Arsip untuk Desember, 2008

Enam Resolusi 2009

Resolusi, perlukah?

Entah kenapa akhir tahun ini aku tertarik buat memikirkan sebuah resolusi, seperti yang biasa orang lain buat setiap menjelang awal tahun. Aku samasekali berlum pernah bikin resolusi, mungkinkah ini saat yang tepat untuk memulai?

Sebenernya terpikirkan beberapa resolusi yang lebih ’serius’, misalnya berkaitan dengan keluarga ataupun pekerjaan, tapi kok kayaknya aku blom siap untuk membuka hal itu di blog ini, jadi ya yang ringan2 saja yah… Namanya juga baru mulei.

(1) Lulus dari IPMI
Wah, ini sih serius yah? Tapi menurutku perlu ditulis, soalnya ini adalah salah satu goal utama ku tahun depan. Dan sudah kuduga akan menyita banyak pemikiran, perhatian dan waktu di tahun depan. Sejak sekarang pun sudah kucadangkan kegiatan hobby (musik dan sepedah) akan kualihkan waktunya ke pencapaian sasaran ini.

(2) Berani Improvisasi
Wah, ini juga serius hehehe… Iya, rasanya aku sudah ada di level yang semestinya sudah berani melakukan improvisasi jazz di atas panggung umum. Misal di KJK atau di event2 penampilan VABB gitu… Masak belajar musik sekian tahun, mengamati jazz sekian tahun, gak ada yang bisa dipraktekkan sendiri sih? Ayooo… Lihat baik2 resolusi kedua ini: “berani” improvisasi, jadi ya gak harus langsung gape kan? Hehehehe…

(3) Nanjak ke Gobang, Palasari, dan Curug Panjang
Ini terus terang adalah sasaran yang agak diturunin. Sebenernya pengen banget merasakan nanjak ke Dieng atau ke Selo Pass, tapi kayaknya untuk 2009 tiga trek diatas sudah cukup menantang untuk melakukan pengaturan waktunya supaya terlaksana.

Kayaknya cuma ini yang bisa dibagi di blog deh. Masih ada tiga resolusi lagi yg kusimpan sendiri saja. Enam sasaran dalam setahun cukup banyak kan?

Komentar (2) »

XC Cikarang: Jalur “Kambing-nya Gito” dilanjut Jalur “Uka-Uka”

Setelah seminggu dilanda bad mood berkepanjangan dengan so many things to think about (halah!) akhirnya minggu pagi ini kesampaian juga bersepeda pagi yang sangat memuaskan !!!

0430 udah bangun. Aneh banget deh, baru tidur jam 12 kok bisa bangun pagi. Terusterang ini makin sering saya alami kalau ada rencana bersepeda keesokan harinya. Jam 0530 Om Sigit (OS) sudah beneran gedor2 pintu pagar saya seperti beliau ancam-kan dalam sms semalam.

0600 kita sudah menyeberangi kalimalang dan memasuki desa cibatu. Mantap sekali! Suasana pagi, kulit muka dan tangan kita masih diterpa angin menusuk. Memang semalam tidak hujan, jadi tapi tetap saja, saya terkejut dengan sensasi udara dingin cikarang di pagi kemarin… Ck Ck Ck… Saat genjot turunan dari jembatan diatas tol, agak speed tinggi, jalan aspal rusak, saya simpulkan dan tekadkan pada diri sendiri untuk terus melakukan GOLEPAG !!

Karena ‘keder’ dengan lumpurnya, kami tidak melanjutkan ke jalur Uka-Uka yang melewati sawah berlumpur, tapi kami ambil ke kanan, ke arah akses baru tol KM34 dari Lippo Cikarang. Kembali kita disuguhi perbukitan ala telletubbies. Ck ck ck… Cikarang memang jadi indah pagi2 begini. Semula kita akan ambil jalur Gito, tapi melihat sebuah tanjakan tanah ke perkampungan arah kanan, kita naik deh kesana. Menyelinap diantara rumah penduduk, dan nyelip diantara sapi2 yang berangkat ke tempat rumput, sensasinya lain bos!! Nyepeda berlawanan arah dengan gerombolan sapi yang hampir memenuhi jalan. Kita takut, tapi kayaknya sapi lebih takut. Masuklah kita di jalan beton selebar 3m-an yang berliku-liku. Buat saya dan Om Sigit, kami pernah melewati jalan ini di suatu night ride, waktu itu kita beri nama, “Jalur Kambing” karena kambing tidur di jalanan mengisi setengah jalan yang memang sudah sempit di malam hari. Habis itu biasa deh kita sudah sampai di daerah gemalapik. Menikmati tanjakan dan turunan aspal mulus sedikit, kita sampai di pertemuan dengan “Jalur Gito” lagi. Jadi anggap saja GOLEPAG kita kali ini lewat jalur “Kambing-nya Gito”, awas jangan kebalik!!

Kita masuk ke Kampung Sasak Papan >> Pasir Konci >> Kampung Gamlok. Ini perkampungan dengan jalan aspal rusak yang sempit dan berkelok-kelok patah. Jangan tergoda speeding deh, tar bisa ketemu belokan tak terduga.

Setelah menyeberang Kalimalang ke Kampung Poncol, kita baru bisa agak speeding. Wah keren, jalan yang baru diurug dengan kerikil menjadikan ride pagi itu yang mendekati jam 7 pagi menjadi lebih asyik. Di kampung ini kita juga masih menemui banyak pohon bambu yang merindangi jalanan kampung, sesuatu yang ‘mahal’ di Cikarang.

Ride di kampung Pocol ini kita tutup dengan melewati tikungan S saat memasuki pintu tak resmi ke kawasan Jababeka. Mantaaaapppp… benar2 menguji keberanian dan keseimbangan dalam handling sepeda kita!! Saya dan Om Sigit sampai harus naik lagi, untuk menikmatinya sebagai tanjakan, lalu turun lagi, untuk menikmatinya sebagai turunan batu yang mengasyikan. Benar2 keindahan yang tak jauh dari rumah !!

Ride GOLEPAG pagi ini ditutup dengan melewati singletrack di pinggir sungai. Wuih!! Basah, berlumpur dan penuh tanah!!

Jam 7 kurang, sudah nongkrong di Paladeo. Makan pecel madiun. Om Awi nanyain, wah ban udah kotor, udah kemana aja nih? Kami jawab, “Sepedahan di singletrack sebelah sungai…” hehehe… Emang iya kan? Itu adalah part penutup kemarin.

Lalu bersama kita sepedahan sampai ke AA Bike Tegaldanas dan pulang lewat jalur Uka-Uka yang berlumpur, berumput tinggi dan sudah jadi sawah…. Wakakaka… akhirnya berlumpur ria juga!!

AYOOOOOO… GOLEPAAAAAGGGG….

Komentar (1) »

Sepatu

shoe

Sayang sekali gak kena ya??

Komentar bertahan »

Top 10 Desember 2008: Joe Henderson

Dari player Media Monkey di komputer desktop saya… berikut adalah secuplik statistiknya.

Top 10 Artists played

25 Jim Hall 2:12:44 121.41 MB
22 Joe Henderson 1:55:08 105.43 MB
22 Hal Leonard Big Band 0:56:50 61.82 MB
19 Joe Pass 1:28:34 81.1 MB
18 Dewa Budjana 1:36:24 117.38 MB
16 The Rock 1:13:26 99.9 MB
14 John Pizzarelli 0:54:10 49.63 MB
12 Phil Collins Big Band 1:16:25 76.02 MB
12 Brian Setzer Orchestra 0:44:24 53.86 MB
11 Charlie Parker 0:32:11 29.51 MB
11 Dave Koz 0:46:52 54.9 MB

Top 10 Albums played

21 Joe Henderson – Double Rainbow – The music of A C Jobim 1:47:51 98.77 MB
18 Jim Hall – Dedication 1:27:05 79.6 MB
16 Various Artists – Bossa Nova Brasil 0:53:49 49.32 MB
16 The Rock – Master Mister Ahmad Dhani -swing session 1:13:26 99.9 MB
12 Phil Collins Big Band – A Hot Night In Paris 1:16:25 76.02 MB
12 Brian Setzer Orchestra – The Dirty Boogie 0:44:24 53.86 MB
11 Joe Pass – I Remember Charlie Parker 0:49:12 45.06 MB
11 Various – Bossanova Album 0:37:03 33.94 MB
11 Charlie Parker – Jazz Portraits 0:32:11 29.51 MB
9 Hal Leonard Play Along – Jazz Classics 0:37:02 33.83 MB
9 Dave Koz – At The Movies 0:38:26 49.2 MB

Highlight kali ini adalah Joe Henderson.

joehenderson

Kegemaran saya dengan Joe Henderson ini tidak hanya pada warna sound tenor saxophone-nya yang mendayu dan membelai, tapi imajinasi beliau yang tergambar dari improvisasi dan aransemen lagunya juga keren banget. Seperti tenor saxophonist idola saya yang lain, Bob Mintzer, beliau ini juga jago banget main solo tanpa iringan apapun. Hanya solo saxophone saja bisa menjadi sangat groovy dan dinamik sekali.

Lebih cinta lagi saya sama dua saxophonist ini adalah: mereka berdua punya bigband yang keren2…

Hhhh… Kayaknya saya memang musti belajar main tenor saxophone secepatnya…

Komentar (1) »

Tujuh CD di Mobil: Sinten Remen, Ubiet, Kua Etnika, Nerv, Phil Collins Big Band, Eddie Daniels

Di mobil terpasang CD Changer berisi 10 audio disc. Biasanya lima CD pertama isinya adalah lima CD pembelian terakhir

(1) Orkes Sinten Remen – “Parodi 2008″, genre: keroncong, crossover, humor, satir
(2) Ubiet – “Keroncong Tenggara”, genre: keroncong, crossover
(3) Kua Etnika – “Unen Unen”, genre: gamelan, tradisional, crossover, musik baru, psikedelik
(4) Kua Etnika Orkes Sumpeg – “Nang Ning Nong”, genre: gamelan, tradisional, crossover, musik baru, psikedelik
(5) Nerv – “s/t”(nama album nya lupa), genre: progressive rock

sinten
(gambar pentas sinten remen dari http://diptyawahyantara.files.wordpress.com )

Orkes Sinten Remen isinya unik banget, keroncong, dengan sentuhan tradisi (perkusif), plus humor yang sangat satiris. Misalnya Parodi lagu anak, lagu Hujan

Oh Ibu dan Ayah selamat pagi
Kupergi mencopet sampai sore hari
Selamat mencopet lah nak penuh semangat
Rajinlah selalu tentu kau dapat
Hormati korbanmu hargai teman
Itulah tandanya kau copet budiman

Jogja banget, satir banget, menyanyikannya dengan nada yang rata sekali. Satir getir mendengarnya, sekaligus lucu.

Dua album Kua Etnika saya peroleh kemarin di JakJazz. Yang album “Nang Ning Nong” saya sudah punya, tapi versi copy bajakan cd-nya. Akhirnya bisa dapat juga aslinya. Sementara yang album “Unen Unen” jauh lebih matang dari “Nang Ning Nong” dan jauh lebih banyak unsur musik barat-nya.
Meskipun keren kedua album IMHO belum bisa mengulangi kesuksesan blen tradisi+modern yang sukses pada album “Guruh Gipsy”

Sementara Nerv dapat dari diskon di suatu toko musik. Lumayan jadi 30rb. Ini adalah salah satu grup besutan Indonesian Progressive Society yang saya belum pernah tonton langsung.

lalu dua CD terakhir adalah CD favorit yang paling sering pengen didengerin terus menerus.

(9) Phil Collins Big Band – “A Hot Night in Paris”, genre: bigband
(10) Eddie Daniels – “Collections, the best of Eddie Daniels”, genre: jazz

Sisanya tiga slot lagi biasanya saya ganti2 saja isinya, biar gak bosan dan buat variasi.

Komentar (4) »