enjoy every cadence, every breath…

sepeda jalur cikarang

Gowes pilek sabtu pagi penutup tahun 2013

wIMG_0419kapalselam

Mmm… kayaknya udah lama banget ya tidak nulis cerita gowes di milis dan blog. Oke kita mulai tulis saja untuk juga meramaikan milis menjelang KOLOZAL

ini sebenarnya genjot sudah sabtu beberapa bulan yang lalu, weekend terakhir di 2013. Sebenernya waktu 5 hari libur kerja sempat sudah putus asa tidak akan ada acara gowes, begitu libur dimulai lha kok pilek juga dimulai… Tapi syukurlah sabtu pagi itu jadi juga gowes.

Teman gowesnya siapa?
Milis dan group watsapp masih terus dibanjiri dengan cerita dan foto foto rekan rekan yang lagi di seantero pulau Jawa. Tapi tumben kali ini saya tidak pengen keluar kota, mungkin juga bawaan pilek, jadi ya sepanjang lima hari berkutat seputar Cikarang. Bahkan bekasi pun tidak. Jadi cari teman gowes agak ribet juga untung akhirnya Eyang AN nyahut. Asiiikkk rasanya udah lama banget juga tidak gowes Cikarang an sama Eyang.

Dan pagi itu pun saya memarkir Ki Lobang di AA Bike yang tutup dan sepi. Yang ada cuma kapal selam dan juga Eyang beserta Bu Titi yang siap gowes pagi yang tampak cerah ini…

wIMG_0424duetBanyak yang sering bilang, gowes dengan siapa aja seru selama gowes sepeda. Trus juga ada yang bilang yang penting sepeda dan dengkul sama mental. Tapi dari pengalaman teman gowes selalu memberi bumbu tersendiri dari acara gowes. Sambil mulai gowes ke arah Gemalapik kita obrol obrol lalu saya lempar satu pancingan yang saya tahu pasti disambut baik. “Om, saya liat ada belokan, kayaknya sih ujungnya buntu. Ayo kita coba buktikan apa benar buntu…” Gowes nyasar bersama jago nyasar… apa lagi coba yang kita perlukan untuk memperindah gowes hari ini?

Belokan terduga buntu itu pun memberi kami singletrack, licin licin berlumpur sisa hujan semalam, masuk ke bawah rimbunnya bambu yang embunnya masih netes netes. Rekan saya gowes pun berhenti dan mulai mengeluarkan jurus jurus jepret kamera nya. Herannya, kembali ke penemuan singletrack, kok ujung singletrack itu kuburan ya? Hohoho… Rupanya terinspirasi oleh ‘pembuktian jalan buntu’, rekan gowes saya ini tergoda untuk melewati sebuah bukit yang mirip savanna. Latar belakang area Lippo Cikarang yang luas. Memang mengundang.

E: ‘Yuk, Om.. belok kesini’.
A: ‘Buntu om…’
E: ‘Lha, tadi juga katanya buntu…’
A: ‘Saya pernah coba om…’
E: (diem dan bejek crank)
A: ‘What can I do?’ (ikutan bejek juga)

Dan, memang sudah pernah saya coba sebelumnya, jalan buntuk kali ini memang benar benar jalan buntu. Turunan asik dan akhirnya kembali naik saat nemu jalan buntu. Dan tanjakan itu pun ditutup dengan blusukan masuk ke singletrack dan lagi lagi ketemu kuburan di belakang rumah orang.

wIMG_0426duarodaTak lama kami pun melewati kampung dengan onggokan sampah lengkap dengan sapinya dan masuk ke kopleks lippo.

Melewati jalanan beton Lippo tidak terlalu menarik diceritakan, tapi obrolan sambil gowes nya jauh lebih seru. Salah satu obrolan adalah trek kolozal#12 yang bakal melewati jalur kucing totol. Eyang juga cerita sambil nanjak offroad melewati trek Rally Perang, kalo ketemu kucing totol masih lebih mending daripada ketemu Si Belang. hadeuuuhhh… Ini teman saya kok ya masih bisa lancar cerita sambil nanjak ya? Saya jadi pura pura bisa njawab padahal hosh hosh banget…

Gowes pun berlanjut dan diberi pilihan lurus (sate kodam) atau kiri (cilangkara), tentusaja kita memilih ke kiri sambil terus menceritakan perihal si kucing totol. Memang waktu survey kemarin kita melewati titik sekitar ketinggian 1800mdpl saat menjelang maghrib, kabarnya ini waktu yang pas memang kucing totol jalan jalan mulai berburu. Wah, gimana ya nanti cerita ke para peserta Kolozal#12?

Kabar baiknya adalah, kucing totol ini sebenarnya tidak seperti pejabat di milis ini yang suka cari perhatian dan menantang, kucing ini lebih santai dan ‘lu lu gue gue’. Jadi kalo (misalnya) nanti liat ya ‘cuek aja’ katanya adalah cara terbaik… Jangan malah minta barengan bikin foto terkenal yaaa… buat update FB (ehem!)

Dari awal speed gowes ini, sesuai judulnya adalah genjot pilek, aseli pelan pelan. Cuma di tanjakan aja kami jadi lebih ‘semangat’. Tapi memasuki jalur non-beton lio Cilangkara kayaknya seru buat dibuat sprint… betol?

Lalu kita belok kiri kearah ‘jalur kebo’. Kembali rekan gowes saya berhenti di area kebo berkubang. Suasananya memang aseli asyik. Matahari masih dari samping, jadi sinarnya itu menyusup agak miring, cenderung masih mendatar arahnya. Masih ada sedikit embun dan kabut. Lalu dilengkapi dengan 19 ekor kerbau yang berkubang dalam lumpur…

wIMG_0430tehpanasSebenarnya tadinya waktu berangkat gowes saya lagi pengen nyobain lagi opsi cilangkara kebun jati, yang masuk ke kebun jati nya yang waktu itu pernah dicoba bareng Om Atoe dan Om Okky. Tapi saya sadar diri aja. Pilek dan dari tadi ditinggalin terus ama rekan gowes saya, sudahlah kita balik langsung saja… maka kami pun belok kiri ke arah belakang PLN Cicao. Om Eyang tampak ngacir di depan sementara saya gowes terbata bata.

Kembali lagi teman gowes saya menawarkan kejutan baru… “Om, ada singletrack di belakang Pemda” Jiaaaaa… Kami pun keluar dari jalur gravel belakang Pemda dan mendaki sebuah bukit. Bukitnya banyak kambing makan rumput, telletubbies banget dah dan ternyata asiiikkk… Saya bilang ke Eyang, tempatnya mengingatkan pada film ‘Soung of Music’, ada padang luas berumput dan banyak kambing.

Yang lebih menarik adalah ujung dari singletracknya, kita jadi muncul di belakang pabrik ban baru yang ada di Delta Silicon. Segera tuh nyerocos teman gowes saya, “wah Om, dibalik enak ini… buat nanjak sore sore” mmm.. iya deh…

Pulang lewat offroad tersisa di Cibatu kami pun kembali ke AA Bike dan selesai lah gowes ini. Berita sedihnya adalah jalan offroad grojalan di Cibatu sudah ditebar gravel siap siap dipasang beton…

TAMAT


WJXc Ride#22 Cilangkara via Teakwoods (En)

rIMG_0077udukCikarang, 7 Nov 2013

What do you think if you want to have a new blood on your regular ‘backdoor-track’? Yes! This is what I want to do this morning, unfortunately with very minimum plan in hand…

Mmm… not really with empty plan I guess, some possible lines coming. Some intersections options flash in mind. Some possible lines which reflected from last rides around neighborhood. Ok let’s just try and kick the crank on to it.

Some articles in mountain bike magazines said that I should look for more options, look for (so far) un-wanted intersections, some points of options which, up to now, been thrown away as insignificant. And while we turn my handlebar to Cilangkara area, one special intersection been haunting me all the way.

It’s a classic excuse, that you have been for ‘some time’ not taken training rides… and use this as a magic clause to have a hot tea and snack pitstop.

rIMG_0081pitstop

Pit stop always been one of the special experience when I do cross country cycling around neighborhood, it’s like visiting your neighbor, the time still, like a still photograph, you will have your time to take closer view to whatever around your track. Which is actually your neighbor, your next door, your housing complex backyard’s owner… This pit stop will also be your time to emulate you as ‘locals’. Trying to be more indigenous. Try to as much as you can be blended with the environment.

And the haunting singletrack option, going deep into what us called ‘kebun jati’ then show a remarkable result. The singletrack option have a steep technical uphill session, a wood like section, and a long gravel section. A rewarding present…

Another reward was another steep technical uphill to kampong near Lembah Hijau Residence. I have to take another pitstop since we have found a traditional full wood Betawi style house. A real jewel around the modernized turn to industrialized area. A sweet closing state and another beautiful hidden track revealed. Another option for local rides to choose…

rIMG_0084rumah-betawi

Morale of the story is… do not underestimate ‘uninteresting singletrack’. Unless you have prove it to be not worth enough, by going through it, you need to worry…

Trip info:

Riding Specialized Carve 29″ hardtail
tyres: Continental X-King 2.2
uphill: 5/10
singletrack: 4/10
downhill: 3/10
technical: 3/10
endurance: 7/10
landscape view: 4/10

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


WJxc Ride#17 – Gn Terate, Seminggu sebelum Kolozal#11

finishIMG-20130526-01068rCariu, 26 Mei 2013

Ijinkan saya memulai catatan kecil Cikarangmtb Kolozal#11… semoga tahan semangat nulisnya sampai tamat, karena pas nulis ini ngantuk banget dan juga sekujur tubuh bagian bawah cenut cenut semua. Sebut saja betis, paha, pantat, punggung… tapi herannya tangan kok tidak cenuth cenuth… bukti betapa enaknya gelindingan Ki Lobang… heheh…

Kisah berputar balik ke tahun 1800 saat VOC resmi dibubarkan. Pemerintah Belanda pun mengalami tahun yang berat dari 1800-1830 diantaranya ditandai dengan jatuhnya Batavia ke tangan Inggris, dikuasainya negeri Belanda oleh Napoleon dan Perancis, perang Diponegoro yang menguras, perang Belgia yang menjadikan berdirinya negara Belgia terlepas dari Belanda. Singkat kata akhirnya pemerintah Belanda menerapkan Tanam Paksa pada komoditi ekspor unggulan kala itu, diantaranya tebu dan kopi. Secara peraturan 20% dari tanah milik harus ditanami dengan komoditi ini. Kopi, yang bukan tanaman aseli Indonesia, aselinya berasal dari sekitar Ethiopia, ditanam secara meluas di Indonesia.

finishIMG-20130526-01077rLalu meloncat ke H-6 kolozal, adalah hari Minggu. Dengan niatan ‘mencari trek penutup yang lebih menampar’ maka tim kecil bergerak ke arah masjid Kubah Hijau, mencoba hidangan yang direncanakan sebagai hidangan penutup trek Cikarangmtb Kolozal#11. Ya, betul, dicari trek melambung, memutar sedikit agar lebih menampar.

“Kayaknya 27km terlalu pendek deh… ayo kita coba carikan jalan melambung”

Akhirul kata, pada akhir H-6 itupun diputuskan bahwa trek original, tidak perlu lambung melambung sudah sangatlah menampar. Termasuk didalamnya adalah rolling indah sepanjang sekitar 10km dari jembatan/Kuil Shaolin ke arah titik finish Mesjid Kubah Hijau.

Artinya? Survey hidangan penutup memutuskan kembali ke hidangan utama.

Ntar dulu. Apa hubungannya dengan Tanam Paksa?

Silakan menikmati dulu foto foto H-6. Sementara tim kecil yang punya niat ‘memberi tamparan akhir trek’ ternyata menemukan dirinya ditampar oleh trek survey yang melingkar lingkar di kaki Gn Terate. Menapaki jalan jalan makadam dengan sisa sisa tanaman kopi di kiri kanan secara sporadis. Terbayangkah dulu di 1800an ribuan orang harus menyumbangkan 66hari kerja dalam setahun, menjadi buruh tanpa bayar, memasang satu demi satu batu batu makadam begajulan yang kemarin kita lewati…

his ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


WJxc Ride#16 Cikarang-Quiling Century Ride

IMG_2388bayangCikarang, 30 Mar 2013

Pagi itu akhirnya berkumpul lah 3 pesepeda di alfamidi. Eh, maap kelewatan, ada satu juga motorist yang ikut ngumpul. Sang motorist tampak dengan kostum siap siap nge-JOKO, plus juga dengan wajah yang masih diselimuti kegalauan, Kasian juga, saya jadi curiga jangan jangan beliau sedang ditinggal anak isteri pulang kampung ya sampai wajahnya kusut gitu…

Mohon maaf kepada yang merasa kisah hidupnya mirip dengan cerita ini, karena ini hanya kebetuan belaka…

Bukan pertama saya genjot bersama dua rekan saya yang super ini, tapi aseli baru hari ini saya genjot bertiga saja dengan mereka. Segera lah terasa, trek belakang komplek serasa seperti race deltamas aja wkwkw…. NGEBUUUTTT… Benar benar uji nyali otot kaki buat saya nih. Ampun. Seberapa kencang pun saya nyoba genjot ban belakang saya dikawal dengan baik oleh ban depan rekan ini. Ampuuuuunnn

IMG_2396kupluk

Dari alfamidi kita menyusup ke area pintu tol baru cibatu, saya senang sekali melewati terowongan tiga nya. Betul, ada tiga tahap terowongan, gelap, hanya cukup selebar satu motor, dengan selokan di sebelah kiri. Lanjut masuk ke area Lippo lalu nanjak ke trek Rally Perang. Dengan sukses saya ditinggalkan dikentutin di tanjakan mooy yang sebenernya kegemaran saya ini.

Speeding speeding, sempat ketemu rombongan Om Joko Lippo dengan sepeda hardtail. Lho, Doraemon kemana Pakde? Ada, lagi nampil di tipi katanya…

Masuk ke trek LIO Cilangkara, menyusup ke Nu J3, lalu melipir ke samping kebun Jati sampai akhirnya nongol di Bojongmangu pasar di pertigaan.

20km an dan hanya satu jam lebih sedikit. Uedan emang…
Kami pun makan kelapa muda…

Trek belakang komplek tanpa cicau ini jadi favorit saya sekarang… heran selalu kangen datang dan datang lagi ke trek ini.. Waduh, tapi perjalanan masih panjang…

Setelah sebatang rokok dari kedua rekan sepedahan kali ini lewat, ngosh ngosh an napas saya mengimbangi dua rekan yang seperti tawon terbang ini mulai mereda, mulailah kita pada perjalanan sebenernya…

What? Emang yang tadi bukan perjalanan ya?
Bukan, yang tadi pemanasan saja. Dan terbukti membuat betis, paha dan dada saya poanasss polll…

Semalam kesulitan tidur karena ada acara jumat tidur sore, maka lewat tengah malam saya mencoba menggambarkan trek buat gowes keeseokan harinya. Unik juga, jalan dari Bojong Mangu ke Cariu kok tidak ada yang singkat dan lurus. Kalau mengikuti jalan utama akan mutar dulu baru ke tujuan. Akhirnya dengan memainkan zoom nya, saya coba reka trek, smoga besok beneran ada trek nya…

Bukan “tiasa”
Bukan “sepuluh taun lalu ada AMD disini…”

Melewati BojongMangu, menyeberang jembatan, menggelinding di jalan beton, lalu keluar jalan utama kekanan, nanjak, jalan yang sama saat saya gowes bertiga Eyang dan Didi sekitar 2 tahun lalu. Jalan berubah menjadi makadam, jalan yang sama dengan saya gowes berempat OmRudy, Nte Rahmi dan Om Stef 3 tahun lalu, sampailah di suatu titik. GPS memerintahkan berbelok kekiri. Wah, belom pernah nih jalan ini. Om Okky juga bilang dia belom pernah lewat jalan kekiri. “Kita coba jalan baru…” kata saya

Turunan makadam, woyyy… singletrack di tengah kampung, lalu disambut singletrack di tengah sawah, lalu disambut singletrack tanjakan di tengah kebun jati. Semangat dan seru, karena singletrack memang sensasinya beda ya daripada sepanjang dari berangkat doubletrack terus. Tapi di kejauhan, saat kami nanjak, tampak seorang nenek, membawa semacam rantang tampak sedang perlahan sekali berjalan pas di tengah trek. Tentusaja menghalangi trek… Sang nenek tersenyum. Semakin dekat, semakin terlihat senyumnya tampak aneh, antara ceria plus artifisial plus.. mengerikan…

Saya paling depan dari kami bertiga. Seperti juga saat bertemu penduduk dimanapun saya pun bilang “punteennn…” namun sang Nenek tidak tampak bergeming dari tengah singletrack. Senyum anehnya semakin ngeri dan semakin jelas. Isi rantang nya juga semakin jelas tampak, Jambu batu. Mendekat dan mendekat, saya arahkan susahpayah sepeda melewati sisi rerumputan. Ingat, ini di tengah semacam hutan jati…

IMG_2400cariu-ha-long

Suara nenek semakin mendekat semakin jelas. Tertawa ngikik… mirip banget yang sering kita dengar di sandiwara radio atau film horror…

Haduh !!!

Saya tidak sempat lihat apakah nenek kakinya menapak tanah atau tidak…
Om Okky yang rapet di belakang saya kemudian diketahui mendengar ketawa dan ocehan nenek yang mirip saya dengar juga . Hanya Om Heru yang agak berjarak di belakang tidak mendengar apapun. Om Heru setelah beberapa meter lewat menengok ke belakang dan melihat sang Nenek melambai sambil tersenyum sangat lebar….

IMG_2403langkah

Hiiiii…

Singkat cerita akhirnya setelah rolling rolling termasuk istirahat di dekat Situ Abidin kami pun akhirnya sampai di Cariu…

Setiap melewati jalan Jonggol-Cariu-Cianjur, misalnya pas gowes ke puncak pinus, atau pas bulan lalu menuju titik start masjid kubah hijau buat genjot Gratisan, saya penasaran banget dengan pemandangan jauh di kiri jalan, jauh di seberang lembah. Bukit bukit atau gunung gunung kecil yang muncul menjulang julang diantara landscape. Om Hanif Pak TB pernah mengomentari foto sepeda Cozmic biru saya dengan background pegunungan ini sebagai ‘pinnacles’… aduh… makin penasaran.

IMG_2408masjid

I want to go there…
Saya ingin banget mendekat ke pegunungan itu…
Ku ingin memeluk pinggul Sanggabuana

Hanya semalam sebelum gowes ini saya mencoba liat ke Google Earth, Eyang bilang gowes akan ke Kuiling. Pas ditanya lewat mana belio dengan wise menjawab, “…banyak nanya, yang penting tujuannya ada…”. Hmmm. iya juga. Gowes dengan ada tujuan udah prestasi besar buat belio belio ini… wkwkw… Oke, saya tarik garis lewat jalan menuju Kuiling ini, melewati lembah sungai Cibeet, agar bisa memeluk Sanggabuana dari dekat. Mengagumi puncak puncak yang menyembul…

Kalau di foto foto landscape kita sering mendengar daerah Guilin di China. Atau daerah Ha Long Bay di Vietnam… Mungkin saya agak melebihkan, tapi beneran daripada terbang jauh ke Cina bagian selatan atau ke dekat Ha Noi, mending genjot 45km menuju area ini. Daerah ini ternyata kemudian tidak berhenti saya kagumi selama gowes dari Cariu ke Quiling… AMAZING !!! Pinggul Sanggabuana yang indah… sexy…

Tanjakan menuju mendekat ke Quiling juga benar benar membuat jantung serasa akan meledak… Area ini memang aneh juga, panas terik namun angin semilir adem… Di jalur ini kami dua kali pitstop, di tengah kampung dan juga di dekat Quiling.

Odometer sudah menunjuk melebihi 50km… dan artinya masih ada sejumlah kilometer yang kira kira sama menuju rumah…

Dari tempat pemakaman Quiling kita pun turun ke arah jalan raya Cariu – Cianjur. Wah, jalan mulus dan turun tajam. Setelah menyeberang sungai Cibeet sih lalu ada sedikit rolling juga. Lalu kami pun istirahat isoma, pitstop kelima selama genjot hari ini di masjid kubah hijau.

Bagian selanjutnya adalah perjalanan panjang dan serasa tak habis habis kembali ke Cikarang Baru.

IMG_2410pitstop

Selanjutnya kita melewati onroad ke arah Cariu kota, lalu melewati jalur balik kembali via Situ Abidin, istirahat lagi untuk ke 6 kalinya, lalu genjot dilanjutkan melewati jalan potong offroad ke Kaligandu.

Menuliskan part ini sangat berat, sama seperti saat menjalaninya, rasanya seperti tak ada habisnya genjot kembali kerumah. Tak tahan akhirnya saya memaksa dua rekan tawon untuk berhenti terakhir yang ke 7 kalinya di pertigaan Cicau. Paha dan betis susah tak berasa dari melewati tanjakan Jiper di kilometer 90+ perjalanan ini, sementara bagian tubuh yang menempel ke sadel segera menyusul tak berasa… baal

Emosional saat akhirnya melewati alfamidi dan masuk ke rumah di kilometer ke 101 jam 5.15 sore hari

My only third century ride…


WJxc Ride#15 Nawit-Bondol

IMG_2305duetNyepi, dan yang penting … libur…

Sudah selayaknya kita menyepi, mungkin… tapi pagi ini saya ikuti saja kata hati buat gowes teduh dan sepi tanpa gonjang ganjing, walaupun ternyata matahari bersinar cukup terik.

Di tengah jalan tampak pemandangan unik yang ternyata adalah arena jual beli hewan. Ada bebek ayam dan kambing serta domba. Seru melihat mereka berkemas, memasukkan kembali kambing ke dalam keranjang yang ditempelkan di motor. Satu motor memuat 6 kambing. Banyak kan?

Mungkin terdengar sederhana, namun kok saya menemukan perasaan nyaman dan teduh ya berada di tengah jualbeli yang sederhana ini. Obrol punya obrol, salah satu pembeli berasal dari area Jonggol, dan kemudian kambing kambing yang baru dibeli ini akan dijual di pasar di daerah Jonggol sana, yang membeli biasanya petani. Kisah simpel mencari rejeki yang sederhana dan teduh didengar.

IMG_2313nawitAkhirnya setelah menemui beberapa jalan yang semakin menyempit, meski dalam keteduhan dedaunan pohon pohon kampung yang rindang, akhirnya sampai ke sebuah jembatan bambu. Ada rumah tepat di sebelah jembatan bambu. Setelah berbasa basi maka bertanyalah kepada Bapak pemilik rumah/warung tentang apa nama daerah ini… “Ini Nawit dik…”

IMG_2749ciumUnik memang area ini. Jalan meliuk liuk, ada yang sudah dibeton, ada juga yang masih jalan tanah. Campur. Jalan nya pun jarang sekali yang lurus lurus dan bisa ditebak arahnya. Semalam saya lihat di Google Earth memang area ini jalan kampungnya meliuk liuk, melingkar dan tak lurus. Menyesuaikan dengan bentuk sungai nya kah? Mungkin.

Salah satu yang juga unik dari area ini adalah betapa masih teduh nya. Entah kenapa penduduk tampak tidak tertarik untuk memotong pohon pohon di kebun nya. Campuran berbagai pohon tanaman keras dan tentusaja banyak pohon bambu. Teduh. Tak terbantah. Serasa tidak sedang berada di area yang dekat dengan Cikarang saja. Penduduk juga tampak banyak memelihara sapi dan domba. Sapi dan domba dibiarkan berkeliaran di halaman, dibawah keteduhan pohon pohon rindang. Aseli, aura kampung ini beda banget…

Kembali menembus berbagai jalan meliuk dalam teduh kampung disambut turunan panjang dan akhirnya sampailah ke sebuah warung yang berada, lagi lagi di sebelah sebuah jembatan beton yang besar. Jembatannya tampak aneh, tapi warungnya tampak sering melihat fotonya… kembali bertanya dan dijawab “Ini Bondol dik…” ditambah lagi “Oooo… itu sungai Cikarang dik…”

Setelah makan dengan menu yang terkenal, akhirnya pulang dalam perjalanan jalan beton panjang yang serasa tak ada habisnya…

Demikian sebagian cerita genjot hari ini…

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


WJxc Ride#13 NWtGtC Track Cikarang (En)

IMG_0717lioIMG_0735piringIMG_0738warnasCikarang, 8 Dec 2012

Your backyard could be so tricky. It’s the place you always around, tend to be boring, since you have been going around, all over it.

The balance between boring feel and abundance time availability of the track gives that mixed feeling. This is track is all about this balance… This post of West Java XC ride will be on one track in Cikarang area. A training track which I have called these nearby, backyard tracks as ‘bimbel’. A fun name for a training tracks. Yes, this fun name help me keep the enthusiasm every time have a try on the track.

Cikarang Area, the place I live for the last 16 years, including the last 6 years of mountainbiking, been transformed from a hilly country-side into a huge and dense manufacturing-based industrial areas. The transformations been severely change the neighborhood into more concrete-asphalt (boring for mountain biking) roads. Residential area also changed, from a bad cross country style roads into more, again, asphalt and concrete. This concrete access been changed the face and the feel of residential area up to 60cm-1m wide (formerly) single-tracks. Getting over these concrete lines, as minimum possible run over the not-so-interesting terrain, will be the first task before having fun in the playground of cross country cycling.

This one particular track I myself register as Bimbel#4, basically find the off-road mountain bike playground around Cilangkara, Nagacipta and Sirnajaya. These area are southern part of Lippo Cikarang, major estate in Cikarang. The ‘real’ part of the track is these three areas. Classic cross country, small ups and downs, no surprises, no steep uphills or downhills since the track is part of indigenous country sides urban area.

After having a sprint enjoy ride of the small hills, then we have a chance to take a traditional ‘warung nasi’ (traditional restaurant), have a hot soup, cool iced water to have your mind and body refresh…

Our backyard, actually available every day, we can have it every morning before work or every night for nightrides, really a jewel. It is only a matter of how we see it differently.

I don’t really know up to when these Bimbel tracks will hold on over the expansion of residential and industrial areas… Let’s not worry about it, just enjoy these beauty around our backyard as long as available

These are set of ‘Bimbel’ tracks:
Bimbel#1 Jalur Lio-Kiara Gedur http://www.bikemap.net/route/1436798 23.6km
Bimbel#2 San Diego-Pasircongcot www.bikemap.net/route/1329078 47.9km
Bimbel#3 Cibatu 129 http://www.bikemap.net/route/1907172 12.9km
Bimbel#4 NWtGtC http://www.bikemap.net/route/1922853 41.5km
Bimbel#5 San Diego Easy http://www.bikemap.net/route/1907171 35.2km
Bimbel#6 Bondol http://www.bikemap.net/route/2015385 31.5km

Bimbel#4 NWtGtC
Course distance: 41km (start/finish at Home)
Character: pretty flat, small hills, country side fire-road double track

Facebook photo link…

Tracklog http://www.bikemap.net/route/1922853

IMG_0723no#13-NWTGTC

This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


WJxc Ride#10 Cipunagara CikarangMTB Kolozal#10 Survey (En)

Prasasti/ carved stone writings

Prasasti/ carved stone writings

a sleepy morning near Gua Belanda

a sleepy morning near Gua Belanda

Bandung, 20 Oct 2012

Here we are… twice a year Cikarangmtb KOLOZAL mountain bike event has arrived in town. Mmm… not really arrived, but at least this post will tell a story on the survey trip. The one and only survey trip for this KOLOZAL#10. Some edition of KOLOZAL trips were going through multiple surveys, but this KOLOZAL is special. One survey is enough. Hopefully…

A corn-ish pit-stop

A corn-ish pit-stop

FYI, Cikarangmtb KOLOZAL series been running for 10 series within last 5 years

#1 Kota Bunga – Cikarang (2007)
#2 Wanayasa – Maranggi (2008)
#3 Curug Cigeuntis (2009)
#4 Mandalawangi (2009)
#5 Kaldera Manglayang (2010)
#6 Tangkuban Parahu – Wanayasa (2010)
#7 Gunung Padang – Campaka (2011)
#8 Ranca Upas – Kawah Rengganis (2011)
#9 Km 97 (2012)
#10 Cipunagara (2012)

I always enjoy survey ride of KOLOZAL event. The survey proven to be so adventurous, with so many things to be anticipated and achieved.

Need to check available options for lunch-site, ‘isoma’-site. Assessment on the track which should be friendly enough for regular mountain bike-er. Try to find out options lunch and praying break, including access to the site, where to find available local vendor for lunch. Already a long list? That’s not all. The possibly most challenging and yet entertaining task been doing the track assessment, and this are a never before ridden track. So, we don’t have any idea what it looks and feel like. It’s like a gamble, a planned gamble.

The start site, which a forest, a struggling forest in the middle of north Bandung highland environmental destruction. A green environment in the middle of civilization. A lot of historic places inside an oasis of forest heaven.

IMG_1902poster2

it was a start of late rainy season

it was a start of late rainy season

A fresh air rainforest entertainment finished when we come out of the ‘Taman Hutan Rakyat Ir H Juanda’ area through Maribaya gate. This area lying on top of ‘Lembang Slip’ and produce a lot of interesting topographic layers. Some are extreme, which are beautiful in view of mountain bike activities.

Another interesting part on the uphill was the offroad part to peak of Cikidang. We cannot really said that it was a ‘peak’, it was like a tip of a big bucket. The uphill offroad line really remind me of uphill track to Pondok Pemburu. Not steep uphills, but long enough and challenging. This was my second trip in this line after the first solo ride three months before…

A Bee sting incident slap me out in the peak site. It was not easy to handle since the next 2-3 hours since my head feel strange, my balance disturbed. I was lucky that can continue the ride safely.

at Cikidang Peak

at Cikidang Peak

Photography was one of the interesting part of a survey. We need to collect interesting pictures, and will be part of the promotional campaign of KOLOZAL. This was not easy since we deal with new track, we face unexpected track conditions, and our photographic mind and view always need to be sharp. Look for every opportunities to document the track. Physically hard and artistically challenging.

After intriguing 14km uphills then we go through the 17km tarmac downhill part. This downhill part was hard, long, and especially dark. Yes, one of the spice during a survey was getting lost. Taking an unexpectedly wrong route/lines. Then resulting in a long and felt like never ending dark tarmac downhill. The terrain already giving a hard physical challenge, getting lost make the route much far away from the plan, and the dark of the night in the middle of the woods make it even more and more challenging.

This is Cipunagara Tea Plantation

This is Cipunagara Tea Plantation

The Cipunagara area, which we found a tea plantation, a tea processing factory, was really a remote area. Up to Cikidang peak the road of bad tarmac and a long twisty down to Darmaga. Both are too far away. The area looks like a piece of heaven spotted in the middle of nowhere. The feeling, the aura and the surroundings gives us a unique feeling, which I cannot describe in words.

I was a combination of mystery, exoticism, remoteness, secluded, beautiful. A strange combination of words. The best choice I can take.

Finally when we found a clean and smooth asphalt road it was already around 7pm. Our initial plan to take a finish line in Cigayonggong lake was cancelled and try to find out something to eat. Rain and the rough track already push our physical and mental condition to the limit.

Yes. This is a real survey.

A combination of curiosity, physical and mental pressure and time limitation. A perfect ride which we do not want the whole 120 mountain bike riders of KOLOZAL taking the same hard route.

@antoix track rating:
uphill: 8/10
downhill: 9/10
endurance: 8/10
technical: 8/10
landscape view: 8/10
distance: 38.6 km
Total vertical climb: ca. 920 m

Tracklog can be found and download in bikemap…

peta-kol10survey

This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


WJxc Ride#9 Cherry Marathon 74km, Karawang (En) – part2

back to the right lines, just only being opened for access

back to the right lines

continued from part1…

A huge mental blow when finally came out of the dead end I was continue to follow the track, a very narrow double-track which looks just only being opened for access. I was so grateful to be able to continue safely.

The next part of the trip was facing ‘the beast’. The double-track tarmac uphill line was straight, to the point, direct while the temperature around the track been increasing to it’s hot peak. It was hard. One of the hardest uphill I have ever taken on my experience. I was not realize that I was doing the fun-cherry track in reverse and then facing this uncompromising uphill line. Yes, I have taken the wrong direction of the route! Back to the uphill.

I stop on every 10-20 meter. This short 10-20 meter has successfully bring up my heartbeat to the maximum allowable level, 170bpm. The uphill was hard but yet beautiful. Writing this post blog two months after the ride I am already miss this uphill part and want to take it, experience the roughness, feel the maximum heartbeat only after meters pedaling.

It was beautiful uphill…

the most beautiful uphill, the hardest one

the most beautiful uphill, the hardest one

Struggling to get to the end of the ‘beast uphill’, I found myself overwhelmed by the view from the top of the hill.

We can see nearly 270 degree of horizon. From left-front-right are: Cikarang Area in left, far away Industrial area in Cikarang and Karawang; while in front of us we can see far away Kujang Fertilizer plant in Cikampek with all Citarum valleys; in right we can see Jatiluhur area only right behind some hills. Beautiful 270 degree beautiful view. A nice closure for beautiful uphill.

Then I decided to take another pit-stop. To calm down my mental after going through dead end. To calm down my heart after exhaustive uphill. To cool down my body with cold drinks.

Again. The rumors I heard about how hard to get an adequately small shops to cool down proven that it was only a rumors. The place, called Kuta Jati, prepare a lot of options for logistic loading including availability of ice. Yes, there was no electricity, but they prepare ice for you!!

After a long pit-stop for 30 minutes continue leaving the beautiful site and going through the back of the hills, goes partly flat and partly down all the way: Kuta Jati to Kuta Tandingan to Kuta Kalambu and then to a simple an famous three-way junction with a lot of Cherry tree… A cool place we were looking for.

I treat myself a lunch while my emotion still in high…
Reaching this Cherry trees after all those ways to get here

Kuta Tandingan... then followed by Kuta Kalambu and Kuta Meriem

Kuta Tandingan… then followed by Kuta Kalambu and Kuta Meriem

Typical scenery around the track was full of hills and hills. Never ending hills one after another. Some part are considered karst area which usually lack of water. A lot of water sip into the ground and a lot of underground river links deep down the earth.

People lives here has adapted to live in such a very hard environment. In the rainy season they try to grow only use rainwater for water source. Some try to grow coffee and oranges, but not much has a good result. No electricity worsen the living condition.

After taking a mental and physical recharge in Cherry, the closing part of the trip was even harder. In going home I have choose to take another two piece of the links. One is what known as ‘Hutan Jati’ or ‘Teak Forest’. This route already going round, taking longer route rather than directly back to Cikarang area. To make the trip ‘perfect’ I was also taken part of ‘Gua Bau’ route as closer chapter.

After 74km or endurance marathon, 6pm arrive back home, exhausted but excitedly determined…
The best route to challenge your endurance; mentally and physically

@antoix track rating:
uphill: 8/10
downhill: 6/10
endurance: 10/10
technical: 8/10
landscape view: 8/10
distance: 74km
rolling track, tarmac and fireroad

The tracklog can be found in bikemap…

Cherry... the beautiful torture track

Cherry… the beautiful torture track

map-funcherry

This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


WJxc Ride#9 Cherry Marathon 74km, Karawang (En) – part1

IMG_1692kalimalang600Cikarang, 14 Oct 2012

This trip, the trip to Cherry, been always in my list of ride for long long time. The track is too famous, and then become a benchmark for every mountain bike rider in Cikarang and Karawang area. I heard about the roughness of this track since five years ago, since my first encounter with mountain bike activity. Again, because it’s so famous. Too many people in cikarang mountain biking scene talk about it.

It’s been postponed and postponed, especially because my own fear, my own weakness. I was enjoy uphill, being an uphill enthusiast, and then heard that this track is long and full of rolling terrain. Rolling is the terrain combination between uphill and downhill side by side. This kind of terrain was the last thing I wanna ride. Being an uphill enthusiast a short downhill and uphill consecutively in my opinion is like going nowhere. You do a hard uphill, not too long, and then followed by short downhill also for not too long. It felt like a torture for me.

san diego

san diego

Before decide to finally take this route for a solo trip I have been trained myself to adopt to rolling terrain. I push myself to find what to enjoy in this kind of cycling track. I do some series of rides, what I called ‘bimbel’ (Bahasa term means some kind of training for kids in schools, training program outside the official school hours). The main training ground are tracks around Sand Diego and Pasircongcot area.

One of the final training part was when I was doing solo ride night-ride San Diego-Pasircongcot ride. The enjoyment and excitement during this ‘bimbel’ ride been told me the beauty side of rolling terrains. Finally I was accustomed to rolling track, I know how to enjoy the track.

signage indicating problem?

signage indicating problem?

Choosing the right track was a big problem. There have been so many combinations around the area. There are a lot lot of tracks goes through Cherry. A combinations ins and outs. Count yourself a lot of permutations available. Finally I decide to take the most far options, combine Fun-Cherry, Hutan Jati and Goa Bau. Decide solo ride will be only depend on my speed on my own will and a lot options to change by on site decisions.

That morning, leave home at 530am and finding a smell of fresh dew when hit offroad area from Kalimalang to SanDiego. A favorite bimbel track felt like my own backyard. Reach San Diego, a small traditional restaurant at around 700am and take a fast breakfast. San Diego Soup was the main menu, my fave menu. Fresh and hot, heat up you body, warm up your feeling since this would be the last decent logistics loading. I load two tumbler full. One with fresh water and another with sweet cold tea Tehbotol. Ready to go…

In doubt on what option route to take, regular-cherry or fun-cherry? Fun-cherry will give more load to the track, this is the longest track to Cherry. Passing by the junction, finally turned back to junction and take fun-cherry route. Rolling track start to hit my bike. Up to first 3km we still can find a lot of trees, some of the villages are still green and felt cool. Up to first 5km we still met other team want to go to Cherry. After that, all alone to the edge of the fun-cherry route.

Ruins beside track... what's happen I don't want to know

Ruins beside track… what’s happen I don’t want to know

There was a released plan that this area will be the place of the new Jakarta’s airport. Currently the area was rarely inhabited, lack of infrastructure. After 5km from San Diego I cannot see any electricity lines. Yet the area already in the heat of land ownership problems. Can be seen by a lot of signage claimed that the land was never been sold. Some ruins ex houses look like the house had taken unexpected treatment rather than expected planned moving.

Going countless up and down hills finally I felt need a break after around 2 hours riding. Looking at my GPS the trip was not yet over 20% of distance to Cherry. I see a simple ‘warong’ (small shop) equiped with ice then I stop and order cola with ice. Due to start at early morning, the heat of the terrain has just start striking our body. I cannot imagine if the trip start late 2-3 hours after.

I often hear stories that we will be lack of logistic support (small shops) around the track, actual situation I face was not as bad as I thought. Yes, the shop is not every 5km, yes there was no electricity, but at least we have place to buy cool and sweet drinks along the way.

The pit-stop, cola with ice

The pit-stop, cola with ice

The first real pitstop for around 20 minutes will cool soda-drink really boost up my enthusiasm. What happen next was entering the far and outside, corner of the track. Feel like going into corner of the world. The track from tarmac becom a clear fireroad. I cannot imagine what would be the track condition in rainy season. Will be full of mud. Even in the peak of dry season like October, we still feel like in the middle of nowhere. Actually also happened since the GPS track lead me into a dead end.

Yes. Dead end. Jalan Buntu.

It was not easy handling myself facing this situation. Try to keep logical was my main priority, controlling urge of excitement to continue, monitoring condition of the track, and keep doing it safely since nobody else but you. The experience itself has thought me abundance of lessons. It was not about the reality to continue following the GPS tracklog (which later on I found Om Hanif, the trekbuilder himself, was not taking this route and was taken another safer route). It was about handling the pressure and go through it.

continued to part2…

This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


WJxc Ride#4 Manohara Track, Cikarang

start/finish area, Parking Lot Marketing Office Kota Deltamas

under the SUTET

9 September 2012.

After having an evening and sunset ride on Friday evening, just after driving 2 hours back from Bandung this time we do another evening ride in the same area. This time start at around 4pm, not so late compared to last Friday ride.

This time the evening ride not in a hurry hurry mood. The enjoy easy ride start with on road track up to below the SUTET electrical line and beginning to do a double-track gravel uphill. A classic Cikarang uphill that never easy to do. This simple 500m long not so steep uphill never been easy to do. It has been hard always, from the time I was newbie and start mountain biking 5 years ago up to now. Challenging for our heart, challenging to manage our aerobic metabolism to support our muscles working. It has never been easy no matter how experience I am.

At around the peak of the hill under the SUTET (extra high voltage electrical lines) my eyes caught by a stature of nearly without leaves tree. I push my bike outside the fire road, start to set some shots. Some shots focus on the lonely tree as focal idea while other shots focus on the pattern shown by aerial extra high voltage power line. This SUTET uphill is the part you have to try when you take a mountain bike in Cikarang area. You definitely miss something memorable and special if you choose to skip this short line.

The last two years I have been more serious on doing my photography hobby. I was start blogging back in 2006 and start mountain biking 2007. Old post on this blog was not only on mountain biking until currently fully dedicated to specialized in tell stories about my mountain bike experiences. After being more serious on photography then I combine into what I called ‘bike-tography’. An outdoor photography activity based on mountain bike trip and mountain bike activities. Combining these two hobby being a new challenge for myself, like what I just did with this SUTET shots. My biking trip will become longer but the documentation become more beautiful and meaningful.

Back to the track. Taken not too long until I reach what called ‘Jengjeng’ forest. The area around 10 hectares consist of Jengjeng, also known as Sengon/Albasia (Paraserianthes falcataria) trees. It was the peak of dry season. This time like September should be the start of rainy season, but this year dry season been longer than usual. It reflected to lack of leaves on the Jengjeng trees. At this point I just remember my early mountain biking experiences with Jengjeng area. I remember that time we usually goes up to small woodland area up the hill above Jengjeng, small woodland where there is a cemeteries inside, making the area spooky and giving additional blow to the mountain biking experience. I decide to go to this line which more than two years I have not take. The adrenaline on the spooky woodland place, lonely, is one of the feeling I experience that evening.

Going down and around now we facing this Manohara hill. Goes around the base of the hill and then follow the single-track and start what famously called ‘Manohara uphill’.

The singletrack looks like never been used by motorcycles. Not like the last time I ride this line, motorcycles still using this line. Now they take another line on the other side of the hill. Since less motorcycle goes to this line means less maintenance to the line. Amazingly it is still ride-able and even more challenging. Fyuh! This uphill still make my hear beating hard. This line still hard, it is definitely still a challenging uphill line. I take a stop, couple of water sip from my bottle and then start taking pictures. Taking pictures from the top of the hill always give a lot of ideas and choices. We have 360 degree options wait for our creativity to make a good picture. I have no specific idea and just taking a standard shot with Manohara uphill line as the background.

At the top of the Manohara uphill part

The main menu has been taken. The other part of the ride was taking a hill to hill on what Cikarang maintain biking scene called as Telletubbies hills. That evening I also see more than five motocross rider take similar line on these hills. It was interesting to follow their exercise line which flowing switchbacks down the hill. Into on road route in ITSB area back to the start line. The sun start to sink beyond the horizon and the ride was come to an end.

This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


Ride#03 XC Deltamas Cikarang

Want to read this post in English…??

Ride Jumat sore ini ride yang simpel saja, pulang kerja langsung ambil sepeda dan arahkan ke trek yang sudah mulai ngangenin, Trek ‘KangAsol’ yang kita pakai untuk XC Charity Race.

Sambil genjot ke arah Tegaldanas maka mampir sebentar mengunjungi salah satu jembatan diatas kalimalang. Matahari udah condong banget mau tenggelam, masih ada cukup sinar terang buat mengambil gambar. Jembatan ini sudah lama banget saya ingin ambil gambarnya.

Genjot dilanjutkan, agak tergesa, melewati situ Binong, menyeberang pintu tol mendekat ke pemasaran Deltamas dan area start, sinar matahari semakin redup. Tergesa saya ikuti trek XC Deltamas Charity, singletrek masih terasa bekas ban nya, walaupun di beberapa lokasi tampak rekahan rekahan tanah yang membesar. Di beberapa tempat rekahan tanah ukurannya sanggup untuk menelan lebar ban sepeda lho…

Menikmati saat sunset di sebelah Banner Delta, ditemani beberapa pasangan muda mudi yang asyik, akhirnya benar benar ketemu kegelapan malam di Jeng jeng.

Ride yang singkat dan cepat saja 1830 udah selesai makan dan udah nyampe rumah kembali.

This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


Ride#02 Goa Lalay-Pangkalan Karawang

Cikarang, 1 September 2012

This ride continued in the same day, the same line with Ride#01 Jembatan Gantung. My spirit was high, my enthusiasm to start this series of mountain bike ride was on the top. This series of trip just spice up my mountain biking world only on that first day of the West Java XC Rides.

After pass through Cibeet river by the Cibeet Dam the ride goes through an on-road route. Not really an on-road route, the province road to Pangkalan was in a very bad condition. Some part of the road are rough and dusty, not really felt like a good idea ride on it with trailers and hauliers running beside your bike, throwing all the dust to your face. Sometime I felt fuzzy about this trip, is Gua Bau a significant place to go?

I heard about this track from the cikarangmtb mailing list, the stories about last two trips to this cave was always related to exhaustive trips. The track itself was pretty much related to exhausted rides, this even make me more interesting. If multiply still working then you will see what Om Hanif write on http://hmarga.multiply.com/photos/album/49/Cari-Gua-ke-Kawasan-Karst-Pangkalan.. (It’s written in Bahasa Indonesia)

The ride then passing through traditional lime kilns. Along the way we can found more than twenty limestone kiln. These kiln been using reject products and used tires for burning, resulted in dramatic black smoke come out intermittently. It’s kind of dramatic when you ride inside a (supposed to be) teak forest with a lot of black smoke around the track.

The double-track out of the main provincial road gives more pleasure to the ride. The track start to give uphill part. Strange. The track was not really a steep uphill, but it felt hard and long. The heat of the environment around the track start to give more additional taste to the track.

This track located in the Karst area, a geological therm of an area formed for thousand years. The karst area will be lack of surface water. Water will directly goes into the earth, flowing and gather in underwater rivers. Basically we will found a lot of stones on the ground, a lot of caves, and a hot and really dry environment. What we found in this track was an uphill part through bamboo forest up and up the hill. Until we found the opening of the cave.

The name ‘Goa Bau’ (Smelly Cave) closely related to the fact that this cave inhabited by bats. The smell come out of the mouth of the cave was significant enough. I just try to imagine thousands of bats come out in the evening and come back in the morning. It will be interesting sight seeing.

The route back to Cikarang is the hardest past of the track. Long track, rolling and rolling through hills, hot environment was perfect for an ultimate torture for unprepared cyclist. Don’t try this track unless you are ready to spare your time and spirit enough stock to have a long trip. At least a longer trip than you expected.

Tracklog can be found in bikemap link…

This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


Ride#01 Jembatan Gantung-Cikarang

rumah nenek

spooky place

Cikarang, 1 September 2012

This is my first post in English. I am not really comfort on what I am writing, but I feel this is the right time to start. I want my writings can reach wider audience, can be useful for more and more readers out there. Wider than visitors of this blog which been written in Bahasa Indonesia since July 2006.

This post also the first blog post on documenting series of mountain bike rides in West Java, Indonesia. WEST JAVA XC RIDES… Yes, that’s means there will be rides on surroundings of where I live. Try to recapture one by one as much as tracks possible, which I have been riding since August 2007.

Well, lets just start…

This morning start ride at 0630am, taking a classic Cikarang mountain bike route to ‘Jembatan Gantung’ (suspension bridge). This route very popular in Cikarang area mountain bike scene, nearly every body know and fall in love with this track. It’s like a standard, a ride that everybody knows about. In my opinion, this just right to start a series of rides.

Ride#1 Jembatan Gantung

When a pair of tires hit the gravel double-track, the feel to the handlebar and pedals, transfer the roughness of the track into our body. This gives us the feel, the taste of the track. Dust flown from rear-tire of our colleagues ride in front. The feel and the taste that all of us in Cikarang knows about, and always want to do it again and again, ‘crave’ maybe a good word.

The physically challenging rolling route including a long and flowing 2km downhill, end up in the bridge site. Small suspension bridge, an old one with a bad physical condition, but giving a special feeling from the feel when ride on it. The shaking bride gives that odd and memorable feel for everyone ever ride on.

Track-log can be found in this Bikemap.net link…
Distance: 15.6 km
Total vertical climb: ca. 30 m

@antoix Track Rating:
Uphill: 7/10
Downhill: 7/10
Physical Challenge: 7/10
Scenery: 6/10
Character: Hilly rolling track in a hot Cikarang area weather

This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


Pait Ngabuburit

Cikarang, 11 Aug 2012

“Ngok ngok…”
Terdengar dua kali. Yang pertama dari kijang Innova yang ternyata Om Andri ada didalamnya.

“Ngok ngok…”
Bunyi klakson kedua hanya beberapa menit sesudahnya, tampak mobil yang saya kenal. Apalagi mobil tampak berbelok kekiri di Beruang. Tak salah inilah rumah Papa TB.

Akhirnya saya menjumpai diri saya njeprat njepret kamera di pinggir jalan Beruang 10 sambil menunggu Papa TB. Ternyata kemudian juga team KISS yang namanya “nyerempet kaya angkot” merapat juga.

Mengingat rumah ini, saya mengingat pertama kali diundang ke rumah ini, rame2 cikarangmtb, ngemil gorengan di lantai atas dan ternyata saya temui waktu itu saya berada di tengah persiapan Kolozal. Kalo gak salah persiapan kolozal Cigeuntis. Itulah saat pertama kali saya kenal dengan Cikarangmtb.

(kali ini saya bukan bikin cerita seperti biasanya, tapi nyeritain beberapa scene yang saya liat aja… kronologis, tapi tidak lengkap…)

Sesampainya genjot ke AA Bike cukup kaget, “Wah, banyak jugaa…. “
Kata Om Hanif, rekan rekan diam diam namun ternyata yang ngikut banyak juga. Tidak sempat menghitung namun tampaknya 15 pesepeda siap.

Terharu merasakan suasana di AA Bike. Ada banyak sekali senyum. Sapa antara pesepeda, senyum kangen juga karena sama sama lama tidak bertemu di tempat yang biasanya jadi tempat komunitas ini mangkal. Sejak Kang Asol sakit memang serba salah bersikap di AA Bike. Hari itu AA Bike tampak terasa mulai ‘back to normal’, termasuk mangkal nya tukang bubur ayam. Lho, ini kan bulan puasa toh…

Menengok ke dalam toko. Ada Teteh menjaga toko seperti biasanya. Barang-barang di dalam toko tampak telah dirapikan. “Iya, dirapiin Om… dibuang buang in yang tidak perlu” kata Teteh. Dagangan AA Bike memang jauh menipis dibanding biasanya. Tampak AA Bike berusaha dibangkitkan meskipun belum tegak. Kita dukung dan doa kan ya…. Teteh dan AA Bike terus bertahan menjadi tempat kita ngumpul.

Tunggu punya tunggu, beberapa rekan yang kabarnya lewat list di milis akan datang. Akhirnya langsung berangkat juga. Wuzzz… Sempat tertinggal dari tim karena njepret, saya bersama Om Begoyor duet akhirnya ternyata malah sampai jeng jeng duluan. Jadi teringat kembali hebohnya kemarin XXC Charity Race. Suasana tambah panas saja, maksudnya sore itu panas nya Cikarang ditambah juga dengan keringnya leher.

Melewati kolong tol kita disambut oleh segerombolan kambing yang kabarnya telah menyebabkan seorang pesepeda nubruk kambing. Memang mungkin kalau sudah sore-sore begini jadinya agak kehilangan orientasi dan keseimbangan yah… Salah satu seru nya gowes pait ngabuburit di sore sore bulan puasa… Saya mencoba genjot ngiclik saja. Sekadarnya kecepatan asal melaju kedepan. Sekadar menggelindingkan sepeda saja karena perjalanan masih jauh.

Mencapai makam Kang Asol di lead oleh Om Asup the Bartender. Kecepatannya lumayan kenceng buat orang puasa. Saya genjot sekenanya saja pokoknya asal tidak ketinggalan dan masih bisa melihat tim di depan. Setelah nyampai ke rumah ortu Kang Asol yang ada dekat jembatan, saya baru ingat kalau pernah gowes kesini dulu. Mungkin pas gowes patin.

Menjumpai makam Kang Asol sangat emosional saya rasakan. Dari berangkat genjot diam seribu bahasa, hampir tanpa kata kata. Apalagi setelah melihat makam nya. Agak cair dengan kedatangan beberapa warga seputar makam yang ternyata adalah masih keluarga Kang Asol.

Seluruh tim lanjut khidmat berdoa, saya menunda berdoa dan berusaha menenangkan diri untuk memotret…

Kang, semoga kedamaian menyertaimu kini
Doa kita semua dan berkirim Al Fatihah untuk belio.

Genjot lewat Kolong tol adalah genjot standar yang sering sekali kita lakukan. Mendekatinya saya baru sadar kalau saya gak pernah punya foto site legendaris Cikarangmtb ini. Warungnya pun tutup, tapi tetap tempat ini memancarkan keasyikannya. Berhenti sejenak untuk satu frame jepretan.

Sementara matahari tambah condong ke cakrawala, membuat genjot jadi semakin kencang karena kebayang Lippo Cikarang masih cukup jauh. Singletrack dari kolong tol sampai ITSB sangat asyik sore itu sementara langit makin redup dan akhirnya kami buka puasa dengan sebotol pocari di kawasan terminal angkot Deltamas. Lalu jajal jalan baru langsung ke Taman Beverly Lippo Cikarang. Dilanjutkan dengan buka puasa di kedimanan Om H. Arif dan Om Bayu. Sementara di titik finish sudah menunggu kelompok tutup botol yang dipelopori Pak Walikota, Om Qoqo dan Om Yadi.


Refresh to Jeng Jeng

Cikarang, 2 Juni 2012

Sekian lama rasanya tak bersepeda santai dan ringan di seputar Cikarang. Pagi ini akhirnya menjalaninya dengan teman bersepeda yang biasanya juga ngajak sepedahan yang jauh jauh tempatnya… Genjot bareng Om Hanif akhirnya sampailah di Jeng Jeng dan bertemu tim Corsa Achilles.

Selalu senang bertemu teman baru dalam bersepeda, selalu terasa gairah baru. Gairang baru bersepeda yang kadang kita rindukan kembali datang saat segala tentang bersepeda sudah mulai menjadi hanya pengulangan saja. Saat kita mulai bosan melakukan yang sudah sering kita lakukan.

Seperti juga pagi ini, bersepeda ringan ke Jeng Jeng menjadi bersepeda seru sambil memotret. Dan pulangnya sempatkan mampir dulu di es kelapa muda dekat tempat SOP enak di dekat Mako Detasemen B Brimob. Memang cikarang hari itu panas sekali dan berhenti di dekat Mako Brimob ini bukan permberhentian yang normal buat saya.

Biasanya digenjot sedikit lagi kita sudah sampai AA Bike jadi jarang banget berhenti disini. Secara tahu sama tahu saya dan Om Hanif seperti mempersiapkan mental untuk mampir dan menjenguk Kang Asol. Tidaklah mudah menjalani diri kita melihat keadaan Kang Asol saat sakit. Menengok kok sedih namun jika tidak menengok kok kehilangan kesempatan terus memberi semangat.

Berhenti membeli es kelapa ini pun saya manfaatkan untuk memotret. Tampak di bagian belakang warung, di tengah ladang ada sebentuk pohon dan juga beberapa ekor sapi yang sedang digembala. Menyenangkan sekali memotret sesuatu yang sederhana dan simpel. Adalah tantangan untuk memunculkan potensi visual dari sesuatu yang simpel dan sederhana.

Genjot pagi itu pun saya dan Om Hanif akhiri dengan menjenguk Kang Asol. Kang asol hanya sekilas seperti tersedak geli waktu saya tunjukkan sepeda 29in ke dalam kamar. “Ada ukuran S kok Kang…”

Kunjungan ini adalah kunjugan terakhir saya untuk Kang Asol. Setelah kunjungan ini, dimana Kang Asol masih bisa menatap tajam dan menggenggam erat tangan kita, saya tidak pernah lagi tega melihat kondisi Kang Asol. Kalaupun menjenguk saya akan memilih berada di luar dan tidak bertemu langsung.

Refresing ke Jeng Jeng yang menyenangkan dan suprisingly dapat foto-foto yang asyik…


Night Ride Cikarangmtb ke San Diego Pasircongcot bersama ANU

Cikarang, 4 Agustus 2012

Saya cukup nervous dengan acara malam ini. Sudah lama sekali saya memimpikan merasakan genjot bareng rekan rekan ANU. Disiang hari saya dengan grogi mengubah-ubah setting handlebar. Juga berganti ganti rencana, antara bawa bidon dan ban dalam doang atau bawa tas dan kamera juga… Akhirnya mendengar banyak yang ngikut, artinya akan ada waktu buat njepret, ya bawa kamera…

Setelah gagal ikut trip Papandayan dengan tim ANU di sebulan lalu, saya semakin penasaran saja merasakan siksaan paha ala tim ini. FYI rekan rekan, tim ANU adalah tim yang gemar offroad dari komunitas bike to work Bekasi, ROBEK. Unik juga ternyata saya dengar cerita Om Qoqo kalau di ROBEK tidak semuanya suka offroad.

Suasana depan warung Pak Brewok memang penuh kesabaran malam itu hehehe… Unik juga ngumpul selama hampir dua jam tapi gak genjot. Kita jadi punya obrolan2 aneh. Tentusaja sebagian besar obrolan adalah tentang Kang Asol dan kenangan kita masing2. Sementara Om Hanif mulai merancang-rancang selain trek setengah botol juga bagaimana ‘exit point’nya kalau kita kemaleman di trek dan harus cari sahur.

Kebetulan saya tidak ikutan NR Ramadhan heboh cikarangmtb tahun 2011 lalu. Dan malam itu kedatangan tamu pula di trek yang semohay favorit saya. Dalam bayangan sih saya pikir bisa kok kita genjot cepat malam hari meski sudah mendekati pergantian hari.

Jumlah yang sampai sebanyak semalam cukup mengherankan juga. Meski minim respon di milis atas ajakan Om Qoqo dan Om Hanif, ternyata diam diam rekan rekan mempersiapkan diri. Sementara di kepala saya juga berputar putar gimana caranya memperbaiki kegagalan motret nr jalur lio minggu lalu…

Setelah start genjot dimulai dengan santai saja, tapi tak lama. Segera tampak efek dari di-rawon-i nya para tamu dari grup ANU ini. Dikawal Om Hanif mereka melesat ke depan. Mantaaaappp… Rata rata rekan rekan ANU adalah bike to work er. Maka mereka juga sangat fasih mengebutkan diri di jalanan aspal seperti ini. Makanan empuk yang membuat mata saya agak mengantuk.

Melewati kalimalang, tampak pem-beton-an jalan terus berlanjut. Jalan ajrut2an yang kita rindukan semakin sedikit saja porsi nya. Suasana ajeb ajeb ternyata masih lestari di area ini meskipun bulan puasa. Tak lama kelapkelip lampu pun berhenti di area jembatan karena bertemu jalan ke arah Pangkalan.

Setuju Papa TB, bagian dari jembatan kalimalang,menyeberang tol sampai san diego ini adalah bagian favorit. Terutama pas di bagian singletrack meliuk liuk di tengah perbukitan. Benar benar singletrack yang didambakan para pesepeda XC. Malam itu adrenalin bertambah dengan trek yang kering ring. Singletrack jadi seperti jalan tol buat sepeda. Seperti cekungan selokan yang kadang menambah kesulitan tersendiri saat gowes.

Sensasi malam singletrack itu pun ditambah dengan penampakan rumput rumput gosong sisa kebakaran musim panas. Suasananya jadi beda banget, kita seperti berada di negeri yang lain. Kelap kelip antrian di singletrack dari lampu para pesepeda juga tampak meliuk liuk. Sampai akhirnya kita berhenti memandang ke bawah lembah. Keindahan lampu lampu kawasan industri seputar Karawang dan perkampungan sekitar San Diego menyambut kita, memberi pemandangan indah sambil kita ambil napas setelah ngosh ngosh an nanjak.

Jalan makadam “Tanjakan Anjing Menggonggong” segera menyambut. Emang heran. Setiap NR lewat jalan ini, kadang juga gowes siang hari, pasti ada anjing menggonggong. Unik di tengah kegelapan yang menyelimuti malam itu.

Melewati dua tiga pertigaan jebakan kita pun segera masuk kampung dan nanjak panjang makadam sampai di Warung San Diego. Langsung saya feeling blue… Karena disinilah di awal 2010 kita NR disambut bakmi jombor… Suasana istimewa yang tak akan terlupakan.

Bergeletakan lah para peserta NR. Mulai beredar dari yang becandaan, bisik bisik, sindiran sampai yang terusterang tentang setengah botol… Siapakah member setengah botol??? Mereka adalah…. (tuuuuuuuuuttttttt….. sensor kenegaraan)

Tak sempat lama bercanda dalam kehebohan rekan yang memutuskan melestarikan kegiatan setengah penuh botol bidon, keceriaan canda ejek2an, ternyata pikiran tentang waktu sahur yang mepet akhirnya memenuhi kepala. Genjot dilanjut tanpa basa basi memasuki kegelapan area tanpa listrik ini.

Jalan berangsur berubah bentuk, dari aspal ke aspal rusak ke makadam sampai akhirnya tanah keras kering penuh liku dan lobang. Setuju sekali bahwa bagian trek san diego ke cibeet via tamanmekar dan pasircongcot ini adalah trek yang sangat sangat mountainbike. Unsur nya lengkap; terasing jarang penduduk dilengkapi kegelapan, jalan meliuk naik turun penuh kejutan turunan dan tanjakan, menyempurnakan trek gronjalan yang jauh dari mulus.

Berbeda dg omhanif yang ikut rombongan ujungtombak di depan, saya berhenti di setiap pertigaan dan persimpangan untuk meyakinkan seluruh tim tidak salah belok. Maut nyasar selalu menunggu di trek yang jumlah dan penampakan pertigaannya mengintai tiap kelalaian. Ada puluhan permutasi kemungkinan jalan jika salah belok. Salut hormat saya bwt omhanif yang berdasarkan ingatan bisa menjalani trek ini malam malam lagi. Resiko yang terbukti akhirnya tim belakang bisa ketemu dan melihat tim depan ttb nanjak balik kanan salah belok wkwk

Saya jalani peran jadi sweeper termasuk ketemu putus rantai rekan ANU di dekat saung kecil apa yg saya sebut sbg ‘shelter’. Belom pernah berhenti disini meski kebayang asyiknya, sampai akhirnya merasakan slonjoran sambil menunggu rekan nyambung rantai. Sekitar 30mnt untuk heboh nyambung dan belum 200m rantai nya putus lagi. Intuitif saya jadi ingat Kang Asol… Gak pernah kita kuatir masalah begini. Tau nya beres aja…

Ketemu grup om AH yang kena bocor ban saya coba kedepan dan ngabarin grup omhanif yang kongkow di rollercoaster sambil pasti kuatir dan bertanya tanya apa yang terjadi di belakang. Saya pun menikmati selonjoran nunggu sambil deg deg an dg waktu sahur.

Setelah ikut bersabar sabar dengan menunggu tim regrup lagi, maka akhirnya dari Pasircongcot saya ambil rencana lain dengan genjot di depan. Menuruni rollercoaster yang sekarang sudah tak layak lagi dianggap sebagai rollercoaster. Selain ada jalan beton, juga tampak semacam selokan air di tengah jalan. Akhirnya sedikit demi sedikit, sampai akhirnya menggunakan gigi kecil terdepan dan gigi terbesar di belakang akhirnya berhasil juga mencapai kembali ke puncak. Kalau saya bisa lihat catatan heartrate pasti udah gede banget angkanya. Super hosh hosh. Untungnya segera disambut dengan jalan yang relatif rata dan banyak turunan menuju jalan aspal pertigaan Kaligandu. Setelah dari awal gowes banyak nge rem, kali ini sudah lepas rem saja, wuzzz… huenaaakkk…

Menunggu di pertigaan Kaligandu, semenit, lima menit akhirnya tampaklah rombongan besar kelap kelip lampu sepeda. Sempat bimbang juga dengan ide Om Hanif bahwa kalo lewat jembatan gantung maka kita akan sedikit ada pilihan tempat ber-sahur, tapi terusterang saya terlalu cinta sama trek jembatan gantung, apalagi yang dibalik seperti ini; dari arah Kaligandu ke arah Deltamas. One of the best cycling on singletrack in Cikarang…

GUBRAK !!!

Trek berubah jadi semacam selokan kecil yang sempit. Mungkin saking sering nya dilewati motor. Ban yang gagal menemukan trek serta keseimbangan yang terganggu badan mulai lemas dan mata mengantuk mungkin penyebabnya. Saya jatuh ke arah kiri dengan pinggang kiri bagian belakang terlebih dahulu. Setengah mati saya insting untuk tidak berguling karena ingat ada kamera di backpack. Wrong decision !!

Asiknya trek ini memang kegemaran dan favorit saya. Asiknya di depan tanpa ada yang dikejar ataupun menghalangi jalan dan kecepatan. Sambil teriak teriak kegirangan saya nikmati setiap lekukan dan belokan singletrack ini. Terusterang saya gak menengok ke belakang lagi sejak Kaligandu.

Melewati jembatan gantung dalam gelap, dengan bunyi derak kayu jembatan yang dilindas ban sepeda, semilir angin dingin dinihari dilengkapi dengan perut lapar. Dan, tentusaja, pinggang kiri yang cenut cenut akibat sempat jatuh tadi selepas kampung terakhir sebelum masuk singletrack. Setelah bergantian dengan rekan ber jersey Corsa akhirnya saya menyerah dan disalip oleh tiga orang rekan di tanjakan setelah Jembatang Gantung. Tanjakan ini, setelah sensasi jembatan gantung, menanjak pelan dengan ‘Spooky Graveyard’ tampak di sebelah kiri, menjadi sensasi tersediri sambil saya membisikkan salam numpang lewat.

Tak jauh dari RUmah nenek, ban belakang saya yang tadinya hanya terasa gembos, ternyata bocor dan genjot malam pun dilanjutkan dengan acara ganti ban di pinggir trek. Saya cuma ingat seorang berseragam Corsa bike dan Om Blacken ANU, dan ternyata berempat dengan seorang rekan ANU berjersey merah ROBEK. Lho, jadi selama ini rasanya genjot bareng2, pake acara teriak teriak keasyikan segala, kirain beramai ramai ternyata cuma ber empat saja toh? Akhirnya setelah agak lama rombongan besar menyalip saya yang sedang memasang ban. Wah busyet. Baru sadar ternyata jauh juga.

Sempat sudah dipompa penuh, ternyata ban luar tidak rapi terpasang jadinya digembosin dan dipompa lagi. Wah kehilangan waktu lagi. Hampir seluruh tim sekarang sudah menyalip. Saya juga makin panik karena waktu sahur semakin mepet.

Mulai genjot pelan-pelan sendirian, kelap kelip lampu ada di depan dan belakang. Kali ini tidak ngebut, cuma asal jalan saja. Rupanya peristiwa ngebut tadi udah menguras tenaga. Saya masuk ke kampung barengan sama Om Hanif lalu bergabung dengan sebagian besar tim di dekat Polsek. Saat itu saya masih blom tau kalo Rawon Brewok tidak jadi di drop di boulevard. Heran saja semua orang kok jalan terus gak juga berhenti di boulevard.

Mulai keluar area jalur gravel sumur gas mulai tuh kerasa efek jatuh di seputaran tanjakan menjelang bukit sebelum turun ke jembatan gantung. Perut dan pinggang sakit sekali. Otot di area itu seperti tertarik gak karuan. Kembali saya teringat punggung yang juga terluka kepentok jendela tadi siang sebelum gowes. Kombinasi yang tidak baik banget dengan tidak berguling saat jatuh.

Satu persatu tim mendahului saya. Setengah mati saya bertahan hanya untuk tetap bisa gowes sampai akhirnya ketemu tempat Om Hanif, Om Blacken, Om Stef, Pak Dokter makan sahur.

Saya istirahatkan dulu badan dengan minum teh panas manis sampai dua gelas besar. Wah… mak nyusss banget. Geletakan selonjoran lurusin kaki dan badan sementara rekan yang lain sibuk makan sahur. Perut dan pinggang masih sakit sampai lebihkurang setengah jam. Dan alhamdulillah gak lama sebelum imsak bisa masuk sepiring nasi plus telor dadar sahur pagi itu.

Perjalanan dilanjutkan sebelum subuh pelan pelan santai dan sempat berhenti di AA Bike ketemu Teteh yang sedang berkesibukan dengan tenda masih terpasang di depan AA Bike. Tampak banyak member keluarga besar tidur di dalam toko AA Bike. Sambutan dan keramahan Teteh masih seperti biasanya, meskipun saya juga menangkap kegalauan dan kelelahan dari bahasa tubuhnya. Om Hanif memang secara badan ngajak omong Teteh, tapi saya bisa merasakan bahwa belio merasa sedang bertegur sapa dengan Kang Asol.

Perjalanan ditutup dengan genjot ke Rawon Brewok yang sudah sepi, tinggal ketemu rekan-rekan ANU yang sedang loading sepeda.

GPS Tracklog bida dilihat disini…


Night Ride Cikarangmtb Jalur Lio

Cikarang, 27 Juli 2012

Sedulur Songolikur saya Om Qoqo yang pertama mengompor ngompori acara night ride ini. Memang bener sih pesona dan sensasi ngebut malam malam di bulan ramadhan sangat ngangenin. Seolah melupakan semua kesulitan mengatasi ngantuknya hari kemudian, juga melupakan rasa cenuth cenuth dengkul akibat pasti ngebut karena gak ada yang mau di belakang…

Saat akhirnya berkumpul malam itu, kaget juga ya… boanyak juga. Eyang AN bilang, “Wah… begini begini 28 orang berkumpul Om…”. Memang banyak banget!! Wah, saya sampai susah kalau diminta nyebut satu satu.

Seolah tau Rawon nya memang moanteb! ada tuh seorang rekan yang tjuri tjuri start menyantap rawon dulu “Sambil nunggu pejabat negara yang bikin duplkat kunci….” Yang juga menarik adalah malam itu suasana cukup ceria. Banyak haha hihi. Perasaan saya saja kali ya? seperti sudah lama banget ya cikarangmtb tidak haha hihi…

Ki Lobang masih dilapis debu dari duet kebut2an ama OmRatman. Tapi fokus perhatian malam itu pada sepeda merah putih punya om Kodrat. Dengan gotongroyong divariasi dengan mengubah menjadi sepeda 69er.

Tambah seru waktu akhirnya pakpress hadir. Sambutan berupa peluk cium, sambitan, tendangan sampai pujian serta cacian gurau seru segera menghangatkan seputar pintu sebelas pak brewok. Keriuh rendah an malam itu mengingatkan pada ke riuh rendah an ala aa bike yang sudah lama tidak kita rasakan.

Memang malam itu jadi gowes seru kangen kangenan…

Start…

Wah dimulai dengan ngicik asik, biar otot paha gak kaget, langsung mengarah ke jalur perempatan gemalapik. Tim masih bergerak dalam peleton besar. Asik banget yah, liat hampir 30 sepeda lengkap dengan lampu kelap kelip menusuk malam (halah bahasanya).

Melewati jembatan tol, kemudian melewati perempatan gemalapik, kita pun seperti masuk ke dalam trek sebenarnya. Saya ingat sekali trek ini di masa lalu adalah trek gravel yang maknyuss, meliuk liuk belok kiri kanan juga naik turun. Hosh hosh nya saat nanjak dipadu dengan deg deg an dengan speed saat turunan bersahut sahut sambil kita bisa mulai melihat perumahan Lippo Cikarang di sebelah kanan trek, jauh di bawah. Disinilah kita ketemu segerombolan sapi lagi jalan-jalan malam. Heran deh. Gak kurang dari 10 ekor sapi diumbar gitu aja. Berkeliaran nutup nutupin jalan.

Disambut downhill ke arah Lippo Cikarang, lewat jalan tanah bergelombang yang maknyeeeesss dilahap pake Ki Lobang. Tau tau saya sudah ada di pintu Ellysium. Di kejauhan saya lihat ada kelap kelip lampu nanjak ke arah Cibodas. Wah wah… mungkin karena sangking gemar nya nanjak, sampai seharusnya trek mendatar masuk Ellysium ini rombongan malah beriringan nanjak. Terpaksa saya dekati. Oooo… ternyata rombongan *tiiiiiiittttt*

Kemudian tim yang secara musik jazz disebut “tim improvisasi” ini pun bergenjot ke arah Ellysium sambil tersenyum senyum simpul. Malu berkata kata meskipun alasan sih ada saja. “Kita kan cari keringet Om Anto, makanya milih jalan menanjak…” demikian pernyataan resmi bernada pencitraan diri.

Tampak teman-teman berkumpul lagi di tengah kawasan industri Delta Silicon 5, sebelah Ellysium. Tak berapa lama tim pun melahap tanjakan ke arah desa jalur Rally Perang. Kita kasih nama saja ya, ‘Tanjakan Rally Perang’, lalu melipir di atas perbukitan. Memang menggetarkan hati, kawasan perbukitan kampung kering ini sudah mulai diratakan. Kita genjot di jalan gravel yang masyuk digowes, dengan pemandangan di kiri dan kanan jalan adalah kawasan industri.

Akhirnya kita pun memasuki jalur klasik Cicau. Di pertigaan ini, seorang rekan berinisial minuman sruput panas melakukan cek ulang, “Bener nih, Om Anto, jalannya lurus ke arah Serang?”. Tampak sekali ada nada nada romantisme plus kekhawatiran mendalam dalam tiap kata nya. Hmmm, mungkin pengalaman pengalaman gowes ke Serang yang lalu tidaklah terlalu menyenangkan buat belio. Gowes pun jadi dilanjutkan dari “Jalur Rally Perang” nyambung ke “Jalur Nu J3″. Jalur Nu J3 yang digubah oleh Eyang ini adalah jalur NR juga tampaknya, mungkin dua puasa yang lalu ya? Waktu itu masih banyak makadam nya.

Sedikit menyimpang dari jalur Nu J3 yang sudah jadi jalur beton full, gowes pun belok kiri ke “Jalur Lio”. Jalur ini melewati boanyak sekali lio lio alias pembuatan dan pembakaran batubata. Kalau kata Kang Asol, “Asik jalur ini, keluar dan masuk lio…”. Meskipun dibuka dengan jalan gravel, jalur yang sejajar dengan “Jalur Klasik Cicau” ini sudah mulai ada beberapa bagian di beton juga.

Naik dan turun asyik akhirnya jalur ini memakan korbannya. Di salah satu turunan tampak seorang pesepeda kehilangan keseimbangan, terjatuh dan ditabrak pesepeda dibelakangnya. Saya kurang jelas siapa yang jatuh, yang jelas belio tidak tampak terganggu gowesannya. Mantab!!

Tak berapa lama setelah ini, grup tengah yang saya ikuti tampak terjadi kemacetan. Tim bergabung dalam peleton besoar sundul menyundul tidak mau gowes di belakang, khas NR. Tapi tampak dua punggawa di depan mengendalikan kecepatan gowes… siapakah dua sejoli ini???…. tunggu di part berikutnya

Pitstop pertigaan cukup lama, kali ini trek menjumpai jalan beton lebar. Tampak heboh di bagian tengah, oh rupanya ada yang ban nya lagi enak enaknya makanya perlu diganti ban dalamnya. Kabar kabur yang beredar sih pengendara sepeda ini agak pecicilan ngepot2 di depan makanya dihadiahi sebilah paku ke dalam ban nya.

Menunggu yang mengganti ban tampaklah kelap kelip dan ragam gaya dan jenis peserta malam itu. Memang gowes nr salah satu istimewanya adalah adem dan semilir angin malam. Para goweser dari tadi tampak genjot bersama lebih kencang dari genjot sehari hari biasanya Cikarang. Adem nya gowes malam memang memberi energi tersendiri.

Saatnya pun berangkat kembali. Dari pertigaan rombongan berbelok ke kiri. Kembali saya dengar gumam rekan penggemar minuman panas penahan kantuk, “Lho, kok kekiri bukan kekanan?…”. Segera saya pahami betapa arah Serang sudah sedemikian mendarah daging. Ada didalam setiap aliran darahnya.

Sisa gowes via PLN Cicau dan Pemda adalah gowes ngebut. Wuzzz wuzz wuzzz. Saya yang terpisah dari tim dan melewati SMA serta gravel lalu bundaran PEMDA hanya kebagian asep nya saja… Sampai di Rawon semua selonjoran lalu menikmati hidangan Rawon dan Tahu Petis…

Tracklog GPS rute ini ada disini…


Mengintip Gn Meong yang Misterius

Gambar curug disamping ini diambil dari sites.google.com.

Bandung 6 Maret 2012. Masih euphoria dengan tunggangan baru kali ini mencoba trek yang sudah diidam idamkan sejak lama…

Menuju curug cileat [lihat disini...].

Pengennya… pada kenyataannya cuma sampai 75% dari trek. Memang bersepeda hari ini sangat ambisius, trek panjang, digenjot dari Kampus ITB jalan Ganesha Bandung, dan baru mulai genjot jam 9. Hari jumat dipotong jumatan lagi!! Curug nya luarbiasa panjang dan tinggi, dari foto udara Google earth saja tampak curug ini sangat fenomenal. Bikin penasaran.

Curug Cileat memiliki ketinggian ± 100 m dan berada di Gunung Canggah. Tumpahan airnya membentuk sebuah kubangan atau kolam yang sangat besar dengan radius hampir 40 meter sehingga pengunjung dapat bermain air dan berendam di dalammnya. Curug Cileat ini terdiri dua buah air terjun yang berdampingan menempel di atas tebing batu, Curug yang satu debit airnya tidak terlalu besar sedangkan curug satunya lagi jatuhan airnya cukup deras dan besar. Dalam perjalanan menuju Curug Cileat ini ada 3 buah curug yang akan ditemui yaitu Curug Citorok yang memiliki tinggi sekitar 70 m, Curug Cimuncang 1 dengan ketinggian sekitar 80 m, dan Cimuncang 2 (Pasir) dengan ketinggian sekitar 90 m. [dikutip dari sites.google.com]

Tak berapa lama genjot melewati Jalan Cipaganti naik terus melewati Vila Isola di Jalan Setyabudi. Onroad pelan pelan tapi meminimkan istirahat. Sempat berhenti bentar di tempat jual kelinci, juga beli pocari di Lembang, lalu makan siang di sebelum Maribaya.

Ternyata trip ini tidak hanya akan berpacu dengan waktu tapi juga berpacu dengan cuaca. Hujan masih sering muncul, terutama di ketinggian dataran tinggi. Selepas dari Lembang, ujian sebenarnya baru dimulai. Menuju ke Maribaya jalan mulai beranekaragam. Angkot di jalan yang menyempit, jalan yang mulai berbatu batu lobang di beberapa tempat.

Kalau dipikir pikir walaupun akhirnya saya menyesali melakukan start trip ini dari Bandung, namun ternyata trip ini cukup lengkap ya, ada Cipaganti, ada kelinci Lembang, ada pasar Lembang, ada Maribaya, ada Vila Isola. Memang dimulai dengan tanjakan aspal mulus yang cukup membosankan sih kalau buat saya. Ya untung bawa kamera buat tetap membuat mikir gimana cara merekam lingkungan sekitar trek.

Trek dari trip ini sudah dirancang sebelumnya di Google Earth, namun ternyata sempat kebingungan juga pas di seputar gerbang parkir Maribaya. Tampak banyak pilihan jalan dan akhirnya mengambil jalan yang ternyata miring nya tidak logis di mata. Ini adalah bagian dari patahan Sesar Lembang, salah satu patahan yang dibuat jalan menanjak sehingga sangatlah miring.

Berkecamuk di kepala. Antara pengen terus menggenjot untuk mencoba melewati tanjakan ini tanpa pitstop ataukah berhenti dan memotret. Akhirnya diputuskan ambil pilihan kedua. Memang ini salah satu tanjakan pendek namun fenomenal yang pernah saya ingat. Cukup dekat dengan Bandung, jadi buat yang gowes ke area Lembang atau Maribaya, tanpa perlu jauh jauh ke Monteng.

Benar saja kekhawatiran akan cuaca segera terwujud. Setelah agak landai mendapat dataran tinggi setelah tanjakan Chicken S yang luarbiasa di depan gerbang Maribaya akhirnya kita kehujanan, dan Jumatan di sebuah desa kecil Cikawati.

Sambil hujan melanda maka saya berganti baju kering, mengeluarkan sarung dan mulai menikmati kantuk di tengah khotbah yang berbahasa Sunda halus. Tentusaja saya jadi pusat perhatian di antara jamaah. Pakai jersey warna cerah, datang membawa sepeda.

Saat jumatan selesai, saya kembali ke baju basah setting, memasukkan kamera ke dry bag, dan memutuskan terus genjot mengikuti tracklog menuju ke Cileat. Tak berapa lama jalan mulus berakhir, dalam hujan kita pun mulai masuk jalan makadam yang terjal dan miring keatas mulai kerasa lebih kental. Inilah saat kita mulai masuk dan naik ke Gn Cikidang (nama menurut Google Earth)

Trek kondisinya dan karakternya sangat mengingatkan pada tanjakan ke Pondok Pemburu setelah lewat dari KM Nol. Berganti antara batu, tanah keras licin, tanah lepas, batu lepas, makadam dan miring. Sesungguhnya ini adalah tipe trek yang saya sangat suka. Teknikal tapi tidak susah amat, namun juga tidak menyiksa. Pas. Ditambah basahnya hujan.

Salah satu bumbu penyedap dari trip ini adalah kesendirian. Betul memang trek nya asyik, tapi kesendirian, dengan hanya 2-3 kali bertemu orang dari arah berseberangan selama gowes, sangat membuat adrenalin mencapai titik tertinggi. Campuran antara menantang diri sendiri, penasaran, namun juga keingintahuan. Semua menemani sampai titik tertinggi Gn Cikidang dan mulai tampak samar samar dibalik kabut yang datang dan pergi, lembah Cipunagara. Seperti melewati sebuah gerbang, kita diujung tertinggi dan mendaki, sekarang terhampar turunan dan lembah berkabut dalam suasana hujan dan tentusaja badan basah dingin jika berhenti.

Menghadapi hujan saat bersepeda gunung belakangan ini saya sering memakai strategi tetap terus jalan dan memilih berbasah basah. Pilihan memakai jaket pernah saya jalani, terutama dengan jaket yang model tembus pandang itu. Dengan cara ini selain saya tidak memperlambat perjalanan karena harus pasang lepas jaket atau menunggu hujan reda, saya juga tidak harus kepanasan karena bersepeda pakai jaket dan musti bawa backpack.

Mulai kita menuruni doubletrack twisty yang indah ini. Indah dengan saput kabut nya dan juga pemandangan jauh di bawah lebah, seperti ada perumahan yang muncul dan tenggelam di balik kabut. Benar benar pengalaman yang menyenangkan dan tak terlupakan view nya. Hanya satu yang sangat mengganggu, adalah kenyataan bahwa nanti harus kembali ke titik start melewati turunan miring dan panjang ini, yang tentusaja akan berubah menjai tanjakan yang kejam…

Sebelum terlanjur terlena dengan turunan yang adem dan asyik pemandangan maupun ride nya, akhirnya ketemu di pinggang lembah, jalan agak mendatar dan track GPS pun memerintahkan untuk berbelok ke kanan. Ke jalan yang lebih sempit, tampak lebih remote dan lebih jarang dikunjungi. Jika doubletrack tadi mulus dan tampak dilewati motor, doubletrack yang ini rumput nya tinggi. Doubletrack belok kanan ini seperti melewati pinggang nya Gunung, jadi tidak mengikuti flow turunan yang terus ke arah Cipunagara.

Doubletrack yang semula dihiasi tanaman keras penghasil kayu di kiri kanan lalu sempat berubah menjadi kebun teh. Kabut makin tebal menutup gunung di sebelah kanan trek ataupun lembah dalam di sebelah kiri trek. Rumput makin tinggi dan doubletrek diantara ketinggian rumput menampakkan tanda tanda kalau jarang dilewati. Berlumpur pasir yang tebal, atau tertutup rumput samasekali. Apalagi setelah perkebunan teh yang hanya terasa sedikit lalu berganti menjadi kebun sayur. Disinilah saya akhirnya berhenti, jam 2 siang. Berhenti sambil bertanya kepada Bapak petani yang tampak sedang mengolah lahan. Ekspresi muka Bapak petani tampak takjub ada sepeda sendirian sampai ke titik itu.

Bapak petani dengan ramah melayani pertanyaan mengenai Curug Cileat. Menurut belio, jika cuaca baik dan tidak hujan, perjalan ke Curug Cileat dari titik itu adalah sekitar 2 jam lagi. Melewati hutan dan menyeberang sungai. Huaduh… Memang saya sendiri sudah membuat target bahwa sekitar jam 2 siang harus kembali balik ke Ganesha Bandung. Agar tidak perlu harus maghrib sampai di titik start kembali.

Melihat saya solo ride seorang diri Bapak bijak ini pun memberikan kata kata yang tak bisa saya tolak, “…karena adik sendirian, kalau ditanya sih saya juga tidak akan mengijinkan adek pergi ke Cileat sekarang. Hujan dan adek belom pernah…”

Ya sudah inilah rupanya ujung perjalanan kali ini. Rasa penasaran akan Curug Cileat dan pikiran logis bertarung di kepala. Akhirnya dengan rasa terimakasih saya berpamitan balik kanan menjalani tanjakan twisty lalu ke Maribaya dan ke Dago lewat jalur bengkok dibalik.

Tracklog Bikemap-Cibogo to Gn Meong Curug Cileat….


Kuliah SanDiego Pasircongcot

Hari itu 25 Mar 2012. Entah apa ya yang terjadi hari itu, tapi saya sudah menjumpai bersama Om Hanif, Om Yadi dan Om Andri menjalani trek kegemaran kami bersama, Trek SanDiego [tracklog disini...]

Dimulai dengan gowes kangen bersama Om Yadi, jadi udah lama kan gak gowes bareng AKAP ers CCCP ini. Pagi itu pun saya menunggu di titik start pasar tegaldanas. Bersama Om Yadi dan Om Andri bukanlah gowes santai tentusaja. Speed ala CCCP segera memacu paha saya. Sementara tambahan 3 inch diameter sepeda belum lah begitu baik di amin i oleh paha yang masih sering menjerit jerit. Tak berapa lama setelah melewati on road kalimalang sampai melewati jembatan diatas tol Cipularang kita mulai masuk trek offroad dan pitstop di atas bukit.

Kontak Om Hanif dan katanya minta ditungguin. Kami pun meluncur ke warung sop di SanDiego dan makan sop duluuuu… huenak dan segar masih…

Cukup lama menunggu PapaTB sambil Om Andri mencoba kamera baru nya… Akhirnya kita pun bertemu di trek, Om Hanif tampak bersama rekan-rekan CBC datang dari arah Cikarang. Kita culik Om Hanif dan trip pun dilanjutkan dengan langsung memasuki lingkungan pasircongcot. Segera kita disambut rolling tak berhenti, naik turun trek asli XC yang panassss… sebelum akhirnya setelah sebuah sungai kecil yang mulai mengering kita berteduh, makan jambu batu yang pohonnya tersedia di sebelah trek.

Kadang kekaguman muncul melihat bagaimana PapaTB alias Om Hanif bisa mengumpulkan semua pengetahuan dan informasi Geologi (yang memang keahlian belio) ditambah dengan geografis dan juga sejarah berkaitan dengan suatu daerah. Semua jalin menjalin dengan asiknya.

Beristirahat sesaat, dibawah kerimbunan pohon yang amat jarang di area Pasircongcot ini. Area Pasirconcot adalah bagian dari area sebelah selatan San Diego Hills, dimana di beberapa area masih tampak tanda-tanda bahwa area ini adalah area PERHUTANI, jadi area hutan tanaman industri, yang menghasilkan secara ekonomi, semestinya.

Namun yang aktual kita temui di lapangan adalah perbukitan tandus yang nyaris tanpa pepohonan. Tidak lah layak untuk diceritakan sebagai ‘wilayah hutan’. Cerita kuliah Papa TB Om Hanif pun berlanjut, dan menceritakan kembali dan lagi seperti apa kah peran Pangkalan, Pasircongcot dan area Karst Karawang Selatan pada masa kerajaan Tarumanegara.

Acara gowes pun berlanjut dan dilanjutkan menuju Sate Kaligandu dimana kita putuskan untuk minum (tidak ada es dan kulkas yang hidup!) dan makan siang sebelum akhirnya pulang ke Cikarang Baru


Gowes Arisan; 4 jam endurance Trek Km97

Aku Cinta Arisan…

Berikut adalah cerita sekilas, genjot diburu Arisan. Genjot tak terencana, artinya rencana mendadak malamnya, saya bbm saja Om Kodrat yang katanya mau ke KM97. Jadinya mbajak peserta nya gowes Om Dokter. Maaf, kirain Om Dokter aman bersama banyak rekan-rekan BEKAM.

Ternyata jam start pun mundur 1jam daripada rencana. Aduh!! Saya sudah kebayang Ibu menunggu buat ke event se-penting arisan ini :-(

Etape pertama KM97-Logo SUPER

Sampai di titik start jam 0520 kok masih terasa gelap nya. Mantap nih, bau tanah basah oleh embun masih terasa. Angin bertiup juga dingin. Saat start dan ggb kami segera mencumbui tanjakan makadam menu pembuka yang moyyy… Lalu dilanjut trek turun dengan indahnya gunung batu di sebelah kanan, masuk kebun karet, sempat berhenti buat melihat saja singletrack ke arah Gn Hejo di sebelah kiri. Aroma mistik segera menyebar. Apalagi waktu kami genjot terus trek makadam kebun karet ada anak-anak kecil, dengan pinggang bergolok, katanya sedang mencari kayu. Kami pun berhenti ambil napas bentar meski tak sempat merokok Om Kodrat.

Setelah melewati hutan karet kami bertemu kampung di tengah turunan lalu nanjak di jalan beton. Jadi ingat foto Om Isbat balapan lari sama anak-anak pas Kolozal. Tak lama bertemulah dengan perempatan tanjakan tanah merah. Karena penasaran naik lah ke tanjakan tanah merah ini. Panjang dan hosh hosh sampai di ujung tanjakan bertemu dengan view ke arah Gn Sunda Purba. Baru ngeh inilah tempat Om Hanif mengambil foto view Gn Sunda Purba. Saya penasaran area ini karena waktu kolozal tidak lewat sini.

Dari tanjakan merah kita melingkar dan meluncur makadam turun, sampailah kembali di jalan beton yang mengantar kita masuk kembali kampung. Ada juga tanjakan-tanjakan di dalam kampung yang bikin heartrate mencapai pol maksimum yang diperbolehkan. Bertemu jalan beton lagi yang waktu kolozal longsor, tapi kali ini sudah diperbaiki. Taklama kami masuk ke area banner raksasa SUPER.

Disinilah istirahat besar, Om Qodrat bisa berbatang-batang sementara saya pesan teh manis panas. Karena pengalaman yang terdahulu kami tidak berusaha mencari penjuat sate. Kabarnya Om Kodrat ketemu di jalan dan dititipin kembalian.

Etape kedua Logo SUPER-Tanjakan BATAKO

Tidak seperti waktu kolozal yang banyak sekali mengambil gambar, kali ini terus kepikiran jam 11 acara arisan sudah akan dimulai. Waktu kami beranjak dari banner SUPER, mendapat kabar dari milis bahwa Om Dokter sedang menjalani tanjakan makadam pertama. Meliuk melewati turunan tanah merah yang asyik lalu lewat trek kampung dibawah rindang pohon yang licin. Kali ini coba manage kecepatan jadi tidak perlu turun sepeda. Mantaaappp tau-tau kami sudah di tanjakan BATAKO. Lagi, pitstop dan istirahat. Dari pitstop lalu belum lama tapi rasanya tanjakan tanah merah sampai di ujung batako di tengah kebun teh ini sudah menguras tenaga.

Ini adalah etape pendek yang sangat menguras tenaga. Dengan masih tersengal sengal napas Om Qodrat bilang, “Bener Om, setuju, ini trek Kolozal yang paling berat”

Etape ketiga Tanjakan BATAKO-Es Kelapa Muda

Etape selanjutnya dimulai dengan geyal geyol ketemu jalan berlumpur yang datar, wadoh, bikin ban menebal dan sempat tidak mau berputar. Untung segera ketemu jalan beton memutar kebun karet akhirnya kita ketemu tanjakan lurus beton setelah jembatan tol. Ini tanjakan fenomenal untuk dihabiskan dalam sekali nafas, karena kondisi RD dan rantai dalam keadaan berlumpur dan kering. Suaranya mengganggu sekali dan sangat tidak smooth.

Untung segera kita lewat kolong tol dan menjalani turunan makadam yang panjang dan lama meliuk liuk di tengah kebun karet itu. Sensasi menjalani turunan offroad dengan 29 inch selalu mengejutkan saya. Selalu punya feeling yang lain, smooth seperti bukan hardtail, namun juga agak ekstra mengendalikan jarak lingkar nya. Kadang terasa seperti sepeda akan ‘membuang’ kearah luar.

Berhenti sebentar ambil napas di tempat makan kolozal#9 kita lanjutkan nanjak dengan diiringi anak2 singkong pake sepeda butut. Seru diikuti oleh mereka. Akhirnya pitstop beneran di tempat es kelapa muda.

Etape keempat Es Kelapa Muda-KM97

Es kelapa muda dilahap cukup lama. Ini adalah pitstop paling enak, pitstop yang ketiga. Selain es kelapa muda saya juga nambah yang manis dengan teh panas manis dan sprite dingin.

Tak sampai 20 menit pitstop, kami sempat bengong melihat seorang lone rider mtb fullsus bersepeda dari arah sebaliknya, dari arah jalan raya mulus aspal ke arah kebun karet.

Etape terakhir sampai kembali ke Km97 titik finish juga kami ambil dalam sekali napas saja, tanpa pitstop lagi. Jalan onroad dan kampung nanjak yang mengingatkan pada tanjakan ke Km Nol sangat kami nikmati sampai kembali ke pinggir tol dan di 500m terakhir sebelum titik finish saya lihat ke belakang, Om Qodrat sepedanya dituntun. Rupanya ban dalam pecah.

Pas 4 jam kita sampai kembali di titik start. Berganti baju dan segera setir ke Cikarang untuk menjalani tugas berikutnya; Arisan keluarga.

Benar-benar 4 jam yang menguras energi


Gowes ala CCChernobyl Blast !!

Di komunitas Cikarangmtb sangat dikenal CCCP, rekan kita duet maut yang selalu mengguncang guncang trek Cikarang dengan gowes singkat dan kencang nya. Menarik sekali perhatian saya sehingga saya coba kumpulkan jepretan CikarangMTB Kolozal#9 kemarin tentang duet luarbiasa ini…

“Makankah”
Tampak seorang pesepeda menengok pada seonggok roti di pagi hari km97 kolozal. Banyak diantara kita yang bertanya tanya (mungkin), “…makan apa sih gowesnya kuenceng banget?”. Pagi itu baru sampai dari perjalanan dari Cikarang, pintu mobil pun masih terbuka… Mari kita tebak, kue nya dicomot atau nggak?

“Start”
Ngobrol dan chit chat dengan sesama goweser sebelum start. Di kejauhan tampak ‘starbucks cofee’. Saya sih tidak melihat CCCP ngopi, tapi kalo makan kerupuk iya. Hehe… Salah satu yang menarik dari rekan CCCP adalah apa yang mereka kenakan dan apa yang menempel di sepeda mereka. Selalu ada yang unik dan istimewa sehingga menarik perhatian. Seperti sepasang ban dengan list putih yang tampak di foto ini.

“Tengok Nenek”
Genjot CCCP di kolozal tampaknya lagi santai dibandingkan dengan genjot harian ngebut di Cikarang. Masih sempat haha hihi berhenti dulu di tanjakan makadam dan melempar senyum ke nenek nenek yang sedang lewat. Interaksi dengan trek dan lingkungan sekitar trek.

“Serangan Jantung”
Nasihat umum yang kita dengar, sebelum memutuskan untuk nguntit gowesan mereka, harap periksa kesehatan dulu. Jangan sampai amit amit kena serangan jantung. Yang kita dengar hanya bunyi ‘ceklik’ mereka berpindah gear dan segera melesat jauh di depan.

“Selesai juga”
Menangkap saat mencapai finish track dan kembali ke mobil.

Semoga berkenan buat rekan CCCP, tulisan ini adalah bentuk rasa salut dan penghargaan saya pada duet yang memberi warna gowes cikarangmtb. Judul ‘CCChernobiyl Blast’ ini karena saya ingat tim sepakbola yang selalu berbaju merah dengan nama CCCP di dada. Juga tampak di televisi berita hangat meledaknya Chernobyl reaktor nuklir. Ledakan yang mengingatkan saya pada CCCP karena gaya bersepeda mereka yang juga meledak ledak…


‘Padalarang Ridge’ trek; Kucari Tebing Kutemukan Singkong

Sudah lama sekali saya terganggu setiap menjelang sampai Bandung lewat Cipularang, deretan bukit yang sambung menyambung di sebelah kanan jalan tol tampak sangat menggoda. Saya membayangkan bersepeda di ujung atau pinggiran bukit itu pasti pemandangannya menarik sekali, seluruh lembah area Padalarang ini akan tampak, saya bayangkan view nya termasuk jalan tol cipularang dan juga rel kereta Jakarta-Bandung.

Pagi itu pas setelah subuh sudah berangkat ke titik start. Semula para member trip ini adalah mereka yang bersedia mengantar tamu yang akan menikmati KM97 di hari minggu 13 Mei, namun ternyata tamu yang bersangkutan batal gowes. RR1 di tangan tentu tidaklah layak untuk dibuang begitu saja.

Pagi ini ternyata kami sudah siap start di Situ Ciburuy, sebuah situ/danau yang terletak tepat di sebelah Barat kota Padalarang. Situ ini cukup populer sebagai area wisata karena mencapainya juga mudah, ada terminal bis DAMRI tepat di pinggir danau Ciburuy ini. Kami pun ternyata ber delapan, angka hoki di hari ber tanggal 13.

Trek dibuka dengan mengeliling Situ Ciburuy lalu langsung naik ke sebuah jalan setapak semen masuk ke depan rumah orang lanjut ke kebun. Ada singkong, nanas dan beberapa kacang panjang. Beberapa trek bisa di gowes asyik, campuran jalan air dan jalan akses petani. Beberapa bagian trek harus melakukan DDB dan GGB. Bau ‘adventurous’ nya sudah benar terasa.

Ini adalah bagian favorit saya, yang memang bisa kita bayangkan kami meniti jajaran bukit yang sambung menyambung tampak dari Cipularang. Tidaklah selalu memang gowesable, kadang takut juga musti TTB, maklum susah membayangkan jika kita harus ambruk kekanan berguling gulung turun ratusan meter ke kaki tebing dibawah. View nya, Gunung Malabar di latar belakang, dan jalan tol dan jalan kereta api yang jalin menjalin meliuk liuk lengkap dengan jembatan-jembatannya. Sampai akhirnya kita bertemu doubletrack akses batu kapur. Lalu dimulailah sedikit tanjakan makadam kapur dan turun panjang ke arah jalan raya Citatah (Bandung-Cianjur).

Pitstop resmi pertama. Sudah menunjuk 2 jam lebih gowes, dan angka kilometer masih satu digit. Disisi jalan negara yang riuh ramai ini kami mengisi perbekalan minuman dingin, karena baru nanti sekitar jam makan siang akan ketemu warung ber lemari pendingin lagi. Perjalan pun dilanjutkan ke kawasan lembah Gunung Masigit, Gunung Gowa Pawon. Di bagian ini trek bersinggungan dengan Trek Gowa Pawon buatan Papa TB.

Kembali GGB TTB menaiki bukit, kami pun akhirnya masuk desa lalu masuk ke kebun karet. Trek turunan kebun karet singletrack dilanjutkan doubletrack sangat mengingatkan suasana di trek KM97. Sampai akhirnya bertemu rel kereta. Sir Ivan tampak sangat menikmati dan mengamati tahun pembuatan, jenis dan lain lain dari rel kereta Bandung-Cianjur ini. Belio tampak muncul sebagai ‘train-geeks’ yang bisa menjelaskan sampai sejarah masing-masing jalur kereta. Baru tahu ternyata Bandung-Cianjur dibuat lebih dahulu daripada jalur Purwakarta-Bandung. Dan jalur pantura dibuat lebih belakangan lagi.

Trek penutup adalah tanjakan di dalam kebun karet disambut dengan tembus ke tambang pasir/tanah yang telah menghabiskan hampir seluruh bukit. Tambang ini tampak sangat jelas kalau kita memandang ke sisi kanan Cipularang sebelum masuk Padalarang. “Apa sih rencana mereka…?” tanya seorang rekan terheran-heran sebuah gunung bisa disisir habis begini. “Rencananya menjadikan gunung ini jadi setumpuk pasir dan tentusaja uang…” kata saya.

Finale trek adalah tanjakan onroad 6km ditutup dengan ‘motong jalan’ kembali ke titik start di Situ Ciburuy.

Terimakasih Om Tri, Om Tri, Om Anto, Om Poer, Om Koko KW, Om AH, Sir Ivan sudah bersedia subuh-berangkat untuk menengok sebidang kebun singkong.

Tentang foto terlampir, dimana obyek tampaklah sedang melamun, gowes ini adalah Gowes Arisan belio. Belio tampak melamun karena udah adzan dzuhur terdengar namun body masih jauh dari baju batik yang sudah menunggu… wkwkw…

Tracklog GPS trip ini ada disini…
Versi lebih panjang Fulltrack ada disini…

Enjoy !!


Gowes Bimbel, Sendirian Night Ride Cikarang-San Diego-Pasir Congcot-Jembatan Gantung-Cikarang

(gowes bimbel 6 Nov 2011, gak ada foto gak bawa kamera)

Bingung saya mau nulis bagaimana dan dimana, kayaknya sotoy banget, tapi bener saya sangat menikmati perjalanan ‘Gowes bimbel’ semalam.

Dari siang udah males banget kerja, dan hari kemarin load kerja juga kebetulan lagi slow, makanya udah ancang2 akan pulang tepat waktu, apalagi ada kabar kalau MasBro bisa ada kemungkinan join dengan sepedah baru nya… makin semangat. Sayangnya sore2 ada kabar kalau sepeda baru nya belumlah siap digowes, belum dirakit.

Minggu lalu saya dibelikan istri GPS. Bener lho, dibelikan !! Sudah penasarang banget pengen nyobain gadget baru. Dari kemarin udah terus terusan nyobain install lagi google earth dan download file2 gps dari site bikemap, sharing nya Om Hanif http://www.bikemap.net/user/hmarga/routes . Salah satu yang saya sangat penasaran adalah pengen nyobain gowes asli hanya di guide oleh GPS. Technologically it should be possible.

Setelah masbro bilang gak jadi saya pun bilang bbm kalau kita tunda selasa, lalu saya liat lagi mapsource (software nya garmin) dan mulai melukis trek yang kemarin san diego sama Om Hanif berdua gowes 3 jam itu. Saya coba juga sambil tengok-tengok persimpangan dan perpaduan dengan trek2 sharing Om Hanif lainnya tentang kawasan Cherry dan sekitarnya. Ada trek Walahar-Cherry-Pangkalan, ada trek FUNCHERRY, ada juga trek Cherry dari AA Bike. Semakin saya zoom area cherry pasircongcot semakin saya kagum. Ini area seperti sarang laba-laba. Rumit tapi sambung menyambung. Dan jalannya sangat amat tidak terstruktur. Tidak ada jalan lurus arah utara-selatan-timur-barat, semuanya hanya seperti web saja. Gelo emang. Pantes aja papa tb aja nyasar.

Akhirnya selesai juga draft-ing rute Rumah-San Diego-Pasircongcot-Jemb Gantung-Rumah… langsung saya upload ke gps handheld. Wah, sambil nengok wheater forecast. Halah, besok selasa hujaaaannn.. langsung deh tanpa pikir panjang saya ganti baju sepeda, kali ini stetelan gak bawa tas. Cuma ban dan tools di tas kecil bawah sadel dan bawa bidon saja. Tentusaja bawa hp, lampu dan gps unit.

Sampai ketemu jalan raya pangkalan 30 menit. Lalu kita mulai nyeberang jalan tol dan masuklah keluar jalan utama, mulai offroad dan dapat jalan tanah. GPS saya pasang mode peta dan saya setel supaya dia backlight nya nyala terus. Enak banget di guide sama draft trek yang sudah di dalam GPS saya mulai masuk singletrek, mirip telletubbies jalam dulu, yummy banget nanjak, anjing menggonggong di kejauhan kampung. Akhirnya ketemu jalan makadam dan ujung tanjakan hutan akasia kecil lengkap dengan rumah terbengkalai tempat saya memotret om hanif ‘merenung’ tempo hari. Cuma mark di gps titik ini lalu lanjut. Jalanan sepi banget. Tak terdengar apapaun. Trek tampak basah habis hujan, tapi mungkin hujan-nya tidaklah deras sehingga tidak membuat tanah menjadi lumpur. Trek nya nanjak yummy sampai ketemu kampung di sebelah san diego dan akhirnya di warung san diego.

Paling mengerikan adalah perjalanan selepas warung san diego sampai pasircongcot. Ampun deh. Selain gelap dan sangat sepi juga jarang banget rumah. Seperti teman teman tahu tidak tampak ada listrik juga di area ini. Berturut turut saya ketemu pertigaan masuk kawasan perhutani (dijaga brimob ber senapan), lalu masjid sumbangan pesepeda, terus dalam gelap dan hosh hosh memerangi ketakutan diri masuk ke tanjakan mekarsari (?). Trek secara keseluruhan sangatlah asyik. Tampak trek memang sudah kena hujan, bau tanah nya asik banget. Juga di atas bulan cukup terang bersinar, saya jadi bisa lihat lingkungan seputar trek dari cahaya bulan. Beberapa bagian trek, terutama di cerukan ujung turuanan dan di kampung-kampung, sudah mulai jadi kubangan lumpur. Sedih, moga-moga saja masih bisa dilewati asyik lagi ini trek.

Degub jantung terusterang saya gak sempat liat ke heartrate monitor. Tapi dari pengalaman sprint dengan Om Hanif, hanyalah sekali hrm mencapai 170bpm. Selain itu dada dan napas terasa enak banget. Kalau mungkin teman-teman pernah dengar kalau saya tidak suka rolling, kayaknya sudah harus ditinjau ulah itu statement. Mungkin berubah jadi suka sih kagak ya, tapi ya itu, rolling terasa enak, bergantian tanjakan dan turunan, sprint meskipun karena gelap tidaklah bisa se kencang waktu duet Om Hanif pas di turunan. Rasanya semua tanjakan alhamdulliah bisa kerasa enak di dada. Itu makanya kerasa enak dan malas sekali berhenti. Mau berhenti gimana kalau sekitar trek suepiii… sekali. Saya udah pasrah. Kalau misalnya ada yg ngerampok, hp, sepeda dan gps sudah saya siapkan untuk di handover wkwkwkw….

Tiba-tiba rumah yang tadinya 2-3 tanjakan baru ketemu, lama lama makin sering di sekitar jalan. Nah akhirnya masuk deh ke Pasircongcot dan sungai Cibeet.

Melewati jalur Jembatan Gantung terbalik pun sensasinya lain sekali. Sendiri, gelap, ngeri juga. Adventurous nya kerasa tambah kental dengan gowes sendiri. Resiko tentusaja ada, tapi itu bagian dari bumbu gowes malam ini. Juga waktu menyeberang jembatan gantung. Sendirian kayu jembatan berderak dilindas dua ban. Waktu di san diego saya bbm ke Om Rudi dan Om Hanif, saya bilang saya gowes bertiga, ditemani ban depan dan belakang ke san diego. Minimal kalo ada apa-apa ada yang tau saya ada dimana.

Nanjak setelah jembatan gantung lewat daerah kuburang angker itu, aduh deg-deg-an nya melebihi ke kawah putih. Soalnya selain sendirian Om Hanif juga bbm bilang kalo ‘hati-hati ada domba putih’. Halah…

Akhirnya setelah sumur gas, masuk kampung, baru kerasa lelah banget. Saya sampe hilang orientasi dan mutar2 di jalan beton kampung bawah sutet itu sebelum akhirnya nyampe di AA Bike jam 2145. Perjalanan hampir tanpa berhenti, maksimum 5 menit di tiga titik: minum di jalan pangkalan, di san diego warung dan di cibeet warung. Berangkat 1830an jadi total 3jam lebih….

What a ride !!!

Saya belum tentu berani lagi buat mengulanginya… sendirian gowes trek ini night-ride

Tracklog ada disini


Ngabuburit ride H-4 Cikarang

Sore itu, untuk pertama kalinya selama puasa, genjot di seputar Cikarang. Cikarang sedang panas sekali, berangkat sekitar jam 4 dengan harapan bisa berbuka di trek atau siapa tau bisa berbuka di rumah. Dua jam bolak balik kayaknya pas ke trek sore ini: cek ke belakang Mulia…

Melewati sisi selatan kalimalang dari arah Cikarang Baru menuju ke arah Tambun, asik juga sekian lama tidak lewat trek ini, sebelah kanan adalah sungai kalimalang, sementara sebelah kiri bergantian bilik-bilik barang bekas besi bekas yang sepi hari itu. Mungkin sebagian besar penghuni nya sedang mudik. Area dan seputar pengumpul barang bekas, yang didominasi saudara saudara kita dari Madura ini, sebenernya sangat menarik juga untuk diliput. Ini adalah proyek yang tertunda. Ntar lain kali aja cerita nya.

Berbelok kiri kemudian memasuki jalan beton masuk ke kampung. Setelah sekitar 1km masuk saya baru sadar kalo salah ambil belokan. Ya sudah dinikmati saja, akhirnya mendapat pemandangan sawah kering kerontang. Mulai berhenti dan mengambil gambar.

Jepretan ini sebenernya pengen nangkap sepeda plus juga retakan-retakan sawah kering yang menurut saya ‘cikarang banget’ dan punya potensi untuk jadi patern yang keren. Tapi kayaknya saya belum berhasil memunculkan patern nya…

Kawasan persawahan yang masih tersisa di belakang Mulia Industries, beberapa area sawah tampak masih ter air i dengan baik di puncak musim kering seperti ini. Saya jadi gak percaya kalau kawasan industri di cikarang tidak memakan tanah produktif…

Sempat meraba-raba, melewati tengah sawah singletrek asik akhirnya sampailah di tujuan saya gowes sore itu… jembatan seberang belakang Mulia.

Tak jauh dari jembatan motor di lintasan belakang Mulia ada satu kolong tol dengan jalan setapak disampingnya. Sebelum dibangun pintu tol cikarang utama, jalan ke arah ini asyik banget lewat singletrek lalu masuk kolong. Waktu itu ditunjukkan Om Yadi.

Cukup pesimis kolong ini masih bertahan, tapi ternyata beneran masih ada!! Sayangnya gak bawa lampu dan kolongnya lebih panjang dari yang lalu, jadinya deh gak berani masuk. Masih keinget tontonan ‘deadliest snakes’ di National Geographic Channel…

Sayangnya singletrek nya lenyap, tertutup rerimbunan semak. Mungkin karena lama nya pembangunan pintu cikarang utama jadi sekian lama tak dilewati orang lagi…

Pernah dulu banget waktu eksplorasi seputar tempat istirahat km 39, kami pesepeda melewati pinggiran jalan tol. Itu sudah sekitar dua tahun yang lalu… dan sore itu saya melakukannya lagi, sendirian…

Tadinya sih berharap di pintu tol ini akan menemui kemacetan, supaya terasa ‘gowes motret sambil liatin yang macet macetan mudik’. Tapi sore itu, H-4 lebaran. Ternyata sepiiii… lebih senyap dari workdays di pintu tol cikarang utama pada umumnya. Makanya juga berani genjot dalam jalan tol balik menuju kolong setelah ketemu ‘dead end’ dan gak bisa maju lagi di semak-semak…

Akhirnya gowes ditutup dengan melewati bagian dalam jalan tol, kapan lagi coba bisa genjot sepeda di jalan tol? Lalu genjot pulang dan sampai di rumah pas banget pas buka puasa.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 44 pengikut lainnya.