Arsip untuk Oktober, 2007

Top 10 Played 23 Okt 2007

Top 10 Artists played
Tracks Artist Length File size
32 Ivan Lins 2:16:57 125.46 MB
29 Various Artists 2:07:20 115.32 MB
28 Milton Nascimento 1:35:08 116.4 MB
27 Hal Leonard Play Along 1:35:05 100.51 MB
21 Joyce 1:17:18 70.81 MB
21 Lisa Ono 1:24:43 77.6 MB
21 Ahmad Jamal 1:56:00 145.24 MB
20 Glenn Miller Orch 1:02:19 56.94 MB
18 Bad Plus, The 1:55:56 248.62 MB
18 Joe Pass 1:25:15 80.42 MB

Top 10 Albums played
Tracks Album Length File size
21 Milton Nascimento – Clube da Esquina No 1 1:03:24 87.32 MB
20 Glenn Miller Orch – The Definitive Collection 1:02:19 56.94 MB
17 Michael Buble – Live 0:58:43 67.59 MB
17 Kohler Saxophon Mafia – Lisence to Thrill 0:58:08 79.09 MB
16 Rosanne Lui – Yesterday 1:03:37 58.26 MB
15 Bad Plus, The – Prog 1:39:01 226.91 MB
15 Hal Leonard Play Along – Jazz Classics 0:55:34 50.79 MB
15 Phil Collins Big Band – A Hot Night In Paris 1:47:46 107.52 MB
14 Various – Count Basie & His Orchestra 0:45:22 41.56 MB
14 Ivan Lins – Jobiniando 0:54:52 50.27 MB

jobiniando
(foto diambil dari site wartajazz.com )

Yang menonjol dari list diatas adalah saya jadi sering mutar Ivan Lins. Ini musiknya Brazzillian. Belum banyak survey dan ngerti sih, cuma enak aja lagunya ekspresif dan menurut saya ada unsur sedikit psikedelik (melayang). Dan tentu sentuhan brazillian-nya itu yang membuat istimewa; bahasanya, ritmiknya, keseluruhan efek yang ditimbulkan. Menurut saya komposisi lagunya juga keren banget.

Salah satu hits yang dia ikut membuat adalah ‘Magdalena’

Renowned as a carioca songwriter, vocalist, and pianist, Ivan Lins recorded several albums for EMI Brasil and Reprise, as well as writing Brazilian standards. Born in 1945, Lins came to fame in Brazil in 1970 when Elis Regina recorded his song “Magdalena” for a hit

(dari allmusic.com )

Ivan Lins “Jobiniando” resensi di Wartajazz
Site Resmi Ivan Lins…

Mulai edisi Top10 bulan November ini, setiap artis yang di-feature seperti Ivan Lins disini akan di reset counter-nya jadi nol lagi. Biar seru saja, muncul nama2 lain untuk bulan berikutnya hehe..

Edisi sebelumnya
September 2007
Agustus 2007
Juli 2007
Juni 2007
Mei 2007

Komentar (1) »

Pimp My Bike

Sudah dua adik-ku mendorong2 buat segera men-cat sepeda Hybrid-Houston-Kuning ini, sepeda penuh sejarah yang menemani dan mengantar saya kuliah dulu. Alasan nostalgik inilah yang membuatku enggan mengganti cat-nya. Tapi alasan tambahan “… Ntar kalau karat-nya dibiarin akan merusak sepedanya…” Ada benernya kan? Ya sudah dicat ulang saja.

dua sepeda
(ini foto dua sepeda, sepeda kuning yg dekat kamera)

Diputuskan di-cat sendiri, pakai pilox saja. Padahal setelan sepeda-nya lagi enak banget, ini alasan lainnya kemarin2 malas mencat ulang.

Dipretelin sepeda ini cepat sekali. Gak lama dia sudah menggantung dg manis tinggal frame doang. Dicat ulang, kuning (sudah beli berbulan lalu) dan hitam (sisa cat dikAndi ngecat tas laptop). Begini nih hasil akhirnya sebelum frame di-cat.
frame

Kemarin juga udah belanja headset dan handle bar di Along. Dibela-belain melakukan 60km gowes ke Narogong. Ini dia sepeda Hybrid jadi punya muka baru.
houstonmuka

Mengecat diteruskan sejak sabtu siang sampai sore dilanjutkan dengan rakit sepeda. Sampei malam belum beres, tapi sepeda udah berdiri di kedua rodanya hehehe…
berdiri

Minggu pagi buta sudah dilanjutkan pasang fender dan jok belakang. Jam 6 pagi sudah trial genjot ke tempat Jacyco di sebelah lapangan golf. Waduh.. Ini pertama kali ketemuan di Jacyco (Jababeka Cycling Club). Waduh, banyakan ngobrolnya daripada genjotnya, tepatnya saya gak ikutan genjotnya. Paha masih menjerit2 karena sabtu kemarin diajak jalan 60km.

Inilah dia hasil akhirnya…
kuning

Komentar (4) »

Cross Country Cikarang-Setu-Narogong-Cikarang (bag2)

Ini bagian kedua tulisan lho… lanjutan bagian pertama

Dari melihat2 sepeda yang dibawa oleh rekan2 genjoters bekasi di toko Along, sebagian besar adalah sepeda bertime Cross Country alias XC. Memang mungkin bersepeda Cross Country ini paling mudah pelaksanaannya ya. Tinggal kita genjot, masuk2 kampung dan jalan2 kecil di sekitar lingkungan kita, jadi deh…

Ada juga sebagian sepeda rekan adalah sepeda downhill. Sepeda khusus untuk turun gunung saja. Umumnya sepedanya bertongkrongan besar, berat dan gagah. Suspensi depan yang travel-nya tinggi. Saya sendiri gak yakin ini sepeda ‘nyaman’ untuk dinaiki di medan jalanan sekitar rumah kita, apalagi dipakai bike to work. Waduh…

Kemarin samasekali tidak ada sepeda hybrid dan sepeda roadrace. Mungkin kondisi jalan umum yang mulus semakin padat, sehingga menaiki sepeda roadrace yang cenderung perlu space dan speed untuk menikmatinya, jadi lebih susah ya? Kasian juga para penggemar sepeda roadrace…

Dilanjutkan pulang dengan backpack yang sudah bertambah dengan barang belanjaan. Pulangnya tidak tanggung-tanggung. Karena rumah masih sekitar 20an km lagi, kondisi fisik sudah mulai menurun, perut keroncongan, ditambah panas matahari. LENGKAP !!

balsem

Meskipun jalan pulang sudah dipilih menghindari monoton-nya jalan kalimalang, lumayan juga kita lewat sekitar Pondok Hijau Permai dan Kota Legenda itu, melewati terowongan tak jauh dari perhentian KM17 Cikampek. Hhmm sensasinya lumayan. Iwo sudah mulai harus mengoleskan Balpirik ke paha dan betis. Ide menarik!

gabus1 bawaan MAKAN!!

Kita beberapa kali sempet berhenti untuk menyemangati diri dan melihat2 warung, siapa tau menu-nya menarik. Akhirnya dengan perut mengundang, kita makan di sebuah warung yang menyediakan ’sayur gabus’. Tampaknya sayur ikan gabus adalah hidangan istimewa di warung ini, cuma melihat sayur ikan yang ditambah kuah kok saya lagi malas yang bersantan dan berkuah gitu ya? Jadinya makan pepes ikan mas saja. Pakai tangan, mak nyoosss… Kata Pak Ketu, “Kayak sebulan gak lihat nasi….”

Acara genjot setelah makan ini jadi ujian paling hot. PANAS!! Rekan bertiga pakai baju lengan panjang dan lengan tambahan untuk baju, saya dengan culun-nya pakai lengan pendek. Ketahuan kemudian kalau tangan belang karena tersengat matahari. Bisa ya? Ya bisa laahh.. Genjot makin berat saja karena medan monoton banget. Meskipun halus jalannya tapi kanan kali kiri warung teruuuuusss… Tau-tau adzan dzuhur. Ampun, sudah siang ternyata!

bosen

Setelah Om Iwo belok kanan karena akan ke kantor, saya baru liat ke belakang, dan disitu tidak ada siapa2. Ampun, rupanya kami yang genjot konstan di 20-22 km/j sudah ninggalin dua rekan yang lain terlampau jauh. Memang jalur ini benar2 ujian endurance, semangat, dan uji kebosanan…

Setelah mampir Carrefour buat beli makan siang ini catatan di CatEye Enduro8
Odometer 480.8 km
Distance 59.68 km
Max Speed 34 km/j
Time of Travel 3j 24m 29dtk
Average Speed 17.5 km/j

Ini adalah Cross Country beregu pertama yang saya jalani. Sebelumnya pernah solo 80km bisa Cikarang-Bekasi-Cikarang juga disini ceritanya…
Kesimpulan?
- 60 km pas banget buat uji endurance
- berangkat sepagi mungkin, inipun sudah pagi jam 6 masih kena panas
- bawa hand warmer atau pakai sun block
- bersama rekan lain bisa saling menyemangati

Sampai di rumah, karena baru beli handle bar dan headset baru buat si kuning hibryd, juga baru di cat ulang, masih semangat untuk lanjutkan cat dan rakit sepeda sampai jadi. Ceritanya menyusul disini…

Komentar (7) »

Cross Country Cikarang-Setu-Narogong-Cikarang (bag1)

Setelah nyenggol di email antar pesepeda cikarang, akhirnya dapat info kalau sabtu 201007 akan ada sepeda santai (yg terbukti kemudian samasekali tidak santai) ke Toko Along di Narogong. Wah, pas banget. Sejak sebelum lebaran mendengar kabar ttg toko sepeda lengkap yang paling dekat dengan cikarang ini (that’s means 20km my dear..), sudah pengen menengok macam apa tokonya, seperti apa koleksi parts dan frame-nya.

Kumpul jam 6 pagi (gila, pagi bener ya?) ternyata rombongan hanya ber-empat. Beruntungnya saya yg rookie, blom pernah bersepeda grup cross country begini, dapat kesempatan langka gowes bareng para seniors… Ada Gazelle ‘Pak Ketu’ (pake Eastrack), ASup (S-Works), Iwo (KHS), dan saya sendiri, si penunggang Wim Cycle RoadChamp. Bekel lumayan, meskipun pagi tadi persiapan tergesa, backpack isi air dingin+jus jeruk (1 lt), air di botol 750mL, toolset, kamera, hp, dompet, kompas. Tapi peta dan jas hujan ketinggalan.

Bersepeda dimulai dengan range kecepatan 28-24 km/j. Wah, lumayan hosh hosh juga. Untungnya selama puasa saya tetap bike to work, jadi sebagai rookie gak malu-malu-in amat lah. Jalur yang diambil masuk kawasan Jababeka1, keluar ke kalimalang lewat sebelah Cikarang Listrindo, lalu menyusuri kalimalang (ternyata kekhawatiran arus balik bermotor menyemut di kalimalang gak terbukti), gerbangtol cibitung, lalu belok kekiri nyeberang kali menuju Setu.

Saya sudah sering denger ttg jalan menuju Setu yang katanya bisa nembus sampe ke Cileungsi dan Bogor ini, tapi baru kali ini merasakannya sendiri. Surprise-surprise, ternyata jalannya gede juga, rame juga, angkot lewat, ada pusdiklat perhubungan darat, ada pabrik-pabrik juga. Sementara udara mulai panas meskipun baru skitar jam 7 pagi. Udara juga tercium sesuatu yang dibakar, mungkin ini memang sudah daerah yang terpengaruh oleh TPA Bantargebang? Sempet istirahat skitar jam 7, tepat setelah sejam genjot. Distance menunjuk 17km. Menikmati kudapan oleh2 dari kampung Pak Ketu. Akhirnya tak lama kemudian sampailah di pasar, lalu disambut dg pertigaan Setu. Penunjuk jalan berkata, lurus ke Bogor, kanan ke Bekasi. Kita ambil ke kanan. Di jalur ini kita sempat papasan dengan seorang lone biker full costume dari arah berlawanan. Kring-Kring…

Baru sekitar 50m kita melewati pertigaan Setu, ada yang teriak dari pinggir jalan. Kita tengok ternyata ada dua orang pesepeda sedang ngadem di sebuah warung. Mbalik, tim memutuskan untuk nengok “apa hidangan yang tersedia disitu…” Rupanya ada yang belum sarapan.

Dua orang pesepeda itu ternyata dari klub sepeda Jonggol, tepatnya Citra Indah. Ooo… yang dekat Cibarusah ya? Mereka sedang menunggu rombongan bekasi yang akan mereka antar offroad-an di daerah Jonggol sana. Diajakin sih… Cuma ya itu sudah ada agenda ke Along, setiap anggota tim sudah tertera panjang di kepalanya daftar belanjaan, rekan2 Cikarang juga sudah telp dan sms Pak Ketu untuk nitip ini-itu. Jadinya kami dengan halus menolak, tetap membulatkan tekad ke Along.

Warung ini sederhana saja. Menjual nasi rames teh panas dan tehbotol. Lumayan teduh dibawah pohon rindang. Pas banget buat mencari tambahan oksigen para pesepeda yang mulai senut2 kakinya ini. Di belakang warung ditanami sayur mayur. Pas difoto, bagus juga ya?

sawah setu

Lanjutt…Baru 200m melanjut ke arah bekasi (Barat), Pak Ketu tak tahan dengan urat explore-nya. Belok kanan melihat jalan aspal nganggur. Wah… masuk kampung. Desa tepatnya, karena masih banyak sekali kebun dan halaman yang luas. Sampai suatu saat itu jalan aspal habis. Intuitif tentu ambil ke kiri (Barat/Selatan) sementara di kejauhan kok tampak terlihat ada lone biker lagi. Bener saja, kita ketemu lone biker (yg ternyata kemudian diketahui tinggal di Legenda, maaf lupa nanya nama) masuk deh dalam bimbingan bliau kita ke dalam desa itu.

Amazing…Masih ada jalan tanah, selebar 3m-an naik turun, di kiri kanan pohon tinggi dan bambu yang rimbun. Kita serasa masuk ke terowongan hijau, dingin, tenteram. Wah.. udah lama banget gak lewat jalan model begini. Sementara Om Penunjuk Jalan (OPJ) membawa kita melewat jalan keluar masuk kompleks dan kampung, memotong2 jalur dan menerabas, kelihatan banget OPJ ini sangat mengenal daerah ini. Yah berungunglah kita. Coba eksplor sendiri, mayan kalau mau nanya, kalau sok tau bisa muter2 gak karuan tuh. Nerabas2 saja OPJ ini membawa kita ke Along dalam ride xc selama sekitar sejam.

Sampe juga ke Along. Masih sekitar jam 9 pagi lebih, tapi itu toko sudah rame juga. Memang pesepeda yg berkostum masih dikit, kami termasuk gelombang awal sehingga bisa nanya ini itu dan beli duluan. Tapi tak lama berselang, sekitar jam 10-an sudah ramai sekali rombongan2 lain. Waduh… Rupanya Along sangat dikenal di daerah bekasi, khususnya timur ya? Kalau barat bekasi kan masih ada Rodalink dan DBS. Speedshop gak tau deh disebelah mana.

Beli juga handlebar “FSA” yang flat. Juga headset yang jadi satu sama stem (biar irit hehe…) plus pedal. Kena deh 250rb melayang ke kantong Along. Udah gitu jauh2 deh dari toko, sempet ngobrol2 juga sama orang2 pesepeda (ada 4-5 rombongan) yang mampir ke toko Along. Saking asiknya belanja dan ngobrol sampe lupa motret tokonya.

berlanjut ke bagian kedua

Komentar (2) »

Nemu Resensi IBBC 06!!

Hehe.. sudah lama banget tidak menulis ttg bigband…

Karena terpancing salah satu keywords yang dimasukkan dalam search engine, termonitor pada blog stat, ada juga orang yang mencari dg keywords ‘van alloy big band’.. Penasaran, saya masukkan keyword yang sama.

TADAAAA… link paling atas adalah post di blog ini! Malah diatas link ke site resmi Van Alloy Big Band yg juga saya kelola… (udah lama gak di update sih..) lihat disini site resmi VABB

Trus iseng lihat halaman berikutnya ternyata ada post di blog seorang yang khusus nonton ITB Big Band Concert 2006 hahaha… kocak juga pendapatnya, coba baca ini..

Setelah rehat selama setengah jam, acara dilanjutkan kembali dengan penampilan dari Van Alloy Big Band. Sekumpulan alumni Waditra Ganesha Big Band dari berbagai angkatan bergabung membentuk kelompok musik dengan motto ‘we are not musicians, we are a bunch of engineers who think we are good enough to play’. Alasan yang bagus untuk mengantisipasi kemungkinan permainan yang kacau.

Wakakakaka…. lihat sendiri deh lengkapnya disini…

vabbinibbc06
(foto diambil dari blog diatas)

Ada bagian dari blog itu cerita begini…

Tetapi tidak ada yang kacau dari permainan mereka. Tempat tinggal yang saling berjauhan mungkin menyebabkan mereka hanya menampilkan nomor-nomor easy listening atau, kasarnya, gampang tetapi kejutan-kejutan penuh canda yang mereka tampilkan sangat menghibur. Misalnya di nomor ‘How High the Moon’, saat pianis memainkan bagian solo lebih panjang dari 1 x 8 bar, para pemain pura-pura kesal sampai para vokalis berkacak pinggang dan para peniup trumpet malah menerbangkan pesawat-pesawatan dari kertas. Humor yang ringan dan mengena

Niat kan? Sampai ambil2 foto segala, hihihi..

Komentar bertahan »