Meskipun hanya empat hari tiga malam di Mumbai beberapa kesan yang mendalam:
#1 Debu, debu, debu… Kumuh
Mungkin bukan salah orang-orangnya, tampaknya memang debu sangat dekat dengan kehidupan alam di Mumbai. Sayang sekali jadi semua barang jadi tampak berdebu, dan yang parah, terkesan KUMUH.
#2 Chaotic Traffic
Selama ini saya mengira lalu lintas Jakarta sudah sangat tidak beradab, tidak sopan, serobotan, tidak disiplin, kampungan… Tapi ternyata saya menemui kenyataan ada yang lebih parah. Semua mobil disetir dengan gaya mikrolet dan angkot. Semua bis (besoar2, kotak-kotak) disetir dengan gaya metromini. Semuanya cenderung kencang dan semuanya membunyikan klakson sering sekali. Berisik! Saya sendiri tidak habis pikir, di setiap bagian belakang truk dan bus selalu ada tulisan “Horn OK please!”. Jadi mereka memang mau di-klakson!!

#3 Banyak sekali orang
Kapan anda merasa jakarta sangat penuh sesak? Masa kampanye? Bubaran Persija tanding? Jam pulang kerja/selesai masa three in one? Di Mumbai, saat bubaran kerja (sekitar jam 1700) sampai malam (jam 2200) jalanan penuuuuuhhhhh orang dan kendaraan gak berhenti-berhenti seperti lebaran di Jawa. Buset, ini orang dari mana kemana saja sih? Baru saya ingat kalau India adalah negera berpenduduk kedua terbesar setelah China, dan Mumbai adalah kota industri yang sedang tumbuh.




Yadi berkata,
Juni 18, 2008 @ 1:45 pm
Beruntunglah aku yg tinggal di Cikarang, mo B2w masih asoy…, mau sprint jajal dengkol –> masih aman gak terlalu takut kendaraan lain…pokoknya hidup cikarang…..wakakakaakaka…..(yg baru sadar kl Cikarang di banding Bombay gak ada apa-apanya)….