Inilah Cerita Epic-Marathon trip ke Papandayan.
Waktu 31 Mei 2009
Tulisan ini akan terbagi jadi 3 bagian
Berbeda dengan trip Imlex januari lalu yang full nanjak dari Bandung, kali ini kita ambil alternatif lain jalur trip Papandayan.
Kami baru tidur jam 2.30 pagi setelah perjalanan dari Cikarang selepas maghrib. Tidur di gubuk pecinta alam di Terminal Papandayan.

Setelah tidur malam yang sangat singkat, pagi2 jam 0515 sudah ada yang membangunkan tim, segera berkemas-kemas dan start dimulai jam 6 pagi. Buset, dingin banget.



Lama kelamaan vegetasi, tumbuhan di sekitar trek, semakin hilang. Yang tampak di sepanjang mata memandang adalah batu, batu, batu, diselimuti kabut. Suara gemuruh kawah semakin jelas terdengar.



Mencari trek di tengah padang batu begini lebih susah, karena tidak ada lagi tanaman sebagai pembeda ‘trek/jalan’ dengan pegunungan batu itu. 95% dorong sepeda, 5% kadang2 masih bisa genjot meski gak jauh.


Oya, kami belum sarapan. Cita-cita semula adalah melihat sunrise dari arah kawah, namun jelas tak mungkin melihat matahari karena kabut tebal begini.
Bau belerang makin menyengat. Acara dorong-dorong sepeda mulai berganti dengan sedikit panggul-panggul sepeda. Kabut semakin tebal, jarak pandang semakin menyempit. Cuaca di sekitar papandayan kabarnya memang mudah sekali berubah, dan berubah dengan cepat. 30 menit yang lalu segalanya masih terang terlihat dari bawah, sekarang sudah berkabut tebal.


Dalam hati mulai muncul rasa jeri. Gemuruh suara kawah dikejauhan membuat hati gentar dan segera mucul kesadaran betapa tidak berartinya kita. Kita hanya setitik kecil tak berdaya di tengah segala yang besar, kuat, dan tak terduga.
Tiba-tiba hape berbunyi, sms2 masuk. Wah dapat sinyal. Dari terminal tempat kami menginap tidak ada sinyal. Kesempatan diambil buat mengirim sms dan menelepon keluarga. Benar-benar saat yang tepat untuk kita mengabarkan keselamatan diri kita sendiri, karena kita sedang khawatir dan mempertaruhkan keselamatan kita. Bukan mereka (keluarga) yang kuatir sama kita, tapi kita yang kuatir dan ingin mengabarkan, “I am fine…” Mendengar suara orang rumah seperti mendapat energi baru…



Acara panggul-dorong-genjot-dorong-foto2 semakin intens. Saya tidak lagi mau kehilangan momen di sekitar kawah, pada trip Papandayan januari lalu batere habis sebelum masuk kawah, tak ada foto kawah samasekali waktu itu. Kali ini adalah pembalasan, obyek setianya adalah Om Hanif yang teman seiman dan mirip kecepatannya. Sementara Om Indra dan Om Budiman, dua rekan Bandung sudah hilang ditelan kabut.
Akhirnya kita regrup, pas sebelum masuk ke daerah penuh gemuruh dan sumber belerang dari kawah.

Dari bunyi gemuruh yang terdengar, sudah jelas kita semakin mendekati bagian kawah yang dilalui trek. Sejak tadi sebenarnya kita sudah ada dalam kawah, namun uap belerang yang keluar dari dalam gunung muncul di daerah lain yang cukup jauh dari trek.
Ada bagian trek sekitar 30meter panjangnya, yang rupanya, tidak bisa dihindari lagi, harus melewati bagian kawah yang aktif, yang banyak asap putih kehijauan keluar dari perut bumi, yang ada lubang-lubang kecil dengan golakan2 lumpur akibat gas keluar dari perut bumi (mirip banget sama yang kita liat di film2 kartun).


Kita berhenti dan foto session disini. Bagian track ini, pada trip januari lalu mengharuskan saya menutup hidung dan mulut dengan bandana basah. Kali ini ternyata tidak perlu. Tampaknya volume uap panas sedang menurun. Kita bisa leluasa foto-foto sambil beristirahat disini.
Tak berlama-lama, suasana panas dan bau belerang, kita lanjutkan dengan acara dorong sepeda lagi sampai ketemu jalan makadam.
berlanjut ke bagian 2
foto-foto lebih banyak ada di
http://antoix.multiply.com/photos/album/4/
http://hmarga.multiply.com/photos/album/21/
http://ianggara.multiply.com/photos/album/35/
Laporan trip ini didukung oleh Bikewear…





Papandayan-Arjuna-Cikajang Epic Ride, part 2 « Harto Basuki berkata,
Juni 8, 2009 @ 6:37 am
[...] Juni 7, 2009 · Disimpan dalam sepeda, sepeda gunung · Tagged bandung, bicycle, cross country, cycling, mountain bike, sepeda, sepeda gunung Ini adalah bagian kedua dari tiga post trip ini bagian pertama disini… [...]
Papandayan-Arjuna-Cikajang Epic Ride, part 3 « Harto Basuki berkata,
Juni 10, 2009 @ 9:23 pm
[...] sepeda gunung, travel Post ini adalah bagian 3 (bagian terakhir) dari dua bagian sebelumnya bagian pertama bagian [...]