Arsip untuk Februari, 2008

Dijual Polygon Helios 300 (note: sudah laku)

(bantuin teman jualin barang)

Ditawarkan sepeda balap dgn frame polygon helios 300 group set TIAGRA (gratis pompa tangan & sepeatu shimano).
kondisi masih seperti baru, jarang pake paling sesekali itupun hari sabtu doank. Kl liat kilometer sih masih di bawah 500km. kekekeek…
Waktu bikin sepeda ini sih abis kurang lebih Rp.7.5-8.5jt.
Harga penawaran Rp.6.500.000 (bisa turun dikit) Rp 5,5 jt
Yg berminat bisa hubungi Yadi di 0817-608.3389

ini speknya :
Frame : Helios 300
Group Set : Shimano Tiagra
Wheel set : WH-R550
Seat Post : Thomson
Handle Bar : Zoom Carbon
Handle Stem : Ritchey WCS AXIS
Pedal : Shimano PD-R540
Tyre&Tube : Panacer Stradius Sport 700C x 23
Rim : Shimano Wheel Set WH-R550
Saddle : Velo

Posisi barang di Cikarang-Bekasi

1

Komentar (17) »

Ngimpi ‘Bike Track’ di Cikarang

Keren banget kalo jadi nih Jacyco…

Trek pendek DH/AM (Track J1)
————–
Note: J1=Jacyco1

Semi downhil, dari bukit sebelah hutan jinjing terus turun sampai masuk finish dalam hutan, kalo perlu sampe batas jalan tol. Biar kalo mrk lewat tol itu jadi pengen lirik track ini.
Masalah track ini adalah bawa sepeda naiknya. Sepeda2 AM dan DH kan berat2. Bisa jadi tar ada ojek standby bwt naikin sepeda ke titik start.

Panjang track: lk 2km
Karakter: fast, semi downhill/all mountain

Trek XC (Track J2)
———
Track ini track yang kemarin saya coba sama Oom Asol sampe RD Oom Asol jebol. Karakter track-nya cocok untuk yang suka berbukit namun tidak mau banyak menikmati turunan. Disuguhi karakter berbikit kombinasi nanjak dan turun, track dg rumput tipis dan pemandangan indah dan eksotis perbukitan telletubies. Saat hujan track tetap berumput namun ada suguhan lumpur dan turunan batu.

Karakter track sebenarnya masih XC, cukup aman karena kalaupun kita jatuh di turunan rumputnya empuk dengan lumpur dibawah rumput.

Selain suhu panas dan pemandangan indah perbukitan track ini ditutup dengan ketemu jalan tol, kanopi bambu lalu masuk ke hutan jinjing. KEREN !! Sensasinya TOP

Panjang track: 5-7km
Karakter: XC

Track XC all day (Track J3)
———————

Ini yang pernah kita gowes bareng melewati getek itu.

Panjang, perpaduannya lengkap antara jalan desa yg cepat, jalan sawah berlumpur, onroad berbukit dg banyak tanjakan dan turunan, nyeberang getek, hutan bambu, ngolong tol, jalur pepaya.

Gak ada yg ngalahin!!!

Karakter trek: XC semi touring
Panjang track: lk 50km

Sebenernya Cikarang tidaklah jauh dari salah satu pusat pesepeda: kawasan bekasi timur.

Komplek perumahan di wilayah ini banyak banget. Disitu ada komunitas2 sepeda yg cukup disegani seperti Roger Bagen dan D’Lenongs yg sering post di sepdaku. Blom yg kecil2 lainnya.

Pasar pesepeda bekasi timur-barat-cibubur ini besar sekali. 20org saja tiap minggu mampir jalur ini, rame deh…

*bangun tidur apa masih ngimpi??*

Komentar bertahan »

Nostalgia WimCycle Roadchamp

Hehe…

Ntah kenapa saya jadi kangen dan ingin mengenang kembali metamorfosa sepeda biru WimCycle RoadChamp.

Ini lagi malas menulis jadi kolase foto2 saja…

12 Agt 2007
1
Si biru gagah banget disebelah si kuning. Masih polos banget tuh, super standar. Tinggi sadel-nya pun masih aneh banget.

20 Okt 2007
2
Si biru diajak jalan perama kali sama rekan Jacyco. Waktu itu habis selesai puasa. Sudah tambah front and rear lamp, juga ada tas frame sepeda.

17 Nov 2007
3
Si biru diajak naik gunung dan masuk hutan sama IPDN. Gagah banget ya? Ban sudah mulai pakai 2.25 trus bottle cage zefal mulai nempel. Handgrip mulai diganti. Yang lain super standar. Turun dari hutan masuk jalan makadam ban sobek dan rim peyang.

28 Nov 2007
4
Setelah pengalaman memalukan di sukamantri, akhirnya ban baru, rim baru, shock depan baru. Mayan lah. Sempat dipakai ke JJ

29 Des 2007
5
Ikut perjalanan “Year End Ride” di Rindu Alam track. Sudah pakai bar end dan mulai ganti ke flatbar.

31 Des 2007
6
Berakhir masa pakainya, selanjutnya dipakai rekan Jacyco Cikarang. Tampak berdampingan dengan frame Cozmic CX 1.0 2007 warna biru. Habis foto ini semua jeroannya berpindah ke frame baru.

Komentar (8) »

IPDN Trip: Gadog – Rindu Alam dalam Kabut Tebal (part 2) Tmn Safari – RA

Lanjutan dari bagian pertama

Setelah pitstop sebentar 15 menit (katanya MBah udah nungguin 30mnt di dpn saya) berangkat lagilah kita. Terlihat cuaca mulai berkabut. Seperti biasa Mbah mempersilakan saya duluan, dan hanya bertahan sekitar 1km lalu “the red devil” segera ngacir meninggalkan saya menyanyikan dua lagu favorit: “naik naik ke puncak gunung” dan “row-row-row your boat”. Malah sekarang ditambah dengan dendangan baru: dzikir dan shalawat hehehe… Kalau kedua lagu itu tak lagi mempan.

(Kabut mulai menemani)

redevil
(dikejar setan merah)

Hanya 15 menit dari start kedua di taman safari hujan turun deras, di tengah kabut. Make jas ujan, sekalian ambil pitstop illegal lagi.

illegalstop
(Pitstop illegal)

MBah sudah tak tampak, sampai kemudian ada yg panggil2 teriak dari pinggir jalan. “Ban ku kempes dua-duanya depan belakang” kata MBah. Ya ampuuuunnnn… Ini angkot mana yg sirik nggak dinaikin jadi deh kena paku langsung dua ban gitu. MBah cuma bawa satu ban cadangan, saya bawa tapi yang pentil besar. “Tok, kamu sendiri saja keatas, nanggung udah sampe sini” ya ampuuunnn kenapa jadi merinding saya denger perintah itu. Tapi untung segera muncul ide cemerlang: menambal ban sendiri di tempat. Untuuungg bawa penambalnya.

gantiban
tamball
(Pak Rektor ganti profesi jadi tukang tambal ban)

Setelah tambal ban saya baru memperhatikan kalau kita sudah mulai masuk kawasan perkebunan teh. Cihuiii… Entah kenapa semangat muncul membara kembali. Seperti mendapat second wind. Apalagi saat kabut semakin tebal, suasana yg sendu, jarak pandang 5m-an, membuatku semangat. Meski PAK Rektor kembali sudah menghilang didepan, saya tidak lagi perlu menyanyi-nyanyi. Kaki rasanya enteng banget. Otot2 yang tadinya pegel sudah jadi tak berasa apapun, mati rasa kali.

Lalu terdengar adzan Dzuhur. Aduh indah sekalii… Saya sampai teriak2 sendiri. Saya segera membayangkan masjid Atta’awun itu sudah dekat. Pas iqomat saya pas melewati depan masjid itu. Saya teriak2 sendiri lagi kayak orang gila. Segera kemudian angin kuat mulai menerpa dari arah atas, jadi kita udah gowes nanjak ditahan angin lagi. Saya jadi ingat pengalaman naik gunung yang biasanya kalau sudah mendekati puncak akan banyak angin. Makin semangat saya…

spinner
(energic spinner)

Sempat berhenti di gerbang telaga warna untuk foto-foto. Kaki udah mulai berontak sih, tapi semangat sedang tinggi, cuma sayang saja pemandangan indah berkabut ini kalau sampai terlewat diabadikan.

kabut
ipdn berkabut
(Di gerbang telaga warna)

Gak terlalu lama setelah start lagi segera terlihat restoran Rindu Alam di sebelah kanan. Aduh. Perasaan campur aduk, genjot tambah semangat. Puncak Pass tak lama lagi…

Cihuyyyy….
Akhirnya lulus deh matakuliah ini!! Perasaan excited campur aduk sampai kucium itu sepeda Kanjeng Kyai Cozmic…

Disambut Pak Rektor yg pesanan sate kambing nya sudah mateng.

awas rem
(Puncak pass 1484m dpl)

bersama pak rektor
(Dapat nilai ‘lumayan untuk pertama kali’ dari Pak Rektor)

Pas akan turun Pak Rektor bersabda, “Karena baru pertama kesini aku recommend kita turun lewat onroad saja Tok, biar kamu bisa melihat kehebatanmu sendiri”. Wah merinding saya dengernya…
Semakin merinding waktu turun melewati jalan onroad dan melihat dari arah sebaliknya jalan menanjak yang sudah kita lewati…

Mind over body kata Oom Rivo. Kekuatan pikiran dan semangat mengalahkan batasan kekuatan fisik!!

Foto2 ada di http://1pdn.multiply.com/photos/album/12/Turunan_RA_-_GAdog

Komentar (4) »

IPDN Trip: Gadog – Rindu Alam dalam Kabut Tebal (part 1) Gadog-Taman Safari

Setelah membaca cerita Nota dan melihat foto2 perjalanan IPDN di Dieng, saya jadi makin penasaran dengan nanjak on-road bersama IPDN. Terusterang sebelumnya nanjak on-road, apalagi di daerah ramai lalulintas seperti Puncak, tidak terlalu menarik buat saya.

Kanjeng Kyai Cozmic masuk ke si macan, dan dihari selasa yang lucu ini kami ke Gadog Ciawi, sampai dalam 90menit menyetir dari Cikarang. Segera kubuka bekal makan pagi, “Roti Gembul” dari Bandung. Ada lima seplastik, dua lagi kuberikan ke kakek pengemis tua yg tampak memelas dan kasihan sekali, “Belum makan…” Katanya, tak terdengar suara, hanya kubaca gerak bibirnya saja.

Jam 8 pagi parkir di Gadog. Sms dari MBah Rektor mengabarkan kalau beliau kena macet. Ini adalah sms kedua dari bliau, tadi pagi subuh sms pertama berbunyi, “Heavy rain… jalan terus…”. Memang cuaca pagi itu ‘pesimistic’ banget: mendung, redup. Sepanjang malam hujan tak berhenti, dan pagi itu pun sepanjang perjalanan dari Cikarang ke Gadong juga hujan terus tak berhenti. Jadi suasananya sendu. Tapi kapan lagi coba bisa dapat kuliah khusus begini. Imagine? Kuliah langsung diberikan oleh Pak Rektor IPDN secara privat??

Siap2 sepeda. Sempat kagum dengan perlengkapan yang dibawa MBah Rektor di mobilnya.. sampai stand u-lix pun dibawa!! Sepeda yang bersih kinyis-kinyis sampai terlihat kecemerlangan chrome sprocket-nya itu segera disemprot rantainya dengan ‘chain lube’. Saya intip tas punggung cuma berisi wind breaker, “buat turun nanti To, dingin” katanya. Bidon satu, beda banget sama saya yang sudah ketagihan minum, dua botol 1/2 liter di frame dan satu liter di hydropack.

Berangkat juga… Pak Rektor mempersilahkan si praja duluan. Baru 500 meter berjalan menghadapi tanjakan terjal pertama itu RD sudah berbunyi, ‘ clap-clap-clap bleteak-bletek-bletak”. Aduh!! Berhenti deh kita. Dengan sedikit test dan coba-coba Pak Rektor memberi komentar singkat, “RD-mu Tok…”. Iya emang ini RD yang aslinya dari sepeda WimCycle Roadchamp, sudah saya siksa dengan medan: sukamantri, rindu alam, JJ, JPG, Cioray. Belum lagi dipake NR Jumat malam dan XC Cikarang Minggu Pagi dan b2w tiap hari dari Juli 2007. Udah lewat break-even nya kali ya?? Alhasil karena spring RD lemah, sampai akhir perjalanan ini saya cuma bisa pakai gear depan kedua, tidak bisa dapat bonus gear depan terkecil… Ampuuunnn… Kombinasi gear yang saya pakai: gear depan tengah, gear belakang antara 8-9 lalu kadang turun ke 6-7 jika ada ‘bonus’ jalan agak melandai.

1
(spinning)

Di bagian 5 km paling berat ini jika sudah suntuk mengayuh, saya akan menyanyikan dua lagu favorit nanjak hehe.. “Naik-naik ke puncak gunung” kalau masih bosan juga lagu “row-row-row your boat..” hihihi…

Hanya sekitar 1 km lebih sedikit Pak Rektor bisa sabar menemani saya di belakang. Langsung bliau gatel dan segera melaju kedepan. Buat saya 5km pertama adalah bagian paling berat. Paha masih tersiksa karena gear depan kedua memberikan beban power lebih. ‘Memorize pedalling’ juga belum lancar, masih terkaget karena medan yang menanjaaaakkk terus. Namun setelah melewati 5km, melewati pasar Cisarua, saya sudah mulai bisa menikmati tanjakan demi tanjakan. Yang terutama adalah secara mental sudah tidak heran lagi menghadapi medan yang nanjak tiada henti.

Saya teringat dan termotivasi cerita rekan IPDN Nota yang strugling dengan gear juga saat nanjak Gadog-RA. Bliau juga mengambil banyak ‘illegal pitstop’ alias pitstop liar. Saya juga ‘terpaksa’ menjalani satu pitstop liar di km 9.9, di tanjakan Cibulan.

2
(foto pitstop ilegal cibulan)

Nyesel juga pitstop disini, karena cuma 100 m kemudian sudah menunggu Pak Rektor di pertigaan Taman Safari… Cihuiii… pitstop legal… Tapi kalau saya tidak ambil pitstop itu mungkin saja saya sudah kraam. Kaki sudah kaku dan pegel sekali. Nyut… nyut… di paha

3
(angkot tidak laku)

bersambung ke bagian kedua….
foto-foto ada di multiply IPDN http://1pdn.multiply.com/photos/album/12/Turunan_RA_-_GAdog

Komentar bertahan »