enjoy every cadence, every breath…

sepeda gunung

WJxc Ride#27 Bimbel Leuwimalang – TPS Ride (English)

r20140510_060231r20140510_060419r20140510_061038r20140510_072338Cikarang, 10 May 2014

Backyard bicycle track…
Yes, do not underestimate backyard. Your own backyard, the place you think you have known and tried each options available. If you underestimate your backyard tracks, regret will be guaranteed. And this ‘bimbel’ (come out of bahasa word ‘bimbingan belajar’, means learning and trials) track, is one of series I have tried to gather around my backyard, in Cikarang area, Kab Bekasi.

Start with a (yet now become) classic ‘Cilangkara Hutan Jati’ track, including the beauty of fireroads and singletracks, which have become more and more hard to find. Also including a climb to the ‘view tower’ in the middle of the teak-woods fields (hutan jati).

But ‘hutan jati’ or teak-woods is only intermediate transit, we go try to find new options going trough the cluster Cibiru of Lippo Cikarang housing. It was not an easy push and mud tracks until we found better condition road part of Industrial estate area. The trip to ‘hutan jati’ was also take a visit of ‘Tanjakan Emad’ which was recently found to be one of a few last technical uphill section in the area.

Then we go to the new exploration area, beyond Pasir Kupang Rd. and it goes to the area called Leuwi Malang. This road identified to be a straight lines, beside the irrigation lines. From the survey using Google Earth database it was looks like we will have a bridge over the river, which was not found. Whoa!! The (un)-expected surprise which will can be found when we try actually the lines.

r20140510_080832r20140510_085714r20140510_085945r20140510_092659

We were lucky enough to get a bamboo ride to cross the river. Although the river seen to be not deep and the stream was safe. The track after cross the river was even more interesting. A combination of limestone fire-road plus un-even yet become technical rock base lines, giving us excitement of cross country cycling. This kind of lines usually we got in the past not far from our residence, on our backyard. Due to industrial estate and housing developments around the area, now we need to ride overall 50km to find the same excitement.

But it was worth the ride…

Then the track goes back to our familiar Pasir kupang area, facing the hot noon hot Cikarang area sunshine, running back push to pedal our bikes to home. The ballot of House representative elections been waiting. This is why it was called ‘TPS Ride’…

Still want to underestimate your backyard???

Riding Specialized Carve 29″ hardtail 2012
tyres: Continental X-King 2.2
uphill: 6/10
singletrack: 5/10
downhill: 3/10
technical: 6/10
endurance: 7/10
landscape view: 7/10

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


Ride#26 – Kolozal#12 Wayang Windu

IMG_4505gendong

[tulisan ini diselesaikan pada Juni 2014, jauh setelah waktu Kolozal#12 yang di 8 Feb 2014]

Cikarang, 7 Feb 2014

 
Malam itu dengan mata kantuk karena bermalam malam kurang tidur, akhirnya sampailah di detik detik berbahagia gowes kolozal… berkumpul di aabike dan mulai loading sepeda ke atas truk. Perasaan aneh antara semangat, excited, juga grogi plus gemes adalah kata kata yang keluar dari mulut para pesepeda. 3 truk saja yang cukup penuh, sementara satu truk terakhir diisi motor trail plus 15 dus aqua botol.

Pemandangan wajah cemas dan penasaran para pesepeda, diiringi oleh putra putrinya, keluarganya ngantar sepeda ke aabike untuk loading, sungguh pemandangan mengharukan seperti foto pesepeda antar sepeda untuk loading sambil gendong putranya berikut ini. Mungkin memang begitu teknik nya untuk selalu membuat antenna RR1 terpancang tegak sampai hari H…

Malam itu sempat merekam beberapa shot video, untuk keperluan iseng dokumentasi. Menjalani kegemaran dokumentasi ini, dengan memotret dan melakukan wawancara singkat, memberi pengalaman berlebih pada acara Kolozal yang saya jalani, dan juga memberi kejutan kejutan jawaban yang unik.

IMG_4531startCikarang, 8 Februari 2014

Kolozal kali ini saya ikut menunggu tim di pintu keluar Buahbatu, Bandung. Duluan berangkat ke Bandung, tidak terkait dengan heboh bangun subuh dan sholat subuh berjamaah di tempat istirahat tol yang dijalani oleh tim besar. Ternyata saya tidak sendirian, ada satu rekan juga, rekan lama Om Didik adik Om AH yang menunggu di tempat yang sama. Tak lama naik ke bis dan perjalanan lanjut ke titik start di Perkebunan Teh Malabar.

Titik start kolozal kali ini berada di area Perkebunan Teh Malabar, kita unloading sepeda dan persiapan di area dekat makam KRR Boscha, salah satu tokoh yang berperan penting dalam sejarah kota Bandung di abad 19.

Dibandingkan edisi Kolozal sebelumnya yang berada di area Cariu, yang panas dan kering, kali ini sudah terus didengungkan adalah kolozal yang basah, sangat mungkin hujan dan yang pasti dingin. Titik start di ketinggian 1400mdpl dan titik tertinggi trek di ketinggian 1820mdpl. Seluruh tim merasakan ini akan jadi kolozal yang istimewa.

IMG_4564ceriaSedikit lebih awal dari diperkirakan, waktu bis peserta sampai titik start/finish lebih awal dari perkiraan, rupanya efek berangkat sebelum subuh dan sholat subuh berjamaah di tempat istirahat tol sangat efektif memangkas perjalanan sekitar 150km dari AA Bike ke titik start. Seperti sudah diduga sebelumnya, mendung sudah tampak saat peserta mempersiapkan sepeda dan gerimis sudah menyambut saat ketemu tanjakan pertama.

Ini pengalaman pertama kalinya saya jadi penunjuk jalan alias orang terdepan dari 12 Kolozal. Tentang jalan sih tidak khawatir, cuma tentang physical challenge nya yang bakal merupakan ujian, apalagi bisa dibilang 3-4 bulan terakhir sangat berkurang porsi gowes weekend dan bike to work. Sampai di desa terakhir dekat Kawah, dekat Pemandian Cibolang, keadaan masih relatif terkendali, karena hujan paling banter cuma gerimis dan sekali sekali hilang, namun setelah melewati puncak Cibolang hujan berubah deras dan peserta sudah mulai tak sabaran. Peserta di depan tak sabar untuk menunggu dan kumpul dulu. Selain masih kuat gowes memang kalau menunggu dibawah hujan dinginnya gak ketulungan. Mulai tuh ada yang ‘sotoy’ dan jauh meninggalkan track leader. Kalau tanya penduduk pasti diberi tahu jalan yang enak dan mulus alias aspal… Akhirnya saya terpaksa cuek sambil mengingatkan sebisanya buat mereka yang memutuskan berangkat lebih dulu karena tak sabar kedinginan berhenti.

Area yang disebut ‘Pizza Hut’ alias gubuk petani di dalam hutan terlewati dalam hujan cukup deras. Areal teh menyambut setelah single track dan akhirnya meikmati jalan menghindar mengelilingi pinggul gunung Wayang Windu tanpa masuk ke kampung Kertasarie.

Entah jalur apa yang diambil rekan rekan yang tak sabar dan mendahului, tapi hampir dipastikan mereka lewat kertasarie dan ambil jalan utama ke Situ Cisanti. Hampir tidak ada tantangan samasekali. Plain bahkan cenderung membosankan. Sementara trek offroad mengelilingi pinggul Wayang Windu ini benar benar disuguhi pemandangan menawan ke arah lembah Kertasarie yang diselimuti kabut tipis setelah hujan.

kol12mapKertasarie sudah berubah dari 2008, enam tahun lalu. Jalan sudah aspal mulus dari Majalaya, hutan di ketinggian bukit tampak juga semakin jarang vegetasinya. Keindahan yang terkikis. Tak lama kami pun pit stop makan siang dengan baju basah di Situ Cisanti. Dinginnya berhenti gowes, dan enaknya perut terisi makanan segera disambut tanda start tahap kedua karena akan segera ditutup trek agak tidak kemalaman di jalan.

Menyempatkan memasang handphone sebagai kamera video di fork, nanjak makadam ke celah lawang-angin 1820mdpl dimulai. Sempat bisa digowes selama masih di double track, sampai akhirnya ketemu single track yang 80% adalah gowes dorong dorong bike. Nanjak, miring, un-gowesable, diguyur hujan, angin sore menjelang malam yang dingin. Sebuah trip yang sempurna (siksaannya).

Leganya mencapai puncak tertinggi trip ini 1820mdpl. Yang tersisa adalah dinginnya jalan turun, menggigil gemetaran sampai kembali ke titik start kebun Malabar. Salah satu pemandangan menarik adalah Pembangkit Listrik tenaga panas bumi di area ini. Masa depan energi Indonesia…

Trip info:

Riding Specialized Carve 29″ hardtail
tyres: Continental X-King 2.2
uphill: 8/10
singletrack: 6/10
downhill: 4/10
technical: 8/10
endurance: 8/10
landscape view: 8/10


Bikewearr Century Ride Cigeuntis – WJxc Ride#28

Cikarang, 27 Mei 2014

Libuuuuurrr hari selasa… Libur kejepit dan tidak cuti, ada baiknya kita gunakan untuk gowes sepeda gunung, dan pilihan trek kali ini adalah trek KOLOZAL#3 nya CikarangMTB, trek kolozal Mei 2009, trek kolozal lima tahun lalu, sepuluh edisi kolozal yang lalu.

Trek lama perlu diberi bumbu, dan bumbu kali ini ada dua!!!

IMG-20140528-WA0014Bumbu#1 adalah digenjot dari Cikarang. Ya, supaya jadi century ride, genjot 100+ km. Ini sama persis dengan gowes mati lampu, kembali di tahun 2009 akhir, saat bertiga Om Ardian dan Om Didi … Waktu itu sama sama gowes weekdays hanya berganti teman saja kali ini. Pernah juga gowes Cigeuntis dari Cikarang bersama Om Rudy Om Stef dan nTe Rahmi

Gowes Survey CikarangMTB Kolozal#3 Cigeuntis 2009 Mei…
Gowes Matilampu Cigeuntis bersama Eyang AN 2009 Nov…
Gowes Lebaran Cigeuntis bersama nTe Rahmi 2011 Sep…

Bumbu#2 yang lebih terasa adalah rekan gowesnya, kali ini saya bersama Om Sigit menemani tiga orang yang kebetulan katanya belum pernah melewati trek offroad Cigeuntis ala Kolozal. Ketiga rekan ini sih gowesannya sudah susah dikejar, tapi ke Cigeuntis selalu lewat jalan raya Pangkalan Loji, dan bisa mandi pagi di Cigentis lalu sebelum makan siang udah rapi di rumah.

Bumbu#3 trip ini diberi nama Bikewearr Ride oleh Owner Bikewearr om Sigit. Asiiikkk… senang tentu bisa bersama kembali dalam Bikewearr Ride#2 setelah yang pertama sekitar 3 tahun lalu. Kelima peserta trip pun memakai jersey produksi Bikewearr. Semua dokumentasi foto di post trip ini adalah jepretan Om Sigit Bikewearr, makanya berwarna… hehe

IMG-20140528-WA0015Dan gowes pun segera dimulai dengan rencana berangkat jam 0530 tapi team leader baru bangun jam 0545 setelah insomnia sampe subuh. Langsung melesat lewat onroad saja ke arah Pemda Kab Bekasi dan napak tilas jalur kampung saat lima tahun lebih lalu diajak offroad pertama Kang Asol, jadi tidak nembus ke SMA2 Cikarang. Lanjut Pasir Kupang dan masuk ke Medal Krisna mulai deh offroad batu makadam rolling termasuk melewati singletrack ‘nenek jambu’.

Di trip yang lalu bareng Om Okky dan Om Heru kami bertemu nenek membawa jambu yang tidak mau minggir di singletrack dan tertawa terus seperti suara nenek lampir di sinetron. Padahal siang bolong. Hari itu kami tidak bertemu nenek jambu, tapi trek lebih licin karena beberapa hari lalu hujan. Trek sudah banyak yang terkena perbaikan jalan dengan beton padahal dulu makadam dan sirtu, kami pun pitstop di warung yang dulu dipake pitstop juga pada trip Cigentis dengan MbahBro.

IMG-20140528-WA0012Lewat Madal Krisno kita pun mulai masuk ke jalan raya Cariu-Pangkalan. Lumayan juga lewat dua tiga jembatan sebelum akhirnya masuk ke desa Phillips. Nama desa nya unik karena kabarnya dahulu Phillips perusahaan alat listrik pernah merubah desa ini jadi terang benderang. Kaget juga melihat jalan masuk ke desa Phillips sudah di beton juga, untung cuma sekitar 200m dan kami pun kembali menikmati makadam campur semen di beberapa area dalam kampung sampai di pinggir sungai Cigeuntis. Waktu masih menunjukkan jam 10 siang lebih. Pitstop adalah wajib di area ini dan mulai sesi fotografi nya Bikewearr…

Setelah indomie telor masuk ke perut maka kita pun menyeberang sungai Cigeuntis, batu batu bulat yang licin, air mengalir, plus juga genjot di selokan doubletrack sebelum masuk ke desa. Belum lagi latarbelakang kaki pegunungan Sanggabuana yang menjulang julang seperti punuk. Eksotis dan memang hanya kita bisa jumpai di trek ini saja. Setelah itu ternyat kita menjumlai jalan landai panjang di kaki Gunung Goong telah berubah menjadi beton mulus, yang semakin panas memantul dan semakin membuat berasa tidak sampai sampai, untung segera kita disuguhi tanjakan makadam yang masih murni seperti 5 tahun lalu saat nanjak ke pohon besar.

Tak lama melipir kita pun sampai di Warung Wisata Curug Cigeuntis dan makan siang. Perjalanan baru 47 kilometer dan kami pun menyempatkan makan kenyang dan tidur sebentar.

Perjalan pulang balik ke Cikarang tidaklah terlalu banyak kisah karena melewati jalan raya Pangkalan Loji dan berbelok di sebelah kalimalang dari Kobakbiru, terus via beton kalimalang sampai Cikarang Baru. Finish jam 430 sore an. Paha menjerit dan pantat panas, khas perjalanan century ride 100+ kilometer…

Riding Specialized Carve 29″ hardtail 2012
tyres: Continental X-King 2.2
uphill: 7/10
singletrack: 4/10
downhill: 3/10
technical: 5/10
endurance: 9/10
landscape view: 8/10

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


Gowes pilek sabtu pagi penutup tahun 2013

wIMG_0419kapalselam

Mmm… kayaknya udah lama banget ya tidak nulis cerita gowes di milis dan blog. Oke kita mulai tulis saja untuk juga meramaikan milis menjelang KOLOZAL

ini sebenarnya genjot sudah sabtu beberapa bulan yang lalu, weekend terakhir di 2013. Sebenernya waktu 5 hari libur kerja sempat sudah putus asa tidak akan ada acara gowes, begitu libur dimulai lha kok pilek juga dimulai… Tapi syukurlah sabtu pagi itu jadi juga gowes.

Teman gowesnya siapa?
Milis dan group watsapp masih terus dibanjiri dengan cerita dan foto foto rekan rekan yang lagi di seantero pulau Jawa. Tapi tumben kali ini saya tidak pengen keluar kota, mungkin juga bawaan pilek, jadi ya sepanjang lima hari berkutat seputar Cikarang. Bahkan bekasi pun tidak. Jadi cari teman gowes agak ribet juga untung akhirnya Eyang AN nyahut. Asiiikkk rasanya udah lama banget juga tidak gowes Cikarang an sama Eyang.

Dan pagi itu pun saya memarkir Ki Lobang di AA Bike yang tutup dan sepi. Yang ada cuma kapal selam dan juga Eyang beserta Bu Titi yang siap gowes pagi yang tampak cerah ini…

wIMG_0424duetBanyak yang sering bilang, gowes dengan siapa aja seru selama gowes sepeda. Trus juga ada yang bilang yang penting sepeda dan dengkul sama mental. Tapi dari pengalaman teman gowes selalu memberi bumbu tersendiri dari acara gowes. Sambil mulai gowes ke arah Gemalapik kita obrol obrol lalu saya lempar satu pancingan yang saya tahu pasti disambut baik. “Om, saya liat ada belokan, kayaknya sih ujungnya buntu. Ayo kita coba buktikan apa benar buntu…” Gowes nyasar bersama jago nyasar… apa lagi coba yang kita perlukan untuk memperindah gowes hari ini?

Belokan terduga buntu itu pun memberi kami singletrack, licin licin berlumpur sisa hujan semalam, masuk ke bawah rimbunnya bambu yang embunnya masih netes netes. Rekan saya gowes pun berhenti dan mulai mengeluarkan jurus jurus jepret kamera nya. Herannya, kembali ke penemuan singletrack, kok ujung singletrack itu kuburan ya? Hohoho… Rupanya terinspirasi oleh ‘pembuktian jalan buntu’, rekan gowes saya ini tergoda untuk melewati sebuah bukit yang mirip savanna. Latar belakang area Lippo Cikarang yang luas. Memang mengundang.

E: ‘Yuk, Om.. belok kesini’.
A: ‘Buntu om…’
E: ‘Lha, tadi juga katanya buntu…’
A: ‘Saya pernah coba om…’
E: (diem dan bejek crank)
A: ‘What can I do?’ (ikutan bejek juga)

Dan, memang sudah pernah saya coba sebelumnya, jalan buntuk kali ini memang benar benar jalan buntu. Turunan asik dan akhirnya kembali naik saat nemu jalan buntu. Dan tanjakan itu pun ditutup dengan blusukan masuk ke singletrack dan lagi lagi ketemu kuburan di belakang rumah orang.

wIMG_0426duarodaTak lama kami pun melewati kampung dengan onggokan sampah lengkap dengan sapinya dan masuk ke kopleks lippo.

Melewati jalanan beton Lippo tidak terlalu menarik diceritakan, tapi obrolan sambil gowes nya jauh lebih seru. Salah satu obrolan adalah trek kolozal#12 yang bakal melewati jalur kucing totol. Eyang juga cerita sambil nanjak offroad melewati trek Rally Perang, kalo ketemu kucing totol masih lebih mending daripada ketemu Si Belang. hadeuuuhhh… Ini teman saya kok ya masih bisa lancar cerita sambil nanjak ya? Saya jadi pura pura bisa njawab padahal hosh hosh banget…

Gowes pun berlanjut dan diberi pilihan lurus (sate kodam) atau kiri (cilangkara), tentusaja kita memilih ke kiri sambil terus menceritakan perihal si kucing totol. Memang waktu survey kemarin kita melewati titik sekitar ketinggian 1800mdpl saat menjelang maghrib, kabarnya ini waktu yang pas memang kucing totol jalan jalan mulai berburu. Wah, gimana ya nanti cerita ke para peserta Kolozal#12?

Kabar baiknya adalah, kucing totol ini sebenarnya tidak seperti pejabat di milis ini yang suka cari perhatian dan menantang, kucing ini lebih santai dan ‘lu lu gue gue’. Jadi kalo (misalnya) nanti liat ya ‘cuek aja’ katanya adalah cara terbaik… Jangan malah minta barengan bikin foto terkenal yaaa… buat update FB (ehem!)

Dari awal speed gowes ini, sesuai judulnya adalah genjot pilek, aseli pelan pelan. Cuma di tanjakan aja kami jadi lebih ‘semangat’. Tapi memasuki jalur non-beton lio Cilangkara kayaknya seru buat dibuat sprint… betol?

Lalu kita belok kiri kearah ‘jalur kebo’. Kembali rekan gowes saya berhenti di area kebo berkubang. Suasananya memang aseli asyik. Matahari masih dari samping, jadi sinarnya itu menyusup agak miring, cenderung masih mendatar arahnya. Masih ada sedikit embun dan kabut. Lalu dilengkapi dengan 19 ekor kerbau yang berkubang dalam lumpur…

wIMG_0430tehpanasSebenarnya tadinya waktu berangkat gowes saya lagi pengen nyobain lagi opsi cilangkara kebun jati, yang masuk ke kebun jati nya yang waktu itu pernah dicoba bareng Om Atoe dan Om Okky. Tapi saya sadar diri aja. Pilek dan dari tadi ditinggalin terus ama rekan gowes saya, sudahlah kita balik langsung saja… maka kami pun belok kiri ke arah belakang PLN Cicao. Om Eyang tampak ngacir di depan sementara saya gowes terbata bata.

Kembali lagi teman gowes saya menawarkan kejutan baru… “Om, ada singletrack di belakang Pemda” Jiaaaaa… Kami pun keluar dari jalur gravel belakang Pemda dan mendaki sebuah bukit. Bukitnya banyak kambing makan rumput, telletubbies banget dah dan ternyata asiiikkk… Saya bilang ke Eyang, tempatnya mengingatkan pada film ‘Soung of Music’, ada padang luas berumput dan banyak kambing.

Yang lebih menarik adalah ujung dari singletracknya, kita jadi muncul di belakang pabrik ban baru yang ada di Delta Silicon. Segera tuh nyerocos teman gowes saya, “wah Om, dibalik enak ini… buat nanjak sore sore” mmm.. iya deh…

Pulang lewat offroad tersisa di Cibatu kami pun kembali ke AA Bike dan selesai lah gowes ini. Berita sedihnya adalah jalan offroad grojalan di Cibatu sudah ditebar gravel siap siap dipasang beton…

TAMAT


WJXc Ride#22 Cilangkara via Teakwoods (En)

rIMG_0077udukCikarang, 7 Nov 2013

What do you think if you want to have a new blood on your regular ‘backdoor-track’? Yes! This is what I want to do this morning, unfortunately with very minimum plan in hand…

Mmm… not really with empty plan I guess, some possible lines coming. Some intersections options flash in mind. Some possible lines which reflected from last rides around neighborhood. Ok let’s just try and kick the crank on to it.

Some articles in mountain bike magazines said that I should look for more options, look for (so far) un-wanted intersections, some points of options which, up to now, been thrown away as insignificant. And while we turn my handlebar to Cilangkara area, one special intersection been haunting me all the way.

It’s a classic excuse, that you have been for ‘some time’ not taken training rides… and use this as a magic clause to have a hot tea and snack pitstop.

rIMG_0081pitstop

Pit stop always been one of the special experience when I do cross country cycling around neighborhood, it’s like visiting your neighbor, the time still, like a still photograph, you will have your time to take closer view to whatever around your track. Which is actually your neighbor, your next door, your housing complex backyard’s owner… This pit stop will also be your time to emulate you as ‘locals’. Trying to be more indigenous. Try to as much as you can be blended with the environment.

And the haunting singletrack option, going deep into what us called ‘kebun jati’ then show a remarkable result. The singletrack option have a steep technical uphill session, a wood like section, and a long gravel section. A rewarding present…

Another reward was another steep technical uphill to kampong near Lembah Hijau Residence. I have to take another pitstop since we have found a traditional full wood Betawi style house. A real jewel around the modernized turn to industrialized area. A sweet closing state and another beautiful hidden track revealed. Another option for local rides to choose…

rIMG_0084rumah-betawi

Morale of the story is… do not underestimate ‘uninteresting singletrack’. Unless you have prove it to be not worth enough, by going through it, you need to worry…

Trip info:

Riding Specialized Carve 29″ hardtail
tyres: Continental X-King 2.2
uphill: 5/10
singletrack: 4/10
downhill: 3/10
technical: 3/10
endurance: 7/10
landscape view: 4/10

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


When things get rough…

Halah judulnya meuni heboh…

Intinya malam ini baru ketemu tuh password nya site ini lagi (parah ya?) setelah kemarin komputer upgrade volume hardisk dan upgrade OS. Karena keindahan tab ‘remember me’ yang menyimpan seluruh password, jadinya deh kelabakan cari dimana posisi password terakhir….

02terowongan

Kagetnya ternyata post saya di blog ini terakhir kali sudah hampir dua bulan yang lalu, alias di bulan Oktober.. halaaaahhhh.. Sebenernya gak mau kelihatan belakangan jarang sepedahan sih, tapi ya sudah kita mark saja di akhir 2013 ini kalau kemarin sudah gowes seru seru an juga setelah WJXc Ride#21 di post blog Oktober yang lalu…

Sebenernya post blog ini juga sedang mencoba menuliskan alasan kenapa jarang sepedahan apalagi nulis blog dalam dua bulan terakhir, tapi alasan kesibukan kerja dan main musik kayaknya tidak cocok ya buat gambaran alasan yang dapat diterima…?

Ride#22 Cilangkara Masuk Hutan Jati… link facebook…
Ride#23 Jalur Poncol8 Cikarang…. link facebook..
Ride#24 Dingin Bandung Selatan link facebook…

Memang yang selalu di update dari kegiatan sepedahan ya di facebook karena melakukannya lebih simpel, hanya memikirkan konten saja… link ke facebook…

Nanti sedikit sedikit ditulis lagi ride per ride diatas report nya seperti biasa… yang lebih geuleuh adalah passwork ke bikemap belom ketemuuuuu…. hadeuhhh…

Enjoy every cadence, enjoy every breath…


WJxc Ride#21 Kukurilingan Batukarut

wIMG_3926-relBandung, 21 September 2013

After having a rude trip two weeks earlier in Kutajati trip … , this is the time to do simple mountain biking… Yes simple trip from my in laws home in Buahbatu, South Eastern part of Bandung to Batukarut, hilly area Eastern of Bandung.

A lot of the track part was an asphalt town track, full with dusty smokey and reckless Indonesian style motorist drive. Luckily it was start 6am in the morning, resulting a nice and relatively empty road all the way 18 km from Buahbatu to Batukarut. Stop by take pictures around terusan Buahbatu and Pasar Kordon. Yes, relatively empty, but for me, it was a boring line to cycle. I really missing the roughness of off-road mountain bike tracks…

IMG_3928kordonBy riding bicycle you will have a passport to stop and take pictures without somebody suspicious on why you take pictures. This is one of the beauty of cycling, it fit with my other passion: photography. Stop by at Pasar Kordon, a busy and hectic parking practice traditional market. If you only bring camera and take pictures, a lot of people will think you are some kind of journalist which covering news on traditional market which being a usual source of long traffic jam around Terusan Buahbatu, Bandung. But with bicycle, even the tricycle rider give a big smile…

Over an hour of simple and flat on asphalt boring ride, reach Banjaran. A small rural city South Eastern part of Bandung. This area been one of the busy textille industry area around the region. Packed narrow asphalt road with an overload traffic.

32ruinsTurn left off the main road, going up the hill to Batukarut. Yes, now you face a partly bad condition road, a lot of holes combined with asphalt. The scenery become more and more interesting since the ride going up to the hill side.

IMG_3941jagung

Trip info:

Riding Specialized Carve 29″ hardtail
tyres: Continental X-King 2.2
uphill: 7/10
singletrack: 4/10
downhill: 7/10
technical: 4/10
endurance: 8/10
landscape view: 6/10

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


WJxc Ride#20 Cikarang-Kutajati-Jatiluhur

76startPagi itu akhirnya berkumpullah empat penggowes di pemasaran Deltamas setelah sebelumnya start dari Alfamidi. Terlambat sejam dari jadwal, hadeuh… alamat bakal menyanyikan lagu God Bless… “Menjilat Matahari” sampe lidah melepuh. Genjot onroad menuju Desa Nagasari dan Pasirkupang, makan pagi dulu ah…

Sebagai yang tidak mengikut salah satu NR ramadhan paling sering diceritakan ulang rasa penasaran saya mendorong dengkul semangat. Nr paling heboh, jalur dari Pangkalan ke AA Bike, hari itu kami melawan arah jalur NR ini. Penasaran terus sama jalur ini, dan meskipun melewati jalan rollng bergantian naik turun, dan sekitar 80% jalan sudah di beton, lumayan kami bisa menghindar dari asap tebal hitam, yang biasa menyapa saat kita gowes onroad dari arah bendung cibeet menuju Pangkalan. Trek alternatif yang asyik menuju Pangkalan.

88taliTentusaja tidak bisa melewati kawasan pabrik semen baru di Pangkalan yang sekarang sudah tertutup. Dari Pasirkupang kita pun akhirnya pitstop setelah mencapai jalan raya Pangkalan tak jauh dari lokasi Pabrik Semen, memang perjalan sampai jam 9an ini adalah perjalanan menuju titik start nanjak. Ya, setelah part ini tidak akan banyak warung tersisa, tidak akan banyak kehidupan normal menyapa.

Jalan raya pangkalan meyambut, dengan truk truk besar dan debu berterbangan. Isi penuh penuh botol minum segera mulai jalan miring keatas menuju tujuan pertama: Goa Bau.

Diawali dengan kampung yang ramah, yang menanyakan, “mau kemana?”… “takut salah jalan lho….” sampai dengan “jalannya jelek…” dan pada akhirnya “ati ati ya dik….”. Selalu tersentuh dengan perhatian dan rasa ingin membantu mereka yang tulus.

01bauKemudian jalan, masih miring keatas, melewati area yang tiba tiba asing. Rasanya terakhir saya lewati masih berupa hutan pohon jati rimbun di kiri kanan jalan, namun yang kami lihat hari itu adalah excavator dan dump truck besar besar yang sibuk lalu lalang. Area ini jadi berbeda samasekali, mengingatkan saya pada awal trek Cioray di Cibinong, yang juga melewati penambangan bahan baku pabrik semen.

Kemudian saya teringat obrolan dengan Pak Tebe tentang area ini. Area pembakaran batu kapur, lokasi di sepanjang sungai. Sangat cocok dengan kisah kerajaan Tarumanegara, yang berdiri di sekitar abad ke-4 dan ada sampai abad ke-7. Lokasi mereka di sekitar sungai Citarum. Tarumanegara = Citarum. Dan dari ditemukannya beberapa candi yang diduga dari jaman Tarumanegara, terlihat bahwa teknologi bangunan mereka adalah teknologi batu bata dan keramik. Area penambangan batu kapur ini bisa jadi sudah berperan penting sejak abad ke-4 alias 1600 tahun yang lalu.

Perjalanan dilanjutkan naik naik dan naik, menembus ‘hutan batu’ sampai akhirnya menjelang jam 9 pagi sampailah kami di mulut Goa Bau.

Buat saya ini adalah kunjugan kedua ke Goa Bau. Kunjungan pertama sekitar setahun yang lalu dengan Omsigit. Goa Bau belumlah terlalu berubah, hanya kesulitan masih sama, jalan akses menuju Goa sangat susah ditemukan. Untung ada pohon besar penanda tujuan.

Istirahat dan cerita cerita, termasuk cerita Omokky yang teringat saat mencari lokasi Goa ini pertama kali bersama tim Omyadi, Paktebe, Kangasol, Omrudy, Omarif dll. Goa ini memang terasa agak ngeri dan suasana mistis. Untung masih terang jam 9 pagi. Omokky menemukan suatu buntalan kain putih berbau bangkai. Hiiii…

13jatiPerjalanan dilanjutkan setelah menghabiskan setengah liter air di depan gua. Nyobain jalan yang ditulis berdasar pengamatan via Google Earth. Pertama masih terlihat sampai akhirnya pohon bambu makin rindang, dahan potong makin sering masuk jeruji dan rantai. Diputuskan setelah setengah jam celingukan; Balik kanan!!

Wkwkwkw…

Trek dilanjutkan bagian klasik yang sering disebut rekan Cikarangmtb sebagai ‘hutan jati’. Jika dari Cherry hutan janti ini ditempuh sebagai turunan, maka dari arah Goa Bau hutan jati ini menjadi tanjakan, singletrek meliuk liuk yang teduh dibawah rimbun pohon jati. Tanjakannya samasekali tidak terjal, singletrack juga seperti ular merayap, aseli… nikmat enjoy… Sayangnya (ada saja deh sayangnya), tanjakannya gak habis habis. Akhirnya kita menepi dan lagi lagi pitstop.

Cukup lama, mungkin dua batang saya lihat Om Royan sampe sempat merokok. Hutannya teduh, jalan makadam akses sebenarnya sudah menjadi seperti trek downhill. Untuk dilewati genjot sudah sangat sulit, seperti sungai kering. Kami melewati jalan yang biasa dipakai motor, asli singletrek yang asik.

Setelah puas istirahat kami melewati puncak bukit dan tampaklah sekarang lembah area Pasircongcot sampai San Diego dan Cherry membentang di bawah. Di sebelah kanan tampak juga kaki gunung Sangga Buana. Eneg juga melihatnya, membayangkan rolling panjang sampai Kutajati nun jauh di seberang. Tapi ada hiburannya, trek selanjutnya adalah turunan singletrack. Widih! The best of Cherry area deh! Sedemikian lama kita turun melewati jalan yang cuma cukup untuk ban motor saja. Turun meliuk dengan beberapa selingan tanjakan. Kata Om Royan, pas turunan lupa hutang, tapi pas papasan dengan motor di jalan sempit tiba tiba ingat hutang lagi. Tak lama kami pun berhenti dulu di bawah pohon asem.

17asemSetelah pitstop pohon asem tidak lagi ada turunan panjang, yang ada adalah rolling naik dan turun saling bersambut. Naik ke puncak bukit disusul dengan turun meliuk ketemu sungai kering, lalu disambut naik lagi. Begitu terus. Sampai tiba tiba Om Tulus dan Om Oki teriak… “… wah, Warung Kurma nih !”

Memperhatikan pohon kurma memang unik juga, pohonnya sih mirip umumnya pohon sejenis palem, cuman ini buahnya kurma. Seperti umumnya pohon di kampung, maka ya tetap diperlakukan biasa, si pohon diikat tali untuk jemuran baju. Ibu pemilik warung bercerita kalo ada yang menawar pohonnya untuk dibeli 7 juta rupiah tapi gak diberi. Yang lebih seru adalah cerita bapak pemotong rumput, cerita masa kecil belio di area ini dimana masih hutan lebat dan banyak ‘owa’ nya. Ingat ‘owa’ jadi ingat perjalanan bersepeda ke Citalahab, ada owa jawa masih tersisa disana. Sekarang punah tuh Owa dari area cherry.

27de-cherryIstirahat kali ini benar benar panjang, kecuali Om Okky, kami semua sempat tidur walau gak lama. Apalagi yang habis melahap indomie telur… Bapak penjual ikan yang dagangannya dipanggul cerita kalao belio jalan bawa ikan dari Jatiluhur. Katanya sudah dilakukan 30 tahun. Waduh! Sempat juga nanya, dan benar ada jalan dari Kutajati ke arah Jatiluhur, rencana trip ini mau lewat jalan itu. Yang agak bikin keder adalah si Bapak membawa golok di pinggang nya. Yaaa… kebayang lah tipe jalan nya.

Setelah dibuai semilir angin pohon kurma, kami pun menyesali betapa miringnya tanjakan dari Warung Kurma keatas. Widiiihhh… dah. Baru kerasa nih aroma Gratisan nya. Tak berapa lama kita pun bisa melihat sekilas waduk Jatiluhur di balik bukit, di kaki Gunung Sangga Buana. Tak lama kita pun sampai di pertigaan sederhana yang dikenal sebagai ‘Cherry’ oleh komunitas sepeda gunung.

Cherry sendiri sudah berubah, pohon rindang yang pas di depan rumah itu sudah ditebang, yang tersisa adalah pohon cherry yang ada di pojok pertigaan seberang rumah. Om Royan yang pertama ke cherry sampai heran dan berkali kali tanya, “benar gitu ini Cherrry nya?”

Gak lama kita cuma poto poto lalu lanjut menyusur punggung naga melewati Kuta Gombong, Kuta Kolambu, Kuta Tandingan dan akhirnya sampai di Kuta Jati. Kuta Jati ada warung di pertigaan, dan seperti trip solo Cherry saya yang lalu, warung ini menyediakan ES BATU! Betul es batu! Setelah membeli di desa berperadaban terdekat, lalu es batu itu dibawa ke Kuta Jati (yang tak ada listrik), dan disimpan di dalam jerami dipendam dalam lubang tanah.

35kutajatiGlk.. glk.. glk.. es nya adem banget di leher. Disini saya menemukan nasi plus telur dadar juga. Widih… mantaaaappp… Udah kenyang, pun sempat tidur lagi.

Weleh, ini trip Gratisan kok tidur melulu yaaaa??? Bangun jam 2 siang dan kita pun mulai genjot lagi, menuju bagian trek yang samasekali tak tampak ada jalan yang jelas dari atas (baca: Google earth). Inilah Gratisan sebenarnya baru dimulai…

Saat mencoba membuat rencana trip ada dua pilihan jalur meninggalkan kutajati menuju Jatiluhur. Kedua jalur memang bukan jalur ‘normal’, bukan jalur doubletrack akses yang pasti akan sampai. Biasanya jalur doubletrack ini memang lebih aman, lebih pasti ada jalannya, namun lebih tidak menarik. Saat kita mencari jlaur singletrack maka kadang diperlukan sedikit imajinasi dan ‘keberuntungan’ saat menjalaninya.

Jadi dari dua pilihan jalur dari Kutajati, keduanya dirancang akan menembus hutan, siang itu kita pilih jalur yang lebih dekat, lebih memotong. Dan diduga memang di bagian tengah trek akan ada menaiki suatu bukit, mungkin akan ketemu trek yang mirip dengan ‘tembok ratapan’ di gratisan#1.

39de-teamBenarkah itu yang akan dihadapi pada kenyataannya?

Disambut jalan mendatar, lalu jalan mulai menurun, tiba tiba vegetasi seputar trek juga berubah drastis, jika sebelumnya adalah kebun/ladang yang lebih terbuka, sedikit jumlah pohon dan cenderung panas menyengat, tapi kita disambut dua hal menyejukkan. Turunan panjang yang asyik masyuk, menembus hutan yang cukup lebat. Baru diketahui kemudian kalo Om Okky yang kebetulan ambil tempat paling buncit di belakang malah merasakan debu dari tiga sepeda didepannya yang seenaknya mengerem. Wakakaka…

Di tengah hutan sempat ada rumah/warung, dan kami pun bertanya, “benarkah jalan ke Jatiluhur?” dan dijawab dengan yakin…”… Bisa dik… terus aja sampai nyeberang sungai kering dibawah”

Kami pun berlanjut turun meliuk kencang melewati keteduhan pepohonan yang makin merapat dan merapat. Sampai akhirnya ketemu bagian yang curam turun dan sampailah di sebuah sungai kering.

Jiaaaa… tau kan apa yang menunggu setelah ketemu sungai? Betol!!! Tanjakan curam!!

Untung kami dihibur oleh hutan lebat yang teduh. Kagum saja masih ada hutan seteduh ini di area seputar Cherry yang gersang dan kering. Kebayang mungkin kata penjual ikan yang kami temui di Warung Kurma tadi, dulunya area Cherry semestinya seteduh dan selebat ini hutannya…

Dibawah keteduhan hutan kami melanjutkan dengan acara dorong dorong sepeda, naik tanjakan berat yang tak mungkin digowes. Oya trek sudah berubah menjadi singletrek setelah sempat sebelumnya waktu ketemu rumah/warung di tengah hutan masih doubletrack. Dorooongg… akhirnya sampai lah di jalan agak mendatar, dan kami bertemu perempatan.

Ada empat pilihan, kiri kanan lurus atau balik kanan wkwkwkw… Ada yang berusaha mencari orang untuk ditanya, ada yang mencari tukang ojek, pengennya sih ada yang bisa njawab, “Jalan ke Jatiluhur kemana ???” Jiaaaa… ditengah utan mau cari tempat bertanya…

Akhirnya berbekal view di rencana trek yang sudah ditulis di GPS (dimana waktu di perempatan ini sudah off-track) diputuskan untuk belok ke kiri, mendekat ke rencana trek semula yang tampak 1-2 km di sebelah kiri depan. Kami pun meluncur melewati singletrek. Dibawah rimbuuuunn sekali hutan. Mungkin karena terbiasa melihat dan merasakan hutan di daerah yang lebih tinggi, biasanya hutan bersepeda gunung kan di ketinggian 900-1400mdpl, sementara ini ada di sekitar 200mdpl. Karakter dan aura hutan nya berbeda. Tidak lagi basah, jadi kerasa kering nya. Trek dan bagian lantai hutan seperti ditebar daun dau kering tak terhitung yang berwarna kecoklatan. Saat melindas diatas daun dan nge rem, kami kadang dikagetkan gesekan antar daun yang licin juga, bikin sepeda slip.

Meliuk liuk turun melindas tumpukan daun, berusaha melihat arah singletrek dari area terbuka sibakan belukar, kadang dikagetkan dengan batu batu besar, direpotkan oleh batang batang pohon yang dekat sekali ke handlebar, beberapa waktu sepeda harus berhenti dan diangkat untuk melewati dan menghindari batu besar atau batang pohon tumbang. Andai saja ini adalah trek yang kami kenal, andai saja hati tidak dibebani kekhawatiran apakah jalan yang sedang dilewati itu benar, pasti ini trek yang luarbiasa untuk digowes. Saya jadi ingat kesan teman teman yang gowes ke Hutan Cidampit di Banten. Katanya ‘hutannya seperti di Amerika Latin”… perasaan yang sama kami rasakan siang itu.

Cihuyyy… masih berusaha menikmati sepeda meluncur turun. Kebayang kalo jalan ini nanti ketahuan salah, mendorong kembali ke perempatan bukanlah kegiatan yang menyenangkan…

Waduh! jalan seperti hilang. Tiba tiba semak menebal! Celingukan akhirnya ditemukan turunan curam dan sungai lagi!!!

“BANTENG !!!” kata saya spontan melihat yang sedang menunggu di sungai

Apa coba, sebentuk mamalia, berkaki empat, punya tanduk melengkung dua, berada di sungai di tengah rimbun hutan antah berantah begini… Aseli saya kaget banget. Sang banteng tampaknya juga kaget setengah mati melihat kami. Sempat berhenti ambil nafas, akhirnya saya amati ternyata ada tali melilit hewan ini. Wah, sudah pasti hewan peliharaan. Kami pun mengendap endap menyeberang sungai yang airnya sedikit sekali, berjarak sekitar 5 meter dari hewan itu. Di seberang sungai kami akhirnya menemui semacam area terbuka persawahan, namun kering kerontang. Tampak masih bekas ditanami padi.

Mulai deh celingukan mencari arah jalan akan kemana, sambil melirik GPS dan berusaha sedekat mungkin dengan rencana trek. Ketemulah jalan buntu pertama, jalannya aseli tidak ada lagi setelah habis sebuah kebun yang ditanami sereh. Di tengah kebun tampak ada gubuk dan disekitar gubuk tampak ada induk ayam dan beberapa anaknya. Pemandangannya muskil banget. Sudah teriak permisi dan punten di seputar gubuk tidak ada jawaban. Kalo saya sendirian tinggal di gubuk tengah hutan begini lalu ada yang permisi kiranya saya juga gak akan jawab.

42buntuJalan buntu pertama ketemu, balik kanan kami pun masuk ke hutan lagi. Nah, lumayan ada singletrack dan dekat dengan track plan. Ikuti terus menerobos hutan kering penuh hamparan daun rontok kami pun ketemu kawasan perladangan yang lain. Buntu lagi. Rupaya begini cara hidup perambah hutan ya. Mereka mencari sungai, lalu bertanam mengandalkan air dari sungai. Kembali kita bertemu semacam gubuk namun lebih sederhana. Yang seru adalah gubuk ini dikelilingi semacam obor. Obor kecil diarahkan menghadap keluar gubuk yang berdiri di atas panggung. Hadeuh! Gak lucu banget nih kalo terpaksa menginap disini membayangkan kira kira obor mengelilingi gubuk ini gunanya untuk apa…

43menitiRapat kecil, meskipun track plan menunjuk maju terus dan menaiki sebuah bukit “yang jangan ditunjuk tunjuk” kata member tim, namun referensi dari peta topografi yang entah bagaimana bisa mendarat di iphone Om Tulus membuat kita memutuskan balik kanan menuju perempatan awal… Dengan lesu campur khawatir tim pun melanjutkan acara dorong sepeda dalam hutan. Cuma Om Okky yang wajahnya ceria habis sambil bilang… “naaahhh… ini baru gratisannnn….”

Dengan muka sedih dan kuyu, kami pun mendorong sepeda berbalik arah, waduh aseli malas banget membayangkan turunan panjang yang sekarang berubah jadi tanjakan panjang ke perempatan tempat kita nyari tukang ojek tadi di atas.

Tanpa diduga saat kita masih di pesawahan yang kering, tampak tiga orang mamang mamang mendekat dari kejauha. Alhamdulillah… akhirnya ada tempat bertanya juga. Lega nya kami akhirnya bertemu sesama manusia setelah dari tadi ketemu “banteng” lalu ayam dan terakhir obor pengusir babi hutan. Segera kami dorong dorong Om Okky untuk beraksi dengan bahasa Sunda nya… biar lebih pas….

Baru kemudian saya pahami, jika kita melewati hutan, malah singletrek akan tampak diantara rerimbunan belukar dan pohon. Tampak kemana jalan setapak menuju. Ini adalah jalan yang diimpikan pesepeda, sayangnya jalan seperti ini sangat sulit untuk bisa dilihat dari atas, untuk direncanakan di Google Earth. Sebagai ilustrasi, jika kita perjalanan naik mobil setir sendiri dan masuk ke suatu kota, kita sering kesulitan menemukan jalan keluar dari kota, menuju kota selanjutnya. Hal yang sama kira kira, saat melewati singletrack dalam hutan kita relatif benar, namun saat memasuki area peladang perambah maka kita akan kesulitan memilih dimana jalan keluar area perambah dan kemudian masuk ke hutan lagi.

48teduhAkhirnya dengan sedikit memohon kami berhasil membawa seorang bapak bapak tua, tanpa baju dan hanya bercelana kolor plus golok, mengantar kami menuju ‘jalan setapak yang benar ke Cisarua’, ya kampung ini yang sering disebut sejak di warung Kutajati. Kami pun dibawa melewati pematang sawah kering, melewati kebun ubi jalar yang ‘dijarah’ kawanan babi hutan, sampai cerita si Bapak yang kadang menunjuk ke rerimbunan hutan sambil bilang kalo ada monyet. Fyuh!! Ternyata hewan hewan liar ini masih bertahan hidup di tengah hutan yang terjepit peradaban ini…

Akhirnya kami pun berpisah berterimakasih sambil dengan percaya diri dan hati jauh lebih tenang melewati jalan setapak masuk kembali ke hutan. Melirik jam, sudah menunjuk lebih jam 4 sore…

Suasana bercanda tim sudah lebih santai, sudah mulai bisa mentertawakan diri sendiri. Meskipun seputar trek masihlah hutan bergaya kering dan mirip hutan Amrerika Latin yang kita lihat di tivi, namun kami sungguh dalam kepercayaan diri besar kalau akan segera bertemu peradaban, yaitu Cisarua…

Sempat bertemu beberapa pertigaan dan bahkan perlimaan yang bikin galau memilih, namun jejak motor trail dan juga akhirnya muncul jejak kendaraan 4WD offroad di tengah jalan ber lumpur yang sudah mengering, makin membuat kami yakin kalau kami sedang mendekati peradaban.

Dan setelah selingan nanjak lagi saya bayangkan segera kami bisa melihat air waduk Jatiluhur dari ketinggian punggung bukit. Dan benar… Cihuy… jam 5 sore lebih kami sudah bisa menyentuh kecipak air waduk jatiluhur ambil air wudhu. Aduuuuhhh lega nya tak terkira… perjalan yang katanya ‘finding the dead end’ alias ‘nyari jalan buntu’ ini pun dengan sukses menemukan banyak sekali jalan buntu sebelum sampai di waduk Jatiluhur. Disinilah mulai menghidupkan hp dan kembali mengirim foto waduk ke milis…

49jatiluhSetelah makan malam dengan lauk ikan dari waduk jatiluhur plus sambel dan kecap, kami tiduran sambil melewatkan maghrib. ZZzzzz…. eeee ketiduran lagi. Dasar trip kebanyakan bobo nya nih. Padahal perjalan pulang masih panjang

Singkat kata jam 9 malam akhirnya kita menemukan tim ini di dam besar sungai Citarum. Sungai citarum yang sedemikian lebar dibendung dan inilah rupanya dam awal dari jalan panjang pulang kita di trip kali ini: kalimalang.

50sukadiPerjalanan pulang sepanjang kalimalang lebih dari 45 km kita jalani onroad plus sedikit variasi offroad yang berdebu, kering, panjang dan bikin pantat serasa pengin dilepas dan ditaruh di backpack. Kalimalang di kiri trek yang serasa tak ada habisnya, campuran antara mobil biasa, motor dan kadang truk kontainer menyalip dari kanan kami. Dengan sekitar 3 kali pitstop betapa bahagianya saat ketemu jalan raya Pangkalan. Serasa sudah dekat sekali ke rumah.

Jam menunjuk sekitar 11 malam saat saya kelaperan mengisi perut lagi di warung sate dekat rumah. Seluruh perjalanan dari rumah ke rumah 96 km. Ditempuh dari subuh sampe jam 11 malam.

Trip info:

Riding Specialized Carve 29″ hardtail
tyres: Continental X-King 2.2
uphill: 9/10
singletrack: 9/10
downhill: 8/10
technical: 6/10
endurance: 9/10
landscape view: 7/10

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


Ride#19 Batu Loceng Hari Merdeka

3IMG_3710paradeBandung, 17 August 2013

Ini adalah hari sabtu, tepatnya sabtu pertama setelah lebaran, dan juga bertepatan dengan 17 Agustus, peringatan hari kemerdekaan. Sudah sejak akhir puasa mendambakan bisa gowes liburan lebaran, tapi tidak terlaksana, malahan sepeda gunung tertinggal seminggu di Bandung.

3IMG_3716bayarIni juga sebenernya gowes yang simpel saja, gowes kangen kangenan sama Bandung Utara. Melihat timeline, masak iya terakhir kali ke Bandung Utara genjot adalah Kolozal#10, November tahun lalu. Weleh. Padahal hampir tiap weekend ke Bandung.

Tambah lengkap lagi ini adalah gowes perayaan. Sepanjang jalan dari Buahbatu sampai Cicaheum bertemu banyak perayaan, karnaval, seru nya berbagai lomba dan kibar kibar raya bendera aneka warna.

3IMG_3720shadow
Merasakan kembali kemeriahan, karena kemeriahan serupa tidak terlalu saya rasakan saat di sekitar Cikarang. Otomatis terkenang masa kecil saat 17an adalah saatnya sibuk menghias sepeda, saatnya siap mentap melahap kerupuk, dan saatnya menjaga kelereng tidak meleset dari sendok di mulut.

3IMG_3727rayaDari Cicaheum pun mulai jalan agak miring, melewati Saung Angklung Udjo (yang juga mengadakan upacara) mulai deh genjot trek klasik Caringin Tilu. Matahari belum tinggi, udara segar. Sesegar terdengarnya kemeriahan raya kemerdekaan dari masyarakat sekitar. Dengan bak terbuka berbondong mereka menuju dekat kantor kecamatan. “…ada upacara bendera dik…” begitu jawaban yang saya dapat waktu bertanya. Terbayang kembali, kapan ya terakhir kali saya ikutan upacara bendera?

Kemiringan trek pembuka ke Caringin Tilu pun tidaklah terlalu terasa dengan berbagai hiburan visual yang tersaji. Emosional juga karena kemerdekaan. Sekaligus sedih, sampai kapan ya enthusiasme raya merdeka seperti ini akan bertahan?

Berhenti motret sering dan pitstop jadi sering juga. Sesama gowes pagi itu ada ibu ibu dengan sepeda hardtail dan full gear termasuk sepatu SIDI, belio tampak berlalu tetap gowes semetara saya mencoba menangkap raya merdeka yang mengharukan ini.

3IMG_3663gununganGenjot pun akhirnya memasuki kawasan yang paling memorial, kawasan yang ada rumah/villa besar di sebelah kiri, ini villa dari jaman baheula memang selalu tugasnya menjatuhkan mental, ada tulisan besar sekali “Km 4,8″. Kebayang segala hosh hosh kaki kraam jalan super miring dan ternyata kita mendapat hadiah informasi yang tidak kita “inginkan”. Ternyata baru 4.8km dari awal jalan ini dekat Cicaheum.

Sangat minim frekuensi genjot terasa benar. Entah berapa kali pitstop, jadi ingat waktu lalu pernah pegang ‘personal record’ cuma 2 kali pitstop dari Cicaheum. Entah berapa kali ya saya berhenti mengambil napas, sampe malu mau nyeritakannya, malas menghitung jumlahnya.

3IMG_3680caringin3IMG_3688caringin3Cuaca mendukung sekali, sedikit terik, tapi terang sekali. Bandung dataran tinggi, yang sebenarnya adalah sebuah cekungan itu, tampak anggun dibawah sana. Gunung gunung berderet di seberang Bandung pun tampak jelas banget; Gn Papandayan dan sekitarnya, Gn Puntang dan sekiranya Pangalengan disebaliknya, Gn Patuha Ciwidey dan sekitarnya. Lumayan dapat pemandangan indah sambil menurunkan kembali degub heart rate.

Akhirnya dengan tergopoh gopoh sampailah di area warung sekitar pohon beringin kawasan Caringin Tilu. Jadi teringat kembali gowes pertama kali ke Caringin Tilu bersama Kang Indra…

3IMG_3736kp-buntisCukup lama di kawasan Caringin Tilu ini. Makan pagi, karena belom sempat tadi waktu berangkat, juga bungkus makan buat nanti siang. Wah harga nasi bungkus nya harga sama dengan di Jabotabek, jadi kerasa mahal. Mungkin karena ini kawasan wisata. Tampak benar dibandingkan 3-4 tahun lalu saat pertama kunjungi jumlah warung pinggir jalan mungkin sudah 3 kali lipat. Kebayang kalau malam hari libur kawasan ini bakal jadi tempat pacaran. Cuman bisa berdoa semoga tidak berkembang jadi lebih buruk.

Nama kawasan ini yang terkait dengan tiga beringin, tapi kok saya hanya melihat dua pohon beringin besar ya dari tadi. Genjot pun dilanjutkan dan kembali masuk kampung nostalgia kembali, Kampung Buntis.

3IMG_3746puncakSetelah kampung ini masuk hutan. Wah, gowes sendirian begini terpikir juga untuk balik kanan, jalan menurun sampai rumah. Tapi segera saya ingat kembali tadi pagi waktu nulis track, membaca kisah kisah tentang Batu Lonceng. Misteri dan keunikannya, entah kenapa tetap lanjut pengen menuju Batu Lonceng. Kemudian tak lama datang 5 orang pesepeda TERJAL. Hosh hosh keringatan mereka, kebayang gowes nanjak push ala mereka. Pilihan buat ke trek menurun ‘Firdaus/ Tamiya’ pun sempat menggoda. Tapi ayo kuatkan niat dan segera berangkat berangkat lagi.

Sempat disalip oleh segerombolan motor trail, trek bagian masuk ke hutan ini semestinya jadi trek yang menyenangkan dan menantang. Singletrek uphill, teknikal, dan panjang. Sayangnya sendirian di singletrek tengah hutan dan mulai gerimis mempengaruhi juga kenikmatan genjot. Bagaimanapun rasa khawatir genjot sendiri mengurangi kenikmatan. Ujungnya play safe, tidak push padahal trek rideable dan menantang. Sampailah di ujung tanjakan sebuah warung kecil yang ramai dengan ATV, fourwheels, motor trails. Hanya saya yang pesepeda. Mulai buka bekal dan makan nasi bungkus dari Caringin Tilu.

3IMG_3753batuloncengBagian selanjutnya dari trek setelah melewati warung tempat istirahat, yang posisinya di puncak Sesar Lembang ini pun benar benar hiburan sekaligus tantangan yang mengasyikkan. Di ujung tanjakan kita sempat ada di titik dimana sebelah kiri kita bisa melihat dataran tinggi Bandung dan disebelah kanan datarang tinggi Lembang. Turunan singletrack ‘babagongan’ ke arah Kampung Batu Lonceng sungguh balasan yang setimpal dari segala tanjakan yang mendera dari Cicaheum. Akhirnya sampailah di kampung Batu Lonceng dan mampir ke rumah Bapak Juru Kunci Batu Lonceng.

Ngobrol bersama Bapak Juru Kunci, tentang Batu Lonceng yang berbentuk seperti Lonceng, tentang legenda batu akan berbunyi seperti lonceng saat ada bahaya mendekat ke desa, juga tenang legenda batu yang merupakan senjata bagi ksatria Kerajaan Galuh Padjadjaran. Cerita juga berkembang tentang tuah Batu Lonceng yang mengundang pendatang dari penjuru nusantara, bahakan mancanegara, untuk datang berkunjung. Ketika kemudian saya share sebagian foto di facebook, ada respon dari rekan ‘komunitas Riset Cekungan Bandung’ bahwa nama yang benar adalah ‘Batu Loceng’ bukan ‘Batu Lonceng’.

3IMG_3760ride19Setelah istirahat sekaligus menghilangkan rasa penasaran pada Batu Lonceng, sayangnya tidak tepat waktunya buat menengok batu nya yang berposisi 1km dari rumah Bapak Juru Kunci, genjot pun dilanjutkan ke arah kebun kina Palintang. Saya mengira gowes akan nanjak tidak setinggi waktu di puncak babagongan Batu Lonceng, namun ternyata meskipun jalan akses kebun kina lebih landai, namun ujung tanjakan tetaplah sekitar 1400mdpl juga sebelum meluncur turun lewat desa Palintang menuju Ujung Berung.

Trip info:

Riding Specialized Carve 29″ hardtail
tyres: Continental X-King 2.2
uphill: 9/10
singletrack: 7/10
downhill: 8/10

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


Pait Ride Sore Puasa

IMG_3678kolamCikarang, 4 Agustus 2013

Salah satu yang menarik dari puasa adalah olahraga genjot sepeda gunung sore sore. Ekstasi nya berbeda sekali dengan genjot sepeda gunung di hari biasa, tambahan mulut yang kering dan pahit, leher yang garing, napas yang lebih berat, juga kondisi fisik yang relatif menurun karena frekuensi bersepeda di bulan puasa yang berkurang.

Tertunda tunda dari awal puasa, akhirnya sore itu berhasil mendapat teman, Om Hanif, untuk genjot sore puasa. Kami pun mengarah sepeda ke area Cibatu. Jalanan sudah relatif sepi, karena musim mudik sudah dimulai, ini genjot menjelang lebaran, saat area Cikarang sudah mulai berangsur sepi.

Sambil ngobrol ngalor ngidul, terutama tentang rencana gowes luar kota di bulan November nanti. Ini adalah tema yang paling seru, merencanakan trip, apalagi trip ke tempat jauh yang tidak bisa sepenuhnya kita survey seperti ini memang beda sensasinya.

IMG_3682situSetelah area Cibatu dan pintu tolnya yang (sangat sayang sudah siap tapi belum difungsikan) kita masuk blusuk blusuk lewati jalan penggembala sapi. Akhirnya kita masuk ke area Cibatu lanjut ke arah Kota Deltamas lewat akses jala beton, yang semestinya adalah akses toll-road yang sudah siap.

Ok, sore-sore gowes pait tidak jauh, namun masuk ke trek ‘timunsuri’ yang selama ini tidak terbayang kalau ada disitu, ada di dekat hidung kita setiap waktu. Saya sendiri ragu apa yang dimaksud Pak TeBe dengan ‘timunsuri’, karena memang kita tadi gowes pas jam nya lagi nyuci timun suri… wkwkwk…

Meiliuk liuk singletrack, timun suri tampak merekah di kiri kanan trek, tak jauh tampak telaga danau yang sambung menyambung, menyelinap di rerimbunan pohon bambu , pohon pisang dan juga tentunya ggb pematang sawah dan meniti jembatan jembatan kayu…

Sayang sekali tidak membawa GPS, padahal ini part timunsuri sangat menarik untuk dilanjutkan dan terus digenjot asik. Sebut saja part ini adalah Situ Cibinong Kidul. Memang bagian trek, yang sekarang baru dimanfaatkan oleh para pemancing, adalah sisi selatan dari Situ Cibinong. Salah satu situ yang masih tersisa (banyak yang hilang, dimanfaatkan menjadi sawah, dan diurug jadi perumahan) di area Cikarang. Bahkan di awal musim kemarau seperti sekarang pun situ ini memiliki banyak stok air.

Akhirnya, meski leher kering dan mulut benar benar pait saat speeding menuju rumah, sekitar 9km dari Situ Cibinong ini, saya temukan gowes sore sore puasa memang layak untuk selalu dicoba dan dilanjutkan. Kembali jadi teringat gowes gowes berat di puasa tahun lalu selama di Lombok. Tahun ini gowes pait nya kurang semangat…

Cuma bisa menyesal karena bulan puasa dengan libur kosong cukup panjang sebelum lebaran telah berlalu…

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


WJxc Ride#18 – CikarangMTB Kolozal#11

Catangmalang, 1 Juni 2011

Post ini adalah kompilasi cerita kesan Cikarangmtb Kolozal#11 Catangmalang Cariu seperti dituturkan di milis cikarangmtb@yahoogroups.com

IMG_3013helm-istimewaExcitement khas kolozal, kayaknya tidak pernah se heboh ini. Tim AABike1 dan AABike2 dengan omratman pemegang peranan penting, dan dua staff AABike masih cukup hijau menghadapi kolozal. Sungguh seru melihat lalulalang orang, sepeda, mobil, truk sampai excavator di depan AABike1 malam itu. Meskipun sudah sering ikutan Kolozal, gelegak jiwa menghadapinya tidak pernah berubah dari kolozal satu ke berikutnya. Semua terpusat di AABike1, sepenggal toko di Tegaldanas.

Flashback saya teringat excitement Om Asol membuka rolling doornya, waktu itu masih rumah biasa mirip bengkel Pak Rahmat di sebelah AA Bike 1. Om Asol panjang lebar menceriterakan rencana belio…

Kembali ke Kolozal, akhirnya kita pun sampailah di Sabtu pagi yang heboh. Berbagai macam jersey berbagai aliran berbagai gaya berkumpul untuk dikocok kocok dengan bis, truk dan kendaraan sampai ke Catangmalang, titik start kolozal di titik 1000mdpl. Sempat ada bis yang perlu minum karena kepanasan dan sebagainya, menambah gelegak jiwa semakin tak terkendali.

Pengen cepetan staaarrrrttt…

IMG_3023eskaTitik start seolah memberi peringatan, selebar halaman rumah makan tempat kita start dipenuhi dengan batu pecah. Tempat start pun sudah makadam sekali. Kembali teringat cerita panjang Papa TB tentang Deandels, Napoleon, kemudian Tanam Paksa kopi dan akses jalan makadam Kumpeni…

Start pun kita akhirnya disambut turunan nyuuuuussss.. onroad mulus…

Pas banget dengan iklan; “Pada dasarnya turunan”

Penjajahan Kumpeni memang kejam. Terbayang kan kalau kita tidak punya tanah garapan, tidak bisa menyerahkan hasil 20% luas tanah, maka kita akan punya kewajiban kerja paksa selama 66 hari dalam setahun (20% dari waktu). Kerja paksanya salah satunya ya jelas membuat jalan jalan merambah pegunungan, seperti yang pagi itu dijejaki para peserta kolozal#11. Miring keatas menuju pertigaan Arca.

Membawa sepeda menjadi beban, banyak peserta memilih melakukan hobby lain yang lebih menarik, berjalan kaki…

IMG_3031setar-membahanaSambil berhenti di keteduhan sebuah pohon avatar di pinggir jalan yang mulus bin miring ini, maka saya berusaha menyemangati rekan rekan dengan mengeluarkan kamera. Entah apa itu ya fungsi kamera yang ajaib, banyak peserta tiba tiba jadi kuat dan gowes lagi di tanjakan setelah melihat ada kamera beraksi.

Segala iklan ‘Pada dasarnya toeroenan’ yang beredar di milis kok jadi lupa ya? Yang ingat adalah semua itu merupakan hoax yang tercela. Hmmm… hoax informasi sih bukan salah yang nyebarin deh, salahnya juga yang percaya pada kebenarannya.

Tapi coba kembali bayangkan tahun 1800an, batu masih digerakkan dengan kereta kuda atau kereta sapi, atau malah pecahan pecahan batu itu harus dipanggul satu demi satu. Ditata di tanah hutan hujan basah yang masih banyak ularnya.

Sebenernya sejak ratusan tahun yang lalu sudah penuh drama area ini…

IMG_3061nyenderKita pun berhenti di pertigaan Arca, titik tertinggi trip ini di 1100mdpl. Saya bilang, “berikutnya turunan panjang 5km…” dan tidak ada satu pun peserta yang tampak percaya dengan informasi ini, mungkin dikira hoax…

Berbelok kekiri, kami pun mendapat hadiah yang berlipat ganda. Tampak di sebelah kiri trek adalah indahnya terasering sawah dan gunung batu di kejauhan. Gunung Batu tampak rendah dan jauh. Terasering sawah menunjukkan kalau air tanah masih mengalir kuat ke bawah. Ternyata hutan yang tersisa di atas/kanan trek, masuk kawasan Taman Nasional Gede Pangrango, masih menghidupi. Masih dengan setia mengalirkan air dari perut bumi untuk menghidupi.

Hadiah kedua adalah turunaaaaannnn….

Tinggal masalah nyali saja. Seberapa lama akan melepas rem. Seberapa jauh dan seberapa cepat berani meluncur. Hari itu cuaca tidak secerah survey day genjot scooby-doo. Jika cuaca clear kita akan dengan sangat jelas bisa melihat dari jajaran perbukitan Cioray/Batutapak/Cibinong sampai jauh tiga tower Gunung Parang di jauh di belakang Sangga Buana.

IMG_3077arcaSempat saya berhenti karena salah seorang Om dengan sepeda POLICE mengalami rd-nyelip ke roda belakang. Ada 30menit an menunggu sampai aman ditangani Om Ratman yang pas jangkar di belakang saya. Sambil berhenti di lokasi sepeda rusak ini saya perhatikan di sebelah kanan ada lembah sungai Cibeet. Ada air terjun kecil indah di kejauhan sisi Cianjur seberang sungai. Susah untuk lupa dengan trip GRATIS yang sudah membuat kami menyusur lembah itu.

Jalan aspal tidaklah panjang, kita segera kembali ke jalan makadam. Siapa yang membuat makadam? Jaman pemerintahan Pak Karno? Pak Harto? Pak Habibie Pak GusDur Bu Mega Pak Beye? Bukaaannnn… Ini adalah buatan Kumpeni penjajah Belanda. Woro walondo kalo kata orang Jawa. Di sebelah trek akan dengan mudah kita temukan peninggalan ratusan tahun yang lain, pohon cengkeh, pohon kopi. Sekarang pohon pohon ini adalah penlindung perindang dan hanya menjadi hasil sampingan. Pada masa tanam paksa, Kopi adalah komoditi yang mengkilau dan dibayar sangat mahal oleh para abtenar di Eropa. Dalam 70an tahun masa Tanam Paksa Belanda berubah dari negara yang hampir bangkrut menjadi negara kaya raya yang terpandang di Eropa.

Kemudian saya standby menjangkar-i Om Siswo di pertigaan Karedok. Dengan petunjuk jalan yang jelas… ke kiri 1km Griya Siliwangi…

IMG_3085kopi-gatotkacaKepada setiap yang lewat saya sampaikan, “Ayo silakan belok kiri Om… ada tempat makan dengan pemandangan indah”
Ada yang tanya, “lho… tapi kok jalannya batu begini Om?”
Saya jawab dengan senyuman… “silakan dinikmati Om….”

Pertigaan Karedok ini sungguhlah fenomenal. Pada saat survey scooby-doo track, lebih dari separuh member tim survey terbius enaknya turunan sambil juga terbius tidak memperhatikan GPS unit udah jerit jerit minta belok ke kiri. Akibat tidak mengindahkan belokan kekiri maka ada fraksi karedok yang makan karedok dulu di dasar turunan ini, lebihkurang dua kilometer ke lembah sungai Cibeet. Turun 2km sih ok, nah nanjak kembalinya itu lho…

Belokan kekiri memang tampak sekilas tidak menjanjikan. Jalan berubah jadi berbatu makadam campur tanah. Tapi justeru itulah keahlian trekbuilder. Belio bisa melihat dari satelit bahwa pemandangan di puncak bukit akan spektakuler… Salah satu pemandangan terindah dari trip kemarin.

IMG_3100berkah-deritaMenujuk puncak memang bukanlah perkara mudah untuk diucapkan, dan juga digowes. Setelah beristirahat menunggu jangkar berikutnya dan yang muncul adalah Eyang (lho, udah dekat sapu dong?), maka saya ambil napas dan mulai menjilati tanjakan ini. Menikmati cenutan demi cenutan di betis dan paha. Menikmati setiap jengkal dan sangat malas turun kaki.

Tanjakan ini sebenarnya adalah tempat terindah mengambil foto, tampak dari foto foto karya PakDe 3 yang mengambil spot sangat mirip dengan spot foto Om Hanif saat gowes survey. Foto sedang menanjak offroad dengan latarbelakang Gunung Gede Pangrango akan jadi foto yang indah sekaligus gahar. Tapi sudah mengambil banyak foto, termasuk ulang naik turun action saat survey, hari itu saya menikmati tanjakannya.

Sepanjang jalan saya menginformasikan kepada teman teman yang istirahat untuk lanjut karena tanjakan tidak panjang lagi, cuma 50meter. Hehehe… kayaknya sih tidak ada yang percaya ya dari jawaban sekilas dan bahasa tubuhnya…

Nah, kok makadamnya hilang? Apakah kumpeni tidak berperan lagi disini? Tentusaja tidak. Tampak di ujung tanjakan, kita rolling sedikit di kebun (lagi lagi) kopi. Jalan makadam juga tampak masih jelas di puncak punggung bukit sampai ke tempat makan siang; Griya Siliwangi.

IMG_3109bocahTempat istirahat sendiri sangatlah strategis dan indah. Salut untuk kegigihan Eyang yang pada akhirnya memungkinkan 150orang bisa diperbolehkan masuk ke area ini oleh si empunya.

Kumpeni merintis jalan jalan akses, untuk logistik kebun kebun emas hijau mereka. Ya, emas hijau. Masa 1800an adalah masa kejayaan komoditi yang sekarang menurut kita ‘biasa’ seperti teh, kopi, cengkeh, pala adalah primadona ekonomi dunia. Jika sekarang negara negara berperang untuk mendapatkan akses pada energi, maka pada masa jalan jalan akses ini dibuat, Inggris Perancis dan Belanda berperang dari lepas pantai pulau Jawa sampai dataran Eropa untuk memperebutkan akses pada emas hijau ini.

IMG_3126mushallaMulai meninggalkan Griya Siliwangi saya ingat benar, trek nya mulai kasar, mulai galak. Area ini adalah area yang trek nya makadam namun tampak cukup jarang dilalui kendaraan. Bregajulan makadam susunannya sangat tidak sopan. Selain makadamnya tidak sopan, juga perpaduan tanjakan dan turunan sangat mungkin membuat paha cenut cenut. Meskipun begitu kami diberi hadiah turunan jalan tanah panjang yang meliuk meliku flowing. Mengingatkan pada turunan serupa di daerah bandung utara juga di daerah hambalang. Turunan tanah ini adalah hiburan dan hadiah yang setimpal dibandingkan tanjakan makadam ke puncak Griya Siliwangi tadi.

Setelah meliuk tanah lalu makadam rolling bergajulan menghujam turun ke arah lembah sungai Cibeet hulu, kita disambut lagi dengan nanjak makadam bergajulan juga. Sampai ke titik kumpul berikutnya yaitu ‘Warung Mertua’. Mertua siapa??? Nanti juga menantunya jawab sendiri kok…

Kebayang ya jaman 1800an area ini masih dikuasai oleh tuan tuan tanah, keturunan bangsawan dan keturunan orang sakti penguasa wilayah. Kumpeni mengerahkan para pekerja tanam paksa untuk membuat akses meliuk liuk membelah bukit dan gunung. Untuk meyakinkan bahwa semua hasilnya lancar sampai pelabuhan terdekat untuk segera menjadi pundi pundi tambahan kemakmuran negeri penjajah.

IMG_3140buntelanAkses jalan dan logistik adalah peninggalan pola berpikir Deandels yang sudah berpikir seperti ahli supply chain jaman sekarang. Saking fenomenalnya pemikiran Deandels sehingga Napoleon pun merekrutnya ke Eropa untuk diajak perang ke Rusia… dan kalah…

Nobody perfect!

Seperti juga kampung kecil rumah mertua ini, kampung ini hanya bisa ada dua jalan akses, lewat tempat kita nanjak itu dari arah Cipanas Cianjur dan juga lewat tahap berikutnya perjalanan trek Kumpeni ini… sebuah singletrek makadam meliuk yang saat GRATISAN diberi nama ‘tembok ratapan’…

Lepas dari Rumah Mertua, sudah menunggu tanjakan di depan. Kelihatan jelas dari tempat istirahat. Banyak yang bertanya, “Kenapa gak kekanan aja Om…?”. Jalan kekanan dari arah Rumah Mertua memang tampak sangat landai dan menjanjikan. Tapi dua kali lewat sana selalu sekitar jam 10 malam sampai di masjid kubah hijau. Padahal jika berbelok ke kanan dan melewati kebun kebun kopi yang relatif masih aseli. Pohon kopi yang mungkin sudah berusia ratusan tahun… jejak Kumpeni akan lebih terasa…

IMG_3141antri-dongSesampainya di ujung tanjakan, sudah menunggu pemandangan indah, mejelang sore hari ke arah lembah Cariu dengan latarbelakang pemakaman Quiling dan pegunungan SanggaBuana. Banyak yang tampak kaget waktu diberi tahu di seberang lembah adalah Quiling… “Jadi kita lanjut nanjak ke Quiling Om?….”

Turunan ke arah warung Cipadu alias warung kirix sangatlah mengasyikkan dan sekaligus juga emosional. Jalur dari Warung Mertua sampai dengan masjid kubah hijau adalah jalur nanjak trip GRATIS. Susah sekali saya membayangkan pemandangan ratusan orang bergeletakan muka mulai kelelahan di Warung Mertua. Waktu pertama kami menginjak warung ini saat GRATIS, saya tidak membayangkan akan ada pesepeda lain yang bersedia dijerumuskan bersepeda sampai disini. Tidak membayangkan ada yang bersedia, dan lebih tidak tega lagi untuk mengajak kesini… Feeling seperti ini yang saya pelajari dari Pak TB… susah sekali dijelaskan.

IMG_3151bregajulTurunan asoy dan teknikal, singletrek makadam meliuk liuk menantang, berbahaya sekaligus menggemaskan. Asyik luarbiasa dijalani dengan sadel yang diturunkan. Seperti sebuah part yang emosional dan penuh perasaan ‘pembalasan’. Saat trip GRATIS kami berjalan dari arah sebaliknya. 95% dorong… Jadilah part ini mengenang kembali ratapan ratapan kami saat menanjak…

Warung kirix pun tampak saat semakin sore hari nya…. Kembali kita disambut oleh jalan makadam berbatu ala Kumpeni untuk trek selanjutnya

Dari warung kirix kita disambut turunan yang panjang, namun menakutkan. Batu batu makadam di turunan yang sangat curam. Waduh. Ekstra konsentrasi dan ekstra hati hati. Di beberapa tempat turunan ini malah ada air mengalir. Basah menambah trek jadi semakin berbahaya. Aseli, kalau tidak ingat harus cepat menghindar dari malam, karena tidak bawa lampu, maka saya akan pilih tuntun nih turunan.

Segera ketemu jembatan dekat kuil shaolin. Disini saya menggantikan rekan jangkar depan dan mulai mengarahkan rekan rekan yang lain untuk berbelok. Salah satu dari peserta sambil menengok cyclo meternya, bertanya, “Lho, Om… masih 10km lagi, lewat kanan ini benar??”… senyum simpul sambil menjawab, “Betul Om, 10km lagi rolling makadam… selamat menikmati”. Wajah campuran antara maklum dan menyesal serta ngeri segera saya lihat.

IMG_3197dawnSetelah pada akhirnya saya bisa bergantian dengan Om Ratman di pertigaan ini maka saya agak push untuk sejarang mungkin berhenti supaya gak kemalaman. Siksaan yang lumayan juga di tengah trek makadam Kumpeni ini rolling naik dan turun meskipun relatif masih banyak turunan dari tanjakannya. Di bagian trek ini pada akhirnya memakan korban sampai harus cedera. Memang trek nya membius, terutama di turunan kita pengennya lepas rem karena tau akan ada tanjakan lagi berikutnya.

Tapi akhirnya kena gowes gelap gelapan juga kira kira 1km menjelang kantor desa Cibadak matahari benar benar telah bersembunyi dan tinggal gelap jalannya saja. Menjalani dengan ikhlas part onroad Cibadak dan bonus tanjakan panjang nya maka berhenti di sebelah lapangan bola. pertigaan terakhir.

Sempat lama kongkow dan menunggu sampai akhirnya dapat kabar tentang kecelakaan sampai patah tangan. Waduh… tanpa bisa membayangkan seberapa parah rekan yang patah akhirnya menyegerakan ke titik finish dan dengan mobil menjemput evakuasi. Akhirnya kebagian evakuasi Aiko San dan penerjemahnya. Kasian udah kepayahan banget. Benar benar tak tenang sepanjang finish sampai akhirnya mendengar kabar jika Om Atang yang cedera sudah langsung meluncur ke Cikarang…. Semakin tengan saat melihat tim penyapu dengan wajah cerah nyampai di titik finish…

The Cikarangmtb KOLOZAL#11 organized by: Cikarangmtb@yahoogroups.com
Logo cikarangMTB

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


WJxc Ride#17 – Gn Terate, Seminggu sebelum Kolozal#11

finishIMG-20130526-01068rCariu, 26 Mei 2013

Ijinkan saya memulai catatan kecil Cikarangmtb Kolozal#11… semoga tahan semangat nulisnya sampai tamat, karena pas nulis ini ngantuk banget dan juga sekujur tubuh bagian bawah cenut cenut semua. Sebut saja betis, paha, pantat, punggung… tapi herannya tangan kok tidak cenuth cenuth… bukti betapa enaknya gelindingan Ki Lobang… heheh…

Kisah berputar balik ke tahun 1800 saat VOC resmi dibubarkan. Pemerintah Belanda pun mengalami tahun yang berat dari 1800-1830 diantaranya ditandai dengan jatuhnya Batavia ke tangan Inggris, dikuasainya negeri Belanda oleh Napoleon dan Perancis, perang Diponegoro yang menguras, perang Belgia yang menjadikan berdirinya negara Belgia terlepas dari Belanda. Singkat kata akhirnya pemerintah Belanda menerapkan Tanam Paksa pada komoditi ekspor unggulan kala itu, diantaranya tebu dan kopi. Secara peraturan 20% dari tanah milik harus ditanami dengan komoditi ini. Kopi, yang bukan tanaman aseli Indonesia, aselinya berasal dari sekitar Ethiopia, ditanam secara meluas di Indonesia.

finishIMG-20130526-01077rLalu meloncat ke H-6 kolozal, adalah hari Minggu. Dengan niatan ‘mencari trek penutup yang lebih menampar’ maka tim kecil bergerak ke arah masjid Kubah Hijau, mencoba hidangan yang direncanakan sebagai hidangan penutup trek Cikarangmtb Kolozal#11. Ya, betul, dicari trek melambung, memutar sedikit agar lebih menampar.

“Kayaknya 27km terlalu pendek deh… ayo kita coba carikan jalan melambung”

Akhirul kata, pada akhir H-6 itupun diputuskan bahwa trek original, tidak perlu lambung melambung sudah sangatlah menampar. Termasuk didalamnya adalah rolling indah sepanjang sekitar 10km dari jembatan/Kuil Shaolin ke arah titik finish Mesjid Kubah Hijau.

Artinya? Survey hidangan penutup memutuskan kembali ke hidangan utama.

Ntar dulu. Apa hubungannya dengan Tanam Paksa?

Silakan menikmati dulu foto foto H-6. Sementara tim kecil yang punya niat ‘memberi tamparan akhir trek’ ternyata menemukan dirinya ditampar oleh trek survey yang melingkar lingkar di kaki Gn Terate. Menapaki jalan jalan makadam dengan sisa sisa tanaman kopi di kiri kanan secara sporadis. Terbayangkah dulu di 1800an ribuan orang harus menyumbangkan 66hari kerja dalam setahun, menjadi buruh tanpa bayar, memasang satu demi satu batu batu makadam begajulan yang kemarin kita lewati…

his ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


WJxc Ride#16 Cikarang-Quiling Century Ride

IMG_2388bayangCikarang, 30 Mar 2013

Pagi itu akhirnya berkumpul lah 3 pesepeda di alfamidi. Eh, maap kelewatan, ada satu juga motorist yang ikut ngumpul. Sang motorist tampak dengan kostum siap siap nge-JOKO, plus juga dengan wajah yang masih diselimuti kegalauan, Kasian juga, saya jadi curiga jangan jangan beliau sedang ditinggal anak isteri pulang kampung ya sampai wajahnya kusut gitu…

Mohon maaf kepada yang merasa kisah hidupnya mirip dengan cerita ini, karena ini hanya kebetuan belaka…

Bukan pertama saya genjot bersama dua rekan saya yang super ini, tapi aseli baru hari ini saya genjot bertiga saja dengan mereka. Segera lah terasa, trek belakang komplek serasa seperti race deltamas aja wkwkw…. NGEBUUUTTT… Benar benar uji nyali otot kaki buat saya nih. Ampun. Seberapa kencang pun saya nyoba genjot ban belakang saya dikawal dengan baik oleh ban depan rekan ini. Ampuuuuunnn

IMG_2396kupluk

Dari alfamidi kita menyusup ke area pintu tol baru cibatu, saya senang sekali melewati terowongan tiga nya. Betul, ada tiga tahap terowongan, gelap, hanya cukup selebar satu motor, dengan selokan di sebelah kiri. Lanjut masuk ke area Lippo lalu nanjak ke trek Rally Perang. Dengan sukses saya ditinggalkan dikentutin di tanjakan mooy yang sebenernya kegemaran saya ini.

Speeding speeding, sempat ketemu rombongan Om Joko Lippo dengan sepeda hardtail. Lho, Doraemon kemana Pakde? Ada, lagi nampil di tipi katanya…

Masuk ke trek LIO Cilangkara, menyusup ke Nu J3, lalu melipir ke samping kebun Jati sampai akhirnya nongol di Bojongmangu pasar di pertigaan.

20km an dan hanya satu jam lebih sedikit. Uedan emang…
Kami pun makan kelapa muda…

Trek belakang komplek tanpa cicau ini jadi favorit saya sekarang… heran selalu kangen datang dan datang lagi ke trek ini.. Waduh, tapi perjalanan masih panjang…

Setelah sebatang rokok dari kedua rekan sepedahan kali ini lewat, ngosh ngosh an napas saya mengimbangi dua rekan yang seperti tawon terbang ini mulai mereda, mulailah kita pada perjalanan sebenernya…

What? Emang yang tadi bukan perjalanan ya?
Bukan, yang tadi pemanasan saja. Dan terbukti membuat betis, paha dan dada saya poanasss polll…

Semalam kesulitan tidur karena ada acara jumat tidur sore, maka lewat tengah malam saya mencoba menggambarkan trek buat gowes keeseokan harinya. Unik juga, jalan dari Bojong Mangu ke Cariu kok tidak ada yang singkat dan lurus. Kalau mengikuti jalan utama akan mutar dulu baru ke tujuan. Akhirnya dengan memainkan zoom nya, saya coba reka trek, smoga besok beneran ada trek nya…

Bukan “tiasa”
Bukan “sepuluh taun lalu ada AMD disini…”

Melewati BojongMangu, menyeberang jembatan, menggelinding di jalan beton, lalu keluar jalan utama kekanan, nanjak, jalan yang sama saat saya gowes bertiga Eyang dan Didi sekitar 2 tahun lalu. Jalan berubah menjadi makadam, jalan yang sama dengan saya gowes berempat OmRudy, Nte Rahmi dan Om Stef 3 tahun lalu, sampailah di suatu titik. GPS memerintahkan berbelok kekiri. Wah, belom pernah nih jalan ini. Om Okky juga bilang dia belom pernah lewat jalan kekiri. “Kita coba jalan baru…” kata saya

Turunan makadam, woyyy… singletrack di tengah kampung, lalu disambut singletrack di tengah sawah, lalu disambut singletrack tanjakan di tengah kebun jati. Semangat dan seru, karena singletrack memang sensasinya beda ya daripada sepanjang dari berangkat doubletrack terus. Tapi di kejauhan, saat kami nanjak, tampak seorang nenek, membawa semacam rantang tampak sedang perlahan sekali berjalan pas di tengah trek. Tentusaja menghalangi trek… Sang nenek tersenyum. Semakin dekat, semakin terlihat senyumnya tampak aneh, antara ceria plus artifisial plus.. mengerikan…

Saya paling depan dari kami bertiga. Seperti juga saat bertemu penduduk dimanapun saya pun bilang “punteennn…” namun sang Nenek tidak tampak bergeming dari tengah singletrack. Senyum anehnya semakin ngeri dan semakin jelas. Isi rantang nya juga semakin jelas tampak, Jambu batu. Mendekat dan mendekat, saya arahkan susahpayah sepeda melewati sisi rerumputan. Ingat, ini di tengah semacam hutan jati…

IMG_2400cariu-ha-long

Suara nenek semakin mendekat semakin jelas. Tertawa ngikik… mirip banget yang sering kita dengar di sandiwara radio atau film horror…

Haduh !!!

Saya tidak sempat lihat apakah nenek kakinya menapak tanah atau tidak…
Om Okky yang rapet di belakang saya kemudian diketahui mendengar ketawa dan ocehan nenek yang mirip saya dengar juga . Hanya Om Heru yang agak berjarak di belakang tidak mendengar apapun. Om Heru setelah beberapa meter lewat menengok ke belakang dan melihat sang Nenek melambai sambil tersenyum sangat lebar….

IMG_2403langkah

Hiiiii…

Singkat cerita akhirnya setelah rolling rolling termasuk istirahat di dekat Situ Abidin kami pun akhirnya sampai di Cariu…

Setiap melewati jalan Jonggol-Cariu-Cianjur, misalnya pas gowes ke puncak pinus, atau pas bulan lalu menuju titik start masjid kubah hijau buat genjot Gratisan, saya penasaran banget dengan pemandangan jauh di kiri jalan, jauh di seberang lembah. Bukit bukit atau gunung gunung kecil yang muncul menjulang julang diantara landscape. Om Hanif Pak TB pernah mengomentari foto sepeda Cozmic biru saya dengan background pegunungan ini sebagai ‘pinnacles’… aduh… makin penasaran.

IMG_2408masjid

I want to go there…
Saya ingin banget mendekat ke pegunungan itu…
Ku ingin memeluk pinggul Sanggabuana

Hanya semalam sebelum gowes ini saya mencoba liat ke Google Earth, Eyang bilang gowes akan ke Kuiling. Pas ditanya lewat mana belio dengan wise menjawab, “…banyak nanya, yang penting tujuannya ada…”. Hmmm. iya juga. Gowes dengan ada tujuan udah prestasi besar buat belio belio ini… wkwkw… Oke, saya tarik garis lewat jalan menuju Kuiling ini, melewati lembah sungai Cibeet, agar bisa memeluk Sanggabuana dari dekat. Mengagumi puncak puncak yang menyembul…

Kalau di foto foto landscape kita sering mendengar daerah Guilin di China. Atau daerah Ha Long Bay di Vietnam… Mungkin saya agak melebihkan, tapi beneran daripada terbang jauh ke Cina bagian selatan atau ke dekat Ha Noi, mending genjot 45km menuju area ini. Daerah ini ternyata kemudian tidak berhenti saya kagumi selama gowes dari Cariu ke Quiling… AMAZING !!! Pinggul Sanggabuana yang indah… sexy…

Tanjakan menuju mendekat ke Quiling juga benar benar membuat jantung serasa akan meledak… Area ini memang aneh juga, panas terik namun angin semilir adem… Di jalur ini kami dua kali pitstop, di tengah kampung dan juga di dekat Quiling.

Odometer sudah menunjuk melebihi 50km… dan artinya masih ada sejumlah kilometer yang kira kira sama menuju rumah…

Dari tempat pemakaman Quiling kita pun turun ke arah jalan raya Cariu – Cianjur. Wah, jalan mulus dan turun tajam. Setelah menyeberang sungai Cibeet sih lalu ada sedikit rolling juga. Lalu kami pun istirahat isoma, pitstop kelima selama genjot hari ini di masjid kubah hijau.

Bagian selanjutnya adalah perjalanan panjang dan serasa tak habis habis kembali ke Cikarang Baru.

IMG_2410pitstop

Selanjutnya kita melewati onroad ke arah Cariu kota, lalu melewati jalur balik kembali via Situ Abidin, istirahat lagi untuk ke 6 kalinya, lalu genjot dilanjutkan melewati jalan potong offroad ke Kaligandu.

Menuliskan part ini sangat berat, sama seperti saat menjalaninya, rasanya seperti tak ada habisnya genjot kembali kerumah. Tak tahan akhirnya saya memaksa dua rekan tawon untuk berhenti terakhir yang ke 7 kalinya di pertigaan Cicau. Paha dan betis susah tak berasa dari melewati tanjakan Jiper di kilometer 90+ perjalanan ini, sementara bagian tubuh yang menempel ke sadel segera menyusul tak berasa… baal

Emosional saat akhirnya melewati alfamidi dan masuk ke rumah di kilometer ke 101 jam 5.15 sore hari

My only third century ride…


WJxc Ride#15 Nawit-Bondol

IMG_2305duetNyepi, dan yang penting … libur…

Sudah selayaknya kita menyepi, mungkin… tapi pagi ini saya ikuti saja kata hati buat gowes teduh dan sepi tanpa gonjang ganjing, walaupun ternyata matahari bersinar cukup terik.

Di tengah jalan tampak pemandangan unik yang ternyata adalah arena jual beli hewan. Ada bebek ayam dan kambing serta domba. Seru melihat mereka berkemas, memasukkan kembali kambing ke dalam keranjang yang ditempelkan di motor. Satu motor memuat 6 kambing. Banyak kan?

Mungkin terdengar sederhana, namun kok saya menemukan perasaan nyaman dan teduh ya berada di tengah jualbeli yang sederhana ini. Obrol punya obrol, salah satu pembeli berasal dari area Jonggol, dan kemudian kambing kambing yang baru dibeli ini akan dijual di pasar di daerah Jonggol sana, yang membeli biasanya petani. Kisah simpel mencari rejeki yang sederhana dan teduh didengar.

IMG_2313nawitAkhirnya setelah menemui beberapa jalan yang semakin menyempit, meski dalam keteduhan dedaunan pohon pohon kampung yang rindang, akhirnya sampai ke sebuah jembatan bambu. Ada rumah tepat di sebelah jembatan bambu. Setelah berbasa basi maka bertanyalah kepada Bapak pemilik rumah/warung tentang apa nama daerah ini… “Ini Nawit dik…”

IMG_2749ciumUnik memang area ini. Jalan meliuk liuk, ada yang sudah dibeton, ada juga yang masih jalan tanah. Campur. Jalan nya pun jarang sekali yang lurus lurus dan bisa ditebak arahnya. Semalam saya lihat di Google Earth memang area ini jalan kampungnya meliuk liuk, melingkar dan tak lurus. Menyesuaikan dengan bentuk sungai nya kah? Mungkin.

Salah satu yang juga unik dari area ini adalah betapa masih teduh nya. Entah kenapa penduduk tampak tidak tertarik untuk memotong pohon pohon di kebun nya. Campuran berbagai pohon tanaman keras dan tentusaja banyak pohon bambu. Teduh. Tak terbantah. Serasa tidak sedang berada di area yang dekat dengan Cikarang saja. Penduduk juga tampak banyak memelihara sapi dan domba. Sapi dan domba dibiarkan berkeliaran di halaman, dibawah keteduhan pohon pohon rindang. Aseli, aura kampung ini beda banget…

Kembali menembus berbagai jalan meliuk dalam teduh kampung disambut turunan panjang dan akhirnya sampailah ke sebuah warung yang berada, lagi lagi di sebelah sebuah jembatan beton yang besar. Jembatannya tampak aneh, tapi warungnya tampak sering melihat fotonya… kembali bertanya dan dijawab “Ini Bondol dik…” ditambah lagi “Oooo… itu sungai Cikarang dik…”

Setelah makan dengan menu yang terkenal, akhirnya pulang dalam perjalanan jalan beton panjang yang serasa tak ada habisnya…

Demikian sebagian cerita genjot hari ini…

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


WJxc Ride#14 – Gratis Cariu part-2

30pastfamvresCariu, 10 Feb 2013

bagian kedua lanjutan dari…

Tapi memang Allah sayang sama kami. Terbukti salah satu dari pemuda desa, berambut agak gondrong, segera bergegas, “…ayo lah saya anterin…” sambil dia mengambil golok dan mulai memimpin di depan menunjukkan jalan.

Kampung ini ada di pinggir sungai, tampak hidup dari sawah dan padi yang banyak bertebaran di sekitar kampung. Tampak listrik belum masuk samasekali. Kami pun dibawa melewati jalan kampung, sejajar dengan sungai, bukan langsung menuju sungai. Baru kemudian waktu akhirnya melihat sungainya kami paham ternyata kami dibawa ke area sungai yang terlebar. Sungai terlebar artinya air sudah terdangkal.

31pasang-lampuMemang kita sering mendengar Cibeet, sering juga naik getek diatasnya di Cikarang. Cuma ini kan Cigaruguy. Kemiringan nya berbeda, mengakibatkan kekuatan aliran sungai juga berbeda, sungai ada di turunan gitu, bukan jalan flat seperti di cikarang. Batu bagu vulkanik yang guede guede segede motor, mobil dan rumah juga boanyak. Airnya berwarna cokelat dan suaranya bergemuruh, air beradu dengan batu sungai.

Pemuda Gondrong segera menyeberang menggotong sepeda Om Koko. Dari kejauhan saya lihat Om Koko tergopoh gopoh hati hati menyeberang. Bagian paling berbahaya dan kuat arusnya adalah bagian pinggir yang paling dekat dengan seberang sungai. Khawatir banget saya. Sejak melihat trek sudah tampak harus melewati sungai, tapi tidak menyangka akan se berbahaya ini.

Dengan berbekal keberanian seadanya dan berdoa, sepeda saya angkat dan kami mulai beramai ramai menyeberang. Deg deg an pol. Takut terbawa arus yang sangat kuat. Kondisi fisik kami juga sudah melemah. Aduh. Aseli yang kepikiran di kepala saya aneh aneh dan macam macam. Makanya jangan heran kalo sesampainya di seberang wajah saya mirip martabak pahiiittttt.. banget.32omroyan33omkodrat35omratman34omatoe36omlatip37omhajiasim40omokkySetelah menyeberang, kami lega luarbiasa. Alhamdulillah kita selamat. Bukan tak kurang suatu apa sih, karena martabak berceceran sejak dari downhill bukit tadi. Jalan terus tanpa henti menerabas terabas. Aseli lelaaaahhh banget banget karena tanpa pitstop. Jam menunjukkan pukul 430 sore. Berarti selama hampir 2 jam akrobat downhill trabas tadi, dan ditutup dengan nyeberang sungai deras setinggi pinggang kami tanpa istirahat. Semua tim selonjoran lega…

Saya sudah mulai kebayang sungai berikutnya yang harus kita seberangi. Masih ada satu lagi. Dan jangan sampai deh nyeberang sungai di malam gelap…

Sebelum saya melanjutkan ceritanya saya sampaikan rasa hormat dan salut kembali untuk rekan rekan seperjalanan gowes gratis ini…

Om Royan, yang terakhir kali ketemu lagi gowes sendirian di bukit telletubbies. Belum make helm, pasti bakal dimarahin Eyang…

Om Kodrat, dulur songolikur yang kalo lagi nembak bikin deg deg an. Khawatir melihat banyaknya volume peluru, tapi juga lega karena biasanya trus genjotnya lancar

Om Atoe, saat saya sudah mulai memutuskan untuk TTB aja, kok masih saja ada yang genjot yah?

Om Ratman, edan bener adegan balapan sama motor di tanjakan tembok ratapan. Orang lain dorong sepeda aja ngosh ngosh an… Lontaran lagu nya membuat cair suasana tegang

Om Latip, keren banget bisa bangun pagi… mantap. Mohon maap porsi epak nya trek ini tidak bisa diperpanjang lagi

Om HajiAsim, jangan lupa, orang pintar minum tolak angin…

Om Okky, salut banget, diam diam nywipperin, menjemput sepeda rekan yang kepayahan, mantep banget gowes bareng si Om Istimewa ini…

Salut untuk om om semua. Saya bisa mengerti kalau di Gratis mendatang om tidak lagi menyatakan ikutan. Mohon maaf sedalamnya dari perasaan ter tulus atas hidangan menyeberang sungai (berkali kali) dengan debit air yang tidak terlihat dari Google Earth.

Nah, ceritanya lanjut… Setelah menyeberang dan habis satu batang rokok, maka kita pun segera berangkat lagi. Kita pun mendekati dan masuk ke rancangan trek versi pertama, bukan versi bukit tiasa cigaruguy, itu versi kedua. Jadi Om Asim, kalo di musholla kita lanjut turun jalan makadam maka akan ketemu trek seberang sungai ini juga. Ini memang rencananya begitu.

Keluar masuk kampung dengan kondisi cuaca yang mulai menuju gelap. Kadang kala ketemu jalan buntu, justru gara gara ngikutin singletrek kampung yang mulus diplester semen. Beberapa kali kejadian balik kanan jalan buntu dan cek and ricek di pertigaan perempatan. Sekitar 30 menti gowes di singletrek makadam campur dengan pematang sawah dan jalan kampung sebesar motor maka kita pun ketemu sungai yang kedua. Alhamdulillah masih belum gelap ketemu sungai nya.

Cibeet ini kan anak sungai nya banyak. Jadi saat kita dari kampung ke kampung mengikuti sejajar sungai Cibeet Hulu maka kita akan beberapa kali ketemu dan menyeberangi anak sungainya. Kepercayaan diri lebih tinggi daripada saat menyeberang pertama karena juga tampak sungainya lebih kecil. Ternyata lebih dangkal meskipun aliran airnya tetap saja kencang. Air coklat yang menyeret.

Setelah dua sungai maka kita bertemu tanjakan yang ya ampun panjaaaaaaanggg banget. Tak ada seorangpun dari member yang genjot di tanjakan makadam itu. Perpaduan antara lemas, lelah, licin, makadam tak beraturan, basah dan tanjakan. Kadang tampak sebuah turunan menghibur. Kadang melewati jembatan bambu melintasi sungai kecil. Sebagian besar jalan adalah makdam singletrek. Benar benar ujian ketabahan mental dan kekuatan fisik. Saya sendiri merasa kita harus terus push mumpung masih terang. Pasti kondisi akan berubah jauh saat hari berubah menjadi gelap dalam medan sepeti ini.

Saat mulai terdengar Adzan Maghrib maka kita pun berhenti dari kegiatan dorong sepeda, dan mulai memasang lampu. Lalu saya ambil satu persatu foto rekan trip ini. Bisa terlihat dengan jelas dari body language nya kira kira apa yang ada dalam pikiran rekan rekan ini saat saya tanya, “Giman Om, apa kesannya trip ini?”

Hahahaha… TTB berlampu pun kita lanjutkan dan akhirnya kita menemukan sebuah WARUNG!!! Ya WARUNG yang seperti guyuran air segar dihati kami… Tanpa pikir panjang parkir dan mulai memesan apa yang tersedia….

GUK GUK GUK GUK…

Astaga. Sempat kaget luarbisa mendekat ke warung yang ber listrik ini, sambutan yang tak biasa
Bapak penunggu warung bercerita kenapa tidak pasang kulkas. Watt nya terbatas, dan harus menarik kabel sejauh 1.5kilometer untuk bisa mendapatkan aliran listrik…

Saya tengok ke GPS… Jalan raya Cariu-Cianjur masih sekitar 8kilometer lagi…

Sebuah warung ber listrik yang melegakan, minuman bersoda dan teh manis panas yang masuk ke perut, jalan depan rumah yang tampak melebar, selebar dua motor, jalan menurun yang tampak menunggu di depan, benar benar membuat goweser tambah semangat. Rasanya peradaban sudahlah dekat. Wajah cerah dan gerakan tubuh optimis segera menyebar dan kami pun istirahat hanya sebentar. Melihat jalan depan warung yang tampak bisa dilewati mobil, om John segera mencoba melihat ke hp, apakah ada sinyal yang nyangkut. Saya bilang ke belio, Pak Ucu ituharus diajarin ilmu GPS. Kita tinggal kirim koordinat, dan Pak Ucu masukkan ke GPS mobil dan meluncur… hihihihi. Sinyal masih on off.

Trek selanjutnya benar benar memabukkan. Meskipun dalam gelap turunan nya poanjaaanngg dan landai. Kiri kanan trek memang gelap gulita, baik kebun maupun kampung. Tak percaya rasanya kami mendapat anugerah turunan panjang begini. Dalam hati mulai berharap, semogaaaa… saja sampai ketemu jalan aspal jalannya seperti ini. Harapan yang sia sia. Tak berapa lama jalan berubah menjadi makadam. Makadam bentuk tak beraturan, tampak benar jarang dilewati kendaraan. Sisa hujan licin lalu tak lama terdengar bunyi GEDUBRAK !!

Sejak itu kami lebih hati hati. Kadang kalau perlu TTB dijalankan lagi meskipun trek menanjak tidak miring. Kampung ke kampung desa ke desa dengan variasi kondisi jalan. Kadang trek masuk ke kampung yang cuma sebesar handlebar diplester semen dan turunan basah. Licin. Dan… ternyata kami harus menyeberangi satu sungai lagi!! Ampun. Yang ini tak terduga. Rasanya sudah habis sungainya dari ingatan saya. Dalam gelap dengan lampu kami lagi lagi menggendong sepeda menyeberang sungai. Alhamdulillah setelah menyeberang sungai yang terakhir ini jalan tiba tiba melebar. Selebar mobil, ber aspal sirtu. Kondisi berubah ubah kadang aspal rusak dan kadang kondisi baik.

Kampung berganti kebun berganti sawah silih berganti tak terhitung malam itu. Semangat sih masih tinggi, tapi tanjakan juga gak habis habis. Formula nya formula sisir lembah sungai karena sungai Cibeet terdengar suara gemuruhnya di sebelah kiri trek. Sisir lembah itu iramanya gini: rata di dalam kampung, turunan keluar kampung masuk sawah kebun yang gelap, ketemu jembatan diatas sungai kecil, nanjak di kegelapan, ketemu kampung lagi. Teruuuuusss… berulang countless… tak terhitung.

Untuk mengobati salah satu member yang terluka karena rem mendadak di turunan licin maka kami pun berhenti di sebuah warung dan terjadilah makan telur rebus seorang satu itu. Sebuah selingan yang cukup melegakan meskipun waktu kita tanya ibu penunggu warung tentang jalan aspal besar cariu ke cianjur jawabannya… “tebih pisaaannn…” dan “loba tanjakaaaannn…”. Bikin muka dan ekspresi rekan rekan tambah pucat dan derajat terlunta lunta meraih titik tertinggi.

Tapi setiap kesabaran berjawab keindahan… Akhirnya sekitar jam 930 malam kami pun bertemu jalan beton tanjakan puncak pinus Cariu. Akhirnya. Seperti dipersiapkan sebelumnya satu kendaraan epak sudah menunggu… Trek selanjutnya sekitar 20menit adalah sebagian besar turunan dilengkapi rolling tanjakan juga. Tapi sudah hampir tak terasa di kaki itu tanjakan tanjakan yang cenderung terasa landai setelah sekian lama ketemu tanjakan tanjakan yang dituntun pun berat…

42finish-10malamSekitar jam 2140 kami mencapai titik start masjid kubah hijau dengan kelegaan tiada tara…

Mulai cari hp dan kirim sms ke menkeu…

TAMAT

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


WJxc Ride#14 – Gratis Cariu part-1

IMG_2055batagorCariu, 10 Feb 2013

Sudah sejak sekitar awal tahun lalu pengen banget menengok trek di daerah Cariu ini. Awalnya sih sering mendengar tentang Gn Batu dari rekan rekan mtb dan berakhir dengan sebuah draft trek, yang semula, saya kira memang itulah gn. Batu. Ternyata? Hehehe… kayaknya sih gunung ‘sebelah’ gn. Batu. Gapapa lah masih sebelahnya.

Akhirnya pagi itu berangkatlah 8 rekan pesepeda cmtb; OmHeruHajiasim, OmOkky, OmRatmanNewAABike, OmLatifJohnEpak, OmAtoe, OmHendraElRoyan, OmQodratPaspamvresh dan @antoix. Setelah mampir ke pintu10 dulu, jam 5 pagi lebih sedikit kita sudah mangkal di nasi uduk depan aabike. Nasi uduk jengkol masuk ke perut. Kumpul di Deltamas dan tim pun lengkap. Brangkat!!

IMG_2056tanjungsariPerjalanan darat melewati jalur matjyan mengaum Cicau dilanjutkan menuju titik start di Masjid Kubah Hijau. Posisi di dekat Puskesmas Tanjungsari, Cariu, Kab. Bogor. Cuaca cerah secerah cerahnya, padahal udah khawatir saja karena sehari sebelumnya hujan turun cukup lebat di Cikarang pun. Saat mulai genjot start jam 8 malam. Mengingat memang tanpa sweeper, alias GRATIS (Genjot Rame Tanpa SwIper) maka semua peserta berdoa dan mencatat nama lokasi titik start kalau siapa tau nyasar sendirian dan perlu petunjuk ojek kembali menuju titik start.

Sebelumnya saat melihat trek nya sudah kebayang sih, kalau bakal berat, akan ada GGB dan mungkin berlumpur lumpur, seharian sudah pasti. Siap nyasar dan dengan kondisi trek tak terduga. Adventurous dan hal hal tak terduga. Mungkin jalan buntu. Mungkin saya terlalu khawatir kali ya? Tapi terus coba saya tiupkan ke rekan rekan via chat bbm sejak sehari duahari sebelumnya. Maksudnya, biar gak kaget dan biar mempersiapkan mental. “Kalau kita sampai sebelum gelap sangat beruntung…” saya sampaikan di titik start.

Gowes semacam Sakit Jiwa kolozal memberi kenikmatan yang merindukan, mau pakai Sakit Jiwa tapi kan itu sudah identik melekat dengan kolozal. Maka GRATIS ini dibuatlah untuk pelampiasan tipe gowes serupa…

12cijambeOk ok… genjot yang ditunggu segera dimulai dalam ceria jalan aspal menuju Bandung. Masuk ke kampung, rolling naik turun aspal sampai akhirnya jalan keluar juga ke jalan berbatu makadam di puncak sebuah bukit. Meski tanpa sweeper genjoter Gratis Cariu tetap dalam satu grup, termasuk saat menjalani sebuah jalan miring keatas yang panjang sampai berhenti di sebuah gerbang menuju tempat peristirahatan yang disebut tempat wisata religi.

Ngobrol dengan penduduk setempat yang dengan berapi api menjelaskan tanah ini milik pak jenderal anu dan tanah itu sekian puluh hektar milik pak jenderal itu. Rupanya berkait dengan masa lalu ada rencana memindahkan ibukota negara ke Jonggol.

“Main lagi saja ke sini dik.. nanti jalannya udah di aspal kok bentar lagi”. Wadooohhh… dengan segera rencana meng aspal ini diprotes segenap tim. Genjot miringnya enak tidak curam terus hanya di beberapa titik saja. Gowesable. “Jadi ingat sukamantri jaman dulu…” kata seorang rekan. Akhirnya kita berhenti lagi di Kampung Cijambe, menjumpai sebuah warung dan mulai memesan teh panas manis… sluruuuppp…

17tapakTak terasa lama juga kita nge-pos di warung penyedia teh manis panas ini. Meskipun tampak dari luar warung kalau ada kulkas di dalam warung, namun tampaknya isi kulkas tidaklah membahagia kan. Sampai akhir trip kita banyak menemui warung ber kulkas dengan isi kulkas yang mengecewakan. Jangan jangan buat pajangan dan naruh baju kali ya?

Trek selanjutnya adalah masih dan masih campuran antara makadam dan jalan tanah dengan kubangan dan lumpur. Semakin naik semakin sejuk anginnya semakin indah pemandangan ke arah lembah. Di kejauhan sangat menarik perhatian punuk punuk gunung seputar desa philips Ciguentis yang terlihat istimewa dan indah di kejauhan.

Sekitar trek tidaklah tampak tanah cukup produktif. Jika bukan kebon yang berisi hutan rakyat, yaitu tanaman budidaya kayu maka lahan akan ditanami singkong, jagung meskipun sangat jarang. Juga ada pohon pisang menutup satu bukit/gunung. Tampak semua pohon pisang nya tanpa ada yang berbuah. Baru kemudian kita tahu kalau memang daun pisang nya lah yang menjadi komoditi yang dipanen.

18epakRolling kemiringan tambah miring dan sampai akhirnya bertemu kampung dengan kendaraan epak dimana kita foto dulu rekan kita John Epak di sebelah kendaraan kebanggaan.

Tak terduga kita bertanya ke anak kecil dan diberi tahu kalau ada ‘jalan aspal’ di depan. Seperti bercanda saja itu katanya ada jalan aspal. Tapi ternyata beneran, setelah ketemu jembatan lalu kita disambut tanjakan panjang ber-aspal. Seperti ada perasaan aneh di tengah negeri antah berantah begini ketemu jalan aspal.

Tak berapa lama kita segera keluar jalan aspal dan mulai miring meliuk liuk switchback sampai ketemu warung berikutnya di sebuah pertigaan. Warung Rumah Nenek yang Kang Latip memotret nenek tua. Di warung ini pun saya sampaikan kalo bagian berikutnya adalah part ‘Tembok Ratapan’, sehingga silakan loading minum dan makan sepuasnya. Saya memesan dua butir telor diceplok dimakan pakai kecap. Nyam… Untuk melonggarkan dan melebarkan pembuluh darah maka minum kopi kapal api juga…

21boboDi warung nenek inilah tim mendapat pemandangan indah, yaitu turunan, jalan makadam besar tampak enak digenjot sampai ke titik start. Tapi sayangnya tidak seorangpun dari peserta gowes benar benar mejalaninya. Meskipun stok martabak sudah mulai menumpuk, tapi ternyata stok harga diri masih memiliki tumpukan yang lebih tinggi

Selanjutnya yang dihadapi adalah sebuah tembok… Kemiringan secara tiba tiba meningkat tajam, trek pun berubah dari doubletrack jadi singletrack makadam. Sepeda hanya lah bisa digowes di beberapa titik. Sisanya kita harus rela untuk mendorong dan mendorong.

Mau cerita apa lagi di bagian ini ya? Habis cuma dorong dorong dan dorong.

Seperti yang kita lihat di warung nenek pohon pisang ini untuk dipanen daun nya. Beberapa kali kami bertemu pengendara sepeda motor. Mengingatkan saya pada gaya menyetir motor dan skill handling motor mereka dengan trek trek yang tampak tidak mungkin dikendarai dengan motor-motor bebek begitu. Mereka mengendarai motor sambil berdiri menyeimbangkan badan. Mirip gaya trial-motorbike.

Kiri dan kanan trek, selain batu dan batu tampak beberapa bagian bisa ditanami lagi lagi dengan pisang. Trek cenderung zig zag. Di banyak bagian, sebelah kanan trek adalah jurang dan di sebelah kiri trek adalah kebun secuplik atau batu dan gunung yang rasanya tak habis habis. Semakin tinggi posisi kita, pemandangan sebelah kanan, berupa lembah Cariu dengan latarbelakang pegunungan Sanggabuana semakin indah dan semakin indah.

Disinilah tim mulai semakin sering grouping, dan mulai deh Om Ratman mempopulerkan lagu “jangan pikirin abang…”
Jangan pikirin abang, dek… abang juga gak tau nasib abang bakal gimana…

25meluk-pohonSaat melihat di Google Earth memang sudah tampak kalau ada kampung tidak jauh dibalik puncak nya tanjakan tembok ratapan ini. Saat masuk ke kampung kita disambut singletrek turunan yang moy meliuk liuk dalam hujan yang mulai turun. Segala martabak, penyesalan dan penderitaan selama dorong dorong sepeda di tembok ratapan pun akhirnya selesai ketika jalan melandai lalu kita temui turunan! Ya turunan menuju sebuah kampung. Di warung yang berseberangan dengan sebuah musholla kecil kami berhenti dan hujan mulai deras mengguyur.

Warung tempat kita berteduh menjadi riuh. Ibu penjaga warung pasti kerepotan melayani permintaan rekan rekan yang mulai aneh aneh setelah meratap ratap di tanjakan. Yang jelas segera bisa dipenuhi adalah permintaan akan nasi, lalapan dan terlor ceplok plus sambal. Kalo dihidangkan di meja makan di rumah mungkin kita segera panggil bakso yang lewat saking menyedihkannya itu hidangan, tapi dalam hitungan detik segera nasi sebakul habis, semua lalapan termasuk kucai juga dilahap. Ampun deh. Memang sih waktu sudah menunjukkan sekitar jam 2 siang, wajar banget kalao lapar.

Peristiwa yang mengejutkan adalah tampilnya salah satu member trip dalam menjalankan keakhliannya. Tiba tiba dari dalam warung, dari dalam rumah penjual, muncullah seorang jejaka berkacamata hanyalah berbelit sarung saja. Wadoh. Maaf kalau ceritanya agak porno. Tapi begitulah adanya. Rambut belio tampak basah, rupanya habis mandi. Ya, mandi siang siang di rumah orang. Dengan santai belio menjawab semua kekaguman kita dengan jawaban singkat, “… makluuummm menantuuu….”

28kucaiHuaduh!! Gubrax!!
Nemuuu aja ya WC buat mandi letaknya dimana.

Setelah semua sholat dan selonjoran. Agak hilang trauma ratapan, maka saya sampaikan tiga pilihan lanjutan trek. #1 Melewati Cigaruguy… akan masuk hutan tapi minim tanjakan dan tidak menyeberang sungai. #2 Melewati jalan makadam ke Arah Cipanas akan ada jembatan tapi onroad martabak tanjakan moy. #3 Balik lewat jalan berangkat.

Tidak ada yang menjawab pilih yang mana, malah ada yang nanya “apa pilihan ke #4 om?”. Setelah juga kita tanya2 bapak penunggu warung maka belio bilang kalo Lewat Cigaruguy adalah “TIASA”. Werrr.. kami pun menuju Cigaruguy…

29cibeetSegeralah kita keluar dari jalan makadam dan disambut tanjakan tanah. Dorong sepeda sambil merenungi ban sepeda yang makin tebal dan tebal karena lumpur dan tanah menempel. Biking ngosh ngosh juga. Untung turunan segera menyambut. Turunan dalam kampung makin lama makin habis dan jalan makin tak terlihat. Saya tengok di GPS saat aktual perjalanan sudah mulai menyimpang dari rencana. Ternyata jalan yang ada dalam rencana (artinya tampak seperti jalan setapak di Google Earth) ternyata pada kenyataannya tidak ada di tempat. Huaduh!!

Sempat bingung dan tanya-tanya dalam kampung dan kepada siapapun yang kita temui, semua bilang ‘Tiasaaa…’. Pada kenyataannya kita berhenti di pematang sawah yang makin dan makin sempit. Untung bertemu mang Jajang yang bersedia mengantarkan sampai Ciagaruguy, tentusaja setelah mendapat wejangan dari pak John Epak pake bahasa yang baik dan benar.

Track sudah keluar dari rencana. Berbelok ke kanan masuk ke lembah Cibeet dalam petunjuk Mang Jajang. Blusukan dalam arti sebenar benarnya. Masuk ke trek yang tidak seperti trek. Saya yakin kalaupun tanpa bawa sepeda saja sudah susah menembus campuran atara pematang sawah, kebun dan padang alang-alang… Disini lah Om Ratman meraja lela dengan bb nya merekam foto dan video kumpulan orang sempoyongan bawa sepeda yang tigusruk kiri dan kanan. Menyedihkan… Onak dan duri jangan lagi ditanya, membabat dengan sukses tangan kaki dan muka. Tambah perih dalam siraman air hujan ringan.

Acara akrobat yang rasanya tak habis habis ini disambut dengan mendekatnya penampakan dan suara sungai Cibeet Hulu. Sungai ini membatasi kabupaten Bogor (tempat kita berada) dan kabupaten Cianjur (seberang sungai). Semakin mendekat maka suara deru air sungai semakin membuat hati saya pahit dan bergetar.

Akhirnya dengan sukses kita sampai di kampung Cigaruguy, ketemu sebuah keluarga. Betapaaaa…. leganya bertemu kampung dan peradaban setelah terbanting banting di tengah ‘Bukit Tiasa’ Cigaruguy…

Yang bikin keder, warga kampung bengong melongo waktu kami bilang kami mau nyeberang Cibeet..

Ampuuuunnnn.. di kejauhan terdengar suara gemuruh air sungai Cibeet

Saya sampai gak ngambil foto satu pun. Yang ada di pikiran cuma belom bikin surat wasiat saja…

post berlanjut ke bagian kedua…

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


WJxc Ride#13 NWtGtC Track Cikarang (En)

IMG_0717lioIMG_0735piringIMG_0738warnasCikarang, 8 Dec 2012

Your backyard could be so tricky. It’s the place you always around, tend to be boring, since you have been going around, all over it.

The balance between boring feel and abundance time availability of the track gives that mixed feeling. This is track is all about this balance… This post of West Java XC ride will be on one track in Cikarang area. A training track which I have called these nearby, backyard tracks as ‘bimbel’. A fun name for a training tracks. Yes, this fun name help me keep the enthusiasm every time have a try on the track.

Cikarang Area, the place I live for the last 16 years, including the last 6 years of mountainbiking, been transformed from a hilly country-side into a huge and dense manufacturing-based industrial areas. The transformations been severely change the neighborhood into more concrete-asphalt (boring for mountain biking) roads. Residential area also changed, from a bad cross country style roads into more, again, asphalt and concrete. This concrete access been changed the face and the feel of residential area up to 60cm-1m wide (formerly) single-tracks. Getting over these concrete lines, as minimum possible run over the not-so-interesting terrain, will be the first task before having fun in the playground of cross country cycling.

This one particular track I myself register as Bimbel#4, basically find the off-road mountain bike playground around Cilangkara, Nagacipta and Sirnajaya. These area are southern part of Lippo Cikarang, major estate in Cikarang. The ‘real’ part of the track is these three areas. Classic cross country, small ups and downs, no surprises, no steep uphills or downhills since the track is part of indigenous country sides urban area.

After having a sprint enjoy ride of the small hills, then we have a chance to take a traditional ‘warung nasi’ (traditional restaurant), have a hot soup, cool iced water to have your mind and body refresh…

Our backyard, actually available every day, we can have it every morning before work or every night for nightrides, really a jewel. It is only a matter of how we see it differently.

I don’t really know up to when these Bimbel tracks will hold on over the expansion of residential and industrial areas… Let’s not worry about it, just enjoy these beauty around our backyard as long as available

These are set of ‘Bimbel’ tracks:
Bimbel#1 Jalur Lio-Kiara Gedur http://www.bikemap.net/route/1436798 23.6km
Bimbel#2 San Diego-Pasircongcot www.bikemap.net/route/1329078 47.9km
Bimbel#3 Cibatu 129 http://www.bikemap.net/route/1907172 12.9km
Bimbel#4 NWtGtC http://www.bikemap.net/route/1922853 41.5km
Bimbel#5 San Diego Easy http://www.bikemap.net/route/1907171 35.2km
Bimbel#6 Bondol http://www.bikemap.net/route/2015385 31.5km

Bimbel#4 NWtGtC
Course distance: 41km (start/finish at Home)
Character: pretty flat, small hills, country side fire-road double track

Facebook photo link…

Tracklog http://www.bikemap.net/route/1922853

IMG_0723no#13-NWTGTC

This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


Tips menemukan rekan bersepeda gunung

120 pesepeda gunung komunitas cikarangmtb di acara Kolozal#10

120 pesepeda gunung komunitas cikarangmtb di acara Kolozal#10

Sepeda? Sudah punya…
Baju dan perlengkapan? sudah ada
Gowes? kemana? sama siapa?

Betul, semngat bersepeda gunung membara, namun kesulitan mencari teman dan event bersepeda. Belum lagi kalau kita punya minat tertentu dalam bersepeda, misal pengen banyak nanjak, pengen banyak lewat singletrack, pengen yang adem, pengen yang pemandangan indah…

Caranya cuma satu, memperbanyak trip bersepeda, berusaha menemukan teman bersepeda yang cocok

Berbagai cara koboi yang pernah saya lakukan buat menemukan teman gowes:

#ikut milis/forum banyak banyak
browsing saja, klik sana klik sini, tanya sana tanya sini… nanti tiba tiba tuh akan ada ajakan gowes tak terduga

#datang langsung ke tempat ngumpul
langsung saja datang ke bakmi golek, ke petronas sentul, ke gadog, kevlippo kebun raya bogor, ke jpg, ke aa bike, ke mcD dago sambil tanya tanya cari tau kapan biasa berkumpul. mencoba kontak dan temui pesepeda bike to work di sekitar tempat tinggal atau kerja juga jadi pilihan yang baik.

#pin/sms/email
kontak langsung saja orang tertentu. sapa tauuuu.. lagi ada rencana gowes
amati dari berbagai milis/forum, japri saja rekan yang tampaknya memiliki minat bersepeda yang sama

#kml, kmz, gpx
browse http://www.bikemap.net http://www.everytrail.com download dan ikuti.. semoga
selamat benar benar sampai di tujuan

Inilah pentingnya menemukan teman bersepeda yang cocok, menemukan teman gowes yang satu selera, menemukan komunitas untuk kesana kemari bersama mencari tujuan bersepeda gunung yang baru. Komunitas atau ‘ride buddy’ alias ‘teman sepedaan seide’ memang hal yang susah didapat, namun kalo sudah dapat akan membuat weekend demi weekend berlalu dengan seru…


WJxc Ride#12 CikarangMTB Kolozal#10 Bandung to Cipunagara

kol10-1Bandung, 24 November 2012

Siap siap bisa berarti banyak hal. Bisa nyiapin sepeda, mengentaskan sepeda dari tumpukan barang di rumah, dibawa spa biar mulus dan maniez. Bisa juganyiapin kostum tas dan lain lain, belanja maksudnya. Bisa juga loading sepeda di malam sebelum gowes.

Kalau saya selalu menikmati suasana tegang deg deg plass malam sebelum gowes, termasuk heboh nya loading, juga wajah wajah khawatir, harap cemas dan juga optimistis dari para senior tim ruzuh yang pengen acara ini sukses.

kol10-2

Tidak ada yang seheboh pagi kolozal. Rasanya semuanya kegiatan dan ketegangan persiapan dan kerinduan akan gowes kolozal terkumpul di satu momen saat pagi pagi berkumpul dan berangkat ini. Wajah wajah excited, serta juga tegang dan khawatir bercampur baur. Heboh pindah pindah dan list isi bis bikin yang heboh makin heboh.

Sampai akhirnya bisa duduk di kendaraan dan berangkat, sambil makan snack pagi hari berisi ubi, pisang dan leupeut… Tegaldanas-an bangeeeettt….

kol10-3Gedung Sate, Bandung. Tidak ada yang paham isi kepala setiap orang. Yang jelas keenam orang ini tampak sama, mereka memegang kepala semua saat start, katanya kepala terasa sakiiiiiitttt… Sakit setengah mati karena ingin segera gowes, sakau gowes. Kalau perlu porsi nya *ditambahin sedikit*.

kol10-4Setengah mati genjot nonstop dari 750 ke 1000 mdpl. Sekitar 6km dan dalam 50 menit. Tetap saja di gerbang tahura cuma bertemu dengan
buntut, dengan tim suwiii-per. Ada juga om ratman yang lagi heboh ngoprek sepeda Om Pande.

Masuk tahura asli adem banget sampe lupa motret. Suejuk nya membius. Udaranya suegerrrrr… Padahal hutan ini aseli hanya ada di lembah sungai cikapundung saja. Jika kita melihat ke atas, dari jalan yang ada di lembah, tampak hijau, tapi dibaliknya adalah kebun kebun, kapling rumah dan pemukiman. Tetap saja, Tahura adalah sebuah oase di kota Bandung. Sesampainya di gua belanda sudah terlambat. Foto keluarga yang dikejar sudahlah bubar…

kol10-5Gua belanda ini adalah semacam tempat isolasi dan interogasi pada jaman belanda. Dan pada awal kemerdekaan sampai tahun 70an dipakai oleh TNI untuk menyimpan senjata dan mesiu… Gowes gelap gelapan karena malas mengeluarkan lampu dari tas.

Hutan yang adem, angin yang semilir, udara yang sejuk…

Dada yang serasa mau meledak, paha yang panas, dengkul yang gemeretak…

kol10-6Tidak lupa melaksanakan kewajiban

Sebelum berangkat saya sudah mantengin akan coba cari perubahan wajah, mencoba meotretnya. Kira kira semula ceria, lalu berangsur menjadi terlunta lunta… Tapi memang para member cikarangmtb sudah sangat terlatih untuk menyantap martabak… sehingga yang tampak di depan kamera hanyalah wajah wajah ceria

Kami pun segera berkemas menghadapi hujan

Saya tidak terlalu mengerti apa yang sering disebut dengan foto heroik. Menurut saya seluruh perjalanan ini sudah heroik sejak ide dan survey nya… Semua fotonya juga adalah heroik.

kol10-7Heroik mendapatkan semangat timruzuh untuk ngurusin kolozal
Heroik dapat rri
Heroik menyisihkan waktu
Heroik spa dan upgrade
Heroik ngantuk seharian
Heroik nanjak
Heroik hujan
Heroik turunan tiada henti

Semua tim kolozal ini adalah Heroik..

Setelah akhirnya mencapai puncak tertinggi dalam hujan deras, kami pun menjalani turunan 18 km yang panjang dan serasa tak ada habisnya. Sangat melelahkan namun juga sangat nikmat. Apalagi area Ciupunagara ini tampak masih sangat asri dan jauh dari jamah peradaban.

Tracklog GPS dapat di download di http://www.bikemap.net/route/1922846

mapkol#10

This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


WJxc Ride#11 Sukamantri via Ciomas (En)

sendiri

sendiri

Bogor, 16 Nov 2012

This West Java XC ride#11 was a duo ride with Om Nurdin, my fellow uphill enthusiast from 1PDN Bogor. Rainy season start to reach it’s peak, and this is Bogor, known as a city with everyday rain. The ride was on Friday, and from the start of the ride Om Nurdin already make a clear statement, “… We try to finish the ride before lunchtime, so that we can have a Friday Praying in home”. What??? At the start of the ride I felt that the ride will be a short and easy ride. The presumption proven to be wrong! The ride turned to be a fast uphill ride rather than an easy short ride. Fyuh!!

The route I let Om Nurdin take care, he proposed his routine route to Sukamantri via Ciomas. Yes, then we need to go around further than traditional route via Ciapus, but the effort was proven to be worthed.

Ciomas kampong uphill

Ciomas kampong uphill

Not like traditional 1PDN Sukamantri ride, this ride take a lot of the uphill through ‘kampong’ routes. Started with a regular asphalt line in the middle of dense Bogor city population, the route then moved through a route beside the river. Not only taken us away from an angkot in Ciapus line, this route also giving us a beautiful soundtrack of river water flow beside the route. The feeling I got during the uphill was like a meditation, clear and peace like yoga. The fresh air going deep into my chest, push out all other dirty air and environment out. Recharge mind and body with fresh and healty. This is what I am looking for in mountain biking activity.

Scenery on the Ciomas kampong uphill was changed from paddy field to traditional rural housings to bamboo field. All giving green and fresh view while the uphill was moderate, not a steep uphill. The change of scenery was very dynamic, some interesting views come one by one. A little girl alone in the cliff of a big river-dam, a group of little boys enjoy naked bath, a group of farmers work in paddy field, women wash clothes using river water. A normal scenery of kampong. Will not be so interesting to tell unless you experience to face by yourself.

Suddenly we found a steep tarmac uphill and then we arrived at the junction of Sukamantri and Curug Luhur. This is the same point we also passing through on the last Bogor ride to Pure…

Then it’s time to pit-stop. This was the first long pitstop of already 90 minutes ride. Om Nurdin said that the time permits us more since it was just past 8 am in the morning. He looks amazed by the time achievement. After this point we have a lot and more pit-stop to be taken.

Not only a new route to Sukamantri I was experiencing, the view also different. Beside we do a different route, the track itself already gone through significant changes. While the old sukamantri very famous for it’s long and never-ending loose tarmac track, what currently available now is smooth asphalt already taken 70% of the tarmac session to Sukamantri.

These are my last stories about Sukamantri
2007 first ride with 1PDN http://antoix.wordpress.com/2007/11/18/sukamantri1/
2008 ride with Jacyco http://antoix.wordpress.com/2008/05/25/sukamantri/
2009 double expresso trip by 1PDN http://antoix.wordpress.com/2009/09/17/beberapa-foto/

IMG_0085to-clI really missed the hard and frustrating part of uphill right after we came out of the main road. It was gradual destruction of road condition. Frustrating and felt like never-ending tarmac uphills. I really really missed those trips.

The track still left for us some final part of tarmac, a gate of ‘KUJANG RAIDER’ military sign, and twisty road in the middle of pine forest. Get lucky that the best part of the road still in ‘mountain bike friendly’ condition, full of (still) frustrating tarmac uphill. Save the best for last. Don’t know for how long..

The final destination, the finish line in Sukamantri Camp Site relatively still the same site from the last 5 years. The environment still the same, some youngsters dong camping. The small shops are still the same, including the famous ‘Teh Kon’ was still there.

A historic place for my mountain bike experience. Glad to enjoy it again after my first mountain bike ride back in Novemeber 2007. Since time not permit, we don’t have the time to take offroad downhill routes. Sad but true. Oya, I finally reach Bogor Raya residence (near Baranangsiang) just before 12. The right time to have a Friday praying. Halfday and hard short-ride.

A lot of changes happen on the track but the solution by uphill via Ciomas giving a new life this this track.

frustrating tarmac

frustrating tarmac

warning

warning

sukamantri camp site

sukamantri camp site

@antoix track rating:
uphill: 8/10
downhill: 6/10
endurance: 7/10
technical: 6/10
landscape view: 8/10
distance: 38.7 km
Total vertical climb: ca. 740 m

The tracklog can be found in bikemap…

peta-sukman

This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


WJxc Ride#10 Cipunagara CikarangMTB Kolozal#10 Survey (En)

Prasasti/ carved stone writings

Prasasti/ carved stone writings

a sleepy morning near Gua Belanda

a sleepy morning near Gua Belanda

Bandung, 20 Oct 2012

Here we are… twice a year Cikarangmtb KOLOZAL mountain bike event has arrived in town. Mmm… not really arrived, but at least this post will tell a story on the survey trip. The one and only survey trip for this KOLOZAL#10. Some edition of KOLOZAL trips were going through multiple surveys, but this KOLOZAL is special. One survey is enough. Hopefully…

A corn-ish pit-stop

A corn-ish pit-stop

FYI, Cikarangmtb KOLOZAL series been running for 10 series within last 5 years

#1 Kota Bunga – Cikarang (2007)
#2 Wanayasa – Maranggi (2008)
#3 Curug Cigeuntis (2009)
#4 Mandalawangi (2009)
#5 Kaldera Manglayang (2010)
#6 Tangkuban Parahu – Wanayasa (2010)
#7 Gunung Padang – Campaka (2011)
#8 Ranca Upas – Kawah Rengganis (2011)
#9 Km 97 (2012)
#10 Cipunagara (2012)

I always enjoy survey ride of KOLOZAL event. The survey proven to be so adventurous, with so many things to be anticipated and achieved.

Need to check available options for lunch-site, ‘isoma’-site. Assessment on the track which should be friendly enough for regular mountain bike-er. Try to find out options lunch and praying break, including access to the site, where to find available local vendor for lunch. Already a long list? That’s not all. The possibly most challenging and yet entertaining task been doing the track assessment, and this are a never before ridden track. So, we don’t have any idea what it looks and feel like. It’s like a gamble, a planned gamble.

The start site, which a forest, a struggling forest in the middle of north Bandung highland environmental destruction. A green environment in the middle of civilization. A lot of historic places inside an oasis of forest heaven.

IMG_1902poster2

it was a start of late rainy season

it was a start of late rainy season

A fresh air rainforest entertainment finished when we come out of the ‘Taman Hutan Rakyat Ir H Juanda’ area through Maribaya gate. This area lying on top of ‘Lembang Slip’ and produce a lot of interesting topographic layers. Some are extreme, which are beautiful in view of mountain bike activities.

Another interesting part on the uphill was the offroad part to peak of Cikidang. We cannot really said that it was a ‘peak’, it was like a tip of a big bucket. The uphill offroad line really remind me of uphill track to Pondok Pemburu. Not steep uphills, but long enough and challenging. This was my second trip in this line after the first solo ride three months before…

A Bee sting incident slap me out in the peak site. It was not easy to handle since the next 2-3 hours since my head feel strange, my balance disturbed. I was lucky that can continue the ride safely.

at Cikidang Peak

at Cikidang Peak

Photography was one of the interesting part of a survey. We need to collect interesting pictures, and will be part of the promotional campaign of KOLOZAL. This was not easy since we deal with new track, we face unexpected track conditions, and our photographic mind and view always need to be sharp. Look for every opportunities to document the track. Physically hard and artistically challenging.

After intriguing 14km uphills then we go through the 17km tarmac downhill part. This downhill part was hard, long, and especially dark. Yes, one of the spice during a survey was getting lost. Taking an unexpectedly wrong route/lines. Then resulting in a long and felt like never ending dark tarmac downhill. The terrain already giving a hard physical challenge, getting lost make the route much far away from the plan, and the dark of the night in the middle of the woods make it even more and more challenging.

This is Cipunagara Tea Plantation

This is Cipunagara Tea Plantation

The Cipunagara area, which we found a tea plantation, a tea processing factory, was really a remote area. Up to Cikidang peak the road of bad tarmac and a long twisty down to Darmaga. Both are too far away. The area looks like a piece of heaven spotted in the middle of nowhere. The feeling, the aura and the surroundings gives us a unique feeling, which I cannot describe in words.

I was a combination of mystery, exoticism, remoteness, secluded, beautiful. A strange combination of words. The best choice I can take.

Finally when we found a clean and smooth asphalt road it was already around 7pm. Our initial plan to take a finish line in Cigayonggong lake was cancelled and try to find out something to eat. Rain and the rough track already push our physical and mental condition to the limit.

Yes. This is a real survey.

A combination of curiosity, physical and mental pressure and time limitation. A perfect ride which we do not want the whole 120 mountain bike riders of KOLOZAL taking the same hard route.

@antoix track rating:
uphill: 8/10
downhill: 9/10
endurance: 8/10
technical: 8/10
landscape view: 8/10
distance: 38.6 km
Total vertical climb: ca. 920 m

Tracklog can be found and download in bikemap…

peta-kol10survey

This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


WJxc Ride#9 Cherry Marathon 74km, Karawang (En) – part2

back to the right lines, just only being opened for access

back to the right lines

continued from part1…

A huge mental blow when finally came out of the dead end I was continue to follow the track, a very narrow double-track which looks just only being opened for access. I was so grateful to be able to continue safely.

The next part of the trip was facing ‘the beast’. The double-track tarmac uphill line was straight, to the point, direct while the temperature around the track been increasing to it’s hot peak. It was hard. One of the hardest uphill I have ever taken on my experience. I was not realize that I was doing the fun-cherry track in reverse and then facing this uncompromising uphill line. Yes, I have taken the wrong direction of the route! Back to the uphill.

I stop on every 10-20 meter. This short 10-20 meter has successfully bring up my heartbeat to the maximum allowable level, 170bpm. The uphill was hard but yet beautiful. Writing this post blog two months after the ride I am already miss this uphill part and want to take it, experience the roughness, feel the maximum heartbeat only after meters pedaling.

It was beautiful uphill…

the most beautiful uphill, the hardest one

the most beautiful uphill, the hardest one

Struggling to get to the end of the ‘beast uphill’, I found myself overwhelmed by the view from the top of the hill.

We can see nearly 270 degree of horizon. From left-front-right are: Cikarang Area in left, far away Industrial area in Cikarang and Karawang; while in front of us we can see far away Kujang Fertilizer plant in Cikampek with all Citarum valleys; in right we can see Jatiluhur area only right behind some hills. Beautiful 270 degree beautiful view. A nice closure for beautiful uphill.

Then I decided to take another pit-stop. To calm down my mental after going through dead end. To calm down my heart after exhaustive uphill. To cool down my body with cold drinks.

Again. The rumors I heard about how hard to get an adequately small shops to cool down proven that it was only a rumors. The place, called Kuta Jati, prepare a lot of options for logistic loading including availability of ice. Yes, there was no electricity, but they prepare ice for you!!

After a long pit-stop for 30 minutes continue leaving the beautiful site and going through the back of the hills, goes partly flat and partly down all the way: Kuta Jati to Kuta Tandingan to Kuta Kalambu and then to a simple an famous three-way junction with a lot of Cherry tree… A cool place we were looking for.

I treat myself a lunch while my emotion still in high…
Reaching this Cherry trees after all those ways to get here

Kuta Tandingan... then followed by Kuta Kalambu and Kuta Meriem

Kuta Tandingan… then followed by Kuta Kalambu and Kuta Meriem

Typical scenery around the track was full of hills and hills. Never ending hills one after another. Some part are considered karst area which usually lack of water. A lot of water sip into the ground and a lot of underground river links deep down the earth.

People lives here has adapted to live in such a very hard environment. In the rainy season they try to grow only use rainwater for water source. Some try to grow coffee and oranges, but not much has a good result. No electricity worsen the living condition.

After taking a mental and physical recharge in Cherry, the closing part of the trip was even harder. In going home I have choose to take another two piece of the links. One is what known as ‘Hutan Jati’ or ‘Teak Forest’. This route already going round, taking longer route rather than directly back to Cikarang area. To make the trip ‘perfect’ I was also taken part of ‘Gua Bau’ route as closer chapter.

After 74km or endurance marathon, 6pm arrive back home, exhausted but excitedly determined…
The best route to challenge your endurance; mentally and physically

@antoix track rating:
uphill: 8/10
downhill: 6/10
endurance: 10/10
technical: 8/10
landscape view: 8/10
distance: 74km
rolling track, tarmac and fireroad

The tracklog can be found in bikemap…

Cherry... the beautiful torture track

Cherry… the beautiful torture track

map-funcherry

This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


WJxc Ride#9 Cherry Marathon 74km, Karawang (En) – part1

IMG_1692kalimalang600Cikarang, 14 Oct 2012

This trip, the trip to Cherry, been always in my list of ride for long long time. The track is too famous, and then become a benchmark for every mountain bike rider in Cikarang and Karawang area. I heard about the roughness of this track since five years ago, since my first encounter with mountain bike activity. Again, because it’s so famous. Too many people in cikarang mountain biking scene talk about it.

It’s been postponed and postponed, especially because my own fear, my own weakness. I was enjoy uphill, being an uphill enthusiast, and then heard that this track is long and full of rolling terrain. Rolling is the terrain combination between uphill and downhill side by side. This kind of terrain was the last thing I wanna ride. Being an uphill enthusiast a short downhill and uphill consecutively in my opinion is like going nowhere. You do a hard uphill, not too long, and then followed by short downhill also for not too long. It felt like a torture for me.

san diego

san diego

Before decide to finally take this route for a solo trip I have been trained myself to adopt to rolling terrain. I push myself to find what to enjoy in this kind of cycling track. I do some series of rides, what I called ‘bimbel’ (Bahasa term means some kind of training for kids in schools, training program outside the official school hours). The main training ground are tracks around Sand Diego and Pasircongcot area.

One of the final training part was when I was doing solo ride night-ride San Diego-Pasircongcot ride. The enjoyment and excitement during this ‘bimbel’ ride been told me the beauty side of rolling terrains. Finally I was accustomed to rolling track, I know how to enjoy the track.

signage indicating problem?

signage indicating problem?

Choosing the right track was a big problem. There have been so many combinations around the area. There are a lot lot of tracks goes through Cherry. A combinations ins and outs. Count yourself a lot of permutations available. Finally I decide to take the most far options, combine Fun-Cherry, Hutan Jati and Goa Bau. Decide solo ride will be only depend on my speed on my own will and a lot options to change by on site decisions.

That morning, leave home at 530am and finding a smell of fresh dew when hit offroad area from Kalimalang to SanDiego. A favorite bimbel track felt like my own backyard. Reach San Diego, a small traditional restaurant at around 700am and take a fast breakfast. San Diego Soup was the main menu, my fave menu. Fresh and hot, heat up you body, warm up your feeling since this would be the last decent logistics loading. I load two tumbler full. One with fresh water and another with sweet cold tea Tehbotol. Ready to go…

In doubt on what option route to take, regular-cherry or fun-cherry? Fun-cherry will give more load to the track, this is the longest track to Cherry. Passing by the junction, finally turned back to junction and take fun-cherry route. Rolling track start to hit my bike. Up to first 3km we still can find a lot of trees, some of the villages are still green and felt cool. Up to first 5km we still met other team want to go to Cherry. After that, all alone to the edge of the fun-cherry route.

Ruins beside track... what's happen I don't want to know

Ruins beside track… what’s happen I don’t want to know

There was a released plan that this area will be the place of the new Jakarta’s airport. Currently the area was rarely inhabited, lack of infrastructure. After 5km from San Diego I cannot see any electricity lines. Yet the area already in the heat of land ownership problems. Can be seen by a lot of signage claimed that the land was never been sold. Some ruins ex houses look like the house had taken unexpected treatment rather than expected planned moving.

Going countless up and down hills finally I felt need a break after around 2 hours riding. Looking at my GPS the trip was not yet over 20% of distance to Cherry. I see a simple ‘warong’ (small shop) equiped with ice then I stop and order cola with ice. Due to start at early morning, the heat of the terrain has just start striking our body. I cannot imagine if the trip start late 2-3 hours after.

I often hear stories that we will be lack of logistic support (small shops) around the track, actual situation I face was not as bad as I thought. Yes, the shop is not every 5km, yes there was no electricity, but at least we have place to buy cool and sweet drinks along the way.

The pit-stop, cola with ice

The pit-stop, cola with ice

The first real pitstop for around 20 minutes will cool soda-drink really boost up my enthusiasm. What happen next was entering the far and outside, corner of the track. Feel like going into corner of the world. The track from tarmac becom a clear fireroad. I cannot imagine what would be the track condition in rainy season. Will be full of mud. Even in the peak of dry season like October, we still feel like in the middle of nowhere. Actually also happened since the GPS track lead me into a dead end.

Yes. Dead end. Jalan Buntu.

It was not easy handling myself facing this situation. Try to keep logical was my main priority, controlling urge of excitement to continue, monitoring condition of the track, and keep doing it safely since nobody else but you. The experience itself has thought me abundance of lessons. It was not about the reality to continue following the GPS tracklog (which later on I found Om Hanif, the trekbuilder himself, was not taking this route and was taken another safer route). It was about handling the pressure and go through it.

continued to part2…

This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


WJxc Ride#8 Pure Prabu Siliwangi, Bogor (En)

Bogor, 6 Oct 2012

This was ride number eight of the West Java XC rides. I still try to manage my emotion, my spirit and my expectations on the series of rides. I try to jump from one area to another, from ride to ride, weekend to weekend, so that I can feel the variations. This was one of the reason I choose this track in Bogor, to have the variations. The trip members were also more diversified in riding experience.

Arrive 0630am in the starting area, near Bogor city hall. Nostalgic feeling comes. This is the place I started my mountain bike hobby. Back in 2007 when I join the first mountain bike trip to the woods, the mountain. The place was not very much changed compared to 2007. This starting point, very often known as ‘lippo’, very popular for Bogor mountain bike sphere. Starting from this point been a default for a long long time. You have a lot of options from Setul area, Gede-Pangrango area, Salak-Halimun area.

starting point, beside Bogor City Hall, near Botanical Garden

Today’s mountain biking become even more nostalgic feeling when Aki Oni Aunilla joined and lead the trip. He was the same rider in my first mountain bike trip back in 2007. Just 3 minutes after start, we have pedaling our mountain bike inside urban Bogor area. Narrow roads, relatively slope, hilly. Sometimes our handlebar just centimeters away from walls beside the track. Special! This is why I really enjoy cycling with Aki Oni, he knows too many alternatives lines. Simple destination like Bogor Nirwana Resort has become a special journey, with so many interesting urban environments.

Not yet feel enough on the urban kampong uphill, we have a long on road uphill within Bogor Nirwana Resort (BNR). This is my only second time taking this BNR uphill, the ride was not hard, but it will feel like a hit on your chest and feet. Then we met the end of the BNR uphill and start taking another kampong uphill.

Leaving BnR (Bogor Nirwana Residence), start taking ‘kampong’ roads, Mt Salak beautiful background

Kampong to kampong, village to village, were the main course of this trip. Aki Oni lead us cycling through a wide kampong access road, twisty road between dense housing. Road wide vary from just enough for a car and also just enough for a walk. Some part of the track in between houses track wide just centimeters from a wide of handlebar.

After beauty of kampong and paddy-field combinations finally we reach a regular asphalt road then start more steep uphill. The track was a tarmac bad condition double-track, and that day being improved by asphalt. An irony, while mountain bike enthusiast would prefer bad road condition while people around the track would prefer better road condition.

Uphill track currently being improved, once it was a tarmac endurance technical uphill

Leaving an asphalt track then we take the cement base track. The track was just fit for the wide of regular car. Every time we need to pull over when facing a car from the other side. The hilly track has become more and more steep and finally we can see our main destination, Pure Prabu Siliwangi. A final steep uphill bring us to Pure. We take a rest in one of the local shop near Pure. Taking some bottle of hot tea and cold beverages.

A small shop/restaurant in front of Pure’s gate. The first decent place we can order drinks and meals

Nearly an hour we have a long pitstop in front of The Pure Gn Salak. A long pitstop with a long discussion finally taken decision to go more up the hill above the Pure. This time the track really give us a hit in the chest. The steep tarmac uphill line successfully make our lungs feel like going to explode up to the top of the hill.

This is the time to enjoy the scenery. Bogor, Parung and Tangerang area far away we can see from this top of the track. On our left is the Curug Nangka area. A waterfall park. We continue the track down. The single-track was quite technical downhill although not too long. Then we continue with tarmac downhill and then asphalt track after approx 2km of hard and shocking tarmac. On-road part back to start point near Kebun Raya/Botanical Garden will take us another 45 minutes ride.

A site between Pure and Curug Nangka hills, only downhill lines from this point

@antoix track rating:
uphill: 8/10
downhill: 6/10
endurance: 7/10
technical: 7/10
landscape view: 8/10

Tracklog can be found and download in bikemap…

This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.