Biasanya blog ini saya jauhkan dari tema seperti ini…
Biasanya saya tertutup pada pendapat-pendapat seperti ini…
Tapi saya lelah !!!
Biasanya blog ini saya jauhkan dari tema seperti ini…
Biasanya saya tertutup pada pendapat-pendapat seperti ini…
Tapi saya lelah !!!
Seperti foto berikut ini, difoto di Jl. Dipati Ukur Bandung, daripada bengong nungguin istri milah milih dalam factory outlet…


Saat melakukan komposisi, saat memilih objek, saat memutuskan untuk menghentikan perjalanan dan mengambil kamera, saat memilih waktu hunting… saya sudah gak netral. Saya akan pilih dan komposisikan langit, apalagi berawan dengan porsi yang tak adil: lebih dari biasanya….

Ini contoh yang cukup ekstrim…

Topik klasik yah?
Tapi buat saya yang punya rumah tipe kecil, ini hal yang sulit dan perlu trik khusus. Kita harus bersiasat dengan:
- rumah (dan otomatis) space tersedia yang sempit
- habis genjot offroad sepeda kotor
- jangkauan anak kecil (horror story ttg terjepit ban belakang)
- berdiri atau digantung?
- di tembok atau di atap?
- dikunci atau tidak?
- di depan atau di belakang?
- dikerudungin atau dibiarkan berdebu?
dan….
- sering dipakai atau tidak (hehehe…)
Saya pernah coba digantung di tembok. Pulang kerja saya temui sepeda sudah tergeletak jatuh dengan sukses dan menimpa koleksi tanaman yang daun-daun nya tumbuh pun kita tunggu.
Saya pernah taruh di ruang tamu, lebih bisa sering dipandangi dan dikagumi, tapi paling ribet kalau kotor dan belum sempat mencuci
Saya pernah kunci untuk keamanan tapi kok seperti gak keren, sepeda gunung kok dikunci… wakakaka…
Ini pada akhirnya yang saya lakukan pada dua sepeda di rumah sekarang…



Tulisan sebelumnya dari Etape#1…
Tulisan sebelumnya dari Etape#2…

Foto diatas adalah keindahan di seputaran menara pandang. Foto keindahan ini menipu. Karena pada kenyataannya matahari serasa dekat sekali dengan kepala. Trip Dieng buat saya adalah trip yang aneh karena saya genjot tanpa helm, helm ketinggalan di Bandung.
Setelah beristirahat secukupnya, sorry, mungkin sebenarnya belum cukup, Om Kartono tampak masih sangat menikmati tidur-tiduran di lantai menara pandang. Wah, pilihan yang sulit. Tapi hari semakin siang semakin panas, rasanya setiap kita tunda lima menit matahari akan mendekat 5cm keatas kepala. Akhirnya sekitar 30 menit di belakang rombongan depan Om Indra- Om Bimsky- Pak Slamet, kami berangkat.

Selain helm, ada lagi yang tertinggal hari ini, arm warmer (penutup/pelindung tangan dari sengatan matahari). Terasa sambil gowes bagian atas tangan sudah terasa panas dan sakit. Sudah terasa benar saya terkena sunburn. Saat ketinggian area mendekati 2000m dpl ternyata angin dingin tapi matahari panas sekali.

Karakter tanjakan setelah menara pandang adalah tanjakan yang merayap di bibir dan punggungan. Ini menyebabkan tanjakan relatif lurus dan sedikit berkelok-kelok. Tidak seperti di seputar Tieng di Etape#2… yang berbelok-belok tajam. Benar benar sangat menyiksa sekaligus menantang; genjot di medan tanjakan-tanjakan lurus tanpa henti dan panas sekali. Saya baru sadari kemudian bahwa mendekati 2000m dpl otomatis mempengaruhi metabolisme tubuh kita karena semakin tipisnya oksigen di udara. Seperti juga di Papandayan, saya lupa akan kenyataan ini. Yang terasa adalah lemas. Kaki rasanya sudah sangat ringan tapi juga kendor. Berat sekali menggerakkan otot-otot kita.

Disini saya bahu membahu bersama Om Kartono, kalo merasa lemas ya langsung saja berhenti dan saling menyemangati. Dalam keadaan seperti ini rasanya ada teman menjadikan perjalanan jauh lebih ringan. Dengan tidak sendiri selalu ada energi baru dari rekan kita.

Om Kartono beruntung. Bahkan pinggiran jalan selebar tak lebih dari 30cm pun bisa dijadikan tempat rebahan, dan (herannya) bisa tidur dengan nyenyak.
Kita mendapatkan kembali second wind setelah akhirnya mencapai jalan agak mendatar lalu menemui gerbang “Dieng Plateu”. Rasanya seperti sudah berhasil mengalahkan seluruh dunia, dan terutama, diri sendiri.

Dan akhirnya berkumpul dengan seluruh tim Genjot Dieng Bash 1PDN jilid#3 ini di sebuah masjid.



Dan tentunya trip 1PDN Graduation Bash tidak akan lengkap tanpa dua pose klasik Dieng berikut ini…


Trip Dieng, sebenarnya tidak saya bayangkan untuk bisa saya tempuh di tahun 2009 ini. Kesempatan sempit nyempil di tengah acara lebaran di Cilacap ternyata berbuah manis salah satu trip onroad-uphill terberat yang pernah saya tempuh.
Foto-foto lebih banyak di multiply…
![]()
picture taken from http://scienceblogs.com/
Pernah tuh ngeraian enaknya nge-blog rutin, tiap hari posting. Kadang dengan frekuensi blogging yang tinggi membuat kita secara tak sadar menulis hal-hal yang justru variatif sehingga membuat blog menjadi kaya dan kita juga puas.
Tapi kali ini saya jadi macet nulis blog karena justru ada satu posting yang tidak juga selesai saya tulis. Post ini jadi seperti mobil mogok yang bikin seluruh jalan macet dan berhenti pol!!
Duh….