Arsip untuk Januari, 2008

Trip IPDN Cioray (bag 2): Nikmatnya Nanjak . . .

Cara menuju titik start ada di bagian pertama…

Trip ini menyeberangi kawasan CiOray, Gunung Putri, Bogor. Jalur yang diambil adalah: Jalan Raya Gn Putri – Klapanunggal – nanjak ke Kampung Cibuntu – Cioray

Titik start berupa persimpangan dari jalan onroad menuju jalan ke galian batu kapur, Saatnya offroad dimulai. Kita melewati jalanan tambang galian batu kapur yang dilewati truk pengangkut. Sampai di site penambangan, senyum banyak merekah dari para anggota trip ini. Disinilah saat yang baik untuk mendapatkan background bagus. Ambil fotoo…

start
naris
(foto2 narsis diatas batu)
senyum
(saya jarang lho nampang begini hehe)

Selanjutnya kita memasuki pedesaan disambut oleh anak-anak kecil yang ramah melambaikan tangan. Rupanya desa ini masih jarang dilewati orang asing? Setelah pemanasan dengan beberapa tanjakan dan turunan kita sampai di pitstop terakhir di peradaban. Inilah warung terakhir. Kita isi bekal air dan minum teh panas manis sebentar.

anak
(foto anak kecil, “dadaaahhhh… mister…”)
warung1
warung
(foto2 di warung terakhir)

Tampak tanjakan pertama setelah warung sudah menunggu dengan mesra. Sebagai praja junior IPDN (Ikatan Petjinta Djalan Nandjak) saya sudah diiming-imingi bahwa track setelah ini adalah semua isinya kenikmatan menanjak, tidak ada lagi turunan. Seperti juga member IPDN yang lain, seluruh tim tampak sukacita bahagia menyambut rangkaian kenikmatan yang akan segera hadir. Memang ada beberapa komentar menyedihkan, katanya “Tanjakan sampai puncak cuma dua jam kok..” Huuuu… penonton kecewa… Udah jauh2 ke Citeureup masak cuma dua jam nanjak?

tanjakan1
(ini medan jenis pertama)

Bagaimanapun the show must go on. Mulailah segenjot demi segenjot, para pecinta jalan nanjak ini menjalani hobby menyenangkan ini. “Ini tanjakan neraka, technical sekali..” kata MBah WTT, Sang Rektor IPDN sambil memimpin didepan saat kami kebingungan di sebuah pertigaan, rupanya belok kanan. Dan ini adalah kebingungan kami yang terakhir tentang jalan. Setelah ini tidak ada lagi persimpangan atau belokan jalan. Hanya satu jalan penuh kenikmatan menanjak sampai ke kampung Cibuntu. Huraayyy…

Track berikutnya adalah bergantian antara tanjakan landai yg gowesable, tanjakan menantang yang kadang harus terputus, dan tanjakan super yang ungowesable. Ketiga macam kenikmatan itu kita nikmati bersama, tim sembilan orang: Rektor, Purek, Dosen dan Praja. Secara umum track adalah doubletrack jalan yang dibuat dengan susunan batu kapur, sementara lingkungan sekitar jalan adalah perbukitan kapur yang gundul diselingi tanaman yang bersusah payah tumbuh di tanah yg nyempil diantara bebatuan kapur. Gak heran kalau ular pasti banyak sekali disini, sekilas saja tampak bayak celah dan gua kecil di sekitar jalan diantara bebatuan. Rupanya semalam habis hujan, temperatur panas sekali (‘dekat neraka’ kata seorang dosen), sepanjang track full nanjak ini medan berganti secara cukup siginifikan.

teduh1
(jarang banget daerah teduh begini)

Jenis tanjakan pertama adalah batu kapur disusun namun dengan diselimuti tanah lumpur diatasnya. Tanah lumpur ini cuma sedikit tidak sampai menutupi batu kapur, sehingga tanjakan jenis ini kalau digenjot akan sangat mudah slip ban belakang. Beberapa praja muda yang baru pertama menempuh rute ini sampai tergirang-girang menghadapi kenikmatan jenis tanjakan spesifik ini. Ada seorang praja yang saking semagatnya maju dan gowe paling depan mendahului rombongan, lalu kita lihat ada rumput/semak bergoyang dengan keras di depan. Rupanya saking excitednya sampai rela mencium track. Praja muda ini sukses memeluk bumi dengan tulang kering menyentuh crank terlebih dahulu. Meringis penuh nikmat, daripada sakaw seorang Dosen segera menyemprotkan ‘pain killer’ ke kakinya.

(tambahin fotonya Bayu dari kameranya Oom Oni, note: belum di upload)

Jenis kedua adalah jenis tanjakan yang semangkin tajam sudutnya. Sangat amat jarang kami bisa menghabiskan kenikmatan menanjak yang disediakan oleh alam ini secara tuntas. Umumnya sebagian besar dari kami hanya melahap dengan nikmat sampai kehilangan keseimbangan atau kehabisan power, lalu terpaksa dilanjutkan dengan TTB. TTB semata dilakukan untuk dapat menemukan area berikutnya yang sedikit saja menyisakan kelandaian untuk mulai genjot lagi. Begituuuu… terus.
Sebenernya dengan kondisi kering, jalur ini 95% are gowesable; sayang kelembaban batuan kapur yang tinggi dan pemilihan ban yang kurang tepat menjadikan seringnya beberapa peserta harus TTB di 1/3 terakhir pada setiap tanjakan2 nikmat; ban menjadi mudah sekali slip.

Tanjakan jenis kedua ini sudah benar-benar didominasi oleh tumpukan batu, sangat jarang ada tanah ataupun lumpur diatas track, mungkin lumpur sudah terbawa hujan kebawah dan akan jadi banjir di jakarta/Bekasi. Tanjakan jenis ini tentusaja memberikan kenikmatan yang semakin lebih kental kepada para civitas akademika IPDN, saking enjoy dan excited-nya ada yang tertawa sendiri, menyebut nama Tuhan, berteriak, atau hanya menikmati sambil menitikkan keringat dingin terus-menerus berusaha genjot dan lihat headset masing-masing.

Buat saya yang masih status praja junior paling muda di IPDN bagian ini adalah bagian menguji batas diri saya. Saya jadi mengerti mengapa HARUS mencintai tanjakan disini? Ya iyalah.. masak balik kanan sendirian, ojek apalagi angkot tidak ada disini!! Jangankan angkot, manusia lain aja sangat sulit ditemui di daerah sini. Sementara para senior, Dosen, Purek dan Rektor tampak sangat menikmati skill dan power yang sudah mereka miliki. Inilah track yang bisa mengeluarkan semua kemampuan handling sepeda di tanjakan offroad berbatu.

diri
(foto track)

Bicara cara menikmati tanjakan, ternyata ada rekan yang sampai harus tegang otot-otot kakinya!! Otot kaki tiba-tiba keras dan terasa sakit sekali. Oya, “Pain is your friend” berlaku sekali di civitas academica IPDN. Makanya kemana-mana pak Purek selalu sedia Pain Killer heheh… Karena dia (pain) pasti datang.

Semakin keatas pemandangan semakin indah, tanjakan semakin ngacir. Jenis tanjakan sudah masuk tanjakan super yang Cuma bisa sebentar saya gowes, langsung TTB. Sampai akhirnya kita disuguhi (tumben) sedikit turunan bonus. Disekitar lembah kecil ini ada pepohonan kopi, jauh lebih teduh dan terasa penuh oksigen dibandingkan track yang sudah kita lalui. Rupanya inilah pitstop resmi kebun kopi.

kopi
(foto pitstop kebun kopi)

Sambil menunggu anggota tim re-group, saya sebagai praja junior dapat banyak wejangan dan kuliah menanjak, posisi badan saat menanjak, gear yang cocok buat menanjak, kenapa hardtail buat menanjak, dll. Wah, inilah rupanya yang disebut kuliah umum. Sambil kongkow kita kuliah nanjak dari dosen2 dan Purek2.

Sempat dikejutkan dengan suara mesin yang semakin mendekat. Ya ampun!! ternyata ada dua motor trail sedang speeding mendekat!! Kacau balau kocar kacir lah kuliah umum yang dilaksanakan sambil selonjoran di jalan berbatu itu. Gak berani lah masuk keluar jalan dikit, rasanya dimana2 semak pasti tempat ular bersemayam, sesuai namanya Cioray.
Cioray => Ci = Sungai/desa Oray=ular
Cioray/Snakeriver

ttb
ttb2
(TTB deh…)
jahanam
(tanjakan longsor jahanam)

Kenikmatan menanjak lalu kita lanjutkan dengan peringatan salah seorang Purek, “Ntar kalo tanjakannya dah nggak habis-habis, berarti udah mau sampai puncak”. C’moonnn… katanya tadi najak cuma dua jam? Sekarang udah hampir tiga jam kita nanjak kok belum ada tanda2 seperti disebutkan diatas?

Akhirnyaaa… sampailah juga kita di jembatan kayu, lalu sungai kering yang segera diikuti dengan banyak vegetasi tanaman dan berubahnya medan menjadi tanah dan agak melandai. Fuih!! Katanya inilah puncaknya. Di sekitar puncak tampak ada rumah penduduk lengkap dengan sapi peliharaannya. Buset, rumah ditengah hutan begini?

Baru seteguk dua teguk minum, BRESSS!!! Cuaca yang tadinya panas berubah hujan!! Kocar kacir kita. MBah Rektor segera bertitah, “Lanjutkan genjot, warung sasaran sudah dekat!!”.

Medan selanjutnya adalah jalan tanah doubletrack yang naik turun. Memang tidak semuanya tanah sih, ada juga diseling beberapa kali batu kapur masih muncul. Rumah penduduk di kiri kanan jalan juga makin sering terlihat. Turunan juga makin sering menyapa meskipun tetap banyak juga tanjakannya.

Ini adalah pengalaman pertama saya offroad dalam hujan deras. Jika selama ini kita sering genjot sepeda melewati ‘jalan air’ yang menjadi semacam singletrack, di track ini saat hujan itu jalan air penuh dengan air. Mau nanjak mau turun. Seru saja, berjalan bersama air. Sampailah di suatu tanjakan tanah yang panjang dan tanpa henti. Energi saya sudah habis. Sadel saya peluk handlebar saya arahkan lurus kedepan, mata melihat ke tanah hanya memperhatikan kaki langkah demi langkah maju saja, yang penting tidak terpeleset. Beruntung saya melewati tanjakan terakhir ini dengan selamat, karena ada rekan yang melihat beberapa kalajengking hijau melintas menyeberang sampai harus terlindas ban sepeda.

warung1
(foto warung)

FOAAA… Sampailah kita di warung Mamang, kampung Cibuntu.

lanjut ke bagian ketiga…

Komentar (4) »

Trip IPDN Cioray (bag 1): Menuju Titik Start

Panas dingin semalaman menghadapi trip kedua saya bersama IPDN ini. Trip pertama, ke Sukamantri, benar2 membekas di kenangan saya, termasuk bagaimana rim sepeda bisa peyang dan sepeda sampai goyang inul pas turun onroad ke bogor. Sudah jauh lebih pede sih dg sepeda sekarang, tapi tetap saja, seperti orang mau ketemu pacar aja, deg-deg-an gak keruan. Padahal mestinya kan ngikutin ilmu Sam Hill, tidur jam 9/10 malam sebelum lomba (halah!!)

Berangkat, memanjakan diri sarapan di McD Hero Padjajaran Bogor, langsung meluncur ke Citeureup. Untung tujuannya sederhana, cari Ramayana buat ngikut parkir. Huaduh, ramayana blom buka!! Ya iya lah, jam 7 pagi gitu loh! Setelah ngocol membual sana sini sama pak satpam dan menyelipkan tanda persahabatan ala Indonesia (salam tempel) akhirnya mobil parkir manis dan mulai unload sepeda. Halah! mana Oom Lilik katanya nunggu di Gunung Putri lagi. Semua nama ini kan saya blom pernah lewat samasekali! Akhirnya tapi ketemu juga pas onroad di Gunung Putri, ternyata Oom Oni dan Oom Lilik saya pernah ketemu pas di Sukamantri. Onroad ke polsek Klapanunggal kami disuguhi turunan dan tanjakan yg mayan heboh juga di skitar jembatan. Hmm. Mayan buat pemanasan.

0713
(0713 si macan parkir nyaman)

Ternyata Polsek pas disebelah Korem dan Kodim, Jl. Raya Narogong KM 15.5 Klapanunggal

Setelah standby bersama Oom Oni dan Oom Lilik akhirnya lewatlah serombongan pesepeda ngebut!! Buset kenceng banget! Akhirnya tim lengkap sembilan orang: MBah WTT, Oom Oni, Oom Iye, Oom Lilik, Oom Bobby, Oom Bayu, Oom Adit, Anto (reporter hehe). Setelah Polsek Klapanunggal (dari arah Bogor) ada pertigaan berbelok ke kanan. Jalan hotmix disambut beberapa toko kelontong kecil. Setelah membeli bekal sekadarnya, coklat wafer dibagi-bagi, minum diisi penuh, kita menuju titik start. Lho? Ini belum start?

0904
(0904 Kanjeng Kyai Cozmic sok pede nyebelahin Racie si MBah WTT)
0905
(0904 Sepeda ketemu sepeda)

Lalu kita onroad menuju titik start. Wah, excited banget saya menjalani perjalanan ini. Seru banget rasanya genjot bareng para seniors yang namanya selama ini cuma saya baca di milis-milis.

0917
(0917 Onroad menuju titik Start)
0918
(0918 BUUMMM!!! Inilah Pegunungan Gunung Putri)

Sempat kita terkaget-kaget dengan sambutan yang ‘meriah’. BUMMM!! Terdengar suara menggelegar, ternyata itu adalah dinamit untuk menghancurkan batu kapur yang ditambang di sekitar kawasan Klapanunggal ini. Buset! Kaget juga. Di kejauhan kita lihat asap membumbung… Sambutan yang seru untuk sebuah petualangan yang bakal seru.

berlanjut ke bagian kedua…

Komentar (1) »

J3 (Jalur Jacyco Jababeka) – bag3: Lumpur oh Lumpur

Lanjutan dari bagian kedua…

Setelah menjalani acara menyeberang sungai, seluruh tim tampak bersemangat dan tersenyum lebar penuh kepuasan.

http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8716_1203mejeng.jpg
(1203 berfoto bersama)

http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8718_1204speda2.jpg
(1204 sepeda berjejer penuh lumpur sungai)

Kita disambut oleh deretan hutan bambu yang sangat sejuk, memberi semangat tambahan padahal badan sudah letih dan perut mulai keroncongan.

http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8722_1208.jpg
(1208 melintas hutan bambu)

Sejak menuruni jalan menuju perahu saat melintas sungai, ban sudah menjadi donat karena lumpur. Diperparah saat melintas hutan bambu yang penuh dengan daun bambu kering. Tampaknya memang ditakdirkan bambu kering dan lumpur bakal sangat kompak. Belum cukup ternyata kita melewati ‘ungowesable track’ seperti ini.

http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8738_1234ungowesable.jpg
(1234 ungowesable, semua melipir nuntun)

Setelah sempat bingung melintasi pinggiran sungai, melewati pematang sawah, melewati pepohonan bambu lagi yang membuat ban semakin tebal donatnya, semakin berat digenjot, kita akhirnya tiba juga di kolong jembatan tol.

http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8753_1304jembatanbamb.jpg
(1304 jembatan bambu)

http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8745cozmicku.jpg http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8747_1254cozmic.jpg http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8761_1309cozmic.jpg http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8757_1309kolong.jpg
(1309 Cozmic ku yang berlumuran lumpur, v-brake oh v-brake… tampak di bag atas adalah jembatan tol dg truk melintas)

Benar-benar foto yang memberi alasan kuat kan untuk beralih dari v-brake ke disc-brake?? Sabar… sabarr…

Setelah acara pit stop lagi karena ada warung di bawah jalan tol (teduh lho), kita lanjutkan lagi genjot, ketemu pinggir kali malang dan akhirnya sampai Cikarang Baru lagi. Ini kolong tol tepatnya adalah di perbatasan antara Karawang dan Bekasi, kalau di dalam jalan tol di sebelah utara jalan tol kita lihat patung harimau (maung) yang merupakan juga perbatasan kodam Jaya dengan Siliwangi. Dari kolong tol ini satu orang anggota tim memutuskan meneruskan perjalanan dirinya dan sepedanya dengan ojek, setelah beberapa kali kraam terus.

Perjalanan yang panas, dengan perut keroncongan, mendampingi rekan yang kraam terus sepanjang kali malang, baru sampai rumah jam 1430.
Total perjalanan 57km ditempuh dari jam 0730-1430.

DAHSYAT!!

Komentar (4) »

J3 (Jalur Jacyco Jababeka) – bag 2 : Onroad dan Nyeberang Getek

Lanjutan dari bagian pertama…

Setelah istirahat di sebuah warung kita segera menjalani etape yang sangat panjang onroad. Ini adalah daerah Ds Nagasari, Kec Serang. Medan-nya berbukit-bukit jadi ya jalanan naik turun. Lalu kita masuk ke Kec Bojong Mangu. Banyak tanjakan aduhai dan disusul segera dengan turunan mesra. Menguras tenaga. Disinilah endurance benar-benar teruji karena meskipun sebagian besar tim (17 sepeda) mengaku tidak menyukai onroad, ternyata saat di jalan mereka segera dengan mudah terpecah-pecah. Yang pengen menguji speed atau yang pengen balapan segera meluncur kedepan. Mungkin bukan senang onroad tapi malah pengen onroad ini segera selesai.

1
(09:11 anggota termuda Rico, 11 tahun, didorong sabar di tanjakan oleh ayahnya)

2
(10:11 pitstop pertama)

3
4
Sempat ada hiburan kita melewati bendungan Cibeet. Jalan raya yang kita lalui melewati tepat diatas sebuah sungai besar yang dibendung jadi seperti danau.

Entah Kang Asol the road captain membawa kita kemana. Yang jelas buat saya rasanya jalur onroad ini tidak ada habisnya. Semula di sebelah kiri jalan masih tampak ada di kejauhan kompleks perkantoran Kabupaten Bekasi, namun makin lama kompleks ini makin hilang. Jadi kita benar-benar menjauh dari area Kota Deltamas/Cikarang. Kita melakukan pemberhentian, minum dan istirahat sambil re-group-ing sebanyak tiga kali. Termasuk peristirahatan onroad terakhir kita yang berupa sebuah pasar di dekat pertigaan, ada di pinggir jalan raya menuju Loji. Warung ini sangatlah ‘beradab’ dibandingkan semua peristirahat kita sebelumnya. Disini kita bisa temui biskuit (meskipun tetap tidak ada coklat) dan juga lemari es berisi pocari sweat dingin. Hhhhh… segera isi hydropack yg sudah kosong dg satu liter pocari dingin. Kalau hydropack ini habis nanti berarti saya menghabiskan 3 liter air.

5
Disini selain jauh dari ‘peradaban’, juga jauh dari sarana kesehatan yang memadai rupanya. Coba perhatikan petunjuk jalan berikut. “Mohon untuk tidak NGEBUT, disini jauh dari rumah sakit”. Hahaha.. Lucu, ironis, sekaligus sangat bijak.

Akhirnya setelah siksaan onroad yang sangat panas dan berpolusi, kami masuk offroad lagi. Seluruh tim tampak excited dan meningkatkan kecepatan genjotan. Namun segera kita disambut rekan yang kraam. Sejak titik ini sampai kembali ke Cikarang Baru (sekitar 15 km offroad) kita akan terus berurusan dengan rekan yang kraam, yang jumlahnya 3 orang. Bergantian mereka terserang.

6
Jalur onroad yang panas ini panjangnya sekitar 17km. Tim sangat bersemangat karena sudah tersebar kabar bahwa ‘tempat naik getek’ sudah dekat.

7
Sensasi Getek (sebenernya lebih tepat disebut perahu ya dari bentuknya?) adalah sensasi berikutnya… dan ini tidak mudah terlupakan. Getek ini pas di sungai yang merupakan perbatasan Kab Bekasi dan Kab Karawang.

8
9
10
11
12
14
Menyeberang dengan perahu seperti ini sama deg-deg-plas nya dengan melahap turunan panjang tanpa berusaha nge-rem. Semua tim terlihat bersemangat sekaligus ada rasa takut menjalani penyeberangan ini.

Bapak penarik getek kelarisan. Kita menjalani empat kloter dengan masing-masing kloter diisi sekitar 4-5 sepeda beserta penunggangnya. Aliran sungai cukup deras, air sungai berwarna cokelat, ini memang musim penghujan jadi ada kekhawatiran banjir atau aliran besar air tiba-tiba datang. dari lumpur yang menutup sebagian besar lereng sungai terbayang berapa tinggi air sungai ini saat kondisi banjir.

Rupanya kita jauh-jauh onroad panas-panas dan lapar ini tadi demi mendapatkan lokasi penyeberangan sungai ini. Sebenarnya jalan yang melewati jembatan sudah ada dan sudah bagus, tapi kenapa lewat yang mudah kalau ada jalan yang susah dan menantang kan?

Penyeberangan dengan getek/perahu/rakit ini adalah sensasi utama tour ini. Trip distance menunjuk 38km.

bersambung ke bagian ketiga…

Komentar (9) »

J3 (Jalur Jacyco Jababeka) – bag 1 : Sekitar Kota Deltamas

Sudah sering ikut nightride dengan rekan-rekan Jacyco (Jababeka Cycling Community) Cikarang, namun baru kali ini saya ikut acara gowes rutin mereka di Minggu pagi.

paladio
http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8508_0801palladio.jpg

Setelah meninggalkan Kompleks Cikarang Baru, menyusuri kali malang, menyeberang di Tegal Danas, akhirnya menuju Kota Deltamas, sebuah kompleks yang juga tempat pemerintahan ibukota Kabupaten Bekasi. Setelah melewati kompleks kabupaten yg masih panas karena jarang pohon, Oom Asol, yang dikenal sebagai ‘kuncen Deltamas’ menjadi road captain kita kali ini.

http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8523_0822delta.jpg

Kita segera dibawa masuk jalanan suatu kampung yang lumayan isinya singletrack jalan orang/motor. Uji keseimbangan tahap pertama diakhiri dengan tanjakan masuk ke jalan beton.

Gak sampai 100 meter jalan beton onroad kita masuk ke jalan kampung lagi, kali ini agak lebar, muat mobil lah. Segera kita disuguhi pemandangan perbukitan cikarang selatan. Uindah rek, apalagi musim hujan gini, saat semua tanaman hijau. Kata teman2 ini daerah tadah hujan, kalau kemarau gersang.

http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8544_0846bukit.jpg

Karena medan berbukit2 segera kita disuguhi turunan panjang banget, ada 1km mungkin, di bawah canopy pohon bambu. Ampuuunnn… Adrenalin terpacu untuk menahan tidak nge-rem. Kita maksimalkan kecepatan sambil waspada menebak-nebak tikungan berikutnya dibalik rumpun bambu tuh seperti apa?

http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8551_0853bukit.jpg

Track canopy bambu berakhir dengan masuk ke singletrack pematang sawah, yang berlumpur. Diujilah kemampuan rekan mengendalikan sepeda, menjaga keseimbangan, menjaga power kayuhan, sambil mengatasi kubangan lumpur. Di track ini kita ketemu dua jembatan bambu, salah satunya disambut tanjakan parah.

Sampailah di perhentian pertama, sebuah warung di tengah sawah. Warung sederhana yg sepi itu tiba2 ramai dengan permintaan2 aneh yg tidak bisa dipenuhi, “ada pocari sweat?” ” Ada xokelat silver queen?” Haha… Ini jauh dari peradaban mannn… Yang pasti ada: rokok!

Lanjut deh jalan pedesaan membelah sawah, ladang dan kampung yg berbukit-bukit. Sampai di suatu titik kita belok kekiri seperti mau masuk ke kali. Benar saja kita disambut turunan tajam lalu jembatan sempit diatas selokan/kali kecil saat kecepatan menurun sedang memuncak. Sekitarnya adalah pepohonan bambu yang teduh, tapi juga menutup jalan. Menghalangi pandangan kita sambil memberi kejutan yang menyenangkan.

http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8581_0931turunan.jpg

Kita disambut dengan tanjakan kejam yang tiada henti, di tengah perkampungan dan kebun dengan singletrack yang berkelok-kelok nanjak teruuuussss… Ditutup dengan lintasan panjang yang lurus nanjak terus. Sekitar 1,5 km nanjak berkelok-kelok. Beberapa rekan mengambil langkah bijaksana: TTB.

Sampailah kita di pemberhentian berikutnya, warung pinggir jalan beton. Inilah warung “kakek dan cucu” gara2 salah satu member bertampang oldies bersepeda di sebelah member termuda kita, Rico yg baru berusia 11 tahun.

http://antoix.files.wordpress.com/2008/01/pict8590_0946kakek.jpg

Terengah-engah puas dan lelah. Sepeda dengan V-Brake saya mulai mengumpulkan lumpur…

bersambung ke bagian kedua…

Komentar (5) »