Arsip untuk Music

Tentang st12, Nidji, Peterpan, lalu KLA Project

Melihat jenis dan load pekerjaan di tempat baru di Bangil, Pasuruan ini, tampaknya akan lebih sedikit kesempatan saya melakukan trip-trip bersepeda seperti gejala di blog ini dalam 2 tahun belakangan. Selain many things to do, walau weekend, juga ada minggu-minggu tertentu dijadwalkan untuk pulang kampung dan setor muka ke Cikarang. Keluarga masih di Cikarang.

Kali ini temanya geser sedikit ke musik.

Sepanjang sekitar 4 bulan belakangan ini saya berturut-turut membeli CD-CD:
- Nidji, album pertama lalu kedua. Terkagum dengan ketelitian sound nya.
- st12, the only album yet. Melihat sisi lain musik melayu dan kesederhanaan lirik.
- Peterpan, the best (double CD). Mereka memang anak band…
- KLA Project, album Klakustik. The King of Indonesian POP band after Koesplus !!

Akan saya tulis terpisah:
Nidji
st12
Peterpan
KLA Project

Moga2 tetap semangat buat nulis terus…

Komentar (2) »

Nonton ITB Big Band Concert 2009

Baru berangkat dari Kalibata jam 1730. Jelas pasti telat. Untung perjalanan menyenangkan karena sepanjang jalan kami mencoba menyanyikan aransemen lagu2 pas main marching band dulu… Lucu juga, dan ternyata boanyak yang lupa!!!

Lumayan… masih kebagian penampilan dua band terakhir

Salamander Big Band
Pilihan lagunya semakin beragam saja. Lagu favorit saya “Spain”

Kirana Big Band
Lagu pertama-nya, “In The Mood”, mengingatkan hebohnya meniup trombone di bagian menjelang coda enambelas tahun yang lalu… Kocak banget jadi ketawa-ketawa sendiri.

Ini adalah ITB Big Band Concert yang ke 11 (dirintis dg FBB 89). Jadi sudah diselenggarakan: 91, 93, 94, 96, 97, 99, 05, 06, 07, 08, 09 (CMIIW)

lihat juga ini..

lihat juga cerita IBBC 2008 setahun lalu….

Komentar (1) »

Nanti malam nonton ITB Big Band Concert 2009

Komentar (1) »

Nostalgia Pink Floyd – The Wall

(saat nulis, sambil dengerin kasetnya diputar, iya, kaset, biar digilir diputar sesuai post sebelumnya tentang kaset disini…)

Banyak yang bilang album ini adalah album Pink Floyd yang ‘nge-pop’. Dan, saya lumayan setuju dengan pendapat ini. Saya kok menangkap nuansa yang sangat populer, tetap saja ‘ngelangut’ dan psikedelik ala Pink Floyd tidak bisa hilang, tapi ya tetap terasa nuansa ‘gula-gula pop’ nya.

Wah, kalau dibaca Mas Gatot dan senior2 prog-rock bisa dihujat nih tulisan ini hehehe… Gak papa. Saya cuma mencoba jujur pada telinga dan interpretasi hati saya sendiri tentang apa yang saya dengar dari album ini.

PinkfloydThewallcover

(istri saya pindah ke kamar dan menyalakan tivi disana, ini ruang tamu diselimuti nyawa psikedelik…)

Boleh saja segala sesuatu disematkan kepada Pink Floyd dan album The Wall ini, tapi secara pribadi, album ini adalah ‘pintu masuk’ saya ke Pink Floyd dan musik progresive secara umum. Dimulai dari minjam kaset the best-nya, kemudian pinjam album ini (iya, semuanya pinjam hehe…) terpukau, teracuni, melamun, mencari, melamun, tenggelam, melamun, semakin dalam tenggalam dan tenggelam.

Sampai akhirnya saya berhenti karena tidak tahan dengan kesedihan yang selalu muncul bersamaan dengan lagu-lagu Pink Floyd. Mungkin bukan tidak tahan kesedihan juga, mungkin memang mood sudah bergeser.

(kaset selesai mendayu syahdu melantunkan lagu terakhir, “Outside The Wall”)

Ok, cukup kali ya nostalgia dengan Pink Floyd…

Links…
Pink Floyd di wikipedia…
‘Official Site’ (?) Pink Floyd…
Pink Floyd Fandom di Pinkfloyd.net

Komentar bertahan »

Koleksi Kaset, mau diapakan ??

Ini cerita tidak hanya tentang musik dan kegemaran mengoleksi rekaman musik, koleksi kaset, banyak dikumpulkan, dicopy (iya, mbajak), dibeli berkaitan dengan nostalgia dan kenangan tertentu. Saya ingat-ingat lagi, harga satu kaset yang saya beli saat SMA atau kuliah mungkin belasan persen dari total belanja bulanan wakakaka… Jadi, jauh lebih berharga kan? Sebenarnya lebih ‘mahal’.

compact_cassette_internals_diagram

Juga ada beberapa kaset yang terlanjur tidak ada koleksi CD-nya lagi (atau belum ada? atau tidak nyari lagi?). Ini lebih susah lagi. Kalo kaset hilang kan berarti koleksi musik juga hilang.

Sekarang koleksi kaset mungkin ada 300-400biji. Pernah seorang rekan menghibahkan koleksi kasetnya sejumaln 150an biji. Ujungnya sekarang lebih banyak numpuk, lebih sering ndengerin CD (di mobil) dan mp3 (di komputer dan ipod/muvo). Semakin merana saja itu koleksi kaset.

Lebih merana lagi adalah playernya. Sempat mengadalkan player di mobil (tape mobil) tapi memang kaset tuh sangat rentan ya, termasuk playernya, jadi ya entah bagaimana sudah dua tape mobil dan satu compo, pemutar kaset-nya selalu rusak duluan dibanding pemutar CD apalagi radio.

Jadi?
Sementara seingatnya digilir. Minimal kaset pernah dimainkan satu side. Kadang musiknya tidak didengarkan, tidak dinikmati atau dipedulikan, hanya dimainkan saja di compo. Sambil khuatir kalau kasetnya melipat. Ini lagi, traumatis dengan kaset yang melipat saat di-play.

Ribet ya memang koleksi kaset…

Komentar (3) »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.