enjoy every cadence, every breath…

sepeda jalur cikarang

WJxc Ride#27 Bimbel Leuwimalang – TPS Ride (English)

r20140510_060231r20140510_060419r20140510_061038r20140510_072338Cikarang, 10 May 2014

Backyard bicycle track…
Yes, do not underestimate backyard. Your own backyard, the place you think you have known and tried each options available. If you underestimate your backyard tracks, regret will be guaranteed. And this ‘bimbel’ (come out of bahasa word ‘bimbingan belajar’, means learning and trials) track, is one of series I have tried to gather around my backyard, in Cikarang area, Kab Bekasi.

Start with a (yet now become) classic ‘Cilangkara Hutan Jati’ track, including the beauty of fireroads and singletracks, which have become more and more hard to find. Also including a climb to the ‘view tower’ in the middle of the teak-woods fields (hutan jati).

But ‘hutan jati’ or teak-woods is only intermediate transit, we go try to find new options going trough the cluster Cibiru of Lippo Cikarang housing. It was not an easy push and mud tracks until we found better condition road part of Industrial estate area. The trip to ‘hutan jati’ was also take a visit of ‘Tanjakan Emad’ which was recently found to be one of a few last technical uphill section in the area.

Then we go to the new exploration area, beyond Pasir Kupang Rd. and it goes to the area called Leuwi Malang. This road identified to be a straight lines, beside the irrigation lines. From the survey using Google Earth database it was looks like we will have a bridge over the river, which was not found. Whoa!! The (un)-expected surprise which will can be found when we try actually the lines.

r20140510_080832r20140510_085714r20140510_085945r20140510_092659

We were lucky enough to get a bamboo ride to cross the river. Although the river seen to be not deep and the stream was safe. The track after cross the river was even more interesting. A combination of limestone fire-road plus un-even yet become technical rock base lines, giving us excitement of cross country cycling. This kind of lines usually we got in the past not far from our residence, on our backyard. Due to industrial estate and housing developments around the area, now we need to ride overall 50km to find the same excitement.

But it was worth the ride…

Then the track goes back to our familiar Pasir kupang area, facing the hot noon hot Cikarang area sunshine, running back push to pedal our bikes to home. The ballot of House representative elections been waiting. This is why it was called ‘TPS Ride’…

Still want to underestimate your backyard???

Riding Specialized Carve 29″ hardtail 2012
tyres: Continental X-King 2.2
uphill: 6/10
singletrack: 5/10
downhill: 3/10
technical: 6/10
endurance: 7/10
landscape view: 7/10

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


Bikewearr Century Ride Cigeuntis – WJxc Ride#28

Cikarang, 27 Mei 2014

Libuuuuurrr hari selasa… Libur kejepit dan tidak cuti, ada baiknya kita gunakan untuk gowes sepeda gunung, dan pilihan trek kali ini adalah trek KOLOZAL#3 nya CikarangMTB, trek kolozal Mei 2009, trek kolozal lima tahun lalu, sepuluh edisi kolozal yang lalu.

Trek lama perlu diberi bumbu, dan bumbu kali ini ada dua!!!

IMG-20140528-WA0014Bumbu#1 adalah digenjot dari Cikarang. Ya, supaya jadi century ride, genjot 100+ km. Ini sama persis dengan gowes mati lampu, kembali di tahun 2009 akhir, saat bertiga Om Ardian dan Om Didi … Waktu itu sama sama gowes weekdays hanya berganti teman saja kali ini. Pernah juga gowes Cigeuntis dari Cikarang bersama Om Rudy Om Stef dan nTe Rahmi

Gowes Survey CikarangMTB Kolozal#3 Cigeuntis 2009 Mei…
Gowes Matilampu Cigeuntis bersama Eyang AN 2009 Nov…
Gowes Lebaran Cigeuntis bersama nTe Rahmi 2011 Sep…

Bumbu#2 yang lebih terasa adalah rekan gowesnya, kali ini saya bersama Om Sigit menemani tiga orang yang kebetulan katanya belum pernah melewati trek offroad Cigeuntis ala Kolozal. Ketiga rekan ini sih gowesannya sudah susah dikejar, tapi ke Cigeuntis selalu lewat jalan raya Pangkalan Loji, dan bisa mandi pagi di Cigentis lalu sebelum makan siang udah rapi di rumah.

Bumbu#3 trip ini diberi nama Bikewearr Ride oleh Owner Bikewearr om Sigit. Asiiikkk… senang tentu bisa bersama kembali dalam Bikewearr Ride#2 setelah yang pertama sekitar 3 tahun lalu. Kelima peserta trip pun memakai jersey produksi Bikewearr. Semua dokumentasi foto di post trip ini adalah jepretan Om Sigit Bikewearr, makanya berwarna… hehe

IMG-20140528-WA0015Dan gowes pun segera dimulai dengan rencana berangkat jam 0530 tapi team leader baru bangun jam 0545 setelah insomnia sampe subuh. Langsung melesat lewat onroad saja ke arah Pemda Kab Bekasi dan napak tilas jalur kampung saat lima tahun lebih lalu diajak offroad pertama Kang Asol, jadi tidak nembus ke SMA2 Cikarang. Lanjut Pasir Kupang dan masuk ke Medal Krisna mulai deh offroad batu makadam rolling termasuk melewati singletrack ‘nenek jambu’.

Di trip yang lalu bareng Om Okky dan Om Heru kami bertemu nenek membawa jambu yang tidak mau minggir di singletrack dan tertawa terus seperti suara nenek lampir di sinetron. Padahal siang bolong. Hari itu kami tidak bertemu nenek jambu, tapi trek lebih licin karena beberapa hari lalu hujan. Trek sudah banyak yang terkena perbaikan jalan dengan beton padahal dulu makadam dan sirtu, kami pun pitstop di warung yang dulu dipake pitstop juga pada trip Cigentis dengan MbahBro.

IMG-20140528-WA0012Lewat Madal Krisno kita pun mulai masuk ke jalan raya Cariu-Pangkalan. Lumayan juga lewat dua tiga jembatan sebelum akhirnya masuk ke desa Phillips. Nama desa nya unik karena kabarnya dahulu Phillips perusahaan alat listrik pernah merubah desa ini jadi terang benderang. Kaget juga melihat jalan masuk ke desa Phillips sudah di beton juga, untung cuma sekitar 200m dan kami pun kembali menikmati makadam campur semen di beberapa area dalam kampung sampai di pinggir sungai Cigeuntis. Waktu masih menunjukkan jam 10 siang lebih. Pitstop adalah wajib di area ini dan mulai sesi fotografi nya Bikewearr…

Setelah indomie telor masuk ke perut maka kita pun menyeberang sungai Cigeuntis, batu batu bulat yang licin, air mengalir, plus juga genjot di selokan doubletrack sebelum masuk ke desa. Belum lagi latarbelakang kaki pegunungan Sanggabuana yang menjulang julang seperti punuk. Eksotis dan memang hanya kita bisa jumpai di trek ini saja. Setelah itu ternyat kita menjumlai jalan landai panjang di kaki Gunung Goong telah berubah menjadi beton mulus, yang semakin panas memantul dan semakin membuat berasa tidak sampai sampai, untung segera kita disuguhi tanjakan makadam yang masih murni seperti 5 tahun lalu saat nanjak ke pohon besar.

Tak lama melipir kita pun sampai di Warung Wisata Curug Cigeuntis dan makan siang. Perjalanan baru 47 kilometer dan kami pun menyempatkan makan kenyang dan tidur sebentar.

Perjalan pulang balik ke Cikarang tidaklah terlalu banyak kisah karena melewati jalan raya Pangkalan Loji dan berbelok di sebelah kalimalang dari Kobakbiru, terus via beton kalimalang sampai Cikarang Baru. Finish jam 430 sore an. Paha menjerit dan pantat panas, khas perjalanan century ride 100+ kilometer…

Riding Specialized Carve 29″ hardtail 2012
tyres: Continental X-King 2.2
uphill: 7/10
singletrack: 4/10
downhill: 3/10
technical: 5/10
endurance: 9/10
landscape view: 8/10

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


Gowes pilek sabtu pagi penutup tahun 2013

wIMG_0419kapalselam

Mmm… kayaknya udah lama banget ya tidak nulis cerita gowes di milis dan blog. Oke kita mulai tulis saja untuk juga meramaikan milis menjelang KOLOZAL

ini sebenarnya genjot sudah sabtu beberapa bulan yang lalu, weekend terakhir di 2013. Sebenernya waktu 5 hari libur kerja sempat sudah putus asa tidak akan ada acara gowes, begitu libur dimulai lha kok pilek juga dimulai… Tapi syukurlah sabtu pagi itu jadi juga gowes.

Teman gowesnya siapa?
Milis dan group watsapp masih terus dibanjiri dengan cerita dan foto foto rekan rekan yang lagi di seantero pulau Jawa. Tapi tumben kali ini saya tidak pengen keluar kota, mungkin juga bawaan pilek, jadi ya sepanjang lima hari berkutat seputar Cikarang. Bahkan bekasi pun tidak. Jadi cari teman gowes agak ribet juga untung akhirnya Eyang AN nyahut. Asiiikkk rasanya udah lama banget juga tidak gowes Cikarang an sama Eyang.

Dan pagi itu pun saya memarkir Ki Lobang di AA Bike yang tutup dan sepi. Yang ada cuma kapal selam dan juga Eyang beserta Bu Titi yang siap gowes pagi yang tampak cerah ini…

wIMG_0424duetBanyak yang sering bilang, gowes dengan siapa aja seru selama gowes sepeda. Trus juga ada yang bilang yang penting sepeda dan dengkul sama mental. Tapi dari pengalaman teman gowes selalu memberi bumbu tersendiri dari acara gowes. Sambil mulai gowes ke arah Gemalapik kita obrol obrol lalu saya lempar satu pancingan yang saya tahu pasti disambut baik. “Om, saya liat ada belokan, kayaknya sih ujungnya buntu. Ayo kita coba buktikan apa benar buntu…” Gowes nyasar bersama jago nyasar… apa lagi coba yang kita perlukan untuk memperindah gowes hari ini?

Belokan terduga buntu itu pun memberi kami singletrack, licin licin berlumpur sisa hujan semalam, masuk ke bawah rimbunnya bambu yang embunnya masih netes netes. Rekan saya gowes pun berhenti dan mulai mengeluarkan jurus jurus jepret kamera nya. Herannya, kembali ke penemuan singletrack, kok ujung singletrack itu kuburan ya? Hohoho… Rupanya terinspirasi oleh ‘pembuktian jalan buntu’, rekan gowes saya ini tergoda untuk melewati sebuah bukit yang mirip savanna. Latar belakang area Lippo Cikarang yang luas. Memang mengundang.

E: ‘Yuk, Om.. belok kesini’.
A: ‘Buntu om…’
E: ‘Lha, tadi juga katanya buntu…’
A: ‘Saya pernah coba om…’
E: (diem dan bejek crank)
A: ‘What can I do?’ (ikutan bejek juga)

Dan, memang sudah pernah saya coba sebelumnya, jalan buntuk kali ini memang benar benar jalan buntu. Turunan asik dan akhirnya kembali naik saat nemu jalan buntu. Dan tanjakan itu pun ditutup dengan blusukan masuk ke singletrack dan lagi lagi ketemu kuburan di belakang rumah orang.

wIMG_0426duarodaTak lama kami pun melewati kampung dengan onggokan sampah lengkap dengan sapinya dan masuk ke kopleks lippo.

Melewati jalanan beton Lippo tidak terlalu menarik diceritakan, tapi obrolan sambil gowes nya jauh lebih seru. Salah satu obrolan adalah trek kolozal#12 yang bakal melewati jalur kucing totol. Eyang juga cerita sambil nanjak offroad melewati trek Rally Perang, kalo ketemu kucing totol masih lebih mending daripada ketemu Si Belang. hadeuuuhhh… Ini teman saya kok ya masih bisa lancar cerita sambil nanjak ya? Saya jadi pura pura bisa njawab padahal hosh hosh banget…

Gowes pun berlanjut dan diberi pilihan lurus (sate kodam) atau kiri (cilangkara), tentusaja kita memilih ke kiri sambil terus menceritakan perihal si kucing totol. Memang waktu survey kemarin kita melewati titik sekitar ketinggian 1800mdpl saat menjelang maghrib, kabarnya ini waktu yang pas memang kucing totol jalan jalan mulai berburu. Wah, gimana ya nanti cerita ke para peserta Kolozal#12?

Kabar baiknya adalah, kucing totol ini sebenarnya tidak seperti pejabat di milis ini yang suka cari perhatian dan menantang, kucing ini lebih santai dan ‘lu lu gue gue’. Jadi kalo (misalnya) nanti liat ya ‘cuek aja’ katanya adalah cara terbaik… Jangan malah minta barengan bikin foto terkenal yaaa… buat update FB (ehem!)

Dari awal speed gowes ini, sesuai judulnya adalah genjot pilek, aseli pelan pelan. Cuma di tanjakan aja kami jadi lebih ‘semangat’. Tapi memasuki jalur non-beton lio Cilangkara kayaknya seru buat dibuat sprint… betol?

Lalu kita belok kiri kearah ‘jalur kebo’. Kembali rekan gowes saya berhenti di area kebo berkubang. Suasananya memang aseli asyik. Matahari masih dari samping, jadi sinarnya itu menyusup agak miring, cenderung masih mendatar arahnya. Masih ada sedikit embun dan kabut. Lalu dilengkapi dengan 19 ekor kerbau yang berkubang dalam lumpur…

wIMG_0430tehpanasSebenarnya tadinya waktu berangkat gowes saya lagi pengen nyobain lagi opsi cilangkara kebun jati, yang masuk ke kebun jati nya yang waktu itu pernah dicoba bareng Om Atoe dan Om Okky. Tapi saya sadar diri aja. Pilek dan dari tadi ditinggalin terus ama rekan gowes saya, sudahlah kita balik langsung saja… maka kami pun belok kiri ke arah belakang PLN Cicao. Om Eyang tampak ngacir di depan sementara saya gowes terbata bata.

Kembali lagi teman gowes saya menawarkan kejutan baru… “Om, ada singletrack di belakang Pemda” Jiaaaaa… Kami pun keluar dari jalur gravel belakang Pemda dan mendaki sebuah bukit. Bukitnya banyak kambing makan rumput, telletubbies banget dah dan ternyata asiiikkk… Saya bilang ke Eyang, tempatnya mengingatkan pada film ‘Soung of Music’, ada padang luas berumput dan banyak kambing.

Yang lebih menarik adalah ujung dari singletracknya, kita jadi muncul di belakang pabrik ban baru yang ada di Delta Silicon. Segera tuh nyerocos teman gowes saya, “wah Om, dibalik enak ini… buat nanjak sore sore” mmm.. iya deh…

Pulang lewat offroad tersisa di Cibatu kami pun kembali ke AA Bike dan selesai lah gowes ini. Berita sedihnya adalah jalan offroad grojalan di Cibatu sudah ditebar gravel siap siap dipasang beton…

TAMAT


WJXc Ride#22 Cilangkara via Teakwoods (En)

rIMG_0077udukCikarang, 7 Nov 2013

What do you think if you want to have a new blood on your regular ‘backdoor-track’? Yes! This is what I want to do this morning, unfortunately with very minimum plan in hand…

Mmm… not really with empty plan I guess, some possible lines coming. Some intersections options flash in mind. Some possible lines which reflected from last rides around neighborhood. Ok let’s just try and kick the crank on to it.

Some articles in mountain bike magazines said that I should look for more options, look for (so far) un-wanted intersections, some points of options which, up to now, been thrown away as insignificant. And while we turn my handlebar to Cilangkara area, one special intersection been haunting me all the way.

It’s a classic excuse, that you have been for ‘some time’ not taken training rides… and use this as a magic clause to have a hot tea and snack pitstop.

rIMG_0081pitstop

Pit stop always been one of the special experience when I do cross country cycling around neighborhood, it’s like visiting your neighbor, the time still, like a still photograph, you will have your time to take closer view to whatever around your track. Which is actually your neighbor, your next door, your housing complex backyard’s owner… This pit stop will also be your time to emulate you as ‘locals’. Trying to be more indigenous. Try to as much as you can be blended with the environment.

And the haunting singletrack option, going deep into what us called ‘kebun jati’ then show a remarkable result. The singletrack option have a steep technical uphill session, a wood like section, and a long gravel section. A rewarding present…

Another reward was another steep technical uphill to kampong near Lembah Hijau Residence. I have to take another pitstop since we have found a traditional full wood Betawi style house. A real jewel around the modernized turn to industrialized area. A sweet closing state and another beautiful hidden track revealed. Another option for local rides to choose…

rIMG_0084rumah-betawi

Morale of the story is… do not underestimate ‘uninteresting singletrack’. Unless you have prove it to be not worth enough, by going through it, you need to worry…

Trip info:

Riding Specialized Carve 29″ hardtail
tyres: Continental X-King 2.2
uphill: 5/10
singletrack: 4/10
downhill: 3/10
technical: 3/10
endurance: 7/10
landscape view: 4/10

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


WJxc Ride#17 – Gn Terate, Seminggu sebelum Kolozal#11

finishIMG-20130526-01068rCariu, 26 Mei 2013

Ijinkan saya memulai catatan kecil Cikarangmtb Kolozal#11… semoga tahan semangat nulisnya sampai tamat, karena pas nulis ini ngantuk banget dan juga sekujur tubuh bagian bawah cenut cenut semua. Sebut saja betis, paha, pantat, punggung… tapi herannya tangan kok tidak cenuth cenuth… bukti betapa enaknya gelindingan Ki Lobang… heheh…

Kisah berputar balik ke tahun 1800 saat VOC resmi dibubarkan. Pemerintah Belanda pun mengalami tahun yang berat dari 1800-1830 diantaranya ditandai dengan jatuhnya Batavia ke tangan Inggris, dikuasainya negeri Belanda oleh Napoleon dan Perancis, perang Diponegoro yang menguras, perang Belgia yang menjadikan berdirinya negara Belgia terlepas dari Belanda. Singkat kata akhirnya pemerintah Belanda menerapkan Tanam Paksa pada komoditi ekspor unggulan kala itu, diantaranya tebu dan kopi. Secara peraturan 20% dari tanah milik harus ditanami dengan komoditi ini. Kopi, yang bukan tanaman aseli Indonesia, aselinya berasal dari sekitar Ethiopia, ditanam secara meluas di Indonesia.

finishIMG-20130526-01077rLalu meloncat ke H-6 kolozal, adalah hari Minggu. Dengan niatan ‘mencari trek penutup yang lebih menampar’ maka tim kecil bergerak ke arah masjid Kubah Hijau, mencoba hidangan yang direncanakan sebagai hidangan penutup trek Cikarangmtb Kolozal#11. Ya, betul, dicari trek melambung, memutar sedikit agar lebih menampar.

“Kayaknya 27km terlalu pendek deh… ayo kita coba carikan jalan melambung”

Akhirul kata, pada akhir H-6 itupun diputuskan bahwa trek original, tidak perlu lambung melambung sudah sangatlah menampar. Termasuk didalamnya adalah rolling indah sepanjang sekitar 10km dari jembatan/Kuil Shaolin ke arah titik finish Mesjid Kubah Hijau.

Artinya? Survey hidangan penutup memutuskan kembali ke hidangan utama.

Ntar dulu. Apa hubungannya dengan Tanam Paksa?

Silakan menikmati dulu foto foto H-6. Sementara tim kecil yang punya niat ‘memberi tamparan akhir trek’ ternyata menemukan dirinya ditampar oleh trek survey yang melingkar lingkar di kaki Gn Terate. Menapaki jalan jalan makadam dengan sisa sisa tanaman kopi di kiri kanan secara sporadis. Terbayangkah dulu di 1800an ribuan orang harus menyumbangkan 66hari kerja dalam setahun, menjadi buruh tanpa bayar, memasang satu demi satu batu batu makadam begajulan yang kemarin kita lewati…

his ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


WJxc Ride#16 Cikarang-Quiling Century Ride

IMG_2388bayangCikarang, 30 Mar 2013

Pagi itu akhirnya berkumpul lah 3 pesepeda di alfamidi. Eh, maap kelewatan, ada satu juga motorist yang ikut ngumpul. Sang motorist tampak dengan kostum siap siap nge-JOKO, plus juga dengan wajah yang masih diselimuti kegalauan, Kasian juga, saya jadi curiga jangan jangan beliau sedang ditinggal anak isteri pulang kampung ya sampai wajahnya kusut gitu…

Mohon maaf kepada yang merasa kisah hidupnya mirip dengan cerita ini, karena ini hanya kebetuan belaka…

Bukan pertama saya genjot bersama dua rekan saya yang super ini, tapi aseli baru hari ini saya genjot bertiga saja dengan mereka. Segera lah terasa, trek belakang komplek serasa seperti race deltamas aja wkwkw…. NGEBUUUTTT… Benar benar uji nyali otot kaki buat saya nih. Ampun. Seberapa kencang pun saya nyoba genjot ban belakang saya dikawal dengan baik oleh ban depan rekan ini. Ampuuuuunnn

IMG_2396kupluk

Dari alfamidi kita menyusup ke area pintu tol baru cibatu, saya senang sekali melewati terowongan tiga nya. Betul, ada tiga tahap terowongan, gelap, hanya cukup selebar satu motor, dengan selokan di sebelah kiri. Lanjut masuk ke area Lippo lalu nanjak ke trek Rally Perang. Dengan sukses saya ditinggalkan dikentutin di tanjakan mooy yang sebenernya kegemaran saya ini.

Speeding speeding, sempat ketemu rombongan Om Joko Lippo dengan sepeda hardtail. Lho, Doraemon kemana Pakde? Ada, lagi nampil di tipi katanya…

Masuk ke trek LIO Cilangkara, menyusup ke Nu J3, lalu melipir ke samping kebun Jati sampai akhirnya nongol di Bojongmangu pasar di pertigaan.

20km an dan hanya satu jam lebih sedikit. Uedan emang…
Kami pun makan kelapa muda…

Trek belakang komplek tanpa cicau ini jadi favorit saya sekarang… heran selalu kangen datang dan datang lagi ke trek ini.. Waduh, tapi perjalanan masih panjang…

Setelah sebatang rokok dari kedua rekan sepedahan kali ini lewat, ngosh ngosh an napas saya mengimbangi dua rekan yang seperti tawon terbang ini mulai mereda, mulailah kita pada perjalanan sebenernya…

What? Emang yang tadi bukan perjalanan ya?
Bukan, yang tadi pemanasan saja. Dan terbukti membuat betis, paha dan dada saya poanasss polll…

Semalam kesulitan tidur karena ada acara jumat tidur sore, maka lewat tengah malam saya mencoba menggambarkan trek buat gowes keeseokan harinya. Unik juga, jalan dari Bojong Mangu ke Cariu kok tidak ada yang singkat dan lurus. Kalau mengikuti jalan utama akan mutar dulu baru ke tujuan. Akhirnya dengan memainkan zoom nya, saya coba reka trek, smoga besok beneran ada trek nya…

Bukan “tiasa”
Bukan “sepuluh taun lalu ada AMD disini…”

Melewati BojongMangu, menyeberang jembatan, menggelinding di jalan beton, lalu keluar jalan utama kekanan, nanjak, jalan yang sama saat saya gowes bertiga Eyang dan Didi sekitar 2 tahun lalu. Jalan berubah menjadi makadam, jalan yang sama dengan saya gowes berempat OmRudy, Nte Rahmi dan Om Stef 3 tahun lalu, sampailah di suatu titik. GPS memerintahkan berbelok kekiri. Wah, belom pernah nih jalan ini. Om Okky juga bilang dia belom pernah lewat jalan kekiri. “Kita coba jalan baru…” kata saya

Turunan makadam, woyyy… singletrack di tengah kampung, lalu disambut singletrack di tengah sawah, lalu disambut singletrack tanjakan di tengah kebun jati. Semangat dan seru, karena singletrack memang sensasinya beda ya daripada sepanjang dari berangkat doubletrack terus. Tapi di kejauhan, saat kami nanjak, tampak seorang nenek, membawa semacam rantang tampak sedang perlahan sekali berjalan pas di tengah trek. Tentusaja menghalangi trek… Sang nenek tersenyum. Semakin dekat, semakin terlihat senyumnya tampak aneh, antara ceria plus artifisial plus.. mengerikan…

Saya paling depan dari kami bertiga. Seperti juga saat bertemu penduduk dimanapun saya pun bilang “punteennn…” namun sang Nenek tidak tampak bergeming dari tengah singletrack. Senyum anehnya semakin ngeri dan semakin jelas. Isi rantang nya juga semakin jelas tampak, Jambu batu. Mendekat dan mendekat, saya arahkan susahpayah sepeda melewati sisi rerumputan. Ingat, ini di tengah semacam hutan jati…

IMG_2400cariu-ha-long

Suara nenek semakin mendekat semakin jelas. Tertawa ngikik… mirip banget yang sering kita dengar di sandiwara radio atau film horror…

Haduh !!!

Saya tidak sempat lihat apakah nenek kakinya menapak tanah atau tidak…
Om Okky yang rapet di belakang saya kemudian diketahui mendengar ketawa dan ocehan nenek yang mirip saya dengar juga . Hanya Om Heru yang agak berjarak di belakang tidak mendengar apapun. Om Heru setelah beberapa meter lewat menengok ke belakang dan melihat sang Nenek melambai sambil tersenyum sangat lebar….

IMG_2403langkah

Hiiiii…

Singkat cerita akhirnya setelah rolling rolling termasuk istirahat di dekat Situ Abidin kami pun akhirnya sampai di Cariu…

Setiap melewati jalan Jonggol-Cariu-Cianjur, misalnya pas gowes ke puncak pinus, atau pas bulan lalu menuju titik start masjid kubah hijau buat genjot Gratisan, saya penasaran banget dengan pemandangan jauh di kiri jalan, jauh di seberang lembah. Bukit bukit atau gunung gunung kecil yang muncul menjulang julang diantara landscape. Om Hanif Pak TB pernah mengomentari foto sepeda Cozmic biru saya dengan background pegunungan ini sebagai ‘pinnacles’… aduh… makin penasaran.

IMG_2408masjid

I want to go there…
Saya ingin banget mendekat ke pegunungan itu…
Ku ingin memeluk pinggul Sanggabuana

Hanya semalam sebelum gowes ini saya mencoba liat ke Google Earth, Eyang bilang gowes akan ke Kuiling. Pas ditanya lewat mana belio dengan wise menjawab, “…banyak nanya, yang penting tujuannya ada…”. Hmmm. iya juga. Gowes dengan ada tujuan udah prestasi besar buat belio belio ini… wkwkw… Oke, saya tarik garis lewat jalan menuju Kuiling ini, melewati lembah sungai Cibeet, agar bisa memeluk Sanggabuana dari dekat. Mengagumi puncak puncak yang menyembul…

Kalau di foto foto landscape kita sering mendengar daerah Guilin di China. Atau daerah Ha Long Bay di Vietnam… Mungkin saya agak melebihkan, tapi beneran daripada terbang jauh ke Cina bagian selatan atau ke dekat Ha Noi, mending genjot 45km menuju area ini. Daerah ini ternyata kemudian tidak berhenti saya kagumi selama gowes dari Cariu ke Quiling… AMAZING !!! Pinggul Sanggabuana yang indah… sexy…

Tanjakan menuju mendekat ke Quiling juga benar benar membuat jantung serasa akan meledak… Area ini memang aneh juga, panas terik namun angin semilir adem… Di jalur ini kami dua kali pitstop, di tengah kampung dan juga di dekat Quiling.

Odometer sudah menunjuk melebihi 50km… dan artinya masih ada sejumlah kilometer yang kira kira sama menuju rumah…

Dari tempat pemakaman Quiling kita pun turun ke arah jalan raya Cariu – Cianjur. Wah, jalan mulus dan turun tajam. Setelah menyeberang sungai Cibeet sih lalu ada sedikit rolling juga. Lalu kami pun istirahat isoma, pitstop kelima selama genjot hari ini di masjid kubah hijau.

Bagian selanjutnya adalah perjalanan panjang dan serasa tak habis habis kembali ke Cikarang Baru.

IMG_2410pitstop

Selanjutnya kita melewati onroad ke arah Cariu kota, lalu melewati jalur balik kembali via Situ Abidin, istirahat lagi untuk ke 6 kalinya, lalu genjot dilanjutkan melewati jalan potong offroad ke Kaligandu.

Menuliskan part ini sangat berat, sama seperti saat menjalaninya, rasanya seperti tak ada habisnya genjot kembali kerumah. Tak tahan akhirnya saya memaksa dua rekan tawon untuk berhenti terakhir yang ke 7 kalinya di pertigaan Cicau. Paha dan betis susah tak berasa dari melewati tanjakan Jiper di kilometer 90+ perjalanan ini, sementara bagian tubuh yang menempel ke sadel segera menyusul tak berasa… baal

Emosional saat akhirnya melewati alfamidi dan masuk ke rumah di kilometer ke 101 jam 5.15 sore hari

My only third century ride…


WJxc Ride#15 Nawit-Bondol

IMG_2305duetNyepi, dan yang penting … libur…

Sudah selayaknya kita menyepi, mungkin… tapi pagi ini saya ikuti saja kata hati buat gowes teduh dan sepi tanpa gonjang ganjing, walaupun ternyata matahari bersinar cukup terik.

Di tengah jalan tampak pemandangan unik yang ternyata adalah arena jual beli hewan. Ada bebek ayam dan kambing serta domba. Seru melihat mereka berkemas, memasukkan kembali kambing ke dalam keranjang yang ditempelkan di motor. Satu motor memuat 6 kambing. Banyak kan?

Mungkin terdengar sederhana, namun kok saya menemukan perasaan nyaman dan teduh ya berada di tengah jualbeli yang sederhana ini. Obrol punya obrol, salah satu pembeli berasal dari area Jonggol, dan kemudian kambing kambing yang baru dibeli ini akan dijual di pasar di daerah Jonggol sana, yang membeli biasanya petani. Kisah simpel mencari rejeki yang sederhana dan teduh didengar.

IMG_2313nawitAkhirnya setelah menemui beberapa jalan yang semakin menyempit, meski dalam keteduhan dedaunan pohon pohon kampung yang rindang, akhirnya sampai ke sebuah jembatan bambu. Ada rumah tepat di sebelah jembatan bambu. Setelah berbasa basi maka bertanyalah kepada Bapak pemilik rumah/warung tentang apa nama daerah ini… “Ini Nawit dik…”

IMG_2749ciumUnik memang area ini. Jalan meliuk liuk, ada yang sudah dibeton, ada juga yang masih jalan tanah. Campur. Jalan nya pun jarang sekali yang lurus lurus dan bisa ditebak arahnya. Semalam saya lihat di Google Earth memang area ini jalan kampungnya meliuk liuk, melingkar dan tak lurus. Menyesuaikan dengan bentuk sungai nya kah? Mungkin.

Salah satu yang juga unik dari area ini adalah betapa masih teduh nya. Entah kenapa penduduk tampak tidak tertarik untuk memotong pohon pohon di kebun nya. Campuran berbagai pohon tanaman keras dan tentusaja banyak pohon bambu. Teduh. Tak terbantah. Serasa tidak sedang berada di area yang dekat dengan Cikarang saja. Penduduk juga tampak banyak memelihara sapi dan domba. Sapi dan domba dibiarkan berkeliaran di halaman, dibawah keteduhan pohon pohon rindang. Aseli, aura kampung ini beda banget…

Kembali menembus berbagai jalan meliuk dalam teduh kampung disambut turunan panjang dan akhirnya sampailah ke sebuah warung yang berada, lagi lagi di sebelah sebuah jembatan beton yang besar. Jembatannya tampak aneh, tapi warungnya tampak sering melihat fotonya… kembali bertanya dan dijawab “Ini Bondol dik…” ditambah lagi “Oooo… itu sungai Cikarang dik…”

Setelah makan dengan menu yang terkenal, akhirnya pulang dalam perjalanan jalan beton panjang yang serasa tak ada habisnya…

Demikian sebagian cerita genjot hari ini…

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.