Post ini adalah bagian kedua, lanjutan dari tulisan sebelumnya…
Malam itu kami sudah tidak genjot sejak maghrib. Mandi di masjid terdekat air bagus dan banyak serta bersih, cuma duiiingiiiinnn… Malam itu kita menginap di rumah salah seorang penduduk. Dari pembicaraan sebelumnya di saung seng di tengah kebun teh, Om Iangara bilang, “Ntar kalo terpaksa kita gampang tidur di saung beginian aja…” Ampuuunnn Ommm.. Duingin dong? Jadi malam itu kami tidur serasa di hotel berbintang lima: ada perapian jadi hangat (api dan memasak di dalam kamar) serta tivi parabola full selimut. Jauh lebih baik dari yang ditawarkan awal di saung seng kan? Kami merasa beruntung dan bersyukur sekali.
Makan malam berlauk tahu goreng plus telor dadar dan sambal rasanya seperti makan malam ternikmat yang pernah kami dapat dalam setahun terakhir.

Pemandangan alam sunset di Cileleuy benar-benar mencengangkan.


Inilah tempat kami menginap.

Setelah subuh kami dikejutkan dengan tuan rumah yang sudah dengan cepat bersiap2 ke ladang sejak sebelum jam 6 pagi… Ampuuunn jadi kami tergesa bergegas packing dan berangkat.

Sempat foto2 tim sebentar (ki-Om Iangara (team leader), Kang Agus, ka-Om Dani Waluya), pemandangan amazing!!! Kembali kamera hanya menangkap 10-20% keindahan nyatanya.

Setelah ini tidak ada lagi bonus… Nanjaaaaaakkkkkkk terus sampai Warung Tutup.


Istirahat lemas di warung tutup. Ini adalah pertigaan kalau kita ke kanan, kita akan ke Pondok Saladah dan juga jalan ke puncak Papandayan, kalau kita terus kita lewat Lawang Angin dan ke kawah Papandayan.
Setelah sempat putus asa karena batere alkaline sudah habis, jadi kamera tidak berfungsi, dengan mengambil batere dari unit GPS kita jadi belok ke Pondok Saladah karena kamera jadi bisa idup lagi.

Ini adalah pemandangan singkat ke arah kawah dari jalan ke Pondok Saladah. Tak lama, beberapa menit setelah foto ini diambil, semua jadi tertutup kabut dan kami diguyur hujan. Ini adalah ketinggian paling pol dari perjalanan ini: 2330 m dpl.

Cozmic ku tercinta berpelukan dengan pohon edelweiss.

Foto tim di Pondok Saladah.
Setelah itu karena cuaca tampak akan berubah hujan dan berkabut, kami bergegas balik ke warung tutup dan menembus Kawah ke arah ‘Terminal Papandayan’. Di waktu inilah Om Budiman (Sepedaku, Bandung) melewati warung tutup dan langsung masuk ke kawah tanpa ke Pondok Saladah, jadi kami tidak bertemu di trek.


Pemandangan Lawang Angin dan Kawah adalah pemandangan dan situasi paling eksotis yang pernah saya alami saat bersepeda gunung. Dingin, subtropis, angin, bau belerang, kabut, tak ada siapapun. Sayang sekali batere kamera akhirnya habis sehingga saya tidak punya foto saat di kawah: saat asap belerang menyembur-nyembur dari trek, di bawah kaki dan ban sepeda kita….
AMAZING !!!
Di Terminal/tempat parkir Papandayan kami bertemu Om Budiman. Kemudian lima bersepeda turun ke arah Cisurupan, Garut. Dilanjutkan dengan pulang ke Bandung dengan kendaraan. Sampai rumah lagi maghrib hari kedua. Jadi total touring ini dua hari satu malam.





The World is Flat !! « Harto Basuki berkata,
Februari 11, 2009 @ 11:22 am
[...] Day #1 http://antoix.wordpress.com/2009/02/03/1pdn-papandayan-day1/ Day #2 http://antoix.wordpress.com/2009/02/06/1pdn-papandayan-day2/ [...]
Arif berkata,
Februari 17, 2009 @ 2:10 pm
Kapan trip lagi Kang…ajak – ajak, atau di cantumkan di blog ….
roger berkata,
April 13, 2009 @ 2:41 pm
Hebat… TOP
kalo udah jalan ama pakar bandung mah dijamin TOP… Om ianggara tea… tetap semangat!!
Trek Palasari 3: Part#1 Ujungberung – Palintang « Harto Basuki berkata,
Mei 21, 2009 @ 12:17 am
[...] pitstop sejenak, bergabunglah Om Suroto dan Om Agus. Tim Papandayan gowes Imlek reuni kembali. Trek makadam sirtu berlanjut ke kampung [...]
TAUFIK IRMANSYAH berkata,
September 21, 2009 @ 8:27 pm
sekali lagi saya acung jempol content foto perjalanan ke Papandayan-nya lengkap & ringkas dan bermutu. Di thread sepedaku trip anda ke Papandayan (start dr terminal) betul 2x planing trip yg bagus start jam 0600 tiba di Cikajang 1530 selanjutnya by ojeg / angkot then go back to Jkt / Cikarang.