Arsip untuk jazz

progressive-free-jazz-metal nya John Zorn

John_Zorn

Sudah lama saya tidak mendengarkan musik John Zorn. Mungkin setahun lebih. Tidak… tidak dijual koleksi musik Mr. Zorn yang menurut saya sampai sekarang masih spesial dan sangat berharga. Yang saya dapatkan dengan banyak ngobrol dengan Om Ajie Wartajazz di rumahnya di Gejayan, Jogja. Sambil ngobrol ngalor ngidul.

Kategori musik Zorn mungkin tidak bisa dibilang jazz, rock, metal, ataupun klasik. Semuanya dicampur aduk. Inilah asyiknya membicarakan musik Zorn yang, menurut saya bertema “progressive-free-jazz-metal” ini. Kalau kita bicara free jazz, kita kadang tidak bisa begitu saja mendengarkan musik mereka, as it is. Kita kadang perlu mengetahui bagaimana latarbelakang musik itu sampai tercipta untuk bisa memahami komposisi dan konsep musikal yang mereka munculkan.

Saat mengetik tulisan ini pun, saya tidak bersama musik Zorn samasekali. Jadi saya tidak akan bisa menyebutkan album atau lagu-lagu tertentu, tapi konsep Zorn tidak pernah lewat dari kepala saya. Menempel dan, seperti permen karet kena rambut, susah untuk dilepas di kepala.

Selain ada unsur free-jazz, Zorn musiknya intens. Bahkan saya tidak lagu bilang ada unsur metal-nya di musik beliau. Saking intens-nya ada lagu-lagunya yang hanya berdurasi ukuran detik. Bukan pendek dan kosong yang minimalis, tapi mendengarkan lagu berdurasi 15 detik kita mendengarkan musik yang intens sampai rasanya seluruh komposisi 15 menit dipadatkan jadi 15 detik. Dan memang itulah salah satu ide dan konsep bermusik beliau. Dengan tinggal di New York yang (katanya) selalu padat, berisik, mobile… rasanya waktu semakin tak berharga atau justru sangat berharga. Maksudnya adalah kadang waktu itu berlalu begitu saja (waktu tak berharga) atau kadang waktu yang pendek rasanya kita bisa melakukan apa saja (waktu sangat berharga).

Konsep intens dan metal ini seperti menggambarkan kalau waktu, dilambangkan dalam musik beliau dengan tempo, semakin intens. Musik beliau bisa dalam tempo sangat intens (super duper cepat) sehingga selama mendengar 15 detik lagu kita seperti mendengar seluruh ide lagu panjang tercurahkan. Intens. Pendek. Keras. Padat.

Progresive juga muncul di musik beliau. Saat memasuki tempo yang slow dan pelan, progresi akord-nya, perubahan tempo nya, dan perubahan birama-nya kadang sangat ekstrim. Seperti kiga dijejali oleh konsep musik progresive, yang seperti namanya, adalah selalu berkembang dan berubah-ubah. Dalam hal ini termasuk birama dan tempo.

Entah angin apa saya ingin menulis ttg Zorn sore ini, mungkin karena harus belajar 1 bab dalam 1/2 jam sebentar lagi. Wakakaka… Jadi kangen denger John Zorn lagi, tar malam ah dengerin…

Komentar bertahan »

Nonton Notturno di Eastern Promise

Semalam saya disuguhi bahwa sebuah band benar-benar sebuah sinergi. Band bukan hanya ‘sum of the members’ tapi bisa menimbulkan keindahan dan energi yang muncul dari sinergi.

Joshua (bass) dan CakHend(drum) tampak tidak hanya menjadi sebuah dasar dan basis bermusik seperti layaknya rhytm section, mereka bisa memainkan lagu sambil terus ngulik kiri kanan atas bawah secara jahil tanpa kehilangan alur. Masmo (piano) tampak ada di level eksploratif baik chordal atau melodik yang belum pernah saya liat.

Masmo memainkan piano seperti rocker yang menari-nari dengan gitar elektrik berdistorsi keras diatas bara api panas yang digelar oleh CakHend dan Joshua. Yang sangat luarbiasa adalah mereka bertiga sangat ‘blend’, sangat kompak dalam membawa emosi musik yang dibawakan oleh band.

Kondisi musikal yang bisa bikin iri siapapun yang merasakan beratnya membentuk hal seperti ini di band…

LUAR BIASA NOTTURNO!!!

Sampe bangga banget saya, padahal cuma jadi teman para personilnya saja….

PICT4856nott

PICT4860nott

Show di Eastern Promise, Kemang. Sempat kaget masuk karena isinya Bule semua wakakaka…. Orang desa masuk Kemang ya gini neh.

Semalam jadi terbius dan membeli album ‘pintu terlarang’ padahal isinya hanya satu lagu-nya Notturno. Hehehe…

Komentar (2) »

Van Alloy Big Band di Ultah 5 Tahun KJK

kjk5th
Foto diambil dari halaman facebook-nya Purwanto (alto sax player) Van Alloy

Main empat lagu:
1. Fly Me to The Moon
2. How High The Moon
3. Girl From Ipanema
4. Out of Nowhere

Musically gak pengen dikenang dan diingat deh, tapi rasanya berhasil memeriahkan acara KJK hari itu.

Sebenernya lebih menarik cerita tentang tempatnya dan pengalaman ada di Kandank Jurank Doank -nya Dik Doank

Komentar bertahan »

Java Jazz 09

Dua tahun lalu kecipratan selembar kupon harian.
Tahun lalu dapat all access pass.

java-jazz-festival

Tahun ini gak nonton samasekali tampaknya. Dan rasanya kok tidak kehilangan juga… Ntah lagi gak ada mood denger musik jazz atau kerasa kemahalan, atau karena gak ada penampilan menarik… Atau, lebih tepat lagi: gak peduli.

Ya sudahlah, biarkan dia berlalu.

Komentar (3) »

Miles Davis juga celingukan kok…

miles-davis

Beberapa waktu lalu saya sempatkan nonton DVD ‘Herbie Hancock – Possibilities’. Seru, karena sebagai musis jazz Mr. Hancock ‘menantang’ beberapa musisi untuk mencari titik temu yang sangat spontaneous. Lagunya ada yg dibuat di tempat, diubah ditempat, belom ada ide waktu ketemu, dll. Di lagu pertama ada Cristina Aguilera nyanyi keren banget. Meski dandanannya ala Madonna banget, sangat putih blondie gitu, tapi suaranya ‘hitam’ banget.

Salah satu yang menarik adalah saat Mr. Hancock menceritakan pengalamannya bersama Miles Davis grup. Dia waktu itu masih sangat muda dan ‘dipaksa’ bermain satu grup dengan musisi sekelas Dave Holland pada bass, Wayne Shorter di Sax, Miles di Trumpet. Mampus dah. Mana Mr. Davis ini memiliki pemahaman tentang ‘musik jazz’ yang sangat unik.

Menurut bliau, jazz adalah spontanitas. Jazz itu harus fresh dan keluar dari hati. Saking ekstrim-nya Miles Davis memegang teguh prinsip ini maka beliau selalu menerapkan latihan yang sangat minim, bahkan tidak perlu latihan. Semua tercipta di atas panggung dan bisa diubah di atas panggung. Memang sih seru juga kalo liat band ini main, tampak benar tuh “celingukan”-nya, tapi segera disambut dengan pendalaman musikal, jadi setelah dengar secara fresh musik dibawa kemana maka langsung bereaksi dengan interpretasi baru ke area baru. Kebayang banget, ikut band ini seperti masuk ke ruangan yang kita tidak tahu bentuknya seperti apa, pintunya dimana, perabotan ada dimana, pokoknya masuk dan dilanjutkan dengan eksplorasi ruangan itu menurut keinginan sendiri-sendiri. Selama masih ada di ruangan, kita masih memainkan satu lagu, berinteraksi dari apa yang dirasakan dan didengar.

Mantap juga ya?
Ini band “celingukan” kelas kakap…

Komentar bertahan »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.