Arsip untuk Mei, 2007

SMS dari Djorghi..

Hari ini baca milis tentang ada pengalaman rekan yang kena sms iklan. Memang menyebalkan banget ya sms iklan ini, termasuk selevel junk mail ya sebenernya. SMS dan penggunaan HP yg sudah sangat memudahkan hidup kita itu ternyata harus ada gangguan dari hal-hal seperti ini. Sebelnya ini tuh resmi. Jadi bukan karena orang yang iseng atau dengan kepentingan tertentu seperti di kasus email. Ini ‘direstui’ oleh operator-nya.

GILA!!

Ada yang menarik juga.

Salah seorang rekan jadi curhat, katanya dia dapat sms “langsung dari Cut Tary” hahaha… berbunga-bunga.

Lain dengan rekan yang lain, sampai di-heran-in sama istrinya karena dapat sms dari “Thomas Djorghi” hohahahaha.. Bukan mau merendahkan artis tertentu dari yang lain. Tapi kebayang kan kalo rekan yg sudah ber-istri itu masih dapat sms dari artis yang notabene lelaki juga hohoho…

Komentar bertahan »

Bernafas Dalam Lumpur

Judul post ini memang memakai film di tahun ‘jebot’, biar menarik saja, tapi ini tulisan tentang lumpur lapindo yg hari ini genap ultah setahun.

Lumpur sering di-asosiasi-kan dengan kotor, jelek, rendah, buruk, jorok, hina… dll yang sejenis. Jadi ‘lumpur lapindo’, yang sering ditambahkan kata ‘bencana’ didepannya (yg saya ngga setuju), itu adalah wajah kita, wajah Indonesia, karena memang ini sudah berkaitan dengan bangsa, kita tidak bisa lagi melihatnya secara sektoral sidoarjo, atau jawa timur, atau jawa saja. Kejadian lumpur meluap ini adalah permasalahan kita bersama, setidaknya saya merasa begitu.

a

Salah satu skill yang harus kita lakukan secara bergotong royong (aduh! lama bener gak denger kata ini) sebagai bangsa adalah BANGKIT!! Tidak ada yang perlu diratapi, kita harus bangkit menghadapi lumpur yang mengguyur rumah kita ini.

Jadi ayo bersama “Bernafas dalam Lupur”, kita buktikan bahwa kita secara kolektif bisa mengatasinya sebagai bangsa, seperti yang kita buktikan di Aceh dan Jogja. Secara mental, terutama warga jawatimur dan sidoarjo, harus menjadi ujung tombak kita. Ibarat klub sepakbola mereka adalah penyerang yg bertugas membuat gol.

Jangan berharap sama pemerintah deh, mengurusi diri sendiri saja mereka kesulitan…

Bismillah, ayo bersama bernafas dalam lumpur, kita buktikan bahwa kita bisa survive!!
Sorry, tidak ada yg konkrit. Hanya meniupkan sudut pandang dan optimisme.

Komentar (1) »

Bigband Setelah Era Bigband

Ternyata Wartajazz.com telah membuat “Bigband Setelah Era Bigband”, rangkaian sejarah bigband yang cukup komprehensif dan detail. Ini post nanti bisa dipakai buat referensi jika dikemudian hari ada yang tanya tentang bigband. Memang rangkaian artikel ini lebih menyoroti bigband setelah era swing berlalu. Jadi setelah jaman keemasan 30s dan 40s lewat.

Bagian Pertama http://www.wartajazz.com/style/bigband.html
Masa Perang Dunia II itu bagi kelompok big band dibaca sebagai sebuah musibah. Salah satu seorang pioner yang muncul setelah periode Perang Dunia II adalah Boyd Raeburn, seorang pemain saxophone tidak terkenal dan mantan pemimpin sebuah kelompok big band komersil. Pada masa jaya kelompoknya tersebut (1944 – 1948), dia banyak menggunakan musisi terkemuka termasuk Dizzy Gillespie, Al Cohn, Lucky Thompson, Serge Chaloff, Frank Socolow, Johnny Mandel dan Buddy De Franco

Bagian Kedua http://www.wartajazz.com/style/bigband2.html
Dizzy Gillespie mendirikan bigband sendiri diawali tahun 1946 dengan dukungan para penulis yang inovatif seperti Gil Fuller, Tadd Dameron, George Russell dan John Lewis. Mulai muncul gaung “progresif” big band-nya Stan Kenton adalah sebagai contoh utama. Mereka menjadi populer secara fenomenal dengan dukungan Capitol.

Bagian Ketiga http://www.wartajazz.com/style/bigband3.html
Era penurunan pamor bagi sisa raja era swing; Duke Ellington Orch dan Count Bassie Orch. Banyak kritisi jazz juga mengamati perkembangan gaya permainan big band-nya Woody Herman termasuk ada sebuah fragmen / salah satu bagian pemain yang menjadi terkenal dengan sebutan The Four Brother. Mereka termasuk Stan Getz, Zoot Sims, Al Cohn, Serge Chaloff, Red Rodney, Gene Ammons, Milt Jackson, Terry Gibbs dan Oscar Pettiford dalam beberapa kesempatan selama 2 tahun keberadaannya.

Bagian Keempat http://www.wartajazz.com/style/bigband4.html
Maynard Ferguson membentuk big band di New York yang berjumlah 13 orang pada tahun 1957. Buddy Rich pada tahun 1966 yang meninggalkan posisi yang menguntungkan di dalam Harry James untuk bersolo karir. Bigband mulai membuat variasi instrumentasi yang jauh lebih banyak daripada apa yang pernah dilakukan sebelumnya. Hal ini merupakan pilihan yang lebih luas dalam repertoar, sesuatu yang sulit untuk dibayangkan jika kelompok-kelompok tersebut hanya sebagai pengiring dansa semata.

Bagian Kelima http://www.wartajazz.com/style/bigband5.html
Ada sebagaian kelompok big band di Eropa yang mencoba untuk “membaca” musik jazz dengan tradisi musik konser klasik Eropa, yang merupakan tawaran kepada publik Eropa untuk mengapresiasi musik jazz secara lebih kaya. Kelompok big band dengan gaya free jazz yang paling ternama dan keberadaannya yang paling lama adalah kelompoknya Sun Ra, The Sun Ra Solar Arkestra.
Pada dekade 1970an, sedang menjadi semangat musik jazz pada waktu itu adalah adanya percumbuan antara musik jazz dan rock. Muncul istilah Rock Big Band, untuk menyederhanakan akan aplikasi sebuah ensemble dengan memainkan beberapa elemen yang khas musik rock.

Bagian Keenam http://www.wartajazz.com/style/bigband6.html
Yang menarik dari kenyataan adalah musik big band bukan cara yang tepat untuk dapat penghidupan darinya. Sejumlah musisi sejak dekade 1950an yang telah bergabung dengan big band semata-mata dengan alasan yang sederhana saja, barangkali untuk sekedar dapat bermain dalam kontek big band.

Bagian Ketujuh http://www.wartajazz.com/style/bigband8.html
Jika ada orang menyatakan bahwa tradisi big band sekarang ini telah mati pasti akan ditertawakan oleh para penikmat musik jazz sejati. Semakin luasnya wilayah garapan big band pada akhir-akhir ini terjadi dengan munculnya beberapa kelompok baru seperti David Murray Big Band, Either Orchestra, Mingus Dynasty, Peter Apvelbaum & Hieroglyph Orchestra, Vienna Art Orchestra, Pierre Dorge’s New Jungle Orchestra, Masaoka Orchestra, Satoko Fuji Orchestra dan lain-lain. Perkembangan big band akan semakin mendunia dan tidak saja didominasi musisi dari Amerika Serikat dan Eropa saja. Kita lihat Jon Jang dengan kelompoknya Afro Asian Ensemble Orchestra maupun dengan kelompoknya Chuco Valdes dengan membawakan suara-suara big band latin.

Komentar bertahan »

Rencana dua komputer

Akhirnya kemarin jadi beli hardisk 2.5inch plus external case. Cukup bingung juga pilihannya antara eksternal tapi kapasitas lebih kecil atau internal 3.5inch HD juga tapi dengan budget sama bisa dapat kapasitas 3 kali lipatnya.

Dihinggapi dilema, akhirnya malah berpikir. Lho, selama ini HD 80GB internalku saja plus 30GB internal di komputer desktop baru 60% terisi, plus masih ada space 40GB di HD internal notebook yang terisi cuma 30% kok, so buat apa space tambahan sampai 360 GB internal disk?? Hehehe… dibalik deh.

Rencananya sih ini notebook akan dipakai dengan windows, sesuai dengan OEM OS-nya kan. Lalu desktop sudah niat bulat akan diisi Linux OS. Dan ini HD eksternal menjalani fungsi utama sebagai backup dan mobile disk.

Sekarang lagi mencari cara yang jitu dan murah nih buat bikin network nanti diantara komputer notebook yang windows plus dekstop yang linux. Harga 8 port Hub switch sudah mulai terjangkau tuh… Ada usul?

Komentar (2) »

Land of Make Believe

Topik blog ini bisa ngalor-ngidul, kesana kemari gak keruan. Tapi ada masanya kira2 minggu lalu, saya merasa kok saya nulis tentang musseeeeiiiikkk terus. Kan gak bener kalo hidup ngga seimbang, berat ke musik terus. Hehe… Justru alasan nulis-nulis blog begini kan supaya hidup kita seimbang

Ternyata seminggu ini lumayan beragam, kayaknya saya secara ngga sadar membatasi topik lagi. “Awas, jangan musik lagi” hihi.. Lumayan kan? Ada ttg gadget, tentang otomotif, tentang SBY, ttg pendidikan.

Pagi ini denger satu lagu lama dari Chuck Mangione, pemain flugelhorn beraliran jazz-easy jazz-pop. Lagu judulnya “Land of Make Believe”. Diputer pagi-pagi hari libur begini kok cocok ya? Apalagi kemarin habis heboh cukup meratiin cerita tanggap menanggap tentang dana itu. Ck ck ck… Seolah diguyur lagu indah begini pagi2, judulnya (menurut saya) optimistis, hidup jadi tidak serumit biasanya.

Beberapa minggu lalu juga terkesan banget baca tulisan Mas Budi Boing http://rahard.wordpress.com/ tentang mood, dan juga tentang topik blog, tulisan-tulisan orang Indonesia. Mas Budi nih kayaknya terobsesi dengan optimisme, dan hebatnya berusaha mengajak kita semua optimis di tengah negara dan lingkungan kita yang entropinya meledak-ledak gini. Memang sih, seperti melihat acara tivi, bosan kita kalo isinya kritik melulu, mengeluh melulu, mentertawakan diri melulu. Mana?? Mana sih orang optimis di negeri ini?? Masak ngga ada??

op

Sikap optimis kan sebenernya tidak langsung berhubungan dengan kondisi eksternal subjek sendiri kan? Malah kalau di sekitar kita cenderung negatif semestinya jauh lebih bermanfaat, menyemangati, dan (mungkin) mudah untuk bersikap optimis.

Cuma tampaknya optimisme bukan jadi pilihan utama bangsa ini…

Terima kasih Chuck Mangione, lagu “Land of Make Believe” telah membuat saya hari ini lebih optimis memulai hidup… Let’s do it!!

(lho, jadi ini post ttg musik apa bukan? HALAH!!)

Komentar bertahan »