Kaget saya mendapati statistik blog ini yang menunjukkan banyak orang yang terjebak memasuki post saya tentang aglaonema dan adenium juga tentang adenium dan euphorbia karena mencari di search engine menggunakan kedua keywords itu. Aglonema dan adenium. Post saya itu sendiri menurut saya tidaklah cukup informatif, bahkan untuk pemula.

Semingguan lalu saya punya kesempatan mengunjungi rumah seorang senior hobiist (spell?) adenium yang sangat dihormatin di forum adeniumania@yahoogroups.com Kebetulan juga tempatnya tidak jauh dari rumah, cuma 15 km, bisa ditempuh dengan bersepeda… Beberapa tips tentang pemeliharaan adenium, hasil obrolan dengan Wak Sutan selama sekitar sejam lebih, secara singkat akan saya coba tuliskan disini. Kalau ada salah tulis ya maaf, maklum masih pemula dan tidak membawa catatan waktu dapat kuliah dari Wak Sutan.
1. Jenis adenium
Jenis adenium ada empat tipe besar; (1) arabicum (2) obesum (3) somalense (4) sorry lupa !!
Arabicum umumnya dinikmati karena bonggol dan bentuk percabangannya
Obesum umumnya untuk yang ingin menikmati bentuk, kombinasi, dan warna warni bunga nya
Somalense ini agak mirip arabicum, dinikmati bentuknya, tapi memiliki bentuk morfologi yang berbeda dengan arabicum.
Tentusaja benang merah dari semua jenis adenium adalah bentuk bonggol dan juga bunga-nya. Boleh kombinasi dan titik berat penonjolan bisa kemana saja, tapi intinya di kedua faktor itu.
2. Media Tanam
Media tanam memegang peranan terpentin dalam pengelolaan adenium. Media harus sangat porous, mengingat salah satu musuh terbesar adenium adalah busuk bonggol. Busuk bonggol terjadi salah satunya karena air yang terlalu lama tersimpan di dalam media tanam. Air yang berhenti di media tanam merupakan salah satu faktor penting pembusukan. Serba salah, karena adenium meskipun merupakan tanaman gurun dia sangat suka air sebenarnya.
Media tanam terbaik selama ini adalah campuran antara pasir malang, sekam bakar, dan pupuk slow release. Proporsinya ada banyak variasi, tapi intinya kembali lagi ke dua media awal sebagai yang utama, pasir malang dan sekam bakar. Wak Sutan bilang kalau porsinya bisa disesuaikan dengan ketersediaan saja, jangan kaku. Yang penting POROUS!!
3. Penyiraman
Penyiraman setiap hari sangat rawan karena terlalu sering. Adenium adalah tanaman suka air namun dia tanaman gurun yang tidak tahan terlalu banyak mendapat air. Dua hari sekali (jika media sangat porous) atau aman-nya seminggu dua kali sudahlah cukup. Meskipun adenium adalah tanaman gurun, namun yang kita tanam di pot dan yang sudah beredar di kalangan kolektor sudah banyak berubah sifat. Jadi kalau tidak diberi penyiraman, meskipun itu mirip dengan kondisi di gurun, tidaklah merupakan pilihan terbaik.
Jika musim hujan sebaiknya adenium ditempatkan di semacam greenhouse yang menghindari terpapar hujan setiap hari namun tetap memungkinkan terkena sinar matahari setiap hari.
4. Pemupukan
Pemumpukan digunakan pupuk dengan kombinasi jumlah N (nitrat) yang sedikit. Nitrat terlalu banyak akan merangsang pertumbuhan daun yang tidak terlalu diinginkan dalam pengembangan adenium. Daun diinginkan ada namun lebih diinginkan batang berkembang membesar (melebar) dan keseluruhan morfologi tanaman yang kuntet, kerdil, mirip bonsai.
Pupuk bisa merk apa saja pilih saja yang porsi nitrat-nya rendah, sekitar 6 persen. Diharapkan pupuk akan merangsang pertumbuhan batang, akar, dan bunga.
Sudah itu dulu.
Sebenernya ada cerita lagi tentang pemangkasan daun, pencegahan busuk, pembesaran bonggol, pemilihan sekam bakar, dan beberapa tema lain.
(katanya entry blog jangan panjang-panjang hehe)
tulisan ini berlanjut ke bagian kedua
juga ke bagian ketiga

















