Arsip untuk read

Spiritku dan lembar-lembar T-Shirts

Sedang siarang langsung Spurs vs Wigan. Seru, tapi rasanya ada yang perlu ditulis… (pindah input dengan remote)

Siang ini aku membeli EMPAT buat T-Shirt sekaligus.. ya, Empat, papat, opat, four… Buset, kaget sendiri kalau ingat kok ya bisa se impulsif itu sih ketemu t-shirt kali ini?? Apa hebatnya sih t-shirt ini? Hmm, hebatnya ada di pesan-pesan yang disampaikannya. Terusterang aku kok nggak terlalu concern dengan kualitas desain dan kualitas bahan-nya. Ya pokoknya tidak memalukan sudahlah cukup dari bahan dan desain, lebih penting adalah ‘pesan’ dari t-shirt itu..

t-shirt #1
tulisan: I just want to ride bike with you
gambar: dua sepeda
Seru, karena jarang banget rasanya ada t-shirt umum, dijual di tempat umum (matahari dept store) tapi kok tema nya cukup spesifik seperti ini ya? Warnya putih lho, warna yang biasanya paling saya hindari dari t-shirt, untung kerah maroon, sewarna dengan font-nya

t-shirt #2
tulisan: I Believe in Music
gambar: ornamen orang, tidak terlalu jelas, agak abstrak
Sudah lama sekali saya pengen punya yang kata-katanya kuat dan tegas seperti ini. Kebayang seru kalau dipake nonton konser musik

t-shirt #3
tulisan: B L O G
tidak ada gambar hanya huruf semacam arial dengan berbagai ukuran font dan warna, tapi warna yang paling menonjol adalah putih, huruf terbesar ukurannya, dan membentuk tulisan BLOG. T-shirt tentang blog? Ya pasti lah aku embat..

t-shirt#4
tulisan: BLOW ME
gambar: bariton horn (marching)
Halah, ini coba. Masak ada tema seperti ini lagi-lagi di t-shirt massal yang umum. I couldn’t say no. Sampai mbak pelayan bertanya berkali-kali karena saya ambil terus, dia lalu mengambilkan tas belanja untuk saya..

Tingkat kerusakan hari ini adalah 140rb an untuk keempat t-shirts. Mahal gak?
Ntar kalo gak lupa dan gak males fotonya aku taruh disini deh..

Untuk koleksi kaos… silakan tengok
http://www.bikewearr.com
http://kdri.web.id

Pandaan, 28 Aug 2010

Komentar (1) »

Mencari ‘Pak BE YE’

Mendengar hebohnya pemberitaan tentang buku seorang Blogger yang menceritakan sisi-sisi lain kehidupan dalam istana, saya segera menuju desk ‘Buku Baru’ di Toko Buku Gramedia Malang Town Square kemarin siang… Weleh, tidak ada!!! Sepeserpun tidak ada… Jangan-jangan yang dikhawatirkan seorang komentator di TV semalam benar-benar terlaksana? Buku ini ‘hilang’ dari pasar???

Setelah mencoba memutar ke daerah buku-buku humaniora, politik, kebudayaan, weleh… kok masih tak ada juga… dag dig dug

“Mbak, ada buku ‘Pak BEYE’ nggak?”
si Mbak Customer Service tampak agak panik di meja-nya
“Bapak butuh berapa?”
“Satu saja MBak…” sahut saya dengan cepat

Dia tampak menuju bagian lain dari toko buku.
Semenit
Dua menit
Wah, masak sih yang beli musti di screening? Masak harus ditanya dulu beli satu atau akan beli borong? Hehehe…

Si MBak datang membawa sebiji buku yang warna sampulnya sudah saya kenal…
Cihuyyyy….
Harganya 48 ribu

Semalam sudah mulai dibaca sampai ketiduran. Beneran. Mirip baca blog…
heheh… Emang dari BLOG tauu!!

Pandaan, 8 Aug 2010

Komentar (4) »

101 tweets…

Komentar bertahan »

Finding an Achilles’ Heel..

Susah banget menceritakan ini, tapi selama dua minggu ini saya bertemu dengan dua orang terpisah, saya berhubungan dengan mereka dari channel yang berbeda, sudah jelas mereka saling tak berhubungan samasekali. Namun anehnya kedua orang senior ini memberikan arah yang jelas tentang suatu hal: “Finding an Achilles’ Heels..”

Tau Achilles?
Orang kuat tak terkalahkan di mitologi Yunani. Seolah tanpa kelemahan. Tanpa mungkin dikalahkan. Dan ternyata dia punya satu kelemahan, di tumit (heel) nya. Karena saat masa kecil dimasukkan ke dalam ramuan yang membuatnya jadi tak mempan dibunuh ibunya memegang bayi Achilles di tumit saat memasukkan ke dalam ramuan. Akhirnya tumit itu tidak tercelup dalam ramuan dan menyebabkan itu menjadi kelemahan tersembunyi.


foto diambil dari wikipedia.com

The death of Achilles was not mentioned in Homer’s Iliad, but appeared in later Greek and Roman poetry and drama concerning events after the Iliad, later in the Trojan War. In the myths surrounding the war, Achilles was said to have died from a heel wound which was the result of an arrow — possibly poisoned — shot by Paris.

Saya ingat mitologi wayang juga punya kisah serupa, tapi kok saya lupa detailnya.

Menemukan tumit ini bisa kita lihat dari dua sisi:

1) Menemukan kelemahan

Ini biasanya berhubungan dengan bagaimana kita menganalisa lawan/kompetitor kita. Saat kita mengetahui kelemahan absolut lawan, kita akan sangat terfokus dalam berperang. Kita akan bisa membuat strategi yang tepat untuk memukul lawan. Tepat di pusat titik kelemahannya. ‘Finding Achilles heels..” disini berarti kita berusaha menganalisa lawan, yang mungkin sangat kuat dan seperti tak terkalahkan, namun kita bisa menemukan dan menyimpulkan titik utama kelemahan itu. Dalam strategi perang Sun Tzu itu ada di ‘mengenali lawan’.

Sangat menarik saya temukan, karena ternyata mengenali lawan, yang sangat besar, sangat kuat, tampak dimana-mana, tidaklah selalu mudah. Kita seperti melihat semua otot dan kekuatannya saja, kita kesulitan menemukan kelemahannya.

2) Menemukan kekuatan

Hal ini biasa dihubungkan dengan bagaimana kita memandang diri kita sendiri. Achilles’ heels mungkin saja adalah sebuah kelemahan, namun, kesadaran kita akan hal itu, kekuatan kita untuk memperbaiki dan menutupinya, keterbukaan kita untuk menerima input dalam hal itu, adalah kunci dari mengubah kelemahan menjadi kekuatan. Kelemahan akan berubah menjadi kekuatan saat kita menyadari dan melakukan treatment yang tepat.

Apakah mencari kelemahan diri sendiri mudah? Ternyata tidak!!

Bisa saja kita melihat terlalu banyak kelemahan dalam diri kita, sehingga kita kebingungan darimana kita harus memulai untuk mengantisipasinya. Dalam hal ini kita ternyata tidak bisa menemukan ‘heels’/tumit yang tentunya adalah sesuatu yang kecil dan sempit. Kadang kita memandang diri kita sendiri juga terlalu detail dan luas sehingga rasanya dimana-mana ada kelemahan.

Kadangkala sebaliknya. Kita memandang diri kita sudah baik, lalu kesulitan menemukan titik lemah. Biasanya ini dialami oleh orang-orang arogan yang super kuat kepribadiannya. Samasaja. Orang jenis ini tidak juga bisa menemukan “his own achilles’ heels”..

Terimakasih untuk dua orang yang membimbing saya sedikit memahami hal ini.
Tanpa bisa menemukan ‘Achilles’ Heels’, kita tidak akan bisa membuat strategi yang tepat untuk menghadapi masalah.

links…

wikipedia ttg Achilles Heel..

Komentar bertahan »

Mang Ending Cikapundung

Terimakasih Mang Ending, hari ini anda mencerahkan pagi saya….
you lighten up my day !!!

Setelah enam bulan lebih tidak pernah dapat majalah sepeda gunung, hari ini akhirnyaaa…. dapat juga majalah sepeda gunung lagi. FYUIH !!!

Komentar bertahan »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.