Arsip untuk Oktober, 2008

Seminggu naik Polygon Urbano, ngerasain sepeda lipat

Baca dulu betapa malang istriku dan sepeda disini…

seli

Kemarin hari sabtu Seli Urbano aku bawa naik Mayasari Bhakti AC 121 Cikarang >> Komdak lalu dilanjutkan dengan genjot Komdak >> IPMI (Kalibata). Di IPMI sepeda aku lipet dan kutaruh di bagian belakang kelas. Cukup eye catching. Yang kocak adalah pas aku masuk ruangan bareng dosen, bliau nanya, “Siapa yang sakit ???” Hehehe.. dikirain kursi roda rupanya.

Pengalaman baliknya lebih seru, Kalibata >> Terminal Blok M >> Cikarang AC121. Pake mencoba jalan kecoa jadinya nyasar deh sampai lewat Kemang segala. Wah, jadi jauh. Naik dari terminal blok M, kembali Mayasari Bhakti 121, cuma serba susah menempatkan posisi lipetan di bis. Untung baik berangkat ataupun pulang ternyata bisa agak sepi. Jadilah seli nongkrong di bagian belakang bis, tepatnya di sebelah pintu belakang, pas dekat tangga. Kagok juga. Waktu kupindah ke belakang sopir sama emang kondektur disuruh pindah ke belakang lagi, katanya keluar lewat pintu depan lebih susah. Emang iya sih, turun lewat pintu depan bus AC Mayasari ini cukup tricky.

Beberapa kesanku setelah sekitar seminggu nyobain terus si seli-urbano…

(1) Karena ban 20inch, maka manuver saat ‘berdansa’ di sela2 kemacetan kendaraan jauh lebih lincah dibanding naik sepeda mtb 26inch. Manuvernya lincah sekali, goyang kiri kanan selap selip. Oooo… ini yah enaknya naik seli.

(2) Posisi badan sangat ergonomis. Duduk dengan posisi natural dan tangan memegang handlebar juga pada posisi natural. Sangat terasa bedanya dengan pengalaman saya bike to work dengan sepeda stel uphill Kanjeng Kyai Cozmic yang cenderung membungkuk.

(3) Posisi seatpost kurang tinggi. Tinggi badan saya yg 171 cm terasa banget pada posisi seatpost paling panjang (sampai di batas maksimum-nya) terasa posisi kaki selalu tertekuk. Agak aneh karena saya biasa posisi menunduk dengan kaki hampir lurus saat naik mtb. Setelah baca di forum yg membahas Urbano, rupanya ini memang kelemahan dia, tapi katanya sudah lebih baik dari Polygon Metro (12 inch).

(4) Jadi pusat perhatian. Saya sudah setahun lebih bersepeda bike to work, tapi dengan Seli-Urbano lebih banyak orang menengok hehe… Serasa selebritis.

Hari ini bike to work speedy dengan Cozmic lagi. Pas naik dan berangkat pertama dari rumah, semenit pertama serasa aneh banget perasaan handling sepedahnya. Mungkin karena beberapa hari nyobain Seli terus. Jelas banget terasa ‘center of grafity’ nya beda sekali.

Kesimpulan?
Gunakan sepeda sesuai peruntukan. Sepeda mtb memang paling cocok dibawa ke gunung, bukit dan lembah.
Kalau peruntukan Seli-Urbano biar istri makin tertarik berolahraga dan bisa membantu dia menurunkan berat badan ya jangan sering dipinjam sepedanya hehehe…

bisa lebih jau lihat komentar saya setelah tujuh minggu pake Polygon Urbano…

Komentar (12) »

Empat Sepedah

Semalam ibu menginap di rumah kami, sehingga di rumah kok tiba-tiba ada empat sepeda. Weleh-weleh.. rumah jadi terasa puenuh banget, kemana-mana sepeda diparkir. Kata Ibuku, “..koyo omah juragan sepeda..”

Pagi ini aku iseng deh difoto itu empat sepeda secara bersama-sama, soalnya kan besok sabtu sepeda kuning bakal dikirim ke Bandung mau dipake Asep (hiks..)

Keempat sepeda adalah:

1. Mountain bike tahun 1993-an, fork depan rigid, 6×3 speed
2. City Bike United tahun 2005
3. Polygon Cozmic CX 1.0 tahun 2007, fork sudah diganti Manitou Axel
4. Polygon Urbano tahun 2008, sepeda lipat 6 speed

Semua jenis sepeda sudah ada, tinggal disesuaikan dengan penggunaannya. Hanya sepeda onthel yg belum punya nih… baca cerita ini juga

Komentar (2) »

Ibu Sukrisnowaty, Guru Kimia kami

Ibu Sukrisnowaty meninggal dunia minggu lalu…

Ada empat guru SMA yang selalu menempel namanya dikepalaku: Pak Hardjo, Pak Samino, Bu Kris, dan Pak Ifud. Pak Samino dan Bu Kris ada di tempat yang sama dengan mata pelajaran yang berbeda. Kalo Pak Ifud karena bliau adalah “pembina” klub pecinta alam kami, THA. Kalau Pak Hardjo, beliau adalah contoh dari kebersahajaan dan kearifan.

Terusterang sebelum mendapat sms dari Andi ttg berita lelayu ini, nama “Ibu Kris” pun saya sudah lupa. Tapi begitu membacanya kembali, itu semua memory tentang kelugasan, ketegasan, tekanan kata-kata beliau saat mengajar, kecerdasannya kembali muncul sebaris demi sebaris di depan mataku.

Saya jadi ingat pernah mendapatkan nilai 5 di raport SMA dari bu guru kita ini. Sebuah hentakan langsung ke rongga dada kurasa waktu itu. Kami angkatan 90 SMA 1 Yogyakarta adalah angkatan pertama yang nilai ebtanas murni nya terbilang menakutkan waktu itu di Jogja. Hampir setiap kami adalah juara kelas dan sekolah SMP masing-masing. Tentu ada kegamangan dan kekagetan saya waktu itu bahwa pada akhirnya mendapat nilai merah di raport.

Kagum saya ternyata ini tidak hanya saya alami tapi juga rekan alumni lain tulis di mailing list.

Selamat Jalan Bu Kris, Ilmu yang bermanfaat akan selalu mengirimkan wangi harum doa terimakasih kami kepadamu….

Anto
=yang skarang jadi kuli pabrik kimia=

(seperti kiriman saya ke milis teladan90@yahoogroups.com )
silakan tengok http://www.teladan-90.info

Komentar bertahan »

origami-seli, selamat datang

Long2 time ago, saya argue istri saya buat beli sepeda city bike, model sepeda ibu2 itu… Seorang teman tidak tertarik sepeda ini karena katanya hadiah dari beli motor. Hmmm… Istriku terbujuk. Terutama karena imajinasinya sendiri yang sangat cocok dengan sepeda dengan keranjang di bagian depan hehehe… Memang aneh, tapi dia memang begitu.

Dasar bukan rejekinya. Sepeda lebih sering dipakai ibu, buat mondar-mandir ke pasar, bolak balik rumah ibu ke rumah saya (sekitar 200an meter). Pokoknya itu sepeda lebih sering nongkrong di rumah ibu. Kasian ya istri saya?

Lalu datang kesempatan lain. Tour kantor, lalu saya dapat HP. Jaman itu HP masih ‘in’ banget, belum banyak hp murah seperti jaman sekarang. Seorang rekan yang mendapat hadiah sepeda menawarkan untuk tukar sepeda dengan hape hadiah saya. Waktu itu, setahun-an lalu, saya lagi semangat2nya bersepeda lagi, mulai bike to work yang rutin dan langsung tiap hari. Kembali saya bilang ke istri. Ini sepeda (wimcycle roadchamp) buat dia. Biar kita berdua bisa sepedahan kali minggu pagi2 (alasan saya hehehe….). Istriku kembali tertipu. Setujulah dia.

Sempat kami berdua sepedahan di sudirman thamrin, saat komunitas bike to work mengadakan funbike. Ceritanya disini…

Sepeda biru yg baru ini lebih sering saya pakai bike to work. Lalu saya kenal dengan 1PDN, mulai deh naik ke sukamantri. Ban langsung peyang wakakaka… Mulai deh itu sepeda di upgrade sedikit-sedikit. Terpengaruh juga pergaulan bebas dan beracun nanjak di 1PDN, jadilah suatu saat istriku terkaget-kaget waktu kembali naik Wimcycle roadchamp yg sudah dimodifikasi itu. “Lho, kok sepedanya jadi tinggi sekali…” Ya iya lah… Fork depan diganti, sadel diganti, handlebar dan stem diganti, ban diganti offroad. Wakakaka…. kembali dia terpaksa kehilangan sepedanya. Kena tipu suaminya kali ini. Sementara itu sepeda wim sudah bermetamorfosa jadi sepeda uphill dengan frame Cozmic CX 1.0

Minggu lalu istri ngabari baru dapat rejeki cukup lumayan. Spontan saya usul, “Beli sepeda lipet aja”. Eeee… dia OK. Karena memang saya pernah minjem sepeda lipet Igo buat dibawa kerumah, dan tampaknya memang istri sangat jatuhcinta sama sepeda jenis ini. Yang lebih cute, lebih rapi, dan lebih manis dan lucu dikendarai…

Jadilah minggu lalu, tanpa pikir panjang ke Rodalink kelapa gading. Yang cocok sama budget adalah Polygon Urbano. Beli deh yang warna hitam. Tidak pakai survey dulu, tidak pilih2 yang panjang, nanti malah gak jadi atau dia berubah pikiran kalau kelamaan.

Sepeda Polygon Urbano warna hitam, ban 20″, RD pakai Shimano Tourney, dengan revoshift sudah nongkrong dirumah…

Lama banget yah… padahal sudah pernah post kalau kepincut si seli disini…. hampir setahun lalu

(fotonya nyusul yah…)

Komentar (5) »

E M P A T


3 Syawal kemarin, Van Alloy Big Band genap masuk tahun ke empat eksis.
Empat tahun lalu 3 Syawal kita sedang ber-lebaran di O La La Cafe seberang Pizza Hut/Gelael Dago. Di meja ada: Andreas & Yoki (sumber ide2 gila dan unik), ada Pam & Ninil (mewakili keluarga VanAlloy) dan ada Anto & Yorin (mewakili keluarga para abdi). Inget banget waktu itu kita menghubungi semua nomor aca & Nta gak pernah nyambung, gak pernah nyahut. Rupanya diam2 mereka sedang berlebaran di Kuala Lumpur wukikikikiki…

Momen paling mengharukan bersama VABB: melihat kita turun dengan selamat (satu putaran penampilan lolos) dari IBBC 2005
Momen paling menggembirakan: jalan-jalan ke Banjarmasin, dua tahun berturut-turut
Momen paling membanggakan: main di JavaJazz Festival 2008

tengok2 http://bigband.vanalloy.net

Komentar bertahan »