enjoy every cadence, every breath…

Gowes Cimahut (Cimahi Utara) Cimahi-Ciuyah-Cisarua-Situ Lembang

Ajakan untuk mencoba trek Cimahi Utara, yang menyimpan tanjakan-tanjakan mooooyyy segera mengingatkan saya pada pengalaman membuntuti salah satu kegiatan Alphen Throphy (2008 kayaknya). Waktu itu termehek mehek di jalan tanjakan lurus rus dan panjang menuju ke Cisarua di utara Cimahi. Entah berapa belas kali berhenti pitstop, dan akhirnya cuma finish di Lembang saja.

Om Junee, yang memang tinggal di Cimahi dan istrinya bekerja di Rumahsakit Jiwa Cisarua, sangat mengenal jalur yang katanya adalah jalan mengantar istri ke tempat kerja. Iya deh…

Sehari sebelumnya sempat mengantar istri ke dr. Henry di Baros, ternyata Pak Dokter gigi ini adalah juga pesepeda. Beliau pun cerita panjang lebar tentang trek Cimahi, termasuk trek Ciuyah.

Minggu pagi jam 7 kita sudah unloading dan parkir di RSUD Cibabat, Cimahi. Tak lama basa basi kami pun mulai genjot dan sempat terjebak kemacetan orang dan TTB di area car free day nya Cimahi, area depan kantor pemerintahan kota Cimahi.

Setelah lepas dari pasar dan pasar dadakan car free day minggu pagi, kami pun mulai dengan uphill ringan dan makin lama makin miring. Om Junee menunjukkan di kejauhan gerombolan antena yang akan jadi pitstop kita. Nah, ini juga mengingatkan saya pada saat termehek mehek Alphen Trophy. Kumpulan antena yang tampak kecil di kejauhan ini ternyata tidak segera bisa kita capai…

Trek nya onroad via Ciuyah. Seru, sangat mirip dengan trek trek onroad khas Bandung Utara, memeluk kaki gunung2 Sunda Muda, Gn. Tangkuban dan Gn. Burangrang, merayap punggungan berkelok kelok, tidak lurus seperti jalan Kol Masturi, dan akhirnya. Sepanjang trek saya sekalian merasakan tunggangan baru. Wah, langsung jadi menyesal. Menyesal kenapa tak daridulu ya? Tak dari dulu pindah ke hardtail lagi… Setiap kayuhan langsung efek ke traksi dan genjotan. Efek ini yang saya kangen dari hardtail dan membuat saya genjot 1jam17 menit sampai akhirnya berhenti di sebuah warung dibawah antena Telkomsel (?) setelah mencapai kembali Jalan Kol Masturi sudah dekat ke Cisarua.

Naruh sepeda, selonjoran, dan lalu pesan teh manis panas dan makan nasi. Apa coba yang lebih huenak dari menikmati makan setelah gowes habis2an. Tak berhenti sejam an gowes membuat saya ingat pada trek uphill onroad di Saguling sampai Surge Tank.

Sambil menikmati makan berlauk khas banget tatar sunda, pepes tahu dan pepes ayam, saya kembali teringat sama artikel National Geographic Indonesia edisi Februari. Ada khusus dibahas tentang Sesar Lembang.

Sebuah patahan yang strategis, patahan yang disebut di buku Geotrek Cekungan Bandung T Bahtiar selalu mengawali dua letusan besar pegunungan Sunda. Ngeri membayangkan potensinya. Justru karena sudah lama sekali sesar ini tidak bergeming, tidak memberikan tanda-tanda tektonik. Semoga bukan karena energi yang terlalu lama dan besar terakumulasi… Dan saya sekarang ada di punggung sesar Lembang.

Satu persatu rekan datang, Om Sigit (tampaknya belio lagi gowes santai, biasanya saya selalu dicipratin air dari ban belakang blio), Om MbahBro (ini lagi lowprofile aja kali ya…) kemudian Om Junee (RC kok dibelakang?) dan Om Karyadi (yang ini kebanyakan OT).

Gowes kali ini memang tidak mendadak, tapi herannya peserta bertambah dan berkurang dengan otomatis sampai akhirnya peserta persis seperti reuni Gowes Nonatrip#1 ke Papandayan yg nginap di Cileleuy.

Gowes dilanjut dengan onroad, masuk ke kota Cisarua (bukan Bogor, tapi Cimahi) melewati Sekolah Polisi Negara, Biofarma, lalu masuk ke plang melengkung angker diatas jalan yang hanya bertulis singkat “K O M A N D O”

Berhenti motret sebentar, kita pun mulai masuk ke jalan aspal rusak. Jalan nanjak saya sangat semangat ingin banget merasakan perbedaan berpindah dari Collosus SX3 4in fullsus bike ke Specialized Carve 29in hardtail. Inilah untuk pertamakalinya Kanjeng Kyai Londo Abang aka. Ki Lobang merasakan digenjot di habitat dia dipilih; tanjakan offroad dan makadam.

Perkampungan mulai habis lalu mulai tampak pohon pohon pinus di kanan. Tampak sedang mulai direboisasi lagi ini area. Banyak sekali pohon kecil yang sedang ditanam ulang. Kerusakan dan penjarahan hutan adalah salah satu sisi buruk dari era reformasi politik di negara kita.

Di sebuah switchback berhenti, memotret dan mulai lagi ngobrol, termasuk ngobrol dengan seorang pencari rumput. Dari bapak pencari rumput ini dapat info kalau tidak boleh masuk ke kawasan Situ Lembang karena sedang ada latihan Kopassus dengan peluru tajam. Sementara pak pencari rumput bercerita tentang dua rekan nya petani sayur yang tertembak peluru nyasar, satu menembus pinggang satu terkena tangan. Yah… terbang deh rencana ke Situ Lembang.

Setelah regrup lagi dan minum teh serta kopi di sebuah warung, kita pun gowes pelan menembus hutan pinus dan sampailah di titik gerbang Situ Lembang.

Gerbang melengkung diatas jalan bertuliskan “KOPASSUS” ini di sebelahnya tampak sebuah pos jaga. Kata Om Junee Situ Lembang tinggal 3 kilometer lagi dari titik ini.

Setelah rehat dan foto-foto sebentar, akhirnya kita bergegas turun karena tampak awan hitam mulai berkumpul.

Perjalanan pulang dinikmati dengan perasaan seperti ‘cruising’ atau melayang sekitar 1 inch diatas trek makadam. Emang feel nya berbeda banget ini tunggangan baru. Meskipun saya punya ekspektasi, tapi kaget juga merasakannya secara aktual.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.