. “Kita kan cari keringet Om Anto, makanya milih jalan menanjak…” demikian pernyataan resmi bernada pencitraan diri.

Tampak teman-teman berkumpul lagi di tengah kawasan industri Delta Silicon 5, sebelah Ellysium. Tak berapa lama tim pun melahap tanjakan ke arah desa jalur Rally Perang. Kita kasih nama saja ya, ‘Tanjakan Rally Perang’, lalu melipir di atas perbukitan. Memang menggetarkan hati, kawasan perbukitan kampung kering ini sudah mulai diratakan. Kita genjot di jalan gravel yang masyuk digowes, dengan pemandangan di kiri dan kanan jalan adalah kawasan industri.

Akhirnya kita pun memasuki jalur klasik Cicau. Di pertigaan ini, seorang rekan berinisial minuman sruput panas melakukan cek ulang, “Bener nih, Om Anto, jalannya lurus ke arah Serang?”. Tampak sekali ada nada nada romantisme plus kekhawatiran mendalam dalam tiap kata nya. Hmmm, mungkin pengalaman pengalaman gowes ke Serang yang lalu tidaklah terlalu menyenangkan buat belio. Gowes pun jadi dilanjutkan dari “Jalur Rally Perang” nyambung ke “Jalur Nu J3″. Jalur Nu J3 yang digubah oleh Eyang ini adalah jalur NR juga tampaknya, mungkin dua puasa yang lalu ya? Waktu itu masih banyak makadam nya.

Sedikit menyimpang dari jalur Nu J3 yang sudah jadi jalur beton full, gowes pun belok kiri ke “Jalur Lio”. Jalur ini melewati boanyak sekali lio lio alias pembuatan dan pembakaran batubata. Kalau kata Kang Asol, “Asik jalur ini, keluar dan masuk lio…”. Meskipun dibuka dengan jalan gravel, jalur yang sejajar dengan “Jalur Klasik Cicau” ini sudah mulai ada beberapa bagian di beton juga.

Naik dan turun asyik akhirnya jalur ini memakan korbannya. Di salah satu turunan tampak seorang pesepeda kehilangan keseimbangan, terjatuh dan ditabrak pesepeda dibelakangnya. Saya kurang jelas siapa yang jatuh, yang jelas belio tidak tampak terganggu gowesannya. Mantab!!

Tak berapa lama setelah ini, grup tengah yang saya ikuti tampak terjadi kemacetan. Tim bergabung dalam peleton besoar sundul menyundul tidak mau gowes di belakang, khas NR. Tapi tampak dua punggawa di depan mengendalikan kecepatan gowes… siapakah dua sejoli ini???…. tunggu di part berikutnya

Pitstop pertigaan cukup lama, kali ini trek menjumpai jalan beton lebar. Tampak heboh di bagian tengah, oh rupanya ada yang ban nya lagi enak enaknya makanya perlu diganti ban dalamnya. Kabar kabur yang beredar sih pengendara sepeda ini agak pecicilan ngepot2 di depan makanya dihadiahi sebilah paku ke dalam ban nya.

Menunggu yang mengganti ban tampaklah kelap kelip dan ragam gaya dan jenis peserta malam itu. Memang gowes nr salah satu istimewanya adalah adem dan semilir angin malam. Para goweser dari tadi tampak genjot bersama lebih kencang dari genjot sehari hari biasanya Cikarang. Adem nya gowes malam memang memberi energi tersendiri.

Saatnya pun berangkat kembali. Dari pertigaan rombongan berbelok ke kiri. Kembali saya dengar gumam rekan penggemar minuman panas penahan kantuk, “Lho, kok kekiri bukan kekanan?…”. Segera saya pahami betapa arah Serang sudah sedemikian mendarah daging. Ada didalam setiap aliran darahnya.

Sisa gowes via PLN Cicau dan Pemda adalah gowes ngebut. Wuzzz wuzz wuzzz. Saya yang terpisah dari tim dan melewati SMA serta gravel lalu bundaran PEMDA hanya kebagian asep nya saja… Sampai di Rawon semua selonjoran lalu menikmati hidangan Rawon dan Tahu Petis…

Tracklog GPS rute ini ada disini…


Mengintip Gn Meong yang Misterius

Gambar curug disamping ini diambil dari sites.google.com.

Bandung 6 Maret 2012. Masih euphoria dengan tunggangan baru kali ini mencoba trek yang sudah diidam idamkan sejak lama…

Menuju curug cileat [lihat disini...].

Pengennya… pada kenyataannya cuma sampai 75% dari trek. Memang bersepeda hari ini sangat ambisius, trek panjang, digenjot dari Kampus ITB jalan Ganesha Bandung, dan baru mulai genjot jam 9. Hari jumat dipotong jumatan lagi!! Curug nya luarbiasa panjang dan tinggi, dari foto udara Google earth saja tampak curug ini sangat fenomenal. Bikin penasaran.

Curug Cileat memiliki ketinggian ± 100 m dan berada di Gunung Canggah. Tumpahan airnya membentuk sebuah kubangan atau kolam yang sangat besar dengan radius hampir 40 meter sehingga pengunjung dapat bermain air dan berendam di dalammnya. Curug Cileat ini terdiri dua buah air terjun yang berdampingan menempel di atas tebing batu, Curug yang satu debit airnya tidak terlalu besar sedangkan curug satunya lagi jatuhan airnya cukup deras dan besar. Dalam perjalanan menuju Curug Cileat ini ada 3 buah curug yang akan ditemui yaitu Curug Citorok yang memiliki tinggi sekitar 70 m, Curug Cimuncang 1 dengan ketinggian sekitar 80 m, dan Cimuncang 2 (Pasir) dengan ketinggian sekitar 90 m. [dikutip dari sites.google.com]

Tak berapa lama genjot melewati Jalan Cipaganti naik terus melewati Vila Isola di Jalan Setyabudi. Onroad pelan pelan tapi meminimkan istirahat. Sempat berhenti bentar di tempat jual kelinci, juga beli pocari di Lembang, lalu makan siang di sebelum Maribaya.

Ternyata trip ini tidak hanya akan berpacu dengan waktu tapi juga berpacu dengan cuaca. Hujan masih sering muncul, terutama di ketinggian dataran tinggi. Selepas dari Lembang, ujian sebenarnya baru dimulai. Menuju ke Maribaya jalan mulai beranekaragam. Angkot di jalan yang menyempit, jalan yang mulai berbatu batu lobang di beberapa tempat.

Kalau dipikir pikir walaupun akhirnya saya menyesali melakukan start trip ini dari Bandung, namun ternyata trip ini cukup lengkap ya, ada Cipaganti, ada kelinci Lembang, ada pasar Lembang, ada Maribaya, ada Vila Isola. Memang dimulai dengan tanjakan aspal mulus yang cukup membosankan sih kalau buat saya. Ya untung bawa kamera buat tetap membuat mikir gimana cara merekam lingkungan sekitar trek.

Trek dari trip ini sudah dirancang sebelumnya di Google Earth, namun ternyata sempat kebingungan juga pas di seputar gerbang parkir Maribaya. Tampak banyak pilihan jalan dan akhirnya mengambil jalan yang ternyata miring nya tidak logis di mata. Ini adalah bagian dari patahan Sesar Lembang, salah satu patahan yang dibuat jalan menanjak sehingga sangatlah miring.

Berkecamuk di kepala. Antara pengen terus menggenjot untuk mencoba melewati tanjakan ini tanpa pitstop ataukah berhenti dan memotret. Akhirnya diputuskan ambil pilihan kedua. Memang ini salah satu tanjakan pendek namun fenomenal yang pernah saya ingat. Cukup dekat dengan Bandung, jadi buat yang gowes ke area Lembang atau Maribaya, tanpa perlu jauh jauh ke Monteng.

Benar saja kekhawatiran akan cuaca segera terwujud. Setelah agak landai mendapat dataran tinggi setelah tanjakan Chicken S yang luarbiasa di depan gerbang Maribaya akhirnya kita kehujanan, dan Jumatan di sebuah desa kecil Cikawati.

Sambil hujan melanda maka saya berganti baju kering, mengeluarkan sarung dan mulai menikmati kantuk di tengah khotbah yang berbahasa Sunda halus. Tentusaja saya jadi pusat perhatian di antara jamaah. Pakai jersey warna cerah, datang membawa sepeda.

Saat jumatan selesai, saya kembali ke baju basah setting, memasukkan kamera ke dry bag, dan memutuskan terus genjot mengikuti tracklog menuju ke Cileat. Tak berapa lama jalan mulus berakhir, dalam hujan kita pun mulai masuk jalan makadam yang terjal dan miring keatas mulai kerasa lebih kental. Inilah saat kita mulai masuk dan naik ke Gn Cikidang (nama menurut Google Earth)

Trek kondisinya dan karakternya sangat mengingatkan pada tanjakan ke Pondok Pemburu setelah lewat dari KM Nol. Berganti antara batu, tanah keras licin, tanah lepas, batu lepas, makadam dan miring. Sesungguhnya ini adalah tipe trek yang saya sangat suka. Teknikal tapi tidak susah amat, namun juga tidak menyiksa. Pas. Ditambah basahnya hujan.

Salah satu bumbu penyedap dari trip ini adalah kesendirian. Betul memang trek nya asyik, tapi kesendirian, dengan hanya 2-3 kali bertemu orang dari arah berseberangan selama gowes, sangat membuat adrenalin mencapai titik tertinggi. Campuran antara menantang diri sendiri, penasaran, namun juga keingintahuan. Semua menemani sampai titik tertinggi Gn Cikidang dan mulai tampak samar samar dibalik kabut yang datang dan pergi, lembah Cipunagara. Seperti melewati sebuah gerbang, kita diujung tertinggi dan mendaki, sekarang terhampar turunan dan lembah berkabut dalam suasana hujan dan tentusaja badan basah dingin jika berhenti.

Menghadapi hujan saat bersepeda gunung belakangan ini saya sering memakai strategi tetap terus jalan dan memilih berbasah basah. Pilihan memakai jaket pernah saya jalani, terutama dengan jaket yang model tembus pandang itu. Dengan cara ini selain saya tidak memperlambat perjalanan karena harus pasang lepas jaket atau menunggu hujan reda, saya juga tidak harus kepanasan karena bersepeda pakai jaket dan musti bawa backpack.

Mulai kita menuruni doubletrack twisty yang indah ini. Indah dengan saput kabut nya dan juga pemandangan jauh di bawah lebah, seperti ada perumahan yang muncul dan tenggelam di balik kabut. Benar benar pengalaman yang menyenangkan dan tak terlupakan view nya. Hanya satu yang sangat mengganggu, adalah kenyataan bahwa nanti harus kembali ke titik start melewati turunan miring dan panjang ini, yang tentusaja akan berubah menjai tanjakan yang kejam…

Sebelum terlanjur terlena dengan turunan yang adem dan asyik pemandangan maupun ride nya, akhirnya ketemu di pinggang lembah, jalan agak mendatar dan track GPS pun memerintahkan untuk berbelok ke kanan. Ke jalan yang lebih sempit, tampak lebih remote dan lebih jarang dikunjungi. Jika doubletrack tadi mulus dan tampak dilewati motor, doubletrack yang ini rumput nya tinggi. Doubletrack belok kanan ini seperti melewati pinggang nya Gunung, jadi tidak mengikuti flow turunan yang terus ke arah Cipunagara.

Doubletrack yang semula dihiasi tanaman keras penghasil kayu di kiri kanan lalu sempat berubah menjadi kebun teh. Kabut makin tebal menutup gunung di sebelah kanan trek ataupun lembah dalam di sebelah kiri trek. Rumput makin tinggi dan doubletrek diantara ketinggian rumput menampakkan tanda tanda kalau jarang dilewati. Berlumpur pasir yang tebal, atau tertutup rumput samasekali. Apalagi setelah perkebunan teh yang hanya terasa sedikit lalu berganti menjadi kebun sayur. Disinilah saya akhirnya berhenti, jam 2 siang. Berhenti sambil bertanya kepada Bapak petani yang tampak sedang mengolah lahan. Ekspresi muka Bapak petani tampak takjub ada sepeda sendirian sampai ke titik itu.

Bapak petani dengan ramah melayani pertanyaan mengenai Curug Cileat. Menurut belio, jika cuaca baik dan tidak hujan, perjalan ke Curug Cileat dari titik itu adalah sekitar 2 jam lagi. Melewati hutan dan menyeberang sungai. Huaduh… Memang saya sendiri sudah membuat target bahwa sekitar jam 2 siang harus kembali balik ke Ganesha Bandung. Agar tidak perlu harus maghrib sampai di titik start kembali.

Melihat saya solo ride seorang diri Bapak bijak ini pun memberikan kata kata yang tak bisa saya tolak, “…karena adik sendirian, kalau ditanya sih saya juga tidak akan mengijinkan adek pergi ke Cileat sekarang. Hujan dan adek belom pernah…”

Ya sudah inilah rupanya ujung perjalanan kali ini. Rasa penasaran akan Curug Cileat dan pikiran logis bertarung di kepala. Akhirnya dengan rasa terimakasih saya berpamitan balik kanan menjalani tanjakan twisty lalu ke Maribaya dan ke Dago lewat jalur bengkok dibalik.

Tracklog Bikemap-Cibogo to Gn Meong Curug Cileat….


Kuliah SanDiego Pasircongcot

Hari itu 25 Mar 2012. Entah apa ya yang terjadi hari itu, tapi saya sudah menjumpai bersama Om Hanif, Om Yadi dan Om Andri menjalani trek kegemaran kami bersama, Trek SanDiego [tracklog disini...]

Dimulai dengan gowes kangen bersama Om Yadi, jadi udah lama kan gak gowes bareng AKAP ers CCCP ini. Pagi itu pun saya menunggu di titik start pasar tegaldanas. Bersama Om Yadi dan Om Andri bukanlah gowes santai tentusaja. Speed ala CCCP segera memacu paha saya. Sementara tambahan 3 inch diameter sepeda belum lah begitu baik di amin i oleh paha yang masih sering menjerit jerit. Tak berapa lama setelah melewati on road kalimalang sampai melewati jembatan diatas tol Cipularang kita mulai masuk trek offroad dan pitstop di atas bukit.

Kontak Om Hanif dan katanya minta ditungguin. Kami pun meluncur ke warung sop di SanDiego dan makan sop duluuuu… huenak dan segar masih…

Cukup lama menunggu PapaTB sambil Om Andri mencoba kamera baru nya… Akhirnya kita pun bertemu di trek, Om Hanif tampak bersama rekan-rekan CBC datang dari arah Cikarang. Kita culik Om Hanif dan trip pun dilanjutkan dengan langsung memasuki lingkungan pasircongcot. Segera kita disambut rolling tak berhenti, naik turun trek asli XC yang panassss… sebelum akhirnya setelah sebuah sungai kecil yang mulai mengering kita berteduh, makan jambu batu yang pohonnya tersedia di sebelah trek.

Kadang kekaguman muncul melihat bagaimana PapaTB alias Om Hanif bisa mengumpulkan semua pengetahuan dan informasi Geologi (yang memang keahlian belio) ditambah dengan geografis dan juga sejarah berkaitan dengan suatu daerah. Semua jalin menjalin dengan asiknya.

Beristirahat sesaat, dibawah kerimbunan pohon yang amat jarang di area Pasircongcot ini. Area Pasirconcot adalah bagian dari area sebelah selatan San Diego Hills, dimana di beberapa area masih tampak tanda-tanda bahwa area ini adalah area PERHUTANI, jadi area hutan tanaman industri, yang menghasilkan secara ekonomi, semestinya.

Namun yang aktual kita temui di lapangan adalah perbukitan tandus yang nyaris tanpa pepohonan. Tidak lah layak untuk diceritakan sebagai ‘wilayah hutan’. Cerita kuliah Papa TB Om Hanif pun berlanjut, dan menceritakan kembali dan lagi seperti apa kah peran Pangkalan, Pasircongcot dan area Karst Karawang Selatan pada masa kerajaan Tarumanegara.

Acara gowes pun berlanjut dan dilanjutkan menuju Sate Kaligandu dimana kita putuskan untuk minum (tidak ada es dan kulkas yang hidup!) dan makan siang sebelum akhirnya pulang ke Cikarang Baru


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.