Januari 14, 2008
· Disimpan dalam flora, humans · Tagged cikarang baru, halaman, resapan, rumah
Saat menulis post ini diluar sedang hujan, tidak terlalu deras tapi cukup untuk memberikan efek gemericik air turun dari genteng. Angin tidak terlalu kencang, tapi sejuknya angin sore membuat susananya (bahasa mas Totty) nuansamatik puoolll.
Jendela kamar tidur langsung berhadapan dengan taman berukuran sekita 2×3 meter. Sejak kami menempati rumah ini th Feb 2001, kami memang sangat mengusahakan untuk tetap memiliki ruang terbuka hijau seluas mungkin. Luas tanah rumah ini adalah 135 luas bangunan 54. Dan baru dua bulan lalu kami memperluas dapur ke belakang, nambah sekita 2,5×2,5 meter.
Setiap orang yang berkunjung, terutama orang tua kami, selalu mengusulkan untuk menambah bangunan, memperluas, menambah ruang, menutup, dll. Selalu dengan halus kami tolak. Ya itu, karena kami ingin memiliki halaman yang hijau. Halaman yang bisa menyerap sendiri air dari langit dan atap. Sebisa mungkin lah air yang jatuh di area yang cuma 135m2 ini tidak perlu memberi beban resapan tambahan pada alam.
Saat pertama menghuni rumah ini, rumah ini adalah rumah yg pertama dihuni di jalan dpn rumah. Kami membangun pagar, dengan brc steel, sehingga waktu itu tampak pagar kami menjorok maju mendekati jalan. Saat ini rumah kami terasa menjorok kedalam karena pagar, ruang tambahan, garasi, dll rumah tetangga sudah maju. Taman depan rumah kami jadi cerukan hijau diantara belantara tembok. Kalau koleksi 8 macam bunga sepatu sedang giat berbunga wah eksotis sekali halaman kami.
Halaman belakang juga kami yang pertama membanguntembok keliling. Saat akan pindah, tidak ada satupun tetangga belakang yang sudah dihuni rumahnya. Semuanya semak belukar dengan batas tembok setinggi dada. Tembok belakang kami jadi pelopor, bahkan saya harus pasang kawat berduri juga untuk keamanan. Sekarang sudah full. Halaman belakang kami yg juga penuh tanaman, dikepung oleh bangunan tembok tinggi. Masif. Lagi, halaman belakang kami serasa seperti ceruk hijau oase. Tadi pagi saya sempat tertegun melihat sepasang burung yg warnanya kuning indah, paruhnya kecil tapi panjang, tampak ‘berdiskusi’ di pohon belakang rumah. Beautiful moment walaupun saya tidak pernah sukses birdfeeding di kebun belakang.
Ok, cukup kayaknya. Lagi melankolis menikmati gemericik air jatuh ke tanah dan dahan di suatu sore yang sejuk.
Oktober 16, 2007
· Disimpan dalam flora · Tagged lingkungan
Jaman saya kecil, berwisata artinya pergi ke pantai, ke kebun binatang, ke alun-alun kota, ke pegunungan: menikmati alam dan lingkungan intinya… Dengan berlibur kita punya kesempatan bersentuhan langsung dengan alam, saat liburan adalah saat kita ‘menyentuh’ alam.
Liburan yg saya maksud diatas gak cuma liburan ‘besar’ lho ya, seperti piknik dan sejenisnya. Tapi kadang main ke kali dan mandi cibang-cibung bebas itu kita lakukan kapan saja. Setiap kita pengen, termasuk sepulang sekolah hehe
Kemarin siang saya tercengang saat makan di food court Elos Plaza di Bogor. Disebelah food court ada “Timezone” atau arena bermain digital. Wah, berhubung ini liburan, yang berkunjung boanyak banget!! Secara sembunyi saya perhatikan dandanan para pengunjungnya (baju, sendal, sepatu, topi) terlihat anak2 itu tidak hanya dari kalangan mampu, tapi jg banyak yg dr kalangan kurang mampu.
Jadi beginilah cara anak sekarang menghibur diri? Dalam ruangan tertutup, ber-ac, melanglangbuana imajinasi sendiri. Dalam kesendirian mereka bertarung dengan teman virtualnya.
Beda banget dg salah satu pengalaman paling berkesan dg teman2 saat main di sawah dulu. Ketemu ular melingker, kami terkagium dan kemudian lari terbirit2 saat dia bergerak, hahaha…
Apakah alam masih jadi pilihan kita? Saat di puncak pun kita menyalakan AC??
(Post berkaitan dg blog action day 15 Okt)
Oktober 6, 2007
· Disimpan dalam flora · Tagged adenium
Ini adalah bagian ketiga dari dua post sebelumnya. Klik disini untuk bagian pertama dan kedua.
7. Pemupukan
Pupuk yang digunakan dipilih jenis yang cenderung merangsang pertumbuhan dahan/batang dan bunga. Dahan kita harapkan akan tumbuh menyamping/membesar, bukan memanjang. Sedangkan adenium tanpa bunga tetaplah kehilangan salah satu pesona terindahnya.

Tips pemilihan pupuk secara umum adalah mengambil pupuk NPK yang unsur N-nya rendah. Merk, jenis, model, bentuk dari pupuk bisa macam-macam, namun tips secara umum adalah pilih yang unsur N-nya rendah. Hal ini dilakukan untuk membuat batang tumbuh tidak memanjang keatas dengan daun yang rimbun, efek ini dihindari untuk membentuk bonsai adenium yang indah. Secara umum pupuk kita tambahkan untuk merangsang pertumbuhan akar dan bunga, dan bukanlah batang.
Untuk kepraktis-an pelaksanaan, WakSut mempraktekkan pencampuran pupuk slow release (dicontohkan merk Dekastar) langsung dalam campuran media tanam. Dengan cara ini diharapkan pupuk akan dapa langsung mendekati akar tanaman. Pupuk yang slow release juga membuat kita tidak perlu berpikir tentang pemupukan terlalu rumit lagi, karena di setiap penyiraman tanaman, otomatis akan me-release zat aktif dari pupuk tersebut.
8. Sinar Matahari
Adenium sangat menyukai sinar matahari. Ekspos terhadap sinar matahari sepanjang hari akan meningkatkan kesuburan dan kesehatan pertumbuhan adenium. Jadi usahakan tempatkan tanaman adenium di area taman yang paling banyak terkena sinar matahari.
Untuk menghindari gangguan gulma, serangga, kucing, kadal; ada baiknya dengan menempatkannya di green house. Green house juga akan mengoptimalkan fungsi panas matahari. Jika tidak bisa ada greenhouse kita juga bisa menggunakan atap tembus cahaya saja, menggunakan semacam poly carbonate yang berwarna putih/bening/netral.
Secara umum penggunaan greenhouse atau atap adalah mengurangi resiko tanaman terkena ekspose air di saat musim hujan. Air terlalu banyak memberikan resiko yang lebih tinggi pada kebusukan bonggol. Jadi salah satu point penggunaan greenhouse dan atap adalah air akan lebih terkontrol jumlahnya. Tidak overcharge
Karena adenium sangat menyukai panas dan sinar matahari, jika tidak bisa menyediakan greenhouse atau atap, bisa juga dipakai tips untuk menempatkan adenium di dak atas rumah atau bahkan atap rumah. Disitu dijamin ekspose maksimal terhadap sinar matahari. Kalaupun ada hujan, dengan ekspose maksimal sinar matahari akan menguapkan air yang tersimpan dalam media. Olehkarenanya sangat penting untuk memperhatikan curah hujan di area kita memelihara adenium.
OK, long enough…
September 27, 2007
· Disimpan dalam flora · Tagged adenium, flora
Kata ‘adenium’ ternyata paling banyak jadi keywords masuk ke blog ini, dan banyak sekali orang masuk ke post Adenium dan Aglonema di blog ini. Ini jilid kedua, lanjutan dari ini
5. Pemangkasan Daun
Sebelum diskusi dengan WakSutan saya selalu heran kenapa gambar2 yang di post di milis adeniumania@yahoogroups.com selalu tampak gundul dari daun. Daun-nya dikit banget, cenderung minim. Ternyata treatment itu memang sengaja. Pemangkasan daun, dan hanya menyisakan 3-4 lembar daun terbaru dari setiap batang bertujuan untuk menyalurkan pertumbuhan ke bonggol dan batang. Ini dengan tujuan kita menginginkan bonggol yang gemuk, besar dan disertai batang yang kokoh namun ‘kuntet’ dan bergaya tua seperti bonsai. Kita sebenarnya tidak menginginkan adenium kita menjadi rimbum berdaun.

6. Pembesaran Bonggol
Keindahan bentuk bonggol, keunikan bentuknya, kombinasi yang dihasilkan bersama batang danun dan bunga-nya dalam komposisi memegang peranan penting. Bonggol yang besar tampak tua dan semakin medekati bentuk ideal yang seperti bonsai; tua, kuat, kokoh.
Untuk membesarkan bonggol tentusaja mesti memperhatikan pemupukan. Salah satu tips yang sering digunakan juga adalah memendam bonggol ke dalam media tanam. Bonggol yang sudah kita munculkan diatas permukaan media tanam akan mengalami pertumbuhan yang jauh berkurang dibandingkan dengan bonggol yang tertanam dalam media. Jadi taktik yang digunakan adalah membuat komposisi bonsai dari bentuk bakalan, membayangkan besar bonggol yang diperlukan, dan secara bertahap memunculkan bonggol ke atas permukaan media tanam.
Jika suatu ketika kita inginkan bagian tertentu bonggol untuk diperbesar lagi, maka kita bisa melakukan treatmen pemendaman dalam media kembali. Bonggol yang sudah pernah dimunculkan ke permukaan, masih bisa diperbesar dengan cara menanamkannya dalam media.
Sudah dulu..
Nanti berlanjut ke bagian ketiga
Coba tengok bagian pertama
September 25, 2007
· Disimpan dalam flora
Mengganggu banget sih, sesuatu yang seharusnya diucapkan Global “Warming” tapi rekan saya ini mengucapkannya Global “Warning”. Kocak sekali karena denger berkali2 sepanjang hari.
Hari ini MetroTV banyak memberitakan tentang KTT Perubahan Iklim. Yang Amriki ngga mau ikut2an itu… Wah, dari raut wajah para pemimpin itu kok serius dan cenderung tegang ya?
Jangan-jangan kepleset lidah teman saya benar. Ini sudah menjadi WARNING tidak sekedar angat-angat global warming tapi sudah ancam-ancam global warning.
Jadi ayo peduli iklim dunia…
jangan seperti ‘oknum’ digambar dibawah ini

(diambil dari http://www.mindfully.org/Air/2005/Global-Warming-Approaching23jan05.htm )