Arsip untuk sepeda jalur cikarang

Gowes Arisan; 4 jam endurance Trek Km97

Aku Cinta Arisan…

Berikut adalah cerita sekilas, genjot diburu Arisan. Genjot tak terencana, artinya rencana mendadak malamnya, saya bbm saja Om Kodrat yang katanya mau ke KM97. Jadinya mbajak peserta nya gowes Om Dokter. Maaf, kirain Om Dokter aman bersama banyak rekan-rekan BEKAM.

Ternyata jam start pun mundur 1jam daripada rencana. Aduh!! Saya sudah kebayang Ibu menunggu buat ke event se-penting arisan ini :-(

Etape pertama KM97-Logo SUPER

Sampai di titik start jam 0520 kok masih terasa gelap nya. Mantap nih, bau tanah basah oleh embun masih terasa. Angin bertiup juga dingin. Saat start dan ggb kami segera mencumbui tanjakan makadam menu pembuka yang moyyy… Lalu dilanjut trek turun dengan indahnya gunung batu di sebelah kanan, masuk kebun karet, sempat berhenti buat melihat saja singletrack ke arah Gn Hejo di sebelah kiri. Aroma mistik segera menyebar. Apalagi waktu kami genjot terus trek makadam kebun karet ada anak-anak kecil, dengan pinggang bergolok, katanya sedang mencari kayu. Kami pun berhenti ambil napas bentar meski tak sempat merokok Om Kodrat.

Setelah melewati hutan karet kami bertemu kampung di tengah turunan lalu nanjak di jalan beton. Jadi ingat foto Om Isbat balapan lari sama anak-anak pas Kolozal. Tak lama bertemulah dengan perempatan tanjakan tanah merah. Karena penasaran naik lah ke tanjakan tanah merah ini. Panjang dan hosh hosh sampai di ujung tanjakan bertemu dengan view ke arah Gn Sunda Purba. Baru ngeh inilah tempat Om Hanif mengambil foto view Gn Sunda Purba. Saya penasaran area ini karena waktu kolozal tidak lewat sini.

Dari tanjakan merah kita melingkar dan meluncur makadam turun, sampailah kembali di jalan beton yang mengantar kita masuk kembali kampung. Ada juga tanjakan-tanjakan di dalam kampung yang bikin heartrate mencapai pol maksimum yang diperbolehkan. Bertemu jalan beton lagi yang waktu kolozal longsor, tapi kali ini sudah diperbaiki. Taklama kami masuk ke area banner raksasa SUPER.

Disinilah istirahat besar, Om Qodrat bisa berbatang-batang sementara saya pesan teh manis panas. Karena pengalaman yang terdahulu kami tidak berusaha mencari penjuat sate. Kabarnya Om Kodrat ketemu di jalan dan dititipin kembalian.

Etape kedua Logo SUPER-Tanjakan BATAKO

Tidak seperti waktu kolozal yang banyak sekali mengambil gambar, kali ini terus kepikiran jam 11 acara arisan sudah akan dimulai. Waktu kami beranjak dari banner SUPER, mendapat kabar dari milis bahwa Om Dokter sedang menjalani tanjakan makadam pertama. Meliuk melewati turunan tanah merah yang asyik lalu lewat trek kampung dibawah rindang pohon yang licin. Kali ini coba manage kecepatan jadi tidak perlu turun sepeda. Mantaaappp tau-tau kami sudah di tanjakan BATAKO. Lagi, pitstop dan istirahat. Dari pitstop lalu belum lama tapi rasanya tanjakan tanah merah sampai di ujung batako di tengah kebun teh ini sudah menguras tenaga.

Ini adalah etape pendek yang sangat menguras tenaga. Dengan masih tersengal sengal napas Om Qodrat bilang, “Bener Om, setuju, ini trek Kolozal yang paling berat”

Etape ketiga Tanjakan BATAKO-Es Kelapa Muda

Etape selanjutnya dimulai dengan geyal geyol ketemu jalan berlumpur yang datar, wadoh, bikin ban menebal dan sempat tidak mau berputar. Untung segera ketemu jalan beton memutar kebun karet akhirnya kita ketemu tanjakan lurus beton setelah jembatan tol. Ini tanjakan fenomenal untuk dihabiskan dalam sekali nafas, karena kondisi RD dan rantai dalam keadaan berlumpur dan kering. Suaranya mengganggu sekali dan sangat tidak smooth.

Untung segera kita lewat kolong tol dan menjalani turunan makadam yang panjang dan lama meliuk liuk di tengah kebun karet itu. Sensasi menjalani turunan offroad dengan 29 inch selalu mengejutkan saya. Selalu punya feeling yang lain, smooth seperti bukan hardtail, namun juga agak ekstra mengendalikan jarak lingkar nya. Kadang terasa seperti sepeda akan ‘membuang’ kearah luar.

Berhenti sebentar ambil napas di tempat makan kolozal#9 kita lanjutkan nanjak dengan diiringi anak2 singkong pake sepeda butut. Seru diikuti oleh mereka. Akhirnya pitstop beneran di tempat es kelapa muda.

Etape keempat Es Kelapa Muda-KM97

Es kelapa muda dilahap cukup lama. Ini adalah pitstop paling enak, pitstop yang ketiga. Selain es kelapa muda saya juga nambah yang manis dengan teh panas manis dan sprite dingin.

Tak sampai 20 menit pitstop, kami sempat bengong melihat seorang lone rider mtb fullsus bersepeda dari arah sebaliknya, dari arah jalan raya mulus aspal ke arah kebun karet.

Etape terakhir sampai kembali ke Km97 titik finish juga kami ambil dalam sekali napas saja, tanpa pitstop lagi. Jalan onroad dan kampung nanjak yang mengingatkan pada tanjakan ke Km Nol sangat kami nikmati sampai kembali ke pinggir tol dan di 500m terakhir sebelum titik finish saya lihat ke belakang, Om Qodrat sepedanya dituntun. Rupanya ban dalam pecah.

Pas 4 jam kita sampai kembali di titik start. Berganti baju dan segera setir ke Cikarang untuk menjalani tugas berikutnya; Arisan keluarga.

Benar-benar 4 jam yang menguras energi

Komentar bertahan »

Gowes ala CCChernobyl Blast !!

Di komunitas Cikarangmtb sangat dikenal CCCP, rekan kita duet maut yang selalu mengguncang guncang trek Cikarang dengan gowes singkat dan kencang nya. Menarik sekali perhatian saya sehingga saya coba kumpulkan jepretan CikarangMTB Kolozal#9 kemarin tentang duet luarbiasa ini…

“Makankah”
Tampak seorang pesepeda menengok pada seonggok roti di pagi hari km97 kolozal. Banyak diantara kita yang bertanya tanya (mungkin), “…makan apa sih gowesnya kuenceng banget?”. Pagi itu baru sampai dari perjalanan dari Cikarang, pintu mobil pun masih terbuka… Mari kita tebak, kue nya dicomot atau nggak?

“Start”
Ngobrol dan chit chat dengan sesama goweser sebelum start. Di kejauhan tampak ‘starbucks cofee’. Saya sih tidak melihat CCCP ngopi, tapi kalo makan kerupuk iya. Hehe… Salah satu yang menarik dari rekan CCCP adalah apa yang mereka kenakan dan apa yang menempel di sepeda mereka. Selalu ada yang unik dan istimewa sehingga menarik perhatian. Seperti sepasang ban dengan list putih yang tampak di foto ini.

“Tengok Nenek”
Genjot CCCP di kolozal tampaknya lagi santai dibandingkan dengan genjot harian ngebut di Cikarang. Masih sempat haha hihi berhenti dulu di tanjakan makadam dan melempar senyum ke nenek nenek yang sedang lewat. Interaksi dengan trek dan lingkungan sekitar trek.

“Serangan Jantung”
Nasihat umum yang kita dengar, sebelum memutuskan untuk nguntit gowesan mereka, harap periksa kesehatan dulu. Jangan sampai amit amit kena serangan jantung. Yang kita dengar hanya bunyi ‘ceklik’ mereka berpindah gear dan segera melesat jauh di depan.

“Selesai juga”
Menangkap saat mencapai finish track dan kembali ke mobil.

Semoga berkenan buat rekan CCCP, tulisan ini adalah bentuk rasa salut dan penghargaan saya pada duet yang memberi warna gowes cikarangmtb. Judul ‘CCChernobiyl Blast’ ini karena saya ingat tim sepakbola yang selalu berbaju merah dengan nama CCCP di dada. Juga tampak di televisi berita hangat meledaknya Chernobyl reaktor nuklir. Ledakan yang mengingatkan saya pada CCCP karena gaya bersepeda mereka yang juga meledak ledak…

Komentar bertahan »

‘Padalarang Ridge’ trek; Kucari Tebing Kutemukan Singkong

Sudah lama sekali saya terganggu setiap menjelang sampai Bandung lewat Cipularang, deretan bukit yang sambung menyambung di sebelah kanan jalan tol tampak sangat menggoda. Saya membayangkan bersepeda di ujung atau pinggiran bukit itu pasti pemandangannya menarik sekali, seluruh lembah area Padalarang ini akan tampak, saya bayangkan view nya termasuk jalan tol cipularang dan juga rel kereta Jakarta-Bandung.

Pagi itu pas setelah subuh sudah berangkat ke titik start. Semula para member trip ini adalah mereka yang bersedia mengantar tamu yang akan menikmati KM97 di hari minggu 13 Mei, namun ternyata tamu yang bersangkutan batal gowes. RR1 di tangan tentu tidaklah layak untuk dibuang begitu saja.

Pagi ini ternyata kami sudah siap start di Situ Ciburuy, sebuah situ/danau yang terletak tepat di sebelah Barat kota Padalarang. Situ ini cukup populer sebagai area wisata karena mencapainya juga mudah, ada terminal bis DAMRI tepat di pinggir danau Ciburuy ini. Kami pun ternyata ber delapan, angka hoki di hari ber tanggal 13.

Trek dibuka dengan mengeliling Situ Ciburuy lalu langsung naik ke sebuah jalan setapak semen masuk ke depan rumah orang lanjut ke kebun. Ada singkong, nanas dan beberapa kacang panjang. Beberapa trek bisa di gowes asyik, campuran jalan air dan jalan akses petani. Beberapa bagian trek harus melakukan DDB dan GGB. Bau ‘adventurous’ nya sudah benar terasa.

Ini adalah bagian favorit saya, yang memang bisa kita bayangkan kami meniti jajaran bukit yang sambung menyambung tampak dari Cipularang. Tidaklah selalu memang gowesable, kadang takut juga musti TTB, maklum susah membayangkan jika kita harus ambruk kekanan berguling gulung turun ratusan meter ke kaki tebing dibawah. View nya, Gunung Malabar di latar belakang, dan jalan tol dan jalan kereta api yang jalin menjalin meliuk liuk lengkap dengan jembatan-jembatannya. Sampai akhirnya kita bertemu doubletrack akses batu kapur. Lalu dimulailah sedikit tanjakan makadam kapur dan turun panjang ke arah jalan raya Citatah (Bandung-Cianjur).

Pitstop resmi pertama. Sudah menunjuk 2 jam lebih gowes, dan angka kilometer masih satu digit. Disisi jalan negara yang riuh ramai ini kami mengisi perbekalan minuman dingin, karena baru nanti sekitar jam makan siang akan ketemu warung ber lemari pendingin lagi. Perjalan pun dilanjutkan ke kawasan lembah Gunung Masigit, Gunung Gowa Pawon. Di bagian ini trek bersinggungan dengan Trek Gowa Pawon buatan Papa TB.

Kembali GGB TTB menaiki bukit, kami pun akhirnya masuk desa lalu masuk ke kebun karet. Trek turunan kebun karet singletrack dilanjutkan doubletrack sangat mengingatkan suasana di trek KM97. Sampai akhirnya bertemu rel kereta. Sir Ivan tampak sangat menikmati dan mengamati tahun pembuatan, jenis dan lain lain dari rel kereta Bandung-Cianjur ini. Belio tampak muncul sebagai ‘train-geeks’ yang bisa menjelaskan sampai sejarah masing-masing jalur kereta. Baru tahu ternyata Bandung-Cianjur dibuat lebih dahulu daripada jalur Purwakarta-Bandung. Dan jalur pantura dibuat lebih belakangan lagi.

Trek penutup adalah tanjakan di dalam kebun karet disambut dengan tembus ke tambang pasir/tanah yang telah menghabiskan hampir seluruh bukit. Tambang ini tampak sangat jelas kalau kita memandang ke sisi kanan Cipularang sebelum masuk Padalarang. “Apa sih rencana mereka…?” tanya seorang rekan terheran-heran sebuah gunung bisa disisir habis begini. “Rencananya menjadikan gunung ini jadi setumpuk pasir dan tentusaja uang…” kata saya.

Finale trek adalah tanjakan onroad 6km ditutup dengan ‘motong jalan’ kembali ke titik start di Situ Ciburuy.

Terimakasih Om Tri, Om Tri, Om Anto, Om Poer, Om Koko KW, Om AH, Sir Ivan sudah bersedia subuh-berangkat untuk menengok sebidang kebun singkong.

Tentang foto terlampir, dimana obyek tampaklah sedang melamun, gowes ini adalah Gowes Arisan belio. Belio tampak melamun karena udah adzan dzuhur terdengar namun body masih jauh dari baju batik yang sudah menunggu… wkwkw…

Enjoy !!

Komentar (1) »

Gowes Bimbel, Sendirian Night Ride Cikarang-San Diego-Pasir Congcot-Jembatan Gantung-Cikarang

(gowes bimbel 6 Nov 2011, gak ada foto gak bawa kamera)

Bingung saya mau nulis bagaimana dan dimana, kayaknya sotoy banget, tapi bener saya sangat menikmati perjalanan ‘Gowes bimbel’ semalam.

Dari siang udah males banget kerja, dan hari kemarin load kerja juga kebetulan lagi slow, makanya udah ancang2 akan pulang tepat waktu, apalagi ada kabar kalau MasBro bisa ada kemungkinan join dengan sepedah baru nya… makin semangat. Sayangnya sore2 ada kabar kalau sepeda baru nya belumlah siap digowes, belum dirakit.

Minggu lalu saya dibelikan istri GPS. Bener lho, dibelikan !! Sudah penasarang banget pengen nyobain gadget baru. Dari kemarin udah terus terusan nyobain install lagi google earth dan download file2 gps dari site bikemap, sharing nya Om Hanif http://www.bikemap.net/user/hmarga/routes . Salah satu yang saya sangat penasaran adalah pengen nyobain gowes asli hanya di guide oleh GPS. Technologically it should be possible.

Setelah masbro bilang gak jadi saya pun bilang bbm kalau kita tunda selasa, lalu saya liat lagi mapsource (software nya garmin) dan mulai melukis trek yang kemarin san diego sama Om Hanif berdua gowes 3 jam itu. Saya coba juga sambil tengok-tengok persimpangan dan perpaduan dengan trek2 sharing Om Hanif lainnya tentang kawasan Cherry dan sekitarnya. Ada trek Walahar-Cherry-Pangkalan, ada trek FUNCHERRY, ada juga trek Cherry dari AA Bike. Semakin saya zoom area cherry pasircongcot semakin saya kagum. Ini area seperti sarang laba-laba. Rumit tapi sambung menyambung. Dan jalannya sangat amat tidak terstruktur. Tidak ada jalan lurus arah utara-selatan-timur-barat, semuanya hanya seperti web saja. Gelo emang. Pantes aja papa tb aja nyasar.

Akhirnya selesai juga draft-ing rute Rumah-San Diego-Pasircongcot-Jemb Gantung-Rumah… langsung saya upload ke gps handheld. Wah, sambil nengok wheater forecast. Halah, besok selasa hujaaaannn.. langsung deh tanpa pikir panjang saya ganti baju sepeda, kali ini stetelan gak bawa tas. Cuma ban dan tools di tas kecil bawah sadel dan bawa bidon saja. Tentusaja bawa hp, lampu dan gps unit.

Sampai ketemu jalan raya pangkalan 30 menit. Lalu kita mulai nyeberang jalan tol dan masuklah keluar jalan utama, mulai offroad dan dapat jalan tanah. GPS saya pasang mode peta dan saya setel supaya dia backlight nya nyala terus. Enak banget di guide sama draft trek yang sudah di dalam GPS saya mulai masuk singletrek, mirip telletubbies jalam dulu, yummy banget nanjak, anjing menggonggong di kejauhan kampung. Akhirnya ketemu jalan makadam dan ujung tanjakan hutan akasia kecil lengkap dengan rumah terbengkalai tempat saya memotret om hanif ‘merenung’ tempo hari. Cuma mark di gps titik ini lalu lanjut. Jalanan sepi banget. Tak terdengar apapaun. Trek tampak basah habis hujan, tapi mungkin hujan-nya tidaklah deras sehingga tidak membuat tanah menjadi lumpur. Trek nya nanjak yummy sampai ketemu kampung di sebelah san diego dan akhirnya di warung san diego.

Paling mengerikan adalah perjalanan selepas warung san diego sampai pasircongcot. Ampun deh. Selain gelap dan sangat sepi juga jarang banget rumah. Seperti teman teman tahu tidak tampak ada listrik juga di area ini. Berturut turut saya ketemu pertigaan masuk kawasan perhutani (dijaga brimob ber senapan), lalu masjid sumbangan pesepeda, terus dalam gelap dan hosh hosh memerangi ketakutan diri masuk ke tanjakan mekarsari (?). Trek secara keseluruhan sangatlah asyik. Tampak trek memang sudah kena hujan, bau tanah nya asik banget. Juga di atas bulan cukup terang bersinar, saya jadi bisa lihat lingkungan seputar trek dari cahaya bulan. Beberapa bagian trek, terutama di cerukan ujung turuanan dan di kampung-kampung, sudah mulai jadi kubangan lumpur. Sedih, moga-moga saja masih bisa dilewati asyik lagi ini trek.

Degub jantung terusterang saya gak sempat liat ke heartrate monitor. Tapi dari pengalaman sprint dengan Om Hanif, hanyalah sekali hrm mencapai 170bpm. Selain itu dada dan napas terasa enak banget. Kalau mungkin teman-teman pernah dengar kalau saya tidak suka rolling, kayaknya sudah harus ditinjau ulah itu statement. Mungkin berubah jadi suka sih kagak ya, tapi ya itu, rolling terasa enak, bergantian tanjakan dan turunan, sprint meskipun karena gelap tidaklah bisa se kencang waktu duet Om Hanif pas di turunan. Rasanya semua tanjakan alhamdulliah bisa kerasa enak di dada. Itu makanya kerasa enak dan malas sekali berhenti. Mau berhenti gimana kalau sekitar trek suepiii… sekali. Saya udah pasrah. Kalau misalnya ada yg ngerampok, hp, sepeda dan gps sudah saya siapkan untuk di handover wkwkwkw….

Tiba-tiba rumah yang tadinya 2-3 tanjakan baru ketemu, lama lama makin sering di sekitar jalan. Nah akhirnya masuk deh ke Pasircongcot dan sungai Cibeet.

Melewati jalur Jembatan Gantung terbalik pun sensasinya lain sekali. Sendiri, gelap, ngeri juga. Adventurous nya kerasa tambah kental dengan gowes sendiri. Resiko tentusaja ada, tapi itu bagian dari bumbu gowes malam ini. Juga waktu menyeberang jembatan gantung. Sendirian kayu jembatan berderak dilindas dua ban. Waktu di san diego saya bbm ke Om Rudi dan Om Hanif, saya bilang saya gowes bertiga, ditemani ban depan dan belakang ke san diego. Minimal kalo ada apa-apa ada yang tau saya ada dimana.

Nanjak setelah jembatan gantung lewat daerah kuburang angker itu, aduh deg-deg-an nya melebihi ke kawah putih. Soalnya selain sendirian Om Hanif juga bbm bilang kalo ‘hati-hati ada domba putih’. Halah…

Akhirnya setelah sumur gas, masuk kampung, baru kerasa lelah banget. Saya sampe hilang orientasi dan mutar2 di jalan beton kampung bawah sutet itu sebelum akhirnya nyampe di AA Bike jam 2145. Perjalanan hampir tanpa berhenti, maksimum 5 menit di tiga titik: minum di jalan pangkalan, di san diego warung dan di cibeet warung. Berangkat 1830an jadi total 3jam lebih….

What a ride !!!

Saya belum tentu berani lagi buat mengulanginya… sendirian gowes trek ini night-ride

Tracklog ada disini

Komentar (2) »

Ngabuburit ride H-4 Cikarang

Sore itu, untuk pertama kalinya selama puasa, genjot di seputar Cikarang. Cikarang sedang panas sekali, berangkat sekitar jam 4 dengan harapan bisa berbuka di trek atau siapa tau bisa berbuka di rumah. Dua jam bolak balik kayaknya pas ke trek sore ini: cek ke belakang Mulia…

Melewati sisi selatan kalimalang dari arah Cikarang Baru menuju ke arah Tambun, asik juga sekian lama tidak lewat trek ini, sebelah kanan adalah sungai kalimalang, sementara sebelah kiri bergantian bilik-bilik barang bekas besi bekas yang sepi hari itu. Mungkin sebagian besar penghuni nya sedang mudik. Area dan seputar pengumpul barang bekas, yang didominasi saudara saudara kita dari Madura ini, sebenernya sangat menarik juga untuk diliput. Ini adalah proyek yang tertunda. Ntar lain kali aja cerita nya.

Berbelok kiri kemudian memasuki jalan beton masuk ke kampung. Setelah sekitar 1km masuk saya baru sadar kalo salah ambil belokan. Ya sudah dinikmati saja, akhirnya mendapat pemandangan sawah kering kerontang. Mulai berhenti dan mengambil gambar.

Jepretan ini sebenernya pengen nangkap sepeda plus juga retakan-retakan sawah kering yang menurut saya ‘cikarang banget’ dan punya potensi untuk jadi patern yang keren. Tapi kayaknya saya belum berhasil memunculkan patern nya…

Kawasan persawahan yang masih tersisa di belakang Mulia Industries, beberapa area sawah tampak masih ter air i dengan baik di puncak musim kering seperti ini. Saya jadi gak percaya kalau kawasan industri di cikarang tidak memakan tanah produktif…

Sempat meraba-raba, melewati tengah sawah singletrek asik akhirnya sampailah di tujuan saya gowes sore itu… jembatan seberang belakang Mulia.

Tak jauh dari jembatan motor di lintasan belakang Mulia ada satu kolong tol dengan jalan setapak disampingnya. Sebelum dibangun pintu tol cikarang utama, jalan ke arah ini asyik banget lewat singletrek lalu masuk kolong. Waktu itu ditunjukkan Om Yadi.

Cukup pesimis kolong ini masih bertahan, tapi ternyata beneran masih ada!! Sayangnya gak bawa lampu dan kolongnya lebih panjang dari yang lalu, jadinya deh gak berani masuk. Masih keinget tontonan ‘deadliest snakes’ di National Geographic Channel…

Sayangnya singletrek nya lenyap, tertutup rerimbunan semak. Mungkin karena lama nya pembangunan pintu cikarang utama jadi sekian lama tak dilewati orang lagi…

Pernah dulu banget waktu eksplorasi seputar tempat istirahat km 39, kami pesepeda melewati pinggiran jalan tol. Itu sudah sekitar dua tahun yang lalu… dan sore itu saya melakukannya lagi, sendirian…

Tadinya sih berharap di pintu tol ini akan menemui kemacetan, supaya terasa ‘gowes motret sambil liatin yang macet macetan mudik’. Tapi sore itu, H-4 lebaran. Ternyata sepiiii… lebih senyap dari workdays di pintu tol cikarang utama pada umumnya. Makanya juga berani genjot dalam jalan tol balik menuju kolong setelah ketemu ‘dead end’ dan gak bisa maju lagi di semak-semak…

Akhirnya gowes ditutup dengan melewati bagian dalam jalan tol, kapan lagi coba bisa genjot sepeda di jalan tol? Lalu genjot pulang dan sampai di rumah pas banget pas buka puasa.

Komentar (1) »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.