Arsip untuk Januari, 2008

halaman rumah

Saat menulis post ini diluar sedang hujan, tidak terlalu deras tapi cukup untuk memberikan efek gemericik air turun dari genteng. Angin tidak terlalu kencang, tapi sejuknya angin sore membuat susananya (bahasa mas Totty) nuansamatik puoolll.

Jendela kamar tidur langsung berhadapan dengan taman berukuran sekita 2×3 meter. Sejak kami menempati rumah ini th Feb 2001, kami memang sangat mengusahakan untuk tetap memiliki ruang terbuka hijau seluas mungkin. Luas tanah rumah ini adalah 135 luas bangunan 54. Dan baru dua bulan lalu kami memperluas dapur ke belakang, nambah sekita 2,5×2,5 meter.

Setiap orang yang berkunjung, terutama orang tua kami, selalu mengusulkan untuk menambah bangunan, memperluas, menambah ruang, menutup, dll. Selalu dengan halus kami tolak. Ya itu, karena kami ingin memiliki halaman yang hijau. Halaman yang bisa menyerap sendiri air dari langit dan atap. Sebisa mungkin lah air yang jatuh di area yang cuma 135m2 ini tidak perlu memberi beban resapan tambahan pada alam.

Saat pertama menghuni rumah ini, rumah ini adalah rumah yg pertama dihuni di jalan dpn rumah. Kami membangun pagar, dengan brc steel, sehingga waktu itu tampak pagar kami menjorok maju mendekati jalan. Saat ini rumah kami terasa menjorok kedalam karena pagar, ruang tambahan, garasi, dll rumah tetangga sudah maju. Taman depan rumah kami jadi cerukan hijau diantara belantara tembok. Kalau koleksi 8 macam bunga sepatu sedang giat berbunga wah eksotis sekali halaman kami.

Halaman belakang juga kami yang pertama membanguntembok keliling. Saat akan pindah, tidak ada satupun tetangga belakang yang sudah dihuni rumahnya. Semuanya semak belukar dengan batas tembok setinggi dada. Tembok belakang kami jadi pelopor, bahkan saya harus pasang kawat berduri juga untuk keamanan. Sekarang sudah full. Halaman belakang kami yg juga penuh tanaman, dikepung oleh bangunan tembok tinggi. Masif. Lagi, halaman belakang kami serasa seperti ceruk hijau oase. Tadi pagi saya sempat tertegun melihat sepasang burung yg warnanya kuning indah, paruhnya kecil tapi panjang, tampak ‘berdiskusi’ di pohon belakang rumah. Beautiful moment walaupun saya tidak pernah sukses birdfeeding di kebun belakang.

Ok, cukup kayaknya. Lagi melankolis menikmati gemericik air jatuh ke tanah dan dahan di suatu sore yang sejuk.

Komentar bertahan »

Kisah sebuah sepeda Phoenix

Ini kisah agak pribadi, yg mungkin bisa menjelaskan kenapa saya sangat menikmati hobby sepeda sekarang.

Jadi di awal 70an, sepasang suami istri sangat excited krn akan dikaruniai seorang anak. Menjelang akhir masa kehamilan, seperti biasa mereka harus ke dokter kandungan, periksa rutin. Maklum ini putra pertama jadi mrk sangat ekstra hati-hati. Apalagi sang calon ibu pernah mengalami riwayat keguguran sebelumnya.

Seperti umumnya awal 70an di Jogjakarta, kendaraan yang umum digunakan kemana-mana adalah sepeda. Menghadapi masa akhir kehamilan, dan mengingat kondisi sepeda butut yang tiap hari digunakan ke kantor (beliau bekerja sebagai pegawai Kantor Pos) rasanya sepeda butut ini tampak ’sangat tidak pantas’. Sang calon ayah memutuskan untuk meminjam sepeda yang jauh lebih bagus kondisinya. Kebetulan Kantor Pos Besar Yogyakarta barusaja memperbaharui armada sepeda-nya dg sepeda ber-merk Phoenix keluaran terbaru. Sang calon ayah yg bersemangat ini merasa perlu tampil ‘lebih pantas’ saat mengantar istrinya memeriksakan diri ke dokter. Maklum, awal 70an dokter belum banyak, berkunjung ke dokter termasuk kegiatan yg agak asing, istimewa, dan berbau elit menurutnya.

logo

Berangkatlah pasangan berbahagia ini ke dokter di suatu sore, dengan menunggang sepeda Phoenix yang masih ‘kinyis-kinyis’ (mengkilap karena baru -red). Rasanya makin lengkap saja excitement dari kunjungan mereka ke dokter kali ini mengingat sang bayi akan lahir 1-2 bulan lagi.

Dokter berkata bahwa kandungan sehat, malah beliau rela memberikan vitamin2 milik pribadi keluarganya, untuk menjaga kondisi kandungan tetap sehat sampai saat melahirkan tiba. Pasangan muda ini sangat bahagia, mereka juga sangat terharu dan berterimakasih atas kebaikan hati Pak Dokter. Mereka ingin suatu saat anak yg ada dalam kandungan ini menjadi dokter yg baik, penderma, dan suka menolong seperti ini.

Saatnya pulang dengan suasana gembira, senyum merekah lebar di mulut calon ayah dan ibu baru ini. Sayang senyum itu hanya bertahan sampai tempat parkir periksa dokter. Sepeda Phoenix pinjaman dari Kantor Pos, yang masih mengkilap kinyis-kinyis baru itu lenyap. Hilang digondol maling.

Akhirnya sang calon ayah harus rela gajinya ada potongan tambahan tiap bulan selama lebih dari setahun untuk menukar sepeda milik kantor yang hilang ini.

speda

Kembali ke 2008. Sabtu lalu saya melihat di Toko Sepeda Yer**ho Kramat Jati ada sepeda Phoenix, warna hijau, versi retro 70an ini, masih baru kinyis-kinyis mengkilap baru datang dari RRT. Harganya? 5juta rupiah kata Nci’ penjualnya. Buset! Lebih mahal dari fullbike Cozmic CX 2.0 !!!

Pasangan suami istri yang kehilangan sepeda di cerita diatas adalah Bapak-Ibu saya. Anak dalam kandungan di cerita diatas adalah saya. Semua cerita diatas adalah cerita nyata, dan Bapak-Ibu baru menceritakannya kepada saya sekitar sebulan lalu, saat mereka melihat saya sangat menikmati bersepeda dan selalu elus2 sepeda saat berkunjung ke rumah mereka.

Sepeda Phoenix ini langsung jadi ‘whish-list’ sepeda yang akan saya miliki nanti.

Ternyata ada yg menulis dengan ‘gusto’ ttg sepeda Phoenix ini…
http://cakrawalaindah.wordpress.com/2007/02/22/phoenix/
sekalian saya kutip juga foto2nya dari blog diatas untuk post ini…

Komentar (21) »

Perkenalkan: Polygon Cozmic CX 1.0

Tahun baru 2008 dibuka dengan merakit sepeda ke frame baru. Bisa dibilang ini adalah sepeda ketiga saya:

(1) Houston Kuning-Orange
(2) Wimcycle RoadChamp
(3) Polygon Cozmic CX 1.0

Sebenernya sepeda ketiga ini bukan dibeli fullbike seperti sepeda pertama dan kedua. Sepeda Cozmic ini beli bekas frame dan seatpost-nya saja, semua jeroan sepeda WimCycle (yg sudah diganti juga jeroannya) berpindah ke frame Cozmic.

co1
(Foto frame baru di sebelah sepeda lama)

c02
(Foto Polygon Cozmic CX 1.0 per 13 Jan 2008 dengan wheelset-onroad)

c05
(Foto Polygon Cozmic CX 1.0 per 6 Jan 2007 dengan wheelset-offroad)

c04
(Bagian handlebar Cozmic, masih mempertahankan gaya race yg pakai flatbar dan bar-end)

Spec Si Cozmic
Frame: Polygon Cozmic CX 1.0 size 18
Seatpost: Bontrager ACC Carbon Race X Lite
Seat Clamp: Zoom
Saddle: Ex WimCycle Roadchamp
Bottom Bracket: Generic Taiwan
CrankSet: Plastic Ex WimCycle RoadChamp
Bottle Cage: TopPeak
FD: Shimano Deore
RD: WimGear Ex WimCycle RoadChamp
Shifter: 3×7 speed Epoch Ex WimCycle RoadChamp (rotating grip type)
Brake Lever: Logan Ex WimCycle RoadChamp
Handlebar: Flatbar FSA XC 180 Alloy
BarEnd: Borla
Stem: Generic Alloy
Cyclo: CatEye Enduro 8
Spion (for b2w): CatEye BM300 Bar End type
Brake: Shimano V-Brake non series
Fork: Manitou Axel Elite 100mm Travel
Fender: TopPeak

Wheelset#1 Onroad
Rim+Spoke: Standard WimCycle RoadChamp (aluminium)
Hub: Formula 36H
Tyre: IRC ex WimCycle RoadChamp 26×1.9
Freewheel: 7-speed black ex WimCycle RoadChamp

WheelSet#2 Offroad
Rim: Mavic X221 36H
Spoke: generic blue
Hub: Shimano Ceterlock non-series 36H
Tyre: Schwalbe SmartSam 26×2.1
FreeWheel: Silver Generic 9-speed

Jadi ini sepeda sudah bukan lagi full bike WimCycle karena sebelum upgrade frame sudah banyak sekali parts yang diganti, terutama setelah trip sukamantri di Nov 07.

Oya karakter yg dibentuk dari sepeda ini adalah agressive XC hardtail. Ada unsur race-uphill karena memudahkan untuk nanjak pakai flatbar dan bar-end.

Ok, demikian perkenalan dengan sepeda baru. Semoga langgeng dan tidak cepat bosan hehe…

[notes added June 2009]
Ini adalah catatan versi akhir dari Cozmic http://antoix.wordpress.com/2009/06/10/the-last-incarnation/

Komentar (5) »

GPMB 2007: kesan saya (jilid 2)

Setelah menulis kesan saya…. saya kok baca lagi ada yang terlewat, jadi bikin jilid keduanya, yg ini lebih ke arah non musikal.

Salah satu yang mengagumkan saya dari GPMB kemarin adalah, kembali, selalu, konsep penampilan/show concept-nya Garuda Flight DC. Terutama finale-scene-nya itu, pas itu guard cowok memanjat pagar kawat lalu mengibarkan bendera… BUSET!! Saya yang nonton dari samping saja terkagum-kagum dengan ide-nya, dan mengalami ekstasi sampai teriak2 dan berdiri menyambut finale yang luarbiasa ini. Setiap saya menonton Garuda, saya selalu melihat hal seperti ini, memang.. saya tidak menonton GPMB setiap tahun, tapi kayaknya kejutan Garuda bisa jadi alasan buat nonton rutin lagi. Sayangnya di Garuda display dan brass-percussion section-nya terasa seperti ‘menempel’ pada penampilan utama dengan vocal point ada di guard-section. Tidak sempat memperhatikan saya apakah ini karena brass-percussion-nya tidak bisa ‘mengimbangi’ level pernampilan guard section? Atau malah guard section-nya yang terlalu menonjol sehingga mengganggu keutuhan penampilan band? Atau jangan2 saya saja yang sejak horn up sudah merhatiin guard-section-nya terus, karena memang sudah punya ekspektasi lebih dari mereka hehehe…

Kejutan ‘Pagar’ Garuda ini menurut saya selevel dengan kejutan yang ditampilkan saat solois Tridinanti ‘menghilang’ juga pas snare section PKT berganti baju saat memasuki ‘lorong’. Itu GPMB tahun berapa ya? Yang jelas saya sulit lupa.

Hal lain yang juga baru saya rasakan setelah seluruh penampilan selesai adalah saya tidak lagi melihat level skill drill (execution ataupun design) seperti yang ditampilkan PKT saat terakhir saya lihat mereka. Kalau kita menonton PKT saya merasa seperti melihat yang berbaris di lapangan itu seperti bukan orang, seperti robot yang sangat rapih-jali to the extreme. Langkah2nya ketat namun seragam sekali, lalu ini didukung oleh drill-design yang sangat ‘mengalir’ aduh saya tidak terlalu pandai dan tidak mengerti istilah teknis-nya. Menurut saya semua penampil final GPMB 2007 tidak ada yang mencapai level drill-perfection seperti PKT. Walaupun sebenernya model cara berbaris seperti itu tidak terlalu saya sukai dan dimata saya sangat kaku, namun entah mengapa saya merindukannya di GPMB 2007, dan tidak menemukannya, bahkan di Semen Gresik pun yang paling rapih barisnya.

1
(foto SemenGresik, pemenang GPMB07 diambil dari http://www.trendmarching.or.id )

Komentar (4) »

Be prepared….

Dikutip dari tulisan Pak Rovicky, salah satu panutan nge-blog saya…
http://tempe.wordpress.com/2008/01/12/si-bejo-kata-pak-bijak/

Apa kata wong-wong sukses lainnya :
I am a great believer in luck, and I find the harder I work, the more I have of it – Thomas Jefferson
Luck is believing you’re lucky – Tennessee Williams
Everything in life is luck – Donald Trump
Those who have succeeded at anything and don’t mention luck are kidding themselves – Larry King

Saya pernah dengar kita tidak hanya perlu luck..
Jika ada kesempatan kita tidak memanfaatkan, lewatlah dia…
Jika kita mau memanfaatkan kesempatan tapi kita tidak mampu, lewat juga lah dia…

Intinya persiapkan diri untuk menghadapi expanded possibilities…
Just be prepared

Komentar bertahan »