Maret 17, 2007
· Disimpan dalam Big band, Music, me, myself, and I
Posting saya di milis mbwg@itb.ac.id hari ini. Tulisan yg sudah lama mengendap dikepala akhirnya keluar juga…
=========
Kita semua di mbwg mengalami pahit manis, tapi kalau udah singgung2 ini termasuk salah satu pahit yang pernah kami alami. Kok bodoh sekali kita ya, sehingga di organisasi yg sama kalian kayaknya mengalami kepahitan yg sama… Katanya keledai tidak terantuk dua kali, tapi kita kan anak itb bukan keledai (halah!)

Manisnya saya ber-bbwg
adalah mendapatkan status ‘anak BB’ yang tentu berbeda dengan sebutan lebih luas yg tetap saya dapat ‘anak MB’ (kayaknya muncul bau2 kasta ya disini?). Jaman saya sih bisa digantung tuh kalao kamu ikut bb gak ikut mb. Bisa diusir dari organisasi, kecuali memang bbwg sangat membutuhkan kamu (baca: kau jago ritem dimana pas kebetulan anak mb gak ada yg bisa samasekali). Itupun para jago ritem ini (nah kan ada kasta lagi) tidak pernah dianggap sebagai ‘anak mbwg’, mereka adalah outsiders yg kita minta bantuan. Ber-bb waktu itu saya mencapai kenikmatan tersendiri bermusik (baca: saya suka jazz sejak lahir). Wah, beda deh, asik bener bisa memainkan musik yg kita sukai.
ternyata segala manis diatas secara tidak kami (anak bb) sadari melukai hati rekan2 yang lain. Terutama rekan pemain perkusi (sekarang namanya battery ya?). Sedikit banyak ada diantara rekan2 kita tercinta ini yang iri dengan kenikmatan kita, sayang sekali tidak seperti mb, bb tuh cukup terbatas ya anggotanya (apalagi kemarin mail tulis juga ‘cuma ini yg boleh ikut’ di pengumuman anggota bb). Percayalah padaku rekan, mungkin teman2ku termasuk yg sensitif dan sangat menyayangi mbwg, tapi mereka para ‘tersisih’ ini tidak pernah bisa menghilangkan perasaan itu. Bahkan sampai sekarang setelah belasan tahun kejadian itu berlalu.
Salah satu kehebatan pergaulan per-marching-band-an adalah ’spirit dari team’. Spirit ini yg digunakan banyak tim marching band diseluruh dunia mencapai apapun yg mereka citacitakan. Saat kita secara sadar atau tidak sengaja atau tidak membuat pilahan2 (apalagi berdasar skill) akan berpotensi menghacurkan salah satu senjata terbesar sebuah organisasi marching band.
Setahu saya (saya terlibat bersama MBWG di IBBC 93, 94, 96, 97, 99), bbwg dibentuk karena mbwg saat itu tertekan secara kemahasiswaan saat banyak aktifis kampus di-DO karena demo saat wisuda (89), saat minat ikut unit kegiatan mahasiswa sedemikian merosot. Penampilan berbentuk bigband adalah salah satu jalan untuk survival. Secara tim (main dg sedikit orang dan menarik calon anggota yg males baris) dan finansial (bisa nampil di kafe, bikin ibbc) bb kita pandang memiliki sesuatu. Karena total anggota mbwg tidak sampai 50 orang, kalau nampil mb internal di itb tidak mencapai 30 orang…
So, do we still need BBWG now? How about IBBC? Setelah kita melantik sekaligus 70 anggota baru?
sorry ini pertanyaan berat tapi pe-er kita bersama untuk memikirkannya.
Pokoknya jangan robek2/pilah2 (lagi) MBWG kita ini deh… Itu cukup jadi kebodohan masalalu kami saja.
Maret 16, 2007
· Disimpan dalam Big band, Blogroll, Music, me, myself, and I
myclie 16 mar 07

3 minggu lalu ada seorang bertanya ttg musik apa yg cocok untuk mengiringi sebuah presentasi. Kok rumit bgt! Presentasi aja musiknya pilih2?
Dengan lancar dia bisa menceritakan bahwa yg akan dipresentasikan adalah sebuah karya, sebuah desain motif tekstil. Desain ini dg lancar digambarkan sebagai kain garis2 yg diilhami oleh kehidupan kaum mapan di 70an. Dari situ rupanya musik yg katanya ‘modern jazz’ itu dicari. Bahkan rekan kita ini bisa dg detil menceritakan perilaku orang2 dan pergaulannya dg narkoba dan miras di 70an itu!
Edun!
Meski tadinya terusterang cukup annoying pertanyaan dg segala pertanyaan, tapi lalu muncul adalah ‘Inilah yang namanya konsep’!!
Rupanya begitu to rekan kita di senirupa memiliki dasar berpikir dan bahkan berkarya. Tiba2 saya bisa lihat kaitannya dengan bagaimana kami di bidang teknik juga membangun dasar berpikir…
Menarik untuk diterapkan di band kita nih…
Maret 15, 2007
· Disimpan dalam Blogroll, me, myself, and I
kata2 yang keren ya?
keren ditulis dan diucapkan tapi makin jarang kita temui dalam kehidupan sehari2. sangat menyedihkan bahwa kita kok jadi semakin terbiasa dengan segala bumbu, bukan lagi hidangan.
Lho bukannya bumbu lebih penting dari hidangan kan? Jangan2 memang kita memandang dunia sudah begitu, bumbu jadi penting.
Informasi kadang kita balut2 dengan bumbu penyedap, seolah jadi seperti ajang lomba masak dimana-mana, semua orang beradu sedap bumbu. padahal kalau jujur, yang kita tampilkan kan ya cuman beras, sayur, singkong, pisang. Cuma bahan mentah yang kampungan.
Mungkin kehidupan kita sudah penuh bumbu, topeng, dan ketidakterusterangan. Orang2 tertentu malah sudah menocampuradukkannya dengan kemunfikan!
Sial banget ya kita berkecimpung dengan kepalsuan… memalsukan fakta menjadi berita baik. Pada intinya sih memutarbalikkan fakta juga!
hidup bumbu!
myclie 15 mar 07
Maret 10, 2007
· Disimpan dalam gadgets, me, myself, and I
Emang enak!
Haha sudah seminggu pegang gadget baru , clieux50 akhirnya… Meraskan punya gadget yg lengkap qwerty keyboard, bluetooth, build quality clie, wifi!, camera dan multimedia sony lagi! Sebuah gadget yg lengkap kecuali satu kelemahan, os jepang! Hahaha
mabok deh, gak cuma os nya aja, tapi smua menunya katakana hiragana. Waduh! Tapi dapatnya harga lumayan bersahabat sih (makasih Oom Kamka!) makanya tetep worth to try.

Blom berani ubah sepenuhnya urusan kerja ke gadget ini sih. Masih sering skali kehilangan arah pas ber menu ria…
Tapi udah jelas arahnya tungsten t3 bakal diistirahatkan nih. Padahal t3 udah lengkap jg dibangunnya: leather case, hardcase, modem, travel AA batt charger, internal batt baru (Makasih Boss Zay!), palm ultrathin keyboard. Cuma hp bluetoothnya doang yg udah melayang.
Masih bimbang sih sebenernya… Jadi dipake keduanya dulu sementara, termasuk bwt ngetik blog ini
Maret 7, 2007
· Disimpan dalam Music, me, myself, and I, travel
Student Center ?? Bukan, ini campus center… Tapi bener deh, sebelumnya saya pernah denger ttg kondisi kegiatan mhs yg lesu sekarang di ITB, salah satu penyebab katanya adalah dipindahkannya pusat kegiatan kemahasiswaan ke ‘luar’ kampus, ke sarana olahraga…

(foto campus center)
Hari itu hari rabu, sore menjelang malam setelah maghrib, dalamrangka menunggu show konser quintessence yang tertunda di aula barat. Aaahh… Nikmatnya saya puas merasakan aura kemahasiswaan yg musikal…
Dari arah lap basket kedengeran tmn2 perkusi mbwg sedang melatih diri. Lebih tepat ‘membuat keributan’ sih.. Hehe keributan yg berisik tapi ‘indah’ di telinga saya. Sambil membayangkan kabar mbwg habis melantik 70org Pinka…
Mendengar kabar BBWG sedang latihan di ruang alat,juga kedengaran tuh… Menelusur dari mana ini masuknya ke ruang alat?
Diantara kebingungan mencari akses, aku ketemu unit musik klasik lg latiha. 4 org cewek main alat musik gesek. Seru juga, yg ini emang gak pernah kudengar dulu pas masih kuliah. Mereka terdengar melatih lagi “Sajadah Panjang”
Sementara di lt bawah campus center PSM berlatih lagu daerah… Lupa aku kalo gak salah “Yamko Rambe Yamko” ya?
Masuk sedikit ke gedung campus center terdengar anak2 lss(?) lag latian. Lalu bablas dikit lagi suara gaduh giliran ditelorkan oleh angklungnya KPA.
Baruuu… Di ujung gang dengerin BBWG dilatih Issa sedang belajar “Satin Doll”.
Hhhh… Musikal banget keramaian yg terbentuk. Insidental? Moga2 gak krn sebulan lalu saya abis nonton konser PSM, juga abis denger MBWG yg ke-bludak-an anggota sampai lat hrs 2 shift jadi 4x seminggu… Hopefully it’s a good sign…