Arsip untuk September, 2009

1PDN Dieng Bash: Etape#2 Garung-Kejajar-Menara Pandang

Lanjutan tulisan dari Etape#1…

Etape kedua dari Garung menuju ke Kejajar lalu ke Gardu Pandang. Kita segera dihadapkan pada tanjakan-tanjakan yang susul menyusul. Pada umumnya tanjakan lurus. Bukan bikin nyaman, tapi malah membuat kemiringan makin terasa. Di etape ini sudah sangat mirip dengan tanjakan-tanjakan di Gadog-Rindu Alam. Cuma disini jauh lebih sepi lalulintasnya. Padahal saat kami gowes ini adalah hari kelima lebaran, jadi memang masa-masa orang sedang pelesiran, berwisata ke Dieng, mustinya rame ya untuk ukuran Dieng.

AN249477

AN249485-vert

Untung sudah cukup terlatih dengan tipe tanjakan-tanjakan onroad di Gadog-Rindu Alam. Gowes dari Garung ke Kejajar sangat mengingatkan tipe gowes di Bogor tersebut. Di akhir rute ke Kejajar, kita melewati sebuah tanjakan yang luruuuuusss dan panjaaaaang… membelah pasar dan kota kecil Kejajar. Ini tanjakan lurus dan panjang ternyata habis di sebuah belokan kekiri yang segera kita melewati jalan mirip kelok sembilan. Kelok kiri kanan dengan kemiringan di tingkat audzubillah.

AN249510

AN249531

AN249536

Kejajar adalah sebuah kota kecil lengkap dengan pasar di pinggir jalan utama Wonosobo-Dieng. Agak jelas buat saya kenapa ini kota kecil diberi nama ‘kejajar’, kota/kampung ini terletak pas di pertemua tiga puncak gunung yang tampak berjajar mengitarinya. Saat kita memasuki Kejajar dua gunung ada di kiri dan kanan, seperti sebuah gapura besar, sementara satu gunung lagi ada jauh di depan, tempat Menara Pandang dan Kampung Tieng.

Tanda kilometer sudah menunjukkan Dieng tinggal 8km lagi, namun tanjakan Tieng menuju sebuah Gardu Pandang (gardu pandang sudah terlihat dari bawah sejak 5km yang lalu) rasanya bukan saja berat dan miring, namun juga sangat melelahkan. Kita bertemu bergantian belok kiri dan kanan dengan kemiringan yang semakin tak terbendung, dengan diiringi motor dan mobil yang meraung-raung dengan gigi satu, sambil kita semua mencium bau kopling terbakar.

AN249579

Gowes di Desa Tieng yang sangat miring dan eksotis ini bertambah eksotis dengan bentuk arsitektur rumah dan warna cat yang serba hitam untuk dinding, pintu, atap. Apapun dicat hitam. Bentuk rumah-nya juga agak berbeda dengan umumnya rumah di Indonesia. Ini semua melengkapi nama desa-nya yang memang sudah unik: TIENG. Sempat berhenti memotret sambil ambil napas, mengagumi keunikan desa ini, lalu tiba-tiba ingatan visual ku kok merujuk ke satu gambar tertentu ya?? Apaaa??

AHA! Ternyata arsitektur bangunan di kemiringan tanah 45derajat plus bentuk rumah plus segala warna dan cat nya mengingatkanku pada gambar2 kota Kathmandu, Nepal yang kulihat di majalah.

Etape kedua ini dipenuhi dengan jalan onroad yang belok kiri kanan mendaki, berbelok bukan untuk menurunkan level kemiringan, namun justru jalan kadang mencapai puncak kemiringannya saat berbelok. Benar-benar istimewa. Tipe tanjakan begini mengingatkan pada medan ‘Caringin Tilu’ di Bandung Utara. Tanjakan dengan kemiringan kejam. Namun Garung-Kejajar-Gardu Pandang ini jauh lebih panjang dari Caringin Tilu.

Etape kedua ini diakhiri dengan sebuah tanjakan panjang menyusur punggung menaiki ujung punggungan sebuah bukit. Sebuah tipe tanjakan introduksi. Karena setelah Gardu Pandang, tanjakan yang menyiksa tipe seperti ini yang akan kita temui terus.

Alhamdulillah, Gardu Pandang sudah terlihat. Kita pitstop disini dengan 6km sebelum Dieng. Benar-benar 2km terberat penuh perjuangan yang barusaja kita lewati sepanjang Tieng.

AN249644

AN249589

Cerita tentang Mie Ongklok disini..
Cerita tentang Markas Dieng Sirandu disini
1PDN uphill Etape#1 Wonosobo-Garung disini
1PDN uphill Etape#2 Garung-Kejajar-Menara Pandang disini
1PDN uphill Etape#3 Menara Pandang-Dieng disini
Foto-foto perjalanan 1PDN Dieng di multiply

tambahan cerita di milis cikarangmtb:

Salah satu site yang sangat menempel dari perjalan Dieng adalah sebuah desa/kampung bernama TIENG. Namanya mirip ke-cina-cina an ya? Betul.

Saat melewatinya, melihat pemandangannya, saya merasa DEJAVU, seperti pernah liat, eeee ternyata pemandangan, arsitektur rumah, susunan rumah, cat serba hitam, susunan atap, kemiringan tanah 45 derajatnya mirip banget dengan foto-foto Kathmandu, Nepal.

Dieng sendiri memang unik karena di area itu ada candi Hindu dan Budha, serta sekarang sebagian besar Muslim. Akulturasinya keren… terutama di TIENG ini…

Tapiiii… Ampuuuuunnnn…. jalan berkelok kelok menuju Menara Pandang (menara pandang sudah terlihat sejak 5km dibelakang) dengan kemiringan yang …. ya sudahlah, belok miring lurus miring. Benar2 gak sia2 jauh2 buat ketemu ini.

Saya juga nyesel, hanya ngambil sedikit stok foto di daerah Tieng ini. Serba susah karena kamera harus dimasukkan kembali ke dalam ransel, ngambilnya ribet banget. Sebelum sampai Tieng dari Wonosobo sih masih bisa kamera gelantungan tapi di Tieng gak mungkin lagi karena medan mengharuskan posisi miring kedepan yg cukup ekstrim plus konsentrasi.

Jadi deh cuma sedikit fotonya. Mau sering berhenti juga sayang karena penasaran pengen menikmati tanjakannya… hehehe…

Bersambung ke Etape#3…

Komentar (3) »

Astri dan Tripod

Buat anak kecil, apapun bisa jadi mainan yah?
Obyek: Astri, 3 1/2 tahun
Lokasi: Bandung
no flash

AN269868

AN269870

AN269872

AN269871

Komentar bertahan »

1PDN Dieng Bash: Etape#1 Wonosobo – Garung

Kamis, 24 Sep 2009

Tidur tidak nyenyak sering bangun. Bukan cuma karena gelisah besoknya mau gowes penting di karir per-1PDN-an, namun juga karena duingin, kalo selimut kebuka pasti kebangun. Di pagi hari sempat juga memotret kampung Sirandu yang sejuk dan tenteram.

Salah satu sensasi gowes start di Sirandu adalah adanya ‘Tanjakan Mesjid’. Pantes saja Mbah WTT kuat dan jago nanjak ternyata latihannya di tanjakan yang ngaudzubillah miring. Sambil nanjak kita dintonton orang sekampung Sirandu. Tanjakan berupa jalan kampung berlapis semen cor. Mirip seperti kita waktu dari arah taman safari, ketemu pertigaan belok kiri langsung disambut Ng*he#1, tapi “Tanjakan Mesjid” ini lebih jahanam kemiringannya. Mungkin mendekati 40 derajat. Begitu pertigaan dari markas belok kiri, kita langsung disambut pemandangan nan miring dan panjang. Setelah sampai di Masjid kita berbelok sedikit, dan ternyata tanjakan belum berhenti, baru 50%, masih ada separuh lagi dari Mesjid sampai ke jalan aspal.

Alhamdulillah seluruh anggota tim menikmati dan berhasil lulus melewati tanjakan ‘ujian awal’ kuliah Wonosobo-Dieng ini. Lima anggota tim lulus tanpa menjejakkan kaki ke tanah:
- Om Bimar ’si jaket merah’, genjot dari Jakarta
- Om Slamet, genjot dari Bekasi via Kuningan
- Om Indra, punggawa 1pdn Bandung
- Om Kartono Sukartono, yang punya Wonosobo
- Antoix

Perjalanan dilanjutkan melewati jalanan kota Wonosobo. Gowes Dieng memang terasa istimewa karena Wonosobo sendiri sudah kota yang sangat berbeda dengan Cikarang tempat saya tinggal. Wonosobo dingin, wonosobo berbukit-bukit, kota-nya ada di kemiringan tanah, ketinggian sekitar 700an m dpl. Suejuk jelasnya. Dan ini yang terpenting, relatif sepi. Pokoke sudah beda dari tempat start. Sirandu dan Wonosobo itu terasa sekali tenteram dan sunyi nya.

AN249419

Etape pertama Wonosobo-Garung ibarat gowes-gowes tanjakan manja. Nanjak banget enggak, flat juga nggak. Mungkin mirip cerita banyak gowes serupa dari Bogor menuju ke Gadog. Kira-kira seperti itu. Cuma ini ada beberapa rolling turun ke lembah, ketemu jembatan, dan tentusaja disambut tanjakan, hehehe…

AN249423

Perjalanan menuju Garung sangat bisa dinikmati. Tanjakan yang agak landai, kemiringan naik secara bertahap. Membuat betis, paha dan dada yang sejak awal September tidak pernah lagi menyentuh sepeda diberi kesempatan yang cukup untuk menyesuaikan diri.

Etape pertama ini masih bisa siul-siul lah. Masih bisa senyum menikmati kebun sayur di kiri kanan jalan sambil banyak motret dan narsis. Kalau liat googlemaps, gowes ini memang pas sebagai pemanasan, dari kota Wonosobo kita menuju Garung yang merupakan kota kecil di kaki pegunungan Dieng. Jadi ini gowes santai menuju kaki gunung saja. Kilometernya tidak banyak, sekitar 8-9 km.

AN249451

Cerita tentang Mie Ongklok disini..
Cerita tentang Markas Dieng Sirandu disini
1PDN uphill Etape#1 Wonosobo-Garung disini
1PDN uphill Etape#2 Garung-Kejajar-Menara Pandang disini
1PDN uphill Etape#3 Menara Pandang-Dieng disini
Foto-foto perjalanan 1PDN Dieng di multiply

Komentar (3) »

1PDN Dieng Bash: ke titik start SIRANDU

Rabu, 23 Sep 2009

Sore jam 5 sudah cabut, setelah siangnya mencoba doping terbaik ala dokter Andreas, tidur. Lumayan dapat dua jam tidur siang. Packing tidak banyak, cuma yang lama malah ngurusin masukin sepeda. Akhirnya diputuskan rak tidak perlu dipasang, sepeda masuk saja jok belakang dilipat.

Sekitar sunset ternyata pas nyampai di jembatan Rawalo. Wah, obyek keren. Setiap kali lewat sini sudah kebayang pengen motret, eh lha ini kok dapat sunset disini. Sayangnya awan benar-benar tak bersahabat. Hanya sinar matahari saja yang masih memunculkan semburat jingga. Itu pun sebentar. Tapi bentuk arsitektur jembatan ini sendiri sudah menarik yah?

AN239329
AN239369

Bertemu Om Indra di dekat Pasar Rawalo. Loading sepeda bliau ke rak yang akhirnya dipasang juga. Semula kita akan lanjut ke Wonosobo lewat Banyumat, bukan lewat Purwokerto, tapi dapat kabar dari Mbah WTT kalau Mas Slamet, rekan duo Om Bimar, yang juga akan ikutan ke Dieng, ternyata sedang ada di masjid alun-alun Purwokerto. Kita akhirnya berangkat ke Purwokerto jemput Mas Slamet, lalu sekitar Isya’ berangkat ke Wonosobo.

Sirandu dicapai sekitar jam 9 malam lewat. Sudah terlihat Om Bimar sedang siap-siap makan Mie Ongklok plus sate-nya. Plus lagi Tempe Kemul. NYAM !!

Dengan bebeh, jadinya kegiatan kami menghabiskan bermangkuk-mangkuk mie ongklok, plus puluhan sate, plus sepiring besar tempe kemul bisa dilaporkan secara live ke mailing list 1pdn. Sambutan segera muncul, terutama dari Om Inu.

AN249777
AN249412

Kegiatan selanjutnya adalah ngobrol ngalor ngidul plus unloading sepedah. Sepeda dijungkirkan di seputaran ruang tamu rumah “markas Dieng” Mbah WTT. Sebenarnya lebih cocok kegiatan yang dilakukan sambil makan Mie Ongklok, Sate, plus Tempe Kemul dibumbui teh panas ‘cong’ ini adalah “Kuliah Umum Sirandu”. Isinya: sejarah 1PDN, sejarah pemilihan racie, Q&A 1PDN.

AN249392

Kita semua segera tergeletak dan menikmati doping terbaik bagi tubuh, tidur, pada jam 11malam. Dideklarasikan besok akan berangkat jam 6 pagi untuk menghindari situasi yang terlalu panas.

Cerita tentang Mie Ongklok disini..
Lanjutan Perjalanan Etape#1 Wonosobo-Garung disini
Lanjutan Perjalanan Etape#2 Garung-Kejajar-Menara Pandang disini
Lanjutan Perjalanan Etape#3 Menara Pandang-Dieng disini
Foto-foto perjalanan 1PDN Dieng edisi#1 disini

Komentar (2) »

Mie Ongklok dan Tempe Kemul

Mie Ongklok?

AN249777

Mie kuning, plus kubis, plus sayur hijau (lupa namanya, kabarnya sayur ini berkhasiat dan agak memabukkan serta membuat ketagihan), plus kuah kental (ada campuran maizena), plus bawang goreng. Dimakan dilengkapi sate ayam yang dibumbu kacang. Perpaduan-nya sangat unik. Rasa nya juga jadi unik nyampur-nyampur di mulut.
Yang sangat membuat aroma berbeda adalah kuah kental-nya, yang sangat ‘match’ dengan suasana kota Wonosobo yang duingin sejuk. Terusterang mie ini mengingatkan saya pada bubur.

Tempe Kemul?

AN249412

Tempe kemul ini adalah tempe goreng tepung pada dasarnya. Sementara ‘kemul’ sendiri di bahasa jawa artinya adalah ’selimut’. Mungkin karena cuaca Wonosobo dan sekitarnya yang dingin, tempe goreng, dengan tepung yang lebih tebal dan keras daripada tepung pada tempe mendoan yang asli Purwokerto-Banjarnegara.
Secara geografis pas banget karena Purwokerto-Banyumas-Banjarnegara adalah daerah dataran rendah dari kawasan Banyumas, sementara Wonosobo-Dieng-Temanggung adalah daerah dataran tinggi-nya.
Ada hubungan antara tempe kemul dengan tempe mendoan?? Sangat mungkin!!

Cerita tentang Markas Dieng Sirandu disini
1PDN uphill Etape#1 Wonosobo-Garung disini
1PDN uphill Etape#2 Garung-Kejajar-Menara Pandang disini
1PDN uphill Etape#3 Menara Pandang-Dieng disini
Foto-foto perjalanan 1PDN Dieng edisi#1 disini

Komentar (4) »