Arsip untuk September, 2008

Buka di atas Bukit J4

Ternyata bukan seperti rencana, 1645 sharp berangkat, extended meeting, jadi 1703 baru berangkat dari gerbang belakang.
10 menit sampai tegaldanas, ambil napas 3 menit
10 menit lagi sampai depan terowongan, ambil napas 5 menit sambil sms2

Setelah terowongan sempat moto dulu, jalurnya maut, terbagi dua kekiri dan kekanan.

mulai genjot habis terowongan, langsung balas hantam tanjakan J4, tanjakan yg hanya ada di musim panas, dan tanjakan paling technical di sekitar JBB menurut saya. Sial! baru separuh saya harus turun dari sepeda. Ban belakang spin, jalan berpasir ban muter waktu digenjot, kaki udah nyut2an juga sih… (lihat foto)

ambil napas 1 menit sambil menyesali kok gak tamat tanjakan ini. Kepikir buat turun lagi ngulangin, tapi inget pakai ban road, wah, lain kali aja deh hehehe…
menit ke 27 sudah sampai puncak bukit. Di belakang saya kampus baru ITB di depan saya jalan tol dan peristirahatan tol. Di kiri saya matahari sedang terbenam (lihat foto)

Mantap, adzan pertama langsung lahap apel, lalu gadtorade dan terakhir aqua dingin.


Pulangnya sprint sampe rumah, mampir di tegaldanas (sambil ambi napas, lagi-lagi) beli es kelapa…

1845 udah sampai rumah, mandi segaaaarrr….

Komentar bertahan »

Bike to Work Day di Cikarang

Berikut adalah foto-foto kegiatan Bike to Work Day di Cikarang 29 Agustus 2008 yang lalu…

Berkumpul dulu pagi-pagi. Rekor tercipta, terkumpul sekitar 30 pesepeda bike to work

Membagi-bagikan leaflet ajakan b2w ditengah kemacetan di gerbang kawasan industri Jababeka, Cikarang.

Komentar (1) »

Cinta Musik atau Cinta Ngumpul

berikut posting saya ke mailing list VanAlloy Bigband bbrp hari lalu:

Selamat untuk Kuki dan Elma yang udah punya alat baru. Mengkilap euyyy…. Cihuyyy….

Sebenarnya pernah dulu banget, ngobrol panjang sama Atoon, kayaknya pas kami menginap di Hotel Atlet Century Senayan, pas setelah tampil buruk di acara Ceria Worley dan akan berangkat ke Banjarmasih (trip pertama). Atoon mengungkapkan sisi lain dari band kita ini. Dia cerita betapa sebagai orang yg bergelut di bidang musik, kagum sama rekan-rekan, yang mengorbankan banyak hal untuk bisa memainkan musik bersama-sama. (Hhhmmmm… sebenernya bukan memainkan musik bersama sih, bersama-sama tapi main musik..- halah -). Misal Atoon mengungkapkan pertanyaan sederhana tapi susah dijawab, “Mas Anto beli clarinet buat main di weekend bareng vanalloy saja kan? Tidak buat cari duit?” Apalagi kalau kita bahas lagi rekan-rekan lain yang punya lebih dari satu alat musik.

Bayangkan, membeli alat, mengeluarkan uang, membongkar tabungan, untuk sesuatu yang … mmmm …. bukan duit.
Mungkin kita memandangnya ‘biasa saja, seperti beli sepeda gunung atau raket tennis’, tapi di mata orang yang cari duit dan berkecimpung di area musik seperti Atoon, hal ini berarti berbeda samasekali.

Lalu seminggu lalu saya obrol di dalam si Macan (panther merah) sambil anter Chaka, bassist, pulang (maklum bawaannya guede). Chaka menyampaikan kekaguman yang mirip, mengingatkan aku sama cerita Atoon bbrp tahun lalu, namun ada satu kalimat yang membuat aku tertegun…

… kami sekolah mati-matian (Chaka sekolah musik di IMDI), menurut saya untuk mendapatkan ‘kecintaan kepada musik’. Menurut saya apapun teknik yang kami pelajari di sekolah adalah untuk bisa mencintai musik secara tulus, seperti yang rekan-rekan VanAlloy tunjukkan…

Chaka lalu bercerita tentang mengapa dia memandang kita cinta musik dan kekagumannya dengan pengorbanan yang kita ambil untuk ’sekedar’ mengikuti rasa rindu main musik itu. Bahasa Chaka, rekan-rekan VanAlloy sudah mendapatkan ekspresi dan kecintaan bermusik itu sendiri meskipun tidak memiliki skill yang mumpuni. Gantian saya yang kagum, karena saya jadi ngeri membayangkan orang berlatih teknik memainkan alat musik sampai bisa akrobat jungkir balik, namun tidak juga mendapatkan ‘jatuh cinta pada musik’….

Untuk Kuki dan Elma, welcome to the club…
Untuk Atoon dan Chaka, thank you. Pencerahannya terpisah 2 tahun lebih tapi baru ‘klik’ di kepala saya.

Jadi ayo kita hargai pengorbanan dan kecintaan rekan2 kita buat berlatih.
Sabtu depan latihan ya… kita habiskan itu Every Little Thing !!!

Komentar bertahan »

selalu dimulai dengan langkah pertama

Blast from the past….

Setiap perjalanan selalu dimulai dengan langkah pertama. Foto ini menunjukkan langkah2 pertama yang pernah dijalani oleh anak kecil (by the way, itu saya) di sebelah kanan. Tampak sang Ibu melihat dari kejauhan dengan sedikit khawatir…

Tenang,
selalu ada awal untuk memulai langkah..

Komentar (1) »

cerita ban ban sepeda

Pertama saya main ke rumah om gazel dulu, wah betapa senangnya mendapat hadiah (sebenernya barter ama majalah sepeda saya sih ya) ban offroad bekas. Biasa pakai ban standar wimcycle, rasanya seperti ndut2an nikmat banget pake ban scwalbe big sam. waduh… saya sempat bawa bike to work dan jalan jacyco huenah tenan, mendut2… Lalu tibalah saatnya saya bawa ke sukamantri, pertama kali masuk gunung. Ketemu turunan pertama ban dalam langsung pecah, ban luar kelihatan sobek di samping. Hanya keajaiban yang membuat ban luar sepasang itu bisa bertahan utuh sampai turun ke bogor lagi (jadi inget sukamantri….)

1

Sejak saat itu saya mulai keranjingan ban luar. Beli smart sam sepasang. Lalu beli medussa, rencananya buat main lumpur. Main lumpur sih kalo pake v brake mau ban apa saja sama aja yah? Lalu juga bersama medussa belilah larsen tt (keduanya maxiss). Wah, ini larsen tt paling mak nyos menurut selera saya. Sekali nya dipasang, dibawa manjat di cioray, ada satu obstacle, nanjak technical, semua kaki serombongan udah turun ke batu (soalnya jalanan batu tajem), dengan sukses saya, cozmic dan larsen tt melibas satu tanjakan itu. Mak nyuuusss tenan… Rasanya seperti menang emas olimpiade. Teman2 ipdn pada minggir sambil bilang, “awas… cozmic mau lewat awas…”

Belum cukup !!
Beli lagi racing ralph. Ngerasain ban dengan roll resistance yang rendah. Wuih… dipake ngebut huenak tenan, dipake naik nancep. Tapi saya sudah kadung jatuh cinta sama larsen tt buat ban belakang. Jadinya si racing dipake di depan. Nggelinding, seperti gak pake ban offroad…

BELUM CUKUP !!!
semangat fashionista tiba2 muncul bergejolak begitu ketemu ban ada strip biru-nya. Wah… pas banget nih sama kanjeng kyai cozmic… Biar bekas juga di embat wakakakaka…

Sudahlah bicara ban…
Sore ini hayuk genjot funny funny buka puasa.
Saya pake ban onroad asli bawaan wimcyle hehehe…

See you in the evening guys….

Komentar (1) »