Arsip untuk November, 2007

Trip Sukamantri Bogor (bag 4) – turun tidak selalu indah

Butuh waktu cukup lama buat menulis bagian terakhir cerita trip ini. Sampai bagian ketiga ceritanya masih seru dan indah…

Dari istirahat dan regruping di villa chintami, kami segera menuruni medan yang berubah ke batu makadam segede2 kelapa. Buset, nte Waty yg ada di depan saya cepet banget, kaya gak nge-rem aja. Saya ikutan menghajar medan ini, meski ambil pinggir karena masih kuatir sama kondisi ban.

Lalu kita masuk ke turunan jahanam itu. Seorang praja tampak berhenti dengan penuh kewaspadaan. Aneh. Sementara didepan medan turunan hampir 45 derajat yg langsung belok ke kiri. Di ujung turunan ada praja lain waspada menunggu banyak orang menonton. Medan dari adukan semen yang sudah dilapisi lumut. Licin sempurna!!

Saya turun dengan full bejek rem, untungnya V-brake jadi gak pakem amat, ban masih menggelinding pelan. Sambil saya buka rem dikit2, atur keseimbangan, lalu pilih jalan yg paling tidak berlumut. Sedang saya di tengah track sepanjang skitar 15m ini dengan cepat muncul sepeda kencang di sebelah kanan jalan, bablas menabrak pepohonan pisang dan bbrp penonton. Seorang anak kecil menangis, rupanya ketabrak.

Wah perasaan campur aduk. Ngeri liat kejadian tadi, sambil bersyukur saya melewatinya dg selamat. Abis itu nolongin sambil rekan praja untung ada yg bisa bahasa sunda halus pisan. Selamat deh kita dari amuk massa (wadooh… Bahasanya) yang anak kecilnya ketabrak sepeda.

Setelah melewati jalanan desa yang mulus, disambut lagi dengan turunan makadam. Ajrut2an saya sudah pasrah dengan kondisi ban depan. Beberapa kali memelankan sepeda, melihat2 tanaman hias.

turunalus
(13:33 Regrup siap turun full speed jalan alus)

Regrup di awal jalan mulus, kayaknya semua orang udah siap speedy karena bakal turun dan jalan hotmix. Disinilah saya tau kalo rim depan sudah peyang meskipun masih bisa jalan. Jalannya sepeda jadi goyang inul. Tak berapa lama ban kempes cepat, “psssss….”. Weleh, untung masih ada Oom Eko. Sepedaku dituntun Oom Eko. Jadilah merasakan dievakuasi angkot.

angkot
(13:40 semestinya menikmati turunan mulus malah dievakuasi angkot, salah ambil jurusan angkot lagi!!)

Sempat salah jalur angkot dan salah beli ban dalam akhirnya bisa sampai di sate Rebing juga. Makaaaannnn…

sate
(14:47 Makan di Sate Rebing, Bogor)

banku
(15:56 Please don’t try this, using this kind of tyre… Inilah pembuat gara2 semua penderitaan..)

Oke udahan ceritanya, tapi akan dilanjut tulisan: Apa itu IPDN? Dan juga IPDN-Sukamantri for Dummies

Komentar (1) »

Trip Sukamantri Bogor (bag 3) – turunnya

Cerita turun ini adalah lanjutan dari bagian kedua

drop
(12:29 area dropzone)

Dari area dropzone rekan2 yang telah sejam lebih manggul dan nuntun sepeda melewati medan ungenjotable sudah sangat excited bakal genjot lagi. Senior2 memerintahkan untuk menurunkan posisi sadel.

Seorang rekan bergumam,”wah kalo downhill gue katro’ deh…” Diucapkan dengan nada desperate. Sedih ngedengernya, karena sebagian besar malah mukanya lagi sumringah semua. Diam2 saya juga merasa katro’ serta tidak pede, plus juga gentar tidak kepayang. Selama ini downhill dengan sepeda adalah the last thing to do dikepala saya, mending 12,5km uphill penuh penderitaan deh daripada suruh downhill. Pendapat yang akan segera berubah.

Saya juga bodo banget. Buat trip ini di kepala saya, karena sangat melekatnya image “nanjak” IPDN, adalah mempersiapkan mental untuk tidak putusasa menanjak, fokuskan pada gowesa, dlsb. Ada sih sekilas cerita Oom Nota ttg part downhill-nya, tapi terusterang saya tidak membayangkan akan se ekstrim ini. Padahal common sense kan? Kalau nanjak terus naik sepeda apa gak turun naik sepeda juga? Wuakaka…

Dengan gentar saya ikut di rombongan tengah, saya masih khawatir dg kondisi ban depan, biar ada bantuan kalau kempes lagi. Saya memulainya berbekal dua tips yg pernah saya baca di majalah: (1) control speed, pelan akan lbh tidak beresiko (2) posisikan sepeda turun duluan, pantat ditarik ke belakang saddle.

Berbekal dua tips sederhana inilah saya mulai. Sambil nyontek teknik yang dipakai rekan yang lain, terutama waktu melibas turunan diantara pohon besar yang tanahnya licin dan penuh akar menyembul itu. “Ayo, sepedanya dinaikin, genjotable tuh…” Kata para senior.


(12:43 Kita kecil sekali ya dibandingkan dengan alam yang indah dan ekstrim?? Ini satu foto dari bawah, rekan yang sedang melewati bagian akar, sebelum masuk kebun nanas liar)

The rest was just excitement!!
Alhamdulillah ternyata saya sangat menikmati menuruni bukit offroad begini. Lumayan lama2 saya menikmati mengendalikan speed dan keseimbangan sepeda sambil mengukur medan. Surprisingly rem standar WimCycle ini juga bekerja baik sekali. Memang karena V-Brake, beberapa kali saya harus singkirkan potongan dahan kecil dan rumput.

Di setelah pepohonan dengan akar lewat, muncul pepohonan dengan nanas liar, lalu dilanjutkan track jalan air dengan rumput tinggi dikanan kiri. Di tengah track rumput ini saya sempet teiak2 karena excitement-nya memuncak!

Jatuh?
Ngga kehitung deh. Tapi yang parah dan sampai tertimpa sepeda dua kali. Akhirnya dengan selamat sampai di villa (yg katanya punya chintami).

Ini adalah part yg saya jarang banget ambil foto. Hehe… Keasyikan kali!

Medan selanjutnya adalah kembali ke jalanan, ceritanya di bagian keempat

Komentar (3) »

Trip Sukamantri Bogor (bag 2) – singletrack

Ini tulisan lanjutan dari bagian pertama yang cerita uphill-nya

awal singletrack
(11:29 mulanya masih bisa digowes, beberapa menit setelah single track start)

Bagian singletrack ini semula memang masih bisa digowes, tapi sebagian besar dijalani dengan TTB (tuntun bike), bukan karena kehabisan tenaga ataupun malas, tapi memang tidak ‘genjotable’. Track yang melewati sisi kanan sebuah bukit, menurun menuju sungai kecil, terdiri dari sebuah jalan setapak, yang untuk 100m pertama masih ada susunan batu, lalu dilanjutkan dengan jalan setapak dengan kanan bukit, kiri jurang/sungai vegetasinya padat banget.

canopy DJ
(11:35 Oom DJ-arot menggotong sepeda, TTB dimulai di jalan licin. Itu pohon2 berduri banyak lho)

senang
(11:36 Biarpun lelah, mumpung antri mejeng dulu. Canopynya keren kan?)

Jadi merasa beruntung udah pake baju lengan panjang. Melihat medannya terusterang sebelum mengalaminya sendiri saya ngga nyangka kalau medan begini merupakan track sepeda, wong itu perjalanan sejam lebih sebagian besar isinya perjalanan berantai sepeda dari orang ke orang. Gak mungkin deh kalo sendirian sepedahan kesini bisa lewat, pasti butuh orang lain.

hand in hand
(berantai sepeda dari tangan ke tangan, foto dari kamera Om Daniel)

Rintangannya? Batu segede gajah, pohon tumbang menutup jalan, akar-akar, tanaman berduri, jalan tanah yang licin. Di tengah track kami bertemu mapala suatu univ di jakarta yg sedang “membina” adik-adiknya.

wimku
(11:45 Perkenalkan, “WIMKU”, sepedaku Wim Cycle Roadchamp. Semua standar hanya ban ganti Scwalbe Big Jim, sepeda ini sampe sukamantri lho!! Heboooohh..)

Sempat foto2 di sungai sambil mendengar cerita senior2 yg pengalaman bersepeda dan bergunungnya sudah kemana-mana.

full team
(foto full team dari kamera Nte Waty)

Setelah melewati sungai kita naik, masih tetap kiri jalan jurang kanan bukit dan ketemu medan persis medan naik gunung deh. Ada untungnya juga kita tidak membawa sepeda sendiri, alias sepeda siapa saja yg dekat, karena kita jadi gak terlalu sayang sepeda lecet. Namanya juga sepeda gunung, kata seorang rekan.

Akhirnya setelah menanjak dari sungai kita ketemu juga drop off zone buat memulai downhill-nya.

Haaahhh???
Downhill???
Buset, terusterang saya gak nyiapin mental, fisik, dan sepeda buat downhill gini. Bersepeda ke gunung aja baru kali ini udah disuruh downhill??

Tapi aku pikir bodoh juga ya? Acara IPDN yg diinget cuma nanjaknya doang, masak aku ngga ngebayangin turunnya??? Bodoh! Ya pasti naik sepeda lah!

Pakai WimCycle Roadchamp?
Semuanya masih standar kecuali ban-nya???

Kita tunggu cerita downhill-nya di bagian ketiga

Komentar (4) »

Trip Sukamantri Bogor (bag 1) – uphill 12,5 km

Saat saya menulis ini jam lima pagi, saya baru bangun dari tidur skitar jam tujuh malam. Badan sakit semua, pegal2 dan ngilu2: paha, betis, punggung, tangan, pundak, pantat (lho? Apa yg kelewat?). Ya, seluruh badan! Benar2 serasa di-ospek!

Bermula dari baca kisah Om Nota di milis B2W ttg trip penggojlokan IPDN (ttg IPDN bisa ada cerita lagi) ke sukamantri dua minggu lalu. Wah, ngiler abis! Pesan singkat sebenernya dari tulisan itu cuma tiga: *track indah dan lengkap *kegiatan IPDN tidak seheboh citra umumnya *setiap kita pasti mampu. Saya menemukan ketiganya benar adanya, terutama yang ketiga.

kbraya
(07:32 berangkat dari bank Lippo seputaran kebunraya bogor)

Perjalanan dibagi dalam 4 pos utama untuk nanjak-nya.

ciapus
(08:05 uphill Ciapus)

(1) Bogor-Pertigaan sukamantri: tanjakan masih sopan, jalanan aspal, musuhnya angkot berenti seenaknya. Wah, belum 500m dari tempat start saya sudah harus ganti ban dalam depan. Ban kempes padahal masih di dalam kota Bogor! Ini memang dilematis karena kalau ban depan saya ganti dengan ban asli roadchamp yg khusus bwt jalanan tanah. Keputusan tetap pakai Scwalbe BigJim ini ternyata akan menyelamatkan saya di turunan nantinya. Karena ganti ban, saya jadi ikut kloter terakhir.

pos1
(08:42 pos1 pertigaan sebelum berbelok keluar jalan aspal mulus)

(2)Lalu pertigaan-warung tutup: ini adalah ujian mental dan fisik sebenarnya. Jalan berubah bertahap dari aspal rusak, jadi pasir, dan batu. Makin nanjak. Disini tante Waty dengan sabar menemani Adi yang akhirnya karena terlalu sering kram, memutuskan untuk balik turun kebawah.

japfa
(08:51 mulanya jalan masih -sopan-)
setelah japfa
(09:04 lalu menjadi sangat tidak sopan, setelah Japfa)
pos2
(09:12 pos2 warung tutup)
uphill
(foto dari kamera Oom Daniel)

(3)Warung tutup-gerbang Kujang. Pemandangan tambah indah, batu2 tambah besar sudah jarang ketemu kerikil lagi, jadi ban belakang kita sering terpeleset batu saat digenjot. Disini saya mulai membuat pitstop tambahan. Disini yang diuji adalah kekuatan stamina kita, kita sudah genjot menanjak selama hampir dua jam. Disini saya juga baru perhatikan kalau susunan speed 8gear belakang masih bisa dibuat lebih ringan digenjot naik. Gear depan udah paling kecil, belakang udah paling besar, tapi rasanya masih pengen gear diatasnya lagi, shifter dah mentok hehehe…

batulepas
(09:30 batu-kerikil uphill)
batujahanam
(09:47 batu mulai guede, ngambil napas dulu, menghibur diri sambil mejeng)
pos3
(09:43 Pos3 Gerbang Kujang Riders)

(4) Gerbang Kujang-Sukamantri. Dikenal sebagai kelok 12. Pemandangan indah diganti pohon pinus, track batu besar ditambah dengan lumut, jadi tambah licin. Disinilah saya melakukan pitstop rebahan melihat ke pohon pinus diatas. Indah sekali, jadi ingat jaman sma naik gunung. Saya juga menyerah dan melakukan TTB di dua kelokan, sebelum akhirnya genjot lagi setelah lihat titik finish.

kelok
(10:00 ambil pitstop illegal di kelok 6, stamina menipis, tinggal mental saja)
buru
(dilarang berburu lho)
sukamantri
(10:19 Nyampai jugaa… itu lho yang disebut warung tehkon)
mie
(10:42 Habis dah Mie dan dua gelas teh panas paling enak se bogor, 1,5 lt aqua masuk ke hydropack)

tepar
finish
(foto tepar di kelok 12 dan action finish dari kamera Nte Waty)

Lanjut ke bagian kedua…
(Foto2 banyak tapi belum bisa diupload, maklum dari bb nulisnya, tengok lagi saja kalau mau ditambah skrinsut-nya secara *fotografistik* agak payah, maklum sambil gowes ambilnya)

Komentar (8) »

Kelahi supporter Jogja

Barusan lihat di tivi, PSIM vs PSS, sesama klub Liga dari Jogja, suporternya tawuran.

Hhhh….

Sedih banget nginget dulu jaman sma saja gak ada satupun tim Jogja di Liga Utama.

Ayo dong…
Sami-sami piyantung Ngayoyakarto kok mawi kerah kaya mekaten?

Komentar bertahan »