Arsip untuk September, 2006

Pelajaran dari Anna Wedding

Dari pengalaman kita di Anna Wedding, terutama segala kejutannya membuat saya berusaha meng-compile apa yang saya pernah dengar dan baca dari orang2 lain, coba saya simpulkan ..

Saat kita di atas panggung, saat kita dikasih mic masing2, untuk bisa menangkap suara alat musik kita, bisa digolongkan dalam beberapa kategori.

1) Anggota Band
Sebagai salah satu anggota band, musik dan penampilan yang kita
tampilkan adalah harga diri kita. Kita salah tiup atau keluar tikus, muka seluruh anggota band yang menanggungnya. Kita main indah dan bagus, membuat penonton tersentuh emosinya, muka dan nama seluruh anggota band yang jadi tumbalnya. Sebagai anggota band kita adalah personifikasi band kita.

2) Solois
Kalo kita jadi solois lain lagi. Ini bebannya lebih besar sebenernya, kita bermain sendiri, solo, tapi tetap kita adalah personifikasi dari band. Jadi kalau kita main solo sendiri, yang tentu lebih ‘terdengar’ daripada main bareng rekan fraksi lain dalam band, itu kita tetep membawa muka, beungeut, hargadiri, seluruh anggota band. Nama dan nasib penampilan band bergantung pada kita seorang diri. Jadi gak bisa kita sebagai solois merasa menampilkan diri kita sendiri, baik ataupun buruk inilah saya. Mmm… Bentar dulu, kita mesti dengar dan peduli anggota band yang lain.

3) Pengiring
Saat menjadi pengiring adalah saatnya kita menjadi dan harus jadi low profile. Itu bukan saat show off mann… Orang yang kita iringi adalah ‘the one who should on the spotlight’. Kita harus bisa menempatkan diri jadi background yang baik, dan benar. Ini bukan saatnya kita justru coba2 dengan resiko terbesar ada pada orang yg kita iringin. Hehehe… Itu namanya curang boss…

4) Jam Session/Nge-Jam
Ini bentuk paling bebas. Saat kita ber-jam-session itulah saatnya kita munculkan diri kita sendiri pribadi secara sepenuhnya. Meski ada sedikit latarbelakang disebut “si anu dari band itu” tetap saja saat ber-jam-session inilah semua beban ada pada dirinya sendiri. Everything you do tanggungan lo sendiri deh. Ini memang saat yang terbaik untuk eksploratif dan individual, whatever your style, whatever you skill level. You are what you play.

Mungkin kesannya saklek dan dikotak-kotak-kan. Tapi ini cuma upaya menjelaskan apa yang pernah saya denger sedikit2. Hehehe… Eniwei hasil kesimpulan dan apa yg saya tulis juga blom tentu pasti benar. Karena di atas panggung itu kan ada unsur seni, jadi bisa berubah dan menyesuaikan dilakukan diatas panggung. Diaduk dicampur diantara empat format diatas.

Point saya adalah, kita selayaknya tahu menempatkan diri sebagai penampil diatas panggung. Kita tahu posisi kita sehingga kita tidak menjadi person pembawa alat musik dikasih mic yang melakukan tindakan2 ‘lucu’. Seperti juga bergaul, bermusik juga perlu kedewasaan bermusik dan bersikap.

Begitulah sedikit yg saya tahu. Sekaligus otokritik untuk saya dan kita semua. Mohon maaf sebesar-besarnya kalau ada kata tak berkenan, namanya juga otokritik.

Komentar bertahan »

Nyanyi Yuk

Weekend lalu dateng di pertemuan bulanan KJK. Selayaknya bulan2 sebelumnya, ada performance dari band2 dan juga ada ‘jazz sharing’. Isinya ada narasumber yang menceritakan tentang sesuatu hal ttg musik jazz. Kemarin adalah cerita tentang vokal, tepatnya vokal jazz…

Yang menarik adalah, sang narasumber, Indra Aziz, seorang musisi muda (cek kalo gak salah www.indraaziz.com ) menyarankan jika kita pemain alat musik apa saja untuk belajar tentang mengelola vokal, artinya belajar nyanyi. LHO!?? Kan kita juga sering terganggu dengan orang2 yang menyanyi dengan pede tapi sebenernya gak enak didengar? Hehehe… bukan itu pointnya…

1

Menyanyi adalah 90% ear training. Nyanyi kan gak pake tuts, gak pake valve, gak pake slide, gak pake stick, jadi semuanya pake leher doang. Menyanyi juga seperti trombon slide, bisa dengan bebas di slur-slur gak karuan hehehe… Kalo nada gak masuk ya di slur2 dicari2 sebelah mana yg masuk :-P Ini rahasia pemain trombon sebenernya hehehe…

Jadi kalau kita menyanyi kita kontrol pitch hanya pakai kuping sendiri. Kalo trombon slide meski mengandalkan telinga masih bisa tertolong dengan posisi2 slide, menyanyi gak kenal posisi2an… sekali off-pitch ya terdengar gak enak.

Dengan belajar menyanyi kita akan otomatis belajar ear training juga. Selayaknya penyanyi, idealnya kita juga bisa memperlakukan alat musik kita seperti kita ‘humming’, kita bisa nyanyi pake alat musik tanpa mikirin nadanya. Ini salah satu cara eksplorasi alat musik dan permainan kita.

So, nasehatnya… mulailah belajar menyanyi…

oya lihat2 juga http://www.komunitasjazzkemayoran.com/

Komentar (5) »