WJxc Ride#15 Nawit-Bondol
Nyepi, dan yang penting … libur…
Sudah selayaknya kita menyepi, mungkin… tapi pagi ini saya ikuti saja kata hati buat gowes teduh dan sepi tanpa gonjang ganjing, walaupun ternyata matahari bersinar cukup terik.
Di tengah jalan tampak pemandangan unik yang ternyata adalah arena jual beli hewan. Ada bebek ayam dan kambing serta domba. Seru melihat mereka berkemas, memasukkan kembali kambing ke dalam keranjang yang ditempelkan di motor. Satu motor memuat 6 kambing. Banyak kan?
Mungkin terdengar sederhana, namun kok saya menemukan perasaan nyaman dan teduh ya berada di tengah jualbeli yang sederhana ini. Obrol punya obrol, salah satu pembeli berasal dari area Jonggol, dan kemudian kambing kambing yang baru dibeli ini akan dijual di pasar di daerah Jonggol sana, yang membeli biasanya petani. Kisah simpel mencari rejeki yang sederhana dan teduh didengar.
Akhirnya setelah menemui beberapa jalan yang semakin menyempit, meski dalam keteduhan dedaunan pohon pohon kampung yang rindang, akhirnya sampai ke sebuah jembatan bambu. Ada rumah tepat di sebelah jembatan bambu. Setelah berbasa basi maka bertanyalah kepada Bapak pemilik rumah/warung tentang apa nama daerah ini… “Ini Nawit dik…”
Unik memang area ini. Jalan meliuk liuk, ada yang sudah dibeton, ada juga yang masih jalan tanah. Campur. Jalan nya pun jarang sekali yang lurus lurus dan bisa ditebak arahnya. Semalam saya lihat di Google Earth memang area ini jalan kampungnya meliuk liuk, melingkar dan tak lurus. Menyesuaikan dengan bentuk sungai nya kah? Mungkin.
Salah satu yang juga unik dari area ini adalah betapa masih teduh nya. Entah kenapa penduduk tampak tidak tertarik untuk memotong pohon pohon di kebun nya. Campuran berbagai pohon tanaman keras dan tentusaja banyak pohon bambu. Teduh. Tak terbantah. Serasa tidak sedang berada di area yang dekat dengan Cikarang saja. Penduduk juga tampak banyak memelihara sapi dan domba. Sapi dan domba dibiarkan berkeliaran di halaman, dibawah keteduhan pohon pohon rindang. Aseli, aura kampung ini beda banget…
Kembali menembus berbagai jalan meliuk dalam teduh kampung disambut turunan panjang dan akhirnya sampailah ke sebuah warung yang berada, lagi lagi di sebelah sebuah jembatan beton yang besar. Jembatannya tampak aneh, tapi warungnya tampak sering melihat fotonya… kembali bertanya dan dijawab “Ini Bondol dik…” ditambah lagi “Oooo… itu sungai Cikarang dik…”
Setelah makan dengan menu yang terkenal, akhirnya pulang dalam perjalanan jalan beton panjang yang serasa tak ada habisnya…
Demikian sebagian cerita genjot hari ini…
This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
WJxc Ride#14 – Gratis Cariu part-2
bagian kedua lanjutan dari…
Tapi memang Allah sayang sama kami. Terbukti salah satu dari pemuda desa, berambut agak gondrong, segera bergegas, “…ayo lah saya anterin…” sambil dia mengambil golok dan mulai memimpin di depan menunjukkan jalan.
Kampung ini ada di pinggir sungai, tampak hidup dari sawah dan padi yang banyak bertebaran di sekitar kampung. Tampak listrik belum masuk samasekali. Kami pun dibawa melewati jalan kampung, sejajar dengan sungai, bukan langsung menuju sungai. Baru kemudian waktu akhirnya melihat sungainya kami paham ternyata kami dibawa ke area sungai yang terlebar. Sungai terlebar artinya air sudah terdangkal.
Memang kita sering mendengar Cibeet, sering juga naik getek diatasnya di Cikarang. Cuma ini kan Cigaruguy. Kemiringan nya berbeda, mengakibatkan kekuatan aliran sungai juga berbeda, sungai ada di turunan gitu, bukan jalan flat seperti di cikarang. Batu bagu vulkanik yang guede guede segede motor, mobil dan rumah juga boanyak. Airnya berwarna cokelat dan suaranya bergemuruh, air beradu dengan batu sungai.
Pemuda Gondrong segera menyeberang menggotong sepeda Om Koko. Dari kejauhan saya lihat Om Koko tergopoh gopoh hati hati menyeberang. Bagian paling berbahaya dan kuat arusnya adalah bagian pinggir yang paling dekat dengan seberang sungai. Khawatir banget saya. Sejak melihat trek sudah tampak harus melewati sungai, tapi tidak menyangka akan se berbahaya ini.
Dengan berbekal keberanian seadanya dan berdoa, sepeda saya angkat dan kami mulai beramai ramai menyeberang. Deg deg an pol. Takut terbawa arus yang sangat kuat. Kondisi fisik kami juga sudah melemah. Aduh. Aseli yang kepikiran di kepala saya aneh aneh dan macam macam. Makanya jangan heran kalo sesampainya di seberang wajah saya mirip martabak pahiiittttt.. banget.





Setelah menyeberang, kami lega luarbiasa. Alhamdulillah kita selamat. Bukan tak kurang suatu apa sih, karena martabak berceceran sejak dari downhill bukit tadi. Jalan terus tanpa henti menerabas terabas. Aseli lelaaaahhh banget banget karena tanpa pitstop. Jam menunjukkan pukul 430 sore. Berarti selama hampir 2 jam akrobat downhill trabas tadi, dan ditutup dengan nyeberang sungai deras setinggi pinggang kami tanpa istirahat. Semua tim selonjoran lega…
Saya sudah mulai kebayang sungai berikutnya yang harus kita seberangi. Masih ada satu lagi. Dan jangan sampai deh nyeberang sungai di malam gelap…
Sebelum saya melanjutkan ceritanya saya sampaikan rasa hormat dan salut kembali untuk rekan rekan seperjalanan gowes gratis ini…
Om Royan, yang terakhir kali ketemu lagi gowes sendirian di bukit telletubbies. Belum make helm, pasti bakal dimarahin Eyang…
Om Kodrat, dulur songolikur yang kalo lagi nembak bikin deg deg an. Khawatir melihat banyaknya volume peluru, tapi juga lega karena biasanya trus genjotnya lancar
Om Atoe, saat saya sudah mulai memutuskan untuk TTB aja, kok masih saja ada yang genjot yah?
Om Ratman, edan bener adegan balapan sama motor di tanjakan tembok ratapan. Orang lain dorong sepeda aja ngosh ngosh an… Lontaran lagu nya membuat cair suasana tegang
Om Latip, keren banget bisa bangun pagi… mantap. Mohon maap porsi epak nya trek ini tidak bisa diperpanjang lagi
Om HajiAsim, jangan lupa, orang pintar minum tolak angin…
Om Okky, salut banget, diam diam nywipperin, menjemput sepeda rekan yang kepayahan, mantep banget gowes bareng si Om Istimewa ini…
Salut untuk om om semua. Saya bisa mengerti kalau di Gratis mendatang om tidak lagi menyatakan ikutan. Mohon maaf sedalamnya dari perasaan ter tulus atas hidangan menyeberang sungai (berkali kali) dengan debit air yang tidak terlihat dari Google Earth.
Nah, ceritanya lanjut… Setelah menyeberang dan habis satu batang rokok, maka kita pun segera berangkat lagi. Kita pun mendekati dan masuk ke rancangan trek versi pertama, bukan versi bukit tiasa cigaruguy, itu versi kedua. Jadi Om Asim, kalo di musholla kita lanjut turun jalan makadam maka akan ketemu trek seberang sungai ini juga. Ini memang rencananya begitu.
Keluar masuk kampung dengan kondisi cuaca yang mulai menuju gelap. Kadang kala ketemu jalan buntu, justru gara gara ngikutin singletrek kampung yang mulus diplester semen. Beberapa kali kejadian balik kanan jalan buntu dan cek and ricek di pertigaan perempatan. Sekitar 30 menti gowes di singletrek makadam campur dengan pematang sawah dan jalan kampung sebesar motor maka kita pun ketemu sungai yang kedua. Alhamdulillah masih belum gelap ketemu sungai nya.
Cibeet ini kan anak sungai nya banyak. Jadi saat kita dari kampung ke kampung mengikuti sejajar sungai Cibeet Hulu maka kita akan beberapa kali ketemu dan menyeberangi anak sungainya. Kepercayaan diri lebih tinggi daripada saat menyeberang pertama karena juga tampak sungainya lebih kecil. Ternyata lebih dangkal meskipun aliran airnya tetap saja kencang. Air coklat yang menyeret.
Setelah dua sungai maka kita bertemu tanjakan yang ya ampun panjaaaaaaanggg banget. Tak ada seorangpun dari member yang genjot di tanjakan makadam itu. Perpaduan antara lemas, lelah, licin, makadam tak beraturan, basah dan tanjakan. Kadang tampak sebuah turunan menghibur. Kadang melewati jembatan bambu melintasi sungai kecil. Sebagian besar jalan adalah makdam singletrek. Benar benar ujian ketabahan mental dan kekuatan fisik. Saya sendiri merasa kita harus terus push mumpung masih terang. Pasti kondisi akan berubah jauh saat hari berubah menjadi gelap dalam medan sepeti ini.
Saat mulai terdengar Adzan Maghrib maka kita pun berhenti dari kegiatan dorong sepeda, dan mulai memasang lampu. Lalu saya ambil satu persatu foto rekan trip ini. Bisa terlihat dengan jelas dari body language nya kira kira apa yang ada dalam pikiran rekan rekan ini saat saya tanya, “Giman Om, apa kesannya trip ini?”
Hahahaha… TTB berlampu pun kita lanjutkan dan akhirnya kita menemukan sebuah WARUNG!!! Ya WARUNG yang seperti guyuran air segar dihati kami… Tanpa pikir panjang parkir dan mulai memesan apa yang tersedia….
GUK GUK GUK GUK…
Astaga. Sempat kaget luarbisa mendekat ke warung yang ber listrik ini, sambutan yang tak biasa
Bapak penunggu warung bercerita kenapa tidak pasang kulkas. Watt nya terbatas, dan harus menarik kabel sejauh 1.5kilometer untuk bisa mendapatkan aliran listrik…
Saya tengok ke GPS… Jalan raya Cariu-Cianjur masih sekitar 8kilometer lagi…
Sebuah warung ber listrik yang melegakan, minuman bersoda dan teh manis panas yang masuk ke perut, jalan depan rumah yang tampak melebar, selebar dua motor, jalan menurun yang tampak menunggu di depan, benar benar membuat goweser tambah semangat. Rasanya peradaban sudahlah dekat. Wajah cerah dan gerakan tubuh optimis segera menyebar dan kami pun istirahat hanya sebentar. Melihat jalan depan warung yang tampak bisa dilewati mobil, om John segera mencoba melihat ke hp, apakah ada sinyal yang nyangkut. Saya bilang ke belio, Pak Ucu ituharus diajarin ilmu GPS. Kita tinggal kirim koordinat, dan Pak Ucu masukkan ke GPS mobil dan meluncur… hihihihi. Sinyal masih on off.
Trek selanjutnya benar benar memabukkan. Meskipun dalam gelap turunan nya poanjaaanngg dan landai. Kiri kanan trek memang gelap gulita, baik kebun maupun kampung. Tak percaya rasanya kami mendapat anugerah turunan panjang begini. Dalam hati mulai berharap, semogaaaa… saja sampai ketemu jalan aspal jalannya seperti ini. Harapan yang sia sia. Tak berapa lama jalan berubah menjadi makadam. Makadam bentuk tak beraturan, tampak benar jarang dilewati kendaraan. Sisa hujan licin lalu tak lama terdengar bunyi GEDUBRAK !!
Sejak itu kami lebih hati hati. Kadang kalau perlu TTB dijalankan lagi meskipun trek menanjak tidak miring. Kampung ke kampung desa ke desa dengan variasi kondisi jalan. Kadang trek masuk ke kampung yang cuma sebesar handlebar diplester semen dan turunan basah. Licin. Dan… ternyata kami harus menyeberangi satu sungai lagi!! Ampun. Yang ini tak terduga. Rasanya sudah habis sungainya dari ingatan saya. Dalam gelap dengan lampu kami lagi lagi menggendong sepeda menyeberang sungai. Alhamdulillah setelah menyeberang sungai yang terakhir ini jalan tiba tiba melebar. Selebar mobil, ber aspal sirtu. Kondisi berubah ubah kadang aspal rusak dan kadang kondisi baik.
Kampung berganti kebun berganti sawah silih berganti tak terhitung malam itu. Semangat sih masih tinggi, tapi tanjakan juga gak habis habis. Formula nya formula sisir lembah sungai karena sungai Cibeet terdengar suara gemuruhnya di sebelah kiri trek. Sisir lembah itu iramanya gini: rata di dalam kampung, turunan keluar kampung masuk sawah kebun yang gelap, ketemu jembatan diatas sungai kecil, nanjak di kegelapan, ketemu kampung lagi. Teruuuuusss… berulang countless… tak terhitung.
Untuk mengobati salah satu member yang terluka karena rem mendadak di turunan licin maka kami pun berhenti di sebuah warung dan terjadilah makan telur rebus seorang satu itu. Sebuah selingan yang cukup melegakan meskipun waktu kita tanya ibu penunggu warung tentang jalan aspal besar cariu ke cianjur jawabannya… “tebih pisaaannn…” dan “loba tanjakaaaannn…”. Bikin muka dan ekspresi rekan rekan tambah pucat dan derajat terlunta lunta meraih titik tertinggi.
Tapi setiap kesabaran berjawab keindahan… Akhirnya sekitar jam 930 malam kami pun bertemu jalan beton tanjakan puncak pinus Cariu. Akhirnya. Seperti dipersiapkan sebelumnya satu kendaraan epak sudah menunggu… Trek selanjutnya sekitar 20menit adalah sebagian besar turunan dilengkapi rolling tanjakan juga. Tapi sudah hampir tak terasa di kaki itu tanjakan tanjakan yang cenderung terasa landai setelah sekian lama ketemu tanjakan tanjakan yang dituntun pun berat…
Sekitar jam 2140 kami mencapai titik start masjid kubah hijau dengan kelegaan tiada tara…
Mulai cari hp dan kirim sms ke menkeu…
TAMAT
This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
WJxc Ride#14 – Gratis Cariu part-1
Sudah sejak sekitar awal tahun lalu pengen banget menengok trek di daerah Cariu ini. Awalnya sih sering mendengar tentang Gn Batu dari rekan rekan mtb dan berakhir dengan sebuah draft trek, yang semula, saya kira memang itulah gn. Batu. Ternyata? Hehehe… kayaknya sih gunung ‘sebelah’ gn. Batu. Gapapa lah masih sebelahnya.
Akhirnya pagi itu berangkatlah 8 rekan pesepeda cmtb; OmHeruHajiasim, OmOkky, OmRatmanNewAABike, OmLatifJohnEpak, OmAtoe, OmHendraElRoyan, OmQodratPaspamvresh dan @antoix. Setelah mampir ke pintu10 dulu, jam 5 pagi lebih sedikit kita sudah mangkal di nasi uduk depan aabike. Nasi uduk jengkol masuk ke perut. Kumpul di Deltamas dan tim pun lengkap. Brangkat!!
Perjalanan darat melewati jalur matjyan mengaum Cicau dilanjutkan menuju titik start di Masjid Kubah Hijau. Posisi di dekat Puskesmas Tanjungsari, Cariu, Kab. Bogor. Cuaca cerah secerah cerahnya, padahal udah khawatir saja karena sehari sebelumnya hujan turun cukup lebat di Cikarang pun. Saat mulai genjot start jam 8 malam. Mengingat memang tanpa sweeper, alias GRATIS (Genjot Rame Tanpa SwIper) maka semua peserta berdoa dan mencatat nama lokasi titik start kalau siapa tau nyasar sendirian dan perlu petunjuk ojek kembali menuju titik start.
Sebelumnya saat melihat trek nya sudah kebayang sih, kalau bakal berat, akan ada GGB dan mungkin berlumpur lumpur, seharian sudah pasti. Siap nyasar dan dengan kondisi trek tak terduga. Adventurous dan hal hal tak terduga. Mungkin jalan buntu. Mungkin saya terlalu khawatir kali ya? Tapi terus coba saya tiupkan ke rekan rekan via chat bbm sejak sehari duahari sebelumnya. Maksudnya, biar gak kaget dan biar mempersiapkan mental. “Kalau kita sampai sebelum gelap sangat beruntung…” saya sampaikan di titik start.
Gowes semacam Sakit Jiwa kolozal memberi kenikmatan yang merindukan, mau pakai Sakit Jiwa tapi kan itu sudah identik melekat dengan kolozal. Maka GRATIS ini dibuatlah untuk pelampiasan tipe gowes serupa…
Ok ok… genjot yang ditunggu segera dimulai dalam ceria jalan aspal menuju Bandung. Masuk ke kampung, rolling naik turun aspal sampai akhirnya jalan keluar juga ke jalan berbatu makadam di puncak sebuah bukit. Meski tanpa sweeper genjoter Gratis Cariu tetap dalam satu grup, termasuk saat menjalani sebuah jalan miring keatas yang panjang sampai berhenti di sebuah gerbang menuju tempat peristirahatan yang disebut tempat wisata religi.
Ngobrol dengan penduduk setempat yang dengan berapi api menjelaskan tanah ini milik pak jenderal anu dan tanah itu sekian puluh hektar milik pak jenderal itu. Rupanya berkait dengan masa lalu ada rencana memindahkan ibukota negara ke Jonggol.
“Main lagi saja ke sini dik.. nanti jalannya udah di aspal kok bentar lagi”. Wadooohhh… dengan segera rencana meng aspal ini diprotes segenap tim. Genjot miringnya enak tidak curam terus hanya di beberapa titik saja. Gowesable. “Jadi ingat sukamantri jaman dulu…” kata seorang rekan. Akhirnya kita berhenti lagi di Kampung Cijambe, menjumpai sebuah warung dan mulai memesan teh panas manis… sluruuuppp…
Tak terasa lama juga kita nge-pos di warung penyedia teh manis panas ini. Meskipun tampak dari luar warung kalau ada kulkas di dalam warung, namun tampaknya isi kulkas tidaklah membahagia kan. Sampai akhir trip kita banyak menemui warung ber kulkas dengan isi kulkas yang mengecewakan. Jangan jangan buat pajangan dan naruh baju kali ya?
Trek selanjutnya adalah masih dan masih campuran antara makadam dan jalan tanah dengan kubangan dan lumpur. Semakin naik semakin sejuk anginnya semakin indah pemandangan ke arah lembah. Di kejauhan sangat menarik perhatian punuk punuk gunung seputar desa philips Ciguentis yang terlihat istimewa dan indah di kejauhan.
Sekitar trek tidaklah tampak tanah cukup produktif. Jika bukan kebon yang berisi hutan rakyat, yaitu tanaman budidaya kayu maka lahan akan ditanami singkong, jagung meskipun sangat jarang. Juga ada pohon pisang menutup satu bukit/gunung. Tampak semua pohon pisang nya tanpa ada yang berbuah. Baru kemudian kita tahu kalau memang daun pisang nya lah yang menjadi komoditi yang dipanen.
Rolling kemiringan tambah miring dan sampai akhirnya bertemu kampung dengan kendaraan epak dimana kita foto dulu rekan kita John Epak di sebelah kendaraan kebanggaan.
Tak terduga kita bertanya ke anak kecil dan diberi tahu kalau ada ‘jalan aspal’ di depan. Seperti bercanda saja itu katanya ada jalan aspal. Tapi ternyata beneran, setelah ketemu jembatan lalu kita disambut tanjakan panjang ber-aspal. Seperti ada perasaan aneh di tengah negeri antah berantah begini ketemu jalan aspal.
Tak berapa lama kita segera keluar jalan aspal dan mulai miring meliuk liuk switchback sampai ketemu warung berikutnya di sebuah pertigaan. Warung Rumah Nenek yang Kang Latip memotret nenek tua. Di warung ini pun saya sampaikan kalo bagian berikutnya adalah part ‘Tembok Ratapan’, sehingga silakan loading minum dan makan sepuasnya. Saya memesan dua butir telor diceplok dimakan pakai kecap. Nyam… Untuk melonggarkan dan melebarkan pembuluh darah maka minum kopi kapal api juga…
Di warung nenek inilah tim mendapat pemandangan indah, yaitu turunan, jalan makadam besar tampak enak digenjot sampai ke titik start. Tapi sayangnya tidak seorangpun dari peserta gowes benar benar mejalaninya. Meskipun stok martabak sudah mulai menumpuk, tapi ternyata stok harga diri masih memiliki tumpukan yang lebih tinggi
Selanjutnya yang dihadapi adalah sebuah tembok… Kemiringan secara tiba tiba meningkat tajam, trek pun berubah dari doubletrack jadi singletrack makadam. Sepeda hanya lah bisa digowes di beberapa titik. Sisanya kita harus rela untuk mendorong dan mendorong.
Mau cerita apa lagi di bagian ini ya? Habis cuma dorong dorong dan dorong.
Seperti yang kita lihat di warung nenek pohon pisang ini untuk dipanen daun nya. Beberapa kali kami bertemu pengendara sepeda motor. Mengingatkan saya pada gaya menyetir motor dan skill handling motor mereka dengan trek trek yang tampak tidak mungkin dikendarai dengan motor-motor bebek begitu. Mereka mengendarai motor sambil berdiri menyeimbangkan badan. Mirip gaya trial-motorbike.
Kiri dan kanan trek, selain batu dan batu tampak beberapa bagian bisa ditanami lagi lagi dengan pisang. Trek cenderung zig zag. Di banyak bagian, sebelah kanan trek adalah jurang dan di sebelah kiri trek adalah kebun secuplik atau batu dan gunung yang rasanya tak habis habis. Semakin tinggi posisi kita, pemandangan sebelah kanan, berupa lembah Cariu dengan latarbelakang pegunungan Sanggabuana semakin indah dan semakin indah.
Disinilah tim mulai semakin sering grouping, dan mulai deh Om Ratman mempopulerkan lagu “jangan pikirin abang…”
Jangan pikirin abang, dek… abang juga gak tau nasib abang bakal gimana…
Saat melihat di Google Earth memang sudah tampak kalau ada kampung tidak jauh dibalik puncak nya tanjakan tembok ratapan ini. Saat masuk ke kampung kita disambut singletrek turunan yang moy meliuk liuk dalam hujan yang mulai turun. Segala martabak, penyesalan dan penderitaan selama dorong dorong sepeda di tembok ratapan pun akhirnya selesai ketika jalan melandai lalu kita temui turunan! Ya turunan menuju sebuah kampung. Di warung yang berseberangan dengan sebuah musholla kecil kami berhenti dan hujan mulai deras mengguyur.
Warung tempat kita berteduh menjadi riuh. Ibu penjaga warung pasti kerepotan melayani permintaan rekan rekan yang mulai aneh aneh setelah meratap ratap di tanjakan. Yang jelas segera bisa dipenuhi adalah permintaan akan nasi, lalapan dan terlor ceplok plus sambal. Kalo dihidangkan di meja makan di rumah mungkin kita segera panggil bakso yang lewat saking menyedihkannya itu hidangan, tapi dalam hitungan detik segera nasi sebakul habis, semua lalapan termasuk kucai juga dilahap. Ampun deh. Memang sih waktu sudah menunjukkan sekitar jam 2 siang, wajar banget kalao lapar.
Peristiwa yang mengejutkan adalah tampilnya salah satu member trip dalam menjalankan keakhliannya. Tiba tiba dari dalam warung, dari dalam rumah penjual, muncullah seorang jejaka berkacamata hanyalah berbelit sarung saja. Wadoh. Maaf kalau ceritanya agak porno. Tapi begitulah adanya. Rambut belio tampak basah, rupanya habis mandi. Ya, mandi siang siang di rumah orang. Dengan santai belio menjawab semua kekaguman kita dengan jawaban singkat, “… makluuummm menantuuu….”
Huaduh!! Gubrax!!
Nemuuu aja ya WC buat mandi letaknya dimana.
Setelah semua sholat dan selonjoran. Agak hilang trauma ratapan, maka saya sampaikan tiga pilihan lanjutan trek. #1 Melewati Cigaruguy… akan masuk hutan tapi minim tanjakan dan tidak menyeberang sungai. #2 Melewati jalan makadam ke Arah Cipanas akan ada jembatan tapi onroad martabak tanjakan moy. #3 Balik lewat jalan berangkat.
Tidak ada yang menjawab pilih yang mana, malah ada yang nanya “apa pilihan ke #4 om?”. Setelah juga kita tanya2 bapak penunggu warung maka belio bilang kalo Lewat Cigaruguy adalah “TIASA”. Werrr.. kami pun menuju Cigaruguy…
Segeralah kita keluar dari jalan makadam dan disambut tanjakan tanah. Dorong sepeda sambil merenungi ban sepeda yang makin tebal dan tebal karena lumpur dan tanah menempel. Biking ngosh ngosh juga. Untung turunan segera menyambut. Turunan dalam kampung makin lama makin habis dan jalan makin tak terlihat. Saya tengok di GPS saat aktual perjalanan sudah mulai menyimpang dari rencana. Ternyata jalan yang ada dalam rencana (artinya tampak seperti jalan setapak di Google Earth) ternyata pada kenyataannya tidak ada di tempat. Huaduh!!
Sempat bingung dan tanya-tanya dalam kampung dan kepada siapapun yang kita temui, semua bilang ‘Tiasaaa…’. Pada kenyataannya kita berhenti di pematang sawah yang makin dan makin sempit. Untung bertemu mang Jajang yang bersedia mengantarkan sampai Ciagaruguy, tentusaja setelah mendapat wejangan dari pak John Epak pake bahasa yang baik dan benar.
Track sudah keluar dari rencana. Berbelok ke kanan masuk ke lembah Cibeet dalam petunjuk Mang Jajang. Blusukan dalam arti sebenar benarnya. Masuk ke trek yang tidak seperti trek. Saya yakin kalaupun tanpa bawa sepeda saja sudah susah menembus campuran atara pematang sawah, kebun dan padang alang-alang… Disini lah Om Ratman meraja lela dengan bb nya merekam foto dan video kumpulan orang sempoyongan bawa sepeda yang tigusruk kiri dan kanan. Menyedihkan… Onak dan duri jangan lagi ditanya, membabat dengan sukses tangan kaki dan muka. Tambah perih dalam siraman air hujan ringan.
Acara akrobat yang rasanya tak habis habis ini disambut dengan mendekatnya penampakan dan suara sungai Cibeet Hulu. Sungai ini membatasi kabupaten Bogor (tempat kita berada) dan kabupaten Cianjur (seberang sungai). Semakin mendekat maka suara deru air sungai semakin membuat hati saya pahit dan bergetar.
Akhirnya dengan sukses kita sampai di kampung Cigaruguy, ketemu sebuah keluarga. Betapaaaa…. leganya bertemu kampung dan peradaban setelah terbanting banting di tengah ‘Bukit Tiasa’ Cigaruguy…
Yang bikin keder, warga kampung bengong melongo waktu kami bilang kami mau nyeberang Cibeet..
Ampuuuunnnn.. di kejauhan terdengar suara gemuruh air sungai Cibeet
Saya sampai gak ngambil foto satu pun. Yang ada di pikiran cuma belom bikin surat wasiat saja…
post berlanjut ke bagian kedua…
This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
Tips menemukan rekan bersepeda gunung
Sepeda? Sudah punya…Baju dan perlengkapan? sudah ada
Gowes? kemana? sama siapa?
Betul, semngat bersepeda gunung membara, namun kesulitan mencari teman dan event bersepeda. Belum lagi kalau kita punya minat tertentu dalam bersepeda, misal pengen banyak nanjak, pengen banyak lewat singletrack, pengen yang adem, pengen yang pemandangan indah…
Caranya cuma satu, memperbanyak trip bersepeda, berusaha menemukan teman bersepeda yang cocok
Berbagai cara koboi yang pernah saya lakukan buat menemukan teman gowes:
#ikut milis/forum banyak banyak
browsing saja, klik sana klik sini, tanya sana tanya sini… nanti tiba tiba tuh akan ada ajakan gowes tak terduga
#datang langsung ke tempat ngumpul
langsung saja datang ke bakmi golek, ke petronas sentul, ke gadog, kevlippo kebun raya bogor, ke jpg, ke aa bike, ke mcD dago sambil tanya tanya cari tau kapan biasa berkumpul. mencoba kontak dan temui pesepeda bike to work di sekitar tempat tinggal atau kerja juga jadi pilihan yang baik.
#pin/sms/email
kontak langsung saja orang tertentu. sapa tauuuu.. lagi ada rencana gowes
amati dari berbagai milis/forum, japri saja rekan yang tampaknya memiliki minat bersepeda yang sama
#kml, kmz, gpx
browse http://www.bikemap.net http://www.everytrail.com download dan ikuti.. semoga
selamat benar benar sampai di tujuan
Inilah pentingnya menemukan teman bersepeda yang cocok, menemukan teman gowes yang satu selera, menemukan komunitas untuk kesana kemari bersama mencari tujuan bersepeda gunung yang baru. Komunitas atau ‘ride buddy’ alias ‘teman sepedaan seide’ memang hal yang susah didapat, namun kalo sudah dapat akan membuat weekend demi weekend berlalu dengan seru…
WJxc Ride#12 Kolozal#10 Bandung to Cipunagara
Siap siap bisa berarti banyak hal. Bisa nyiapin sepeda, mengentaskan sepeda dari tumpukan barang di rumah, dibawa spa biar mulus dan maniez. Bisa juganyiapin kostum tas dan lain lain, belanja maksudnya. Bisa juga loading sepeda di malam sebelum gowes.
Kalau saya selalu menikmati suasana tegang deg deg plass malam sebelum gowes, termasuk heboh nya loading, juga wajah wajah khawatir, harap cemas dan juga optimistis dari para senior tim ruzuh yang pengen acara ini sukses.
Tidak ada yang seheboh pagi kolozal. Rasanya semuanya kegiatan dan ketegangan persiapan dan kerinduan akan gowes kolozal terkumpul di satu momen saat pagi pagi berkumpul dan berangkat ini. Wajah wajah excited, serta juga tegang dan khawatir bercampur baur. Heboh pindah pindah dan list isi bis bikin yang heboh makin heboh.
Sampai akhirnya bisa duduk di kendaraan dan berangkat, sambil makan snack pagi hari berisi ubi, pisang dan leupeut… Tegaldanas-an bangeeeettt….
Gedung Sate, Bandung. Tidak ada yang paham isi kepala setiap orang. Yang jelas keenam orang ini tampak sama, mereka memegang kepala semua saat start, katanya kepala terasa sakiiiiiitttt… Sakit setengah mati karena ingin segera gowes, sakau gowes. Kalau perlu porsi nya *ditambahin sedikit*.
Setengah mati genjot nonstop dari 750 ke 1000 mdpl. Sekitar 6km dan dalam 50 menit. Tetap saja di gerbang tahura cuma bertemu dengan
buntut, dengan tim suwiii-per. Ada juga om ratman yang lagi heboh ngoprek sepeda Om Pande.
Masuk tahura asli adem banget sampe lupa motret. Suejuk nya membius. Udaranya suegerrrrr… Padahal hutan ini aseli hanya ada di lembah sungai cikapundung saja. Jika kita melihat ke atas, dari jalan yang ada di lembah, tampak hijau, tapi dibaliknya adalah kebun kebun, kapling rumah dan pemukiman. Tetap saja, Tahura adalah sebuah oase di kota Bandung. Sesampainya di gua belanda sudah terlambat. Foto keluarga yang dikejar sudahlah bubar…
Gua belanda ini adalah semacam tempat isolasi dan interogasi pada jaman belanda. Dan pada awal kemerdekaan sampai tahun 70an dipakai oleh TNI untuk menyimpan senjata dan mesiu… Gowes gelap gelapan karena malas mengeluarkan lampu dari tas.
Hutan yang adem, angin yang semilir, udara yang sejuk…
Dada yang serasa mau meledak, paha yang panas, dengkul yang gemeretak…
Tidak lupa melaksanakan kewajiban
Sebelum berangkat saya sudah mantengin akan coba cari perubahan wajah, mencoba meotretnya. Kira kira semula ceria, lalu berangsur menjadi terlunta lunta… Tapi memang para member cikarangmtb sudah sangat terlatih untuk menyantap martabak… sehingga yang tampak di depan kamera hanyalah wajah wajah ceria
Kami pun segera berkemas menghadapi hujan
Saya tidak terlalu mengerti apa yang sering disebut dengan foto heroik. Menurut saya seluruh perjalanan ini sudah heroik sejak ide dan survey nya… Semua fotonya juga adalah heroik.
Heroik mendapatkan semangat timruzuh untuk ngurusin kolozal
Heroik dapat rri
Heroik menyisihkan waktu
Heroik spa dan upgrade
Heroik ngantuk seharian
Heroik nanjak
Heroik hujan
Heroik turunan tiada henti
Semua tim kolozal ini adalah Heroik..
Setelah akhirnya mencapai puncak tertinggi dalam hujan deras, kami pun menjalani turunan 18 km yang panjang dan serasa tak ada habisnya. Sangat melelahkan namun juga sangat nikmat. Apalagi area Ciupunagara ini tampak masih sangat asri dan jauh dari jamah peradaban.
Tracklog GPS dapat di download di http://www.bikemap.net/route/1922846
This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
WJxc Ride#11 Sukamantri via Ciomas (En)

sendiri
This West Java XC ride#11 was a duo ride with Om Nurdin, my fellow uphill enthusiast from 1PDN Bogor. Rainy season start to reach it’s peak, and this is Bogor, known as a city with everyday rain. The ride was on Friday, and from the start of the ride Om Nurdin already make a clear statement, “… We try to finish the ride before lunchtime, so that we can have a Friday Praying in home”. What??? At the start of the ride I felt that the ride will be a short and easy ride. The presumption proven to be wrong! The ride turned to be a fast uphill ride rather than an easy short ride. Fyuh!!
The route I let Om Nurdin take care, he proposed his routine route to Sukamantri via Ciomas. Yes, then we need to go around further than traditional route via Ciapus, but the effort was proven to be worthed.

Ciomas kampong uphill
Scenery on the Ciomas kampong uphill was changed from paddy field to traditional rural housings to bamboo field. All giving green and fresh view while the uphill was moderate, not a steep uphill. The change of scenery was very dynamic, some interesting views come one by one. A little girl alone in the cliff of a big river-dam, a group of little boys enjoy naked bath, a group of farmers work in paddy field, women wash clothes using river water. A normal scenery of kampong. Will not be so interesting to tell unless you experience to face by yourself.
Suddenly we found a steep tarmac uphill and then we arrived at the junction of Sukamantri and Curug Luhur. This is the same point we also passing through on the last Bogor ride to Pure…
Then it’s time to pit-stop. This was the first long pitstop of already 90 minutes ride. Om Nurdin said that the time permits us more since it was just past 8 am in the morning. He looks amazed by the time achievement. After this point we have a lot and more pit-stop to be taken.
Not only a new route to Sukamantri I was experiencing, the view also different. Beside we do a different route, the track itself already gone through significant changes. While the old sukamantri very famous for it’s long and never-ending loose tarmac track, what currently available now is smooth asphalt already taken 70% of the tarmac session to Sukamantri.
These are my last stories about Sukamantri
2007 first ride with 1PDN http://antoix.wordpress.com/2007/11/18/sukamantri1/
2008 ride with Jacyco http://antoix.wordpress.com/2008/05/25/sukamantri/
2009 double expresso trip by 1PDN http://antoix.wordpress.com/2009/09/17/beberapa-foto/
I really missed the hard and frustrating part of uphill right after we came out of the main road. It was gradual destruction of road condition. Frustrating and felt like never-ending tarmac uphills. I really really missed those trips.
The track still left for us some final part of tarmac, a gate of ‘KUJANG RAIDER’ military sign, and twisty road in the middle of pine forest. Get lucky that the best part of the road still in ‘mountain bike friendly’ condition, full of (still) frustrating tarmac uphill. Save the best for last. Don’t know for how long..
The final destination, the finish line in Sukamantri Camp Site relatively still the same site from the last 5 years. The environment still the same, some youngsters dong camping. The small shops are still the same, including the famous ‘Teh Kon’ was still there.
A historic place for my mountain bike experience. Glad to enjoy it again after my first mountain bike ride back in Novemeber 2007. Since time not permit, we don’t have the time to take offroad downhill routes. Sad but true. Oya, I finally reach Bogor Raya residence (near Baranangsiang) just before 12. The right time to have a Friday praying. Halfday and hard short-ride.
A lot of changes happen on the track but the solution by uphill via Ciomas giving a new life this this track.

frustrating tarmac

warning

sukamantri camp site
uphill: 8/10
downhill: 6/10
endurance: 7/10
technical: 6/10
landscape view: 8/10
distance: 38.7 km
Total vertical climb: ca. 740 m
The tracklog can be found in bikemap…

This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
WJxc Ride#10 Cipunagara CikarangMTB Kolozal#10 Survey (En)

Prasasti/ carved stone writings

a sleepy morning near Gua Belanda
Here we are… twice a year Cikarangmtb KOLOZAL mountain bike event has arrived in town. Mmm… not really arrived, but at least this post will tell a story on the survey trip. The one and only survey trip for this KOLOZAL#10. Some edition of KOLOZAL trips were going through multiple surveys, but this KOLOZAL is special. One survey is enough. Hopefully…

A corn-ish pit-stop
#1 Kota Bunga – Cikarang (2007)
#2 Wanayasa – Maranggi (2008)
#3 Curug Cigeuntis (2009)
#4 Mandalawangi (2009)
#5 Kaldera Manglayang (2010)
#6 Tangkuban Parahu – Wanayasa (2010)
#7 Gunung Padang – Campaka (2011)
#8 Ranca Upas – Kawah Rengganis (2011)
#9 Km 97 (2012)
#10 Cipunagara (2012)
I always enjoy survey ride of KOLOZAL event. The survey proven to be so adventurous, with so many things to be anticipated and achieved.
Need to check available options for lunch-site, ‘isoma’-site. Assessment on the track which should be friendly enough for regular mountain bike-er. Try to find out options lunch and praying break, including access to the site, where to find available local vendor for lunch. Already a long list? That’s not all. The possibly most challenging and yet entertaining task been doing the track assessment, and this are a never before ridden track. So, we don’t have any idea what it looks and feel like. It’s like a gamble, a planned gamble.
The start site, which a forest, a struggling forest in the middle of north Bandung highland environmental destruction. A green environment in the middle of civilization. A lot of historic places inside an oasis of forest heaven.


it was a start of late rainy season
Another interesting part on the uphill was the offroad part to peak of Cikidang. We cannot really said that it was a ‘peak’, it was like a tip of a big bucket. The uphill offroad line really remind me of uphill track to Pondok Pemburu. Not steep uphills, but long enough and challenging. This was my second trip in this line after the first solo ride three months before…
A Bee sting incident slap me out in the peak site. It was not easy to handle since the next 2-3 hours since my head feel strange, my balance disturbed. I was lucky that can continue the ride safely.

at Cikidang Peak
After intriguing 14km uphills then we go through the 17km tarmac downhill part. This downhill part was hard, long, and especially dark. Yes, one of the spice during a survey was getting lost. Taking an unexpectedly wrong route/lines. Then resulting in a long and felt like never ending dark tarmac downhill. The terrain already giving a hard physical challenge, getting lost make the route much far away from the plan, and the dark of the night in the middle of the woods make it even more and more challenging.

This is Cipunagara Tea Plantation
I was a combination of mystery, exoticism, remoteness, secluded, beautiful. A strange combination of words. The best choice I can take.
Finally when we found a clean and smooth asphalt road it was already around 7pm. Our initial plan to take a finish line in Cigayonggong lake was cancelled and try to find out something to eat. Rain and the rough track already push our physical and mental condition to the limit.
Yes. This is a real survey.
A combination of curiosity, physical and mental pressure and time limitation. A perfect ride which we do not want the whole 120 mountain bike riders of KOLOZAL taking the same hard route.
@antoix track rating:
uphill: 8/10
downhill: 9/10
endurance: 8/10
technical: 8/10
landscape view: 8/10
distance: 38.6 km
Total vertical climb: ca. 920 m
Tracklog can be found and download in bikemap…

This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
WJxc Ride#9 Cherry Marathon 74km, Karawang (En) – part2

back to the right lines
A huge mental blow when finally came out of the dead end I was continue to follow the track, a very narrow double-track which looks just only being opened for access. I was so grateful to be able to continue safely.
The next part of the trip was facing ‘the beast’. The double-track tarmac uphill line was straight, to the point, direct while the temperature around the track been increasing to it’s hot peak. It was hard. One of the hardest uphill I have ever taken on my experience. I was not realize that I was doing the fun-cherry track in reverse and then facing this uncompromising uphill line. Yes, I have taken the wrong direction of the route! Back to the uphill.
I stop on every 10-20 meter. This short 10-20 meter has successfully bring up my heartbeat to the maximum allowable level, 170bpm. The uphill was hard but yet beautiful. Writing this post blog two months after the ride I am already miss this uphill part and want to take it, experience the roughness, feel the maximum heartbeat only after meters pedaling.
It was beautiful uphill…

the most beautiful uphill, the hardest one
We can see nearly 270 degree of horizon. From left-front-right are: Cikarang Area in left, far away Industrial area in Cikarang and Karawang; while in front of us we can see far away Kujang Fertilizer plant in Cikampek with all Citarum valleys; in right we can see Jatiluhur area only right behind some hills. Beautiful 270 degree beautiful view. A nice closure for beautiful uphill.
Then I decided to take another pit-stop. To calm down my mental after going through dead end. To calm down my heart after exhaustive uphill. To cool down my body with cold drinks.
Again. The rumors I heard about how hard to get an adequately small shops to cool down proven that it was only a rumors. The place, called Kuta Jati, prepare a lot of options for logistic loading including availability of ice. Yes, there was no electricity, but they prepare ice for you!!
After a long pit-stop for 30 minutes continue leaving the beautiful site and going through the back of the hills, goes partly flat and partly down all the way: Kuta Jati to Kuta Tandingan to Kuta Kalambu and then to a simple an famous three-way junction with a lot of Cherry tree… A cool place we were looking for.
I treat myself a lunch while my emotion still in high…
Reaching this Cherry trees after all those ways to get here

Kuta Tandingan… then followed by Kuta Kalambu and Kuta Meriem
People lives here has adapted to live in such a very hard environment. In the rainy season they try to grow only use rainwater for water source. Some try to grow coffee and oranges, but not much has a good result. No electricity worsen the living condition.
After taking a mental and physical recharge in Cherry, the closing part of the trip was even harder. In going home I have choose to take another two piece of the links. One is what known as ‘Hutan Jati’ or ‘Teak Forest’. This route already going round, taking longer route rather than directly back to Cikarang area. To make the trip ‘perfect’ I was also taken part of ‘Gua Bau’ route as closer chapter.
After 74km or endurance marathon, 6pm arrive back home, exhausted but excitedly determined…
The best route to challenge your endurance; mentally and physically
@antoix track rating:
uphill: 8/10
downhill: 6/10
endurance: 10/10
technical: 8/10
landscape view: 8/10
distance: 74km
rolling track, tarmac and fireroad
The tracklog can be found in bikemap…

Cherry… the beautiful torture track

This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
WJxc Ride#9 Cherry Marathon 74km, Karawang (En) – part1
Cikarang, 14 Oct 2012
This trip, the trip to Cherry, been always in my list of ride for long long time. The track is too famous, and then become a benchmark for every mountain bike rider in Cikarang and Karawang area. I heard about the roughness of this track since five years ago, since my first encounter with mountain bike activity. Again, because it’s so famous. Too many people in cikarang mountain biking scene talk about it.
It’s been postponed and postponed, especially because my own fear, my own weakness. I was enjoy uphill, being an uphill enthusiast, and then heard that this track is long and full of rolling terrain. Rolling is the terrain combination between uphill and downhill side by side. This kind of terrain was the last thing I wanna ride. Being an uphill enthusiast a short downhill and uphill consecutively in my opinion is like going nowhere. You do a hard uphill, not too long, and then followed by short downhill also for not too long. It felt like a torture for me.

san diego
One of the final training part was when I was doing solo ride night-ride San Diego-Pasircongcot ride. The enjoyment and excitement during this ‘bimbel’ ride been told me the beauty side of rolling terrains. Finally I was accustomed to rolling track, I know how to enjoy the track.

signage indicating problem?
Choosing the right track was a big problem. There have been so many combinations around the area. There are a lot lot of tracks goes through Cherry. A combinations ins and outs. Count yourself a lot of permutations available. Finally I decide to take the most far options, combine Fun-Cherry, Hutan Jati and Goa Bau. Decide solo ride will be only depend on my speed on my own will and a lot options to change by on site decisions.
That morning, leave home at 530am and finding a smell of fresh dew when hit offroad area from Kalimalang to SanDiego. A favorite bimbel track felt like my own backyard. Reach San Diego, a small traditional restaurant at around 700am and take a fast breakfast. San Diego Soup was the main menu, my fave menu. Fresh and hot, heat up you body, warm up your feeling since this would be the last decent logistics loading. I load two tumbler full. One with fresh water and another with sweet cold tea Tehbotol. Ready to go…
In doubt on what option route to take, regular-cherry or fun-cherry? Fun-cherry will give more load to the track, this is the longest track to Cherry. Passing by the junction, finally turned back to junction and take fun-cherry route. Rolling track start to hit my bike. Up to first 3km we still can find a lot of trees, some of the villages are still green and felt cool. Up to first 5km we still met other team want to go to Cherry. After that, all alone to the edge of the fun-cherry route.

Ruins beside track… what’s happen I don’t want to know
Going countless up and down hills finally I felt need a break after around 2 hours riding. Looking at my GPS the trip was not yet over 20% of distance to Cherry. I see a simple ‘warong’ (small shop) equiped with ice then I stop and order cola with ice. Due to start at early morning, the heat of the terrain has just start striking our body. I cannot imagine if the trip start late 2-3 hours after.
I often hear stories that we will be lack of logistic support (small shops) around the track, actual situation I face was not as bad as I thought. Yes, the shop is not every 5km, yes there was no electricity, but at least we have place to buy cool and sweet drinks along the way.

The pit-stop, cola with ice
Yes. Dead end. Jalan Buntu.
It was not easy handling myself facing this situation. Try to keep logical was my main priority, controlling urge of excitement to continue, monitoring condition of the track, and keep doing it safely since nobody else but you. The experience itself has thought me abundance of lessons. It was not about the reality to continue following the GPS tracklog (which later on I found Om Hanif, the trekbuilder himself, was not taking this route and was taken another safer route). It was about handling the pressure and go through it.
continued to part2…
This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
WJxc Ride#8 Pure Prabu Siliwangi, Bogor (En)
Bogor, 6 Oct 2012
This was ride number eight of the West Java XC rides. I still try to manage my emotion, my spirit and my expectations on the series of rides. I try to jump from one area to another, from ride to ride, weekend to weekend, so that I can feel the variations. This was one of the reason I choose this track in Bogor, to have the variations. The trip members were also more diversified in riding experience.
Arrive 0630am in the starting area, near Bogor city hall. Nostalgic feeling comes. This is the place I started my mountain bike hobby. Back in 2007 when I join the first mountain bike trip to the woods, the mountain. The place was not very much changed compared to 2007. This starting point, very often known as ‘lippo’, very popular for Bogor mountain bike sphere. Starting from this point been a default for a long long time. You have a lot of options from Setul area, Gede-Pangrango area, Salak-Halimun area.
Today’s mountain biking become even more nostalgic feeling when Aki Oni Aunilla joined and lead the trip. He was the same rider in my first mountain bike trip back in 2007. Just 3 minutes after start, we have pedaling our mountain bike inside urban Bogor area. Narrow roads, relatively slope, hilly. Sometimes our handlebar just centimeters away from walls beside the track. Special! This is why I really enjoy cycling with Aki Oni, he knows too many alternatives lines. Simple destination like Bogor Nirwana Resort has become a special journey, with so many interesting urban environments.
Not yet feel enough on the urban kampong uphill, we have a long on road uphill within Bogor Nirwana Resort (BNR). This is my only second time taking this BNR uphill, the ride was not hard, but it will feel like a hit on your chest and feet. Then we met the end of the BNR uphill and start taking another kampong uphill.
Kampong to kampong, village to village, were the main course of this trip. Aki Oni lead us cycling through a wide kampong access road, twisty road between dense housing. Road wide vary from just enough for a car and also just enough for a walk. Some part of the track in between houses track wide just centimeters from a wide of handlebar.
After beauty of kampong and paddy-field combinations finally we reach a regular asphalt road then start more steep uphill. The track was a tarmac bad condition double-track, and that day being improved by asphalt. An irony, while mountain bike enthusiast would prefer bad road condition while people around the track would prefer better road condition.
Leaving an asphalt track then we take the cement base track. The track was just fit for the wide of regular car. Every time we need to pull over when facing a car from the other side. The hilly track has become more and more steep and finally we can see our main destination, Pure Prabu Siliwangi. A final steep uphill bring us to Pure. We take a rest in one of the local shop near Pure. Taking some bottle of hot tea and cold beverages.

A small shop/restaurant in front of Pure’s gate. The first decent place we can order drinks and meals
Nearly an hour we have a long pitstop in front of The Pure Gn Salak. A long pitstop with a long discussion finally taken decision to go more up the hill above the Pure. This time the track really give us a hit in the chest. The steep tarmac uphill line successfully make our lungs feel like going to explode up to the top of the hill.
This is the time to enjoy the scenery. Bogor, Parung and Tangerang area far away we can see from this top of the track. On our left is the Curug Nangka area. A waterfall park. We continue the track down. The single-track was quite technical downhill although not too long. Then we continue with tarmac downhill and then asphalt track after approx 2km of hard and shocking tarmac. On-road part back to start point near Kebun Raya/Botanical Garden will take us another 45 minutes ride.
@antoix track rating:
uphill: 8/10
downhill: 6/10
endurance: 7/10
technical: 7/10
landscape view: 8/10
Tracklog can be found and download in bikemap…
This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
WJxc Ride#7 Km 0 down offroad Singkong, Sentul, Bogor (En)
This mountain biking track is a popular short track for uphill enthusiast. The track is short but the uphill was fairly 450m altitude inclination in a short only within 10km smooth asphalt track.
Yes, smooth asphalt track. Even road bike-er now can enjoy the route from Sentul City up to Kilometer Nol site. It was very different if I look back to my last rides in this track which the track still in combination of asphalt and tarmac.
2009 January http://antoix.wordpress.com/2009/01/28/sentul-pemburu/
2009 May http://antoix.wordpress.com/2009/05/11/bojongkoneng-km-0/
Today surprisingly I met Nota and his 3 friends (one of them ride a road bike) at the start point, Bakmi Golek. It’s been very long time since the last time we ride together. What a surprise coincidence since we were not having an organized plan.
I decide to do non-pitstop try, and succeed!! My ride from Bakmi Golek was 59 minutes. Not an impressive timing, but this is the first time I take non stop ride to the top. Marginal performance which I was quite proud of
Uphill in this track always gives a special feeling for me. As part of mountain bike uphill community called 1PDN, I was being part of 3 uphill races using this track as race line. This race was part of the uphill community idealism that uphill should getting it’s own event and it’s own stage, in level to what our colleagues in downhill. So, riding this simple and short track always been emotional for me, especially when riding along with Nota whom also part of the uphill community.
The 9 kilometer uphill track I will recommend to whoever want to have a taste on the beauty of uphill cycling. Within 9km we will have around 450m altitude difference. Quite intensive but short enough to reach the peak.
We have an option to take the same route we have taken uphill to go back to starting point, but this track known to be steep downhill which not easy to handle the bike. As a normal route rider will take more moderate route via Cijayanti for more safe down the hill.
I was taking another line which I have ever take for uphill with Aki Oni, the line via tarmac and single-track off-road. For anyone who have passion to mountain biking I really recommend this line which could be taken as uphill line or downhill line.
The downhill route consist of low grade asphalt with some villas around the track. These road looks like access road to villas. Then continued by a double-track tarmac line. This line can be easily seen as logistic access to the cassava plantations. The road condition became worst and worst, and became more interesting to be taken on mountain bike. The double track tarmac passing through a river then end up in a single track. A flowing single track on the red soil of Sentul, with big volcanic stones come out between. Beautiful and challenging. The track then connected to a clove plantation single-track and then into the village and back to main road of Cijayanti.
@antoix track rating:
uphill: 8/10
downhill: 8/10
endurance: 7/10
technical: 8/10
landscape view: 8/10
Tracklog can be found and download in bikemap…
This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
WJxc Ride#6 Ciharus, Garut. Long dusty singletrack… (En)
Garut, 22 September 2012
The starting point itself is an interesting place. Kamojang Crater is an old crater now become a geothermal source of natural steam. Although the area been explored and having a running Geothermal steam power plant, it looks like they manage to keep the Kamojang crater area in the same condition as maybe hundred years back. Yes there is some man made exploration wells but we still can see the natural steam small craters inside the rain-forest. A 500meters hiking from the parking area you can find these craters, these natural steam emerged from earth in the middle of forest.
Our track-builder, Om Hanif, is a geologist himself. This is why some part of the track he drafts usually going through a geology point of interest. This is why the starting point was a steam crater. Part of old Sunda mountains he said. Like other track he drafted, this track was still contain full of interesting parts and type of geologic view.
After going around the Geothermal power plant and steam piping complex we come out of the asphalt track and begin a single track. The track started with a ride-able part of uphills. Flowing smoothly along the hills with volcanic sand as the ground base of the track. The sandy track giving it’s own difficulty and special riding sensation. It was loose and very hard to get a grip of the wheels.
I was in some kind of help from my Specialized Carve 29in wheels which have more grip, but still the uphill was hard and exhaustive. Not too long that actually we found a non ride-able track, impossible to continue pedaling while we found a ditch-like track. Actually most probably a water line while the rain comes. The sandy track remains me of Galunggung ride. The sand was coarse, bigger than usually we seen. Different from the Galunggung steep part this Ciharus part was hard but still ride-able. Hard but marginally technically can be ride on.
Then we start to push our bikes in a narrow ditch. Struggling just to make it moves ahead. When the uphill end it was followed by a technical downhill session single-track. Down with some part a steep downhill into the Ciharus Lake.
Ciharus lake is an ex crater lake, a quite lake with obviously minimum visit since it can only be accessed through a single-track fire road. We can choose only walk/hiking, mountain biking or offroad motorcycle to get there. The facility was very very minimum. After being ‘slapped’ with an exhaustive yet technical sandy uphills followed by a steep downhill the lake being a perfect place to take a rest and regroup.
Continues the ride we found that the main course not yet comes. Single-track with technical parts descend lines over and over again between the pine trees. Amazing that the lines was flowing, although it was a single-track it flows, we can ride it all the way if we want to. Only in some minimum occasions of steep parts we need to come down of the bike. In my experience with natural tracks in my five years mountain biking experience, this part of track been one of the best ride and technically challenging.
The offroad ride was closed by a long and steep uphill in the middle of Corn plantation. After a long and enjoyable descend this long uphill was really an excellent closer to the offroad part of the ride. This uphill part was the hardest part of the ride, a test of endurance while the sun in the peak of it’s heat.
After this final uphill we descend and found the first village and then continued by all the way down to Samarang, Garut. The finish line of this 20km ride.
@antoix Track rating:
Uphill: 9/10
Downhill: 9/10
Endurance: 7/10
Technical: 8/10
Landscape View: 8/10
Tracklog can be found and download in bikemap…
This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
WJxc Ride#5 Curug Malela, Bandung
Ini adalah gowes tertunda tunda. Sudah lama banget ngiler liat curug nya… biasa, pengen ngejepret. Apalagi liat Kang Asol mejeng di curug itu bangga banget.
Ini juga adalah gowes reunian. Reuni dengan Om Dani Waluya, kami pernah gowes 2x selalu ‘gila’. Dua duanya di area pegunungan sekitar Papandayan.
Please find out English version here…
This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
WJxc Ride#4 Manohara Track, Cikarang
9 September 2012.After having an evening and sunset ride on Friday evening, just after driving 2 hours back from Bandung this time we do another evening ride in the same area. This time start at around 4pm, not so late compared to last Friday ride.
This time the evening ride not in a hurry hurry mood. The enjoy easy ride start with on road track up to below the SUTET electrical line and beginning to do a double-track gravel uphill. A classic Cikarang uphill that never easy to do. This simple 500m long not so steep uphill never been easy to do. It has been hard always, from the time I was newbie and start mountain biking 5 years ago up to now. Challenging for our heart, challenging to manage our aerobic metabolism to support our muscles working. It has never been easy no matter how experience I am.
At around the peak of the hill under the SUTET (extra high voltage electrical lines) my eyes caught by a stature of nearly without leaves tree. I push my bike outside the fire road, start to set some shots. Some shots focus on the lonely tree as focal idea while other shots focus on the pattern shown by aerial extra high voltage power line. This SUTET uphill is the part you have to try when you take a mountain bike in Cikarang area. You definitely miss something memorable and special if you choose to skip this short line.
The last two years I have been more serious on doing my photography hobby. I was start blogging back in 2006 and start mountain biking 2007. Old post on this blog was not only on mountain biking until currently fully dedicated to specialized in tell stories about my mountain bike experiences. After being more serious on photography then I combine into what I called ‘bike-tography’. An outdoor photography activity based on mountain bike trip and mountain bike activities. Combining these two hobby being a new challenge for myself, like what I just did with this SUTET shots. My biking trip will become longer but the documentation become more beautiful and meaningful.
Back to the track. Taken not too long until I reach what called ‘Jengjeng’ forest. The area around 10 hectares consist of Jengjeng, also known as Sengon/Albasia (Paraserianthes falcataria) trees. It was the peak of dry season. This time like September should be the start of rainy season, but this year dry season been longer than usual. It reflected to lack of leaves on the Jengjeng trees. At this point I just remember my early mountain biking experiences with Jengjeng area. I remember that time we usually goes up to small woodland area up the hill above Jengjeng, small woodland where there is a cemeteries inside, making the area spooky and giving additional blow to the mountain biking experience. I decide to go to this line which more than two years I have not take. The adrenaline on the spooky woodland place, lonely, is one of the feeling I experience that evening.
Going down and around now we facing this Manohara hill. Goes around the base of the hill and then follow the single-track and start what famously called ‘Manohara uphill’.
The singletrack looks like never been used by motorcycles. Not like the last time I ride this line, motorcycles still using this line. Now they take another line on the other side of the hill. Since less motorcycle goes to this line means less maintenance to the line. Amazingly it is still ride-able and even more challenging. Fyuh! This uphill still make my hear beating hard. This line still hard, it is definitely still a challenging uphill line. I take a stop, couple of water sip from my bottle and then start taking pictures. Taking pictures from the top of the hill always give a lot of ideas and choices. We have 360 degree options wait for our creativity to make a good picture. I have no specific idea and just taking a standard shot with Manohara uphill line as the background.
The main menu has been taken. The other part of the ride was taking a hill to hill on what Cikarang maintain biking scene called as Telletubbies hills. That evening I also see more than five motocross rider take similar line on these hills. It was interesting to follow their exercise line which flowing switchbacks down the hill. Into on road route in ITSB area back to the start line. The sun start to sink beyond the horizon and the ride was come to an end.
This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
Ride#03 XC Deltamas Cikarang


Want to read this post in English…??
Ride Jumat sore ini ride yang simpel saja, pulang kerja langsung ambil sepeda dan arahkan ke trek yang sudah mulai ngangenin, Trek ‘KangAsol’ yang kita pakai untuk XC Charity Race.
Sambil genjot ke arah Tegaldanas maka mampir sebentar mengunjungi salah satu jembatan diatas kalimalang. Matahari udah condong banget mau tenggelam, masih ada cukup sinar terang buat mengambil gambar. Jembatan ini sudah lama banget saya ingin ambil gambarnya.
Genjot dilanjutkan, agak tergesa, melewati situ Binong, menyeberang pintu tol mendekat ke pemasaran Deltamas dan area start, sinar matahari semakin redup. Tergesa saya ikuti trek XC Deltamas Charity, singletrek masih terasa bekas ban nya, walaupun di beberapa lokasi tampak rekahan rekahan tanah yang membesar. Di beberapa tempat rekahan tanah ukurannya sanggup untuk menelan lebar ban sepeda lho…
Menikmati saat sunset di sebelah Banner Delta, ditemani beberapa pasangan muda mudi yang asyik, akhirnya benar benar ketemu kegelapan malam di Jeng jeng.
Ride yang singkat dan cepat saja 1830 udah selesai makan dan udah nyampe rumah kembali.
This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
Ride#02 Goa Lalay-Pangkalan Karawang
Cikarang, 1 September 2012

This ride continued in the same day, the same line with Ride#01 Jembatan Gantung. My spirit was high, my enthusiasm to start this series of mountain bike ride was on the top. This series of trip just spice up my mountain biking world only on that first day of the West Java XC Rides.
After pass through Cibeet river by the Cibeet Dam the ride goes through an on-road route. Not really an on-road route, the province road to Pangkalan was in a very bad condition. Some part of the road are rough and dusty, not really felt like a good idea ride on it with trailers and hauliers running beside your bike, throwing all the dust to your face. Sometime I felt fuzzy about this trip, is Gua Bau a significant place to go?
I heard about this track from the cikarangmtb mailing list, the stories about last two trips to this cave was always related to exhaustive trips. The track itself was pretty much related to exhausted rides, this even make me more interesting. If multiply still working then you will see what Om Hanif write on http://hmarga.multiply.com/photos/album/49/Cari-Gua-ke-Kawasan-Karst-Pangkalan.. (It’s written in Bahasa Indonesia)


The ride then passing through traditional lime kilns. Along the way we can found more than twenty limestone kiln. These kiln been using reject products and used tires for burning, resulted in dramatic black smoke come out intermittently. It’s kind of dramatic when you ride inside a (supposed to be) teak forest with a lot of black smoke around the track.
The double-track out of the main provincial road gives more pleasure to the ride. The track start to give uphill part. Strange. The track was not really a steep uphill, but it felt hard and long. The heat of the environment around the track start to give more additional taste to the track.
This track located in the Karst area, a geological therm of an area formed for thousand years. The karst area will be lack of surface water. Water will directly goes into the earth, flowing and gather in underwater rivers. Basically we will found a lot of stones on the ground, a lot of caves, and a hot and really dry environment. What we found in this track was an uphill part through bamboo forest up and up the hill. Until we found the opening of the cave.
The name ‘Goa Bau’ (Smelly Cave) closely related to the fact that this cave inhabited by bats. The smell come out of the mouth of the cave was significant enough. I just try to imagine thousands of bats come out in the evening and come back in the morning. It will be interesting sight seeing.
The route back to Cikarang is the hardest past of the track. Long track, rolling and rolling through hills, hot environment was perfect for an ultimate torture for unprepared cyclist. Don’t try this track unless you are ready to spare your time and spirit enough stock to have a long trip. At least a longer trip than you expected.
Tracklog can be found in bikemap link…
This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
Ride#01 Jembatan Gantung-Cikarang
Cikarang, 1 September 2012This is my first post in English. I am not really comfort on what I am writing, but I feel this is the right time to start. I want my writings can reach wider audience, can be useful for more and more readers out there. Wider than visitors of this blog which been written in Bahasa Indonesia since July 2006.
This post also the first blog post on documenting series of mountain bike rides in West Java, Indonesia. WEST JAVA XC RIDES… Yes, that’s means there will be rides on surroundings of where I live. Try to recapture one by one as much as tracks possible, which I have been riding since August 2007.
Well, lets just start…
This morning start ride at 0630am, taking a classic Cikarang mountain bike route to ‘Jembatan Gantung’ (suspension bridge). This route very popular in Cikarang area mountain bike scene, nearly every body know and fall in love with this track. It’s like a standard, a ride that everybody knows about. In my opinion, this just right to start a series of rides.
When a pair of tires hit the gravel double-track, the feel to the handlebar and pedals, transfer the roughness of the track into our body. This gives us the feel, the taste of the track. Dust flown from rear-tire of our colleagues ride in front. The feel and the taste that all of us in Cikarang knows about, and always want to do it again and again, ‘crave’ maybe a good word.The physically challenging rolling route including a long and flowing 2km downhill, end up in the bridge site. Small suspension bridge, an old one with a bad physical condition, but giving a special feeling from the feel when ride on it. The shaking bride gives that odd and memorable feel for everyone ever ride on.
Track-log can be found in this Bikemap.net link…
Distance: 15.6 km
Total vertical climb: ca. 30 m
@antoix Track Rating:
Uphill: 7/10
Downhill: 7/10
Physical Challenge: 7/10
Scenery: 6/10
Character: Hilly rolling track in a hot Cikarang area weather
This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
Lombok 22 – Uphill to Otak Kokoq, Tetebatu dan Jeruk Manis, Lombok Timur

Lombok Timur, 22 Agustus 2012.
Perjalanan ini adalah perjalan adventure bersepeda ketiga selama seminggu liburan lebaran 2012 di Lombok. Dua trip yang lalu dilakukan di bulan puasa, sambil berpuasa. Yang kali ini adalah hari keempat lebaran, dan lebih ‘seru’ nya lagi adalah trip ini dilakukan pada hari yang sama dengan penerbangan kembali ke ibukota. Jam 3 sore penerbangan nya, jadi boarding jam 2 siang, jadi harus berangkat dari mataram jam 1 siang, jadi semua genjot harus beres jam 12 siang, akhirnya jam 630 pagi sudah berangkat dengan avanza menuju ke titik start di sekitar Masbagik.
Titik start sendiri sebenarnya belomlah ditemukan. Hehe… namanya juga adventure kan? Menjalani pagi yang masih sepi menyetir menuju ke arah Masbagik melewati bagian timur Mataram. Seteleh 45 menit setir, mulai mencari titik start yang tepat. Menengok beberapa kali ke arah Pom Bensin, Kantor Polisi ataupun Masjid. Tapi pada akhirnya memilih sebuah kantor KODIM. Saya hampiri petugas jaga di KODIM dan menanyakan apakah benar jalan masuk kekiri di depan adalah ke arah Air Terjun Jeruk Manis? Ternyata jawabannya sangat mencengangkan. Pak petugas menyarankan saya ke arah Otak Kokoq/Otak Kokok saja, karena sudah teruji jalur jalan nya untuk pariwisata. Jika ke Jeruk Manis, selain jauh juga katanya ‘masih tidak aman takut perampokan’. Waduh! Melayang rencana ke Jeruk Manis dan dengan manis saya genjot pelan pelan dengan tujuan Otak Kokoq.
Permulaan trek yang berupa jalan aspal mulus ini tampak cukup mengecewakan, jalan aspal di tengah kampung, agak rata, sedikit kemiringan. Dalam hati saya berkata, wadoh kalau jalan landai seperti ini bakal merana nasih petualangan hari ini. Di kepala berusa mengingat ingat bahwa memang ketinggian yang akan dicapai adalaha cukup.
Di ingatan saya ada tiga obyek air terjun di area ini. Di sebelah kanan atas adalah air terjun Jeruk Manis yang semula dituju oleh trek ini, sementara di kiri atas ada air terjun Kelambu yang juga sudah di plot di GPS namun pesimis untuk bisa ditengok. Sementara di tengah ada semacam mata air dan wisata kolam renang. Tampaknya inilah yang disebut Otak Kokoq/Otak Kokok. Yah, tampaknya memang keadaan memaksa ku untuk memilih tujuan yang tak terlalu menarik, pemandian dan mata air.
Daripada kecewa berkelanjutan saya mulai mengamati sekitar trek. Melihat sepeda gunung digenjot tampaknya masyarakat tidaklah heran. Mungkin pernah melihat sebelumnya. Yang jelas saya berpapasan dengan satu satunya pesepeda gunung hari itu. Betul! Ada pesepeda gunung ber helm yang turun dari atas berlawanan arah dengan saya. Hanya melambai dan sapa senyum saja.
Jalan masih mulus dan kiri kanan yang semula banyak perkampungan dengan ciri rumah yang diubah jadi sarang walet pun mulai berubah. Sawah yang hijau dengan dominasi tanaman padi, mulai menghiasi kiri kanan trek. Seperti tidak berada di puncak musim kemarau saja. Seperti tak percaya bahwa tempat ini hanya dua jam perjalan dari area Sekotong-Pengantap yang kering kerontang di trek sebelumnya.
Kunikmati genjot demi genjot kayuh sepedaku sampai akhirnya jalanan tiba tiba menjadi miring secara cukup ekstrim dan cukup mengagetkan. Kemiringan jalan aseli datang dengan mengejutkan dan tiba tiba. Tak lama kemudian ternyata sampai lah di kawasan Otak Kokok.
Tampak dengan jelas ini adalah kawasan wisata yang sudah jauh berkembang. Tampak gerbang kawasan wisata yang representatif, tampak juga area aspal luas yang dimanfaatkan sebagai area parkir. Tapi semua masih relatif kosong, karena memang waktu masih sangat pagi.
Saya pun memakai jurus lama, mencari warung dan memesan teh manis panas. Mulai sambil melihat ke sekitar dan memotret beberapa. Melihat gejala gejalanya maka kawasan wisatanya tidaklah tampak menarik. Tambahan dari obrolan dengan penjaga warung katanya didalam adanya “mata air yang muncul dari bawah pohon” yang dilengkapi dengan “pemandian dan kolam renang”. Memang sih, situasi cukup sejuk. Dan tampak memang area ini adalah area perbatasan antara area pemukiman penduduk dengan area Taman Nasional Gunung Rinjani.
Dari penjaga warung teh manis juga dapat informasi kalau ternyata keamanan tidaklah se heboh dan se mengkhawatirkan apa yang saya dengar sebelumnya sebelum berangkat. Mamang warung bercerita kalau “…insya Allah keamanan disini baik Pak…”. Semangat saya kembali menggelora dan mulailah menanyakan jalan ke tujuan semula, Air Terjun Jerukmanis. Lagi lagi Pak Warung menceritakan kalau “…jauh Pak… dan jalannya rusak, aspal tapi rusak sekali…”
Whatt???
Aspal tapi rusak sekali???
Tanpa berpikir panjang saya segera pamit dan mulai genjot ke arah yang ditunjukkan sebagai ‘jalan aspal rusak sekali’.
Segera disambut sedikit sekali tanjakan, lalu kemudian adalah jalan turun bablas dan panjang. Bapak penjaga warung benar, jalan turun ini adalah aspal low grade yang rusak sekali. Tentusaja inilah memang habitat daripada sepeda gunung. Wuzzz…..
Beberapa kali saya tengok ke GPS, wah ini sudah melenceng jauh dari trek rancangan. Saya pun kembali mengingat waktu memeloti Google Earth merencanakan trek ini, sangat kesulitan menemukan jalan di foto udara karena area di sekitar Tetebatu dan Air Terjun Jerukmanis ini adalah area yang tertutup awan.
Sambil melirik GPS tidak tampak adanya jalan berbelok kekiri agar mendekati rancangan trek semula. Jalan semakin turun dan semakin jauh turun. Wah, saya mulai terbayang keterbatasan waktu dan nanti harus nanjak lagi ke lokasi Jerukmanis. Semakin turun jauh semakin khawatir. Bukan khawatir tanjakannya, namun khawatir waktu yang diperlukan untuk mencapai Jerukmanis.
Alhamdulillah akhirnya tampak jalan ‘agak besar’ seperti jalan kampung tanah plus sedikit batu. Saya berbelok kekiri dan mulai masuk kampung ke kampung penuh dengan pesawahan yang ter airi baik dan tampak subur. Kondisinya mengingatkan saya pada sisi selatan Gunung Merapi. Kawasan pedesaan lereng gunung yang dihidupi dengan air yang melimpah turun dari gunung. Sempat bertanya keapda sekumpulan orang yang sedang bekerja bakti, ternyata benar inilah jalan yang bisa menuju ke Air terjun Jerukmanis.
Jalan turunan tanpa henti yang memabukkan ternyata tidaklah lama, hanya sekitar sepuluh menit saja. Setelah melewati rolling khas traversing lereng gunung, yaitu rolling lalu turun ke sungai/jembatan lalu nanjak lagi dan seterusnya akhirnya kita sampai ke sebuah desa kecil yang ramai diikuti oleh pertigaan utama yang seolah adalah pusat dari desa itu. Seorang pedagang keliling yang naik motor dan tau waktu saya bertanya di tengah kampung ketemu kembali dan menunjukkan jalan saya ambil adalah arah kanan dari pertigaan didepan. Terimakasih Pak. Selalu datang pertolongan dan pemberitahuan tak terduga seperti ini ya? Kalau tak diberi tahu dan hanya melihat GPS sangat mungkin saya akan mengambil jalan yang salah lurus.
Kembali genjot melewati jalan rolling traversing. Tipe rolling paling berat yang seperti mengelilingi pinggang gunung. Kita dipaksa untuk mengikuti lekuk demi lekuk tubuh gunung itu. Cukup menakjubkan ketika saya menemukan diri saya bersepeda gunung di tengah kampung yang sangat berbau tourism!! Suasananya lain dan sangat internasional namun juga sekaligus tradisional.
Saya temui ada papan papan nama dan petunjuk arah yang berbahasa Inggris. Ada semacam saung dan penginapan dengan bentuk bangunan seperti rumah adat Sasak. Beratap rumbia dan menghadap ke persawahan. Ada banyak mobil lalu lalang dan menaik turunkan penumpang berparas asing berkulit putih dan tinggi. Baru kemudian saya tengok kembali ke artikel artikel kalau inilah daerah yang disebut Tetebatu.
Jalanan pun tampak sedang dengan serius diperbaiki, jalan diurug batu dan pasir sirtu. Asyik juga digenjotnya meski beberapa kali harus waspada karena berpapasan dengan kendaraan berat alat perbaikan jalan. Debu pun mulai mengepul baik dari ban sepeda saya ataupun apalagi jika disalip kendaraan bermotor. Wah ada gak enaknya juga nih… Sampailah saya di perempatan yang tampak ada tukang tukang ojek berkumpul. Saya temui disini petunjuk jalan. Waterfall Jerukmanis 6km… Segera saya menengok ke jam tangan.
Berikutnya adalah 6kilometer yang terpanjang yang saya pernah alami dalam bersepeda. Terbayang oleh saya boarding Garuda yang sudah dibuka dua jam sebelum keberangkatan pesawat, berarti sekarang saat ini di perempatan ini sudah hampir dibuka itu boarding ke pesawat yang akan membawa ke Cengkareng. Ragu. Akhirnya diputuskan untuk genjot sedapatnya menjalani 6kilometer jalan pasir berdebu dan nanjak.
Hampir tanpa berhenti sepanjang 6kilometer. Semula sempat berpikir untuk balik di tengah jalan. Beberapa kali bimbang sambil menghitung waktu yang tersisa. Sampai akhirnya memandang sebuah ‘mumuntuk’ (gundukan bukit bahasa Ciakrang area) untuk memilihnya sebagai bukit terakhir yang saya ingin capai. Mengagumkan dan serasa gak percaya bahwa ternyata di balik mumuntuk itu ada gerbang ke Taman Nasional Gunung Rinjani.
Ya, sampai di area parkir Air Terjun Jerukmanis….
Suasana hati bercampur aduk antara gembira, karena berhasil mencapai juga tempat sepeda tidak lagi diperbolehkan dibawa masuk. Petugas Taman Nasional tidak memperkenankan sepeda dibawa ke air terjun.
Namun suasana hati juga sedih karena sudah pasti tidak akan sempat bisa mengunjungi air terjun nya.
Dengan bimbang saya bertanya ke petugas berapa lama mencapai air terjun. Wah tetap saja meskipun saya berlari tidaklah sebuah pilihan yang bijaksana saat boarding pesawat pun sudah mulai dibuka di Bandara International Lombok.
Inilah rupanya akhir dan ujung dari petualangan hari ini.
Rasanya lengkap sudah perjalanan ke Lombok bersepeda. Mengunjungi perbukitan diatas Kota Mataram. Juga mengunjungi pantai yang eksotis di Pengantap serta kali ini mencicipi kaki selatan Gunugn Rinjani.
Alhamdullilah saya rela genjot pulang ke titik start secepatnya….
Kali ini dengan meninggalkan asap debu panjang dibelakang saya. Meninggalkan trek indah ini dan membawa sebagian debu trek menempel ke Ki Lobang, Specialized Carve Comp tercinta.
TAMAT
@antoix trackrating:
Uphill: 8/10
Downhill: 8/10
Physical Challenge: 8/10
Scenery on Track: 7/10
Riden on Specialized Carve Comp 29
on Continental XKing 2.2
Tracklog ada disini…
Lobang 18 – Sekotong- Teluk Sepi- Pengantap
Liburan lebaran masih newbie, makanya ambil libur lebih banyak di sebelum lebaran, mengakibatkan waktu yang tersedia buat acara gowes pun jadi acara di saat berpuasa. Maka gowes kali ini pun gowes puasa. Puasa hari terakhir. Benar benar genjot penuh dengan ujian.
Tak lama setelah selesai sahur dan Shubuh, maka perjalanan sudah dimulai. Mataram masih adem, matahari belum kelihatan. Suasana sekitar trek berubah bertahap dari perkotaan Mataram, lalu bertahap berubah semakin kering dan kering. Dari persawahan, ke ladang, lalu ladang kering, dan akhirnya kebun yang banyak diisi oleh pohon jambu mete. Gowes Santai dengan Ki Lobang tak terasa selam 3 jam baru lah pitstop di sebuah pasar yang amat ramai, terletak di pertigaan Sekotong. Tepat sebelum pertigaan ada penunjuk jalan yang jelas jelas menunjukkan tujuan trek ini “Teluk Sepi” berbelok kekiri.
Tidak biasanya saya sangat menikmati genjot onroad yang panjang begini. Tak terasa genjot santai samapi Sekotong telah mencapai lebih dari 40km sejak titik start. Secara kilometer sudah lebih dari separuh trip dan udara baru mulai terasa panas. Matahari baru mulai terik. Perubahan secara bertahap namun kerasa, dari Mataram ke selatan, menuju arah pelabuhan Gerung yang jadi jalur penyeberangan darat ke arah Bali, maka perubahan suasana ini yang terasa jadi bumbu perjalanan. Mungkin ini salah satu yang membuat bersepeda touring jarak jauh menjadi sesuatu yang mencandui para penggemarnya yah? Wah, gejala keracunan?
Kota Sekotong sendiri (kalau boleh disebut kota) sangatlah ramai di pasarnya. Terdengar mulai ada yang membunyikan rekaman takbir. Suasana menyambut Lebaran sangatlah terasa. Sangat jelas tampak keramaian di area konter2 mirip counter HP yang bertuliskan ‘dibeli emas’. Memang menjelang kota Sekotong ini bertahap mulai terlihat ada semacam alat penambang atau pengolah tambang emas. Skala kecil dan tradisional. Maka sangatlah mungkin skenario nya adalah, menjual emas hasil menambang lalu uang nya dibelikan ayam, kelapa dan daging. Saya sampai berhenti lebih dari 15 menit di pertigaan pasar ini sambil mengeringkan keringat. Sangat menikmati suasananya.
Nah, setelah bertanya tanya dan konfirmasi arah ke Teluk Sepi, akhirnya perjalanan dimulai lagi dengan genjot perlahan dan pelan ke arah selatan, dimulai dengan jalan rata dengan kebun jambu mete di kiri kanan jalan. Cuaca semakin kering dan panas, tanjakan semakin jahanam dan tak ada habisnya. Leher mulai terasa kering memuncak.
Daripada mikirin paha cenut cenut dan bibir serta leher kering karena puasa, maka saya melihat lingkungan sekitar trek saja. Tampak area kering kerontang. Mengingatkan pada area seputar Gunung Kidul di Jogjakarta. Sementara batu batu besar berwarna hitam tampak kadang muncul dari dalam tanah atau di sebelah jalan. Vulkanik sekali suasananya.
Sepanjang perjalanan sebenernya pada prinsipnya tanjakan cuma ada tiga doang. Tanjakan nya tampak pendek, dibandingkan dengan keseluruhan perjalanan, di altitude profile cuma tampak sebagai tiga gundukan kecil. Tapi ampun ampunan deh ngadepin nya. Gundukan pertama saya rasa yang paling miring. Sampai ada semacam switchback begitu, padahal jalan besar beraspal yang dilalui ramai. Gundukan kedua panjang gak ketulungan dan paling berat. Padahal ketinggian ‘cuma’ ke 200m dpl. Tapi balasan gundukan kedua, yang dijalani saat haus haus nya, saat panas panasnya cuaca adalah turunan pendek dan miring dengan pemandangan laut biru kehijauan di depan!!

Sampailah kita akhirnya ke Teluk Sepi. Namanya melambangkan apa yang kita lihat. Perkampungan nelayan, tanpa listrik, tidak banyak sarana pendukung, warung jarang, bangungan termegah adalah kantor polisi dan masjid. Benar benar sebuah teluk yang sepi berpasir hitam dan ber air warna hijau campur biru. Seger banget di mata setelah seharian terpapar matahari arisan.
Bolak balik saya melewati jalan raya yang beraspal lalu menembus halaman perkampungan atau jalan kampung ke pantai dan sebaliknya. Pantai nya tampaknya sangat seru untuk dilihat bawah laut nya. Seperti ada hutan warna hijau dibawah sana. Benar saja, kemudian memang saya temukan di beberapa sumber di internet kalau terumbu karang teluk ini sangat indah. Apalagi ditambah laut yang tenang karena ini adalah area teluk yang menjorok ke daratan, terisolasi dari ganasnya ombak laut selatan.
Tempat yang tak terjamah, murni, sepi, damai dan eksotik.
Dan salut untuk siapapun yang pertama memberi nama tempat ini…
Saya bertekad untuk kembali ke tempat ini lagi! Mungkin dengan membawa peralatan snorkeling…
Keindahan disajikan oleh alam sudah tak terkira, keluar masuk kampung bersepeda, sambil bersiap menghadapi tanjakan ketiga dan perjalan ke Pantai Pengantap yang merupakan ujung trek, saya menemukan puluhan orang berkerumun di bawah sebuah pohon besar, di tepi lapangan dipinggir pantai.

Saya mendekat ke kerumunan dan mendapati mereka, ada berkumpul dari kakek-kakek sampai anak balita, mengerumudi tikar besar dengan potongan potongan daging yang sedang dibagi berada diatasnya. Sebagian tampak sibuk menimbang dengan timbangan sederhana, berusaha membagi rata. Dua onggok kepala sapi tampak tergeletak tak jauh.
Tertegun saya sangat lama, sambil tebar senyum. Belum berani mengeluarkan kamera. Semuanya menggunakan bahasa daerah Sasak yang di telinga saya seperti campuran atara bahasa Jawa, bahasa Bali dan bahasa Madura. Saya ikutan pakai siaran SKSD (sok kenal sok dekat), dan mulai bertanya tanya tentang apa yang terjadi.
Rupanya ini adalah tradisi di area ini. Warga kampung nelayan ini, ada 27 keluarga, bersama sama bergotong royong menyembelih dua ekor sapi. Kemudian dagingnya dibagi rata ke semua keluarga. Semua dilakukan untuk menyambut hari Lebaran yang datang esok hari. Luar biasa aura nya di area ini. Enthusiasme lebaran dalam kesederhanaan kampung dan excitement menikmati sesuatu yang lebih di hari raya.
Saya minta ijin, dan mulai memotret, berputar di sekitar area. Seorang anak balita kecil mendekati saya terus, dan berusaha memunculkan wajah dan badannya di setiap frame yang saya ambil. Kocak sekaligus lucu dan agak menyebalkan sih… hehe…
Teluk Sepi … kau kembali menunjukkan sisi keindahan mu yang lain.
Rasanya enggan meninggalkan area ini. Terlalu dalam berkesan terutama site potong sapi itu. Tapi perjalanan masih belum sampai di ujung trek rancangan.
Trek berikutnya keluar dari Teluk Sepi, akhirnya perjalanan dilanjutkan dengan melewati jalan yang tidak lagi mulus. Gravel. Campuran antara tanah, sirtu dan juga pecahan batu. Berdebu sekali setiap ada kendaraan roda empat yang lewat. Meski panas semakin menyengat dan saya tidak lagi bisa bohong kalau semua skala aerobik telah terlewati, rasanya setiap genjotan menjadi berat. Untungnya trek menyajikan sesuatu yang berbeda kali ini. Trek serasa sangat offroad. Setelah seharian didera panjangnya dan miringnya trek onroad maka perubahan ini menyegarkan banget. Terengah mendaki tanjakan ketiga, yang di GPS tampak sebagai pangkal sebuah tanjung.
Lingkungan sekitar trek kali ini berubah lagi. Di sebelah kanan tampak hutan bakau. Ya, trek dekat sekali dengan hutan bakau. Bahkan saya bisa liat contoh hutan bakau yang ditebangi dan dimanfaatkan kayunya. Saya bisa melihat genangan air laut/payau nya. Benar benar berbeda!
Sementara sebelah kiri trek berupa perbukitan dengan pohon yang jarang dan rerumputan dengan sapi digembala. Sangat Nusa Tenggara kan? Saya seperti masuk ke dalam jantung Nusa Tenggara. Trek yang pendek sekali sebenarnya, dari Teluk Sepi menuju Pantai Pengantap ini memberikan pengalaman tak terkira buat rekaman bersepeda gunung saya yang tak terasa sudah berusia lima setengah tahun.
Berikutnya adalah bertemu dengan sebuah kampung. Ya kampung. Jelas tertulis “Kepala Dusun Pengantap” di pinggir jalan. Ada jalan conblock yang saya ikuti. Tak lama kemudian anak-anak kecil mengikuti saya dan menemani saya selama hampir sejam selonjoran di Pantai Pengantap. Most probably the best beach I ever experience…
Tidak seperti Teluk Sepi, pasir Pengantap berwarna putih
Pengantap semacam teluk namun tidak tertutup, jadi masih tersa angin dan deru keras Laut Selatan
Warna air biru kehijauan
Suasana aseli
Angin kencang yang dingin
50+ kilometers to this site. I don’t know what to expect more…
Tracklog trek ini ada di.. bikemap
@antoix trekrating:
Uphill: 8/10
Downhill: 6/10
Scenery: 9.5/10
Endurance: 9/10
Guided by Garmin Etrex HCx
Ride on Specialized Carve Comp on Continental XKing 2.2
Pictures taken using Canon EOS50D and Blackberry 9105
Lobang 16 – Solo Ride to Bukit Kedondong
Kita jalan juga akhirnya, berangkat jam 2 siang. Kata orang sini sih Mataram lagi panas. Hehehe… kayaknya mereka belom pernah tinggal di Cikarang ya. Perlu tuh redefinisi arti kata daripada ‘panas’. Terlalu sering gowes seputar Cikarang alhamdulillah menjadikan trek lain terasa lebih ‘sejuk’. Kalo kata Kang Asol, trek sejuk bikin ngantuk. Sempat kebingungan muter-muter kota Mataram, gimana caranya menuju titik start yang berada di sebelah utara.
Mataram kota yang lumayan besar juga, seingat saya kota ini adalah ibukota Nusa Tenggara Barat, jadi ya kota ibukota propinsi sejak dari jaman Orba. Infrastruktur lumayan lengkap. Kota nya sendiri tampak lega. Kendaraan tidak memadati kota. Mungkin mata saya yang aneh juga karena terbiasa melihat lalulintas penuh hiruk pikuk setiap hari. Rasanya disini segalanya lega. Susah juga mencari sesuatu yang bisa menjadi ciri kota untuk diambil gambarnya, akhirnya dapat patung di depan mantan bandara lama Selaparang.
Trek pun mulai menunjukkan kemiringannya, meliuk liuk, mirip jalan ke KmNol lah. Lalu rancangan trek berbelok kekiri memasuki pedesaan. Jalan datar di tengah kampung, masuk keluar jalan utama, masih jalan aspal, dan mulai miring benar. Kemiringan berubah drastis, paha pun menjerit jerit. Karena gowes puasa, maka saya ambil cara lebih banyak berhenti. Tidak forsir dan menjalani gowes yang jauh lebih santai dari kebiasaan.
Ki Lobang inget gak?
Di sebuah warung sang Bapak penunggu bilang, “wadooohhh… masih jauh Dik, masih 3km dan noanjaaaakkkk…. terus! Apa kuat sampai Senggigi??” Kalau di trek biasanya saya dengar cuma *1km artinya agak dekat dan 2km artinya jauh benar*. Tidak pernah presisi, jangan coba liat odometer buat patokan berdasar kata penduduk setempat. Lha ini kok 3km?? Mulai lemas saya, leher mulai kering. Tapi kata kata terakhir si Bapak yang menantang, “Apa kuat???…” Malah itu yang menyemangati.

Pemandangan mulai berubah dari pedesaan kebun ke landscape Mataram dan Selaparang. Jalan dari aspal berubah jadi makadam lalu berubah jadi jalan beton selebar cukup untuk motor saja. Matahari jam 3 siang menyengat dan adzan Ashar mulai terdengar. Rasanya tidak habis jalan nanjak beton sempit di punggung bukit ini. Jumlah pitstop jangan ditanya deh, daripada batal puasanya karena dehidrasi.
Ki Lobang yang kejam,
Tolong dong plis kurangi kadar racun mu biar beban hidupku berkurang…

Rancangan trek bikin ragu juga waktu dia menunjukkan harus keluar dari trek beton. Terus naik nanjak lagi kita pun mulai masuk singletrek tanah. Heran kok nanjak nya belom habis juga yah? Jadi ingat saya sama ungkapan 3kilometer yang disampaikan Bapak warung dari desa dibawah tadi. Pemandangan kota Mataram mulai tak tampak di belakang dan berganti pemandangan pegunungan dan hutan di sebelah kanan trek, “…ini nih area Monkey Forrest dan Rinjani jauh dibelakang sana”
Cerita selanjutnya adalah masuk ke desa terakhir, kemudian tanya jalan turun. Trek dimulai dengan singletrek di tengah desa lalu jalan turun asyik yang memingatkan pada trek turun di Cioray ini berubah bertahap menjadi doubletrek makadam, gravel, aspal rusak dan bertemulah jalan raya Senggigi di sekitar Batulayar. Fyuh finish deh di pantai… Mirip banget sama feeling di trek Kolozal Mandalawangi. Nanjak abiss ditutup dengan turunan panjang bertemu sunset di pantai.
Ki Lobang yang hebat,
Gak kapok kan diajak gowes nanjak puasa lagi??
@antoix trek rating:
Uphill 8/10
Downhill 7/10
Scenery 9/10
Physical challenge 9/10
Riden using
Specialized Carve 2012 Hardtail
Continental XKing tyres
Garmin Etrex hcx guided
Tracklog http://www.bikemap.net/route/1780230
Lobang 14 – packing
Cikarang, 14 Aug 2012
(awal posting seri Ki Lobang mudik lebaran)
Ki Lobang yang baik…
Mudik bareng kita, memang kau akan segera masuk ke tas yang pengap.
Tapi gak akan lama kok, janji…
Ki Lobang yang baik…
Gak kerasa ya udah lima bulan kutaruh telapak kaki di pedalmu. Tolong dong turunkan dosis racun mu, terutama di tanjakan, cenut cenut kok belum juga berhenti. Kata Pak Dokter saya kurang foreplay… Juga jagain semangat goesku ya, biar tetap semangat gowes di kala cenut cenut masih mendera
Ki Lobang yang baik…
Benar benar saat yang tak tepat kalau kau ngambek. Seperti peristiwa anting tempo hari. Atau peristiwa ban gembos kemarin. Jangan nakal deh. Kalo gak nakal nanti aku hadiahi upgrade setelah lebaran
Doakan kami dapat perjalanan seru yaaa….
























































