Arsip untuk November, 2009

Telletubbies Hills di Sabtu pagi, gowes intens 65 menit

17 Oct 2009

“…besok pagi sih rencana mau gowes sebentar, manasin domie… jam 7 udah di rumah..”

Kata-kata itu terngiang terus dikepala saya. Udah lama juga gak gowes bareng domie, saya yakin ban domie pasti kempes kelamaan di-parkir di rumah (terbukti kemudian benar!!). Belum pernah juga saya genjot khusus sebelum sekolah di sabtu pagi. Biasanya kalo malam sabtu saya siapkan fisik dan mental buat tidur lebih awal dan mengistirahatkan fisik dan otak untuk menghadapi sepanjang hari sabtu diperas dan digojlog.

Akhirnya saya putuskan kirim sms ke Om Sigit Bikewearr (udah pada beli edisi terbaru nya belom? ada di aa bike tuh…), “…saya temani Om genjot start 06 sudah finish 0630..”
Lihat jadwal-nya saja sudah meragukan, mana tahan gowes cuma setengah jam??? Saat pagi hari domie nongol di Tapir Raya segera saya tanya, “..gowes kemana kita??” dengan yakin dijawab, “… ke arah jeng jeng yuk !!”

HALAH !! Jeng-jeng sudah jelas tidak akan cukup setengah jam!!

Genjot lewat jalan nembus ke kampung Rawa Sentul, kali ini lewat terusannya Beruang 10, dibuka dengan tanjakan cukup nyusss sebelum masuk kampung Rawa Sentul lalu ke arah rumah Om BI, lalu jembatan kayu dan segera masuk ke jalan pinggir kalimalang.

Bretak-breeketak…
Shifter mencari paduan yang pas.
Sejak tak lagi b2w rutin bulan puasa lalu rasanya makin jauh tertinggal saja dengan rekan-rekan. Kerasa banget pas gowes trio mertaput dengan Om Yadi dan Om Sugeng pas separuh botol Nawit. Wuiiihh… tertinggal jauh…. Jadi pagi ini di jalan mulus kita coba latih crank depan di paling besar. Kita siksa sedikit paha di pagi hari.

Tak berapa lama sampai Jembatan Tegaldanas lalu turun ke depan AA Bike. Ini jam 6 lebih dikit sudah wajar kalau Om Asol belum buka AA Bike nya. Belok kiri ke arah Pintu Tol Deltamas. Baru sadar kalau jalur ini keren banget karena kita bisa lihat jalan tol dikejauhan kiri, sementara tampak kompleks bertingkat Brimob di kejauhan kanan. Jadi inget gowes Sunset Ride asyik bersama Brimob minggu lalu…

Nyampai di gerbang tol Deltamas saya tanya ke Om Sigit, apa pernah lewat jalan yang langsung nyeberang motong (tanpa lewat depan pemasaran), ternyata beliau pernah, jadi asyik aja kita lewat jalan ini. Wah asyik juga lewat offroad dengan obstacle jembatan dan tanjakan tau-tau kita sampai jalan mulus lalu nanjak ke Banner Deltamas. Wuih, keren !!! Kalo ditambah tiga jembatan (satu memperlebar dan dua diatas selokan) kayaknya jalur ini bakal jadi menantang dan gowesable!!

Ambil napas di belakang Banner KOTA DELTAMAS, kami cukup tercengang ngelihat beberapa anak singkong (usia sd-smp) yang rupanya mengikuti kami dengan cara mendorong sepedanya naik ke banner Deltamas juga… “… ayooo… kesini dorong biar seru…” kata salah satu diantara mereka. Hehehe… keracunan offroad tuh.

Tak berlama ambil napas (inget kan? rencana awal gowes cuma 30 menit?) kami segera menikmati turunan pertama banner menuju selokan putus. Saya berhenti di awal turunan buat mengabadikan Om Sigit meliuk-liuk menikmati salah satu tempat paling asyik di Cikarang ini. Di ujung turunan kita sudah ditunggu tanjakan miring menuju ke awal turunan kedua banner deltamas yang mengarah masuk ke Jeng-Jeng. Hati tergoda juga untuk berhenti dan memotret, tapi kahirnya bablas saja saya kuntit Om Sigit. Asyik banget emang ini singletrack !!!

Masuk Jeng-jeng, tidak terlalu istimewa kecuali terasa sedikit lebih rindang dari terakhir lewat sini. Mungkin setelah kena sedikit hujan daun-daun pohon jeng-jeng itu segera tumbuh baru dan cukup rindang.

Seperti biasa, keluar jeng-jeng digonggong anjing, trus segera menuju kolong tol.

Mengingat betapa kita cuma punya sedikit waktu rasanya pengen masuk ke kolong dan pulang, tapi jika ingat “Tanjakan Manohara” (nama diberikan oleh rekan-rekan Brimob), rasanya kok ya sayang untuk dilewatkan. Apalagi ini lagi di depan, jadi kalo ke tanjakan itu mestinya tanpa perlu stop tertahan kemacetan rekan yang berhenti didepan.

Asyik seperti masih mau turun ke kolong, ambil melambung kekiri segera belok kanan dan kita mulai tanjakan Manohara tanpa berhenti sampai di ujung tanjakan yang menguras fisik dan teknik ini. Pada kondisi medan kering dan pagi hari yang masih teduh begini tanjakan ini ada di level paling sexy. Paling NYUUSSS untuk dinikmati tanpa berhenti.

Saya lihat Om Sigit sempat trip dan kaki turun, gak berapa lama sampai di puncak segera saya ajak turun lagi, “… cuma tinggal turunan trus pulang kok Om…”

TIK TOK TIK TOK…

Jam berdetak dikepala saya karena mulai terbayang terlambat masuk ke ruang kelas gak enak banget sanksi sosialnya dilihatin seluruh isi kelas…

Sedikit icip jalur pepaya lalu lurus sampai ke Cikarang Baru lagi.
Mulai mandi di rumah 65menit sejak mulai gowes.
Wuiiihh…
Sabtu pagi yang benar-benar menyenangkan !!!

Komentar (1) »

Darimana datangnya flow ke blog ini?

Menarik diikuti, karena memang salah satu asyiknya punya blog adalah tau kalau ada yang membaca. Lebih menarik memperhatikan dari mana sebenernya para pembaca blog itu datang…

sepedaku.com masih menyumbang paling tinggi pendatang ke blog ini. Memang saya sengaja hanya memberikan cerita singkat dan foto kalau nulis di sepedaku.com ; lalu saya berikan link ke blog buat yang pengen baca cerita detailnya.

blog-indonesia.com mendatangkan pengunjung cukup banyak. Saya sendiri lupa kapan mendaftarkan blog ini ke blog-indonesia.com. Dengan memberikan link ke blog-indonesia.com dan mendapatkan link dari mereka tampaknya simbiosis yang saling menguntungkan.

pinkycha.blogspot.com hmmm… ini blog keponakan ternyata banyak mendatangkan pengunjung. Jadi merasa berdosa gak menyertakan link balik ke blog icha. Ntar ya Cha, dibuatin link balik-nya…

google.co.id nah, yang ini kan predictable. Yang jelas sering ada robot datang ke blog ini, entah dia coba masukkan spam comments ataupun juga dia sebenernya google searchengine dan teman-temannya…

Itulah kira-kira yang membawa orang ke blog ini. Tapi secara umum referrers links begini sangat kecil dibandingkan dengan direct link. Saya gak punya angka pasti, tapi yakin dibawah 50% yang dari referrers, sebagian besar masih direct link, jadi sebagian besar dari menuliskan secara manual alamat blog ini.

Hmm.. menarik kan?

Komentar (1) »

Cigeuntis 2 Nov, gowes mati lampu 96km (4)

post ini lanjutan dari bagian ketiga…

#9

Setelah diterpa angin dari kipas di musholla dan dinginnya teh botol dari kulkas, wah, kok cuaca di luar jadi panas banget rasanya yah… Tapi membayangkan tanjakan-tanjakan gravel+makadam di atas kampung waru, turunan panjang ke lembah dan nanjak lagi menuju villa H Agus akhirnya memupuskan keinginan untuk istirahat lebih lama.

Kamera saya masukkan ke dalam tas. Untuk etape ini sudah saya putuskan untuk tidak mengambil gambar. Tanjakan-tanjakannya terlalu indah untuk tidak dinikmati dengan serius. Lagipula di trip menjelang gowes akbar yang lalu rasanya saya sudah ambil banyak foto trek.

Tanjakan dari kampung waru menuju ke puncak bukit sebelum akhirnya melewati turunan panjang sangat mengigatkan saya pada trek Cioray. Panasnya mirip, lebar jalannya mirip, batu-batu makadam yang bikin susah genjot, slip kiri kanan mirip, hanya jenis batunya saja yang tidak mirip. Cioray cenderung batu kapur tajam-tajam. Trek tanjakan waru ini membuktikan lagi ke saya kalau dia benar-benar layak untuk dikangenin… Tanjakan sambut menyambut, tidaklah terlalu kejam,karena ada di beberapa titik kita diberi bonus sedikit landai dan turunan ringan. Justru itulah, seolah paha dan betis diuji dengan kejutan-kejutan yang menghentak.

Setelah akhirnya turunan panjang ke lembah sungai lalu ke kampung tempat Kang Deni kraam, bertemu jembatan merah kita gowes eksotis di pinggir bibir jurang ke sungai. Sungai kali ini airnya benar-benar sedikit. Di gowes akbar lalu rasanya sambil genjot kita bisa dengar gemuruh suara air, tapi kali ini sunyi senyap.

Setelah jembatan merah kita disambut tanjakan sambut menyambut tak henti-henti dan dahsyat membuat paha dan betis menjerit sampai akhirnya tembus ke Villa haji Agoes.

Oiya, lupa, bagaimana cerita dua rekan saya? Rekrutan baru Mertaput Om Didi plus punggawa dewan pembina CiPOC Om Eyang AN? Entahlah… Mereka balapan melahap tanjakan, menyiksa paha dan betis sampai ke batasnya. Saya lihat debu ban belakangnya saja kagak…

Villa H. Agoes tampak sudah lebih banyak berbenah. Tampak hamparan lahan parkir baru yang luas siap menerima siapa saja yang ingin kesini. Disinilah titik tertinggi perjalanan Cigeuntis saya yang lalu. Waktu itu saya tidak ikut acara hari-H nya tapi ikutan survey terakhir seminggu sebelumnya, hanya sampai Villa ini dan genjot pulang berdua Om Sigit…

Kemana ya dua orang yang tadi kebut-kebutan didepan? Buset… ditinggalin beneran nih, tak tampak mereka batang hidungnya menunggu…

#10

Tahapan berikutnya adalah tanjakan-tanjakan yang relatif mulus, aspal yang sedang ditambal sulam dengan proyek, sehingga di beberapa tempat trek jadi gravel. Trek berada di sebuah lembah dengan sisi kiri jalan yang turun ke arah sungai dan sisi kanan jalan naik ke arah sebuah deretan punggung pegunungan.

Di beberapa tempat tampak jalan menunjukkan kegarangan-nya dengan menyuguhkan kemiringan yang lumayan bisa membuat paha senut senut. Di part ini saya mengambil cara paling aman dan nyaman untuk menikmati tanjakan: berhenti rutin. Jalan 5 menit berhenti 5 menit. Akibat aturan sendiri ini akhirnya saya bisa kembali bertemu dengan Eyang AN dan Om Didi lagi leha-leha di warung pinggir jalan yang tidak jualan di hari kerja begini. Tampak wajah lega di raut muka mereka berdua, “Istirahat dulu Om…” kata mereka, “Saya terus dulu…” kata saya. karena baru 50 meter yang lalu saya berhenti ambil napas.

Setelah melewati sebuah jembatan, sebuah warung es shanghai (aduh… coba itu warung buka), tanjakan berubah dari jalan aspal ke jalan beton mulus. Apakah lebih enak buat dilalui? Tentu tidak.. karena kemiringan jalan sudah mulai memasuki tahap tak sopan. Seperti layaknya jalan di area perbukitan rolling, kita mendapati kemiringan tanjakan yang mengejutkan dan sesaat. Jalan bisa tiba-tiba berubah miring sekali, lalu kembali ke sedikit landai. Landai? Ya tetap saja miring keatas. Sejak dari villa haji agoes cuma sekali kita dapat bonus sedikit turunan rolling.

Dua rekan saya melewati saya lagi saat saya rutin istirahat. Akhirnya saya melewati mereka di belokan depan sebuah warung lalu saya dengar perbincangan dengan menyertakan kata-kata ampuh, “… pocari dingin…” yang segera saja membuat saya berbalik arah dan ikutan berhenti di warung menegak pocari dingin.

Sampai di daerah batu tumpang akhirnya tanjakan mulus berakhir. Kita memasuki jalanan batu makadam, tetap miring keatas, menjadi semakin sulit buat dilewati. Setelah memotret kedua rekan saya, saya memilih berhenti dulu di ujung jalan mulus. Ambil napas dan mengendorkan otot sebelum memasuki daerah full makadam ini.

Berikutnya adalah area ujian dengan delapan soal, termasuk satu diantaranya soal cerita…

Komentar bertahan »

Surprise !! Liputan6 malam video web …

Kebangun di malam jam 2, kok iseng browsing ke liputan6.com akhirnya klik video liputan6 malam…

http://video.liputan6.com/l6malam/

Saya koneksi dengan IM2 Broom unlimited, lokasi kawasan Cikarang Baru. Surprisingly, the video streaming sangat komunikatif… Maksudnya, saya sudah siap-siap mendengar dan melihat gambar video yang terputus-putus, tapi ternyata saya dibuat kaget oleh lancarnya video streaming.

Gambar mungkin memang terputus-putus dan kualitas cukup mengecewakan, tapi terdengar suaranya sangat lancar flowing. Saya menulis blog post ini juga sambil masih mendengarkan Liputan6 malam. Dan, kali ini tanpa menghidupkan tv, tanpa perlu nge-pas-in jadwal, kita bisa nginternet sambil mendengarkan berita tv, dan kalo perlu nengok tabs nya jika ada berita menarik.

Hmmm…
Surprise, dan cukup kagum dengan berjalan baiknya features ini.

Komentar bertahan »

Icip Embrio, Bogor: dunia serasa milik berdua, kita dan sepeda tunggangan kita..

Cobalah pagi ini membuka sebuah minggu dengan lebih semangat… caranya? Nulis deh (basi banget !!)

Pernah suatu saat saya NR bareng tmn2 Cikarang, sekitar dua taun lalu. Kalo gak salah itu pengalaman NR pertama kali deh. Wadoh… orang kok genjot nya cepet-cepet yah… saya keteteran hanya untuk tetap berada di grup genjot. Mana malam itu diiringi hujan lebat, kita NR melewati jalan kampung yang setiap lobangnya jadi kubangan air dan lumpur. Asik sih, karena sensasi NR memang berbeda, tapi tetap saja, namanya tertinggal kok ya menyiksa…

Salah satu kejadian NR malam itu adalah kita masuk ke sebuah kubangan lumpur, para senior dengan enaknya bisa ngiclik melewati kubangan lumpur yang hampir meredam separuh ban itu dengan enak saja. Saya, yang belum ngerti cara pake shifter dengan baik dan benar, tentusaja berhenti di tengah kubangan. Kaki kanan masuk ke lumpur menahan beban tubuh dan sepeda. Saat kemudian mencoba melangkah, sendal gunung yang saya pakai, sebelah kanan tertinggal di dalam lumpur… Wakakaka… yang tentusaja susah banget buat mencarinya lagi. Kocak kalo ingat.

Kemarin di bogor saya merasakan kembali feeling serupa ini. Wadoh… Rasanya udah ngosh-ngosh, tetap saja kok ya itu orang2 bisa satu dua bukit di depan saya sih? Pertanyaan yang sering saya dengar jadi terngiang-ngiang di teling, “Makan apa ya mereka???…”

Tapi sebenernya genjot bersama grup yang kuenceng itu enak banget. Sebenarnya kita yang menentukan speed dari grup. Grup pasti menyesuaikan dengan kecepatan kita sebagai pesepeda terpelan. Jadi, speed team jadi pas dengan speed kita. Ini huenak. Bersepeda paling huenak tuh sebenarnya kalau kita gunakan irama kita sendiri, genjotan dengan putaran pedal yang sesuai dengan kemampuan kita. Wuih… dunia serasa milik berdua: kita dan sepeda tunggangan kita..

(seperti ditulis di mailing list cikarangmtb@yahoogroups.com )

(detail trip bogor 15 Nov 2009)

Trip bogor ini adalah trip saya yang pertama dengan cara mendatangkan diri begitu saja di Lippo Kebunraya jam 0615 pagi. Berdasarkan info nelepon Om Oni dan Om Dhani, sialnya keduanya tidak genjot minggu pagi ini, saya jadi merasakan seperti dua tahun lalu: datang begitu saja ke tempat berkumpul pesepeda, tanpa mengenal satu pun diantara mereka. Ini pengalaman persis saya alami November 2007 sehingga akhirnya berkenalan dengan 1PDN.

Saat saya datang baru ada satu pesepeda (Pak Dokter?) sampai akhirnya bertahap jam 0730 saat berangkat ada 15 sepeda berkumpul namun hanya 7 sepeda yang genjot sampai Pamonahan.

Genjot jalur turun di Ramayana lewat kolong jembatan kereta api lalu pertigaan belok kiri, tidak seperti ke Sukamantri yang pertigaan belok kanan. Dari situ kita masuk ke perkampungan di sebelah kanan jalan, lewat jalan yang semakin menyempit sampai hanya cukup untuk motor papasan mepet saja. Tau-tau nembus ke kompleks BNR (Bogor Nirwana Resort?).

Wadoh teman-teman bogor dibawah komando Om Wei Min ini kuenceng-kuenceng. Saya setengah mati berusaha mengikuti irama gowes mereka.

Lingkungan BNR cukup asri buat dipandang pagi-pagi hari minggu begini. Landscape achitecture-nya keren juga. Tapi jalannya secara manis manja rolling lembah dan bukit, dan terakhir ada tanjakan yang cukup panjang menuju sebuah jalan aspal berbelok kekiri. Ini jalan kembali masuk ke perkampungan keluar dari BNR.

Jalan kampung ini lebih ‘kejam’ dari BNR yang tentusaja lebih landai slope-nya karena kawasan yang dirancang secara arsitektur. Kita mendapatkan kejutan-kejutan tanjakan dan turunan tajam aspal rusak, sampai selanjutnya masuk ke sebuah singletrack dan jalan menanjak singletrack tanah basah yang licin segera menyambut kita. Mantep banget. Tapi ban belakang SmartSam yang cenderung low rolling resistance di belakang benar-benar terasa licinnya di tanjakan seperti ini. Mampus deh. Saya jadi rindu sama Maxxis Medussa yang terlipat rapi di rumah…

Akhirnya kita melewati 3-4 tanjakan bukit trek tanah keras basah ini dan masuk ke jalan aspal sebuah kawasan resort (lupa namanya euy). Terjadi regrup disini. Dan saya hanya menyisakan satu rekan di belakang ternyata. Semuanya kuenceng-kuenceng di depan.


foto-foto diambil dari facebook rekan-rekan pesepeda Bogor…

Sebenarnya menarik sekali lanjutan trip nya yang menuju ke Embrio dan melewati trek downhill yang katanya sudah berbulan-bulan tidak dikunjungi oleh rekan-rekan Bogor pimpinan Om Wei Min ini. Saya memilih untuk balik kanan karena sudah janji sama yang di rumah buat tidak full day biking hari ini mengingat ada sodara-sodara jauh akan berkumpul.

Perlu dicoba lagi genjot bareng rekan-rekan Bogor…!!!

Komentar bertahan »