Arsip untuk Oktober, 2006

Antara Aku, kau, dan alat musikku…

Alat Musik dalam hidup saya…

Suling/Recorder. Aku kenal sekitar smp. Kalo gak salah dari pelajaran kesenian ya? Pertama kali merasakan sensasi alat tiup. Mungkin juga dipicu oleh guru kesenian smpku yang goalak, jadi takut kalo mainnya salah. Cukup lama bergaul dg recorder, karena pas kelas 2 sma masih sempat main suling di pertandingan musik muslim antar kelas. Lagu “sajadah panjang”-nya Bimbo salah satunya. Alat tiup ini juga fenomenal buat saya, karena pas kenal Bhaskara86, menirukan solo2 dan improvisasi di kaset itu pake alat ini. Hahaha…

Harmonica. Sebenernya ragu2 secara ingatan, dulu tuh duluan harmonica apa recorder ya punya-nya? Tapi mungkin karena harmonica sound-nya agak tajam dan berisik dibandingkan recorder yg lebih berkarakter lembut, juga bisa kromatis kali? Harmonica sih iseng saja, mungkin sekitar sma kali ya? Pas jaman senang ber-pecinta alam dg THA. Yang jelas pernah tuh harmonica jatuh dari kantong pas naik motor dan dilindas deh oleh bis di belakang huhuhu… gepeng tuh harmonica tamat riwayatnya.

Gitar. Ini juga sma. Lagu pertama yang dipelajari “Groovy Kind of Love”-nya Phil Collins. “When I’m feeling…(pause bentar sambil nunggu akord terbentuk… Blue” lalu “All I have to…. (pause deui…) do…” gitu deh sepanjang lagu. Kocak banget. Dengan gitar ini juga agak serius di belasan tahun kemudian. Setelah IBBC 2005, mulai pertengahan 2005 belajar gitar, nyari gitar elektrik termasuk efek dan ampli-nya, lihat fotonya disini nih.. Akhirnya punya penampilan dg gitar juga bersama VanAlloy big Band.. ITB 75 dan Banjarmasin 06

1 2

Trombon. Ini dipelajari sejak bergabung bersama progam PINKA di MBWG ITB. Inget nih sejak mid 1990. Cukup lama dan panjang perjalanannya sampai akhirnya main terakhir di IBBC 1994 kalo gak salah. Setelah gak jadi Ketum lagi waktu itu gak main alat musik lagi.. Penampilan dg trombon mungkin adalah yang terbanyak deh. Dan paling berkesan, terutama KTDM Semarang 1992.

trb

Gamelan Jawa Bonang Penerus. Lucu juga alasannya. Waktu itu sudah memenuhi ambisi dan cita2 bisa belajar main alat tiup beneran, tapi tiba2 kok merasa bersalah ya gak mempelajari alat tradisional. Trus ikutan program pelatihan gamelan dasar di PSTK ITB.

Bass Sousaphone. Ini sebenernya karena kebutuhan kali ya waktu itu? Pas BOMB 1994, pertama kali MBWG ikutan BOMB, main sausaphone bareng Aki dan Azrul. Singkat tapi gak bisa lupa tuh sama sound-nya sousaphone. Moantap dan selalu kangen untuk memainkan kembali.

Vibraphone. Ini alat yang dikuasai karena memaksakan diri. Dalam rangka biar bisa ikutan BOMB 1996 tapi gak perlu latihan display. hehehe… Tim-nya waktu itu dg Adit, Sari dan Atoon. Wah seru banget dan berkesan karena tim MBWG di BOMB 96 ini menang. Alasan tadinya cuma ‘biar bisa ikut’, tapi ternyata memberi perspektif perkusif yang sangat berharga. Juga jadi ngerti Pit Instrument dan perannya sehingga bisa bikin aransemen satu paket penampilan MBWG buat IMPC 2002. Gak kebayang sebelumnya.

Clarinet. Antara keterpaksaan dan ‘dreams come true’?? Hahaha… Sebenernya pas pertama masuk marching band tuh pengennya bisa belajar saxophone, tapi penyaluran alat di PINKA90 itu menyalurkan ke trombon. Ya lah.. jaman tahun segitu tuh saxophone top banget, gak cuman saya yang masuk MBWG dalam rangka saxophone. Nah bersama VanAlloy Big Band di ITB Big band Concert 2006 sudah bertekad menjadi bagian dari pemain musik, akhirnya nyambung dengan kesulitan belajar gitar, adanya alat clarinet yang tidak juga bisa ditiup oleh MasBambang, termasuk tawaran dari mas Bambang-nya. Nyobain dibawa pulang kok langung bunyi, agak mengherankan untuk alat seperti clarinet. Feelingnya bersama clarinet sekarang juga seperti ‘deja vu’, kok kadang mudah banget ya dari isi kepala dan imajinasi lari ke jari2 main klarinet, dibandingkan dg geser2 jari di gitar misalnya…

3

That’s All Folks… so far :-)

Komentar (2) »

Bayi dan Kesombongan Manusia

Sebenernya sudah sejak bbrp waktu lalu mengamati bayi, pertama Radit putranya Aca-Nta, lalu belakangan ini lebih intens Astri, putrinya Mas-Ninuk. Yang memicu sebenernya juga adalah tingkah laku manusia dewasa.

1

Bush paling mudah terlihat dari kondisi sekarang paling aktual. Agak menyempit dikit juga berbagai contoh manusia sombong yang bertebaran di sekitar kita. Manusia2 sombong dan megalomania ini seolah tidak pernah melihat dirinya sebagai orang lemah, tidak ada tuh istilah ‘mengalah’ atau ‘menghormati’ juga ‘menghargai’ dalam kamus mereka. Malah sering tampak jelas mereka memandang orang2 lain diluar dirinya atau lingkungan sempitnya itu sebagai orang-orang yang tiada artinya. “Apaan sih lo semua dibandingkan gua??”

Coba lihat bayi baru lahir. Tergolek, melek pun susah, lihat cahaya masih bingung, kepanasan kedinginan dikit kebingungan, rewel, menggerakkan tangan dan kaki pun masih blom pintar, pengennya kemana hasilnya kemana… Bayi baru lahir adalah lambang ketidakberdayaan manusia. Tanpa orang lain diluar dirinya sudah pasti bayi gak akan bisa bertahan melanjutkan perjalanan hidupnya…

Semua orang pernah menjadi bayi. Semua orang adalah bayi saat mereka lahir… Sayangnya emang memori kita saat jadi bayi gak akan teringat deh… coba siapa yang ingat kita pas bayi gimana? Hehehe…

So kontrakdisi kesombongan dan ketidakberdayaan bayi itu jadi bagian dari pertunjukan kehidupan sehari-hari kita. Andai saja para megalomania itu bisa sadar dg kebodohan mereka saat mereka punya sudut pandang lain melihat bayi…

Ada gak ya acara Bush mencoba lihat bayi di irak atau di palestina?
Oprah jangan cuma ke afrika dan new orleans aja, coba deh jelajahi dan tengok kondisi bayi2 di afganistan?

Hehe.. oprah sih gak masuk yg sombong, cuma keberpihakannya itu lho..

Komentar bertahan »

NIMBY

= Not In My Backyard

Pas dulu kuliah sering dihubungkan dengan istilah ini kalo ngomongin limbah. Lucu juga, karena pada akhirnya juga saya rasakan di lingkup yang lebih sempit, di rumah dan lingkungan sendiri.

Kamar dan AC. Sudah sangat umum kalau ada kecenderungan buat masang ac di rumah. Ini sebenernya kan mengisolasi ruangan/kamar dari lingkungan sekitarnya. Jadi panasnya udara dijadikan bahan limbah, bahan yang dianggap merugikan. “Pokoknya gua pasang ac kalo gua atau anak gua kepanasan gua masuk kamar mendinginkan diri”. Panasnya suhu sudah menjadi limbah, and they get it kick out of their backyard…

Air Hujan. Ini kan dua sisi mata uang ya, kebetulan sekarang pas saya tulis ini kita sedang di puncak musim kemarau dan sedang menunggu hujan. Air hujan ditunggu-tunggu. Nanti kalau musim hujan kejadian sebaliknya, air menjadi limbah. Kick them out of my backyard. Ini makanya masih punya impian ada sumur resapan di belakang rumah. Supaya belakang rumah kami tidak hanya hijau dan jadi small sactuary buat burung2 yang lewat, tapi juga tempat kita menabung air ke dalam tanah.

Sampah. Sampah rumah tangga bbrp bulan lalu sempat jadi masalah gede di bandung dan Jakarta. Di bandung sampah kota numpuk karena tpa-nya ditutup. Disitu kerasa, kalau sampah numpuk kita juga kebingungan mengelolanya di lingkungan sendiri. Gagap gitu menghadapi sampah yg menumpuk. Gagap secara teknologi; gak sadar kalau pemisahan sampah dan pembakaran sebagian sampah di level rumahtangga saja bisa mengurangi beban pengelolaan sampah makro. Gagap secara manajemen; siapa yang melakukan tindakan2, kapan, bagaimana, dimana… Akhirnya orang juga gak bisa menghindari sampah numpuk2 dimana2, semakin numpuk semakin sadar kita kalau sejauh apapun kita buang dari rumah, kita pasti terganggu.

Sampah industri di Cikarang. Ini yang kita temui tiap hari di sekitar tempat saya tinggal/kerja juga. Disini sampah adalah bisnis besar dan serius. Juga kejam. Industri juga pake ilmu NIMBY, semua buang aja, itu “pengumpul tradisional” jadi alternatif paling murah. Pengumpul ini adalah orang2 yang siap ambil sampah dimana aja. Mereka tahu saja informasinya, mereka tahu saja barang2 apa yang masih bisa laku, mereka punya energi dan organisasi, termasuk organisasi preman untuk mengamankan usahanya. Diapakan oleh para pengumpul ini? Macam2, dari yang paling bagus dibersihkan dan dijual untuk dimanfaatkan ulang, sampai dibakar saja di lahan mereka malam2. Membiarkan kita semua warga negara yang baik dengan hidung yang siap menyedot ini untuk mencium baunya malam2 hehehe…

Ironi Sampah… just NOT IN MY BACKYARD !!!

1

(Foto backyard rumahku)

Komentar bertahan »

Lo gak perlu nge jazz amat buat menikmati suasana yg ‘jazzy’

Jazz musik yang menyenangkan. Ini sudah saya rasakan sejak menyukai musik (yang saya tadinya tidak tau kalo itu jazz) ini sejak SMP. Dan ternyata sekarang menemui komunitas jazz yang menyenangkan juga. Is it a ‘click’ that I’m looking for? Mmm.. don’t know. Tapi at least sampai sekarang benar2 menyenangkan.

1

Acara bulanannya. Tempat orang2 bisa belajar dan mencoba memprakterkkan apa yang mereka pelajari. Tidak terjebak dengan meningkatkan level penampilan band yang nampil di pertemuan bulanannya, tapi malah selalu memberi tempat untuk band2 yang ujicoba, band yang baru dibentuk, band untuk pemula. Gila… Meskipun seorang rekan meng-kritik kalau ini event cocok untuk ‘musisi’, ‘musician wanna be’, ‘learned musician’, pokoknya buat orang yang ngerti nampil.

Milisnya. Seru juga. Diskusinya bisa melebar kemana-mana dan orang2nya seru dan terbuka. Semoga saja tidak terjebak ke snobisme. Kayaknya sih ngga ya, karena Mas Beben sendiri penah bilang, “Fanatik jangan…” nah.. fanatik aja gak masuk ke pikiran Mas Beben, mestinya sih jauh dari snobisme ya..

Oke tengok2 websitenya http://www.komunitasjazzkemayoran.com
Milisnya http://groups.yahoo.com/group/Komunitas_Jazz_Kemayoran/

So, are you jazz enough?
Not necessarily jazz enough to join this community…

Komentar bertahan »