Arsip untuk Februari, 2007

The Real Birdland

Hari ini saya dengan beruntung mendapatkan CD bekas ‘The Best of Wheater Report’… wah pas dicoba di *toko*-nya, lagu pertama adalah Birdland…
hahaha..

2

Langsung deh memutuskan beli cd itu. Lucu banget deh denger versi beneran Birdland ini, tema lagu dipegang oleh keyboard dan gitar, beberapa bagian sax. Ini kan versi sebenernya yg main grup bernama Wheater Report, dia ini grup fusion jazz. Anggotanya ada standar rhytm, piano+bass+keys+drum+gitar plus sax.

Nanti saya share deh… pengen banget bikin audio cd dari lagu2 yg kita mainkan tapi dari berbagai versi, untuk memperkaya interpretasi kita. Karena otomatis kalo kita denger versi lain kita kaya liat bangunan dari sisi yang lain. Seru sekali dan sering ada perspektif serta ide baru.

Kalo gak salah Manhattan Transfer jg punya versi birdland-nya? Pasti banyak versinya lagu standar begini

Komentar bertahan »

Pede

Ini curhat saya ttg band yg sangat saya cintai…

s

=======

Saya akan menulis panjang plus terusterang…

Band ini dimulai dg semangat “Ayo kita mempermalukan diri di IBBC….”. Itu kejadian pas kita obrol santai lebaran merencanakan penampilan gila satu lagu sebagai alumni di IBBC 2005. Memang kalimat itu banyakan retorikanya, tapi semangat yg muncul dari kalimat ajakan yg gila itu adalah ‘all about
vabb’ (minimal menurut saya). Dari satu kalimat itulah bisa ada catatan sejarah ttg VABB selama dua taun lebih ini.

Kemudian muncul ‘Ordinary talent, extraordinary effort’.. Wah.. saya selalu terharu denger kalimat ini. Kalau diceritakan ke orang lain pasti susah kecuali mengalaminya sendiri bersama teman2 band ku semua yang tercinta… (mulai terharu)

Saking irinya pengen lebih ikut merasakan, akhirnya saya terlempar dan kepental2 belajar dari nol jadi pemain gitar lalu main clarinet. Alhamdulillah masih bisa merasakan IBBC 2006. Merasakan bermain musik beneran, tidak hanya dibelakang layar, dengan band yg luarbiasa ini.

Sejak pertengahan 2006 menjelang persiapan konser, saya sudah jarang main clarinet duduk manis hanya jadi pemain. Ini memberi saya kesempatan untuk melihat dan mendengar band kita kembali sebagai outsider, orang yg tidak berada didalam band. Wah… saya makin sayang sama band ini. Suara band ini
sudah ‘bukan band biasa2′ lagi seperti yg saya dengar di persiapan IBBC 2005. Kita bener2 bukan band sembarangan… Ada momentum2 musikal yg sangat menyentuh yg makin sering, kita main makin nyaman di telinga. Pendapat orang2 luar termasuk orang2 yang saya pandang *ngerti jazz* jg kuranglebih ke arah yg sama.

Memang kita tahu bener seberapa perfect sih permainan bigband yg bagus selevel Buble atau Paul Anka lah… Jelas saja jauh banget, jauh dengan big band apapun di Indonesia, Galaxy atau Hypersax pun masih jauh dari level itu.

Seorang rekan band ini pernah mendeskripsikan dengan pas menurut saya… Seperti ujian jaman sekolah di ITB, kita tidak pernah merasa siap bahkan sampai bbrp menit sebelum menerima soal. Kita baru akan tau seberapa kita menguasai materi kuliah saat kita selesai ujian dan kemudian dikonfirmasi saat nilainya keluar.

Kita belajar dan bekerja banyak di sektor teknis yg sangat meng-haram-kan kesalahan. Di bidang kita kerja, kesalahan bisa berarti nyawa atau uang dg jumlah yg tidak ingin kita ingat. Edannya kita diajarin di ITB kalau kesalahan itu sesuatu yg bodoh dan jangan lah dilakukan berkali2. Kita dididik begitu cara berfikirnya. Serba perfect. Jadinya kita cenderung mengingat2 kesalahan kita… Kalo main banyakan ingat part salahnya daripada part benernya. Padahal mungkin porsi kesalahan kita sudah sangat banyak berkurang.

Sementara musik, apalagi jazz, itu adalah musik ekspresi yang sebenernya memberi ruang luas pada individualisme baik style maupun ekspresi musikal. Ada rekan kita yang protes, “Kapan dong main musiknya…” karena memang ekspresi, bahkan apapun level kita, adalah hakekat bermusik jazz itu sendiri. Setidaknya menurut pemahaman saya.

Kembali ke Java Jazz.
Kalau band ini akan pakai mekanisme lama yg sudah kita setujui untuk menerima order yg mendadak2, hampir pasti proyek ini tidak perlu kita teruskan lagi.

Saya baru sadar, band ini tidak lagi perlu berpikir banyak ttg skill, teknik, dan musikal. Karena itu akan membutuhkan komitmen waktu dan semangat, yang sebenernya kita sudah tidak punya lebih dari yg sudah kita berikan selama ini… Band ini butuh kepercayaan diri dalam bermusik. Bermusik ala Van Alloy…

[additional notes]
Dari banyak kejadian belakangan ini dg VABB saya berkesimpulan kita jangan berharap banyak untuk sempat punya waktu bertambah jago secara teknikal. Bukan kita gak bisa jadi lebih jago, bukan kita gak mungkin lebih jago,kita blom mentok kok… (sesumbar) tapi karena kita gak punya waktu lagi buat punya komitmen waktu dan semangat. Saya bener2 menangkap kok garis yang mulai jelas ditarik itu. Batas itu mulai jelas terlihat oleh saya. Dan memang itulah vanalloy… band yg spesifik, band gaul yang gak bisa dipaksa-paksa.

Tapi ini saya bicara band secara kolektif ya, bukan masing2 individu. Kalo kata seorang rekan, anggota 30 pendapat 60 hahahaha…

Jadi yang perlu kita improve adalah ‘pede’ alias ‘ilmu sesumbar’ alias bahasa saya ‘kepercayaan diri dalam bermusik ala van alloy’ Ini samasekali bukan teknis dan tidak membutuhkan latihan tambahan. Hanya butuh saling menyemangati, saling mengompori, saling curhat lebih terbuka, dan tentu saja penularan ilmu sesumbar dari fraksi trumpet… hehehe…

BTW barusan dapat sms dari audi kita tidak terpilih tampil di Astro JavaJazz.
Thank You Audi dan teman2 yg sudah susahpayah…

Anto

Komentar bertahan »

Maklum

sekitar seminggu lalu saya obrol seru dg seorang teman lama (hay dik uno!)

Obrol ttg analisa bahwa kita tuh bisa terbelit korupsi sperti ini salahsatunya karena kita cenderung pemaaf dan lagi pemaklum. Sebuah sifat luarbiasa bagus,jika ada tempat yang semestinya.

Tapi ada kecenderungan kita permisif thd korupsi, dalam sgala bentuknya. Kita *maklum* pada tempat2 yang salah. Pada akhirnya sistem scr kolektif terpengaruh bahkan terkatalisasi oleh budaya maaf dan maklum yg adiluhung.

Jadi apakah kita maklum dg benar? Mengingat betapa ‘harap maklum’ bisa ditemui dan didengar hampir setiap saat?

Komentar bertahan »

Banjarmasin 2007, momen pilihan saya

Banjarmasin 2007, beberapa momen pilihan saya…

99

#Drum Break Vicky di Got My Mind
Tidak seperti biasanya pas latihan rekan kita ini sering berusaha tampil dengan ‘flashy drum breaks’ yang kadang2 malah ancur karena kehilangan ketukan hehe.. tapi di saat show, apalagi pas coda main piano drum break rekan kita ini bener2 ‘cool but flashiest ever’ (kata2nya ngarang gpp ya? Ibu Kiki jangan dimarahin, biasa pake bahasa pabrik).

#The Way You look tonight
Pas birdland sih emang kita udah semangat nampil, tapi kayaknya masih ada pengaruh bibir belon hangat, tapi di lagu ini woaa… keren banget deh. I’m musically proud of my big band…
9

#Bangun pagi pasar terapung
Haha.. lucu banget ingat ada 8 orang bangun dan berkumpul duluan, trus aku ditelp MasSonny dan baru bangun krn telp itu… kaget dan panik karena kesiangan (masih trauma masuk bis terakhir BJM tahun lalu) ganti baju trus mau bawa tas. Istriku dengan santai dan suara ngantuknya bilang, “Ngapain bawa tas segala, emang ke pasar terapung-nya jadi gitu?” Waduh, dia ini sambil tidur aja bisa memberi nasihat bijak begitu. Terbukti saya turun untuk melihat MasSonny sendirian, lalu dengan muka kecut bliau menyuruh pak sopir pulang. kemudian ternyata ada dua orang lagi yang sudah mandi dan dandan turun setelah saya naik ke kamar lagi hahaha… sebenernya ada 11 orang dong ya? Cukup untuk ngisi 2 kijang dan satu kapal.
15

#Momen Sadar Ketinggalan tiket Pesawat
Dengan semangat 45 aku bawa mobil ke apt Rasuna, bawa cube gitar plus stabilizer segala, dengan niatan tulus untuk berlatih bersama bassist dari KL. Latihan lumayan karena ternyata suara bass dari cube gitar Fender ku ‘not bad’ lah… Setelah latihan sekitar 1/2 jam, Frieza nanya “Besok kita pulang dari BJM jam berapa sih?” karena bliau kan punya penerbangan lanjut balik ke KL lewat air asia, mau cek waktunya berapa banyak.

Ubrek-ubrek-usrek-brak-bruk (suara bongkar2 tas) “Ya ampun… tiket ketinggalan…”. Udah deh latihan berakhir dan kita bersiap ngantuk2 ke Cikarang naik panther.

k

#Foto Lompat Ngeden
Dua momen yang menurutku keren banget. Terutama foto lompat itu, walaupun itu vabb muda (kuki, billy, issa) bukannya lompat malah bengong. Kali mereka gak nyangka kalau kita akan benar2 melompat (bukan ke sungai). Sementara foto ngeden adalah foto yang ’sangat jahil ala van alloy’ hehe… Susah menjelaskan lebih lanjut untuk urusan ini. Dasar Galia Gila!
14
11

#I Don’t Know…
Momen ini dipilih bukan karena menyenangkan tapi karena yaaa… begitulah!
Mungkin dari awal kita udah salah memilih cara menyingkat judul ini, “Ayo main *I Don’t Know*” Lho gimana sih? Gak tau kok main!! Hahaha… Kalo liat ekspresi muka dan cara Nta geleng2 kepala jadi ingat Widi salah solo di lagu “In The Mood” jaman IBBC93 dulu. Meski momen ini cukup tragis dan menyedihkan cuma kayaknya gak akan terlupa ya?
Tenang aja lagi! Saya aja di mixer ketawa2 bahagia, penonton lebih tidak tau dari kalian hehehe…

kn
12
13

Komentar (1) »

Banjir 2 Feb 2007

Kok ada yang salah ya kalau belum menceritakan banjir 2 Februari 2007 kemarin… Hehe… tragis sekali banjirnya, tapi kali ini banjir terasa lebih berarti karena ternyata dia memasuki rumah tapir sedalam betis. Dan rumah singa sedalam setengah mata kaki.

Dimulai dari call dari kantor jam 10pm. Hujan gerimis. Sudah sejak lebih kurang dua malam berturut-turut. “Pak listrik di kantor mati, kita sedang sulphonasi” Huaduh… mampus dah. Ini alamat musti didatangi.

Singkat kata, setelah selesai semuanya di kantor dan sempat menulis laporan via email jam 2330 mlm pulang deh. Heboh sekali ternyata di dekat Mattel Jababeka II kita sudah tidak mungkin jalan. Gila! Air datang dari mana nih? (ya dari Bogor lah.. hehe)

Segala usaha menembus jalan ke rumah, untung hape masih berfungsi (HIDUP MATRIX & MENTARI!!!) saya menembus jalan yang makin lama makin dalam, sampai sepinggang akhirnya menyerah. Cuma bisa nelepon istri dan mengikuti dari telepon, dari seberang sungai, air sudah sampai pelataran, air sudah masuk rumah, istriku sudah mengungsi…

Akhirnya akal lurus jalan juga. Parkir dan tidur. Meski beberapa kali bangun karena gelisah, liat lagi kondisi air udah turun blom… Akhirnya jam 6 pagi putuskan memutar jalan naik ojek. Lewat kampung belakang kompleks.

Interesting waktu jalan ke rumah. Iya jalan, karena motor pun kena macet di jalan kampung yang tidak biasanya dibebani separuh perumahan cikarang baru yang tidak kebanjiran dan pengen pergi kerja pagi itu… Menarik lihat pemandangan tapi miris juga… Menarik karena saya sendir blom pernah merasakan kebanjiran sendiri gitu.

1

(sungai cilemahabang 50 m dari rumah)

2

(batas air masuk rumah)

3

(pagar rumah, sampah menunjukkan air sampai setinggi itu dari jalan depan rumah)

4

(cd2 MasSonny yang ketinggal di bawah tempat tidur)

Dilanjutkan dengan bersih2 yang rasanya tidak selesai2 juga sampai sekarang… masih saja ketemu barang basah, kumel, berlumpur, lecek karena banjir.

5

Komentar bertahan »