Arsip untuk Maret, 2007

Zorn

Salah satu musisi yang berhasil menampilkan sisi lain dunia musik ke saya. Terutama dengan album Naked City

2

Musiknya tuh jelas eksperimental, ekspansif, tanpa batas, mendobrak tempo, mendobrak harmoni, mendobrak susunan form lagu… terlalu banyak yang didobrak. Belum lagi noise-nya, berisik, padat, singkat, intens. Tuh kan gak ada habisnya (maklum yang nulis fans, muji molo)… Belum lagi cover musiknya yang disebut ‘graphic or offensive album covers’.

Seperti cover gambar album diatas, pernah denger kalo itu adalah foto yang diambil oleh fotografer media khusus pembunuhan mafia yang ada di jaman mafia amerika merajalela. Itu fotografer gak berenti ngikutin radio polisi. Setiap ada laporan penembakan/pembunuhan jaman mafia fotografer ini sering sampai duluan di tkp daripada polisi. Dan tentusaja ambil foto2 dengan hasil yan gila.

1

Musik Zorn menurut saya bisa dipersingkat deskripsinya menjadi “musical styles that are extremely loud, wild, or creative”. Seperti The Big Gundown ini. Lagunya sih biasa saja, karya2 Ennio Morricone. Karyanya seperti salah satunya adalah theme film “Godfather”. Wah gila, sisilia banget, italia banget. Tapi denger aransemen dia di album ini lagunya menurutku jadi sangat mencekam karena musiknya memunculkan banyak imajinasi horor.

Untuk lagu2nya yang super pendek dan intens, pernah ada penjelasan kira2 itu menggambarkan lingkungan sekitar kita juga. Segala dibuat bertambah cepat. Seolah orang dan dunia tuh terus menerus beradu cepat dengan waktu. Mobil balap lebih cepat, komputer lebih cepat, koneksi data lebih cepat, segala proses maunya lebih cepat. Semua serba cepat.. cepat… Seolah lambat tidak mendapat tempat di dunia. Musiknya pun jadi intens, lagu jadi cuma hitungan detik. Tempo cepat sekali, musiknya jadi padat, ringkas, keras, seperti segudang data dimasukkan ke telinga kita. Musik ini dianggap mengikuti apa yang ada di lingkungan kita. Ini terasa sekali di album Naked City “Torture Garden”.

Sumber paling ekstensif gampang dimengerti dan singkat sih http://en.wikipedia.org/wiki/John_Zorn

Kreatif oke. Super kreatif jadi sering terdengar sangat aneh. Tapi syukurlah kali ini saya bisa menangkap apa yang dimaksud Pak Zorn ini….

Komentar bertahan »

Republik Tawa

Salah satu acara yang ngetop banget di televisi adalah parodi politik. Dimulai dari dulu “Republik BBM” dan akhirnya bermetamorfosa jadi “Republik Mimpi”. Dari acara itu terlihat jelas bahwa kita (alhamdulillah) adalah bangsa yang sangat humoris, sangat pandai mengejek dan mentertawakan diri sendiri. Benar2 lihai deh kalo dah melakukan ini.

1

Itu sudah lama kita lakukan sejak jaman dulu ada acara “Perspektif” nya Wimar Witoelar yang sangat ngetop di jamannya. Juga di bagian lain adalah acara “Gubernur Kita”. Wah macem2 deh acara politik. Pembicaraan serius yang dibawakan secara santai.

Me-nyatai-kan pembicaraan serius sih ok saja sebenernya, cuma kok saya menangkap kecenderungan kita menjadi komunitas tak berdaya, yang tidak kuasa merubah, yang akhirnya menghibur diri dengan mentertawakan diri sendiri.

Kebebasan berpendapat-nya sebenernya perlu kita banggakan. Dua negara tetangga kita yang katanya *maju*, singapur dan malaysia, rakyatnya tidak bisa menikmati kebebasan seperti yang kita rasakan. Bebas mentertawakan diri sendir, menertawakan pemimpin kita, menertawakan keadaan sendiri.

Menertawakan adalah keadaan semu yang hanya menutupi ketidakmampuan kita menyelesaikannya secara substansi. Saking sudah ruwetnya segala masalah, ibarat benang sampai kita gak tau lagi harus diurai ruwetnya mulai dari mana?

Kita jadi seperti sopir angkot yang ketawa2 seperti orang gila saat angkot kita kejeblos kubangan lumpur.

(260307)

Komentar bertahan »

hape

Salah satu gambar yang sangat menyentuh hati dari liputan gempa Jogja adalah saat orang2 mengantri charging hape. Karena listrik mati, keterbatasan listrik menyebabkan orang harus antri dan bergantian melakukan charge telepon genggamnya.

Ini juga menunjukkan betapa kita sudah sangat tergantung pada sinyal, pada hape, pada pulsa. Kita pergi dan hape ketinggalan jadi masalah besar. Padahal jaman dulu kala (halah!) kita juga bisa berkomunikasi dengan baik kok tanpa telepon genggam ada di genggaman kita.

Pernah ada masanya kita siapkan uang receh banyak2. Uang cepek. Ini penting buat kita bisa berlama-lama menelepon dari telepon umum koin. Kami sempat heran banget pas bulan lalu salah satu rekan kita menelepon berlama-lama dengan berbekal setumpuk besar koin seratusan. Hehe.. masih ada yang mempraktekkannya toh jaman sekarang.

Pernah pula ada masanya kita pakai pager. Wah tidit-tidit, hampir semua orang punya pager. Saya sampai pernah berlangganan pager buat monitor transaksi bank. Wah jaman belum ada sms banking atau telebanking saya sudah menikmati dikirimi pesan pager pas gajian masuk hehehe… Buntutnya teman2 kantor nanya ke saya apa gaji udah masuk blom..

Trus ada kesempatan di 2001 saya begitu kagum lihat sebuah negara kok semua penduduknya pegang hape. Menelepon di sembarang tempat umum. Menelepon berlama-lama seolah gak mikirin harga pulsanya. Kok semua orang bisa dapat nomor telepon ya padahal di Indonesia musti antri biar dapat nomor telepon…

1

Lima tahun kemudian kita sudah tidak heran liat telepon genggam dipegang oleh siapa saja dimana saja di Indonesia. Tidak lagi eksklusif, preman prapatan pake hape, anak sd/smp main hape. Sms-an sama sesama temannya yg ada disebelahnya. Cekikikan seolah hape adalah mainan mengasyikkan yang sangat menyenangkan…

Komentar bertahan »

You rob our land!

sebulan ini heboh banget pembicaraan pasir singapura. Lho kok pasir singapura? Harusnya kita sebut pasir indonesia yg dirampok singapura.

3

Cukup ironis karena pelarangan ekspor pasir ini sudah ditetapkn 4thn lalu jaman megawati, dilaksanakan baru skarang, lalu sebenernya ngapain aja kita empat tahun ini ya? Ironis!

Minggu lalu Kompas cukup dalam membahas ttg pasir ini, tentang segala trik dan bahkan sampai perbedaan harga dari 0,2 usd ke 20 usd dari hilir ke singapur. Dan bahwa itu semua resmi dan sebagian besar ‘legal’

Sedih banget saya. Betapa nimby ternyata berakibat seperti ini. Bahkan sebuah negara bisa dengan ‘tega’ memanfaatkan kebodohan dan kelemahan bangsa lain. Ini benar2 meyakinkan kita bahwa singapura hanya peduli uang kok, mereka gak peduli Indonesia dantanahnya sebagaimana orang timur mempedulikan tetangga.

Di kompas malah ditulis salah satu ulasan dimana state/negara tuh bisa melakukan kejahatan transnasional yang bisa memanfaatkan celah hukum antar negara. Menurutku para singaporean ini sebenernya adalah penadah pencurian. Seperti jg malaysian juga penadah kayu illegal logging.

Sue them in international court!

Betapa kontradiktif dg membanjirnya iklan property singapura besar2 sampai setengah halaman berwarna kompas. Dulu saya iri dg iklan2 itu, kok bisa ya lingkungan dikelola sampai jadi begitu? Tetangga kita lagi! Sekarang kalo liat iklan2 itu aku mencibir dan sinis. Dimataku iklan2 itu yg menonjolkan harmonisasi lingkungan tempat tinggal, semuanya iklan bohong doang…

You rob our land!

Myclie 240307

Komentar (1) »

what a blog can do..?

Nyobain ever note http://www.evernote.com moga2 bisa jadi pilihan yang menyenangkan daripada notepad atau malah word. Terutama kalo dipake buat menulis blog nih… hehe..

q

Emang menulis di blog tuh mirip seperti angin, angin2an maksudnya… Kalo pas niat bisa tuh berhari2 nulis terus, tapi kalo lagi mati angin ya bisa sebulan gak nulis. Sebenernya iri deh kalo liat teman2 yang selalu punya energi untuk menuliskan sesuatu di blog-nya misal Mas Boing http://rahard.wordpress.com atau Yaya http://pengkolan.wordpress.com kok bisa ya mereka memiliki energi seperti itu??

Mas Boing malah kemarin menulis kalau akhirnya bisa ngopi bareng sama Jockie S (iya… keyboardis dan penulis lagu keren itu!) gara2 Jockie, musisi pujaan bliau, pujaan saya juga.. membaca blog dan membuat comment singkat.

Yaya beda lagi, meski dalam lima tahun terakhir ketemu Yaya mungkin cuma 1-2 kali, tapi rasanya saya tetap mengenal Yaya, segala gerak dan tidaktanduknya, segala pikirannya gara2 saya hobby baca blog-nya.

Apa yg bisa dilakukan blog ini? Entahlah… kita tunggu saja.

Komentar (1) »