Arsip untuk Februari, 2008

JPG MTB Trend 2008

Hari minggu yang lalu bersama 4 orang pesepeda dari Cikarang menghadiri event MTB di Jalur Pipa Gas, bintaro/bsd.

Terusterang event ini tidak menyenangkan buat dihadiri, karena:

(1) Crowded, sumpek, becek
Pesepeda yang hadir boanyaaaaakkk banget. Perkiraanku menembus angka seribu. Venue acara sempit banget. Akses ke stand2 benar2 tidak leluasa. Saya yakin para penjual itu turun omzetnya. Ditambah becek. Lengkap!!

1
(nyiksa 4 sepeda dalam panther dari Cikarang)

(2) Gak bisa gowes JPG track
Panitia tidak mengorganisir masuk ke track, padahal JPG itu termasuk track yang rumit jalurnya. Tanpa guide hanya berbekal guts, rasa penasaran, dan foto peta di layar kamera ternyata sangat tidak cukup. Akhirnya blusak blusuk nggak jelas.

Bagusnya? Ada doonggg…

2
3

Senangnyaaa melihat pesepeda dan sepeda ratusan begitu. Seru sekali. Itu sepeda bertumpuk2 diparkir memenuhi semua area.

Indah sekali.

Juga bisa test ride sepeda2 Polygon 2008. Kapan lagi naik sepeda mahal untuk bebas diapain saja??

Salut untuk panitianya…
Tahun depan ngadain lagi yaaa…

Komentar (3) »

kapan….??? nge-blog-nya???

Nah

Sudah pernah jadi orang yang rasanya kemana aja pergi seperti naik bis kota sumpek?

Saya pernah…
Sekarang ini…

Rasanya kemana aja nyenggol dan ketemu orang. Kemana aja nabrak. Kemana aja gak bisa ketemu ruang yang lumayan lega, buat sekedar mengambil nafas dan menikmati menarik dan mengeluarkan nafas dalam-dalam…

I hate being busy !!

Komentar bertahan »

sepeda ‘freeride’ th 2008

Sedihnya tadi denger dari Um Sigit kalo gowes minggu pagi bersenang2 dengan lumpur lagi di J3 huhuhu… Iri beurat

Ya sudahlah…

Saya barusan selesai baca perbandingan beberapa sepeda jenis freeride di sebuah majalah. Setelah baca artikel ini dan melihat bentuk sepeda2 yg dibahas secara umum saya jadi bisa sedikit mengerti seperti apa sih sepeda freeride itu, saya share disini, silakan ditambahin dan dikoreksi.

Norco Shore One
(Norco Shore 1)

Terusterang tongkrongan sepeda freeride memang gagah. Menurut hemat saya, gagahnya sepeda freeride itu tidak berkesan tambun, gemuk, besar, dan berlebihan seperti kalau kita lihat sepeda downhill. Memang dari artikelnya disebut bahwa sepeda ini diperuntukkan buat melewati “park” yang lebih banyak turunan dan halangan2nya sehingga membutuhkan sedikit sekali meng-genjot. Ini juga terlihat dari sepeda2 ini yang memberi ‘ground clearance’ lebih besar dengan melebarkan jarak ‘bottom bracket’ (BB) -’as’ tempat pedal berputar- dengan tanah. Sepeda freeride dibuat karena dengan sepeda ‘downhill’ melewati hambatan2 buatan dan alam: drop-off, pohon tumbang, batu, akar besar, tanggul pohon, dll sering sekali sepeda DH ‘nyangkut’ di halangan2 alam dan buatan tsb. Sayang kan? Jadinya ini adalah salah satu alasan akhirnya jadi ada sepeda ‘freeride’ ini.

Saya sendiri belum banyak survey ttg apa yg disebut ‘park’, tapi sekilas sih ini mestinya adalah hutan yang dibuat track sepeda penuh halangan, dengan medan sebagian besar turunan. Biasanya track seperti ini men-utilisasi track ski salju yang tentunya jadi sepi di luar musim dingin. Track freeride biasanya di dalam hutan diantara pepohonan dilengkapi berbagai halang rintang alam dan buatan. Kalo sebagian besar turunan trus naiknya gmn? Hehe di negara 4 musim mereka pakai semacam kereta gantung salju itu, atau ya naikin mobil.

Bentuk sepeda freeride sangat dekat dengan kekokohan bentuk sepeda DH, tentusaja fullsus dengan rear shock yg travelnya 7-7.5 in. Crankset juga mirip sepeda DH, hanya satu atau dua ring di depan dilengkapi dengan bash-guard dan chain-tensioner.

Berpikir buat bawa sepeda ini ke jalur J3? Hehe.. Beratnya 40-43lb atau skitar 20kg. Gempor gempor deh genjotnya! Dan kalau diajak speed sama Oom Yadi or Oom Gzl pasti hosh2 tertinggal jauh hahaha…

Harganya? Hehe
2000-3200 poundsterling !!
Sepeda yg dibahas:
Cannondale PREP 1
Cove STD
Norco Shore 1
Scott Gambler FR1
Specialized Demo7 1

Liat harganya jadi makin sayang ama Kanjeng Kyai Cozmic !! Wakakaka…

(Seperti ditulis di milis jacyco-cikarang)

Komentar (2) »

Top 10 Played January 2008

Top 10 Albums played dari Media Monkey Player di komputerku…

Tracks Album Length File size
27 Gita Gutawa – Gita Gutawa 1:51:25 102.04 MB
24 Various Artists – Bossa Nova Brasil 1:12:20 66.3 MB
24 Kohlner Saxophon Mafia – Lisence to Thrill 1:18:56 107.59 MB
20 Glenn Miller Orch – The Definitive Collection 1:02:19 56.94 MB
17 Rosanne Lui – Yesterday 1:08:41 62.9 MB
17 Michael Buble – Live 0:58:43 67.59 MB
16 Various Artists – Piano Jazz 1:37:25 89.2 MB
15 Tom Grant – Tom Grant 0:57:16 52.45 MB
15 Various – Count Basie & His Orchestra 0:48:12 44.14 MB
15 Carpenters – Love Songs 0:55:20 50.76 MB
15 Milton Nascimento – Angelus 1:14:39 68.37 MB
15 Bubi Chen – Romantiques 1:04:05 117.37 MB
15 Bad Plus, The – Prog 1:38:51 226.54 MB
15 Hal Leonard Play Along – Jazz Classics 0:55:34 50.79 MB
15 Phil Collins Big Band – A Hot Night In Paris 1:47:46 107.52 MB

Rutinitas menulis ttg TOP10 agak terlewat, tau-tau sudah awal bulan Februari 2008. Yah memang akhir bulan Januari ini irama hidup berubah agak drastis, terutama weekend. WOW! Ternyata Gita Gutawa masuk list ini lagi, padahal udah pernah dibahas ya dulu di bulan November (?).

Oke kali ini kita ceritakan tentang “Kohlner Saxophone Mafia” saja. Band ini cukup unik, anggotanya terdiri dari semua pemain saxophone, dari Soprano, Alto, Tenor, Bariton. Kalau kita mendengar mereka bermain seperti mendengar bunyi lagu yang dinyanyikan dengan Accapella. Ternyata lagu yang dimainkan secara grup oleh alat musik yang sama bukannya menjadi sederhana tapi malah jadi kompleks. Logis juga, karena kan setiap person harus memegang nada tertentu kan? Memegang peranan tertentu dalam harmoni kord. Belum lagi ada yang berperan sebagai seksi pengirim (rhytm) entah dia memberi sentuhan ala bass atau memberi ornamentasi variasi arpegio. Pusing pasti !! Yang main pusing, yang mendengar juga butuh penyesuaian karena musiknya secara drastis berubah samasekali…

ksm

Dan Kohler Saxophone Mafia membuat pola penampilan yang sudah tidak sederhana ini menjadi semakin rumit, mereka memainkan jazz (jadi akord menjadi kompleks dan kaya) dan mengakomodasi gaya ‘musik baru’ (kata yang dipakai untuku ‘contemporary musik’ atau ‘musik kontemporer’ yang sangat eksploratif pada bunyi). Yang dengar tambah mampus, lagunya tambah unik dan aneh, banyak diselipi tidak hanya solo-solo yang nge-jazz tapi disertai dengan eksplorasi bunyi dan sound saxophone. Hasilnya adalah sebuah rekaman contemporary-jazz-saxophone-group yang sangat eksploratif dan ’sophisticated’.

Sayang sekali saya cuma punya satu albumnya.

Untuk di Indonesia gaya bermain grup seperti ini sudah diperkenalkan oleh “Hypersax”. Grup yang terdiri dari empat pemain saxophone lulusan ISI Yogyakarta, memainkan jazz yang genit sekaligus grup saxophone yang eksploratif. Grup ini pernah tampil di Java Jazz Festival namun dengan membawa rhytm section yang lengkap. Sebuah kompromi komunikasi musikal dengan dunia komersial dan mainstream.

Beruntung sekali saya pernah menonton grup saxophone ini bermain musik, menjadi ilustrasi musik teater, sambil bermain teater pada sebuah penampilan EKI di Goethe Haus bbrp tahun yang lalu.

Link Kohlner Sax Mafia di Allmusic…

Edisi sebelumnya
Desember 2007
November 2007
October 2007

Komentar bertahan »

Trip IPDN CiOray (bag 3): Turun dari CiOray, bernafas dalam lumpur…

Tulisan ini lanjutan dari bagian kedua…

Sesampainya di ‘warung mamang’ kami menjumpai warung ini tutup. Waduh! Hujan2 gini, baju basah, semua bawaan basah, dingin setelah berhenti genjot… Disaster kalo warung ini tutup!

Pertama ada rekan yg nekat memanfaatkan keadaan, lihat ada kambing (diikat tali, ikut berteduh di teras warung) lansung sikat sigap bergaya pemerah susu!! Tentusaja si kambing berontak, tapi sang pemerah susu rupanya punya jam terbang cukup tinggi, mayan dapat 1/2 gelas!

perahkambing
(Foto perah susu kambing)

Sementara anggota yang lain dengan cukup beringas menggedor2 pintu warung. Hehe… Kalap hasil 3 jam genjot tanpa ketemu peradaban. Untung warungnya jadi buka jug karena ini, hidangan pertama adalah air hangat. Aduh!! Itu ‘cuma sekedar air hangat’ saja sangat nuikmat! Bayangkan badan habis diforsir, haus karena air habis, kedinginan karena kehujanan dan berhenti genjot, cuaca masih dingin dan hujan deras… Setengah gelas air hangat paling nikmaaattt…

Simple things in ‘normal life’ (air hangat) proven to be really valuable in this situation.

Barangnya sih ‘cuma air putih hangat’ namun ‘value’ yan ditambahkan pada minuman ini mungkin setara dengan kopi starbuck. Kopi-nya simple dan biasa saja, tapi ‘value’ dari seluruh pengalaman ngopi dan pemilihan tempat serta brand positioning starbuck yg membuatnya berbeda! Begitu pula dengan air putih hangat ini, seluruh pengalaman indah dari start, nanjak, sampai mencapai tempat ini menjadi ‘value’ luarbiasa bagi air hangat. Mungkin kalau bapak warung menjual air hangat ini 20ribu per gelas masih dibeli juga hehe..

Berenti mayan lama, sejam lebih, tiduran dan dilanjut makan mie telor. Hujan tak juga reda, akhirnya hantam saja berangkat lagi.

Pak Rektor paling mendapat banyak komentar karena hari ini semuanya baru: sepeda Titus RacerX, kacamata rudy project, jersey BFEGTB, jam tangan altimeter, tapi giliran mau ujan2an plastik buluk bekas belanja mamang warung diembat juga! Oom Iye juga menemukan helm ala cioray yg sangat cocok untuk medan seperti ini. Mayan, ada yg diketawain…

plastik
caping
(Foto plastik dan caping)

Turun naik di perbukitan kampung Cibuntu, medan jalan makadam basah hujan dan sedikit berlumut. Sempat berhenti 30menit lebih karena rantai salah satu sepeda rekan putus.

rantai
(Foto rantai diperbaiki)

Jalan naik turun makadam yang cukup menyenangkan karena di setiap sesi tanjakan kita berlomba untuk menyelesaikannya tanpa turun dari sepeda. Begitu turun berarti dilanjut TTB karena gak mungkin dapat momentum awal untuk mulai genjot. sekarang baru paham juga kalau kampung ini disebut ‘Cibuntu’, dari arah doubletrack klapanunggal memang dipastikan 4WD pun akan terhenti di kampung ini, jalan selanjutnya adalah jalan kampung plus singletrack. Kampung diakhiri dengan turunan makadam panjang dan curam di dekat sebuah sd. Kembali seorang anggota tim kraam dan terjatuh disini. Padahal kita ditonton belasan anak2 dan penduduk.

Selanjutnya? Turunan-tanjakan singletrack dan doubletrack yang fuuulll lumpur!! Ya ampun!! Kita tidak hanya mengahdapi medan turunan dan tanjakan tanah yang licin, namun juga lumpur yang bikin ban sepeda kita jadi donat!!

Sayangsekali baterai cadangan kamera dipakai untuk mengganti bateri GPS jadi tidak ada foto dari kamera saya. Bagaimana mau motret juga? Tangan penuh lumpur karena rutin membersihkan ban setiap bbrp ratus meter.

Saya masih belum paham bagaimana menaklukkan medan model begini, saya sudah ganti ban belakang dg Maxxis Larsen TT 1.9 yang lumayan banget membantu kelancaran roda berputar di tengah lumpur. Tapi ampun rasanya salah banget ambil ban depan 2.1. Bentar-bentar ban depan sudah gak mau berputar lagi, di turunan pun dia stuck harus didorong. Ampuuuunnn…

Saya yg masih pakai V-Brak putuskan lepas brake dan biarkan saja sepeda berjalan turun. Kalo macam2 nanti sepeda tinggal dilepas saja biar bablas sendirian. Bagian turun yang semula diperkirakan cepat dan singkat ternyata ditempuh dalam sekitar 3 jam juga!! Meskipun di 20% akhir kita mulai dapat jalan on-road namun kita melewati 5-6 punggung bukit (artinya harus ttb nanjak di jalan lumpur) dan satu sungai besar. Entah hiburan atau apa, dosen berkata track ini dikala kering bisa ditempuh dalam 1/2-1 jam.

ular lumpur

Proud Mbah

perkosa

motor aja kesulitan
(Foto track dan racie Mbah)

Bernafas dalam lumpur adalah ungkapan yg tepat sekali. Lumpur all the way..

Singkat kata sampai di loading point sekitar jan 5sore. Umum memang di daerah ini membawa hasil bumi dgn pick-up kecil (sekelas hijet/carry) ke arah citeureup.

Gambaran vertikal dan horisontal track bisa menunjukkan identitas track ini
vertikal cioray

Fuihhh… Kembali ke peradaban!!

Komentar (3) »