September 26, 2006
· Disimpan dalam travel
Cuma satu kata… ISTIMEWA!
Kenapa?
#1 RAME
Sangat amat rame banget, pantaslah panitia memakai kata ‘tumplekbleugh’ dalam publikasi dan ada juga di kaos panitia mereka. Beruntung kami sudah sampai di sekitar ganesha jam 9.45 pagi, masih bisa dapat parkir dekat SMAK Dago, juga meski padat merayap masih kebagian berjalan bersama ribuan orang lain memasuki areal pasar seni… woaa… pemandangan yang cukup absurd.
Tidak seperti pasar seni yang lalu yang memanfaatkan jalan ganesha, kali ini cuma panggung musik utama aja yg pake jalan ganesha.

#2 UNIK
Di areal pasar seni banyak banget bangunan dan benda2 besar bernuansa unik dan nyeni. Aneh2 dan itu mendukung banget suasana dibangun jadi unik.


#3 MANUSIA
Otomatis para pengunjungnya juga unik. Kita jadi tidak merasa aneh menjadi unik. Kesempatan deh kami juga pakai kostum unik.

September 26, 2006
· Disimpan dalam Music
AAAA.. ya!!
Dari pertama dengar kabar akan ada pasar seni sudah ini kegiatan yang pertama muncul dikepalaku. NGAMEN.
Sering kita kalo liat di foto2 atau liputan video di tempat2 lain, ada orang main alat tiup, membuka case menanti uang recehan, main musik nge-jam bebas haha!
Akhirnya muncullah pasukan berani malu… Anto (clarinet) Yoki (Alto Sax) Kutil (Alto Sax) dan MasSonny (Flute&Harmonica)


Yoki udah pesan, “Mas difoto dong, yang kelihatan crowd-nya”. Ah memang kami hari itu jadi korban sasaran fotografi (baru tau kemudian kalo ada lomba foto) dan video (baru tahu bbrp hari kemudian kalo disiarkan jadi liputan di rcti dan metro tv).

Asli ini ternyata rasanya jadi pusat perhatian dari pertama kali buka case jam 1 siang sampai terakhir kali kami kelelahan bibir dan tutup case jam 4 sore. 3 jam non stop sudah cukup lah untuk amatiran seperti kami.
Serunya, ada yang sampai minta diiringi menyanyi segala lho… Seru… Mana suaranya bagus lagi.

Terusterang jadi ingat keinginan 16 tahun yll kalo ketrima di ITB bakal ngamen, kayaknya baru terlaksana kemarin…
September 26, 2006
· Disimpan dalam me, myself, and I, oto, travel
Betapa gambar ini sangat ‘metropolitan’, bahkan mungkin tampak tidak ada di Jakarta kalau kita lihat sekilas. Ini adalah gambar yang diambil pas mau jalan ke cempaka mas dari arah seberang jalan cempaka putih. Pas melihat pemandangannya kagum juga. Frame ini kok terasa sangat ‘metropolis’, juga secara geometris menarik kan? Sudah lama tidak memperhatikan seluk arsitektur model begini, jadi kangen nih sama temanku Reza Schizoid Man! Selalu asik ngobrol musik dan arsitektur sama dia…

Setelah naik jembatan penyeberangan dan berada diatas jalan cempaka putih, itu saat sedang macet2nya ke arah perempatan cocacola, woeehh.. dari atas tercium dengan semangat tuh bau kampas kopling. Benar2 signifikan! Kalau aku kerja di pabrik kampas atau kerja jualan onderdil mobil pasti aku tersenyum lebar…

Betapa mahalnya ya kemewahan berkendara pribadi, yang mungkin sekarang sudah tidak terasa sebagai kemewahan oleh kita yang kemana-mana memilih naik mobil pribadi bermacet2.

Dari sisi lain sebenernya juga bisa dilihat kalau naik busway itu jauh lebih mewah. Yang macet berdesak-desak dengan metromini yang ngetem dengan kejamnya. Busway itu melaju cepat dengan bahanbakar gas… wuzz.. wuzz…
September 23, 2006
· Disimpan dalam Music, gadgets
Akhirnyah…
Punya iPod juga, hmmm… kira2 yang mendorongku punya apa ya?
Whatever katanya iPod udah jadi komoditi gaya hidup dibandingkan fungsi, yang jelas saya sangat menikmati my shuffle 1GB karena:
= murah bo! Bayangkan 650rb… tapi emang kondisi fisiknya poarah
= 1GB, 8 kali lipat playerku yg dulu, serba sempit rasanya waktu itu
= kecil, bodynya tampak tangguh… keren bo! Simple but full of style
= mmm… it’s an iPod hehe…
= ngedapatinnya itu lho. Setelah perjalanan panjang ratusan kilometer (baca juga ini)

Moga2 alasan keempatnya tidak memakan porsi besar hihihi…
Ada tapinya juga, kemudian diketahui kelemahannya adalah tanpa display. Sering sekali gak tau ini lagu yg lagi main lagu siapa hoahaha.. apalagi pas shuffle mode play, wah bisa jadi tekateki. Bright side nya adalah kita jadi lebih ngulik lagu, ada rasa penasaran yang di-trigger oleh ketiktahuan kita thd lagu yg udah masuk playlist yg kita pilih sendiri.
Tapinya lagi… gila… itu iTunes keren banget. Gratis lagi! Gak heran dan bisa ngerti kalau orang kecanduan dan susah meninggalkan iTunes.
1 Agustus 2006, day one of my lovely iPod Shuffle 1GB.
September 21, 2006
· Disimpan dalam Music
Sore ini sore istimewa buat saya yg sudah 5 tahun tinggal di cikarang. Untuk pertama kalinya nonton konser jazz di cikarang. Bener2 hal yg gak lumrah, maka tak kulewatkan Luluk Purwanto & The Helsdingen Trio di President Univ. Jababeka, Cikarang.
Karena pakai stage bus, dari jauh udah kelihatan tuh, satu sisi jalan di depan gedung President Univ ditutup khusus untuk pegelaran ini. Jadi ini open air free of charge event. Seru juga, datang 30 menit sebelum jadwal dimulai, masih sepi banget. Sempet khawatir juga ini nanti bakal ada yg nonton gak ya? Ternyata gak perlu kekhawatiran itu, dasar President Univ mengerahkan semua siswa boarding univ dan boarding highschool-nya buat nonton. Lumayaannn… kursi yg kira2 cuma 300-an itu udah separuh terisi oleh mereka.
Pas datang Mr. Helsdingen sedang memainkan pianonya. Entah pemanasan entah memberi waktu kru sound untuk mendapatkan ‘feel’ dari stage dan sonic-nya. Saya blom pernah nonton Mr. Helsdingen ini main, cuma pernah denger musiknya secuil2, memang gaya bermainnya unik. Perpaduan antar jazz tentusaja, rag, classic, juga european folk. Unik banget, dan cepat… heheh… kecepatannya mengingatkan saya pada gitaris/shredder rock (lho!)
Acara dibuka dengan seremonial dg pihak tuanrumah… sebelum akhirnya kita menikmati Irsa Harmonia Quatro. Seorang pianis dan bandleader, basist elektrik, drummer, lalu vocalist cewek. Lagu pertama ‘Impression’. Rumit, dan sekaligus dengan sentuhan modern aransemennya. Harus diakui aransemennya unik dan keren. Sekaligus lagu ini dan penampilannya juga menunjukkan kalau semua aransemennya terkonsep rapi. Semua pemain kecuali vocalist membaca part.
Tentang musiknya Luluk hmmm.. mirip seperti yang saya tulis ttg musik Mr. Helsdingen diatas, cuma tampak sedikit rumit saja karena tambah biola.